p-Index From 2021 - 2026
7.757
P-Index
This Author published in this journals
All Journal DIMENSIA: Jurnal Kajian Sosiologi ANTHROPOS: JURNAL ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA (JOURNAL OF SOCIAL AND CULTURAL ANTHROPOLOGY) Jurnal Filsafat Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman Religio : Jurnal Studi Agama-agama Jurnal Studi Agama dan Masyarakat DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Analisa Sosiologi Jurnal Ilmu Budaya ENDOGAMI Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Kurios NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Kritis Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Jurnal Basataka (JBT) Indonesian Journal of Religion and Society Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik AL MA'ARIEF : JURNAL PENDIDIKAN SOSIAL DAN BUDAYA Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Jurnal Studi Agama BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Pute Waya Sociology of Religion Jornal Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Journal La Edusci JPI (Jurnal Pendidikan Inklusi) Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal DIDASKO LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya Jurnal Penelitian Agama Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama International Journal of Educational Research Excellence (IJERE) Mamangan Social Science Journal Jurnal Bimbingan dan Konseling Pandohop Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Indonesian Journal of Religion, Spirituality, and Humanity MOMENTUM : Jurnal Sosial dan Keagamaan Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Marsahala:Jurnal Studi Agama dan Budaya Jurnal Wacana Psikokultural
Claim Missing Document
Check
Articles

Tombor maghi as an interfaith ritual: lived religion among Muslims and Christians in West Papua, Indonesia Ngabalin, Marthinus; Lattu, Izak Y. M; Qurtuby, Sumanto Al; Tampake, Tony
IJORESH Indonesian Journal of Religion Spirituality and Humanity Vol. 4 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Religion, Spirituality, and Humanity
Publisher : Postgraduate Program of State Islamic University (UIN) Salatiga Jl. Lingkar Salatiga Km. 02 Salatiga, Indonesia https://pps.uinsalatiga.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijoresh.v4i1.55-84

Abstract

This article explores the Tombor Maghi ritual among the Fakfak community in West Papua Province, Indonesia, which strengthens interfaith relations, particularly between Muslims and Christians. Originally part of a traditional marriage custom, the ritual has developed into a broader form of community solidarity involving cross-religious cooperation. While scholars in anthropology and sociology have extensively studied rituals, research that focuses explicitly on rituals within the context of inter-religious relations remains relatively underdeveloped. This study addresses three main research questions: how the Tombor Maghi ritual is practiced and interpreted by the Fakfak community across religious affiliations; what role the ritual plays in fostering interfaith cooperation and reinforcing communal solidarity; and what symbolic and social significance the ritual holds within the broader framework of lived religion and indigenous approaches to peacebuilding. This study employs a qualitative methodology, utilising a realist ethnographic approach. Data were collected through interviews and field observations conducted in Fakfak Regency. The findings indicate that Tombor Maghi continues to be preserved as a form of cultural dialogue that weaves together interfaith relations. The ritual reflects cultural knowledge that is created, transmitted, and practised in daily life. It provides a space for Muslims and Christians to collaborate through community-based initiatives, such as at mosques and churches. In light of these findings, further research related to this topic is suggested because there are still many interesting issues to discuss in connection with rituals that have become a philosophy in social life.
Demutru Values as Habitus in Building Religious and Community Life in Grime Nawa Baransano, Imelda; Lattu, Izak Yohan Martriks; Suwarto; Tampake, Tony Robert Christian; Karubaba, Hendrika, Yovania
International Journal of Educational Research Excellence (IJERE) Vol. 3 No. 1 (2024): January-June
Publisher : PT Inovasi Pratama Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55299/ijere.v3i1.870

Abstract

Research purposes This is to describe, Demutru Values as local wisdom of the Grim e Nawa Community in Ja y apura Regency-Papua and Demutru Values as Habitus in building religious and social life in Grim e Nawa Regency Jayapura-Papua. The research method used in this research is qualitative research with descriptive analysis using an ethnographic approach. Data collection techniques use observation, interviews and documentation methods. The research subjects were traditional leaders, community leaders, young men and women leaders and parents in society. Data analysis techniques through data reduction, data provision and drawing conclusions. The results of this research found that Demutru's values as a habitus in building religious and social life in Grime Nawa, Jayapura-Papua Regency are: First, values as a manager who organizes all activities in society. Second, the value of being a servant who solves problems in society by consensus. Third, the value of being a spiritual person who serves as a spiritual leader who guides people to meet Allah or Woirom. Meanwhile, the value of Demutru as a habitus for building religious life and society includes, first, the field , namely a structured place that forms the strength to unite in society. Second, Habitus contributes to forming a meaningful life of mutual respect and acceptance. Third, the value of capital shown in the social sector is visible through the harmonious life between religious communities in society.
Antusiasme Beribadah Pasca Pandemi COVID-19 di Gereja-Gereja Isa Almasih Wilayah Ungaran Benyamin, Nefry Christoffel; Tampake, Tony; Adi, Suwarto
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol. 8 No. 1 (2024): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v8i1.718

