Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PENENTUAN POSISI JARING KONTROL HORIZONTAL DARI SISTEM TETAP (DGN-95) KE SRGI (Studi Kasus : Sulawesi Barat) Amirul Hajri; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.217 KB)

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan UU No 4 tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, BIG (Badan Informasi Geospasial) sebagai salah satu instansi pemerintah memiliki tugas untuk menyediakan Titik Kontrol Geodesi. Sebelum BIG menetapkan SRGI sebagai datum referensi, Indonesia telah menggunakan Datum Geodesi Nasional 1995. Perubahan penggunaan datum ini juga berpengaruh pada penentuan posisi di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian pada Titik Jaring Kontrol Horizontal agar mengetahui perbedaan koordinat dalam sistem tetap (DGN-95) dan SRGI 2013 serta mendapatkan tujuh parameter yang di gunakan dalam transformasi koordinat.Penelitian ini menggunakan 12 data pengamatan Jaring Kontrol Horizontal di Sulawesi Barat pada tahun 2015. Titik ikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 stasiun IGS dan 8 stasiun CORS Indonesia. Pengolahan data menggunakan software GAMIT 10.6. Perhitungan velocity rate dan model deformasi menandakan perubahan nilai koordinat terhadap fungsi waktu. Dengan menggunakan metode tersebut, didapat koordinat secara SRGI 2013.Penelitian ini menghasilkan nilai koordinat dalam sistem tetap DGN-95, SRGI 2013 dan menghasilkan velocity rate pada masing-masing titik pengamatan. Estimasi solusi parameter transformasi dari DGN-95 ke SRGI terbaik yang diperoleh di dalam penelitian ini ialah : Tx = -0.0918, Ty =  0.0098, Tz  = -0.0195, λ = 0.999999989, k = 1.19326 x 10-08, θ = -3.72529 x 10-07, ω = -5.58794 x 10-09. Kata Kunci : DGN-95, SRGI 2013, GAMIT, Velocity Rate, Model Deformasi.ABSTRACTBased on law No. 4 of the year 2011 about Geospatial Information, BIG (Geospatial Information Agency) as one of the government agencies have a duty to provide geodetic control points. Before BIG set the SRGI as datum reference for Indonesia, Indonesia has used the National Geodetic Datum 1995. Change of use of the datum it is also influential on the determination of positions in Indonesia. Based on the foregoing it is necessary of a measurement as well as research at point Horizontal Control Network in order to find out how big a difference a coordinate obtained by using the processing system in DGN-95 and SRGI 2013 as well as getting seven parameters that are used in the transformation of coordinates.This research using 12 observation data horizontal control network in West Sulawesi in 2015. The point IGS used are 20 IGS stations and 8 CORS stations Indonesia. Data processing using software GAMIT 10.6. Velocity rate calculation and deformation models signifies change the coordinate value on the function of time. By using such methods, the obtained coordinates SRGI 2013.This research resulted in the value of coordinate statik system DGN-95, SRGI2013 and generate great velocity rate at each point of observation. Estimates solution best transformation parameters from DGN-95 to SRGI obtained in this study are: Tx = -0.0918, Ty =  0.0098, Tz  = -0.0195, λ = 0.999999989, k = 1.19326 x 10-08, θ = -3.72529 x 10-07, ω = -5.58794 x 10-09. Keywords : DGN-95, SRGI 2013, GAMIT, Velocity Rate, Deformation Model.
Pembuatan Peta Potensi Curah Hujan Dengan Menggunakan Citra Satelit Mtsat Di Pulau Jawa Dian Ika Aryani; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.756 KB)

