Claim Missing Document
Check
Articles

VERIFIKASI KOORDINAT TITIK PATOK BATAS WILAYAH DENGAN NTRIP-CORS (Studi Kasus : Batas Kota Semarang Dengan Kabupaten Kendal) Muhammad Ilman Fanani; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.193 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan dengan total 34 provinsi, maka batas daerah merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan dalam informasi Geospasial. Batas antar daerah tersebut disajikan dalam daftar koordinat yang telah diatur dan dicantumkan dalam Peraturan Menteri dalam Negeri dan bentuk fisiknya dilapangan berupa pilar-pilar batas daerah. Namun pada kenyataannya sebenarnya pilar batas daerah tidak mungkin ditempatkan tepat pada koordinat batas daerah yang sebenarnya, sehingga menyebabkan adanya perubahan nilai koordinat, sehingga perlu dilakukan verifikasi.Terkait dengan masalah tersebut, maka pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengukuran pilar batas daerah dengan menggunakan sistem GNSS CORS (Global Navigation sattelite system Continuosly Operating Reference Stations) dengan metode RTK-NTRIP (Real Time Kinematik- Networked Transportasi  of  RTCM via Internet Protocol) yaitu metode pengukuran GPS yang mendapat koreksi secara Real Time dengan protokol stateless berdasarkan protokol HTTP yang selama ini pemanfaatannya masih terbatas pada pengukuran bidang tanah maupun pengukuran detail situasi.Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat nilai perbedaan antara nilai koordinat hasil pengukuran pilar batas daerah metode RTK-NTRIP terhadap koordinat batas daerah yang tercantum dalam Permendagri dengan nilai terbesar 74,5m, terkecil 1,8m dengan nilai simpangan baku 17,07m, hal ini dikarenakan nilai koordinat batas daerah yang tercantum dalam Permendagri merujuk pada batas daerah secara administratif, bukan nilai koordinat batas daerahnya dilapangan.  Kata Kunci : Batas Wilayah, CORS Undip, RTK-NTRIP, Verifikasi                                                                       ABSTRACT Indonesia is an archipelago with total of 34 provinces, the border is an absolute thing that must be considered in Geospatial information. Boundaries between regions are presented in the list of coordinates that have been set up and included in the Ministry of Internal Affairs and the physical form of the border is presented by pillars. But in fact the pillars of the boundary area may not be placed right on the actual coordinates from the border, causing the change in the value of the coordinates, so it’s need a verification.Related to these problems, then at this research the pillars of boundary area are measured using GNSS CORS (Global Navigation Sattelite system Continously Operating Reference Stations) systems with RTK-NTRIP (Real Time Kinematik- Networked Transport of RTCM via Internet Protocol) method, that is GPS measurement method that gets corrections by Real Time with stateless protocol based on HTTP protocol which is their use has limited in measurement and plot details of the situation .The results indicate that there is a difference in the value of the coordinate between the measurement of the pillars with RTK - NTRIP method to the boundary areas that listed in the Regulation with maximum value 74.5m, minimum value 1.8m, standar deviation 17.07m, because the value of the coordinates that listed in the Regulation refers to the administrative area boundaries, is not the coordinate value that refers to the field. Keywords : Borders, CORS Undip, RTK-NTRIP, Borders, Verification *) Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS PENGARUH FENOMENA INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) TERHADAP CURAH HUJAN DI PULAU JAWA NOFIANA DIAN RAHAYU; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.126 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara beriklim tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Secara umum, musim hujan di Indonesia terjadi pada bulan Maret sampai Oktober dan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai September. Meskipun musim terjadi secara periodik tetapi musim dapat bergeser. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran musim di wilayah Indonesia adalah fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Metode pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan bahasa pemograman untuk mengolah data suhu permukaan laut Reynolds dan data curah hujan TRMM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola spasial dan hubungan antara suhu permukaan laut serta curah hujan saat terjadi fenomena IOD di Pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh fenomena IOD terhadap intensitas curah hujan dan suhu permukaan laut terjadi secara bersamaan pada bulan Juli sampai bulan November. Saat IOD positif nilai suhu permukaan laut 23,949 0C - 29,179 0C sedangkan intensitas curah hujan 0,250 mm/hari - 14,308 mm/hari. Saat IOD negatif nilai suhu permukaan laut 26,425 0C - 30,036 0C sedangkan intensitas curah hujan 0,586 mm/hari -14,982 mm/hari. Korelasi curah hujan dan suhu permukaan laut  menunjukkan korelasi searah yang sangat kuat. Hasil penelitian menunjukkan jika penurunan suhu permukaan laut saat IOD positif akan berpengaruh terhadap penurunan intensitas curah hujan dan peningkatan suhu permukaan laut saat IOD negatif berpengaruh terhadap peningkatan intensitas curah hujan.Kata Kunci: Curah hujan, IOD, Suhu Permukaan Laut  ABSTRACTIndonesia is a tropical country which has two seasons, wet season and dry season. In general, wet season occurs in October to March and dry season occurs in April until september. Although the season occurs periodically but sometimes the seasons are shifting. One of the factors that caused the change of season is the Indian Ocean Dipole (IOD) phenomenon. Method of processing data in this research used programming language to processed sea surface temperature from Reynolds SST data and rainfall from TRMM data.The aim of this research is to determine the spatial pattern and relationship between sea surface temperature and rainfall during the IOD phenomenon in java island. The IOD phenomenon affects the rainfall intensity and sea surface temperature simultaneously in July to November. In positive IOD, sea surface temperature is 23.949 0C – 29.179 0C while rainfall intensity is 0.250 mm/day – 14.308 mm/day. In negative IOD, sea surface temperature is 26.425 0C – 30.036 0C while rainfall intensity is 0.586 mm/day -14.982 mm/day. The correlation of rainfall and SPL shows a high correlation. The results of this research show that decrease of sea surface temperature when IOD positive influence the decrease of rainfall intensity and increase of sea surface temperatire when IOD negatively influences the increase of rainfall intensity. Keywords: Rainfall, IOD, Sea Surface Temperature
Analisis Cakupan Perubahan Area Hutan Jati Dengan Metode Line Transect Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro (Studi Kasus: Kecamatan Ngasem) Syafiri Krisna Murti; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1180.452 KB)

