Claim Missing Document
Check
Articles

Potensi Bacillus sp. Sebagai Agen Antagonis Terhadap Athelia rolfsii Penyebab Busuk Pangkal Batang Kedelai (Glycine max L.) Khotima Dwi Cahya; Retno Kawuri; I Made Sara Wijana
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 9 No 2 (2022)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2022.v09.i02.p12

Abstract

Athelia rolfsii dapat menyebabkan busuk batang pada tanaman kedelai dengan gejala infeksi pada pangkal batang yang berbatasan dengan permukaan tanah yang dapat menurunkan hasil produksi panen kedelai hingga 75%. Pengendalian penyakit dengan pestisida kimia diketahui dapat membawa dampak negatif tehadap lingkungan. Bakteri Bacillus sp. sebagai agen antagonis diketahui dapat menghasilkan enzim, antibiotik, dan siderophore yang mampu menekan pertumbuhan cendawan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Bacillus sp. yang diisolasi dari rhizosfer tanaman kacang tanah sehat dalam menekan pertumbuhan cendawan A. rolfsii secara in vitro dan untuk mengetahui konsentrasi kultur Bacillus sp. terbaik dalam menekan pertumbuhan cendawan A. rolfsii dalam skala green house. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan parameter yang diamati adalah persentase daya hambat secara in vitro, persentase kejadian penyakit, dan persentase intensitas penyakit. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil penelitian diperoleh 6 isolat Bacillus sp. Isolat Bacillus sp. 1 sebagai isolat dengan persentase daya hambat terbaik dalam menekan pertumbuhan A. rolfsii (79,44%) selanjutnya diuji pada skala green house. Pemberian kultur Bacillus sp.1 sebanyak 10 mL dengan kerapatan 1x108 sel/mL dapat menekan kejadian penyakit busuk pangkal batang hingga 53,38 ± 18,23% dan menekan persentase intensitas penyakit hingga 67,78 ± 19,40% selama 7 HST. Kontrol positif dengan Amistar top menekan kejadian penyakit busuk pangkal batang dan intensitas penyakit hingga 86,68 ± 18,25%. Kultur Bacillus sp. 1 dapat digunakan sebagai agen antagonis pada penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh A. rolfsii. Kata kunci: Antagonis, Athelia rolfsii, Bacillus sp., Tanaman kedelai.
MORPHOMETRY OF EAGLE SPECIES (FAMILY ACCIPITRIDAE) AT BALI BIRD PARK Iriani Setyawati; L.P. Eswaryanti Kusuma Yuni; Retno Kawuri; Ni Made Suartini; Ni Wayan Sudatri; I Gede Agus Pradana Putra
Indonesian Biodiversity Journal Vol. 3 No. 3 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study measured the morphometry of raptor species (Family Accipitridae) in Bali Bird Park (BBP) namely Nisaetus cirrhatus (Changeable Hawk Eagle), Elanus caeruleus (Black Winged Kite), Spilornis cheela (Crested Serpent Eagle) and Haliaeetus leucogaster (White Bellied Sea Eagle). Measurements were made with meter tape and caliper on birds that were in their resting period. Raptor at BBP generally rest for 6 months until experience molting before being retrained for 4-5 months, then the birds will be ready to perform bird show for the next 9-12 months. Our measurements obtained the largest bird was Haliaeetus leucogaster with a total body length of 75 cm, wings length 83.5-85 cm, tail length 26 cm, head size (8 cm length and 7 cm width), upper beak (8 cm length and 2.5 cm thick) and lower beak (3 cm length and 1 cm thick), lower limb length (femur 17 cm, tibia 9 cm, metatarsus 11 cm, middle toe 6.5 cm and grip 9 cm). The smallest bird was Elanus caeruleus with a total body length of 33 cm, wing length 39-45 cm, tail length 19 cm, head size (8 cm length, 5.5 cm width), upper beak (2.5 cm length and 0.5 cm thick) and lower beak (1 cm length and 0.3 cm thick), lower limb length (femur 8 cm, tibia 4 cm, metatarsus 5 cm, middle toe 3 cm and grip 5 cm) The morphometry of the species Nisaetus cirrhatus and Spilornis cheela were between the two other bird species.
PELATIHAN AKLIMATISASI BIBIT STROBERI HASIL KULTUR MERISTEM BAGI PETANI STROBERI PANCASARI R. Dwiyani; K.B. Susrusa; I.A.P. Darmawati; G.N.A.S. Wirya; I.G.A. Gunadi; N.N.A. Mayadewi; H. Yuswanti; K.A. Yuliadhi; T.A. Phabiola; R. Kawuri; Y. Fitriani
Buletin Udayana Mengabdi Vol 22 No 3 (2023): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/BUM.2023.v22.i03.p10

