Claim Missing Document
Check
Articles

Perancangan Museum Gempa Bumi Berbasis Mitigasi Bencana dengan Pendekatan Smart Building di Kota Palu Ramadhan, Moh. Faried; Latif, Sahabuddin; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.196

Abstract

ABSTRAKKota Palu merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana geologis tinggi, seperti gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi. Peristiwa tragis gempa pada 28 September 2018 mengakibatkan ribuan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur secara masif. Menanggapi hal ini, diperlukan sarana edukatif sekaligus evakuatif yang mampu meningkatkan kesadaran mitigasi bencana masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang Museum Gempa Bumi berbasis mitigasi bencana dengan pendekatan arsitektur smart building di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui tahapan analisis data lapangan, studi literatur, serta simulasi desain digital. Lokasi museum ditentukan berdasarkan zonasi rawan bencana, dengan mempertimbangkan aksesibilitas dan keamanan tapak. Hasil desain menunjukkan integrasi teknologi struktur isolasi seismik untuk meningkatkan ketahanan gempa serta penerapan prinsip smart building seperti efisiensi energi, kenyamanan termal, fleksibilitas ruang, dan sistem evakuasi darurat otomatis. Kesimpulannya, pendekatan ini menghasilkan bangunan tangguh, adaptif, dan edukatif yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai pusat evakuasi dan edukasi kebencanaan. Implikasi dari penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan arsitektur tanggap bencana yang relevan diterapkan di wilayah rawan gempa lainnya. ABSTRACTPalu City is highly vulnerable to geological disasters such as earthquakes, tsunamis, and liquefaction. The devastating earthquake on September 28, 2018, caused thousands of fatalities and massive infrastructure damage. In response, there is an urgent need for educational and evacuation facilities that promote public disaster mitigation awareness. This study aims to design an Earthquake Museum based on disaster mitigation using a smart building architectural approach in Palu. A qualitative descriptive method was employed, involving field data analysis, literature studies, and digital design simulations. The museum site was selected based on disaster zoning maps, emphasizing accessibility and site safety. The design integrates seismic isolation structural technology to enhance earthquake resistance, alongside smart building principles such as energy efficiency, thermal comfort, space flexibility, and automated emergency systems. The results demonstrate a resilient, adaptive, and educational facility that functions not only as an exhibition space but also as a disaster education and temporary evacuation center. This research implies significant contributions to disaster-responsive architecture development, particularly applicable to other earthquake-prone regions.
Integrasi Arsitektur Terapeutik dalam Desain Rumah Sakit Jiwa: Studi Kasus di Makassar, Indonesia Nabilah Arbia; Citra Amalia Amal; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.200

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya prevalensi gangguan kesehatan mental di Kota Makassar, Indonesia, menandakan perlunya peningkatan fasilitas layanan kesehatan jiwa yang memadai. Studi ini mengusulkan desain Rumah Sakit Psikiatri di Makassar dengan pendekatan arsitektur terapeutik, yang menekankan pada lingkungan penyembuhan (healing environment), keterhubungan dengan alam (natural connection), dan kenyamanan psikologis (psychological comfort). Metodologi yang digunakan mencakup observasi lapangan, analisis spasial, serta penerapan kerangka deskriptif-analitik untuk mengintegrasikan data empiris dan kebutuhan pengguna. Tapak seluas 4,23 hektar ini ditata secara strategis dalam zona publik, semi-publik, privat, dan servis. Hasil utama menunjukkan integrasi elemen biofilik seperti taman terapeutik, ventilasi alami, dan material sensorik yang mendukung pemulihan mental. Bentuk modular heksagonal serta adaptasi budaya lokal memperkuat penerimaan masyarakat dan keharmonisan spasial. Temuan ini menunjukkan bahwa arsitektur terapeutik dapat secara signifikan mengurangi stres, meningkatkan kepuasan pasien, dan mempercepat proses pemulihan. Studi ini memberikan model replikatif untuk pengembangan fasilitas psikiatri yang berkelanjutan dan berpusat pada manusia di kawasan Indonesia Timur. ABSTRACTThe increasing prevalence of mental health disorders in Makassar, Indonesia, underscores the urgent need for improved psychiatric healthcare facilities. This study proposes a design for a Psychiatric Hospital in Makassar using a therapeutic architecture approach, emphasizing healing environments, natural connection, and psychological comfort. The methodology includes field observation, spatial analysis, and application of descriptive-analytic frameworks to integrate empirical data and user needs. The site spans 4.23 hectares and is strategically zoned into public, semi-public, private, and service areas. Key results demonstrate the integration of biophilic elements such as therapeutic gardens, natural ventilation, and sensory materials that support mental recovery. Hexagonal modular forms and cultural adaptation reinforce community acceptance and spatial harmony. The findings show that therapeutic architecture can significantly reduce stress, enhance patient satisfaction, and improve recovery outcomes. The study contributes a replicable model for sustainable, human-centered psychiatric facilities in Eastern Indonesia.
Arsitektur Kolaboratif Biophilic untuk Generasi Z di Kota Tropis: Studi Kasus Kota Makassar Cinta Dwi Andayu; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.202

