Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search
Journal : Amerta Nutrition

Hubungan Kecukupan Asupan Energi dan Status Gizi dengan Tingkat Kelelahan Kerja Pekerja Bagian Produksi (Studi di PT. Multi Aneka Pangan Nusantara Surabaya) Arini Rahmatika Sari; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.042 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.275-281

Abstract

Background: Work Fatigue is the common condition experienced by most worker but if this condition occured continously, it will affect of the worker’s health condition. Work fatigue can be affected by several factors, some of which are energy intake and nutritional status. Objective: The aim of this research was to analyze the correlation between the adequacy of energy intake and nutritional status with the level of work fatigue. Methods: This study was an analytic observational, used cross sectional study with 33 sample from 48 workers of cocoa powder production PT. Multi Aneka Pangan Nusantara Surabaya selected by simple random sampling. Data were collected by food recall 2X24 hours for energy intake, measuring weight and height for nutritional stastus and Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire for the level of fatigue. Data were analyzed by ranks spearman correlation test. Results: Most of workers were <25 years old (42.4%), the adequacy of energy intake were deficit (66.7%), the nutritional status were normal (54.5%), and the work fatigue were moderate (63.6%). The result of this research showed that there were corellation between the adequacy of energy intake (p-value=0.001) and nutritional status (p-value=0.018) with the level of work fatigue. Conclussion: In conclusion, lower energy intake and high BMI would increase the level of fatigue.ABSTRAKPendahuluan: Kelelahan kerja menjadi keadaan umum yang dialami hampir semua tenaga kerja, namun jika hal ini terjadi secara terus menerus dapat mempengaruhi kondisi kesehatan pekerja. Kelelahan kerja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, beberapa diantaranya yaitu asupan energi dan status gizi pekerja.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan kecukupan asupan energi dan status gizi dengan tingkat kelelahan kerja pekerja.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebesar 33 pekerja dari 48 pekerja bagian produksi cocoa powder PT. Multi Aneka Pangan Nusantara Surabaya yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan food recall 2X24 hours untuk asupan energi, pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk status gizi, serta kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) untuk tingkat kelelahan kerja. Analisis data menggunakan uji statistik ranks spearman. Hasil: Sebagian pekerja besar responden berusia <25 tahun (42,4%), kecukupan asupan energi yang tergolong kurang (66,7%), status gizi normal (54,5%), dan tingkat kelelahan kerja yang tergolong sedang (63,6%). Terdapat hubungan antara kecukupan asupan energi (p=0,001) dan status gizi (p=0,018) dengan tingkat kelelahan kerja pekerja.Kesimpulan:. Semakin kurang asupan energi dan semakin tinggi IMT maka akan semakin tinggi tingkat kelelahan kerja pada pekerja.
Efektivitas Buku Edukatif Berbasis Games Terhadap Perubahan Pengetahuan Serta Sikap Tentang Sayur Dan Buah Anja Farahyani Ferwanda; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (840.994 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.389-397

Abstract

 Background: school-age children is a child’s growth and development period so that the optimal nutrient intake is needed both in quality and quantity. Low intake of vegetables and fruits as a source of micronutrients is one of the dietary deviation problems in school-age children. Objective: The purpose of this research was to analyze the effect of nutrition education by a game-based educational book to the changes of knowledge and attitude of fruit and vegetable consumption in the fifth-grade student. Methods: this research was a quantitative used pre-experiment research design of one group pre-post test. The samples were 34 students of fifth grade from the Elementary School of Suko 1 Sidoarjo, selected by simple random sampling. This research conducted for a month, consisted of 4 sessions of the lesson, each session hold for about 60 minutes. Data were collected by questionnaires and game-based educational book media. The bivariate data were analyzed by paired t-test. Result: the result showed that there was a significant different of knowledge (p=0.000) and attitude (p = 0.038) after nutrition education by game-based educational book about vegetables and fruit consumption. Conclusion: the conclusion of this study is nutrition education by a game-based educational book can improve the knowledge and changes in attitude of consumption of vegetables and fruit in elementary school students.ABSTRAK Latar Belakang: Usia anak sekolah merupakan masa tumbuh kembang anak sehingga dibutuhkan asupan zat gizi secara optimal baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Rendahnya asupan sayur dan buah sebagai sumber zat gizi mikro merupakan salah satu kesalahan pola makan pada anak usia sekolah adalah.Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan pengetahuan serta sikap konsumsi sayur dan buah siswa kelas 5 SDN Suko1 Sidoarjo setelah diberi pendidikan gizi melalui media buku edukatif berbasis games.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pra-experiment with one group pre-post test. Sampel penelitian sebesar 34 siswa kelas 5 SDN Suko 1 Sidoarjo yang dipilih secara simple random sampling. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan dengan penyampaian materi sebanyak 4 kali selama kurang lebih 60 menit untuk tiap pertemuan.  Instrumen penelitian yang digunakan dalam proses pengumpulan data meliputi kuesioner dan buku edukatif berbasis games. Analisis data bivariat yang digunakan pada penelitian ini adalah uji paired t-test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,038) yang signifikan antara sebelum dan setelah diberi pendidikan gizi.Kesimpulan: pendidikan gizi melalui media buku edukatif berbasis games mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa tentang sayur dan buah. 
Studi Deskriptif Program Suplementasi Tablet Besi Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Kalijudan Kota Surabaya Nadia Kenyo Peni Dewantoro; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.378 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.308-317

