Claim Missing Document
Check
Articles

Integrasi Arsitektur Terapeutik dalam Desain Rumah Sakit Jiwa: Studi Kasus di Makassar, Indonesia Nabilah Arbia; Citra Amalia Amal; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.200

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya prevalensi gangguan kesehatan mental di Kota Makassar, Indonesia, menandakan perlunya peningkatan fasilitas layanan kesehatan jiwa yang memadai. Studi ini mengusulkan desain Rumah Sakit Psikiatri di Makassar dengan pendekatan arsitektur terapeutik, yang menekankan pada lingkungan penyembuhan (healing environment), keterhubungan dengan alam (natural connection), dan kenyamanan psikologis (psychological comfort). Metodologi yang digunakan mencakup observasi lapangan, analisis spasial, serta penerapan kerangka deskriptif-analitik untuk mengintegrasikan data empiris dan kebutuhan pengguna. Tapak seluas 4,23 hektar ini ditata secara strategis dalam zona publik, semi-publik, privat, dan servis. Hasil utama menunjukkan integrasi elemen biofilik seperti taman terapeutik, ventilasi alami, dan material sensorik yang mendukung pemulihan mental. Bentuk modular heksagonal serta adaptasi budaya lokal memperkuat penerimaan masyarakat dan keharmonisan spasial. Temuan ini menunjukkan bahwa arsitektur terapeutik dapat secara signifikan mengurangi stres, meningkatkan kepuasan pasien, dan mempercepat proses pemulihan. Studi ini memberikan model replikatif untuk pengembangan fasilitas psikiatri yang berkelanjutan dan berpusat pada manusia di kawasan Indonesia Timur. ABSTRACTThe increasing prevalence of mental health disorders in Makassar, Indonesia, underscores the urgent need for improved psychiatric healthcare facilities. This study proposes a design for a Psychiatric Hospital in Makassar using a therapeutic architecture approach, emphasizing healing environments, natural connection, and psychological comfort. The methodology includes field observation, spatial analysis, and application of descriptive-analytic frameworks to integrate empirical data and user needs. The site spans 4.23 hectares and is strategically zoned into public, semi-public, private, and service areas. Key results demonstrate the integration of biophilic elements such as therapeutic gardens, natural ventilation, and sensory materials that support mental recovery. Hexagonal modular forms and cultural adaptation reinforce community acceptance and spatial harmony. The findings show that therapeutic architecture can significantly reduce stress, enhance patient satisfaction, and improve recovery outcomes. The study contributes a replicable model for sustainable, human-centered psychiatric facilities in Eastern Indonesia.
Arsitektur Kolaboratif Biophilic untuk Generasi Z di Kota Tropis: Studi Kasus Kota Makassar Cinta Dwi Andayu; Citra Amalia Amal; Ashari Abdullah; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.202

Abstract

ABSTRAKGenerasi Z menghadapi tantangan psikologis dan sosial yang signifikan di lingkungan perkotaan, khususnya yang berkaitan dengan tekanan kesehatan mental yang diperparah oleh saturasi digital dan keterbatasan interaksi sosial yang otentik. Sebagai respons terhadap kondisi ini, studi ini mengusulkan desain Gen-Z Collaboration Center di Kota Makassar, Indonesia, dengan menggunakan prinsip-prinsip arsitektur biophilic. Melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan analisis tapak, kajian pustaka, dan studi kasus komparatif untuk merumuskan desain yang menyatukan fungsionalitas spasial dengan elemen alam. Desain yang dihasilkan terdiri dari tiga zona inti—kesehatan mental, kreativitas, dan kewirausahaan—yang disusun dalam tata ruang radial dan terinspirasi secara simbolik dari tanda baca semicolon. Fitur utama meliputi pencahayaan alami, taman vertikal, fitur air, material organik, serta ruang fleksibel dan adaptif yang mendorong ketahanan emosional, koneksi sosial, dan kehidupan kota yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pola desain biophilic dari Terrapin Bright Green, pusat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang kolaboratif, tetapi juga sebagai ekosistem penyembuhan dalam konteks urban. Penelitian ini berkontribusi terhadap praktik desain perkotaan dengan menawarkan model arsitektur publik yang berpusat pada generasi muda, berkelanjutan, dan responsif secara psikologis di kota-kota tropis. ABSTRACTGeneration Z faces significant psychological and social challenges in urban environments, particularly related to mental health stressors exacerbated by digital saturation and limited authentic social interaction. In response, this study proposes the design of a Gen-Z Collaboration Center in Makassar, Indonesia, using biophilic architectural principles. Employing a qualitative descriptive methodology, the study integrates site analysis, literature review, and comparative case studies to formulate a design that merges spatial functionality with natural elements. The resulting design consists of three core zones—mental wellness, creativity, and entrepreneurship—structured through a radial layout and symbolically inspired by the semicolon. Key features include natural lighting, vertical gardens, water features, organic materials, and flexible, adaptive spaces that promote emotional resilience, social connection, and sustainable urban living. By applying Terrapin Bright Green's biophilic design patterns, the center serves not only as a collaborative environment but also as a healing urban ecosystem. This research contributes to urban design practices by offering a youth-centered, sustainable, and psychologically responsive public architecture model for tropical cities.
Integrasi Alam dalam Desain Pesisir: Pendekatan Biomimikri pada Oceanarium Hamza Hamid; Citra Amalia Amal; Ashari Abdullah; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.203

