Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTITAS NASIONAL ANAK PEKERJA MIGRAN DI SB PPWNI KLANG SELANGOR, MALAYSIA, INDONESIA, BUGIS ? Anjani, Mutia; Yulianie, Putri; Karliani, Eli; Triyani , Triyani; Cionita , Tezara
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i1.4570

Abstract

This study aims to understand the formation of national identity of children of Indonesian migrant workers at the Learning Center of the Representative of the Indonesian Citizens' Movement (PPWNI) Klang, Selangor, Malaysia. The research method used is descriptive qualitative, which focuses on in-depth description and interpretation of social phenomena, as well as understanding the experiences and views of the research subjects. The subjects of this study were grade III students at the PPWNI Klang Learning Center. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation studies. The results of the study indicate that the national identity of children of Indonesian migrant workers at the PPWNI Klang guidance center tends to lead to primary identity, without ignoring secondary identity. This primary identity is manifested in pride in their ethnic origin (Bugis) and the use of the Bugis language in everyday life. Nevertheless, these children of migrant workers still show a sense of nationalism and love for the Indonesian homeland, for example by displaying the Indonesian flag juxtaposed with the Malaysian flag. This study also identifies factors that influence the formation of national identity of these children of migrant workers, amidst the complexity of the problems of their parents' residency status in Malaysia. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memahami pembentukan identitas nasional anak pekerja migran Indonesia di Sanggar Belajar Perwakilan Pergerakan Warga Negara Indonesia (PPWNI) Klang, Selangor, Malaysia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang berfokus pada pendeskripsian dan interpretasi mendalam mengenai fenomena sosial, serta pemahaman tentang pengalaman dan pandangan subjek penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III di Sanggar Belajar PPWNI Klang. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas nasional anak pekerja migran Indonesia di sanggar bimbingan PPWNI Klang cenderung mengarah pada identitas primer, tanpa mengesampingkan identitas sekunder. Identitas primer ini termanifestasi dalam kebanggaan terhadap suku asal (Bugis) dan penggunaan bahasa Bugis dalam keseharian. Meskipun demikian, anak-anak pekerja migran ini tetap menunjukkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia, misalnya melalui pemasangan bendera Indonesia yang disandingkan dengan bendera Malaysia. Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan identitas nasional anak-anak pekerja migran tersebut, di tengah kompleksitas permasalahan status kependudukan orang tua mereka di Malaysia.
Strategi Komunikasi Politik Partai Gerindra Di Kota Palangka Raya Dalam Pemilu 2024 Dan Pilkada 2025 Rahman , Abdul; Pransiska, Anita; R Siagian, Enika; Fernanda Fajeri, Mochammad; Salsabila; Sunarno, Ali; Karliani, Eli
Wacana: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Interdisiplin Vol. 12 No. 1 (2025): Wacana: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Interdisiplin
Publisher : Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Palanfka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/wacana.v12i1.21416

Abstract

This study aims to examine the Gerindra Party's political communication strategy in conveying its political message to the people of Palangka Raya in the 2024 General Election and the 2025 Regional Election. Through interviews with party cadres, this study found that Gerindra's political communication in Palangka Raya relies heavily on two main aspects: the use of social media and direct meetings. Social media was chosen because of its efficiency in reaching a wider audience, especially young voters, while direct meetings were emphasized more to reach community groups in areas that are not yet fully accessible by the internet. The Gerindra Party also faces challenges in dealing with hoaxes and inaccurate information and adapting to differences in communication at the central and regional levels. These findings are expected to provide insight into political communication strategies in more effective campaigns in the future.
HABITUASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI SMK Kurniawan, Dony; Karliani, Eli; Ikbal, Asep
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5366

