Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS POLA ARUS LAUT PERMUKAAN PERAIRAN INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2010-2014 Haryo Daruwedho; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1965.904 KB)

Abstract

ABSTRAK  Arus adalah gerakan mengalir suatu massa air yang disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas, atau pergerakan gelombang panjang. Akuisisi data arus menggunakan alat konvensional sangat sulit dilakukan untuk wilayah luas dan memerlukan biaya yang besar, oleh karena itu digunakan data dari satelit Altimetri Jason-2 yang menawarkan data mengenai arah dan kecepatan angin yang nantinya melalui metode perhitungan didapatkan data arus laut permukaan Perairan Indonesia.Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah perairan Indonesia dengan letak geografis 6°08' LU - 11°15' LS, dan dari 94°45' BT - 141°05' BT. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data GDR (Geophysical Data Record) Satelit Altimetri Jason-2 tahun 2010-2014. Data GDR berisikan 36 pass (jalur orbit) dalam satu cycle, dimana satu cycle di tempuh dalam waktu sepuluh hari. Metode yang digunakan adalah perhitungan arah dan kecepatan arus laut permukaan tiap cycle dengan persamaan Stewart.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Saat terjadi angin muson Barat, angin bertiup dari Barat menuju Timur, sehingga arus juga bergerak dari arah Benua Asia menuju ke Benua Australia. Saat terjadi angin muson Timur, angin bertiup dari arah Timur menuju Barat, sehingga arus juga bergerak dari arah Benua Australia menuju ke Benua Asia. Sedangkan saat terjadi musim peralihan, baik saat peralihan dari muson Barat ke muson Timur maupun saat peralihan dari muson Timur ke muson Barat pergerakan arus tidak teratur dan cenderung terbagi menjadi dua arah yakni dari Benua Asia menuju Benua Australia dan dari Benua Australia menuju Benua Asia namun kecepatan arusnya rata-rata adalah lemah di hampir seluruh perairan di Indonesia. Pola arus laut permukaan hasil pemodelan menunjukkan beberapa arah arus yang tidak megikuti model arus Wyrtki, namun tedapat juga beberapa arah arus yang memiliki kemiripan dan mengikuti model arus Wyrtki di lokasi perairan yang dijadikan sampel seperti di Laut Arafuru, perairan sekitar pulau Jawa, perairan sebelah barat pulau Sumatera, perairan sebelah utara pulau Papua, dan Selat Karimata. Kata Kunci : Arus Laut Permukaan, Model Arus Wyrtki, Satelit Altimetri Jason-2   ABSTRACT Ocean Current is a mass movement of flowing water caused by wind, differences in density, or long wave movement. At the present time many ocean currents used for various purposes that support human life. However, current data acquisition using conventional tools is very difficult for the vast territory and require a huge cost, therefore we use data from altimetry satellites. With the development of altimetry satellite system, one of the Jason-2 altimetry satellites which offer data on wind direction and the speed of wind that will go through the calculation method to get the surface ocean currents data of Indonesian waters.This study took place in Indonesian waters which is located within 6 ° 08 'N - 11 ° 15' S and 94 ° 45 'E - 141 ° 05' E. The data used in this research is GDR (Geophysical Data Record) data of Jason-2 altimetry satellites in 2010-2014. GDR data contains 36 pass (the orbital paths) in a single cycle, which one cycle can be reached within ten days. The method used is the calculation of the direction and speed of ocean currents surface of each cycle with Stewart equation.The results of this study indicate that when West monsoon occurs from December to February, the wind is blowing from the West to the East, so the current is also moving from the Asian continent towards the Australian Continent. In the event of East monsoon which is from June to August, the wind is blowing from the East to the West, so the current is also moving from the Australian continent towards the Asian continent. Meanwhile, during a transitional season either the transition from monsoon West to monsoon East which is from March to May and during the transition from monsoon East to monsoon West which is from September to November, the current’s movement is irregular and tend to fall into two directions, ie from the Asian continent towards Australian continent and from the Australian continent to the Asian continent, but the average speed of the current is weak in almost all Indonesian waters. The current pattern of sea surface modeling results indicate some current directions are not the same as Wyrtki current model, but some current directions are also the same as Wyrtki current model in several water location samples such as Arafuru Sea, the water around the Java island, the water west of the Sumatra island, the water north of the Papua island, and the Strait of Karimata. Keywords : Ocean Surface current, Wyrtki current model, Altimetry Satellite Jason-2  *) Penulis Penanggung Jawab
APLIKASI PENANDA LOKASI PETA DIGITAL BERBASIS MOBILE GIS PADA SMARTPHONE ANDROID Gunita Mustika Hati; Andri Suprayogi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.355 KB)

