Claim Missing Document
Check
Articles

KANTOR SEWA DI MANADO. Arsitektur Bangunan Hijau Jonathan B. Angkouw; Jefrey I. Kindangen; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.29490

Abstract

Perekonomian kota Manado dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami peningkatan yang signifikan yang terdorong dari pemenuhan dan permintaan masyarakat kota. Hal ini mendorong semakin banyak individu atau sekelompok orang mengembangkan suatu peluang usaha yang menciptakan lapangan kerja dan hasil produk dari usaha tersebut. Usaha ini memiliki suatu badan atau bidang terorganisir disebut Perusahaan yang memerlukan tempat untuk menjalankan proses bisnis dan kegiatan mereka, yaitu perkantoran.  Tujuan dari perancangan ini adalah merancang suatu ruang atau wadah yang mampu memenuhi kegiatan dan aktivitas Perusahaan atau Pengguna kantor sewa. Selain itu butuh diterapkan suatu konsep tematik yang mampu menganalisis bagian-bagian perancangan dari kantor sewa guna membuat objek rancang perkantoran semakin efektif dan efisien. Dari tujuan itu diperlukan juga proses perancangan yang tepat agar supaya dalam meneliti dan menyimpulkan konsep perancangan mampu menghadirkan penerapan konsep yang tematis dan pemecahan masalah arsitektural dengan benar. Dengan menerapkan metode Glass box oleh Christopher Alexander dalam bukunya The Phenomenon of Life yang menjelaskan bahwa metode ini menggunakan pemikiran yang rasional secara objektif dan tersistematis dalam menelaah suatu hal. Metode ini menolak pemahaman yang tidak logis dan tidak rasional. Perancangan kantor sewa di kota Manado ini menerapkan konsep tematik arsitektur bangunan hijau dimana dalam hasil perancangannya menjabarkan beberapa hal seperti kebutuhan ruangan kantor yang ada disesuaikan dengan ketetapan dan regulasi sehingga semua kebutuhan secara primer maupun penunjang disediakan dalam kantor. Ada juga dalam implementasi desain, ruang kantor dibuat seefisien mungkin dalam penggunaan ruang, sirkulasi, utilitas dalam hal penghawaan dan pencahayaan. Dengan implementasi Arsitektur Bangunan hijau dalam perancangan, mampu mewujudkan sebuah desain kantor sewa yang baik, efisien, efektif, ramah lingkungan, dan menjawab setiap kebutuhan alami pengguna Kantor sewa. Kata kunci: Manado, Kantor, Arsitektur Bangunan Hijau.
CREATIVE HUB DI KOTA MANADO. Biophilic Design Belinda A. M. Rorimpandey; Jefrey I. Kindangen; Frits O. P. Siregar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.29638

Abstract

Antusiasme perkembangan Industri 4.0 di Indonesia membuat Kota Manado juga terseret dengan arus perkembangan ini. Keanekaragaman budaya dan seni yang ada di Indonesia dan khususnya di Kota Manado dapat mempengaruhi potensi kreatif yang timbul pada masyarakat. Kota Manado merupakan salah satu kota yang mampu menarik investasi luar negeri maupun domestik di Indonesia, serta berusaha semakin baik yang disertai dengan peningkatan kemampuan tenaga kerja Indonesia dalam mengadopsi teknologi. Untuk membantu para pelaku industri kreatif di Kota Manado ini dibutuhkan fasilitas yang memadai yang bisa memfasilitasi melalui pendidikan, marketing, dan networking sehingga dihadirkanlah Creative Hub. Aktifitas-aktifitas dalam Creative Hub menyatukan bakat, keterampilan dan disiplin pelaku-pelaku kreatif dalam suatu komunitas kreatif lokal. Creative Hub membentuk suatu jaringan yang menggerakkan pertumbuhan industri kreatif dalam level lokal, yang kemudian berlanjut ke level regional. Creative Hub ini diharapkan nantinya menjadi ruang dinamis yang menyediakan lapangan pekerjaan lebih, memperluas layanan pendidikan, kesempatan networking dan pengembangan bisnis, serta menciptakan inovasi dengan lebih intensif dalam industri kreatif. Di Manado terlihat adanya antusiasme generasi mudanya terhadap industri kreatif, yang tercermin dari diselenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan. Penerapan tema Biophilic Design diambil dalam perancangan objek dikarenakan interaksi dan keinginan alami manusia dengan alam yang telah menjadi kebutuhan sehingga bisa menciptakan objek bangunan yang bisa merelaksasikan secara fisiologis (kenyamanan) maupun psikologis (kesehatan & ketenangan) pada pengguna. Creative Hub di Kota Manado dengan pendekatan Biophilic Design ini tidak hanya akan memperhatikan estetika dan fungsional ruang namun juga dapat membantu proses terapi dalam peningkatan kesejahteraan hidup manusia secara fisik dan mental dengan membina hubungan positif antara manusia dan alam. Kata Kunci: Manado, Creative Hub, Biophilic Design, Pusat Industri Kreatif
GEDUNG PERTUNJUKAN DI MANADO Arsitektur Etnomatematika Jerry C. Poli; Jefrey I. Kindangen; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30171