Abstract

This study aims to determine how the habituation of Pancasila values in the learning process and the school environment at SMK YPSEI Palangka Raya in shaping student character. The method used in this research is descriptive research with a qualitative approach. The data collection techniques used by the author in this research are observation, interview and documentation. The results of this study indicate that the habituation of Pancasila values such as in the Learning Process which uses lecture and discussion methods, in-depth questions and answers, group discussions and project methods, as well as strategies used experiential learning, social service activities and authentic assessment. There are two approaches in character building to strengthen the habituation of Pancasila values, namely by giving rewards and punishments. Student Literacy Movement (GLS) which is carried out every morning, Art Activities on Thursdays, Spirituality on Fridays, and Discipline during the learning process. Habituation can change attitudes, both in terms of discipline, activeness, and respect for friends and teachers. The habituation process that is carried out consistently is able to shape the character of students who are more responsible and independent. Students become more disciplined in attending on time, following instructions well, and showing an empathic attitude in their social environment. Obstacles in instilling Pancasila values such as parental factors, student environment, and economic conditions. The learning process cannot be separated from the obstacles in the habituation of Pancasila values such as students who are engrossed in their own world because Civics subjects are often scheduled in the final hours. Distraction from cellphones also has an effect, making students unfocused in participating in learning. Differences in the learning process and the inconsistency of teachers in instilling Pancasila values can hinder the habituation of Pancasila values to students. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana habituasi nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran serta lingkungan sekolah di SMK YPSEI Palangka Raya dalam membentuk karakter siswa. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa habituasi nilai-nilai Pancasila seperti pada Proses Pembelajaran yang menggunakan metode ceramah dan diskusi, tanya jawab mendalam, diskusi kelompok dan metode projek, serta strategi yang digunakan berbasis pengalaman (experiential learning), kegiatan bakti sosial dan penilaian autentik. Terdapat dua pendekatan dalam pembentukan karakter untuk memperkuat habituasi nilai-nilai Pancasila yaitu dengan pemberian reward dan punishment. Gerakan Literasi Siswa (GLS) yang dilakukan setiap pagi, Kegiatan Kesenian pada hari kamis, Kerohanian pada hari jumat, dan Kedisiplinan saat proses pembelajaran. Habituasi dapat merubah sikap, baik dalam hal kedisiplinan, keaktifan, maupun rasa hormat terhadap teman dan guru. Proses habituasi yang dilakukan secara konsisten mampu membentuk karakter siswa yang lebih bertanggung jawab dan mandiri. Siswa menjadi lebih disiplin hadir tepat waktu, mengikuti instruksi dengan baik, serta menunjukkan sikap empatik dalam lingkungan sosialnya. Kendala dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila seperti faktor orang tua, lingkungan siswa, dan keadaan ekonomi. Proses pembelajaran tak lepas terjadi kendala dalam habituasi nilai-nilai Pancasila seperti siswa yang asyik dengan dunianya sendiri karena mata pelajaran PPKn sering dijadwalkan pada jam-jam akhir. Distraksi terhadap handphone turut berpengaruh sehingga membuat siswa tidak focus dalam mengikuti pembelajaran. Perbedaan dalam proses pembelajaran dan tidak konsistennya guru dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila dapat menghambat habituasi nilai-nilai Pancasila kepada siswa
Interest of The Young Generation of Central Kalimantan Towards Educational Games Misnawati Misnawati; Triyani Triyani; Maryam Mustika; Eli Karliani; Dony Kurniawan; Muh. Safwan
Proceeding of the International Conference on Social Sciences and Humanities Innovation Vol. 1 No. 1 (2024): June : Proceeding of the International Conference on Social Sciences and Humani
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70062/icsshi.v1i1.15

Abstract

This study aims to analyze the interest of the young generation in Central Kalimantan in educational games and how this potential can be maximized to create a positive impact on education. Using a qualitative descriptive method to explore the interest of the young generation in Central Kalimantan in educational games. Data was collected through a survey conducted on the young generation of Central Kalimantan aged 12 to 20 years old, totaling 437 respondents. The survey results show that educational games have a significant appeal among the younger generation of Central Kalimantan, mainly because of the fun challenges and relevant learning content. Although most respondents have tried educational games in the form of quizzes, the intensity of their use is still inferior to action/adventure games that are more popular. Elements such as graphics, engaging stories, and interactive gameplay are also important factors in enhancing the gaming experience. To increase its appeal and effectiveness, developers are advised to integrate entertainment elements such as interactive challenges, in-depth stories, and stunning visual designs to make it more competitive. By combining education and entertainment creatively, educational games have the potential to become an effective learning medium and the main choice of the younger generation.
Pengembangan Modul Ajar Pada Materi Penerapan Nilai-nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari Di Kelas X SMA Negeri 2 Palangka Raya Lion Nanda Murya Sallom; Karliani, Eli; Ikbal, Asep
Jurnal Penelitian UPR Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Penelitian UPR: Kaharati
Publisher : LPPM Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpt-upr.v5i2.21011