Abstract

ABSTRAKStudi ini mengeksplorasi penerapan pendekatan biomimikri dalam desain arsitektur Oceanarium di Kota Makassar, sebuah kota pesisir dengan keanekaragaman hayati laut yang signifikan. Terletak pada pertemuan antara pariwisata, pendidikan, dan konservasi, Oceanarium ini bertujuan merespons degradasi ekologi dan minimnya fasilitas edukasi kelautan yang terintegrasi. Dengan mengambil inspirasi dari bentuk-bentuk alami seperti terumbu karang dan gelombang laut, desain ini menggabungkan geometris yang mengalir, material transparan, dan program spasial adaptif untuk mendorong integrasi lingkungan dan pengalaman imersif bagi pengguna. Secara metodologis, penelitian ini menggabungkan analisis tapak, kajian literatur, studi banding kasus internasional, dan sketsa konseptual untuk merumuskan strategi desain yang kontekstual. Bangunan dirancang dengan zona-zona fungsional seperti area publik, edukasi, rekreasi, dan konservasi, yang dihubungkan melalui sirkulasi pengunjung menyerupai arus laut. Prinsip biomimikri diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan termal, ventilasi alami, dan ketahanan lingkungan. Hasil menunjukkan bahwa biomimikri meningkatkan kinerja arsitektur baik secara estetika maupun fungsional. Pendekatan ini memfasilitasi praktik bangunan berkelanjutan, mendorong keterlibatan publik, dan selaras dengan konteks budaya serta ekologi lokal. Oceanarium ini tampil bukan hanya sebagai landmark arsitektur ikonik, tetapi juga sebagai laboratorium hidup untuk edukasi kelautan dan pelestarian lingkungan. ABSTRACTThis study explores the application of biomimicry in the architectural design of an Oceanarium in Makassar City, a coastal metropolis with significant marine biodiversity. Positioned at the intersection of tourism, education, and conservation, the Oceanarium aims to respond to ecological degradation and the lack of integrated marine educational facilities. Drawing inspiration from natural forms such as coral reefs and ocean waves, the design incorporates fluid geometries, transparent materials, and adaptive spatial programming to promote environmental integration and user immersion. Methodologically, the research integrates site analysis, literature review, comparative international case studies, and conceptual sketching to formulate a contextual design strategy. The building features multiple zones, including public, educational, recreational, and conservation areas, connected through a visitor circulation system that mimics ocean currents. Biomimetic principles are applied to enhance thermal comfort, natural ventilation, and environmental resilience. The results indicate that biomimicry enhances architectural performance both aesthetically and functionally. It facilitates sustainable building practices, fosters public engagement, and aligns with local cultural and ecological contexts. The Oceanarium emerges as not only an iconic architectural landmark but also a living laboratory for marine education and environmental stewardship.      
Integrasi Alam, Budaya, dan Ekonomi Kreatif: Studi Perancangan Creative Hub Biofilik di Wilayah Semi-Perkotaan Andi Rezky Ayuda; Sahabuddin Latif; Citra Amalia Amal
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.204