Abstract

Latar belakang dengan perkembangan zaman yang semakin hari semakin modern, banyak orang melupakan akan segala hal termasuk culture, budaya, ciri khas suatu daerah ataupun efiseiensi dalam pemeliharaan tarian, budaya, pakaian adat. Begitu pula yang ada di Sulawesi utara tidak luput dari pengaruh moderenisme sehingga melupakan culture budaya. juga pementasan seni yang tidak efisien membuat pementasan tidak berkualitas oleh karena itu solusi yang baik adalah membuat sebuah wadah atau objek untuk pertunjukan.Kebutuhan tempat pementasan seni juga untuk membudidayakan adat di daerah melalui opera Theatre.Latar  Belakang Judul ini adalah ketidakadanya bangunan yang berfungsi sebagai pementasan, theatre dan pertunjukan sehingga dalam aspek parawisata sangat di butuhkan bangunan yang berfungsi sebagai tempat pementasan. Dalam aspek bisnis juga untuk acara-acara dengan mempromosikan suatu produk juga membuhtuhkan bangunan yang berfungsi Pertunjukan. Dalam sudut pandang Tema, dengan tema Ethnomathematics (gabungan antara budaya dan matematika) menawarkan bangunan yang bercirikhas adat tradisional daerah Sukawesi Utara. Dalam sudut pandang pemerintahan juga mampu membangkitkan nilai adat yang kuat untuk melestarikan seni dan adat daerah, . Serta memajukan tingkat perekonomian kota sehingga tingkat. Kata Kunci: Gedung Pertunjukan, Arsitektur Etnomatematika
MUSEUM BAHARI DI KOTA MANADO. Penerapan Intangible Metaphors Dalam Arsitektur Timothy T. Tumonggor; Jefrey I. Kindangen; Dwight M. Rondonuwu
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30771

Abstract

Kota Manado merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Utara dengan garis pantai sepanjang 18,7 kilometer yang masuk dalam kategori waterfront city dan berpotensi dalam bidang pariwisata. Museum merupakan salah satu tujuan objek wisata. Museum bahari merupakan tempat melestarikan dan memperkenalkan kebaharian Sulawesi Utara melalui pameran yang menampilkan koleksi tentang kebaharian/kelautan, seperti benda-benda bersejarah, maupun keanekaragaman hayati laut. Namun, dewasa ini museum menjadi tempat yang kurang diminati pengunjung karena teknik penyajian yang kurang menarik dan terkesan membosankan. Sehingga masyarakat kurang merasakan manfaat museum sebagai sarana konservasi, informasi, edukasi maupun rekreasi. Dengan memanfaatkan letak stategis Kota Manado serta untuk mengangkat citra museum yang sedang sekarat, dicanangkanlah perancangan Museum Bahari di Kota Manado. Perancangan ini bertujuan untuk menghadirkan objek Museum Bahari di Kota Manado yang menarik dengan penerapan Intangible Metaphors dalam arsitektur.  Metode yang digunakan dalam perancangan adalah metode glass box menurut J.C. Jones (Design Methods:1972). Metode ini dilakukan secara sistematis dimana konsep perancangan tidak datang secara spontan, tetapi melalui beberapan tahapan yang dilakukan dengan pertimbangan tertentu. Tema yang diterapkan dalam perancangan adalah Intangible Metaphors dalam arsitektur yang merupakan bagian dari arsitektur metafora. Sifat dan karakteristik air menjadi elemen dasar dalam perancangan yang diimplementasikan pada aspek-aspek rancangan berupa konfigurasi massa, selubung, ruang luar dan ruang dalam.  Dengan penerapan tema ini diharapkan mampu menghadirkan objek Museum Bahari di Kota Manado yang menarik dikunjungi bagi masyarakat lokal maupun mancanegara.Kata kunci: Museum Bahari, Arsitektur Metafora, Intangible Metaphors, Kota Manado
KOMPLEKS PERSEKOLAHAN YAYASAN EBEN HAEZAR DI MINAHASA UTARA, Rasio Emas dalam Arsitektur Rexvan L. Podung; Jefrey I. Kindangen; Johannes V. Rate
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34679

