Claim Missing Document
Check
Articles

EDUKASI DAN PELATIHAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) PADA REMAJA DI SMAN 5 BANDA ACEH Nurhidayah, Irfanita; Fikriyanti, Fikriyanti; Aklima, Aklima; Kiftia, Mariatul; Amalia, Riski; Nurhasanah, Nurhasanah; Dewiyanti, Dewiyanti
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 5 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i5.2266

Abstract

Sudden cardiac arrest is one of the leading causes of death that can actually be prevented if early intervention is carried out quickly and appropriately. However, public awareness and skills—particularly among adolescents—in performing Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) remain very low. Therefore, widespread education and training on CPR are essential to increase the chances of survival for victims. This Community Service Program aims to improve adolescents’ ability to provide first aid in cases of cardiac arrest through CPR training and education. Through this program, it is expected that adolescents will gain the knowledge and basic skills necessary to save lives in emergency situations. The target audience of the program was students at SMAN 5 Banda Aceh. The implementation method included education on the signs of cardiac arrest, the importance of CPR, and basic CPR skills training for laypersons, especially teenagers. The activities were conducted interactively through material presentations, hands-on simulation practice, and participant comprehension evaluations to ensure the effectiveness of the training provided. The results of the program showed a significant improvement in understanding the concept of CPR and in basic life-saving skills. Participants were able to recognize the signs of cardiac arrest and perform the CPR steps correctly and in accordance with standards. Additionally, most participants reported feeling more confident in providing first aid in emergency situations after the training. This indicates that direct CPR education and training are highly effective in building community preparedness, especially among adolescents. This community service not only strengthens teenagers' readiness to handle emergency situations but also has the potential to create a sustainable network of first responders. Through this program, it is hoped that the survival rate from sudden cardiac arrest, particularly in school environments, can be increased.
Asuhan Keperawatan Acute Respiratory Failure Et Causa Pneumonia di Intensive Care Unit: Studi Kasus Ulya, Syarifah Riskiatul; Nurhidayah, Irfanita; Jufrizal, Jufrizal
Jurnal Gawat Darurat Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Gawat Darurat: Juni 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/jgd.v6i1.2144

Abstract

Komplikasi yang dapat terjadi pada pneumonia adalah acute respiraty failure. Acute respiratory failure pada pneumonia dapat terjadi karena peradangan akut pada saluran udara sehingga mengakibatkan gagal napas dengan angka mortalitas mencapai 90%. Hasil pengkajian didaptkan Ny. A usia 34 tahun dengan keluhan batuk, sesak napas, lemas, tidak dapat menelan, nyeri ulu hati, demam, sariawan, hematuria, penurunan kesadaran, serta mengalami IUFD. Studi kasus ini bertujuan untuk menyampaikan asuhan keperawatan pada pasien Acute Respiratory Failure et causa Pneumonia di Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilakukan selama tiga hari pada tanggal 04 – 06 Mei 2023 dengan pendekatan asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang mengacu pada SDKI, SIKI, SLKI. Diagnosis keperawatan pada kasus ini adalah gangguan pertukaran gas, gangguan penyapihan ventilator, risiko syok, risiko infeksi, risiko aspirasi, hipervolemia, dan risiko perdarahan. Intervensi keperawatan yang diberikan adalah pemantuan respirasi, manajemen ventilasi mekanik, penyapihan ventilasi mekanik, pencegahan syok, pencegahan infeksi, pencegahan aspirasi, manajemen hypervolemia, pemantauan cairan, dan pencegahan perdarahan. Hasil evaluasi belum terdapat perbaikan pada kondisi pasien, ditandai dengan Tekanan Darah: 82/51 mmHg, Mean Arterial Pressure (MAP): 61 mmHg, frekuensi nadi: 155x/menit, SpO2: 92%, pH 7.325 mmHg, PCO2 79.8 mmHg, PO2 67 mmHg, HCO3 41.5 mmol/L, pasien terpasang ventilator mode PCV+ dan terdapat edema perifer.
Kebutuhan Spiritual Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Zahara, Safira; Nurhidayah, Irfanita; Fikriyanti, Fikriyanti
Majalah Kedokteran Andalas Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v48.i1.p46-54.2025