Abstract

ABSTRAKCreative Hub yang dirancang dengan pendekatan arsitektur biofilik di Kabupaten Luwu menjawab kebutuhan mendesak akan ruang kolaboratif untuk mendukung ekonomi kreatif lokal. Proyek ini merespons kurangnya infrastruktur yang memadai untuk kegiatan edukasi, produksi, dan interaksi budaya, khususnya bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif. Lokasi yang dipilih secara strategis di Kota Belopa memungkinkan integrasi optimal dengan fungsi-fungsi perkotaan yang sudah ada. Metodologi desain menggabungkan analisis spasial, partisipasi komunitas, dan prinsip-prinsip biofilik, sehingga menghasilkan konsep yang menekankan pada pencahayaan alami, ventilasi, vegetasi, dan identitas budaya. Fasilitas utama mencakup ruang kerja bersama (co-working space), galeri seni, amfiteater, bengkel kreatif (workshop), dan taman edukasi, yang tersebar dalam zona-zona fungsional yang jelas. Massa bangunan mengadopsi bentuk organik yang mencerminkan topografi lokal serta mendukung praktik berkelanjutan seperti pemanenan air hujan dan atap hijau. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Creative Hub biofilik ini meningkatkan kesejahteraan pengguna, mendorong kreativitas, dan mempromosikan inklusi sosial. Ia tidak hanya menjadi wadah fisik bagi pengembangan seni dan kewirausahaan, tetapi juga menjadi landmark ekologis dan kultural yang memperkuat identitas kawasan Luwu. Rancangan ini menawarkan model yang dapat direplikasi dalam mengintegrasikan keberlanjutan, warisan budaya, dan keterlibatan komunitas dalam perencanaan infrastruktur kreatif. ABSTRACTThe Creative Hub designed using a biophilic architectural approach in Luwu Regency addresses the urgent need for collaborative spaces to support the local creative economy. The project responds to the lack of adequate infrastructure for education, production, and cultural interaction, especially for small businesses and creative communities. The selected site, strategically located in Belopa, allows optimal integration with existing urban functions. The design methodology integrates spatial analysis, community participation, and biophilic principles, resulting in a concept that emphasizes natural light, ventilation, greenery, and cultural identity. Key facilities include co-working spaces, art galleries, an amphitheater, workshops, and educational gardens, distributed across clearly defined functional zones. The massing adopts organic forms that reflect the region’s topography and support sustainable practices such as rainwater harvesting and green roofs. Results show that the biophilic Creative Hub enhances user well-being, fosters creativity, and promotes social inclusion. It serves not only as a physical platform for artistic and entrepreneurial development but also as an ecological and cultural landmark that strengthens the regional identity of Luwu. The design offers a replicable model for integrating sustainability, cultural heritage, and community engagement into creative infrastructure planning.      
Designing a Biophilic Cocoa Hub for Integrated Processing, Education and Tourism in Humid-Tropical Indonesia Nova Ibrahim; Sahabuddin Latif; Citra Amalia Amal; A. Syahriyunita Syahruddin Syahruddin; Rohana Rohana; Muh. Syarif Syarif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 4 No. 1 (2026): August
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v4i1.278

Abstract

This study develops an architectural framework for a biophilic cocoa processing, education, and tourism hub in Masamba, Luwu Utara, Indonesia. A research-by-design method combined site observation, rainfall and population data, precedent analysis, user–activity mapping, space programming, and iterative design synthesis. Quantitative evidence was used descriptively to test the consistency of site and program decisions. The available monthly rainfall series totals 3,064 mm over 154 rainy days; rainfall depth and rainy-day frequency show a strong descriptive association (r=0.947). The selected 2.5-ha site accommodates a 3,482.1-m² gross program for education–processing, greenhouse and drying, dining–retail, prayer, storage, and waste-management functions. The visitor route follows a farm–process–product sequence, while production and service flows remain separate for safety and hygiene. Biophilic strategies include cocoa-landscape views, controlled cross-ventilation, filtered daylight, shaded transitions, natural materials, rainwater harvesting, and composting. The result is a testable architectural hypothesis linking rural value addition, experiential learning, and humid-tropical design. Hydrological, thermal, daylight, operational, economic, and post-occupancy validation remain necessary before implementation.
Feminist Architecture for Inclusive Heritage Learning at the Colliq Pujie Museum Muh Alfin; Ashari Abdullah; Citra Amalia Amal; Nurhikmah Paddiyatu; Sahabuddin Latif; Andi Yusri
Journal of Green Complex Engineering Vol. 4 No. 1 (2026): August
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v4i1.282