Abstract

ABSTRAKGenerasi Z menghadapi tantangan psikologis dan sosial yang signifikan di lingkungan perkotaan, khususnya yang berkaitan dengan tekanan kesehatan mental yang diperparah oleh saturasi digital dan keterbatasan interaksi sosial yang otentik. Sebagai respons terhadap kondisi ini, studi ini mengusulkan desain Gen-Z Collaboration Center di Kota Makassar, Indonesia, dengan menggunakan prinsip-prinsip arsitektur biophilic. Melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan analisis tapak, kajian pustaka, dan studi kasus komparatif untuk merumuskan desain yang menyatukan fungsionalitas spasial dengan elemen alam. Desain yang dihasilkan terdiri dari tiga zona inti—kesehatan mental, kreativitas, dan kewirausahaan—yang disusun dalam tata ruang radial dan terinspirasi secara simbolik dari tanda baca semicolon. Fitur utama meliputi pencahayaan alami, taman vertikal, fitur air, material organik, serta ruang fleksibel dan adaptif yang mendorong ketahanan emosional, koneksi sosial, dan kehidupan kota yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pola desain biophilic dari Terrapin Bright Green, pusat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang kolaboratif, tetapi juga sebagai ekosistem penyembuhan dalam konteks urban. Penelitian ini berkontribusi terhadap praktik desain perkotaan dengan menawarkan model arsitektur publik yang berpusat pada generasi muda, berkelanjutan, dan responsif secara psikologis di kota-kota tropis. ABSTRACTGeneration Z faces significant psychological and social challenges in urban environments, particularly related to mental health stressors exacerbated by digital saturation and limited authentic social interaction. In response, this study proposes the design of a Gen-Z Collaboration Center in Makassar, Indonesia, using biophilic architectural principles. Employing a qualitative descriptive methodology, the study integrates site analysis, literature review, and comparative case studies to formulate a design that merges spatial functionality with natural elements. The resulting design consists of three core zones—mental wellness, creativity, and entrepreneurship—structured through a radial layout and symbolically inspired by the semicolon. Key features include natural lighting, vertical gardens, water features, organic materials, and flexible, adaptive spaces that promote emotional resilience, social connection, and sustainable urban living. By applying Terrapin Bright Green's biophilic design patterns, the center serves not only as a collaborative environment but also as a healing urban ecosystem. This research contributes to urban design practices by offering a youth-centered, sustainable, and psychologically responsive public architecture model for tropical cities.
Integrasi Alam dalam Desain Pesisir: Pendekatan Biomimikri pada Oceanarium Hamid, Hamza; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.203