Abstract

Background: Supplementation of iron tablet is one of the government program that aims to decrease prevalence of-anemia on pregnant-women. The average corevage of iron tablet program on pregnant women in the work area of-Distric-Health-Government of Surabaya over past three years has decrease. If coverage value is reviewed by each public-health-center, there are some public-health-center whose coverage is increased one of-them is Kalijudan Public-Health-Center but is not followed by a-decrease number of anemia in pregnant women. Objectives: This research aims was to describe the implementation of-iron tablet program in Kalijudan-Public Health-Center and used system approach. Methods: The type of- this research was qualitative and involved 8-health workers and 15 pregnant-women as informants. Determination of informant involvement used purposive sampling and accidental sampling technic. Results: Health workers that involved came from various profession and were sufficient in terms quantity and qualification. The funds used for iron tablet purchases came from National-Health-Insurance. The hemoglobin examination tool was hematology analyzer and operated by laboratory worker. The availability of-iron tablets was deficience. The process stage, iron tablets planning was done once per year and its procurement followed schedule from Distric-Health-Government. The number of tablets was given to pregnant-women in a-single visit followed a-control schedule or 15-tablets. The monitoring of iron tablet consumption compliance was done with simple interview. Special organizing of-health workers for program did not yet exist. The output stage, recording coverage percentages were performed at the end of each year. The outcome stage, prevalence of-anemia in pregnant-women could not be known.Conclusion: The implementation of-program can be said not run well, because there are still some obstacles.ABSTRAK Latar belakang: Suplementai Tablet Besi merupakan salah satu program pemerintah dalam upaya menurunkan prevalensi anemia pada ibu hamil. Nilai rata-rata cakupan pemberian tablet besi pada ibu hamil di wilayah kerja Dinas-Kesehatan-Kota Surabaya selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Bila nilai cakupan ditinjau pada tiap puskesmas, maka terdapat beberapa puskesmas yang cakupannya mengalami peningkatan salah satunya yakni Puskesmas Kalijudan tetapi belum diikuti dengan penurunan prevalensi anemia ibu hamil.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program suplementasi tablet besi di Puskesmas Kalijudan dengan menggunakan pendekatan sistem.Metode: Jenis penelitian ini ialah kualitatif yang melibatkan 8 orang tenaga kesehatan dan 15 orang ibu hamil sebagai informan. Penentuan keterlibatan informan menggunakan teknik purposive sampling dan accidental sampling.Hasil: Tahap input, tenaga kesehatan dalam program berasal dari berbagai profesi dan sudah cukup dari segi jumlah dan kualifikasi. Dana pembelian tablet berasal dari Jaminan Kesehatan Nasional. Alat periksa hemoglobin adalah hematology analyzer dan dioperasikan oleh petugas laboratorium. Ketersediaan tablet besi mengalami kekurangan. Segi tahap proses, perencanaan tablet besi dilakukan satu tahun sekali dan pengadaan mengikuti jadwal Dinas-Kesehatan-Kota-Surabaya. Banyaknya tablet yang diberi pada ibu hamil dalam satu kali kunjungan mengikuti jadwal kontrol atau 15 tablet. Monitoring kepatuhan konsumsi tablet dilakukan dengan wawancara sederhana. Pengorganisasian tenaga kesehatan khusus pelaksana program tablet besi belum ada. Segi tahap output, pencatatan persentase cakupan hanya dilakukan setiap akhir tahun. Segi tahap outcome, prevalensi anemia ibu hamil tidak dapat diketahui.Kesimpulan: Pelaksanaan program suplementasi tablet besi dapat dikatakan belum berjalan dengan baik, dikarenakan masih terdapat kendala di beberapa tahapan. 
Analisis Perubahan Berat Badan, Indeks Massa Tubuh dan Persentase Lemak Tubuh Klien Pasca Pemberian Diet South Beach pada My Meal Catering Surabaya Ismi Faizah; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.534 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i1.2018.52-58