Abstract

AbstrakKecamatan Ngasem adalah salah satu kecamatan yang ada dikota Bojonegoro provinsi Jawa Timur.Yang sebagian besar penggunaan lahannya adalah hutan.kelestarian hutan dan ketahanan pangan merupakan dua hal yang seringkali menjadi berita penting. Pada saat muncul masalah kerusakan hutan, segera dikemukakan hal itu karena sejumlah penduduk sekitar hutan kekurangan pangan, sehingga mereka menebang hutan yang dapat menimbulkan kerusakan. Terkait dengan berita  tersebut yang perlu diketahui adalah kemungkinan memanfaatkan hutan untuk medukung ketahanan pangan masyarakat khususnya di sekitar hutan tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan.Pada tugas akhir ini akan dibahas mengenai perhitungan kerapatan vegetasi dengan metode Line Transect. Dari perhitungan ini akan didapatkan nilai kerapatan, frekuensi, dominansi dan persentase yang bisa digunakan dalam menentukan jumlah cadangan vegetasi untuk kedepannya. Hasil dari perhitungan ini adalah 63% hutan terdiri dari pohon jati, 23% pohon Jabon dan 10% pohon Mahoni. Dan penurunan vegetasi yang paling tinggi terjadi di desa Ngasem dengan total penurunannya lebih dari 100 batang pohon pertahunnya dan penurunan vegetasi yang paling rendah terjadi di desa Ngantru. Kata Kunci : Kerapatan ,Vegetasi, Metode Line Transect. AbstractSubdistrict Ngasem is one area that located in the Bojonegoro city, East Java .Land use is mainly forest . Forest conservation and food endurance are two things that often become important news . At the time of deforestation problem arises , immediately stated that because a number of forest dwellers lack of food , so they cut down forests that can cause damage. Associated with the news you need to know is the possibility of using forests to endorse food endurance, especially in communities around the forest without causing any disturbance of forest destruction .In this final projectwill discuss  the calculation of the density of vegetation with Line Transect method . From this calculation we will get the value of density , frequency , dominance and the percentage that can be used in determining the amount of reserves for future vegetation . The result of this calculation is 63 % forest consisting of oak , 23 % and 10 % Jabon tree Mahogany trees . And decreased vegetation highest in Ngasem village with total reductions of more than 100 trees from 1 year and low reduction vegetation occur in theNgantruvillage .Keywords : density , vegetation , Line Transect Method .*)Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) BERDASARKAN KEBUTUHAN OKSIGEN (STUDI KASUS : KOTA SALATIGA) Sri Purwatik; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.332 KB)