Abstract

ABSTRAKStudi ini mengeksplorasi penerapan pendekatan biomimikri dalam desain arsitektur Oceanarium di Kota Makassar, sebuah kota pesisir dengan keanekaragaman hayati laut yang signifikan. Terletak pada pertemuan antara pariwisata, pendidikan, dan konservasi, Oceanarium ini bertujuan merespons degradasi ekologi dan minimnya fasilitas edukasi kelautan yang terintegrasi. Dengan mengambil inspirasi dari bentuk-bentuk alami seperti terumbu karang dan gelombang laut, desain ini menggabungkan geometris yang mengalir, material transparan, dan program spasial adaptif untuk mendorong integrasi lingkungan dan pengalaman imersif bagi pengguna. Secara metodologis, penelitian ini menggabungkan analisis tapak, kajian literatur, studi banding kasus internasional, dan sketsa konseptual untuk merumuskan strategi desain yang kontekstual. Bangunan dirancang dengan zona-zona fungsional seperti area publik, edukasi, rekreasi, dan konservasi, yang dihubungkan melalui sirkulasi pengunjung menyerupai arus laut. Prinsip biomimikri diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan termal, ventilasi alami, dan ketahanan lingkungan. Hasil menunjukkan bahwa biomimikri meningkatkan kinerja arsitektur baik secara estetika maupun fungsional. Pendekatan ini memfasilitasi praktik bangunan berkelanjutan, mendorong keterlibatan publik, dan selaras dengan konteks budaya serta ekologi lokal. Oceanarium ini tampil bukan hanya sebagai landmark arsitektur ikonik, tetapi juga sebagai laboratorium hidup untuk edukasi kelautan dan pelestarian lingkungan. ABSTRACTThis study explores the application of biomimicry in the architectural design of an Oceanarium in Makassar City, a coastal metropolis with significant marine biodiversity. Positioned at the intersection of tourism, education, and conservation, the Oceanarium aims to respond to ecological degradation and the lack of integrated marine educational facilities. Drawing inspiration from natural forms such as coral reefs and ocean waves, the design incorporates fluid geometries, transparent materials, and adaptive spatial programming to promote environmental integration and user immersion. Methodologically, the research integrates site analysis, literature review, comparative international case studies, and conceptual sketching to formulate a contextual design strategy. The building features multiple zones, including public, educational, recreational, and conservation areas, connected through a visitor circulation system that mimics ocean currents. Biomimetic principles are applied to enhance thermal comfort, natural ventilation, and environmental resilience. The results indicate that biomimicry enhances architectural performance both aesthetically and functionally. It facilitates sustainable building practices, fosters public engagement, and aligns with local cultural and ecological contexts. The Oceanarium emerges as not only an iconic architectural landmark but also a living laboratory for marine education and environmental stewardship.      
Integrasi Alam, Budaya, dan Ekonomi Kreatif: Studi Perancangan Creative Hub Biofilik di Wilayah Semi-Perkotaan Ayuda, Andi Rezky; Latif, Sahabuddin; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.204

Abstract

ABSTRAKCreative Hub yang dirancang dengan pendekatan arsitektur biofilik di Kabupaten Luwu menjawab kebutuhan mendesak akan ruang kolaboratif untuk mendukung ekonomi kreatif lokal. Proyek ini merespons kurangnya infrastruktur yang memadai untuk kegiatan edukasi, produksi, dan interaksi budaya, khususnya bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif. Lokasi yang dipilih secara strategis di Kota Belopa memungkinkan integrasi optimal dengan fungsi-fungsi perkotaan yang sudah ada. Metodologi desain menggabungkan analisis spasial, partisipasi komunitas, dan prinsip-prinsip biofilik, sehingga menghasilkan konsep yang menekankan pada pencahayaan alami, ventilasi, vegetasi, dan identitas budaya. Fasilitas utama mencakup ruang kerja bersama (co-working space), galeri seni, amfiteater, bengkel kreatif (workshop), dan taman edukasi, yang tersebar dalam zona-zona fungsional yang jelas. Massa bangunan mengadopsi bentuk organik yang mencerminkan topografi lokal serta mendukung praktik berkelanjutan seperti pemanenan air hujan dan atap hijau. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Creative Hub biofilik ini meningkatkan kesejahteraan pengguna, mendorong kreativitas, dan mempromosikan inklusi sosial. Ia tidak hanya menjadi wadah fisik bagi pengembangan seni dan kewirausahaan, tetapi juga menjadi landmark ekologis dan kultural yang memperkuat identitas kawasan Luwu. Rancangan ini menawarkan model yang dapat direplikasi dalam mengintegrasikan keberlanjutan, warisan budaya, dan keterlibatan komunitas dalam perencanaan infrastruktur kreatif. ABSTRACTThe Creative Hub designed using a biophilic architectural approach in Luwu Regency addresses the urgent need for collaborative spaces to support the local creative economy. The project responds to the lack of adequate infrastructure for education, production, and cultural interaction, especially for small businesses and creative communities. The selected site, strategically located in Belopa, allows optimal integration with existing urban functions. The design methodology integrates spatial analysis, community participation, and biophilic principles, resulting in a concept that emphasizes natural light, ventilation, greenery, and cultural identity. Key facilities include co-working spaces, art galleries, an amphitheater, workshops, and educational gardens, distributed across clearly defined functional zones. The massing adopts organic forms that reflect the region’s topography and support sustainable practices such as rainwater harvesting and green roofs. Results show that the biophilic Creative Hub enhances user well-being, fosters creativity, and promotes social inclusion. It serves not only as a physical platform for artistic and entrepreneurial development but also as an ecological and cultural landmark that strengthens the regional identity of Luwu. The design offers a replicable model for integrating sustainability, cultural heritage, and community engagement into creative infrastructure planning.      
Pendekatan Arsitektur Inklusif pada Perancangan Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Takalar Yusri, Andi; Idrus, Irnawaty; Amal, Citra Amalia; Syahruddin, Andi Syahriyunita; Syarif, Muhammad; Abduh, Muhammad
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/hq1v5p61