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil validasi terhadap modul ajar pada materi penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan dengan model pengembangan ADDIE. Model ADDIE memiliki lima tahapan yaitu tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Model ADDIE yang digunakan peneliti dalam proses pengembangan modul ajar hanya sampai tahap development (pengembangan) yang bertujuan menghasilkan produk yang dikembangkan berdasarkan hasil validasi. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Palangka Raya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan penilaian lembar validasi dosen ahli dan lembar validasi guru PPKn. Hasil analisis penilaian validasi isi menunjukkan persentase rata-rata 74% dengan kriteria valid sehingga modul ajar dinyatakan valid. Hasil analisis penilaian validasi guru PPKn terhadap modul ajar menunjukkan persentase rata-rata 82% dengan kriteria sangat layak, modul ajar yang dikembangkan dinyatakan valid.
PENDEKATAN PEMBELAJARAN SOMATIC AUDITORY VISUAL INTELEGENCY (SAVI) DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO PADA MATERI DINAMIKA PENERAPAN PANCASILA DARI MASA KE MASA DI KELAS IX Lana, Davi; Karliani, Eli; Dotrimensi
Jurnal Paris Langkis Vol 1 No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.573 KB) | DOI: 10.37304/paris.v1i2.2284

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk media pembelajaran berbentuk video pada mata pelajaran PPkn pada materi dinamika penerapan pancasila dari masa ke masa. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatam SAVI adalah pendekatan ini dapat diterapkan dalam pembelajaran yang ada dikelas dan merupakan suatu alternatif dalam meningkatkan pemahaman dan kreativitas siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) . Hasil dari penelitian ini adalah. 1) Langkah – langkah pengembangan media video dengan SAVI pada materi Dinamika Penerapan Pancasila Dari Masa Ke Masa. a) tahap pengumpulan informasi, yakni : Studi literatur, studi pustaka dan kisi-kisi instrument pengumpulan data b) tahap perencanaan, yakni : membuat scrip, registrasi powton,editing animasi,voice over, filmora, penggabungan video animasi dan export. c) tahap pengembangan, yakni : story board dan layout. d) tahap validasi. Yakni : Ahli materi dan Ahli media. 2) Hasil Uji Kelayakan Media Video Dengan SAVI Pada Materi Dinamika Penerapan Pancasila Dari Masa Ke Masa. a) validasi ahli materi dan ahli media, dapat diketahui hasil validasi ahli materi sebesar 3,75 dan jika dikonversikan ke dalam bentuk persentase adalah sebesar 75%, b) hasil validasi ahli media sebesar 3,87 , dan jika dikonversikan ke dalam bentuk persentase adalah sebesar 88%. Pendekatan SAVI berpangkal pada empat komponen yaitu Somatic, Audiotory, Visual, Intelegency. Somatic mengutamakan aspek jasmaniah, audiotory pada segi pemanfaatan suara (audio), visual pada penggunaan media video atau lainnya yang dapat dilihat, sedangkan intelegency penekanan pada kegiatan berpikir untuk memecahkan masalah.
ETIKA DALAM PEMANFAATAN KECERDASAN BUATAN DI KELAS IX SMP Ikhsan, Ibnu; Artasoma, Putu; Karliani, Eli; Sunarno, Ali
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i1.4518