Abstract

Adalah suatu persepsi umum apabila seorang anak menempuh pendidikan wajib 12 tahun di sekolah ternama yang menjunjung tinggi pendidkan karakter dengan orientasi pada nilai-nilai spesifik dan memiliki beragam prestasi di kancah nasional maupun internasional maka sang anak dipastikan memiliki kualifikasi lebih baik dalam bidang akademik, non akademik serta moralitas. Hal ini berlaku juga di Sulawesi Utara yang memiliki demografi mayoritas beragama Kristen, sehingga sekolah swasta berorientasi Kekristenan. Beragam instansi swasta berkarakter Kekristenan menyadari potensi ekonomi dari persepsi ini dan saling bersaing dalam menghadirkan sarana edukasi formal dengan identitas yang telah dikemukakan di atas yang didukung fasilitas-fasilitas mumpuni untuk menarik minat siswa-siswi berprestasi. Dalam menghadirkan sarana edukasi, para penyedia edukasi sering melupakan esensi dasar perencanaan yang sejak jaman perunggu menjadi esensi superioritas beragam peradaban besar dalam penguasaan ilmu konstruksi sebagai perpanjangan geometri: Rasio Emas. Rasio Emas sendiri merupakan bentuk pendekatan paling sederhana dan mendasar namun universal dan penyedia solusi yang efektif. Pendekatan geometri cocok digunakan dalam karakter apapun termasuk bangunan berkarakter Kristiani.Untuk menjawab permintaan demografi akan hal diatas dan juga menjawab kebutuhan spesifik internal, maka salah satu yayasan swasta ternama di Sulawesi Utara menghadirkan kompleks persekolahan di Minahasa Utara. Perencanaannya diharapkan memberi solusi terhadap permintaan yayasan dan kondisi tapak eksisting. Menyikapinya, digunakan metode yang dikemukakan Horst Rittel yakni dengan mengembangkan beragam variabel yang kemudian ditindaklanjuti melalui pengembangan atau pereduksian.Kata Kunci: Sekolah, Yayasan, Rasio Emas
REST AREA JL. MANADO - GORONTALO, Arsitektur Kontemporer Arif A. Sidik; Jefrey I. Kindangen; Herry Kapugu
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i1.35589