Abstract

Rain that occurs anytime make rainfall information become needed. Rainfall information is one of the important information and needed by almost all fields. Moreover for Java isle, the most populous isle in Indonesia, and with all sorts of activities .     This study aims to make rainfall information in rainfall maps by utilizing geostationary meteorological satellite’s data, MTSAT-1R. The making of rainfall map created by the brightness temperature values is recorded in the infrared channel-1 (IR1) on MTSAT satellite imagery. MTSAT image data used starting on May 1, 2013 until August 31, 2013 as many as 2.931 data set.     Research methods include 1) conversing PGM data format to ERS one, 2) correcting geometric or doing registration on coordinate system, 3) incorporating data in every hour into daily, 4) converting digital value number to brightness temperature values, 5) grouping brightness temperatures values into rainfall classification, 6) layouting rainfall map using ArcGIS, 7) making rainfall map animations, and 8) making the websites     Results obtained in the form of rainfall map. To support the cloud movements and see the potential rainfall area, this study also create animated rainfall maps. Then, the results of rainfall maps are displayed on a website so public can utilize them.Keywords : Map, rainfall, Brightness temperature, MTSAT-1R, Website
DETEKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINEAR SPECTRAL MIXTURE ANALYSIS PADA CITRA LANDSAT 7 TAHUN 2002 DAN CITRA LANDSAT 8 TAHUN 2013 (Studi Kasus:Klaten, Jawa Tengah) Raditya Wahyu Utomo; Bandi Sasmito; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.781 KB)

