p-Index From 2021 - 2026
8.344
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Indonesian Journal of Geography ASPIRATOR Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia JIMKesmas (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat) Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes Qanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah Surabaya Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Preventif Journal Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Faletehan Health Journal NERSMID: Jurnal Keperwatan dan Kebidanan JIK- JURNAL ILMU KESEHATAN Spatial : Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Medical Technology and Public Health Journal JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT JSAI (Journal Scientific and Applied Informatics) Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Journal of Applied Health Management and Technology PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat Jurnal Ners Jurnal Cahaya Mandalika J-REMI : Jurnal Rekam Medik dan Informasi Kesehatan Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika dan Komunikasi Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Indonesian Journal of Cancer Berita Kedokteran Masyarakat SEHAT : JURNAL KESEHATAN TERPADU Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia Jurnal manajemen informasi kesehatan Jurnal Multidisiplin Indonesia Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika dan Komunikasi Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) Perilaku dan Promosi Kesehatan: Indonesian Journal of Health Promotion and Behavior Unnes Journal of Public Health Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Claim Missing Document
Check
Articles

Autokorelasi Spasial Angka Kematian Neonatal di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat Tahun 2022 dengan Metode Moran’s I dan Geary’s C: Spatial Autocorrelation of Neonatal Mortality Rates in the Provinces of Central Java, East Java and West Java in 2022 Using Moran's I and Geary's C Methods Mochamad Anwarid Ardans Pratama; Martya Rahmaniati Makful
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 4 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i4.4900

Abstract

Latar belakang: Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan 3 provinsi tertinggi penyumbang kematian neonatal secara nasional. Secara persentase kematian neonatal di 3 Provinsi ini sebesar 40,65% dari jumlah kematian neonatal di tingkat nasional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat autokorelasi spasial antar kabupaten/kota berdasarkan angka kematian neonatal dan mengidentifikasi kabupaten/kota yang menjadi hotspot kematian neonatal di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat tahun 2022. Metode: Penelitian ini berdesain studi ekologi dengan pendekatan spasial. Analisis autokorelasi global pada penelitian ini menggunakan pendekatan metode Geary’s C dan Moran’s I, sedangkan autokorelasi lokal menggunakan metode Local Moran dan Local Geary. Hasil: Hasil uji autokorelasi secara global angka kematian neonatal menggunakan metode Moran’s I maupun Geary’s C menunjukkan adanya autokorelasi positif dan membentuk pola mengelompok. Cluster map dengan metode Local Moran mengidentifikasi 5 wilayah hotspot, yaitu Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Jember, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Situbondo, sedangkan cluster map dengan metode Local Geary mengidentifikasi 6 wilayah hotspot yaitu Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Rembang dan Kabupaten Bondowoso. Kesimpulan: Berdasarkan analisis autokorelasi global dengan metode Geary’s C dan Moran’s I Angka Kematian Neonatal di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat menunjukkan pola mengelompok. Metode Local Moran mengidentifikasi 5 wilayah hotspot sedangkan dengan menggunakan metode Local Geary mengidentifikasi 6 wilayah hotspot.
Spatial Autocorrelation of Diarrhea Cases in West Java Province in 2023 Tri Wahyudi; Popy Yuniar; Martya Rahmaniati
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 9 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i9.5973

Abstract

Introduction: Diarrhea have been being a significant public health threat for the community due to its impact on morbidity and even mortality especially among infants and toddlers. Understanding the pattern of diarrhea, how the key factors influence the prevalence of the disease and which areas are at the highest risk could help in controlling diarhhea. Objective: Through spatial autocorrelation analysis of diarrhea prevalence with several risk factors, such as open defecation behavior, population density, access to proper sanitation, availability of drinking water facilities, and the number of health centers in West Java Province in 2023, this study aims to identify which districts/cities in the province are at high risk of diarrhea. Method: This ecological study analyzed 27 districts/cities in West Java Province in 2023 using secondary data from Open Data Jabar. The dependent variable was the number of diarrhea cases, while independent variables included key factors influencing the prevalence of diarrhea. The Moran index was used for autocorrelation tests, The study used Geoda software version 1.22. Result: The study found positive autocorrelation pattern between diarrhea prevalence and population density as well as access to proper sanitation. Negative autocorrelatios found for the other factors i.e. the number of drinking water facilities, the number of villages that stopped open defecation and the number of health centers. The risk analysis reveals four districts categorized as high risk of diarrhea: Depok City, Bekasi City, Bogor City, and Cianjur City. Depok City has the highest score of 12, due to high population density and lack of access to proper sanitation. Bekasi, Bogor City, and Cianjur have the next highest scores, with proper sanitation being the largest contributing factor. Conclusion: Autocorrelation analysis can help understand diarrhea patterns and factors influencing its prevalence, provide guidance for program implementation and prioritization to address the most high risk areas.
Spatial Analysis of Stunting Prevalence According to Family Data Collection Indicators in Indonesia Yuli Puspita Devi; Milla Herdayati; Martya Rahmaniati Makful; Muthmainnah Muthmainnah; Mario Ekoriano; Nurvita Ruwandasari; Kholifatul Mardiah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i3.6931