Abstract

Background: Obesity is a global health problem. Various attempts are made to control weight, one of which is by adjusting the diet. South beach diet is one of the strategies in weight control. South beach diet applies a diet with good carbohydrate and good fats.Objectives: The purpose of this study was to analyze body weight change, body mass index and body fat percentage of clients post south beach diet in My Meal Catering Surabaya.Methods: This research is a longitudinal observational study with a sample size of 30 clients My Meal Catering. Data was collected by interview using a questionnaire GPAQ to obtain data of physical activity and form food recall for 48 ours. Data collection includes BW, BMI and BFP carried out by measurement using digital scales and bio scan. The results obtained are then compared before and after south beach diet on day 14 (phase 1) and 28 (phase 2).Results: The results showed that the average respondents on south beach diet phase 1 weight loss of 2.4 kg, body mass index of 0.8 kg/m2 and body fat percentage of 1.3%. The average respondents on south beach diet phase 2 lost weight 1.4 kg, body mass index of 0.5 kg/m2 and body fat percentage of 1.3%.Conclusions: South beach diet affects lose body weight, body mass index and body fat percentage change of My Meal Catering clients. Respondents are expected to be familiar with a healthy diet and apply then adopt it into a lifestyle for the next, step by step.ABSTRAKLatar Belakang: Obesitas merupakan masalah kesehatan yang bersifat global. Berbagai macam upaya yang dilakukan untuk mengontrol berat badan, salah satunya yaitu dengan mengatur pola makan. Diet south beach merupakan salah satu strategi dalam mengontrol berat badan dengan menerapkan pola makan dengan karbohidrat baik dan lemak baik.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perubahan berat badan, indeks massa tubuh dan persentase lemak tubuh klien pasca pemberian diet south beach di My Meal Catering Surabaya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional longitudinal dengan sampel sebesar 30 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner GPAQ untuk mendapatkan data aktivitas fisik dan form food recall 2 x24 jam untuk melihat asupan makanan. Pengumpulan data meliputi berat badan, indeks massa tubuh dan persen lemak tubuh dilakukan dengan pengukuran menggunakan timbangan digital dan bioscan. Hasil yang didapatkan kemudian dibandingkan sebelum dengan sesudah pada hari ke 14 (fase 1) dan hari ke 28 (fase 2) menjalani diet south beach.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata responden pada diet south beach fase 1 terjadi penurunan berat badan sebanyak 2,4 kg, indeks massa tubuh sebesar 0,8 kg/m2 dan persentase lemak tubuh sebanyak 1,3%. Rata-rata responden pada diet south beach fase 2 terjadi penurunan berat badan sebanyak 1,4 kg, indeks massa tubuh sebesar 0,5 kg/m2 dan persentase lemak tubuh sebanyak 1,3%.Kesimpulan: Pemberian diet south beach dapat menurunkan berat badan, indeks massa tubuh dan persentase lemak tubuh klien. Responden diharapkan mampu mengenal pola makan sehat dan menerapkan dan mengadopsinya menjadi gaya hidup untuk seterusnya, tahap demi tahap.
Hubungan Asupan Energi, Stres Kerja, Aktifitas Fisik, Dan Durasi Waktu Tidur Dengan IMT Pada Manajer Madya Dinas Pemerintah Kota Surabaya Annisa Risqi Wulandari; Dhenok Widari; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.837 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i1.2019.40-45

Abstract

Background: Prevalence of overweight and obesity in adult has increased each year in Indonesia. Middle managers were groups at risk for overweight because their job characteristics such as low physical activity and risk of experiencing job stress. Economy support in middle manager was one of supporting factor which affect to higher amount of energy intake. Overweight in adult can affect on their health status and work productivityObjectives: The purpose of this study was to analyze the correlation between energy intake, job stress, physical activity and sleep duration with BMI in middle manager.Methods: This was an observational study with cross sectional design. 49 Middle Manager in Surabaya’s Government Agency were selected using cluster sampling. Nutritional status data were collected using anthropometric measurement, energy intake using SQ-FFQ, job stress using OSI-R questionnaire, physical activity and sleep duration data using activity recall. Data were analyzed by Pearson product moment test.Results: This study showed that most of respondents has normal nutritional status (61.2%), adequate energy intake (47%), moderate level job stress (69.4%), low (46.9%) and moderate (46.9%) physical activity level, and lack of sleep duration (59.2%). There were correlation between energy intake (p=0.001) and sleep duration (p=0.006) with BMI. Job stress (p=0.227) and phyisical activity (p=0.148) had no correlation with BMI.Conclusions: higher energy intake and lower sleep duration would increase BMI.ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi status gizi lebih pada penduduk dewasa semakin meningkat di Indonesia. Manajer madya merupakan kelompok yang berisiko mengalami kegemukan karena jenis pekerjaan kantor yang ringan serta rentan mengalami stres kerja. Dukungan ekonomi juga menjadi salah satu faktor pendukung besarnya asupan energi dibandingkan energi yang dikeluarkan untuk beraktifitas. Masalah gizi lebih pada penduduk dewasa dapat memengaruhi status kesehatan dan produktifitas kerja seseorang.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara asupan energi, stres kerja, aktifitas fisik dan durasi waktu tidur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada Manajer Madya.Metode: Penelitian ini adalah observasional dengan desain penelitian potong lintang. Sebanyak 49 manajer madya di Dinas Pemerintah Kota Surabaya dipilih menggunakan metode cluster sampling. Pengumpulan data menggunakan pengukuran antropometri untuk IMT, SQ-FFQ untuk asupan energi, kuesioner OSI-R untuk stres kerja serta recall aktifitas fisik untuk data aktifitas fisik dan durasi waktu tidur. Analisis data menggunakan uji korelasi pearson product moment.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal (61,2%), kecukupan energi tergolong baik (47%), stres kerja tingkat sedang (69,4%), aktifitas fisik ringan (46,9%) dan sedang (46,9%) serta durasi tidur yang kurang (59,2%). Terdapat hubungan antara asupan energi (p=0,001) dan durasi waktu tidur (0,006) dengan IMT. Stres kerja (p=0,227) dan aktifitas fisik (p=0,148) tidak berhubungan dengan IMT.Kesimpulan: Semakin tinggi asupan energi dan semakin singkat durasi waktu tidur maka akan semakin tinggi IMT pada manajer madya.
Hubungan Faktor Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) dengan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kotakulon, Kabupaten Bondowoso Alfadhila Khairil Sinatrya; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 3 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.011 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i3.2019.164-170