Abstract

This study develops an inclusive heritage-learning environment for the Colliq Pujie Museum Complex in Barru Regency through a feminist architectural approach. A research-through-design method combined literature and precedent review, field observation, comparative site selection, climate and access analysis, user–activity mapping, spatial programming, descriptive quantitative analysis, and criteria-based evaluation. The selected 1.79-ha site adjoins the existing museum and is directly accessible from a provincial road. The resulting 9,502-m² program integrates temporary and immersive exhibitions, a Barru history gallery, education, workshops, library and research functions, a 529-seat auditorium, reflection spaces, and supporting amenities. Feminist principles were translated into human-scaled thresholds, connected commons, universal circulation, passive visibility, mixed-mode environmental zoning, and an interpretive sequence that presents Colliq Pujie as a producer and custodian of Bugis knowledge. The proposal demonstrates that gender-responsive architecture can be operationalized as a performance framework linking representation, access, safety, participation, and environmental comfort rather than as a formal style. The design remains a schematic hypothesis requiring participatory validation, environmental simulation, accessibility auditing, and post-occupancy evaluation.
Co-Authors A. Amin, Siti Fuadillah A. Annisa Amalia A. Syahriyunita Syahruddin A. Syahriyunita Syahruddin A. Syahriyunita Syahruddin Syahruddin A., Siti Fadillah A.Annisa Amalia A.Syahriyunita Syahruddin Aan Kunaifi Abdulah, Ashari Abdullah, Ashari Ahcmad Ikhsans Syarifuddin Ahmad Fadli Ahmad, Andi Firman Ahmad, Imelda Aisyah Ayu Andira Alkatiri Aldi Setiawan, Aldi Aldi, Muhammad Alhumairah Amin, Siti Alhumairah Alhumairah, Siti Fuadillah Alim Amri, Nur Amalia, A. Annisa Amalia, A.Annisa Amelia, Yuyun Amin, Siti Faudillah Alhumairah Amir, Amrin Amrin Amir Andi Annisa Amalia Andi Annisa Amalia - Andi Fitriyah Azsahrah Andi Rezky Ayuda Andi Syahriyunita Andi Syahriyunita Syahruddin andi Yusri Aris Sakkar Aris Sakkar Dollah Ashari Abdulah Ashari Abdullah Asnaeni AM, Sitti Asriati AM, St Azhar, Alif Azman, Andi Baharsin, Syamsir Aman Cinta Dwi Andayu Dapubeang, Awaludin Darwis, Nur Wahyuni Dollah, Aris Sakkar FAJAR, RIFKI SURYA Fardi Fardi Fitrawan Umar Fuadillah A. Amin, Siti Hamid, Hamzah Hamza Hamid Hamzah Yunus Hasra, Mila Karmila Hilal, Saiful Huddin, Misba Idrus, Irnawaty Imelda Ahmad Irwandi Irwandi Ismail Ibrahim Jumardin M Kadir, Sania Ramadhani Khilda Wildana Nur Khilda Wildana Nur Kunaifi, Aan Kurnianto, Ucok Latif, Sahabbuddin M muhajerin M, Jumardin Muh Alfin Muh. Arif Muh. Arif Muh. Ilmiansah Muh. Rizal Syahdan Muh. Syarif Syarif muhajerin, M Muhamad Ilham Pasiori, Ilham Muhammad Aldi, Muhammad Muhammad Rifai Saputra Muhammad Syafaat S. Kuba Muhammad Syarif Muhammad Syarif, Muhammad Mursyid Mustafa Musiin, Windi Putri Mustafa, Mursyid Mutiah, Uryun Nabilah Arbia nana, Rohana Nengsih, Anni Syahrilia Nini Apriani Rumata Nova Ibrahim Nur Alim Amri Nur Hikmah Paddiyatu Nur Wahyuni Darwis Nur ‘Azah Nur, Khilda Wildana NUR, KHILDA WILDANA Nurawal, Muhammad Alfacmy Nurhikmah Paddiyatu Nurkhafifah Nurkhafifah Nurkhafifah, Nurkhafifah Nurleha Syam Paddiyatu, Nurhikmah Rahmat Hidayat rahmat ramadan Ramadan, Rahmat Rapi, Adam Rasmawarni Rasmawarni Rasmawarni, Rasmawarni Rifai Saputra, Muhammad Rifaldi Rifaldi, Rifaldi RIFKI SURYA FAJAR Rohana Rohana Rohana Rohana ROHANA ROHANA Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Sahabbuddin Latif Sahabuddin Latif Saiful Hilal Sakkar, Aris Salmiah Zainuddin Sari, Nirma Mawar Sawerigading, Andi Adam Siti Fadillah A. Sitti Asnaeni Sri Andayaningsih St Asriati Supardi Jaya Tammeng Syahdan, Muh. Rizal Syahriyunita, Andi Syahruddin, A. Syahriyunita Syahruddin, A.Syahriyunita Syahruddin, Andi Syahriyunita Syam syam Syam, Nurleha syam, Syam Syarifuddin, Ahcmad Ikhsans Tammeng, Supardi Jaya Umar, Fitrawan Wildana Nur, Khilda Wiwi Herawati Wiwik Wahidah Osman Wiwik Wahidah Osman Wiwik Wahidah Osman Yunus, Hamzah Yusri, Andi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Zainuddin, Salmiah