Abstract

Introduction: Stunting is malnutrition in children that reduces productivity and susceptibility to degenerative diseases. In 2021, West Java Province recorded the highest stunting prevalence on Java Island. We analyzed the distribution and risk factors for the prevalence of stunting in the West Java Province by considering spatial effects. Methods: This study was ecologically designed using a spatial approach. Data were obtained from Studi Status Gizi Indonesia/Indonesian Nutritional Status Study and Pendataan Keluarga/Family Data Collection, which will be released in 2021 especially in West Java. Data analysis was conducted using a spatial error model (SEM) in GeoDa, and stunting prevalence mapping was performed using QGIS (Quantum geographic information system) 2.1.8 version. Results: No spatial correlation was identified for stunting prevalence in West Java Province in 2021. However, a spatial correlation was observed in the residual value of the determinants of stunting prevalence. SEM analysis showed that the proportion of low-income families, inadequate drinking water sources, unmet needs, inactive Bina Keluarga Balita/Toddler Family Development, unwanted pregnancies, family planning, and limited access to internet-based information had a significant effect on stunting prevalence. Conclusion: This study provides suggestions for increased focus on addressing environmental problems in rural areas and overcoming poverty in all districts/cities in West Java Province which was the province with the highest number of population.
RENDAHNYA PARTISIPASI SUAMI SEBAGAI AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA DI INDONESIA : SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Fentia Budiman; Martya Rahmaniati Makful
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60078

Abstract

Partisipasi suami sebagai akseptor Keluarga Berencana (KB) di Indonesia masih rendah meskipun keterlibatan laki-laki berperan penting dalam mewujudkan pembagian tanggung jawab reproduksi yang setara dan meningkatkan keberhasilan program KB. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi, menilai, dan menyintesis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya partisipasi suami sebagai akseptor KB di Indonesia menggunakan pendekatan Systematic literature review (SLR) dan Fishbone Diagram. Kajian disusun mengikuti pedoman PRISMA 2020 dengan penelusuran literatur melalui PubMed, Google Scholar, Garuda, SINTA, UI Scholars Hub, serta sumber resmi BKKBN, WHO, dan DHS Program. Literatur yang disertakan merupakan publikasi tahun 2015–2026 yang membahas partisipasi pria dalam KB, kontrasepsi pria, komunikasi pasangan, dan faktor sosial budaya. Dari 408 artikel yang teridentifikasi, sebanyak 28 literatur memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab rendahnya partisipasi suami dapat dikelompokkan ke dalam enam kategori, yaitu faktor individu, metode kontrasepsi, pelayanan dan sumber daya, lingkungan sosial, kebijakan dan program, serta sosial budaya dan agama. Hambatan utama meliputi rendahnya pengetahuan, miskonsepsi mengenai vasektomi dan kondom, terbatasnya komunikasi pasangan, layanan KB yang belum ramah laki-laki, minimnya media edukasi, serta dominasi sasaran program pada perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi suami memerlukan pendekatan multidimensional melalui edukasi berbasis pasangan, penguatan konseling ramah pria, pelibatan tokoh masyarakat dan agama, serta kebijakan keluarga berencana yang lebih inklusif gender.
Pemetaan Risiko Campak di Indonesia Tahun 2022 Berdasarkan Skor Komposit Multi-Indikator: Pendekatan Sistem Informasi Geografis (GIS) Suharyo Adijoyo Nugroho; Martya Rahmaniati
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 23 No. 01 Juli 2026
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun program imunisasi telah dilaksanakan secara luas. Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 meningkatkan risiko terjadinya immunity gap yang berpotensi memicu peningkatan kejadian campak. Penelitian ini bertujuan menyusun dan memetakan skor risiko komposit campak pada 34 provinsi di Indonesia tahun 2022 berdasarkan 4 indikator kesehatan menggunakan sistem informasi geografis (GIS). Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data sekunder dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2022 dan Badan Pusat Statistik. Variabel dependen adalah kejadian campak, sedangkan variabel independen meliputi cakupan imunisasi campak, cakupan vitamin A, cakupan ASI eksklusif, dan kepadatan penduduk. Setiap variabel diberi skor 1–3 berdasarkan ambang risiko yang telah ditetapkan, kemudian dijumlahkan menjadi skor komposit dan divisualisasikan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skor komposit, 33 provinsi termasuk kategori risiko sedang dan 1 provinsi (Nusa Tenggara Barat) termasuk kategori risiko rendah; tidak terdapat provinsi yang berisiko tinggi. Aceh merupakan provinsi dengan skor risiko tertinggi (skor 12), ditandai oleh rendahnya cakupan imunisasi campak (52,9%), cakupan ASI eksklusif (49,4%), serta cakupan vitamin A yang belum optimal (89,2%). Sebaliknya, Nusa Tenggara Barat memiliki skor risiko terendah (skor 5) dengan capaian keempat indikator yang lebih baik. Sebagai analisis pelengkap, regresi linier berganda pada log-transformasi proporsi kejadian campak menunjukkan bahwa cakupan imunisasi campak berasosiasi negatif secara konsisten dan signifikan dengan kejadian campak (β=-6,39; p<0,001), sedangkan kepadatan penduduk menunjukkan asosiasi positif yang signifikan setelah dikontrol oleh variabel lain (β=0,39 pada skala log; p=0,009); cakupan ASI eksklusif dan vitamin A tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan (model R² disesuaikan=0,35). Peta risiko komposit berbasis GIS ini berfungsi sebagai alat skrining cepat (rapid risk screening tool) untuk membantu penentuan prioritas wilayah intervensi campak, dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan analisis epidemiologi spasial formal. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar awal untuk menentukan prioritas wilayah serta mendukung perencanaan program pengendalian campak dan penguatan imunisasi di Indonesia.
Kuantifikasi Ketidakmerataan Praktik Pemberian Makanan Prelakteal di Indonesia (Analisis Data SDKI Tahun 2002-2017) Regita Septiani; Sabarinah Prasetyo; Martya Rahmaniati Makful; Teti Tejayanti
Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia Vol. 2 No. 03 (2023): Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia
Publisher : Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia (YMPAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70304/jmsi.v2i03.161