Abstract

Pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa waktu yang lalu tentu menimbulkan dampak pada banyak aspek. Bahkan sampai saat ini, dampak dari Pandemi Covid-19 masih dapat ditemukan dan dirasakan. Dalam kegiatan bergereja dan berjemaat tentu ada dampak-dampak yang juga ditimbulkan oleh Pandemi Covid-19 tersebut, dan itu menyangkut juga pada bagaimana anggota jemaat beribadah. Berdasarkan hal tersebut maka tulisan ini bermaksud untuk mengetahui dampak Pandemi Covid-19 terhadap antusiasme anggota jemaat dalam ibadah Minggu di gereja pasca pandemi. Mengapa hal ini menjadi penting? Oleh karena dalam ibadah-ibadah di gereja, antusiasme anggota jemaat berperan besar dalam terlaksana dan optimalnya tujuan beribadah yang riil dan otentik. Untuk mencapai tujuan atau maksud penulisan ini maka metode yang dipakai adalah pengumpulan data secara kualitatif dengan melakukan observasi dan beberapa wawancara terkait dengan hal itu. Data itu kemudian dianalisis menggunakan teori perubahan sosial untuk kemudian melihat seperti apa dampak Pandemi Covid-19 terhadap antusiasme anggota jemaat dalam ibadah Minggu di gereja pasca pandemi. Dari penelitian ini ditemukan bahwa antusiasme beribadah anggota jemaat dalam beribadah di gereja pasca pandemi Covid-19 meningkat kembali yang mana hal ini dapat dilihat sebagai perubahan sosial dengan pola seperti bandul (kembali ke posisi awalnya setelah berayun).
SASI IKAN LOMPA SEBAGAI PENDEKATAN PENDAMPINGAN BERBASIS BUDAYA DALAM UPAYA REKONSILIASI DAN KEBERLANJUTAN HIDUP BERSAMA DI PULAU HARUKU-MALUKU Sohilait, Marce; Tampake, Tony; Lauterboom, Mariska
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v7i1.20665

Abstract

This article argues the cultural values of sasi ikan lompa as a culture-based mentoring approach. The local culture-based approach is an illustration of a contextual mentoring approach based on local wisdom which is a characteristic of the multicultural Indonesian nation. This research uses a qualitative ethnographic method by obtaining data through observation, interviews, and literature study. The data analysis technique used is through the stages of data reduction, data processing, and conclusion. The research results obtained are first; Lompa fish sasi can be used as culture-based assistance in society because it contains the values of assistance regarding guidance, solidarity, harmony, masohi (cooperation). Second, assistance based on cultural values can create a reconciliation effort for indigenous communities on Haruku Island where conflicts often occur between countries/villages. Third, a culture-based mentoring approach shows the alignment of Indigenous communities towards ecological justice. Apart from that, a culture-based mentoring approach can develop and control the community to prevent the exploitation of nature amidst the threat of an environmental crisis due to global warmingMagister Sosiologi Agama, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana
CAPTIKUS DI PERSIMPANGAN MAKNA: KONTESTASI ANTARA SIMBOL KEKERASAN PUBLIK DAN SAKRALITAS BAGI MASYARAKAT DESA WANGA M.C. Mokoagow, Intan; R. Tampake, Tony; Adi, Suwarto
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 7 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i7.2025.%p