Abstract

Tujuan: Mengetahui kebutuhan spiritual pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif, cara pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner Spiritual Needs Questionnaire (SpNQ) yang terdiri dari 19 pertanyaan yang diberikan kepada  pasien. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Instalasi Dialisis Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dengan teknik pengambilan sampel consecutive sampling pada 165 pasien. Hasil: Didapatkan bahwa pasien membutuhkan kebutuhan spiritual dari yang tertinggi meliputi kebutuhan beragama (95,2%), kebutuhan memberi (92,7%), kebutuhan kedamaian (92,1%), dan kebutuhan makna keberadaan (87,9%). Kesimpulan: Penelitian ini menujukkan bahwa pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa sangat membutuhkan kebutuhan spiritual. Diharapkan penelitian ini mampu membantu tenaga kesehatan dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien. 
Perilaku Pencegahan Luka Bakar Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Kopelma Darussalam Syarif, Hilman; Maulida, Rizka; Nurhidayah, Irfanita
JINTAN: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. 4 No. 2 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/jintan.v4i2.807

Abstract

Luka bakar menjadi masalah serius kesehatan global, dengan 180.000 kematian per tahun. Perilaku pencegahan luka bakar memiliki peranan yang besar dalam menjaga kesehatan dan keamanan individu, keluarga, dan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku pencegahan luka bakar pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kopelma Darussalam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel pada penelitian ini adalah 265 keluarga di Desa Rukoh. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Teknik Non-Probability Sampling dengan pendekatan Purposive Sampling. Alat ukur berupa kuesioner perilaku pencegahan luka bakar yang terdiri dari 20 item pernyataan yang disusun oleh peneliti berdasarkan konsep dari Stanford medicine children's health (2023), serta konsep dari Moenadjat (2017) dengan nilai validitas r > 0,361 dan nilai reliabilitas cronbach alpha > 0,70. Hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden berperilaku baik yaitu sebanyak 136 orang (51,3%), response berperilaku cukup sebanyak 123 (46,4%), dan sebanyak 6 orang (2,3%) berperilaku kurang dalam perilaku pencegahan luka bakar. Sehingga dapat disimpulan perilaku pencegahan luka bakar pada Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kopelma Darussalam berada pada kategori yang baik. Hal ini disebabkan masyarakat yang memiliki pengalaman luka bakar dan sistem pengamanan listrik yang baik. Rekomendasi peneliti dalam penelitian ini yaitu petugas layanan kesehatan setempat dapat mempertahankan perilaku masyarakat dengan menyebarkan poster terkait perilaku pencegahan luka bakar.
Pelatihan Pertolongan Pertama pada Choking bagi Siswa Sekolah Menengah Atas di Banda Aceh Nurhidayah, Irfanita; Aklima, Aklima; Amalia, Riski; Fikriyanti, Fikriyanti; Jufrizal, Jufrizal
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 8 (2025): Oktober
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i8.3230

Abstract

Tersedak (choking) merupakan kondisi gawat darurat yang dapat mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat. Remaja termasuk kelompok usia yang rentan mengalami tersedak baik di rumah maupun di sekolah, sehingga diperlukan keterampilan dasar pertolongan pertama. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus choking. Kegiatan dilaksanakan di SMAN 5 Banda Aceh melalui penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung teknik Heimlich maneuver yang dipandu oleh tim pelaksana. Observasi dilakukan untuk menilai partisipasi dan kemampuan peserta dalam melakukan tindakan sesuai prosedur. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan berjalan dengan baik dan mendapat respon positif dari peserta. Siswa mampu memahami tanda dan gejala choking serta mempraktikkan teknik pertolongan dengan benar. Selain itu, pelatihan juga meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam memberikan pertolongan pertama pada situasi darurat. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan remaja menghadapi kasus choking dan dapat menjadi model edukasi praktis di lingkungan sekolah.
Factors Associated with Nurses’ Knowledge in Carrying Out Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) Jufrizal; Fikriyanti; Aklima; Irfanita Nurhidayah
NERS Jurnal Keperawatan Vol. 21 No. 1 (2025): NJK Volume 21, Number 1
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/njk.v21i1.201