Abstract

Transportasi merupakan kegiatan perpindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Moda Transportasi darat yang tersedia di Sulawesi Utara untuk angkutan umum yaitu Angkutan Kota dan Angkutan Umum AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang setiap hari melayani transportasi di dalam Kota Manado dan juga Ke Luar Kota atau Provinsi, sehingga pada Jalan Trans perlu disediakan fasilitas istirahat bagi kendaraan dan pelaku transportasi demi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan kendaraan dan pelaku transportasi. Di sepanjang Jl. Trans Manado – Gorontalo belum tersedia Tempat Istirahat dan pelayanan yang dapat menunjang keamanan, kenyamanan, dan keselamatan pelaku transportasi pada jalur ini, karena biasanya mereka hanya memanfaatkan warung, bengkel, minimarket yang ada di pinggir jalan, sehingga dapat menyebabkan kemacetan. Dengan adanya Tempat Istirahat dan Pelayanan atau yang biasanya disebut juga Rest Area yang dilengkapi dengan fasilitas SPBU, Restaurant, Cafetaria, Minimarket, Bengkel, Toko Retail, dan Area Istirahat, dan dengan penerapan tema Arsitektur Kontemporer dapat memberikan Keamanan, keselamatan, serta kenyamanan yang hakiki bagi pengunjung.Kata Kunci: Rest Area, Tempat Isitrahat dan Pelayanan, Arsitektur Kontemporer.
MADRASAH ALIYAH DI MANADO: Eco Creative Architecture Shifa A. Qayyum; Jefrey I. Kindangen; Surijadi Supardjo; M. Mardan Anasiru
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan menjadi pondasi utama dalam membangun kultur suatu bangsa. Bagaimana manusia dapat menjamin kelangsungan masa depan mereka tanpa adanya pendidikan? Di masa sekarang manusia diharapkan menerima Pendidikan yang lebih dari hanya mengembangkan kemampuan intelektualnya. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah bagimana karakter setiap orang terbentuk. Pembentukan karakter manusia tidak diawali dengan mencerdaskan, namun sebaliknya, Langkah yag paling penting adalah mewujudkan individu yang bertakwa dan berakhlak mulia. Eksistensi pendidikan di zaman sekarang hanya dilihat melaluiu satu paradigma yang terbatas dimana Pendidikan hanya dimengerti sebagai suatu instrument yang melingkupi kecerdasan intelektual tanpa pembentukan karakter. Paradigma seperti ini menjebak manusia dalam pemikiran yang salah tentang tujuan pendidikan, hakikat masalah hukum, politik, budaya, dan sosial, membuat mereka sensitif terhadap penurunan sebab tak mampu memikul tanggung jawab secara wajar. Madrasah merupakan salah satu penyelenggaraan pendidikan formal berbasis agama Islam. Eksistensi madrasah sangat diperlukan ditengah krisis moral yang terjadi disaat lembaga pendidikan biasa tak sanggup memenuhi syarat perbaikan karakter dan moral bangsa dimasa mendatang. Dengan isu permasalahan ini, sebuah madrasah dapat menjadi tiang penopang kehidupan masyarakat yang juga mampu menghubungkan kebutuhan jasmani serta kebutuhan mental rohani seseorang. Kata Kunci: Madrasah, Ecology, Creative