Abstract

Berkunjung ke tempat baru dalam  kota maupun luar kota merupakan hal yang sangat wajar. Permasalahannya adalah terkadang beberapa orang susah mengingat kembali letak suatu tempat ataupun arah rute menuju tempat tersebut. Sehingga meningkatnya mobilitas masyarakat berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan informasi berupa peta digital.  Dalam penelitian ini aplikasi penanda lokasi peta digital berbasis mobile GIS pada smartphone android diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menyimpan data-data lokasi sesuai kebutuhan pengguna.Dengan bantuan Global Positioning System (GPS) yang berfungsi sebagai penunjuk lokasi, Location Based Service (LBS) yang menyediakan informasi berdasarkan letak geografis perangkat mobile, melalui visualisasi Google Maps, maka aplikasi ini akan mudah digunakan. Aplikasi ini dibangun dengan pemograman java Android menggunakan software ADT Bundle yang di dalamnya terdapat Eclipse sebagai editor bahasa pemograman java, ADT sebagai plugin untuk Eclipse, dan SDK untuk kepentingan development aplikasi berbasis Android.Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa aplikasi penanda lokasi peta digital berbasis mobile GIS pada smartphone android. Aplikasi ini memilki beberapa fitur utama seperti input data,  menampilkan list data tersimpan, menampilkan rute pada peta, dan membackup dan mengimpor data.Kata Kunci : Peta Digital, Aplikasi, Smartphone, Android
PEMODELAN DAN PEMETAAN BIOMASSA ATAS PERMUKAAN (ABOVEGROUND BIOMASS) TANAMAN KARET (HEVEA BRASILIENSIS) DENGAN L-BAND BERDASARKAN PENGAMATAN ALOS PALSAR-2 (STUDI KASUS: AFDELING SETRO, KAB. SEMARANG) Ahmad Iqbal Maulana Lubis; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.286 KB)