Abstract

Background: In 2017 prevalence of stunting in, Indonesia reached 29.6% and Bondowoso District was one of district that contributes the third higher prevalence, amounted 38.3%. One of underlying cause of stunting were water, sanitation and hygiene (WASH).Objectives: This research aims to analyze the correlation between WASH with stunting among children aged 24 - 59 months in working area of Kotakulon Public Health Center, Bondowoso District.Methods: This was an observational analytic study with case-control design. The sample size of this research was 66 children aged 24 to 59 months in working area of Kotakulon Public Health Center, Bondowoso District. This case-control study consisted of 33 children in case group and 33 children sample of contro groupl. The dependent variable was stunting status, while the independent variables were drinking water source, quality of drinking water, the ownership of lathrines, and mother’s handwashing habits. The data were analyzed using chi-square test.Results: Hand washing habit (p<0.001; OR=0.12) was a risk factor of stunting in under-five years old  which has risk 0.12 times higher for mother that has a poor handwashing habit, while drinking water source (p=0.41), quality of drinking source (p=0.58), the ownership of lathrines (p=0.22) were not accunted as a risk of stunting.Conclusions: A poor handwashing habit in mother contribute to stunting in working area of Kotakulon Public Health Center, Bondowoso District.ABSTRAKLatar Belakang: Pada tahun 2017, prevalensi stunting di Indonesia mencapai angka 29,6% dan Kabupaten Bondowoso adalah kabupaten yang menyumbang angka tertinggi ketiga di Jawa Timur yaitu sebesar 38,3% balita stunting. Salah satu penyebab tidak langsung dari stunting adalah faktor water, sanitation, and hygiene (WASH).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk enganalisis hubungan WASH dengan stunting pada anak usia 24 – 59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kotakulon, Kabupaten Bondowoso.Metode: Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan desain kasus kontrol. Besar sampel penelitian yaitu 66 balita usia 24 – 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kotakulon, Kabupaten Bondowoso. Penelitian kasus kontrol ini terdiri dari sampel kasus sebanyak 33 balita yang mengalami stunting dan sampel kontrol sebanyak 33 balita yang tidak mengalami stunting. Variabel dependen adalah kejadian stunting. Variabel independen adalah WASH, meliputi sumber air minum, kualitas fisik air minum, kepemilikan jamban, dan kebiasaan cuci tangan ibu. Data dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Kebiasaan cuci tangan (p<0,001; OR=0,12) adalah faktor risiko dari stunting pada balita dengan besar risiko 0,12 kali lebih tinggi bagi ibu yang memiliki kebiasaan cuci tangan kurang baik, sedangkan sumber air minum (p=0,415), kualitas fisik air minum (p=0,58), kepemilikan jamban (p=0,22) bukan merupakan faktor risiko dari stunting.Kesimpulan: Kebiasaan cuci tangan yang buruk pada ibu berkontribusi terhadap kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Kotakulon Kabupaten Bondowoso.
Hubungan Perilaku Picky eater dengan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Status Gizi Anak Usia Prasekolah Di Gayungsari Adhelia Niantiara Putri; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v3i4.2019.232-238

