Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Perempuan Dalam Bayang-Bayang Moralitas Kekuasaan dan Agama: Analisis Semiotika Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa Dini Anggraheni; Anandha; Adhiprana Yogatama; Sayoto Makarim
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2921

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi perempuan dalam film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (2023) melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, dengan fokus pada bagaimana otoritas moral, kekuasaan dan agama membentuk dan mengontrol identitas perempuan. Dengan mengkaji simbol visual, struktur naratif, dan posisi karakter, ditemukan bahwa tokoh perempuan menjadi pusat ketegangan moral di mana tubuh dan perilakunya diawasi serta dihakimi oleh norma sosial dan religius. Analisis ini menunjukkan bahwa film tersebut secara kritis merepresentasikan bagaimana moralitas digunakan sebagai alat kekuasaan yang membungkam kebenaran yang ingin disampaikan seorang perempuan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada wacana film feminis dan kajian budaya dengan menyoroti bagaimana kekuasaan dan sebuah agama sangat mempengaruhi perspektif masyarakat dalam melihat fenomena yang ada sehingga mengaburkan sebuah makna kebenaran. Kata kunci: perempuan, moralitas, kekuasaan, semiotik, film
PEMBERDAYAAN IBU RUMAH TANGGA DALAM RANGKA PENINGKATAN PENDAPATAN DENGAN MEMPRODUKSI TAHU SUSU DI KELURAHAN BULUSAN KECAMATAN TEMBALANG Nurhidayati Nurhidayati; Rahoyo Rahoyo; Dini Anggraheni
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.41426

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan ibu rumah tangga di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, dalam rangka peningkatan pendapatan keluarga melalui pelatihan produksi tahu susu. Program ini dilatarbelakangi oleh potensi ibu rumah tangga sebagai pelaku usaha produktif yang belum optimal memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bernilai ekonomis. Produksi tahu susu dipilih karena bahan bakunya mudah diperoleh, proses pembuatannya sederhana, dan memiliki nilai pasar yang tinggi sebagai produk makanan sehat.Metode pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan tentang kewirausahaan dan pelatihan teknis produksi tahu susu. Selain itu, peserta diberikan edukasi terkait pengelolaan keuangan usaha untuk memastikan keberlanjutan kegiatan. Program ini diikuti oleh 27 ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok usaha kecil. Dengan adanya program ini, diharapkan ibu rumah tangga dapat menjadi lebih mandiri secara ekonomi, berkontribusi pada pendapatan keluarga, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Kelurahan Bulusan.
Improving Personal Problem-Solving Skills Through Resource Therapy: A Psychological Approach for the Community Hardani Widhiastuti; Dini Anggraheni; Fitri Nurmasari
SWAGATI : Journal of Community Service Vol. 4 No. 2 (2026): July
Publisher : Universitas AMIKOM Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24076/swagati.2026v4i2.2801

Abstract

Indonesian migrant workers abroad are vulnerable to emotional stress, anxiety, and difficulties in social and cultural adaptation, which can affect their psychological well-being. This community service activity aims to introduce Resource Therapy (RT) as a psychological approach to help participants recognize and utilize their internal resources in dealing with personal problems. The program was conducted at the Consulate General of the Republic of Indonesia (KJRI) in Penang, Malaysia, involving 36 participants comprising 30 Indonesian migrant workers and 6 KJRI staff members. The methods used included participatory psychoeducation, interactive discussions, self-reflection exercises, and practice in identifying positive psychological resources. Evaluation was conducted through participant engagement observation, reflective discussions, and post-activity feedback focusing on emotional awareness, self-reflection, and perceived usefulness of the intervention. The results showed that participants understood the basic concepts of Resource Therapy and could identify internal resources to cope with personal and emotional problems. This program has the potential to become a culturally relevant, community-based psychoeducational service model that can be replicated in Indonesian migrant worker communities in other countries.  
Digital Storytelling for Social Inclusion: A Qualitative Study with Marginalized Youth Dini Anggraheni; Ahmet Demir; Baran Akbulut
Journal of Loomingulisus ja Innovatsioon Vol. 2 No. 4 (2025)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/innovatsioon.v2i4.2361