Abstract

ABSTRAK Tutupan lahan memiliki informasi yang sangat penting dan signifikan dalam pembuatan suatu informasi secara tematik, yang akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam  pengambilan suatu keputusan secara berlanjut. Dalam hal ini penginderaan jauh dapat digunakan untuk memperoleh informasi tersebut. Informasi tentang tutupan lahan dapat diperoleh secara baik, dari nilai piksel masing-masing obyek.Namun dalam kenyataanya sering didapati adanya piksel campuran, dengan menggunakan metode Linear Spectral Mixture Analysis dapat diperoleh informasi hingga tingkat subpiksel. Piksel campuran yang ada dapat diatasi menggunakan metode pemisahan linier dengan menggunakan data Citra Landsat 7 ETM+ dan Citra Landsat 8. Sehingga dapat dilakukan klasifikasi dan penentuan piksel murni masing-masing tutupan lahan.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah fraksi endmember tutupan lahan dan luas tiap masing-masing tutupan lahan. Dimana dapat dideteksi perubahan peningkatan luas tutupan lahan rawa sebesar 12,870 Ha, pemukiman sebesar 16.324,167 Ha dan sawah irigasi sebesar 9.687,786 Ha. Sedangkan penurunan luas terjadi pada tutupan lahan kebun sebesar 5.246,172 Ha, tegalan sebesar 15.260,363 Ha dan sawah tadah hujan sebesar 5.518,290.Kata Kunci :Endmember, Linear Spectral Mixture Analysis, Tutupan lahan  ABSTRACT Land cover has significant and important information for making thematic information, which will serve as a material consideration in making a decision. In this remote sensing can be used to obtain the information. Land cover information can be obtained,  from each pixel value object.But in fact often there was pixels a mixture, by using the method linear spectral mixture analysis can be obtained information untill the level of subpixels. The mixing pixel can be overcome using linear separation method by using a data image of Landsat 7 ETM + and Landsat Imagery 8. So that it can be done pure pixel determination and classification of each land cover.The results from this research is endmember fraction of land cover and area of each land cover respectively. Where detectable changes in land cover a broad increase in the swamp of 12,870 Ha, settlement of 16.324 .167 Ha irrigated rice paddiesand amounted to 11,099,786 Ha. While the broad decline occurred in land coverage of the gardens of 5,393,172 Ha, moor of 15.260 206,439 Ha of rice field and rainwater of 5.518 3,945.Keywords :Endmember, Land Cover, Linear Spectral Mixture Analysis  *) Penulis, Penanggung jawab
ANALISIS PERBANDINGAN IDENTIFIKASI KEKERINGAN LAHAN SAWAH METODE DROUGHT INDEX DAN VEGETATION INDEX PADA CITRA LANDSAT 8 (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH) Anggi Karismawati; Abdi Sukmono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.267 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Kendal merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang sebagian dari wilayahnya adalah pertanian atau sawah. Pada bulan Agustus 2018, di wilayah Kabupaten Kendal telah terjadi kekeringan yang menyebabkan lahan pertanian khususnya padi di wilayah tersebut terancam mengalami kerugian atau gagal panen. Hal tersebut disebabkan seiring terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu. Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalkan dampaknya jika mengetahui pola kekeringan dapat diketahui. Salah satu cara yang digunakan yaitu dengan menggunakan aplikasi penginderaan jauh dengan cara memantau kekeringan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Penelitian ini mencari metode yang terbaik dalam penentuan lahan kekeringan yang akan menggunakan 4 algoritma kekeringan  yaitu pengolahan dengan algoritma NDDI (Normalized Difference Drought Index), VHI (Vegetation Health Index), TVI (Temperature Vegetation Index) dan LSWI (Land Surface Water Index) dari citra Landsat dari tahun 2014,2015,2016,2017,dan 2018 dengan validasi bulan Agustus 2017 dan 2018. Berdasarkan hasil RMSE pengolahan validasi maka diperoleh tingkat akurasi dari keempat algoritma tersebut dan dapat disimpulkan bahwa metode yang lebih akurat digunakan dalam mengidentifikasi kekeringan lahan sawah di Kabupaten Kendal yaitu metode VHI yaitu dengan RMSE sebesar 0,949 tahun 2017 dan 1,373 ditahun 2018. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, NDDI, VHI,TVI, LSWI ABSTRACTKendal Regency is one of the regencies in Central Java where a part of its territory is agriculture or rice fields. In August 2018, in the Kendal Regency, a drought had occurred which caused agricultural land, especially rice in the region, to be threatened with loss or crop failure. That is caused by the occurrence of global warming and climate change that is uncertain. However, the impact can be minimized if you know the drought pattern can be known. One of the methods used is by using a remote sensing application by monitoring drought by using remote sensing technology. This research is looking for the best method in determining drought land that will use 4 drought algorithms, namely processing with NDDI (Normalized Difference Drought Index), VHI (Vegetation Health Index), TVI (Temperature Vegetation Index) and LSWI (Land Surface Water Index) from Landsat imagery from 2014,2015,2016,2017 and 2018 with validation in August 2017 and 2018. Based on the results of RMSE validation processing, the accuracy of the four algorithms is obtained and it can be concluded that a more accurate method is used in identifying drought in paddy fields in Kendal Regency is the VHI method that is with RMSE of 0.949 in 2017 and 1,373 in 2018.
ANALISIS PENGARUH NILAI KEKERUHAN AIR TERHADAP AKURASI SATELLITE DERIVED BATHYMETRY DENGAN ALGORITMA STUMPF (STUDI KASUS: PANTAI KARTINI, JAWA TENGAH) Muhammad Luthfi Ramadhan; Bandi Sasmito; firman Hadi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSattelite Derived Bathymetry (SDB) merupakan suatu metode di bidang penginderaan jauh yang digunakan untuk mendapatkan nilai kedalaman perairan dengan perhitungan suatu algoritma. Beberapa algoritma telah dikembangkan dalam upaya menghasilkan nilai kedalaman menggunakan metode SDB ini, salah satunya adalah algoritma Stumpf. Algoritma Stumpf memiliki prinsip penyederhanaan operasi hitungan dalam mengekstraksi nilai kedalaman air menggunakan perbandingan dua faktor reflektansi air pada band biru dan band hijau yang memiliki kemampuan tingkat penyerapan terhadap badan air yang berbeda. Prinsip tingkat penyerapan pada tiap band yang berbeda ini menghasilkan perbedaan rasio antar band yang akan mengalami perubahan ketika kedalaman berubah. Namun banyak faktor yang mengakibatkan kesalahan dalam proses pengolahan SDB ini salah satunya pengaruh sifat optis air berupa kekeruhan air. Penelitian ini menganalisis lebih lanjut tentang pengaruh nilai kekeruhan air terhadap akurasi yang dihasilkan dari pengolahan SDB menggunakan perhitungan algoritma Stumpf dengan sumber data citra Landsat-8 OLI/TIRS. Hasil dari pengolahan SDB tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil pengolahan SDB yang telah ditambahkan dengan variabel kekeruhan air dari proses uji koefisien regresi terhadap nilai simpangan kedalaman dan nilai kekeruhan air. Pengolahan SDB dapat memetakan kedalaman perairan dengan rata-rata ketelitian (RMSE) yang dihasilkan sebesar 1,531 meter. Dengan menambahkan variabel kekeruhan air, hasil pengolahan SDB memiliki akurasi yang lebih baik dan dapat memetakan kedalaman perairan dengan rata-rata ketelitian (RMSE) yang dihasilkan sebesar 1,462 meter.
ANALISA SPASIAL DINAMIKA MORFOMETRI WADUK MENGGUNAKAN DATA SATELIT MULTI TEMPORAL DI WADUK RAWA PENING PROVINSI JAWA TENGAH Adiasti Rizqi Hardini; Muhammad Helmi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.478 KB)