Abstract

Abstracts The community service activity entitled "Training for Acclimatization of Strawberry Seeds from Meristem Culture for Pancasari Strawberry Farmers" has been completed. This activity was motivated by the problem of seeds by strawberry farmers in Pancasari, where farmers needed healthy seeds from tissue culture, because through propagation with runners, crop yields decreased drastically due to virus attacks. The solution is the use of seeds from meristem culture. Acclimatization training by farmers is important because removing seeds from culture bottles and then growing them on media ex vitro requires skills and understanding of acclimatization theory. The purpose of this service was to provide strawberry acclimatization skills to farmers, so that farmers can acclimatize themselves to meristem cultured strawberries produced by the Tissue Culture Laboratory of the Faculty of Agriculture Udayana University. This activity was based on the results of strawberry meristem culture research in 2019 funded by the ministry of research technology and higher education Republic of Indonesia through a national competitive grant. The results of the current community service concluded several things as follows: The training participants, especially farmers, have succeeded in carrying out their own acclimatization practice; Strawberry seedlings grown in the highlands (Pancasari) had better vigor than those grown in the lowlands (Denpasar). Keywords: acclimatization, meristem culture, Pancasari, strawberry, virus.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) Merah dan Cokelat Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Luh Made Ary Somia Vagestini; Retno Kawuri; Made Ria Defiani
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p17

Abstract

Staphylococcus aureus is known as bacteria that often cause respiratory tract disease in Indonesia. These bacteria are known to have developed resistance to several antibiotics. This study aims to analyze the comparison of the antibacterial activity of ethanol extracts of red ketapang leaves and brown ketapang leaves on the growth of S.aureus bacteria, determine the MIC of the two extracts, and determine the class of compounds in the extracts. The research method used includes sample extraction using the maceration method with 96% ethanol as solvent. The antibacterial activity test of the extract was carried out at concentrations of 20%, 15%, 10%, and 5% (w/v) with the disc diffusion method on Nutrient Agar media, and qualitative phytochemical tests were carried out. The results showed that the difference in leaf color affected the inhibition of S. aureus bacteria. The best inhibition was obtained at a concentration of 20% (w/v) red ketapang extract with an inhibition zone diameter of 13.67±0.76 mm. The results of the MIC test showed that the MIC value of the red ketapang extract was obtained at a concentration of 5% (w/v) with an inhibitory power of 1.47±0.25 mm and the cocoa bean leaf extract was obtained at a concentration of 10% (w/v) with the diameter of the inhibition zone. 1.73±0.25mm. The phytochemical test of the extracts showed that both extracts contained alkaloids, saponins, flavonoids, tannins, and steroids, but terpenoid compounds were only found in the red ketapang leaf extract. Keywords: secondary metabolites, MIC, resistance, ketapang leaf color.
Formulation and Application of Molasses-Based Bacterial Consortium to Degrade Waste Oil and Fat in the Environment Retno Kawuri; Ida Bagus Gede Darmayasa; I Komang Adi Widyastama; Rochmalia Juniarti Putri
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i02.p12