Abstract

Background: Picky eater is unwillingness to eat unfamiliar food or try new food as well as strong food preference. Picky eater behaviour in preschool-aged children might cause an insufficient intake of food and lead to impaired growth. Objectives: This study aimed to analyze the correlation between picky eater with adequacy level of intake and nutritional status among preschool children in KB-TK Al-Hikmah Surabaya.Methods: This study was an analytic observational study with a cross-sectional design. 45 subjects aged 41-59 months participated in this study. Simple random sampling method was used to select the sample of this study. Data were collected by measuring height, weight, filling Child Eating Behaviour Questionnaire, and nutrient intake by filling Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire. All data were analyzed using Spearman’s Rho test using SPSS v25.0.Results: This study discovered that 57.6% of subjects had picky eater behaviour, 40% subject had high intake of energy but 95,6% subject had low fibre intake, 22.2% subject were malnutrition, 20% subject were wasting, 13.3% subject were categorized as stunting. Around 23.1% subject with picky eater behaviour had malnutrition. Energy intake level (p=0.000, r=0.717), carbohydrate (p=0.000, r=0.566), protein (p=0.007, r=0.396), dan fat (p=0.000, r=0.599) were correlated to picky eater behaviour. Subjects with picky eater tend to have lower intake level compared to non-picky eater subjects. All subjects have low fibre intake. Nutritional status were not correlated to picky eater behaviour with WAZ (p=0.444), HAZ (p=0.366) and WAZ (p=0.235). Conclusions: There were correlation between picky eater behaviour and intake level. Subject with this behaviour needs to improve their intake level to prevent incident of underweight.ABSTRAKLatar belakang: Picky eater adalah perilaku memilih-milih makanan yang ditandai dengan terbatasnya jumlah pilihan makanan. Kejadian picky eater pada anak prasekolah berakibat kekurangan asupan jangka panjang, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan anak.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara perilaku picky eater dengan tingkat kecukupan zat gizi dan status gizi pada anak usia prasekolah di KB-TK Al-Hikmah Surabaya.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. 45 subyek dengan usia 41-59 bulan berpartisipasi dalam penelitian ini. Metode simple random sampling digunakan untuk pengambilan sampel. Pengumpulan data meliputi pengukuran antropometri, pengisian Child Eating Behavior Quiessionare, dan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnare. Seluruh data dianalisis menggunakan SPSS v25.0 dengan uji Spearman’s Rho.Hasil : Hasil menunjukkan 57,8% responden memiliki perilaku picky eater. Tingkat kecukupan zat gizi memiliki hasil beragam dengan tingkat kecukupan serat kurang. Terdapat 22,2% subyek dengan status gizi kurang, 13,3% subyek dengan stunting, dan 20% subyek dengan wasting. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kecukupan energi (p=0,000, r=0,717),  karbohidrat (p=0,000, r=0,566), protein (p=0,007, r=0,396), dan lemak (p=0.000, r=0,599) dengan kejadian picky eater namun tidak berhubungan dengan tingkat kecukupan serat (p=0,825), status gizi BB/U(p=0,444), TB/U(p=0,366) dan BB/TB(p=0,235).Kesimpulan : Subyek yang berperilaku picky eater memiliki tingkat kecukupan zat gizi lebih rendah. Picky eater berhubungan tingkat kecukupan zat gizi. Responden dan subyek dengan perilaku ini sebaiknya memperbaiki kebiasaan makan dan memperbanyak konsumsi serat untuk mencegah kejadian gizi kurang
Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Siklus Menstruasi dengan Anemia pada Remaja Putri Arnoveminisa Farinendya; Lailatul Muniroh; Annas Buanasita
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v3i4.2019.298-304

Abstract

Background: Anemia is nutrition problem that risk in adolescent girls. Anemia can be caused by lack of nutrition and blood loss when menstruation.Objective: Analyze the correlation nutrition adequacy level (iron, protein, vitamin C, zinc) and menstrual cycle with anemia in adolescent girls.Methods: Cross sectional design was the design used in this research. The population was 397 subjects’ female students in Senior High School 3 Surabaya, 206 subjects’ grade X and 191 subjects grade XI. The sample studied was 78 subjects selected by proportional random sampling of grade X 40 subjects and grade XI 38 subjects. The nutrition adequacy level data was obtained by Semi Quantitative Food Frequency Questionnaires (SQ-FFQ) and compared to Recommended Dietary Allowances (RDA). The data menstrual cycle was gained by structured questionnaires. Data of anemia was gained by hemoglobin concentration which measured by digital hemoglobinometer (easy touch). The statistical test used chi square test.Result: Protein adequacy level (p=0.031) and vitamin C (p=0.020) were relationship with anemia. Iron adequacy level (p=0.416), zinc (p=0.392), and menstrual cycle (p=0.731) were no relationship with anemia.Conclusion: Adolescent girls who had adequate intake of protein and vitamin C will reduce the risk of anemia. Therefore, adolescense girls are encouraged to maintain intake of protein and vitamin C to prevent anemia.ABSTRAKLatar Belakang: Anemia merupakan masalah gizi yang dapat diketahui dengan kadar hemoglobin lebih rendah dari normal dalam darah. Kelompok yang berisiko menderita anemia adalah remaja putri. Kurangnya asupan zat gizi dan kehilangan darah pada saat menstruasi dapat menjadi penyebab anemia pada remaja putri.Tujuan: Melakukan analisis korelasi tingkat kecukupan zat gizi (zat besi, protein, vitamin C, seng) dan siklus menstruasi dengan anemia pada remaja putri.Metode: Cross sectional adalah desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini. Populasi yang digunakan sebanyak 397 siswi siswi SMAN 3 Surabaya, 206 siswi kelas X dan 191 siswi kelas XI. Besar sampel sebanyak 78 orang dipilih secara proportional random sampling dari kelas X sebanyak 40 siswi dan kelas XI sebanyak 38 siswi. Data tingkat kecukupan zat gizi didapatkan melalui kuesioner SQ-FFQ dan dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Data siklus menstruasi didapatkan melalui kuesioner terstruktur. Data anemia didapatkan dari pemeriksaan kadar hemoglobin dengan menggunakan alat hemoglobinometer digital (easy touch). Analisis statistik menggunakan uji korelasi chi-square.Hasil: Tingkat kecukupan protein (p=0,031) dan vitamin C (p=0,020) dengan anemia berhubungan. Tingkat kecukupan zat besi (p=0,416), seng (p=0,392), dan siklus menstruasi (p=0,731) dengan anemia tidak berhubungan.Kesimpulan: Remaja putri yang memiliki tingkat kecukupan protein dan vitamin C cukup akan menurunkan risiko terkena anemia. Oleh karena itu, remaja putri dianjurkan untuk mempertahankan asupan protein dan vitamin C untuk mencegah kejadian anemia.
Perbedaan Pola Asuh dan Tingkat Kecukupan Zat Gizi pada Balita Stunting dan Non-Stunting di Wilayah Pesisir Kabupaten Probolinggo Mita Femidio; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 4 No. 1 (2020): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.33 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v4i1.2020.49-57