Abstract

The aim of this study is to analyze the impact of artificial intelligence (AI) usage on student learning behavior and academic integrity at SMP Negeri 8 Palangka Raya. This research employs a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observations and structured interviews. Observations were made to understand how students use AI to complete tasks and the role of teachers in guiding ethical technology use. The findings show that AI facilitates task completion, but its misuse may undermine academic honesty and students' critical thinking skills. Teachers play a crucial role in teaching the ethics of technology use and maintaining academic integrity. One effective method found is asking students to explain their work and cross-check it with AI platforms to detect plagiarism. Research recommendations include improving digital ethics education for students and teachers, establishing clear policies on AI use in learning, and providing training for teachers. Future research is recommended to examine the long-term effects of AI on student development. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak penggunaan kecerdasan buatan terhadap perilaku belajar dan integritas akademik siswa di SMP Negeri 8 Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara terstruktur. Observasi dilakukan untuk memahami bagaimana kecerdasan buatan digunakan siswa dalam menyelesaikan tugas, serta peran guru dalam mengarahkan penggunaan teknologi secara etis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecerdasan buatan mempermudah penyelesaian tugas, namun penggunaannya yang tidak bijak berpotensi menurunkan kejujuran akademik dan kemampuan berpikir kritis siswa. Guru berperan penting dalam mengajarkan etika penggunaan teknologi dan menjaga integritas akademik. Salah satu metode efektif yang ditemukan adalah meminta siswa menjelaskan kembali tulisan mereka dan mencocokkannya dengan platform kecerdasan buatan untuk mendeteksi plagiarisme. Rekomendasi penelitian mencakup peningkatan pendidikan etika digital bagi siswa dan guru, penyusunan kebijakan penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, serta pelatihan bagi guru. Peneliti lanjutan disarankan untuk mengkaji dampak jangka panjang kecerdasan buatan pada perkembangan siswa.
Pengenalan Konsep Green Economy Education Melalui Pemanfaatan Tanaman Purun Sebagai Media Edukasi di SMK Negeri 4 Palangka Raya Eriawaty, Eriawaty; Rakhmawati, Dewi; Karliani, Eli; Sunarno, Ali; Manalu, Rifan Andika; Sinaga, William Joshua
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jompaabdi.v4i3.1900

Abstract

Krisis lingkungan global seperti perubahan iklim, degradasi sumber daya alam, dan peningkatan volume limbah menuntut penerapan prinsip ekonomi hijau (green economy) dalam pembangunan. Pendidikan menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai keberlanjutan sejak dini, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang akan terjun ke dunia kerja maupun wirausaha. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi ekonomi berkelanjutan pada siswa SMK Negeri 4 Palangka Raya melalui pelatihan interaktif berbasis konsep green economy. Metode yang digunakan meliputi pemaparan materi, simulasi studi kasus, diskusi kelompok, praktik pembuatan produk ramah lingkungan, serta evaluasi melalui post-test. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan IKM Jawet Pahari Hapakat sebagai narasumber dan diikuti oleh 28 siswa. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terkait konsep green economy serta tumbuhnya kesadaran akan pentingnya penerapan prinsip ramah lingkungan dalam aktivitas ekonomi. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi dalam membekali siswa keterampilan dan sikap berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan masa depan.
EKSPLORASI KEKAYAAN KULINER MASYARAKAT SUKU DAYAK NGAJU DI DESA MANDOMAI KALIMANTAN TENGAH Septo Septo; Lala Aprilia Wulandari; Caroline Yunita Tiwo; Eri Yanti; Eli Karliani; Tryani Tryani
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1729