GEDUNG PUSAT UMKM DI SANGIHE: Arsitektur Perilaku dan Lingkungan Sarah K. F. Rainga; Jefrey I. Kindangen; Sonny Tilaar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM di Indonesia dilihat memberikan peran serta dampak yang positif bagi perekonomian negara. Dikawasan Asia Tenggara dinilai terbesar peran usaha kecil, menengah dan mikro. Kontribusi positif usaha kecil, menengah dan mikro terhadap produk nasional bruto (PDB) cukup besar. Pesatnya pertumbuhan usaha kecil, menengah dan mikro juga tidak terlepas dari dukungan pertumbuhan penduduk. Sangihe tidak memiliki ruang untuk pengembangan untuk menjual produk UMKM, membuat usaha kecil, menengah dan mikro yang ada terbelakang atau bahkan tidak maju. Oleh karena itu, hal ini dinilai membutuhkan ruang, sebagai ruang belajar dan pertemuan dengan pelaku bisnis dan kelompok kreatif, sebagai ruang kolaborasi untuk menghasilkan inovasi terbaru. Di kabupaten kepulauan Sangihe memiliki kearifan dan nilai-nilai lokal yang beragam. Potensi kearifan lokal dapat dipahami melalui sosial budaya, sejarah lokal, tradisi dan materi lokal. Dari segi sosial budaya, masyarakat Sangihe memiliki potensi besar bagi pengrajin lokal, seperti kedekatan mereka dengan pengrajin kerajinan tangan (Bika), peda (parang ) bahkan seni kuliner. Menghadirkan Pusat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di sangihe yang bisa sebagai fasilitas pengembangan serta pemberdayaan ekonomi lokal, dan juga sebagai tempat pemasaran UMKM kuliner maupun hasil produk khas daerah sehingga dapat tingkatkan produktivitas dalam bekerja. Gedung Pusat Usaha Mikro Kecil dan Menengah( UMKM) di sangihe dengan mengaplikasikan pendekatan Arsitektur perilaku dan lingkungan yang bisa menciptakan ruang yang bisa tingkatkan daya produksi dalam bekerja dengan mengintegrasikan alam kedalam bangunan. Kata Kunci : Sangihe, Gedung Pusat UMKM, Arsitektur Perilaku dan Lingkungan
LEARNING CENTER MANADO: Arsitektur Biofilik Adinda E. Lumentah; Jefrey I. Kindangen; Fela Warouw
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan Learning Center di Kota Manado dengan tema Arsitektur Biofilik mengusung konsep integrasi harmonis antara bangunan dan alam untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inovatif dan berkelanjutan. Tujuan perancangan ini adalah menciptakan ruang belajar yang memaksimalkan keterlibatan manusia dengan alam, meningkatkan kesejahteraan pengguna, dan memberikan dampak positif pada pembelajaran. Melalui pendekatan Arsitektur Biofilik, bangunan ini diharapkan dapat menggabungkan elemen-elemen alam seperti cahaya alami, udara segar, dan ruang terbuka hijau untuk meningkatkan pengalaman belajar dan kreativitas pelajar. Dengan pemikiran ini, Learning Center di Kota Manado diharapkan menjadi model desain edukatif yang mengutamakan keberlanjutan dan keseimbangan ekologis, menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan ramah lingkungan. Kata Kunci: Learning Center, Pendidikan, Arsitektur Biofilik
Evaluasi Ketersediaan Infastruktur di Pulau Kecil (Studi Kasus : Pulau Siau) Sondokan, Kristi H.; Tondobala, Linda; Kindangen, Jefrey I.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i1.48818