Abstract

Waduk Rawa Pening berada di antara jalan negara Semarang – Salatiga - Surakarta dan jalan Kabupaten antara Salatiga – Ambarawa yang terletak diantara jalan negara Semarang – Magelang – Yogyakarta, 32 km ke arah selatan dari kota Semarang dan 10 km ke arah utara dari kota Salatiga. Waduk Rawa Pening mempunyai peranan yang cukup penting sebagai pembangkit listrik tenaga air, bertani eceng gondok dan beternak ikan. Pertumbuhan eceng gondok yang semakin meningkat dari tahun ke tahun mengakibatkan perubahan morfometri waduk dan perubahan tutupan lahan disekitar Waduk Rawa Pening. Penelitian ini menggunakan Peta Topografi skala 1:50.000 lembar Ambarawa no helai 47/XL-D, data citra satelit landsat TM 5 tahun 1990, landsat 7 ETM+ tahun 2000, ALOS AVNIR-2 tahun 2009 dan dilakukan dengan metode penginderaan jauh yaitu interpretasi manual untuk memperoleh peta tutupan lahan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dinamika morfometri Waduk Rawa Pening Provinsi Jawa Tengah dalam periode ±10 tahun dimulai dari tahun 1982 sampai dengan tahun 2009 dan mengkaji dinamika perubahan pola tutupan lahan di area sekitar Waduk Rawa Pening Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukan bahwa tahun 1982-1990 perubahan luas waduk sebesar 1051,85 Ha dan pola perubahn tutupan lahan yang terjadi yaitu perubahan sawah irigasi menjadi sawah dan permukiman menjadi air, pada tahun 1990-2000 perubahan luas waduk sebesar 305,24 Ha dan pola perubahan tutupan lahan yang terjadi yaitu perubahan air waduk menjadi sawah irigasi.serta tahun 2000-2009 perubahan luas waduk sebesar 392,97 Ha dan pola perubahan tutupan lahan yang terjadi yaitu perubahan air waduk menjadi sawah irigasi.
STUDI KARAKTERISTIK GELOMBANG PERAIRAN LAUT JAWA MENGGUNAKAN SATELIT ALTIMETRI TAHUN 2016-2018 ( STUDI KASUS : PERAIRAN LAUT UTARA JAWA) Nandia Meitayusni Nabila; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.946 KB)

Abstract

Pengetahuan di negara kepulauan Indonesia mengenai informasi tentang tinggi gelombang sangat penting untuk menunjang aktivitas di laut. Mengingat hal tersebut, akurasi prakiraan tinggi gelombang perlu mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa prediksi gelombang laut dari data ECMWF (The European Center For Medium-Range Weather Forecasts) terhadap data observasi satelit altimeter. Lokasi penelitian yang diambil berada di wilayah perairan laut Utara Jawa, Hasil analisis karakteristik  gelombang dari tahun 2016-2018 dan analisis variabilitas angin tahun 2016-2018 terhadap gelombang di perairan Laut Utara Jawa diteliti untuk mengetahui parameter perubah tinggi gelombang tersebut. Perhitungan gelombang dihasilkan dari pengolahan dengan metode Sverdup Munk Bretschneider (SMB). Dengan data yang diperoleh dari ECMWF (The European Center For Medium-Range Weather Forecasts) dan data diverifikasi menggunakan data Angin dari BMKG. Data angin dianalisis pada setiap musim, yaitu musim barat, timur dan peralihan. Dari hasil dan analisis kualitas data elevasi satelit altimetri terhadap data lapangan menjelaskan bahwa verifikasi data tinggi gelombang (H) dari ECMWF dengan data lapangan didapatkan nilai RMSE sebesar ± 0,262 m. Kata Kunci : Gelombang perairan Laut Jawa Utara, metode Sverdup Munk Bretschneider (SMB), ECMWF (The European Center For Medium-Range Weather Forecasts). ABSTRACTKnowledge in the Indonesian archipelago regarding information about wave height is very important to support activities in the sea. Given this, the accuracy of wave height forecasts needs attention. This study aims to determine the performance of ocean wave predictions from ECMWF (The European Center for Medium-Range Weather Forecasts) data on satellite altimeter observation data.The location of the study was located in the area of North Java Sea waters, the results of the wave characteristics analysis from 2016-2018 and the analysis of wind variables in 2016-2018 to waves in the Java North Sea waters were examined to determine the wave height change parameters.Wave counts are generated from processing using the Sverdup Munk Bretschneider (SMB) method. With data obtained from ECMWF (The European Center for Medium-Range Weather Forecasts) and data verified using Wind data from BMKG. Wind data are analyzed in each season, namely the west, east and transition seasons. From the results and analysis of altimetry satellite elevation data quality to field data explain that the verification of wave height (H) data from ECMWF with Field data obtained an RMSE value of ± 0,262 m.
ANALISIS SEBARAN JENIS VEGETASI HUTAN ALAMI MENGGUNAKAN SISTEM PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus : Jalur Pendakian Wekas dan Selo) Yenny Paras Dasuka; Bandi Sasmito; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.614 KB)