Abstract

Digital storytelling has emerged as a powerful pedagogical and social tool, enabling marginalized youth to articulate their experiences, build digital literacy, and foster a sense of belonging in increasingly mediated societies. Social exclusion continues to affect vulnerable groups by limiting their opportunities for participation and self-expression, which in turn impacts personal identity and community integration. This study aims to explore how digital storytelling can be employed as an inclusive practice to promote voice, agency, and connection among marginalized youth. A qualitative research design was adopted, using a multiple case study approach with 45 participants from diverse disadvantaged backgrounds, including urban slum communities and rural low-income settings. Data were collected through participatory workshops, semi-structured interviews, and observation, and analyzed thematically. Findings reveal that the process of creating and sharing digital stories enables participants to express personal narratives, develop confidence, enhance collaborative skills, and foster empathy within their peer networks. The study concludes that digital storytelling, when designed as a participatory and reflective practice, can contribute significantly to social inclusion by strengthening the visibility, resilience, and sense of belonging of marginalized youth. The study highlights the need for educators and community organizations to integrate digital storytelling into inclusive educational and community development strategies.  
Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Lingkungan Melalui Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi di Kelurahan Pendrikan Lor Nurhidayati; Rahoyo; Dini Anggraheni; Endang Rusdianti
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4678

Abstract

Permasalahan limbah minyak goreng bekas (jelantah) masih menjadi isu lingkungan di tingkat rumah tangga, khususnya di kawasan perkotaan. Di sisi lain, ibu rumah tangga memiliki potensi besar untuk diberdayakan secara ekonomi melalui kegiatan produktif berbasis keterampilan sederhana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi ibu rumah tangga melalui pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi produk lilin aromaterapi bernilai jual. Program dilaksanakan di Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, dengan metode pelatihan dan pendampingan yang meliputi sosialisasi dampak lingkungan minyak jelantah, praktik pembuatan lilin aromaterapi, serta pengenalan dasar pengemasan dan pemasaran produk. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang layak digunakan dan dipasarkan, serta menunjukkan peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran lingkungan. Program ini tidak hanya berkontribusi pada pengurangan limbah rumah tangga, tetapi juga membuka peluang usaha kreatif berbasis lingkungan bagi ibu rumah tangga. Dengan demikian, pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan dan aplikatif.
Pelatihan Recycling Kantong Plastik Bekas menjadi Barang yang Bernilai Guna dalam Mendukung Gerakan Ekonomi Sirkular Rahoyo Rahoyo; Nurhidayati Nurhidayati; Dini Anggraheni; Endang Rusdianti
Kontribusi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Cipta Media Harmoni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53624/kontribusi.v6i2.904

Abstract

Latar Belakang: Sampah telah menjadi masalah lokal, nasional, bahkan global. Oleh karena itu, upaya sekecil apapun perlu dilakukan secara masif agar sampah tidak terbuang, membebani lingkungan, dan tidak mengancam kesehatan. Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan mengenai bahaya sampah dan melatih membuat bunga hias dari kantong plastik bekas. Metode: PkM dilakukan dengan metode partisipasi aktif. Pada sesi penyuluhan, peserta bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan atas materi yang dipaparkan oleh tim PkM. Pada sesi pelatihan peserta mempraktikkan secara personal pembuatan bunga hias dari kantong plastik bekas dengan dibimbing oleh anggota tim. Hasil: Pada aspek pengetahuan dan keterampilan, PkM berhasil meningkatkan pengetahuan peserta rata-rata 28% dan keterampilan peserta rata-rata 60%. Pada aspek produk, sebagian besar peserta berhasil mendaur ulang sampah kantong plastik menjadi bunga hias yang bernilai guna. Kesimpulan: Pada umumnya peserta telah memahami bahaya yang ditimbulkan oleh sampah plastik tetapi sebagian besar belum mengetahui dan bisa mendaur ulang sampah plastik, salah satunya menjadi bunga hias. Implikasi dari fakta ini adalah perlunya pelatihan-pelatihan daur ulang plastik, bukan pada tataran kognitif melainkan pada tataran praktis.
Authorship Background and Language Aspects on Javanesse Drama Scripts by Cross-Generation Authors’ Work Ucik Fuadhiyah; Hanifah Nur Insani; Dini Anggraheni
Javanologi: International Journal of Javanese Studies Vol 5, No 1 (2021): Javanologi Volume 5 No. 1: December
Publisher : Pusat Unggulan Ipteks Javanologi Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/javanologi.v5i1.67962