Abstract

ABSTRAK Fungsi hijau dalam ruang terbuka hijau (RTH) kota sebagai ‘paru-paru’ kota, merupakan salah satu aspek berlangsungnya fungsi daur ulang, antara gas karbondioksida (CO2) dan oksigen (O2). Lebih dari itu, masih banyak fungsi RTH termasuk fungsi estetika yang bermanfaat sebagai sumber rekreasi publik, secara aktif maupun pasif, yang diwujudkan dalam sistem koridor hijau sebagai alat pengendali tata ruang atau lahan dalam suatu sistem RTH kota.Pada penelitian ini menggunakan Citra Resolusi Tinggi dari Google Earth perekaman 5 Juni 2012, Peta Guna Lahan Kota Salatiga, Peta Jaringan Jalan, dan Peta Jaringan Sungai Kota Salatiga. Selain itu, data yang diguakan berupa data non spasial seperti data jumlah penduduk, jumlah ternak, dan jumlah kendaraan bermotor Kota Salatiga. Metode yang digunakan adalah digitasi on screen. Hasil dari digitasi adalah untuk mempermudah dalam interpretasi citra, terutama RTH dan vegetasi penghasil oksigen lainnya. Jenis RTH yang diteliti dalam peneitian ini adalah hutan kota, jalur hijau, pemakaman, sempadan sungai, kawasan perlindungan dibawahnya dan RTH Privat.Kota Salatiga memiliki 910,58 Ha Ruang Terbuka Hijau yang terdiri atas 72,37 Ha Hutan Kota, 4,09 Jalur Hijau, 53,19 Ha Pemakaman, 259,51 Ha Sempadan Sungai, 104,81 Ha Kawasan perlindungan dibawahnya, dan 423,08 Ha RTH Privat. Selain itu, dalam penelitian ini juga melakukan interpretasi vegetasi non Ruang Terbuka Hijau penghasil Oksigen yang terdiri atas Pertanian Lahan Kering seluas 2779,43 Ha, Perkebunan sebesar 327,26 Ha dan Pertanian Lahan Basah 895,52 Ha.Berdasarkan jumlah penduduknya, Kota Salatiga memerlukan Ruang Terbuka Hijau sebesar 372,174 Ha. Sehingga bila dilihat dari RTH yang luasnya 910,58 Ha sudah memenuhi. Namun, bila dilihat dari kebutuhan oksigen, Kota Salatiga memerlukan 3452,174 Ha Ruang Terbuka Hijau. Dengan demikian, luas RTH yang ada belum memenuhi standar kebutuhan oksigen. Namun, bila ditambah dengan vegetasi non RTH penghasil oksigen, luas penghasil oksigen menjadi 4912,79 Ha. Sehingga, luas yang ada sudah memenuhi batas minimum suplai oksigen.Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, Citra Resolusi Tinggi, Kebutuhan OksigenABSTRACTGreen function in a green open space (RTH) cities as 'lungs' of the city, is one of the aspects of the functioning of recycling, the gas carbon dioxide (CO2) and oxygen (O2). More than this, there are still a lot of open space functions including aesthetic functions that are useful as a source of public recreation, actively or passively, which is embodied in the system of green corridors as a means of controlling the spatial or land in a city green space system. In this study, using the High Resolution image from Google Earth recording June 5, 2012, Salatiga Land Use Map, Road Network Map, and River Network Map of Salatiga. In addition, we use non-spatial data such as population data, number of livestock, and the number of motor vehicles Salatiga. The method used was digitized on screen. The results of digitization is to facilitate the image interpretation, especially of green space and other oxygen-producing vegetation. RTH types examined in this fieldwork is the urban forest, green lanes, cemetery, river banks, protected areas and open space underneath Privat. Salatiga has 910,58 Ha of green open space which consists of 72,37 Ha of Forest City, the Green Line 4.09, 53,19 Ha Cemetery, River Border 259,51 Ha, 104,81 Ha protection area underneath, and 423,08 Ha RTH Private. In addition, this study also interpret non vegetation oxygen-producing green open space consisting of Dryland Agriculture area of 2779,43 hectares, 327,26 hectares of Plantation and Agricultural Wetlands 895,52 Ha.In this study, using the High Resolution image from Google Earth recording June 5, 2012, Salatiga Land Use Map, Road Network Map, and River Network Map of Salatiga. In addition, we use non-spatial data such as population data, number of livestock, and the number of motor vehicles Based on population, Salatiga city need green open space in wide 372,174 ha. So that when viewed from the RTH has wide 910,58 Ha has met. However, when viewed from oxygen needed, Salatiga require 3452,174 hectares of green open space. Thus, there is wide open space that have not met the needs oxygen. However, when coupled with non RTH vegetation producing oxygen, oxygen-wide into 4912,79 Ha. Thus, there has been widespread meet the minimum oxygen supply. Keywords: Green Open Space, High Resolution Image, Oxygen Supplies
PEMODELAN SPASIAL ALIRAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT TERRA ASTER-GDEM DI DAERAH TANGKAPAN HUJAN WADUK RAWA PENING PROVINSI JAWA TENGAH Tika Murni Asih; Muhammad Helmi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.191 KB)