Abstract

Background: Stunting was still found in coastal areas, whereas people there had greater opportunities to consume fish which is contain high animal protein to prevent stunting.Objectives: To analyze differences in parenting and nutrient adequacy level on stunting and non-stunting toddlers in the coastal area of Probolinggo District.Methods: This study was a case-control design, which conducted in the village of Pajurangan included Puskesmas Gending. The total sample were 46 toddlers (24-59 months old) divided into cases group (stunting) and control group (non-stunting) with each of group 23 toddlers, that chosen by simple random sampling method from 194 population of toddlers. Data collection included toddler height measurements with microtoise by researchers as well as the questionnaires parenting and SQ-FFQ. Data were analyzed using the Chi-Square test by Odds Ratio (OR).Results: 60.9% stunting group have parenting feeding medium category, but parenting basic health care have good parenting category (91.3%). Most of adequacy level of energy (60.9%), protein (65.2%) and zinc (56.5%) in stunting group were less category, whereas vitamin A was enough category (65.2%).Therefore, there were differences in parenting feeding (p=0.002; OR=10.37; 95%CI=2.374-45.301) and energy adequacy level (p=0.037; OR=4.407; 95%CI=1.26-15.414), protein (p=0.001; OR=12.5; 95%CI=2.828-55.254) and zinc (p=0.015; OR=6.175; 95%CI=1.589-23.993) on stunting and non-stunting toddlers. However, there were no differences in parenting basic health care (p=0.662) and adequacy of vitamin A (p=0.314) on stunting and non-stunting toddlers.Conclusions: Improper parenting and toddler with inadequate levels of energy, protein and zinc had greater risk of stunting compared to toddlers suffered enough. ABSTRAK Latar Belakang: Stunting masih terjadi di daerah pesisir, padahal masyarakat tersebut memiliki peluang lebih besar mengkonsumsi ikan yang kaya protein sehingga dapat mencegah stunting.Tujuan: Menganalisis perbedaan pola asuh dan tingkat kecukupan zat gizi pada balita stunting dan non-stunting di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo.Metode: Desain studi yang digunakan adalah case-control. Penelitian dilakukan di desa pesisir yaitu Desa Pajurangan, wilayah kerja Puskesmas Gending. Total sampel adalah 46 subjek balita berusia 24-59 bulan, terbagi menjadi 23 balita kelompok stunting dan 23 balita kelompok non-stunting. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling dari total populasi 194 balita. Pengumpulan data meliputi pengukuran tinggi badan balita dengan mikrotoa oleh peneliti serta wawancara kuesioner pola asuh dan Semi Quantitative Food Frequency Questionnare (SQ-FFQ). Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan melihat Odds Ratio (OR).Hasil: 60,9% kelompok stunting memiliki pola asuh pemberian makan kategori sedang, sedangkan pola asuh perawatan kesehatan dasar kategori baik (91,3%). Tingkat Kecukupan energi (60,9%), protein (65,2%) dan seng (56,5%) pada kelompok stunting kategori kurang, sedangkan vitamin A kategori cukup (65,2%). Terdapat perbedaan pola asuh pemberian makan (p=0,002; OR=10,37; 95%CI=2,374-45,301), tingkat kecukupan energi (p=0,037; OR=4,407; 95%CI=1,26-15,414), protein (p=0,001; OR=12,5; 95%CI=2,828-55,254) dan seng (p=0,015; OR=6,175; 95%CI=1,589-23,993) pada balita stunting dan non-stunting. Tidak terdapat perbedaan pola asuh perawatan kesehatan dasar (p=0,662) dan tingkat kecukupan vitamin A (p=0,314) pada balita stunting dan non-stunting.Kesimpulan: Pola asuh pemberian makan serta tingkat kecukupan energi, protein dan seng yang kurang berisiko lebih besar balitanya mengalami stunting dibanding kelompok yang cukup
Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi, Tingkat Pengetahuan Ibu, dan Tinggi Badan Orangtua dengan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tambak Wedi Surabaya Rizqita Catur Wulandari; Lailatul Muniroh
Amerta Nutrition Vol. 4 No. 2 (2020): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.973 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v4i2.2020.95-102