Abstract

The process of reviewing the manuscript in detail and depth will result in a correct understanding and in accordance with the interpretation between the author, cultivator, and actor. The aim of this research article is to describe the form of linguistic aspects contained in Javanese drama scripts by authors across generations and to describe aspects of the authorship background contained in Javanese drama manuscripts by authors across generations. The approach used in this research is descriptive qualitative. Based on the results of the analysis and discussion on six Javanese drama scripts (Lelakon, Tuk, Dom, Tengara, Sumilir Angin Nang Brug Belis, and Mak Ana Asu Mlebu Ngomah) the works of these cross-generational authors who have the same or similar intrinsic elements even though each manuscript has its own characteristics and uniqueness.
Ritual, Symbolism, and Social Order: An Anthropological Perspective on Cultural Continuity Tharindu Silva; Nandar Hlaing; Dini Anggraheni
Journal of Humanities Research Sustainability Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jhrs.v3i1.3445

Abstract

Background. Rituals and symbols play a pivotal role in maintaining social order and cultural continuity within societies. These practices are central to understanding how communities sustain their values, beliefs, and social structures across generations. Through rituals, societies communicate their shared identity, social norms, and collective memory, while symbols serve as visual and emotional representations of deeper cultural meanings. Purpose. The primary objective of this research is to examine how rituals and symbolic practices contribute to the preservation of cultural continuity within contemporary communities. Method. A qualitative anthropological approach is employed, combining ethnographic fieldwork, participant observation, and in-depth interviews with members of selected communities. Data will be gathered through the observation of various rituals and cultural practices, followed by analysis of their symbolic meanings and social functions. Results. The study finds that rituals and symbols serve as vital mechanisms for social regulation and cultural preservation. Communities that maintain these practices exhibit a stronger sense of collective identity and social cohesion. Conclusion. This research underscores the enduring importance of rituals and symbols in maintaining social order and cultural continuity. While these practices evolve, they continue to serve as foundational elements in the construction of social identity and community resilience.
Language Learning through AI Chatbots: Effectiveness and Cognitive Load Analysis Muh. Safar; Dini Anggraheni
Journal of Social Science Utilizing Technology Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jssut.v2i3.1346

Abstract

Background. The use of AI chatbots in language learning has gained popularity due to their accessibility and ability to provide interactive practice. However, concerns regarding their effectiveness in improving language skills and the potential cognitive load they place on learners remain underexplored. With the increasing integration of AI in education, understanding how these tools impact language acquisition is critical for optimizing learning outcomes. Purpose. This study aims to evaluate the effectiveness of AI chatbots in language learning and analyze the cognitive load experienced by learners during chatbot interactions. Method. A mixed-methods approach was used, combining quantitative assessments of language proficiency before and after using an AI chatbot for a three-week period, with qualitative interviews to assess learner perceptions of cognitive load. Participants included 60 university students learning a new language. Results. The results indicate that AI chatbots significantly improved language skills, particularly in conversational fluency and vocabulary acquisition. However, a moderate level of cognitive load was reported by learners, primarily due to the need to simultaneously engage in real-time conversation and process feedback. While the cognitive load was not overwhelming, it varied based on individual learner characteristics, such as prior language proficiency and familiarity with AI tools. Conclusion. In conclusion, AI chatbots offer an effective method for enhancing language learning, particularly in improving fluency and vocabulary. However, managing cognitive load is crucial to maximizing their educational potential. Further research is recommended to explore adaptive chatbot designs that can tailor interactions to individual learner needs.