Abstract

Waduk Rawa Pening merupakan salah satu kawasan prioritas di Jawa Tengah dan memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh kawasan lainnya,sehingga perlu didayagunakan secara optimal dan berkelanjutan. Kondisi Waduk Rawa Pening saat ini mengalami penurunan dalam hal daya dukung dan fungsi utama sebagai akibat sedimentasi dan pendangkalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola aliran permukaan dan pengaruh penggunaan lahan di daerah tangkapan hujan yang aliran airnya masuk ke dalam Waduk Rawa Pening. Penelitian ini dilakukan dengan metode penginderaan jauh yaitu dengan interpretasi citra satelit ALOS AVNIR-2 dan citra satelit Landsat 7 ETM+  untuk memperoleh peta penggunaan lahan tahun 2009. Pemetaan daerah tangkapan hujan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil pengolahan data ASTER-GDEM produk satelit Terra. Berdasarkan daerah tangkapan hujan tersebut kemudian dilakukan analisa komposisi penggunaan lahan yang ada di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola aliran yang terbentuk di daerah tangkapan hujan Waduk Rawa Pening adalah pola aliran yang menyerupai percabangan pohon (dendritic). Berdasarkan analisa penggunaan lahan yang telah dilakukan pada 25 daerah tangkapan hujan, ada 4 daerah tangkapan hujan yang mengalami kerusakan, yaitu Gajahbarang, Panjang Timur, Parat Kidul dan Tranah. Empat daerah tangkapan hujan ini memiliki persentase hutan kurang dari 30%, sehingga dikatakan kondisi lahannya sangat buruk. Kata kunci : ASTER-GDEM, Aliran Permukaan, Daerah Tangkapan Hujan
PENENTUAN AREA LUAPAN KALI BABON AKIBAT KENAIKAN DEBIT AIR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Arnita Ikke Sari; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito; Harianto Harianto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4614.861 KB)

Abstract

Semarang city is one of the regions in Indonesia are vulnerable to flooding. This condition is getting worse by the land subsidence during the year to reach 0,7 – 11,2 cm / year. Water flooding which inundate along the Kali Babon Watershed have flooded the area around the river. Starting from Bendung Pucang Gading, Kali Babon Watershed experiencing siltation due to the slope of a gentle stream them more prone to sedimentation, thereby reducing the drainage capacity.This research uses open source software Hec RAS version 4.1.0. to analyze the profile of the river water level and produce flood inundation area with a certain depth of flood discharge plans with 5, 10 and 25 years.Results obtained from the distribution of the data processing occurs on the widest flood area Sriwulan village, district. Sayung, Kab. Demak approximately 247,965 hectares and a depth ranging from 0,00154448 to 4,5808 meters at discharge of 5-years plan; 249,598 hectares and a depth ranging from 0,00154781 to 10,1064 meters at discharge of 10-years plan , 482,180 hectares with depths ranging from 0,000581622 to 12,6956 meters at discharge of 25-years plan.Keywords : Flood, Kali Babon, Watershed and Hec RAS
PENGOLAHAN CITRA SATELIT LANDSAT MULTI TEMPORAL DENGAN METODE BILKO DAN AGSO UNTUK MENGETAHUI DINAMIKA MORFOMETRI WADUK GAJAH MUNGKUR Denni Apriliyanto; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.841 KB)