Abstract

ABSTRAKHutan merupakan salah satu pusat keanekaragaman jenis tumbuhan. Untuk lebih mengetahui keanekaragaman dan vegetasi suatu hutan, maka perlu dilakukan studi untuk mempelajari vegetasi hutan. Salah satunya adalah vegetasi hutan alami yang berada dikawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Luas kawasan hutan TNGMb berdasarkan hasil penataan batas kawasan hutan yang telah dilakukan oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI sebesar ± 5.963,30 ha dengan panjang batas luar 147,49 km.Berdasarkan paparan diatas, penginderaan jauh merupakan salah satu solusi untuk pemantauan kawasan hutan yang sangat luas dan dapat digunakan untuk mengetahui informasi mengenai kehutanan, baik jenis, maupun kerapatan vegetasinya menggunakan data citra satelit.Penelitian ini menggunakan citra satelit Landsat 8 perekaman Bulan Juni Tahun 2015, diproses untuk menentukan nilai indeks vegetasi, luas dan kelas kerapatan vegetasi menggunakan metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) di kawasan TNGMb dan sekitarnya. Sedangkan GDEM ASTER untuk menentukan nilai ketinggian dari vegetasi hutan alami tersebut. Sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk kegiatan pengelolaan kawasan TNGMb.Dari hasil penelitian, diperoleh luas kawasan TNGMb dalam batasan wilayah penelitian sebesar 16.768,83 ha yakni 3 kali lipat dari luas TNGMb berdasarkan dokumen Balai TNGMb 2014 sebesar ± 5.963,30 ha. Vegetasi yang dominan ditemukan di jalur pendakian Wekas dan Selo yaitu; Akasia, Tusam, Kesowo, Lamtoro Gunung, Sengon Gunung, Cemara Gunung, Tengsek, Cantigi dan Edelweiss. Kelas kerapatan vegetasi di kawasan TNGMb dibagi menjadi 5 kelas antara lain sangat jarang, jarang, sedang, rapat dan sangat rapat dengan nilai indeks vegetasi antara -0,005 sampai 0,85, sebaran jenis vegetasi berdasarkan nilai ketinggian berada pada rentang 1.803 – 3.109  mdpl, dan berdasarkan nilai indeks vegetasi berada pada rentang 0,535 – 0,801. Pada pengujian korelasi, hipotesis dan regresi antara nilai DEM dan nilai NDVI bersifat rendah dan berlawanan arah.Kata Kunci : GDEM ASTER, Landsat 8, NDVI, Penginderaan Jauh, Taman Nasional Gunung Merbabu, Vegetasi ABSTRACT Forests are one of the main diversity of plant species. To learn more about diversity and vegetation of  a forest, it is necessary to research  forest vegetation. Which one is the natural forest vegetation in the area of National Park of Mount Merbabu. Forest area of NPMm based on establishing forest boundaries that have been conducted by the Center for Forest Area Consolidation Region XI of ± 5963.30 ha with a length of 147.49 km outer limits. Based on the above presentation, remote sensing is one solution for monitoring forest area is very spacious and can be used to find out information about forestry, both varieties nor the vegetation density using satellite imagery. This study used a Landsat 8 satellite image recording in June 2015, are processed to determine the value of vegetation index, spacious and vegetation density classes using NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and surrounding NPMm areas. GDEM ASTER used to determine the height values of the natural forest vegetation. So the results of this study are expected to provide information for management activities NPMm area.The results were obtained in the form of extensive NPMm area within the limits of study areas is about 16.768 hectares it is 3 times size of the NPMm based on documents from the NPMm  authority  2014 is ± 5963.30 hectares. The dominant vegetation found on Wekas and Selo hiking trail are namely Acacia, Pinus, Kesowo, Lamtoro Mountain, Sengon mountain, Pine mountain, Tengsek, Cantigi and Edelweiss.The class of vegetation density in the region divided into 5  classes among others very rare, rare, medium, dense and very dense with vegetation index values between -0.005 to 0.85, distribution of vegetation by height values are in the range of 1803-3109 meters above sea level, and based on the value of vegetation index in the range 0.535 to 0.801. In testing of the correlation, hypothesis and regression between the DEM and NDVI values are  low and opposite direction.Keyword : GDEM ASTER, Landsat 8, Merbabu Mountain National Park, NDVI, Remote Sensing, Vegetation
PEMETAAN DAERAH RAWAN KRIMINALITAS DI WILAYAH HUKUM POLTABES SEMARANG TAHUN 2013 DENGAN MENGGUNAKAN METODE CLUSTERING Gilang Yudistira Hilman; Bandi - Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.998 KB)