Abstract

Cardiopulmonary resuscitation (CPR) is the first effort or action taken to maintain life when a sufferer experiences a situation that threatens a person who experiences respiratory arrest and cardiac arrest who still has hope for life if the health team is alert in treating the victim and providing first aid to the victim. The aim of this study was to identify factors related to nurses' knowledge in carrying out cardiopulmonary resuscitation. This research uses quantitative and correlative types. The sample in this study was 52 nurses who worked in the intensive care unit at Banda Aceh City Hospital. The results of this research are that there is no relationship between age and nurses' knowledge in carrying out CPR (p-value 0.828), there is a relationship between education and nurses' knowledge in carrying out CPR (p-value 0.000), there is a relationship between experience and nurses' knowledge in carrying out CPR (p-value 0.039), there is a relationship between facilities and nurses' knowledge in carrying out CPR (p-value 0.000). The sufficient knowledge of CPR among nurses underscores the need for continuous training and regular skills assessments. Strengthening CPR education in hospitals ensures prompt, effective responses in emergencies, improving patient safety and cardiovascular outcomes in critical care.
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA REMAJA DI DAYAH DARUL AMAN ACEH BESAR Nurhidayah, Irfanita; Yullyzar, Yullyzar; Khairani, Khairani
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 7 No. 3 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v7i3.442

Abstract

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kasadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri dan bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan anak dan remaja pada saat ini belum bisa dikatakan baik, karena masih banyak terdapat masalah kesehatan khususnya pada remaja. Dampak dari kurang dilaksanakan PHBS diantaranya yaitu suasana belajar yang tidak mendukung karena lingkungan sekolah yang kotor, menurunya semangat dan prestasi belajar disekolah, menurunkan citra sekolah di masyarakat umum. Ruang kelas yang kotor, maraknya jajanan tidak sehat serta tempat pembuangan sampah yang tidak tertata akan menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit. Salah satu penyebab rendahnya nilai PHBS di sekolah adalah karena kurangnya pengetahuan Remaja akan pentingnya hidup bersih dan sehat, pengetahuan yang dimiliki remaja akan mempengaruhi sikap Remaja tentang situasi lingkungan di sekitarnya.Berdasarkan hal tersebut, maka sangat penting untuk dilakukan penyuluhan mengenai Perilaku Hiup Bersih dan sehat (PHBS) di sekolah sebagai bekal mereka untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Dengan kegiatan penyuluhan mengenai PHBS bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada remaja. Penyuluhan PHBS sangat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan di sekolah, penerapan PHBS di sekolah sangat bermanfaat dalam kebiasaan sehari-hari dapat mencegah kerentanan timbulnya penyakit, tentunya juga bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas karena fisik yang sehat pada pelajar, sehingga para pelajar tidak lemas saat mengikuti kegiatan pembelajaran
Asuhan keperawatan pasien post craniotomy et causa sol intrakranial di intensive care unit: Studi kasus Tifany, Adinda; Nurhidayah, Irfanita; Fikriyanti, Fikriyanti
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1353

Abstract

Space Occupying Lesion (SOL) is a critical condition that requires intensive care in monitoring hemodynamic stabilization. SOL refers to a mass or lesion that occupies space within the skull. The pressure from this lesion causes neurological disturbances and increased intracranial pressure (ICP). One of the medical management strategies for SOL patients is craniotomy. This case study aims to describe the nursing care for patients with post-operative craniotomy due to intracranial SOL in the Intensive Care Unit. The methodology used is a case study. The results of this case study show that the diagnoses encountered in the patient include decreased intracranial adaptive capacity, gas exchange disturbances, aspiration risk, infection risk, and ventilator weaning disturbances. The interventions used include intracranial pressure management (ICP), mechanical ventilation management to prevent aspiration, infection prevention, and mechanical ventilation weaning. The conclusion of this case study is that there has been some improvement in the diagnoses, such as gas exchange disturbances and successful ventilator weaning. However, other interventions have not been optimal due to the patient's unstable condition. It is hoped that the patient’s management can be carried out promptly with interventions that support the improvement of the patient’s condition. Space Occupying Lesion (SOL) suatu kondisi kritis yang memerlukan perawatan intensif dalam pemantauan stabilisasi hemodinamik. SOL merupakan massa atau lesi yang mengisi ruang di dalam tengkorak. Pendesakan akibat lesi tersebut mengakibatkan gangguan neurologis dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Penatalaksanaan medis pasien SOL salah satunya adalah craniotomy. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien dengan post op craniotomy et causa SOL intrakranial di Intensive Care Unit. Metodologi yang digunakan adalah case study. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa diagnosa yang muncul pada pasien yaitu penurunan kapasitas adaptif intrakranial, gangguan pertukaran gas, risiko aspirasi, gangguan penyapihan ventilator, dan risiko infeksi. Intervensi yang digunakan adalah manajemen peningkatan intrakranial (PTIK), manajemen ventilasi mekanik pencegahan aspirasi, penyapihan ventilasi mekanik, dan pencegahan infeksi.  Kesimpulan dari studi kasus ini adalah terdapat sebagaian perbaikan pada diagnosa yaitu gangguan pertukaran gas dan keberhasilan penyapihan ventilator, namun intervensi lainnya belum optimal dikarenakan kondisi pasien yang belum stabil. Diharapkan pelaksanaan penanganan pasien dapat dilakukan segera dengan intervensi yang menunjang perbaikan kondisi pasien.
Gambaran pelaksanaan caring keperawatan pada pasien di instalasi gawat darurat RSUD Meuraxa Banda Aceh Ananda, Liza; Syarif, Hilman; Nurhidayah, Irfanita
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1507