Abstract

ABSTRAKWaduk Gajah Mungkur merupakan salah satu waduk buatan yang berlokasi kurang lebih 3 km arah selatan Kota Wonogiri tepat di bagian hilir pertemuan kali Keduang. Luas daerah genangan 13.600 ha (Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS Solo Hulu, 1985). Seiring dengan perkembangan kondisi alam yang sangat dinamis, umur pakai waduk diperkirakan hanya tinggal 10-15 tahun lagi. Hal ini disebabkan oleh laju sedimentasi yang sangat tinggi terutama dari 6 Sub Daerah Aliran Sungai yang menyebabkan semakin kecilnya daya tampung air. Kondisi penurunan fungsi waduk yang terjadi akibat sedimentasi dan erosi menyebabkan berbagai macam dampak bagi ekosistem sekitar, khususnya untuk pendayagunaan waduk itu sendiri. Untuk itu perlu dilakukannya pemantauan dari tahun ke tahun. Salah satu upaya pemantauan yang dapat dilakukan adalah dengan teknologi penginderaan jauh.Pada penelitian ini digunakan metode pengolahan citra satelit Landsat dengan menggunakan metode BILKO yang dikembangkan oleh UNICEF dan metode pemetaan perairan dangkal dari citra (shallow water image mapping) yang dikembangkan oleh Australian Geological Survey Organization (AGSO) yang pernah digunakan oleh Hanifa et.al, 2004, untuk penentuan batas maritim negara yang difokuskan pada penentuan garis pangkal sebagai acuan penarikan garis batas maritim antara Indonesia dan Singapura. Sedangkan untuk penelitian ini kedua metode digunakan untuk menetukan batas antara darat dan air untuk perairan darat, dalam hal ini perairan waduk yang terfokus pada batas antara darat dan air untuk waduk Gajah Mungkur wonogiri dengan tujuan untuk mengkaji dinamika morfometri Waduk Gajah Mungkur Provinsi Jawa Tengah dalam periode ± 5 tahun dimulai dari tahun 1994 sampai dengan awal tahun 2014.Dari uji validasi lapangan hasil pengolahan rumus BILKO dan AGSO menggunakan metode confusion matrix, didapat akurasi sebesar 85,71 % untuk hasil metode BILKO dan 82,86 % untuk hasil metode AGSO, yang berarti kedua metode bisa digunakan untuk penentuan batas perairan waduk.Hasil pengolahan citra Landsat dengan menggunakan metode BILKO pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada periode tahun 1994 – 2000 waduk Gajah Mungkur mengalami sedikit perluasan yaitu sebesar 1.544.400 m2. Sedangkan pada periode 2000 – 2009 waduk Gajah Mungkur mengalami penyempitan yang sangat signifikan dengan total perubahan luas sebesar 14.958.900 m2, dimana arah perubahan waduk Gajah Mungkur terjadi pada arah timur dan selatan waduk, pada bagian timur terjadi pada daerah sub DAS Keduang dan sub DAS Wiroko, dan pada bagian selatan terjadi pada daerah sub DAS Alang dan Solo Hulu. Kemudian untuk periode tahun 2009 – 2014 waduk kembali mengalami perluasan sebesar 1.602.000 m2. Kata Kunci : Waduk Gajah Mungkur, Morfometri, metode BILKO, metode AGSOABSTRACTGajah Mungkur reservoir is one of the artificial reservoir located approximately 3 km south of the Wonogiri town on the lower reaches of the river Keduang. The area of inundation is 13,600 ha (Field Engineering Plan for Land Rehabilitation and Soil Conservation of Solo Hulu Watershed, 1985). Along with the high dynamic of natural conditions’s development , lifespan reservoirs probably only 10-15 years away. This is due to the very high rate of sedimentation, especially from 6 sub Watershed which causes water capacity has narrowed. Reservoir function decline that occurs as a result of sedimentation and erosion make any kind of impact to the surrounding ecosystem, especially for the utilization of the reservoir itself. So that should be monitoring from year to year. One of the monitoring efforts that can be done is by remote sensing technology.In this study used Landsat satellite image processing methods using BILKO which developed by UNICEF and shallow water mapping methods using imagery which developed by the Australian Geological Survey Organization (AGSO) that have been used previously by Hanifa et.al, 2004, for the determination of the maritime’s boundary of countries focused on the determination of the base line as a withdrawal’s reference of maritime’s boundary between Indonesia and Singapore. While for this study, two methods are used to determine the boundary between land and water for inland waters, in this case which focused on the boundary between land and water in the Gajah Mungkur reservoir wonogiri with the aim to assess the dynamics of morphometry of Gajah Mungkur reservoir Central Java Province within ± 5 year period starting from 1994 to early 2014.From the field validation test for the results of two processing formula, BILKO and AGSO, using confusion matrix method, obtained an accuracy is 85.71% for the results for BILKO method and 82.86% for the results of AGSO method, which means that both methods can be used for the determination of the maritime’s boundary of reservoirs.In this study, Landsat image processing results using the BILKO method show that in the period of 1994 - 2000 Gajah Mungkur reservoir having a little expansion in the amount of 1.544.400 m2. While in the period of 2000 - 2009 Gajah Mungkur reservoirs suffered significant narrowing with total area of 14.958.900 m2 changes, which the direction changing of Gajah Mungkur reservoir occurs in the eastern and southern reservoirs, occur in the eastern part of the Keduang sub-watershed and Wiroko sub-watershed, and occurs in the southern part of the Alang and Solo Hulu sub-watershed. Then, for the period of 2009 - 2014 the reservoir expanded again by 1.602.000 m2.Keywords : Gajah Mungkur Reservoir, Morphometry, BILKO method, AGSO method
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN HASIL INTERPRETASI VISUAL CITRA SATELIT UNTUK PENERIMAAN PBB (STUDI KASUS : KECAMATAN SEMARANG UTARA) Mamei Saumidin; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.871 KB)