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara global menimbulkan risiko terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim yang ganas (Marland dan Andres, 2017). Program penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, plus konservasi, pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan stok karbon hutan merupakan salah satu program yang memungkinkan negara-negara berkembang untuk melindungi hutan dan mendapatkan insentif dari penyerapan karbon atau mengurangi emisi dari kebakaran hutan dan kerusakan lain sehingga perlu adanya perhitungan biomassa yang efisien dan efektif. Pada tingkat masyarakat lokal, masyarakat mendapatkan informasi mengenai potensi sumber energi biomassa dan kapasitas serapan karbon yang ada di daerah mereka. Penelitian ini difokuskan untuk mengestimasi biomassa atas permukaan tersebut. Biomassa atas permukaan adalah semua material hidup di atas permukaan termasuk bagian batang, tunggul, cabang, kulit kayu, biji dan daun dari vegetasi.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel tanpa pemanenan dan estimasi dengan hamburan balik radar dengan data utama mosaik Palsar-2. Kemudian mencari korelasi antara hamburan balik radar dengan nilai biomassa atas permukaan atau aboveground biomass (AGB) yang diperoleh dari metode pengambilan sampel tanpa pemanenan, setelahnya dilakukan ekstrapolasi berdasarkan model prediksi yang terbentuk dari korelasi hamburan balik radar dan nilai AGB pada setiap plot sampel.AGB dalam wilayah penelitian berada di antara 0,980 ton/ha hingga 6.421,832 ton/ha, dengan nilai rerata 210,976 ton/ha. Kapasitas AGB di wilayah Afdeling Setro per tahun 2019 yaitu sebesar 216,436 ton/ha. AGB terbesar berada sub-wilayah Rempong dengan jumlah AGB 22.709 ton dan terkecil berada pada sub-wilayah Tempel dengan jumlah AGB 1.679 ton. RMSE yang diperoleh dari perbandingan hasil prediksi  dengan test dataset adalah sekitar 32,812 ton/ha dengan korelasi 82%. Berdasarkan hasil uji statistik didapat bahwa Palsar-2 HH memiliki kemampuan lebih baik dalam mendefinisikan AGB tanaman karet dengan koefisien determinasi (R2) untuk tahun 2017 dan 2018 berturut adalah 0,032 dan 0,111. Namun dengan menggunakan variabel turunan hamburan balik radar yaitu rasio HH dan HV, rerata HH dan HV, dan rasio dua tahun HH dan HV, dan regresi linier berganda, perbaikan diperoleh pada koefisien determinasi (R2) meningkat hingga 0,673. Kata Kunci : Biomassa atas permukaan, Palsar-2, Hamburan balik radar, Regresi linier berganda ABSTRACTThe increasement of greenhouse gases emission globally affects the global warming and climate change risk The increasement of greenhouse gases emission globally affects the global warming and climate change risk (Marland dan Andres, 2017). Huge carbon content in plantation forest potentially increase the climate change and severe global warming, so that important to know carbon capacity from the area. It needs biomass calculation which efficient and effective. At local community level, they’ll get information about their biomass energy potential and carbon absoprtion capacity in their area. This research focuses on modeling and mapping the aboveground biomass. Aboveground biomass is all the living material above the gorund, including trunk, branches, tree bark, seed, and leaves from the vegetation.Method used in this research is non-destructive sampling and estimation by radar backscatter with Palsar-2 mosaic as primary data. And then correlate the radar backscatter and aboveground biomass (AGB) value through non-destructive sampling, after that extrapolation applied based on prediction model formed by the correlation between radar backscatter and AGB value in each plots.Aboveground biomass in the research area was estimated to range from 0,980 to 6.421,832 ton/ha, with an average of 210,976 ton/ha. AGB capacity at the unit of Setro as of 2019 is 216,436 ton/ha. The highest AGB value concerned at sub-region of Kalikopeng with total AGB 16.812,363 ton and the lowest AGB value concerned at sub-region of Tempel with total AGB 1.679 ton. RMSE resulted from comparing the prediction results and the test dataset is about 32,812 ton/ha with 82% correlation. Based on statistical test, it is found HH polarisation is better in defiining AGB of rubber trees with determination coefficient (R2) for 2017 and 2018 respectively are 0,032 dan 0,111. But with using derived radar backscatter consisted of ratio of HH and HV, mean of HH and HV, and the dual-date ratio of HH and HV, and Multivariate Linear Regression is applied, improvement obtained as the determination coefficient (R2) increases up to 0,673.
ANALISIS REKOMENDASI DAERAH PLTP (PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI) MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Risa Bruri Utami; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.7 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak potensi panas bumi yang nantinya dapat digunakan dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik. Keluarnya manifestasi panas bumi menjadi salah satu indikator adanya potensi panas bumi. Langkah awal sebagai kegiatan ekplorasi potensi panas bumi yaitu dengan melakukan kajian karakteristik daerah potensi panas bumi. Pada penelitian ini, identifikasi daerah potensi panas bumi dilakukan dengan menggunakan penginderaan jauh dan memanfaatkan data citra landsat 8. Citra landsat 8 dapat digunakan untuk mengetahui nilai kerapatan vegetasi, suhu permukaan, dan delineasi kelurusan. Penentuan area potensial panas bumi dalam penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografis dengan melakukan pembobotan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP). Parameter yang digunakan berupa hasil Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Land Surface Temperature (LST), dan delineasi kelurusan sedangkan penentuan lokasi PLTP menggunakan analisis intersect dan skala yang digunakan yaitu skala 1:100.000.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penentuan area potensi panas bumi menggunakan metode AHP menghasilkan luasan untuk area tidak berpotensi sebesar 3.761,299 Ha, area kurang berpotensi sebesar 4.608,671 Ha dan area sangat berpotensi sebesar 2.427,309 Ha, sedangkan uji signifikansi yang diperoleh dari metode ini yaitu sebesar 0,925. Hasil rekomendasi lokasi pembangunan PLTP pada kawasan Dieng yaitu sebanyak 9 lokasi dengan luasan maksimal sebesar 16,27795 Ha pada zona 3 dan luasan paling kecil sebesar 0,732819 Ha pada zona 1. Berdasarkan penelitian ini, zona yang paling direkomendasikan yaitu zona 3 karena pada zona tersebut terdapat 4 sumber mata air panas yang mempunyai potensi panas bumi yang besar yaitu wilayah manifestasi Kawah Sileri, Pagerkandang, Sipandu dan Siglagah.
STUDI AREA LONGSOR KOTA DEPOK DENGAN METODE PEMBOBOTAN PARAMETER Adib Fahrul Arifin; Sutomo Kahar; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.739 KB)