Abstract

Praktik pemberian makanan prelakteal masih menjadi masalah yang harus diatasi Indonesia karena dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan bayi. Meskipun persentase praktik pemberian makanan prelakteal sudah cenderung menurun, ketidakmerataan masih terjadi berdasarkan beberapa dimensi ketidakmerataan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuantifikasi ketidakmerataan praktik pemberian makanan prelakteal di Indonesia dari tahun 2002 hingga tahun 2017 berdasarkan jenis kelamin anak, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, status ekonomi, wilayah tempat tinggal, provinsi, kunjungan ANC, IMD, dan penolong persalinan. Penelitian dilakukan dengan dasain studi cross-sectional menggunakan sumber data sekunder, yaitu SDKI 2002, 2007, 2012, dan 2017. Populasi dalam penelitian ini merupakan seluruh ibu yang terpilih menjadi responden WUS dalam SDKI tahun 2002, 2007, 2012, dan 2017. Sampel yang digunakan merupakan WUS yang telah melahirkan anak terakhirnya dalam 2 tahun sebelum survei. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat yang merupakan analisis ketidakmerataan menggunakan aplikasi HEAT Plus. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketidakmerataan praktik pemberian makanan prelakteal masih terjadi pada dimensi pendidikan ibu, status ekonomi, wilayah tempat tinggal, provinsi, IMD, dan penolong persalinan dengan tingkat ketidakmerataan yang berbeda-beda. Tren ketidakmerataan juga cenderung mengalami penurunan dari tahun 2002 hingga tahun 2017 pada hampir seluruh variabel.
Spatial analysis of under five years pneumonia incidence in DIY Province 2020 Ni Nengah Sri Kusumadewi; Martya Rahmaniati Makful; Liza Meutia
Berita Kedokteran Masyarakat Vol 39 No 04 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v39i04.6669

Abstract

Purpose: Globally, pneumonia is a major cause of morbidity and mortality, as the largest burden of disease and death in developing countries. In 2018, more than 19,000 children under five died from pneumonia. The Under-five Mortality Rate (AKBa) reflects the social, economic, and environmental conditions in which children live and maintain their health. WHO issued an integrated global action to prevent and control the incidence of pneumonia and diarrhea (GAPPD). Yogyakarta is in the second position with the highest prevalence of pneumonia under five (3.7%). To carry out a more focused pneumonia prevention program, spatial pattern analysis is needed both globally and locally, this study examines whether there is a global and local spatial correlation in the number of pneumonia cases under five years in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) in 2020. Methods: This ecological study uses aggregated data at the sub-district level. DIY Province has 78 sub-districts that serve as the unit of analysis. Results: The global spatial autocorrelation test on the number of cases of toddler pneumonia in DIY is significantly positive. High-high areas include the sub-districts of Semin, Ponjong, Rongkop, Semanu, Karangmojo, Wonosari, Playen, Paliyan, Saptosari and Panggang. Hot spots were found in the southeastern region. A closer look at the sub-districts in the hotspot area, all from Gunung Kidul Regency, shows that specific interventions targeting these areas must be strengthened, regional health planning and resource allocation. Conclusion: A cluster correlation (clustering) exists spatially with the number of toddler pneumonia in the DIY. Locally, it can be seen that the hot spots (high-high) and low-high districts are found in one district. So it is a priority area that needs comprehensive handling but with a different emphasis according to the characteristics of each sub-district in one district.
Stunting Prevalence and Human Development Index Using a Spatial Approach in West Java in 2021 Gea Puteri Utami; Martya Rahmaniati; Nurzahara Bagus
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 9 No. 1 (2024): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v9i1.476