Abstract

ABSTRAKKriminalitas adalah permasalahan pelik yang berdampak luas kepada seluruh lapisan masyarakat. Kriminalitas berhubungan dengan beberapa faktor diantaranya kinerja polsek, kepadatan penduduk dan angka kemiskinan. Pada penelitian ini mencoba mengembangkan suatu sistem informasi yang mampu menampilkan serta memetakan jumlah tindak kejahatan yang terjadi di Kota Semarang dalam peta dengan bentuk yang beragam.Untuk membantu proses analisis menggunakan software statistika dan untuk pemetaan menggunakan software SIG. Metode yang digunakan adalah cluster di mana dilakukan pengelompokan untuk menentukan tingkat kerawanan suatu daerah. Pengelompokan diambil berdasarkan kerapatan/density TKP dari tindak kejahatan yang terjadi sehingga output yang dihasilkan diharapkan akan memudahkan pengguna dalam membedakan tingkat kerawanan antara daerah satu dan lainnya.Hasil dari penelitian menyatakan keamanan di Kota Semarang cenderung rawan di sekitar pusat kota sedangkan wilayah pinggir kota dengan kepadatan penduduk relatif rendah cenderung lebih aman. Ditinjau dari segi waktu tindak kejahatan dengan intensitas paling tinggi terjadi pada saat larut malam. Berdasarkan hasil analisis, ketiga faktor tersebut mempengaruhi kriminalitas sebesar 55% dan 45% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain.Kata kunci : Kriminalitas, SIG, Cluster, Density. ABSTRACTCrime is a complicated issue that affects the whole society wide. Crime related to several factors, including the performance of the police station, overcrowding and poverty. In this study tries to develop an information system that is capable of displaying and map the number of crimes committed in Semarang City on maps with diverse forms.To assist the process of analysis using statistical software and for mapping use GIS software. The method used is a cluster in which the grouping is done to determine the the vulnerability of an area. Grouping are taken by the density of the scene of the crime that happened so that result of the output is expected to be easier for users to distinguish the level of vulnerability between one and the other regions.The results of the study stated security in Semarang prone around the city center, while the suburb with a relatively low population densities tend to be more secure. In terms of a crime with the highest intensity occurs during late night. Based on the analysis, these three factors affect crime of 55% and 45% are influenced by other factors.Key words : Crime, GIS, Cluster, Density.
ANALISIS KORELASI LUASAN KAWASAN MANGROVE TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN AREA TAMBAK (STUDI KASUS: WILAYAH PESISIR KABUPATEN DEMAK) Innong Pratikina Akbaruddin; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.532 KB)