Abstract

ABSTRAKMall Pelayanan Publik (MPP) merupakan inovasi pelayanan terpadu yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan pemerintah kepada masyarakat. Namun, banyak fasilitas MPP yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek aksesibilitas bagi seluruh kelompok pengguna, khususnya penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Penelitian ini bertujuan merancang Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Takalar dengan pendekatan arsitektur inklusif guna mewujudkan fasilitas pelayanan publik yang adil, setara, dan mudah diakses oleh semua kalangan. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode perancangan arsitektur, melalui studi literatur, observasi tapak, analisis kebutuhan ruang, serta studi banding terhadap proyek sejenis di dalam dan luar negeri. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan prinsip universal design mampu meningkatkan kualitas aksesibilitas melalui penyediaan ramp standar, lift, sirkulasi ramah disabilitas, sistem wayfinding berbasis visual dan warna, serta fasilitas pendukung seperti toilet disabilitas, ruang laktasi, dan ruang bermain anak. Selain itu, pemilihan material yang aman dan tidak licin turut meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi prinsip arsitektur inklusif sejak tahap perencanaan sangat penting dalam menciptakan ruang pelayanan publik yang manusiawi, responsif, dan berkelanjutan.Kata Kunci: Arsitektur Inklusif, Pelayanan Publik, Disabilitas, Aksesibilitas, Universal Design.ABSTRACTPublic Service Malls (Mall Pelayanan Publik/MPP) are integrated service facilities aimed at improving the efficiency and quality of public services. However, many existing MPP buildings have not fully considered accessibility for all user groups, particularly people with disabilities, the elderly, pregnant women, and other vulnerable communities. This study aims to design a Public Service Mall in Takalar Regency using an inclusive architectural approach to ensure equal, safe, and convenient access to public services. The research adopts a qualitative descriptive method based on architectural design processes, including literature review, site observation, spatial needs analysis, and comparative studies of similar projects at national and international levels. The design results demonstrate that the application of universal design principles significantly improves accessibility through standard-compliant ramps, elevators, disability-friendly circulation, visual and color-based wayfinding systems, and inclusive supporting facilities such as accessible toilets, lactation rooms, and child-friendly spaces. In addition, the use of safe and non-slip materials enhances user comfort and safety. This study emphasizes that integrating inclusive design principles from the early planning stage is essential for creating public service facilities that are humane, responsive, and sustainable, while also supporting equitable access to government services.Keyworsds: Inclusive Architecture, Publik Service, Disability, Accesibility, Universal Design.
Desain Rumah Sakit Kanker Berbasis Healing Environment sebagai Pendekatan Arsitektur Humanis di Kota Makassar Mansyur, Taufik; Latif, Sahabuddin; Syahruddin, A. Syahriyunita; Amal, Citra Amalia; Amin, Siti Fuadillah Alhumairah; Paddiyatu, Nurhikmah; taufik, opi
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/kt42nm82