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural, agama maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Kebudayaan yang biasa menjadi perhatian masyarakat adalah kebuadayaan makanan suatu daerah. Makanan seperti yang kita tahu merupakan suatu kebutuhan utama bagi manusia. Selain sebagai sumber energi dan tenaga, makanan juga memiliki makna dan nilai budaya tersendiri. Sistem Kuliner atau makanan khas dari setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari tiap daerah begitu pula di daerah Kalimantan Tengah. Hal inilah yang membuat makanan kami mangangkat Eksplorasi Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah. Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui apa saja ragam  kekayaan kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju di Desa Mandomai Kalimantan Tengah. Sebagai syarat menyelesaikan mata kuliah Seminar PPKn. Untuk mengetahui bagaimana upaya masyarakat dalam mempertahankan Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, untuk di presentasikan dan diseminarkan. Kegiatan observasi kami laksanakan di daerah yang kami tentukan, untuk mewawancarai narasumber serta mengali informasi tentang rasa Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju di Desa Mandomai Kalimantan Tengah di daerah tersebut. Kalimantan Tengah merupakan Provinsi terbesar kedua setelah Papua, yang didominasi oleh penduduk Dayak, Jawa dan juga Banjar. Selain memiliki potensi alam yang indah, yang bisa dijadikan destinasi wisata, Kalimantan Tengah juga memiliki potensi wisata kuliner yang bisa dikenalkan hingga pelosok dunia. Berikut adalah beberapa daftar makanan khas Kalimantan Tengah: juhu umbut sawit, Kalumpe/kaluang, wadi, juhu taya, juhu umbut rotan, keripik kelakai, lemang, kue gagatas, dan masih banyak masakan atau ragam kuliner di daerah Kalimantan Tengah, yang masih dipertahankan dan masak dari dulu sampai sekarang ini.Kata Kunci: Kuliner Dayak Ngaju, Masakan Tradisional Kalimantan Tengah, Kuliner Masyarakat Dayak Ngaju, Desa Mandomai AbstractIndonesia is one of the largest multicultural countries in the world. This can be seen from the socio-cultural, religious and geographical conditions that are so diverse and broad. Currently, the number of islands in the territory of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) is around 13,000 large and small islands. Its population is more than 200 million people, consisting of 300 tribes who speak almost 200 different languages. The culture that usually gets people's attention is the food culture of an area. Food as we know it is a basic need for humans. Apart from being a source of energy and energy, food also has its own cultural meaning and value. Culinary system or typical food from each region has its own uniqueness that is different from each region as well as in the Central Kalimantan area. This is what makes our food promote the Exploration of Culinary Wealth of the Central Kalimantan Dayak Tribe. The purpose of this study is to find out what are the various culinary riches of the Ngaju Dayak Tribe in Mandomai Village, Central Kalimantan. As a condition for completing the Civics Seminar course. To find out how the community's efforts in maintaining the Culinary Wealth of the Ngaju Dayak Tribe, Central Kalimantan. This research activity was carried out for 1 month, for presentation and seminars. Our observation activities were carried out in the areas that we determined, to interview sources and gather information about the taste of the Culinary Wealth of the Ngaju Dayak Tribe in Mandomai Village, Central Kalimantan in the area. Central Kalimantan is the second largest province after Papua, which is dominated by the Dayak, Javanese and Banjar people. Besides having beautiful natural potential, which can be used as a tourist destination, Central Kalimantan also has the potential for culinary tourism that can be introduced to all corners of the world. The following is a list of typical Central Kalimantan foods: palm umbut juhu, Kalumpe/kaluang, wadi, juhu taya, rattan umbut juhu, kalakai chips, lemang, gagatas cake, and many other dishes or culinary varieties in the Central Kalimantan area, which are still preserved and preserved. cook from the past until now.Keywords: Ngaju Dayak Culinary, Central Kalimantan Traditional Cuisine, Culinary of the Ngaju Dayak Community, Mandomai Village
EKSPLORASI KEKAYAAN SENI DAYAK NGAJU DI DESA TUMBANG MANGGU KABUPATEN KATINGAN Pepe Rusmitha Agel; Nur Khasanah; Muslimah Muslimah; Hernes Demar Wulan; Eli Karliani; Tryani Tryani
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1732