Abstract

Background:Stunting is a failure to thrives in under five children condition that causes difficulty to achieves physical and cognitive development in optimal condition. Puskesmas Tambak Wedi as one of the health centers that have increased prevalence of stunting in toddlers by 2.7% from 2017 to 2018. It indicated that the prevention and management of stunting in Surabaya should be optimized so that the prevalence could be reduced. Objectives: The objective was to analyze the correlation between adequacy level of nutrients,mother's knowledge level,and height of parents with the incidence of stunting in Puskesmas Tambak Wedi.Methods: Observational study with a case-control design. The population was 1,143 toddlers. The sample size is 48 toddlers consisting of 24 stunting and non-stunting toddlers selected through simple random sampling. The dependent variable was stunting. The independent variable was the nutritional adequacy,mother’s knowledge level, and parent’s height. The data was analyzed by the chi-square test and simple logistic regression. Results: There were significant correlation between level of energy adequacy(p=0.02;OR=0.11), protein(p=0.018;OR=2.3), calcium(p=0.023;OR=0.2), and mother’s knowledge(p=0.029;OR=-0.265) with stunting in toddler. Father’s(P=0.77) and mother’s(P=0.76) height were not correlated with stunting in a toddler. Non-stunted children were more likely to have better adequacy levels of energy(58.3%), protein(100%), and calcium(58.3%) compared to stunted children. Toddlers who have a mother with good knowledge were have a lower risk of stunting by 0.265 times than toddlers whose mothers lack knowledge.Conclusions: Adequacy levels of nutrients and level of mother knowledge in non-stunting toddlers were better than stunting toddlers aged 24-59 months in Puskesmas Tambak Wedi SurabayaABSTRAKLatar Belakang: Stunting merupakan masalah pertumbuhan fisik yang disebabkan oleh kurangnya kecukupan gizi, rendahnya pengetahuan gizi, serta tinggi badan orangtua. Puskesmas Tambak Wedi Surabaya merupakan salah satu puskemas yang mengalami peningkatan prevalensi stunting 2,7% dari tahun 2017. Meningkatnya angka prevalensi menandakan bahwa pencegahan dan penanganan stunting di Surabaya harus dioptimalkan agar prevalensinya dapat ditekan.Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat kecukupan zat gizi (energi, protein, kalsium), tingkat pengetahuan ibu dan tinggi badan orangtua dengan stunting di Puskesmas Tambak Wedi.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain case control. Besar sampel adalah 48 balita yang  terdiri dari sampel kasus (24 balita stunting) dan sampel kontrol (24 balita non-stunting). Variabel dependen adalah stunting. Variabel independen adalah tingkat kecukupan energi, protein, kalsium, tingkat pengetahuan ibu, dan tinggi badan orangtua. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square dan regresi sederhana.Hasil: Terdapat hubungan antara tingkat kecukupan energi (p=0,02;OR=0,11), protein (p=0,018;OR=2,3), kalsium (p=0,023;OR=0,2), pengetahuan ibu (p=0,029;OR=‒0,265) dengan kejadian stunting pada balita. Tinggi badan ayah (p=0,77) dan ibu (p=0,76) tidak memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Tambak Wedi.Kesimpulan: Tingkat kecukupan zat gizi dan tingkat pengetahuan ibu pada balita non-stunting lebih baik daripada balita stunting. Tingkat kecukupan zat gizi meliputi energi, protein, kalsium dan pengetahuan ibu memiliki hubungan dengan stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tambak Wedi Surabaya.