Abstract

ABSTRAK: Rumah sakit khusus kanker karsinoma di Kota Makassar merupakan bangunan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker di Kota Makassar. Tingginya angka kejadian kanker karsinoma di Kota Makassar dan terbatasnya fasilitas khusus yang menangani kasus penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah terciptanya rumah sakit khusus kanker karsinoma yang menerapkan pendekatan Healing Environment untuk meningkatkan kualitas hidup terhadap pasien, menciptakan lingkungan yang tenang, nyaman, serta mendukung proses penyembuhan. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur dan analisis kebutuhan pasien, mencari data pasien yang terkait dengan kanker karsinoma sebelumnya dengan rentang waktu lima tahun dan menghitung jumlah pengguna rumah sakit ke depannya. Hasil dari penelitian ini adalah terciptanya sebuah desain rumah sakit yang memadukan elemen-elemen Healing Environment, seperti taman interior dan eksterior, pencahayaan alami, serta teknologi yang mendukung proses penyembuhan dan pengobatan. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai, dan menjadi contoh bagi rumah sakit lain dalam menerapkan pendekatan Healing Environment. Kata Kunci: Rumah Sakit Kanker, Healing Environment, Kanker Karsinoma, Kota Makassar. ABSTRACT: The cancer carcinoma specialized hospital in Makassar City is a building designed to improve the quality of life for cancer patients in Makassar City. The high incidence rate of carcinoma cancer in Makassar City and the limited specialized facilities addressing this disease are the main concerns. The aim of this research is to create a specialized carcinoma cancer hospital that applies the Healing Environment approach to enhance the quality of life for patients, creating a calm, comfortable environment that supports the healing process. The research methods used include literature study and patient needs analysis, gathering data on patients related to carcinoma cancer from the previous five years, and estimating the future number of hospital users. The result of this study is the creation of a hospital design that integrates elements of Healing Environment, such as interior and exterior gardens, natural lighting, and technology that supports the healing and treatment process. This research is expected to improve the quality of life for patients, provide adequate treatment facilities, and serve as a model for other hospitals in implementing the Healing Environment approach. Keyworsds: Cancer Hospital, Healing Environment, Cancer Carcinoma, Makassar City.  
Penerapan Prinsip Arsitektur Ekologi pada Perancangan Pusat Rehabilitasi Narkoba di Kabupaten Bulukumba Achriyanto Syam, M. Fitrah; Yusri, Andi; Paddiyatu, Nurhikmah; Amal, Citra Amalia; Idrus, Irnawaty; Rohana; Syam, M. Fitrah
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/3m616f73