Abstract

Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi  lahan terbangun. Perubahan penggunaan lahan dapat di monitoring menggunakan data spasial remot sensing. Akusisi data  remote sensing  secara berseri dari waktu ke waktu memungkinkan untuk melakukan analisis perubahan lahan. Citra yang dipakai dalam penelitian adalah Citra Ikonos tahun 2007, sedangkan pembandingnya merupakan peta penggunaan lahan kecamatan Semarang Utara tahun 2009. Software yang digunakan adalah E.R. Mapper 7.0  dan  Arc.GIS 10.  Proses rektifikasi menggunakan metode Map to Image  dimana titik GCP diperoleh berdasarkan data sekunder dari peta yang mempunyai liputan yang sama dengan citra yang akan dikoreksi. Berdasarkan pengolahan citra Ikonos tahun 2007 dan peta penggunaan lahan tahun 2009 didapatkan perubahan luas penggunaan lahan sebesar 62,656 Ha. Dengan adanya perubahan luas tersebut dapat mempengaruhi perubahan harga NJOP, perubahan harga NJOP yang terjadi sebesar 21,6 %.
IDENTIFIKASI DAERAH RESAPAN AIR DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS: SUB DAS KEDUANG) Fajar Dwi Hastono; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.397 KB)

Abstract

Sub Watershed Keduang is part of the Upper Solo River Basin which includes the area of the river solo. Degradation of the territory of its recharge area is the cause of the damage of  Solo River Watersheds, especially upstream of Solo resulting in the decreasing availability of water resources in the area. The aims of this study is determine the conditions and potential water recharge areas are located in Sub Watershed Keduang. The methods that use in scoring and to overlay (Overlapping stacking) method between the type of soil maps, land use maps, maps of slope and rainfall maps. Watershed maps obtained from the four overlay map. Identification of water recharge areas is done using a Geographic Information System (GIS) that can be used as a material consideration to doing conservation and rehabilitation the land and the forest. The results showed that to all criteria conditions are scattered throughout the recharge area of river basin Sub Keduang but in general Sub Watershed Keduang have recharge conditions including the start of critical criteria. The results of the analysis area of Keduang Sub Watershed is 39736.44 Ha. The areas that have good conditions recharges area of 1489.77 ha (3.75%) and recharge areas that become critical condition of 13505.04 ha (33.99%). Watersheds are in critical condition a little area of 11407.5 ha (28.71%). Criteria of normal water absorption natural conditions, a critical and very critical that each area are 5816.7 ha (14.64%), 5187.24 ha (13.05%) are 2330.19 ha (5.86%). Potential areas in the recharge area of research in Keduang sub Watershed dispersed in good condition with a wide recharge area of 1489.77 ha (3.75%) and normal conditions of natural water recharge area with an area of 5816.7 ha (14.64%). Territory of its potential recharge area is scattrered in the District's area of 313.2 ha Jatiyoso and 1645.45 ha that is located in the District Jatiroto.
KAJIAN PENGARUH PENAJAMAN CITRA UNTUK PENGHITUNGAN JUMLAH POHON KELAPA SAWIT SECARA OTOMATIS MENGGUNAKAN FOTO UDARA (Studi Kasus : KHG Bentayan Sumatra Selatan) Devi Irsanti; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.322 KB)