Abstract

Pelaksanaan caring dalam pelayanan keperawatan berperan penting dalam meningkatkan kualitas asuhan dan kepuasan pasien. Namun, beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan caring di Instalasi Gawat Darurat masih menghadapi berbagai kendala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan caring keperawatan pada pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Meuraxa Banda Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif, melibatkan 344 responden dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner Gadar Caring Scale (GCS-46), yang terdiri dari tiga aspek utama, yaitu perilaku caring, lingkungan caring, dan administrasi caring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien (87,2%) menilai pelaksanaan caring keperawatan di IGD RSUD Meuraxa dalam kategori baik, dengan aspek perilaku caring sebesar 95,1%, lingkungan caring sebesar 83,1%, dan administrasi caring sebesar 87,5%. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar perawat telah menerapkan prinsip caring dalam pelayanan keperawatan, seperti interaksi dengan pasien, kebersihan lingkungan, serta administrasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tingkat pelaksanaan caring keperawatan di IGD RSUD Meuraxa Banda Aceh tergolong baik, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, disarankan agar rumah sakit terus meningkatkan pelatihan bagi perawat dalam aspek komunikasi terapeutik dan manajemen pelayanan untuk memastikan kepuasan dan kenyamanan pasien tetap optimal.
PENGARUH TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN NYERI SENDI PADA PASIEN REMATIK DI PUSKESMAS MANGARABOMBANG: The Effect Of Progressive Muscle Relaxation Therapy On Reducing Joint Pain In Rheumatic Patients At Mangarabombang Health Center dewi, Dewiyanti; Arafah, Salmah; Sumarmi; Kamriana; Alwi; Vionita, Virta; Suardi; Patmawati; Nurhidayah, Irfanita
Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar Vol 16 No 1 (2025): Media Keperawatan: Poltekkes Kemenkes Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmk.v16i1.1501

Abstract

Latar Belakang: terapi latihan otot progresif merupakan metode terapi non farmakologis yang bisa membantu mengurangi nyeri. Teknik relaksasi otot progresif bertujuan untuk mempertahankan kondisi relaksasi kumupulan otot, dimulai dari atas kearah kaki atau dari bawah kearah kepala dan meningkatkan respons relaksasi dengan mengurangi nyeri. Tujuan penelitian untuk mengetahui pegaruh terapi otot progresif terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien reumatik di Wilayah Kerja Puskesmas Mangarabombang Kabaputen Takalar. Metode penelitian ini menggunakan pre eksperimen dengan pendekatan One group pre-post tes design. Dengan subjek penelitian pasien reaumtik sebanyak 36 responden, dalam pengambilan responden dengan metode purposive sampling. Analisa data menggunakan Uji T-Test Paired Sampel dengan nilai signifikan p<0,05. Hasil: penelitian membuktikan bahwa responden berdasarkan umur 45-54 tahun (n=20, 56%), pendidikan tingkat SD (n=18, 50%), tingkat nyeri sebelum terapi latihan otot progresif nyeri ringan 11 (31%) responden, nyeri sedang 19 (53%) responden, nyeri berat 6 (17%) responden, sedangkan tingkat nyeri setelah terapi latihan otot progresif dengan nyeri ringan 25 (69%) dan (31%) responden nyeri sedang, dan nyeri berat 0 (0%). Terdapat pengaruh signifikan terhadap pemberian terapi relaksai otot progresif (p=0,000) < α=0,05. Kesimpulan: terdapat pengaruh setelah diberikan intervensi relaksasi otot progresif yang menghasilkan peningkatan dan signifikan terhadap penurunan nyeri sendi pada pasien reumatik.