Abstract

ABSTRAKPendekatan arsitektur ekologis dipilih karena mampu menciptakan lingkungan binaan yang sehat, berkelanjutan, dan mendukung proses penyembuhan pengguna (NAPZA). Lingkungan fisik yang nyaman dan alami diyakini dapat memberikan pengaruh positif terhadap kondisi psikologis dan emosional pasien rehabilitasi. Penataan massa bangunan dirancang menyatu dengan kontur dan kondisi alam sekitar untuk meminimalkan kerusakan lingkungan. Ruang terbuka hijau dimanfaatkan sebagai area terapi luar ruang yang mendukung aktivitas refleksi dan pemulihan mental. Konsep sirkulasi udara alami diterapkan untuk menciptakan kualitas udara dalam ruang yang lebih baik dan menyehatkan. Selain itu, desain bangunan memperhatikan orientasi matahari untuk mengurangi konsumsi energi buatan. Fasilitas pendukung seperti ruang konseling, ruang ibadah, dan area kegiatan dirancang dengan suasana yang tenang dan privat.. Dengan pendekatan ini, pusat rehabilitasi diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemulihan fisik, tetapi juga sebagai sarana pembinaan mental dan spiritual. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan fasilitas rehabilitasi berbasis arsitektur berkelanjutan di Indonesia.Kata Kunci: Arsitektur Ekologi, Pusat Rehabilitasi, Narkoba, Lingkungan Sosial, Kabupaten Bulukumba. ABSTRACTThe Ecological Architecture approach was chosen because it can create a healthy, sustainable built environment that supports the healing process of drug users (NAPZA). A comfortable and natural physical environment is believed to have a positive influence on the psychological and emotional state of rehabilitation patients. The building's massing is designed to blend with the contours and natural conditions of the surrounding area to minimize environmental damage. Green open spaces are utilized as outdoor therapy areas that support reflection and mental recovery activities. The concept of natural air circulation is implemented to create better and healthier indoor air quality. Furthermore, the building design takes into account solar orientation to reduce artificial energy consumption. Supporting facilities such as counseling rooms, prayer rooms, and activity areas are designed to create a calm and private atmosphere. The use of water and vegetation elements also function as therapeutic elements that enhance visual and psychological comfort. With this approach, the rehabilitation center is expected to function not only as a place for physical recovery, but also as a means of mental and spiritual development. The results of this design are expected to see.Keywords: Ecological Architecture, Rehabilitation Center, Drugs, Social Environment, Bulukumba Regency.
Co-Authors A. Amin, Siti Fuadillah A. Annisa Amalia A. Syahriyunita Syahruddin A. Syahriyunita Syahruddin A., Siti Fadillah A.Annisa Amalia A.Syahriyunita Syahruddin Aan Kunaifi Abdulah, Ashari Abdullah, Ashari Achriyanto Syam, M. Fitrah Ahcmad Ikhsans Syarifuddin Ahmad Fadli Ahmad, Andi Firman Ahmad, Imelda Aisyah Ayu Andira Alkatiri Aldi Setiawan, Aldi Aldi, Muhammad Alhumairah Amin, Siti Alhumairah Alhumairah, Siti Fuadillah Alim Amri, Nur Amalia, A. Annisa Amalia, A.Annisa Amalia, Andi Annisa Amalia, Andi Annisa Amelia, Yuyun Amin, Siti Faudillah Alhumairah Amir, Amrin Amrin Amir Andi Annisa Amalia Andi Annisa Amalia Andi Annisa Amalia Andi Fitriyah Azsahrah Andi Syahriyunita Andi Syahriyunita Syahruddin andi Yusri Aris Sakkar Aris Sakkar Dollah Ashari Abdulah Ashari Abdullah Asnaeni AM, Sitti Asriati AM, St Ayuda, Andi Rezky Azhar, Alif Azman, Andi Baharsin, Syamsir Aman Cinta Dwi Andayu Dapubeang, Awaludin Darwis, Nur Wahyuni Dollah, Aris Sakkar FAJAR, RIFKI SURYA Fardi Fardi Fardi, Fardi Fitrawan Umar Fuadillah A. Amin, Siti Hamid, Hamza Hamid, Hamzah Hamzah Yunus Hasra, Mila Karmila Hilal, Saiful Huddin, Misba Idrus, Irnawaty Imelda Ahmad Irwandi Irwandi Irwandi Irwandi Ismail Ibrahim Jumardin M Kadir, Sania Ramadhani Khilda Wildana Nur Khilda Wildana Nur Kunaifi, Aan Kurnianto, Ucok Latif, Sahabbuddin M muhajerin M, Jumardin Mansyur, Taufik Muh. Arif Muh. Arif Muh. Ilmiansah Muh. Rizal Syahdan muhajerin, M Muhamad Ilham Pasiori, Ilham Muhammad Abduh Muhammad Aldi, Muhammad Muhammad Rifai Saputra Muhammad Syarif Muhammad Syarif, Muhammad Mursyid Mustafa Musiin, Windi Putri Mustafa, Mursyid Mutiah, Uryun Nabilah Arbia nana, Rohana Nengsih, Anni Syahrilia Nini Apriani Rumata Nur Alim Amri Nur Hikmah Paddiyatu Nur Wahyuni Darwis NUR, KHILDA WILDANA Nur, Khilda Wildana Nurawal, Muhammad Alfacmy Nurhikmah Paddiyatu Nurkhafifah Nurkhafifah Nurkhafifah, Nurkhafifah Nurleha Syam Paddiyatu, Nurhikmah Rahmat Hidayat rahmat ramadan Ramadan, Rahmat Ramadhan, Moh. Faried Rapi, Adam Rasmawarni Rasmawarni Rasmawarni, Rasmawarni Rifai Saputra, Muhammad Rifaldi Rifaldi, Rifaldi RIFKI SURYA FAJAR Rohana ROHANA ROHANA Rohana Rohana Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi S. Kuba, Muhammad Syafa'at Sahabbuddin Latif Sahabuddin Latif Saiful Hilal Sakkar, Aris Salmiah Zainuddin Sari, Nirma Mawar Sawerigading, Andi Adam Siti Fadillah A. Sitti Asnaeni Sri Andayaningsih St Asriati Supardi Jaya Tammeng Syahdan, Muh. Rizal Syahriyunita, Andi Syahruddin, A. Syahriyunita Syahruddin, A.Syahriyunita Syahruddin, Andi Syahriyunita Syam syam Syam, M. Fitrah Syam, Nurleha syam, Syam Syarifuddin, Ahcmad Ikhsans Tammeng, Supardi Jaya taufik, opi Umar, Fitrawan Wildana Nur, Khilda Wiwi Herawati Wiwik Wahidah Osman Wiwik Wahidah Osman Wiwik Wahidah Osman Yunus, Hamzah Yusri, Andi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Zainuddin, Salmiah