Abstract

      Teknologi foto udara dapat digunakan pada proses pemetaan dalam bidang perkebunan dan pertanian termasuk komoditas kelapa sawit. Komoditas kelapa sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil olahannya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa nonmigas terbesar bagi negara. Kelapa sawit mengalami perkembangan yang cukup pesat hampir setiap tahunnya sehingga  diperlukan strategi monitoring lahan yang efektif dan efisien. Salah satu data yang dapat digunakan untuk monitoring adalah foto udara. Monitoring kelapa sawit dapat dilakukan dengan menerapkan metode template matching dalam proses penghitungan pohon kelapa sawit secara otomatis. Metode ini dapat menghasilkan output berupa jumlah pohon kelapa sawit yang akurat dengan waktu yang cepat. Penelitian ini digunakan data foto udara yang memiliki kualitas spasial tinggi serta dilakukan teknik penajaman citra untuk memperbaiki visual dari data orthophoto sehingga deteksi objek dapat lebih mudah dilakukan. Penelitian ini menerapkan algoritma template matching pada luasan area 100m x 100m, 200m x 200m, dan 250m x 250m sebagai proses pengujian awal, kemudian luasan 1 blok kebun kelapa sawit untuk penelitian keseluruhan. Hasil penghitungan otomatis jumlah pohon kelapa sawit pada data foto dengan teknik HSV diperoleh presentase sebesar 82,4% untuk luasan 1 blok, 88% untuk luasan 250m x 250m, 91,4% untuk luasan 200m x 200m dan 89,8% untuk luasan 100m x 100m. Hasil penghitungan otomatis jumlah pohon kelapa sawit pada data foto original diperoleh presentase sebesar 79,1% untuk luasan 1 blok, 83,2% untuk luasan 250m x 250m, 94,2% untuk luasan 200m x 200m dan 84,4% untuk luasan 100m x 100m.
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adiasti Rizqi Hardini Adib Fahrul Arifin Ahmad Faishal Matazah Putra Ahmad Hidayat Ahmad Iqbal Maulana Lubis Akbar Kurniawan Alan Aji Bintang Alfian Putra Setiadarma Almira Delarizka Alvatara Partogi Hutagalung Amirul Hajri An Nisa Tri Rahmawati Andi Trimulyono Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anggi Karismawati Anggoro Wahyu Utomo Angkoso Dewantoro Arfina Kusuma Putra Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Ariella Arima Aniendra Armenda Bagas Ramadhony Arnita Ikke Sari Arwan Putra Wijaya Arwan Putra Wijaya Asih, Nevi Tri Lestiyo Aulia Budi Andari Aulia Hafizh Aulia, Fatah Avini Sekha Rasina Ayu Hapsari Aditiyanti Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bashit, Nurhadi Bekti Noviana Bella Riskyta Arinda Bram Ferdinand Saragih Chusni Ansori Damara Santi, Anggit Lejar David Jefferson Baris Denni Apriliyanto Desvandri Gunawan Devi Irsanti Devi Nilam Sari Deviana Putri Sunarernanda Dian Ika Aryani DIKA NUZUL RACHMAWATI Dimas Bagus Dita Ariani DITHO TANJUNG PRAKOSO Dwi Nugroho Eko Andik Saputro Eko Didik Purwanto, Eko Didik Elsa Regina Rizkitasari Esa Agustin Alawiyah Ety Parwati Fadhlan Hamdi Fajar Dwi Hastono Farrah - Istiqomah, Farrah - Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Firman Hadi Firman Hadi Firman Hadi Fitra S Pandia Frandi Barata Simamora Fuad Hari Aditya Gabriel Yedaya Immanuel Ryadi Galih Pratiwi Galuh Fitriarestu Santoso Ghazian Hazazi Gilang Yudistira Hilman Gunita Mustika Hati Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hani'ah . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Harmeydi Akbar Hartomo Haryo Kuncoro Haryo Daruwedho Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Hayu Rianasari Hestiningsih Hestiningsih Indah Prasasti Indriyanto, Ignatius Wahyu Innong Pratikina Akbaruddin Jaka Gumelar Jerson Otniel Purba Jhonson Paruntungan Matondang Johan Irawan Kalinda, Icha Oktaviana Putri Khofifatul Azizah Kurniantoro, Ridhwan L. M. Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany LM. Sabri M. Alfarisi Handifa M. Andu Agjy Putra M. Yogi Riyantama Isjoni Mahardika, Anggita Citra Mamei Saumidin Meiska Firstiara Maudi Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohamad Jorgie Prasetyo Monica Apriliana Pertiwi Monika Maharani, Shang Bhetari Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhamad Dicky H. Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Al Kautsar Muhammad Dimas Aji N. Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Helmi Muhammad Hudayawan Nur L Muhammad Ilman Fanani Muhammad Luthfi Muhammad Nur Khafidlin Mulawarman, Reza Al Arif Muna, Nailatul Mustopa, Salsabila Mutiah Nurul Handayani Nainggolan, Yohana Christie Nanang Noviantoro Prasetyo Nandia Meitayusni Nabila Nasrul Arfianto Nevy Dyah Rustikasari Nila Hapsari Nawangwulan Nilasari, Monica NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Niswatul Adibah NOFIANA DIAN RAHAYU Noviar Afrizal Wahyuananto Nur Itsnaini Nurfajrin Dhuha Andani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurul Huda Patriot Ginanjar Satriya Pinastika Nurandani Pitto Yuniar Maharsayanto Pratama Irfan Hidayat Prathanazal, Naufal Maziakiko Prya Adhi Surya Nugraha Putra, Muhammad Adisyah Putri Auliya Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Alifa Salsabilla Raditya Wahyu Utomo Ratih Kumala Dewi Restu Maheswara Ayyar Lamarolla Rina Emelyana Risa Bruri Utami Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Sabri, L M Sabri, L.M. Sabri, LM Samuel Samuel Sari, Devi Nilam Sawitri Subiyanto Sawitri Suprayogi Selli Angelita Sitepu Seprila Putri Darlina Setiaji Nanang Handriyanto Sheehan Maladzi, Havi Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Sinabutar, Julio Jeremia Sindi Rahma Erwanti Sitepu, Selli Angelita Siti Rahayuningsih Sri Purwatik Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syafiri Krisna Murti Syarif Budhiman Theresia Niken Kurnianingsih Tika Murni Asih Tistariawan, Adji Chandra Titis Ismayanti Vauzul Rahmat Victor Andreas Tarigan Vira Febianti Wahyu Eko Saputro Wahyu Setianingsih Wenang Triwibowo, Wenang Widodo, Kukuh Suryo Wili Setiadi Wilma Amiruddin Wiryawan, Ainun Pujo Wisnu Wahyu Wijonarko Yenny Paras Dasuka Yoga Triardhana Yosevel Lyhardo Sidabutar Yudo Prasetyo Yugi Limantara