Abstract

Penelitian ini menganalisis kontestasi makna simbolik captikus yang ambivalen. Captikus dipandang sakral, sekaligus dibangun atas narasi kekerasan. Ketegangan makna ini merupakan sebuah pertarungan struktur sosial, makro dan mikro, sehingga menjadi fenomena yang menunjukkan bahwa masyarakat hidup dalam suatu dialog dalam ruang sosial yang kompleks. Makna tidak bersifat tetap, konstan, dan statis; namun dinamis. Lokus penelitian berada di Desa Wanga, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara – tempat di mana captikus menjadi entitas penting karena berperan menopang struktur masyarakat: agama, budaya, sosial, dan ekonomi. Di sisi lain, ada tekanan publik terhadap praktik produksi dan konsumsi captikus yang dipandang sebagai akar kekerasan sosial dan persoalan-persoalan masyarakat (patologi sosial). Berdasarkan konteks inilah, maka penelitian ini berbasis pada penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Penelitian ini mengumpulkan data melalui sumber primer (masyarakat Desa Wanga) dan sekunder (dokumen, postingan media sosial, berita online, literasi hukum), dengan bersumber pada teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Penelitian ini pun juga berbasis pada analisis konstruktivisme, dengan menggunakan pandangan Peter Berger tentang “konstruksi sosial atas agama,” karena penelitian ini menyoroti aspek sakralitas dari captikus. Argumentasi utama tulisan ini menyebut, captikus merupakan simbol yang bersifat ambivalen, sehingga menyebabkan terjadinya kontestasi makna dalam ruang sosial, antara struktur lokal (mikro) dan publik (makro).
Tradisi Dragel sebagai Model Pendampingan Pastoral Kontekstual dalam Budaya Suku Sangir Kumendong, Jessica Angelina; Harisantoso, Imanuel Teguh; Tampake, Tony
MARSAHALA : Jurnal Studi Agama dan Budaya ##issue.vol## 1 ##issue.no## 2 (2025)
Publisher : L-SAPIKA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64099/n7ghcz67

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi Dragel dalam masyarakat Suku Sangir sebagai bentuk pendampingan keindonesiaan dalam menghadapi kedukaan. Tradisi Dragel dipahami sebagai praktik kolektif yang memadukan simbolisasi kedukaan, nyanyian penghiburan, doa bersama, dan peran pengusung untuk memberikan dukungan sosial, emosional, dan spiritual bagi keluarga yang berduka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitik dengan sumber data primer dari wawancara mendalam dan observasi partisipatif pada tokoh adat, anggota jemaat dan masyarakat yang terlibat dalam Dragel. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dragel bukan sekadar ritual adat, melainkan mekanisme pendampingan berbasis budaya yang menegaskan solidaritas, kebersamaan, dan gotong royong sebagai nilai inti masyarakat. Simbol-simbol kedukaan dalam Dragel membantu memperkuat relasi komunal dan menyediakan ruang bagi ungkapan duka secara kolektif, sehingga berkontribusi pada proses penguatan emosional dan spiritual keluarga yang berduka. Meskipun demikian, keberlanjutan tradisi ini menghadapi tantangan terkait keterlibatan generasi muda, urbanisasi, mobilitas sosial, dan perubahan konteks sosial-religius. Temuan ini memberikan implikasi bagi praktik pendampingan pastoral berbasis budaya serta pelestarian tradisi lokal sebagai model kontekstual yang relevan dalam masyarakat Indonesia. Penelitian ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai sosial budaya dalam setiap intervensi pendampingan untuk mencapai dampak yang autentik dan berkelanjutan.
Tarian Huda-huda/toping-toping sebagai Pendampingan Kedukaan bagi Masyarakat Simalungun Riahta Saragih; Tony Tampake; Agus Supratikno
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 1 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i1.1195