Abstract

Abstrak Suku Dayak Ngaju memiliki kekayaan dalam hal kesenian. Suatu ciri yang dijumpai dalam kebudayaan Dayak Ngaju adalah kemampuan menyerap kebudayaan dari luar. Bahkan proses perpaduan dan pembauran kebudayaan tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak dapat disangkal bahwa ada juga kelompok - kelompok dari orang Dayak Ngaju yang meninggalkan kebudayaannya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui macam - macam kesenian yang terdapat di Desa Tumbang Manggu, bagaimana kesenian tersebut dibuat dan apa saja manfaat serta kegunaannya, upaya apa saja yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tumbang Manggu untuk tetap menjaga kesenian tersebut agar tidak hilang seiring zaman. Pendekatan yang digunakan dalam penelian ini adalah kualitatif deskriftif dan metode yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa  Suku Dayak Ngaju yang ada di Desa Tumbang Manggu Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah, memiliki kesenian yang beragam. Mulai dari kesenian tari, musik, menganyam, memahat dan melukis. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi yang semakin canggih nilai-nilai kesenian daerah mulai pudar dan perlahan hilang. Untuk mencegah hal itu terjadi masyarakat Desa Tumbang Manggu membentuk sebuah sanggar dan memperkenalkan kesenian daerah kepada pelajar yang ada di daerah tersebut, agar kesenian tidak dilupakan oleh generasi penerus dan ada hingga masa yang akan datang. Dari sanggar yg didirikan ini lah para pelajar mempelajari kesenian tari, musik, meganyam, memahat dan melukis serta memperkenalkan kepada masyarakat luas dengan cara mengikuti lomba-lomba yang ada. Kata kunci :Kesenian; Adat Istiadat Dayak; Suku Dayak Ngaju; Desa Tumbang Manggu AbstractThe Ngaju Dayak tribe has a wealth of art. A characteristic found in the Ngaju Dayak culture is the ability to absorb culture from outside. In fact, the process of cultural integration and assimilation is carried out in such a way that it cannot be denied that there are also groups of Ngaju Dayak people who have left their own culture.This study aims to find out the various arts found in Tumbang Manggu Village, how the art is made and what are the benefits and uses, what efforts are made by the people of Tumbang Manggu Village to keep the art from being lost over time. The approach used in this research is descriptive qualitative and the methods used are interviews, documentation and observation. The results of this study indicate that the Ngaju Dayak tribe in Tumbang Manggu Village, Sanaman Mantikei District, Katingan Regency, Central Kalimantan, has a variety of arts. Starting from the arts of dance, music, weaving, sculpting and painting. Along with the development of the times and increasingly sophisticated technology, the values of regional art began to fade and slowly disappear. To prevent this from happening, the people of Tumbang Manggu Village formed a studio and introduced local arts to students in the area, so that the arts were not forgotten by the next generation and existed for the future. From the studio that was established, the students learned the arts of dance, music, weaving, sculpting and painting and introduced them to the wider community by participating in existing competitions.Keywords: Art; Dayak Customs; Ngaju Dayak Tribe; Fallen Manggu Village
Co-Authors Abda Abda Abdul Azis Abustan Agel, Pepe Rusmitha Ahmad Saefulloh Ahmad Satria Ali Sunarno Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Anderini, Ninin Andi Kristanto Anggun Anggraini Anjani, Mutia Artasoma, Putu Asmina Bualiku Caroline Yunita Tiwo Cionita , Tezara Cionita, Tezara Cyndi Natalya Hutagalung Davi Lana DONY KURNIAWAN Dotrimensi Dotrimensi . Dotrimensi, Dotrimensi Eddy Lion Eri Yanti Eri Yanti Eriawati Eriawati Eriawaty, Eriawaty Ermi Maria Sihombing Ernawati Simatupang Eva Diana Sari Fenroy Yedithia Feri Wagiono Fernanda Fajeri, Mochammad Firman Firman Fiteli Waruwu Gunawan, Vincentius Abdi Hariatama, Fendy Hernes Demar Wulan I Putu Windu Mertha Sujana Ikbal, Asep Ikhsan, Ibnu Indrawati, Lala Isnaini Isnaini Jayadi, Karta Josep Harianja Kurniawan, Dony Laila Rahmawati Lala Aprilia Wulandari Lana, Davi Lina Sari Lion Nanda Murya Sallom Lion, Eddy Manalu, Rifan Andika Maryam Mustika Maryam Mustika Misnawati Misnawati Muh. Safwan Muslimah Muslimah Muslimah Muslimah Musthafa, Ahmad Irfan Mustika, Maryam Nor Khadijah Nur Hapipah Nur Khasanah Offeny Offeny Ibrahim Offeny Offeny Pepe Rusmitha Agel Pernandes, Pernandes Pransiska, Anita Prini Desima Evawani Ambarita Putra, Leonardus Sandy Ade R Siagian, Enika Rahman , Abdul Ramadhani, Akbar Renold Aprilando Simamora Rinto Alexandro Sakman Salsabila Sangalang, Ronald Hadibowo Santy Permata Sary Sihombing Sekar Dwianti Septo Septo Septo, Septo Sigit Dwi Laksana Sihotang, Sesilia Stefania Sinaga, William Joshua Suhaeb, Firdaus W Suryadi Suryadi Sutrisno Syahrul Tardimanto, Yuyuk Tiwo, Caroline Yunita Triyani Triyani , Triyani Triyani Triyani Triyani Triyani Triyani, Triyani Tryani Tryani Tryani, Tryani Uda, Tonich vera anggraini, vera Widya Karmila Sari Achmad Wina Anjelina Wulan, Hernes Demar Wulandari, Lala Aprilia Yayuk Hidayah Yetrie Ludang Yetwirani Lampe Yetwirani Lampe Yoggi, Yoggi Yulianie, Putri Yuyuk Tardimanto