Abstract

ABSTRAKMangrove merupakan ekosistem yang unik yang tumbuh di pesisir pantai dan berfungsi ganda pada lingkungan hidup. Perubahan luas kawasan hutan Mangrove terdapat 2 faktor yang mempengaruhi yaitu faktor alam dan faktor dari aktivitas manusia. Salah satu faktor alam adalah perubahan garis pantai dan salah satu faktor aktivitas manusia adalah reklamasi untuk pembangunan tambak. Kabupaten Demak merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang terletak di wilayah pesisir. Daerah pesisir Demak memiliki kawasan Mangrove yang terletak di pesisir pantainya dan banyak masyarakat Kabupaten Demak melakukan budidaya perikanan darat atau tambak di daerah pesisir Kabupaten Demak.Penelitian ini dilakukan guna mengetahui korelasi perubahan luasan kawasan mangrove terhadap perubahan garis pantai dan area tambak di wilayah pesisir Kabupaten Demak menggunakan metode pengindraan jauh. Pengolahan citra Sentinel-2A menggunakan komposit kanal dan klasifikasi terbimbing untuk mengetahui luasan kawasan Mangrove dan luasan area tambak. Sedangkan untuk pemantauan perubahan garis pantai menggunakan rumus rationing.Hasil dari penelitian ini diketahui analisis korelasi hubungan perubahan luasan kawasan Mangrove terhadap perubahan garis pantai dari rentan tahun 2016-2017 dan 2017-2019 disimpulkan berkorelasidan memiliki persebaran korelasi sebesar 6,31 Ha pada tahun 2016-2017 dan sebesar 12,68 Ha pada tahun 2017-2019. Tingkat korelasi pada rentan tahun 2016-2017 memiliki tingkat korelasi hubungan yang sedang dan bersifat searah dan pada rentan tahun 2017-2019 memiliki tingkat korelasi hubungan yang kuat dan bersifat searah. Sedangkan untuk analisis korelasi hubungan perubahan luasan kawasan Mangrove terhadap perubahan area tambak dari rentan tahun 2016-2017 dan 2017-2019 disimpulkan tidak berkorelasi, dimana tidak adanya hubungan perubahan luasan kawasan Mangrove terhadap perubahan area tambak.Kata kunci: Garis Pantai, Mangrove, Tambak, Korelasi, Sentinel-2AABSTRACTMangroves are unique ecosystems that grow on the coast and double function in the environment. Changes in the area of mangrove forests there are 2 factors that affect the natural factors and human activity factors. One natural factor is the change in coastline and one of the factors of human activity is reclamation for pond development. Demak Regency is one of the regions in Indonesia located in the coastal region. Because it is one of the coastal areas of Demak it has a Mangrove area which is located on the coast and many people of Demak Regency conduct aquaculture in the coastal areas of Demak. This study was conducted to determine the correlation of changes in mangrove area to changes in coastline and pond areas in the coastal areas of Demak Regency using the remote sensing method. Sentinel-2A image processing using composites bands and supervised classification to determine changes in Mangrove area and the pond area. And for monitoring changes in coastline using the rationing formula.  The results of this research note the correlation analysis of changes in the extent of the Mangrove area to changes in the coastline in 2016-2017 and 2017-2019 concluded correlated and had a correlation spread of 6.31 Ha in 2016-2017 and amounted to 12.68 Ha in 2017-2019. The correlation level in 2016-2017 has a moderate and unidirectional correlation and in 2017-2019 it has a strong and unidirectional correlation. As for the correlation analysis of changes in the area of the Mangrove area to changes in the area of the pond in 2016-2017 and 2017-2019 concluded not correlated, where there is no relationship of changes in the area of the Mangrove area to changes in the pond area. Keywords: Coastline, Correlation, Mangrove, Pond, Sentinel-2A