Abstract

Masyarakat Simalungun memiliki praktik budaya yang beragam dalam setiap tahapan kehidupan, mulai dari upacara adat kelahiran sampai kematian. Ada beberapa jenis kematian di Simalungun dan artikel ini berfokus pada kematian “sayur matua” (meninggalnya seseorang setelah menikah, mempunyai anak, cucu, dan cicit). Sayur Matua ialah kematian ideal bagi masyarakat Simalungun dan dipestakan secara besar-besaran. Meskipun demikian rasa sedih dan kehilangan akan tetap ada pada keluarga yang berduka. Biasanya pendampingan yang diberikan oleh gereja berfokus kepada keluarga inti dari yang berduka, sementara perlu dilakukan pendampingan kepada setiap orang yang merasa kehilangan pada kematian sayur matua. Pada upacara sayur matua biasanya menampilkan tarian huda-huda/toping-toping untuk menghibur keluarga yang berduka. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan tarian ini dan melestarikan budaya Simalungun. Tulisan ini menggunakan studi kepustakaan untuk mempelajari budaya Simalungun mengenai kematian yang di dapat melalui jurnal, buku dan wawancara dari informan penari setempat Melalui tulisan ini akan terlihat bahwa tari huda-huda/toping-toping tidak hanya untuk menghibur tetapi juga mengedepankan nilai-nilai seperti saling mendukung, persahabatan, berbagi rasa, penerimaan, persaudaraan, dan solidaritas yang dapat dijadikan sebagai bentuk pendampingan bagi masyarakat Simalungun dengan menggunakan teori Pendampingan Keindonesia dari Jacob Daan Engel. Tujuan penulisan ini untuk menghidupkan Kembali budaya Simalungun terkhusus pada tarian ini yang sudah jarang sekali dilakukan baik di pedesaan maupun di perkotaan. Tarian ini dapat menjadi bantuan kepada gereja melalui nilai-nilai pendampingan Keindonesiaan.
Peran Nilai Dalihan Na Tolu terhadap Berdirinya Gereja HKBP Purwokerto dari Perspektif Teori Solidaritas Sosial Emile Durkheim Juan Gabriel; Tony Tampake; Gunawan Y.A. Suprabowo
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.4565

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran nilai Dalihan Na Tolu dalam pendirian Gereja HKBP Purwokerto dengan menggunakan perspektif teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Penelitian ini menyoroti bagaimana sistem kekerabatan Batak Toba, yaitu Dalihan Na Tolu memfasilitasi pembentukan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota jemaat Gereja HKBP Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif ini adalah penelitian yang memiliki sifat deskriptif karena peneliti harus mendeskripsikan keadaan sosial. Pengumpulan data dari penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Temuan ini menegaskan bahwa peran nilai Dalihan Na Tolu seperti menjaga rasa hormat dan tata krama; meningkatkan tanggung jawab sosial; menjaga keharmonisan dalam masyarakat; dan mempererat persaudaraan atau kohesi sosial dalam menjalani kehidupan tentu sejalan dengan prinsip solidaritas sosial Emile Durkheim, secara khusus solidaritas mekanik di mana kesamaan latar belakang, kepercayaan, dan nilai-nilai budaya menciptakan ikatan sosial yang kuat dalam mendirikan Gereja HKBP Purwokerto.
Pendampingan Sosioteologis Mengenai Penggunaan Media Sosial Dan Implementasi Misi Gereja Otniel Aurelius Nole; Tony Tampake
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.287

Abstract

Misi gereja di masa kontemporer ini ialah mendampingi umat dalam menggunakan media sosial demi mencegah problem sosial dalam dunia virtual. Untuk menghindari penyalahgunaan media sosial, gereja berperan penting dalam menerapkan misi yang memuat pendampingan sosioteologis. Tujuan penelitian ini ialah menegaskan pendampingan sosioteologis dalam menggunakan media sosial sebagai implementasi misi gereja. Metode penelitian ini ialah kualitatif dengan pendekatan reviu literatur dan peneliti mengumpulkan data melalui wawancara terstruktur. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan misi gereja dengan melakukan pendampingan sosioteologis sangat relevan bagi umat, secara khusus bagi mereka yang memiliki media sosial. Pada prinsipnya, gereja menaruh perhatian yang besar untuk umat agar tetap merealisasikan kasih lewat media sosial.
Marhata sebagai Rekonsiliasi Konflik Tanah Warisan Antar Marga di Desa Hatinggian Kabupaten Toba Winda Safrina Sinaga; Tony Tampake; Agus Supratikno
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.35819