Abstract

Stunting is a recognized growth and development disorder in children that has long-term impacts such as mental retardation, low learning ability, and the risk of chronic disease. According to the World Bank (2016), stunting can cause long-term economic losses of 2-3% (potential losses of IDR 260 trillion - IDR 390 trillion per year). West Java is one of the most populous provinces in Indonesia (49.5 million people in 2023), with a high stunting rate of 24% (2021), above the national average. This study aims to examine the prevalence of stunting and the Human Development Index in regencies and cities in West Java Province in 2021 descriptively using a geographic information system (GIS) application.
Co-Authors Abimayu, Anggi Tria Adella, Tiara Ahmad Khumaidi Annaja Aldila Riznawati Aldila Riznawati Andrean, Jessie Angesti, Raissa Lingga Anggi Tria Abimayu Apriantini, Inna Artha Prabawa Atmiroseva, Atmiroseva Besral . Deny Yudhistira Deny Yudhistira Deny Yudhistira Deny Yudhistira Desya Mulyaningrum Dewi Susanna Dewi, Romariana Dhamayanti, Grahyta Dian Fajar Hapsari Dian Mulya Sari Dian Pratiwi Dion Zein Nurizin Dwisaputro, Sigit Dwitasari, Indah Emilia Pandin Madao Fajar Nugraha Fajar Nugraha Falupi, Lilik Aryani Fentia Budiman Fifi Dwijayanti Fitri, Laelatul Gea Puteri Utami Grahyta Dhamayanti Gustina, Ira Hanafi, Nurrachda Handayani, Yolanda Hariastuti, Dwi Ristiani Hendi Setiadi Hermawati, Ema Huda Rahmawati Ina Rahayu Ginting Indah Sri Wahyuni Indang Trihandini Indriyani Inggarputri, Yuanita Rizky Inna Apriantini Intansari Intansari Jesa Nuhgroho Jilan Salshabilla Mutaqin Kemal N. Siregar Kholifatul Mardiah Kusumadewi, Ni Nengah Sri Laelatul Fitri Lestari, Andini Ayu Lestiantoro, Sebalt Liza Meutia Manendra Muhtar Mario Ekoriano Meutia, Liza Milla Herdayati, Milla Mochamad Anwarid Ardans Pratama Muhammad Aulia Rahman Mulyaningrum, Desya Mutaqin, Jilan Salshabilla Muthmainnah Muthmainnah Muthmainnah Muthmainnah Nabila Vebiana Soviadi Nashriyah, Siti Fadhilatun Ni Nengah Sri Kusumadewi Nia Watri Wahyuni Novitasari, Prihatini Dini Nugroho, R Nasrullah Nur Nuhgroho, Jesa Nuridzin, Dion Zein Nurizin, Dion Zein Nurvita Ruwandasari Nurzahara Bagus Okfriani, Coraima Pamadi, Nayaka Nayottama Popy Yuniar Popy Yuniar Putri, Nur A’isyah Amalia Putu Dian Karmana Putu Dian Karmana R Sutiawan Rahmawati Jalih Ratih Trivalni Regita Septiani Regita Septiani Retnowati Retnowati Risma Risma Rita Damayanti Riznawati, Aldila Robet Triarjunet Roma Yuliana Sabarinah Prasetyo safitri widayanti Sakti, Eka Satriani Simanjuntak, Saidah Fatimah Sari Sipahutar, Tiopan Sofiyulloh, Sofiyulloh Sofwatun Nida Srimayarti, Berly Nisa Suharyo Adijoyo Nugroho Sutanto Priyo Hastono Sutanto Priyo Hastono Sutiawan, R Tampubolon, Romariana Dewi Teti Tejayanti Teti Tejayanti Tiara Adella Tiopan Sipahutar Tri Wahyudi Triarjunet, Robet Tris Eryando Trisari Anggondowati Verry Adrian Wiyanti, Zulvi Yohana Septianty Isabel Yolanda Handayani Yudhistira, Deny Yuli Puspita Devi Yuli Puspita Devi Yuli Puspita Devi Yunanda, Rista Yuni Laferani Zainul Khaqiqi Nantabah