Kecakapan abad ke-21 menuntut siswa untuk menguasai tiga dimensi utama, yakni literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Dalam konteks ini, Computational Thinking (CT) menjadi sangat penting dalam pembelajaran matematika karena melibatkan proses perumusan masalah, pemecahan masalah, serta penalaran ilmiah yang sistematis. Namun, rendahnya kemampuan computational thinking siswa SMP sering kali disebabkan oleh pembelajaran yang cenderung abstrak dan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Aritmatika sosial sebagai materi yang krusial memerlukan pendekatan kontekstual dan integrasi teknologi untuk membantu siswa memahami konsep sekaligus melatih keterampilan berpikir logis dan sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji validitas serta kepraktisan e-modul matematika berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang terintegrasi dengan budaya lokal. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian melibatkan dua validator ahli, satu guru matematika, dan 31 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pagar Alam. Instrumen yang digunakan meliputi pedoman wawancara dan lembar angket. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif (Sequential explanatory) dengan desain penjelasan sekuensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul yang dikembangkan memenuhi kriteria: (1) sangat valid, dengan rata-rata persentase dari dua ahli sebesar 91,75%; dan (2) sangat praktis, dengan rata-rata skor kepraktisan sebesar 88,33% berdasarkan respons guru; praktis, dengan rata-rata skor kepraktisan sebesar 80,10% berdasarkan respons peserta didik. Selain itu, tahap analisis menunjukkan adanya kesenjangan pada ketersediaan bahan ajar yang masih bersifat konvensional, kurang melibatkan siswa secara aktif, dan ketertarikan siswa terhadap perangkat digital serta kebutuhan akan pembelajaran yang kontekstual. Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa e-modul berbasis STEM yang mengintegrasikan budaya lokal kopi merupakan media pembelajaran yang valid dan praktis untuk digunakan dalam pembelajaran siswa. 21st-century skills require students to master three key dimensions: literacy, numeracy, and character education. In this context, Computational Thinking (CT) is crucial in mathematics education, as it involves problem formulation, problem-solving, and systematic scientific reasoning. However, the low level of computational thinking skills among junior high school students is often attributed to instruction that tends to be abstract and lacks relevance to daily life. Social arithmetic—a critical topic—requires a contextual approach and technology integration to help students grasp concepts while simultaneously honing logical and systematic thinking skills. This study aims to develop and test the validity and practicality of a STEM-based (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) mathematics e-module that integrates local culture. It employs a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). The study participants included two expert validators, one mathematics teacher, and 31 seventh-grade students from SMP Negeri 2 Pagar Alam. Data collection instruments consisted of interview guidelines and questionnaires. Data were analyzed using a sequential explanatory design, combining qualitative and quantitative descriptive methods. The results indicate that the developed e-module met the following criteria: (1) highly valid, with an average expert validation score of 91.75%; and (2) highly practical, with an average practicality score of 88.33% based on teacher feedback, and practical, with an average score of 80.10% based on student feedback. Furthermore, the analysis phase revealed a gap regarding the availability of conventional teaching materials that failed to actively engage students, contrasted with students' interest in digital devices and the need for contextual learning. The study concludes that the STEM-based e-module, which integrates local coffee culture, serves as a valid and practical learning resource for students.