Abstract

Sistem pembagian tanah warisan bagi Masyarakat Batak Toba sering sekali menjadi konflik, seperti konflik antar marga Sirait dan Sinaga yang ada di Desa Hatinggian. Konflik muncul karena para pemilik tanah telah meninggal, anak cucu pergi merantau, dan tanah tidak memiliki sertifikat karena diwariskan secara turun-temurun. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan tradisi marhata sebagai rekonsiliasi konflik dalam penyelesaian konflik tanah warisan antar marga di Desa Hatinggian Kabupaten Toba. Penelitian ini menggunakan teori konflik oleh Lewis A. Coser, teori tindakan sosial oleh Max Weber yang berfokus pada teori tindakan rasionalitas instrumental dan teori tindakan tradisional untuk melihat langkah-langkah penyelesaian konflik tanah warisan antar marga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi dan studi dokumen. Informan dalam penelitian ini adalah marga yang berkonflik dan para tokoh adat. Analisis data dengan melakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil studi ini menunjukkan bahwa tradisi marhata menjadi dialog terbuka dan partisipatif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, dan  rasa hormat. Setiap pihak menyampaikan pandangan dan keluhannya, sehingga solusi yang adil dan diterima oleh semua pihak tercapai dan tercipta perdamaian sehingga tradisi ini perlu dipertahankan.   The inheritance land distribution system for the Toba Batak community often becomes a conflict, such as the conflict between the Sirait and Sinaga clans in Hatinggian Village. The conflict arises because the landowners have died, their children and grandchildren have gone abroad, and the land does not have a certificate because it is inherited from generation to generation. This study aims to describe the marhata tradition as a conflict reconciliation in resolving inheritance land conflicts between clans in Hatinggian Village, Toba Regency. This study uses conflict theory by Lewis A. Coser, social action theory by Max Weber which focuses on the theory of instrumental rationality action and traditional action theory to see the steps to resolve inheritance land conflicts between clans. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data collection was carried out through interviews and observations and document studies. The informants in this study were the conflicting clans and traditional leaders. Data analysis by conducting data reduction, data presentation and drawing conclusions/verification. The results of this study indicate that the marhata tradition is an open and participatory dialogue by upholding the values ​​of honesty, openness, and respect. Each party conveys their views and complaints, so that a fair and acceptable solution is achieved by all parties and peace is created so that this tradition needs to be maintained.
Co-Authors Agus Supratikno Andreas Fredriko Simatupang Antonius Sahat Gabe Sinaga Ariyanto, Dani Baransano, Imelda Benyamin, Nefry Christoffel Bernadus, Petran Nazario Cindy Quartyamina Koan Claudia Pricillia Losu David Samiyono Debora Tiku Ampulembang Fransina Ina Ranggalodu Furima, Victoria Theodorus Geraldi Dwi Rizandi Kongkoli Ghiland, Ghiland Gunawan Y.A. Suprabowo Gunawan Yuli Agung Suprabowo Harlin Palanta Hendrika, Yovania Karubaba Herman Tampubolon Hermanus, Micchelle Imanuel Teguh Harisantoso Imelda Baransano Inkiriwang, Rivo Ronaldo Rivo Irene Ludji Izak Y.M. Lattu Izak Yohan Matriks Lattu Izhak Y.M Lattu Jacob Daan Engel Janhard Katampuge Juan Gabriel Julliard, Devrinho Karatu, Chrysti Yessika Kumendong, Jessica Angelina Lattu, Izak Y.M Lattu, Izak Yohan Martriks Latuheru, Angel Christy Lena, Iston Umbu Kura Lukas, Alma Victoria Anastasia M.C. Mokoagow, Intan Marfan Ferdinanda Tahamata Mariska Lauterboom Molewe, Adlan Christember Musarub, Liviana Binti Nathalia Debby Makaruku Ngabalin, Marthinus Nole, Otniel Aurelius Nugeraheni, Risma Ananda Otniel Aurelius Nole Pardede, Refina Pellokila, Cynoura Marveline Paula Pinatik, Hun Johanis Alfrits Piter Randan Bua Popang, Kiki Clara Pramono, Muhamad Sidik Rama Tulus Pilakoannu Riahta Saragih Ricard Edwin Thomas Ridly Acanli Jodi Ponto Rivo Ronaldo Ingkiriwang Ruminding, Valentino Sahentendi, Dianita Sailana, Khatrin Wandelmud Setyawan, Yusak B Setyo Budi Utomo Sihombing, Helpin Sihombing, Helpin Maryand Simaremare, Elkana Anggi Maranata Simatupang, Andreas Fredriko Sohilait, Marce Spyridon Tsitsigkos Sri Aryanti Kristianingsih Stepanus Stepanus Stepanus Stepanus Steven Bell Oruh Sumanto Al Qurtuby Susanti, Christin Amelia Suwarto Suwarto Adi Suwarto Suwarto Tahamata, Marfan Ferdinanda Tamawiwi, Rio Sario Vanda Leony Agnesila Pombadju Winda Safrina Sinaga Wisnu Sapto Nugroho Wisnu Sapto Nugroho, Wisnu Sapto Yoggy Hermondi Manu Yudika Setiawan Tampubolon Yulius Yusak Ranimpi