Abstract

Pencemaranan limbah lemak ke lingkungan perairan yang berasal dari pengolahan makanan industri, restoran dan dapur atau oleh tumpahan minyak yang tidak disengaja saat ini semakin banyak ditemukan. Hasil PUPS tahun 2020 ditemukan 3 strain bakteri yaitu Bacillus licheneformis, Bacillus coagulan dan Pseudomonas diminuta. Konsorsium mikroba merupakan campuran populasi mikroba dalam bentuk komunitas yang memiliki hubungan kooperatif, komensal, dan mutualistik. Pengujian di lapangan perlu dilakukan untuk menguji apakah hasil degradasi lemak dan minyak dari ketiga bakteri diatas mampu diaplikasikan di limbah lemak dan minyak di lingkungan. Tujuan dari penelitian untuk mencari formulasi media dan aplikasi yang tepat dari konsorsium bakteri berbahan dasar molase dan untuk mengetahui efektifitas dari formulasi media berbahan dasar molase. Penelitian ini menggunakan metode Sequence Batch Reactor (SBR), parameter fisika, kimia dan biologis meliputi pengukuran Total lemak, Pengujian Oksigen Terlarut (Dissolve Oxygen/DO), Pengujian BOD5 (Biological Oxygent Demant), Pengujian Nitrat, Pengujian Nitrit Total padatan terlarut (Total dissolve solid/TDS), dan Penghitungan Mikroba TPC, (Total Plate Count). Hasil penelitian menunjukan penurunan pada perlakuan pemberian konsorsium bakteri sebesar 80 ml/2lt ( 40 ml/lt ) limbah lemak dan minyak pada pengukuran BOD5, TDS, total lemak, nitrit dan nitrat serta populasi bakteri yang tetap tinggi pada hari ke 5 setelah perlakuan. Penelitian ini menunjukan kemampuan konsorsium bakteri berbahan dasar molase dapat digunakan sebagai agen starter pengolahan limbah lemak di lingkungan yang tercemar limbah lemak dan minyak.
Identification of Bacteria Caused Bacterial Wilt Disease in Potato Plants (Solanum tuberosum L.) in Taman Tanda Village, Tabanan, Bali I Komang Adi Widyastama; Retno Kawuri; Made Pharmawati
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah utama pada budidaya tanaman kentang di Desa Taman Tanda adalah serangan penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh patogen bakteri. Penyebab layu bakteri adalah bakteri dari famili Ralstoniaceae. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi bakter penyebab layu bakteri pada tanaman kentang di Desa Taman Tanda, Tabanan, Bali. Metode identifikasi diawali dengan isolasi patogen dari tanaman kentang yang sakit di lapangan menggunakan media selektif Ralstonia casein peptone glukose. Koloni yang tumbuh pada media selektif kemudian dikarakterisasi morfologi dan biokimia. Patogenitas dari patogen diuji dengan menginokulasi patogen pada tanaman kentang berumur 30 hari di rumah kaca. Tanaman kentang yang menunjukkan gejala layu bakteri seperti layu kering pada daun dan batang tanaman dikonfirmasi sebagai Ralstonia sp. Isolat patogen kemudian diekstrak 16S rRNA dan diamplifikasi dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer U1 forward dan reverse. Sekuensing 16S rRNA dilakukan satu arah dengan mengirim DNA ke PT. Genetika Science, Jakarta. Hasil sekuensing kemudian dianalisis BLASTN dengan membandingkan pusat data di GenBank. Analisis BLASTN menunjukkan isolat patogen teridentifikasi sebagai Ralstonia solanacearum strain K60-1 dengan kemiripan 100%. Dendogram dari isolat patogen dibuat dengan metode neighbor joining tree 1000 kali bootstrap. Berdasarkan identifikasi morfologi, biokimia, Postulat Koch, dan molekuler bakteri penyebab layu bakteri pada tanaman kentang di Desa Taman Tanda, Tabanan, Bali teridentifikasi sebagai Ralstonia solanacearum.
MORPHOMETRY OF EAGLE SPECIES (FAMILY ACCIPITRIDAE) AT BALI BIRD PARK Iriani Setyawati; L.P. Eswaryanti Kusuma Yuni; Retno Kawuri; Ni Made Suartini; Ni Wayan Sudatri; I Gede Agus Pradana Putra
Indonesian Biodiversity Journal Vol. 3 No. 3 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/ibj.v3i3.5733