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adiasti Rizqi Hardini Adib Fahrul Arifin Ahmad Faishal Matazah Putra Ahmad Hidayat Ahmad Iqbal Maulana Lubis Akbar Kurniawan Alan Aji Bintang Alfian Putra Setiadarma Almira Delarizka Alvatara Partogi Hutagalung Amirul Hajri An Nisa Tri Rahmawati Andi Trimulyono Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anggi Karismawati Anggoro Wahyu Utomo Angkoso Dewantoro Arfina Kusuma Putra Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Ariella Arima Aniendra Armenda Bagas Ramadhony Arnita Ikke Sari Arwan Putra Wijaya Arwan Putra Wijaya Asih, Nevi Tri Lestiyo Aulia Budi Andari Aulia Hafizh Aulia, Fatah Avini Sekha Rasina Ayu Hapsari Aditiyanti Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bashit, Nurhadi Bekti Noviana Bella Riskyta Arinda Bram Ferdinand Saragih Chusni Ansori Damara Santi, Anggit Lejar David Jefferson Baris Denni Apriliyanto Desvandri Gunawan Devi Irsanti Devi Nilam Sari Deviana Putri Sunarernanda Dian Ika Aryani DIKA NUZUL RACHMAWATI Dimas Bagus Dita Ariani DITHO TANJUNG PRAKOSO Dwi Nugroho Eko Andik Saputro Eko Didik Purwanto, Eko Didik Elsa Regina Rizkitasari Esa Agustin Alawiyah Ety Parwati Fadhlan Hamdi Fajar Dwi Hastono Farrah - Istiqomah, Farrah - Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Firman Hadi Firman Hadi Firman Hadi Fitra S Pandia Frandi Barata Simamora Fuad Hari Aditya Gabriel Yedaya Immanuel Ryadi Galih Pratiwi Galuh Fitriarestu Santoso Ghazian Hazazi Gilang Yudistira Hilman Gunita Mustika Hati Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hani'ah . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Harmeydi Akbar Hartomo Haryo Kuncoro Haryo Daruwedho Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Hayu Rianasari Hestiningsih Hestiningsih Indah Prasasti Indriyanto, Ignatius Wahyu Innong Pratikina Akbaruddin Jaka Gumelar Jerson Otniel Purba Jhonson Paruntungan Matondang Johan Irawan Kalinda, Icha Oktaviana Putri Khofifatul Azizah Kurniantoro, Ridhwan L. M. Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany LM. Sabri M. Alfarisi Handifa M. Andu Agjy Putra M. Yogi Riyantama Isjoni Mahardika, Anggita Citra Mamei Saumidin Meiska Firstiara Maudi Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohamad Jorgie Prasetyo Monica Apriliana Pertiwi Monika Maharani, Shang Bhetari Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhamad Dicky H. Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Al Kautsar Muhammad Dimas Aji N. Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Helmi Muhammad Hudayawan Nur L Muhammad Ilman Fanani Muhammad Luthfi Muhammad Nur Khafidlin Mulawarman, Reza Al Arif Muna, Nailatul Mustopa, Salsabila Mutiah Nurul Handayani Nainggolan, Yohana Christie Nanang Noviantoro Prasetyo Nandia Meitayusni Nabila Nasrul Arfianto Nevy Dyah Rustikasari Nila Hapsari Nawangwulan Nilasari, Monica NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Niswatul Adibah NOFIANA DIAN RAHAYU Noviar Afrizal Wahyuananto Nur Itsnaini Nurfajrin Dhuha Andani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurul Huda Patriot Ginanjar Satriya Pinastika Nurandani Pitto Yuniar Maharsayanto Pratama Irfan Hidayat Prathanazal, Naufal Maziakiko Prya Adhi Surya Nugraha Putra, Muhammad Adisyah Putri Auliya Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Alifa Salsabilla Raditya Wahyu Utomo Ratih Kumala Dewi Restu Maheswara Ayyar Lamarolla Rina Emelyana Risa Bruri Utami Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Sabri, L M Sabri, L.M. Sabri, LM Samuel Samuel Sari, Devi Nilam Sawitri Subiyanto Sawitri Suprayogi Selli Angelita Sitepu Seprila Putri Darlina Setiaji Nanang Handriyanto Sheehan Maladzi, Havi Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Sinabutar, Julio Jeremia Sindi Rahma Erwanti Sitepu, Selli Angelita Siti Rahayuningsih Sri Purwatik Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syafiri Krisna Murti Syarif Budhiman Theresia Niken Kurnianingsih Tika Murni Asih Tistariawan, Adji Chandra Titis Ismayanti Vauzul Rahmat Victor Andreas Tarigan Vira Febianti Wahyu Eko Saputro Wahyu Setianingsih Wenang Triwibowo, Wenang Widodo, Kukuh Suryo Wili Setiadi Wilma Amiruddin Wiryawan, Ainun Pujo Wisnu Wahyu Wijonarko Yenny Paras Dasuka Yoga Triardhana Yosevel Lyhardo Sidabutar Yudo Prasetyo Yugi Limantara