Co-Authors Abdul Aziz Abdullah Syakur Novianto Abihail, Chrysoprase Thasya Ade Lia Ramadani Adhelia Niantiara Putri Adiningsih, Sri Agustin Asri Meidyah Airin Levina Alfadhila Khairil Sinatrya Alfin Lailatul Fadilah Alfinnia, Silvia Alfinnia Alifatuz Zahrah Amanda Nurqisthy Ambarini, Tri Kurniati Amelia Yomanda Anggraeny Monica Putri Anis Zaiti Mubarokah Anisa Lailatul Fitria Anisah Firdaus Rahmawati Anisaul Makarimah Anja Farahyani Ferwanda Annas Buanasita Annis Catur Adi Annisa Risqi Wulandari Aprilia, Syifa Kanza Ardiansyah, Miko Aries Nilla Dwi R.N Arini Rahmatika Sari Arnoveminisa Farinendya Arum Damar Aditya Bayu Sukma Aulia Rahmah Azizah, Bertaniezia Nur Bahtiar, Dimas Vigo Basuki, Dinda Ayu Lestari Bella Hayyu Risky Herlistia Bessy, Nilam Sahnur Cahyani, Arian Susanti Dewi Cahyanti, Ika Yuniar Chandramanda Dewi Damara Cholifatun Ni’mah Christa, Theresa Angelina Chrysoprase Thasya Abihail Chrysoprase Thasya Abihail Cindhy Pamela Kesuma Cynthia Almaratus Sholicha Dewi Sekarani Paramita Dhenok Widari Diah Indriani Dian Anita Nilawati Dila Ningrum Dinda Laminia Dini Ririn Andrias Dominikus Raditya Atmaka Elfira Elfiyanti Endriano, Firn Al Taftazani Faizzatur Rokhmah Fannani, Muhammad Rovi Tanwirul Fanti Septia Nabilla Farapti Farapti Faricca Kusuma Widyaningsih Fauziah, Rafita Fenny Putri Maharani Fina Zahrotun Ni&#039;mah Fina Zahrotun Ni'mah Firyal Faris Naufal Firyal Faris Naufal Gracela, Eveline Hafifah Rahmi Indita Hakiki, Muchammad Insan Kharisma Hashifah Dzihniyah Zhafirah Ilyas Ibrahim, Fitriyah Shuci Rahmawaty Imas Nur Jannah Inas Ngesti Pribadi Indita, Hafifah Rahmi Intan Sekar Putri Nugroho Isaura, Emyr Reisha Ismi Faizah Iwan Sahrial Hamid Izdihar, Hasna Jaya, Tiffany Hadi Karina Septea Asie Sawong Ketut Herlin Simanoah Khasanah, Indi Julia Ridhatul Khaulah Ali Badjree Khoiroh, Mawadatul Laila Maulida Hidayah Lailata, Irina Lailatul Masruroh Lailatul Masruroh Laili, Putri May Wahyu Latersia, Yovicristy Levina, Airin Levina, Airin Lydia Verdiana Maharani, Ajeng Diva Putri Maharani, Fenny Putri Mahmud Aditya Rifqi Mar'atik, Khusnatul Margareta Fatimah Azzahra Maria Alfa Kusuma Dewi Maria Alfa Kusuma Dewi Maryam Jamilah Maulidya, Hikmah Mentari Indah Saputri Merryana Adriani Mita Femidio Mubarokah, Wida Wahidah Muchammad Insan Kharisma Hakiki Muhammad Kris Yuan Hidayatulloh Mulyadi, Rafiqi Dwi Nabilla, Fanti Septia Nadia Kenyo Peni Dewantoro Nandia Firsty Dhorta Nasiruddin, Mukhammad Nastiti, Aliffah Nurria Nelsa Kurnia nFN Arikah, nFN Nindyaningrum, Salsabila Farahdea Nur Hikmah Wati Nurkusumahputri, Renatasaskia Nurul Fadilah, Nurul Nurul Hartini Nurul Mawaddah Nyoman Wahyu Meta Wulandari Ona Oktalina Pandwita, Siska Mareta Pradnyaparamita, Alya Prasetyo, Moch Richo Pratiwi Azizah Ajeng Pratiwi, Rachmahnia Puspikawati, Septa Indra Puspita, Fina Intan Putri Nia Mulyono Putri, Anggraeny Monica Putri, Evita Hasana Rachmah, Qonita Rahayuningsih, Aries Nilla Rahma, Rania Salsabila Rahmadani, Qurrota A’yun Nur Rahmaniasari, Wanda Aisyah Ramadani, Ade Lia Ramadhani, Tsamara Alifia Ramadhani, Zulfa Taqiyyah Ramdhan, Muhammad Risqi Ihya Ratna Dwi Puji Astuti Retty Anisa Damayanti Riswandha Ichsan Noor Riza Amalia Rizki Kurnia Illahi Rizky Prihandari Rizqita Catur Wulandari Rondius Solfaine Said, Avicenna Muhammad Salsabila Farahdea Nindyaningrum Santi Martini Santosa, Faradyah Lulut Shamarayunda Zulkarnain Shanty Oktavia Shintia Yunita Arini, Shintia Yunita Silvia Alfinnia Simanoah, Ketut Herlin Siti Helmyati Siti Rahayu Nadhiroh Sobhita Paramita Socadevia, Annisa Sofia, Himatus Sri Sumarmi Tetasa, Sarah Thalita, Kanasya Tri Kurniati Ambarini Triska Susila Nindya Ulaganathan, Vaidehi Ulfah, Zakiyyah Vidya Anggarini Rahmasari Wida Wahidah Mubarokah Wida Wahidah Mubarokah Wida Wahidah Mubarokah Wigati Maria Yuly Sulistyorini Zuhairoh Naily Syarofi Zuhro, Nurhidayatus Zulfa Taqiyyah Ramadhani Zulkarnain, Shamarayunda