Abstract

This study measured the morphometry of raptor species (Family Accipitridae) in Bali Bird Park (BBP) namely Nisaetus cirrhatus (Changeable Hawk Eagle), Elanus caeruleus (Black Winged Kite), Spilornis cheela (Crested Serpent Eagle) and Haliaeetus leucogaster (White Bellied Sea Eagle). Measurements were made with meter tape and caliper on birds that were in their resting period. Raptor at BBP generally rest for 6 months until experience molting before being retrained for 4-5 months, then the birds will be ready to perform bird show for the next 9-12 months. Our measurements obtained the largest bird was Haliaeetus leucogaster with a total body length of 75 cm, wings length 83.5-85 cm, tail length 26 cm, head size (8 cm length and 7 cm width), upper beak (8 cm length and 2.5 cm thick) and lower beak (3 cm length and 1 cm thick), lower limb length (femur 17 cm, tibia 9 cm, metatarsus 11 cm, middle toe 6.5 cm and grip 9 cm). The smallest bird was Elanus caeruleus with a total body length of 33 cm, wing length 39-45 cm, tail length 19 cm, head size (8 cm length, 5.5 cm width), upper beak (2.5 cm length and 0.5 cm thick) and lower beak (1 cm length and 0.3 cm thick), lower limb length (femur 8 cm, tibia 4 cm, metatarsus 5 cm, middle toe 3 cm and grip 5 cm) The morphometry of the species Nisaetus cirrhatus and Spilornis cheela were between the two other bird species.
Efektifitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun dan Biji Asam Jawa (Tamarindus indica) dari Pulau Timor NTT dalam Menghambat Bakteri Salmonella typhi Felisitas Meli Podhi; Retno Kawuri; Sang Ketut Sudirga
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p12

Abstract

Pisang merupakan pangan lokal yang mengandung karbohidrat, lemak, dan protein yang tinggi dalam mencukupi kebutuhan nutrisi berpotensi memperbaiki metabolism tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran histologi hati dan penambahan berat badan pada tikus model malnutrisi setelah pemberian tepung pisang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan, menggunakan tikus jantan (strain wistar), umur 7 minggu, rerata berat badan 120 g sejumlah 24 ekor. Kelompok perlakuan diantaranya; K- (pakan standar), K+ (pakan nasi aking), M+P0 (pakan standar), M+P1 (pakan 100% tepung pisang), M+P2 (pakan 75% tepung pisang +25% pakan standar), M+P3 (pakan 50% tepung pisang + 50% standar). Kelompok perlakuan K+ sampai perlakuan M+P3 dibuat malnutrisi dengan diberi nasi aking. Kelompok K- diberi pakan standar selama 11 minggu. Pengukuran berat badan dilakukan setiap minggu untuk masing- masing perlakuan. Setelah 11 minggu, tikus dikorbankan. Organ hati dikoleksi kemudian dibuat mikroanatomi dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin. Parameter kerusakan hati dideteksi melalui jumlah sel nekrosis, degenerasi hidropik, dan apoptosis pada 100 sel yang diamati. Hasil penelitian pemberian tepung pisang pada perlakuan M+P3 dapat menurunkan jumlah kerusakan sel nekrosis (p<0,05). Kombinasi pakan 50% tepung pisang dan 50% pakan standar dapat mempercepat regenerasi, menurunkan jumlah kerusakan sel, dan menghasilkan peningkatan berat badan secara signifikan (p<0,05).
Uji Pemeriksaan Cemaran Total Bakteri, Coliform, Escherichia coli, dan Salmonella sp. pada Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) Hasil Budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) di Kawasan Danau Batur, Kintamani, Bangli, Bali NI Putu Diah Septiani Putri; Retno Kawuri
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p7

Abstract

Fish is a food that rots easily due to contamination with microorganisms. When consumed, food that has been contaminated with pathogenic bacteria can endanger human health. Tilapia fish (Oreochromis mossambicus) is vertebrate animal that is often cultivated, especially in the Kintamani area. This research was conducted to determine total bacterial contamination, Coliform, E.coli, and Salmonella sp. on tilapia fish cultivated in floating net cages in the Lake Batur area, Kintamani, providing information on the safety and suitability of consuming tilapia fish by food safety standards, as well as providing an overview of differences in bacterial contamination in each location village. The samples were tested using the pour plate and streak plate plating method. Coliform and E. coli bacterial contamination tests were carried out using the Most Probable Number (MPN) method, examining Salmonella sp. carried out on selective Salmonella Shigella Agar (SSA) media. The ALT test results obtained the highest average in tilapia fish samples from Kedisan village, namely 5.9 x 106 CFU/g, the highest average total Coliform was in fish samples from Abang and Batur Tengah villages with values ​​> 1.1 x 104 MPN /g, the highest average E. coli contamination was shown by tilapia fish samples from Abang village, namely >4.64 x 103 MPN/g, and one sample from Batur Tengah village showed positive for Salmonella sp bacteria. Based on these results, all tilapia fish samples exceeded the threshold for ALT, Coliform and E. coli contamination and one sample exceeded the normal limit for Salmonella sp contamination. on food based on BPOM and SNI standards.
Deteksi Cemaran Total Bakteri, Coliform, Escherichia coli, dan Salmonella sp. pada Daging Ayam Broiler (Gallus domesticus) yang Dijual di Beberapa Pasar Daerah Kabupaten Badung, Bali Kadek Aryndha Sukma Prabaswari; Retno Kawuri; Dwi Ariani Yulihastuti
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p4