Abstract

Kondisi infrastruktur yang ada di Pulau Siau diperhatikan ketersediaannya agar pertumbuhan maupun pengembangan wilayah dapat terfasilitasi dengan adanya infrastruktur dasar. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi ketersediaan infrastruktur yang ada di Pulau Siau, serta menganalisis kebutuhan infrastruktur yang diperlukan. Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini dan menggunakan analisa pendekatan kuantitatif, karena.dalam pelaksanaannya.meliputi.data, analisis.dan.interpretasi serta metode spasial, teknik ini menggunakan data infrastruktur yang ada di Pulau Siau untuk dapat mengetahui sebaran infrastruktur yang terkait, kemudian data ini digunakan untuk mengetahui radius pelayanan dengan teknik buffering pemetaan menggunakan aplikasi ArcMap 10.3 untuk sebaran pelayanan infrastruktur. Berdasarkan hasil dari mengidentifikasi ketersediaan infrastruktur sudah memadai, tetapi terdapat beberapa wilayah yang infrastrukturnya belum memadai. kebutuhan infrastruktur yang diperlukan di Pulau Siau di prioritaskan pada Kecamatan Siau Barat Utara dan Kecamatan Siau Tengah, hal ini dikarenakan berdasarkan hasil observasi ditemukan infrastruktur belum memadai pada kedua kecamatan tersebut, seperti ketersediaan telekomunikasi yang belum terlayani, kebutuhan sarana air bersih untuk pemenuhan masyarakat. Kata kunci: Evaluasi, Infrastruktur, Pulau Siau Abstract Availability of existing infrastructure on Siau Island is taken into account so that regional growth and development can be facilitated by basic infrastructure. The purpose of this study is to identify the availability of existing infrastructure on Siau Island, as well as analyze the required infrastructure needs. The method used in this study uses a quantitative descriptive method which is the method used in this research and uses a quantitative approach to analysis, because in its implementation it includes data analysis and interpretation as well as spatial methods, this technique uses existing infrastructure data. Siau Island to be able to find out the distribution of related infrastructure, then this data is used to determine the service radius with the buffering mapping technique using the ArcMap 10.3 application for the distribution of infrastructure services. Based on the results of identifying the availability of adequate infrastructure, there are several areas where the infrastructure is inadequate. the infrastructure needs needed on Siau Island are prioritized in Siau Barat Utara sub-district and Siau Tengah sub-district, this is because based on observation results found inadequate infrastructure in the two sub-districts, such as the availability of unserved telecommunications, the need for clean water facilities to meet the needs of the community. Keyword: Evaluation, Infrastructure, Siau Island
Co-Authors , Sangkertadi . Sangkertadi Adinda E. Lumentah Aldrin Dirks Alfin R. Narahayaan Alvin J. Tinangon Andry Gosal Andy A.M. Malik, Andy A.M. Anes, Gabriela M. Archie I. M. Suawa, Archie I. M. Arif A. Sidik Aristotulus E. Tungka Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Belinda A. M. Rorimpandey Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Datunsolang, Rifqi Akbar Dingo, Noldy J Dwight M Rondonuwu, Dwight M Dwight M. Rondonuwu Esli D. Takumansang EV Wuisa, Cynthia Fela Warouw Fela Warouw Fernando Z. Runtuwene Frits O. P. Siregar Gorung, Michael S. Gosal, Christy Vernanda Heilbert A. Mapaly Herry Kapugu Herry Kapugu Hompas, Meyliana M. Hukom, Jolefry Ingerid L. Moniaga Irene Runtunuwu, Lisa Irina, Putri D. Jerry C. Poli Jerry M. Fransz Jessica N. Waworundeng Johannes V. Rate Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Jonathan B. Angkouw Joseph Rengkung Judy O Waani Judy O. Waani Jumiati Kaharu, Arlan Kalalo, Loudy Kandou, Tiffany B. M. Karmelia K. Rembet Kawulur, Clarissa B. Koemesan, Enrico M.P. Kolondam, Joo Kristi H. Sondokan Kumakaw, Cahya G. P. Leidy M. Rompas Liem, Cindy Linda Tondobala Linda Tondobala Lintong Delila, Lintong Lohonauman, Olivia Luther Betteng M. Mardan Anasiru M.Y Noorwahyu Budhyowati Marbangun, Laksamana Maria Runtuwene Meita Rumbayan Menajang, Greglory M Michael M. Rengkung Michael Rengkung Mokodompit, Putri Indah Sari Momuat, Yudha J. R. Moniaga, Virgino S. Octavianus H. A. Rogi Octavianus H.A Rogi Octavianus Hendrik Alexander Rogi Paiman, Josua Gabriel Pasau, Rayanda Peggy Egam Pelealu, Veronica L. Peter N. Y. P. Sumual, Peter N. Y. P. Pierre Gosal, Pierre Pingkan P. Egam Poli Hanny, Poli Prayitno, Gunawan Adhi Puput Ch. Tendean Putra Sholihin Thayeb Putri S. N. Potabuga Putri, Rischi I. Putu A. B. Kusuma Rachmat Prijadi Rachmat Prijadi Ratag, Andreas Raymond Ch. Tarore Rexvan L. Podung Ricky M.S Lakat Rifqi Akbar Datunsolang Roosje J. Poluan Rumengan, Michael Rinaldi Clipper Salettia, Viva S. Saputera Elias, Yohanes Richie Sarah K. F. Rainga Shania Laily Shifa A. Qayyum Simatupang, Geovanly Sitanggang, Roulina A. Sondakh, Rayana S. Sondokan, Kristi H. Sonny Tilaar Sonny Tilaar Stenly Tangkuman Sumanti, Ceria T. Sumilat, Jeremy L. Surijadi Supardjo Surjono, . Takaliuang, Adnan Tangkilisan, Juard R. Tasiam, Yngwie I. M. Timothy T. Tumonggor Tinangon, Alvin Toding, Juprianto Bua' Tonapa, Patria Rante Triska F Genah Tumbelaka, Vanessa Veronica A. Kumurur Vicky H. Makarau Yeremia F. W. Wolayan Yogini Adriana Wulur