Abstract

Chicken meat is a source of animal protein which is easily damaged due to its high water content. Chicken meat that is bought and sold could potentially become a place for the growth of bacteria that cause foodborne diseases.This study aims to determine total bacterial contamination, Coliform, Escherichia coli, and Salmonella sp. on broiler chicken meat in Badung Regency and determine the suitability of broiler chicken meat samples following food safety standards. Samples were taken using a purposive sampling method in six sub-districts in Badung Regency, namely Petang, Abiansemal, Mengwi, North Kuta, Kuta and South Kuta sub-districts at traditional markets that sell broiler chicken meat. The samples were tested using the pour plate and streak platting method. Parameters tested include Total Plate Number (ALT), Coliform, Escherichia coli, and Salmonella sp. on broiler chicken meat samples. Coliform and Escherichia coli bacteria were detected using Petrifilm ready-to-use media, while Salmonella sp. tested on selective Salmonella-Shigella Agar (SSA) media and catalase test and Gram staining. The research result showed that the contamination rates in broiler chicken breast meat were: Total Plate Number (ALT) 105 CFU/g to 107 CFU/g; Coliform and Escherichia coli 101 CFU/g to 104 CFU/g; Salmonella sp. positive in all samples, so that the samples tested did not meet the safety quality requirements for chicken meat according to SNI 3924: 2009.
Co-Authors Anak Agung Gde Raka Dalem Anak Agung Ketut Darmadi Andreas Putro Ragil Santoso, Andreas Putro Ragil ANINDA OKTAVIA RAHARINI Aryadi Millenia Saputra Bayu Putri Handayani Chandrika, Carmen Gisela Darmadi, A.A. Ketut Diah Kharismawati Djereng Dwi Ariani Yulihastuti Felisitas Meli Podhi Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya Gusti Ngurah Wisnanda Putra H. Yuswanti I Gede Agus Pradana Putra I Gusti Agung Ayu Ratnawati I Ketut Ginantra I KETUT MUKSIN I Komang Adi Widyastama I Made Dira Swantara I Made Sara Wijana I Putu Gede Ardhana I WAYAN EKA DHARMAWAN I Wayan Yogi Widyastana I.G.A. Gunadi I.G.A.S. Wahyuni Ida Ayu Putri Darmawati Ida Bagus Gede Darmayasa Ilham . Inna Narayani IRIANI SETYAWATI Ivani Dayanara Job Nico Subagio K.A. Yuliadhi K.B. Susrusa Kadek Aryndha Sukma Prabaswari Khamdan Khalimi Khotima Dwi Cahya Luh Made Ary Somia Vagestini LUH Puru ESWARYANTI KUSUMA YUNI Made Mega Yuliasari Made Mira Pratiwi MADE PHARMAWATI Made Ria Defiani MADE SUSUN PARWANAYONI Meitini Proborini Wahyuni Muhammad Inas Riandi N.N.A. Mayadewi NI KADEK LOSIANI Ni Ketut Febri Antini Ni Ketut Yuliana Sari Ni LUH ARPIWI Ni Luh Cipta Ayumi Nellawati Ni Luh Suriani Ni Luh Watiniasih Ni Made Suartini Ni Made Widyasari Ni Nyoman Wirasiti Ni Putu Adriani Astiti NI Putu Diah Septiani Putri Ni Putu Niti Rahayu Ni Wayan Desi Bintari Ni Wayan Purni wirathi Ni Wayan Sudatri NURI MANDAN SARI Putri Permata Putu Anjarina Putu Ayu Parwati Putu Ayu Sukmawati Putu Cindy Arista Revi Juniar Nutrihidayah Rindang Dwiyani Risha Masfufah Risky Vidika Apriyanthi Rochmalia Juniarti Putri Rochmalia Juniarti Putri SANG KETUT SUDIRGA SARMILA TASNIM Suta Arta TRISNA AGUNG PHABIOLA WIWIK SUSANAH RITA Y. Fitriani Yan Ramona