Abstract

ABSTRAK   Dalam periode akhir tahun 2014 sudah sekitar 5 kejadian tanah longsor yang menimpa wilayah kota Depok. Untuk itu perlu dibuat peta zona rawan longsor guna menghasilkan informasi mengenai posisi yang berkaitan dengan tingkat kerawanan longsornya di kota Depok. Peta ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam pengambilan keputusan guna tindakan pencegahan terjadinya tanah longsor di daerah yang rawan, sehingga mengurangi jumlah korban jiwa maupun materi dan juga perencanan dalam pembangunan sarana dan prasarana.Penelitian ini menggunakan data citra pengindraan jauh Quickbird dan SIG (Sistem Informasi Geografis) dengan melakukan pembobotan terhadap parameter yang mempengaruhi terjadinya longsor, yaitu: kelerengan, penggunaan lahan, jenis tanah,  ketinggian, dan curah hujan dan membandingkan dua metode pembobotan parameter. Hasil dari Penelitian ini adalah peta kerawanan longsor yang dibagi menjadi lima kelas kerawanan yaitu: tidak rawan, agak rawan, cukup rawan, rawan, dan sangat rawan. Hasil informasi yang didapatkan adalah sebagian besar wilayah kota Depok masuk dalam kelas “agak rawan”, yaitu 48,49% dari total luasnya yaitu sebesar 9316,96232 Ha. Sedangkan sisanya masuk dalam kelas “Tidak Rawan” sebesar 22,27% (4279,860 ha),”Cukup Rawan” 25,57% (4912,882 ha, “Rawan” sebesar 2,98% (573,589 ha), dan”Sangat Rawan” sebesar 0,67% (129,982 ha).Kata Kunci : Tanah Longsor (Landslide), Peta, Kota Depok, Sistem Informasi Geografis  ABSTRACT In the end period of 2014 already 5 landslides that befell the city of Depok. Thus, needed a map of landslide-prone zones in order to generate information about a position with regard to the level of landslide insecurity in the city of Depok. This map can be used as reference in decision making to precautionary the occurrence of landslide in prone area, thus reducing the number of casualties our material and also planning in the development of facilities and infrastructure.This research uses remote sensing imagery Quickbird data and GIS (Geographic Information Systems) by doing  weighting parameters that influence the occurrence of landslides and comparing the two methods of weighting parameters. These parameters are slope, land use, soil type, altitude, and rainfall. The result of this research is map of insecurity the avalanche split into five classes, namely not prone, rather prone, quite a prone, prone, and is very prone. The information obtained is most areas of the city was included in the class “rather prone” as big as 48,49% from total area of Depok as big as 9316,96232 Ha. While the rest was included in the class “not prone” as big as 22,27% (4279,860 Ha), in the class “quite a prone” as big as 25,57% (4912,882 Ha), in the class “prone” as big as 2,98% (573,389 Ha), and in the class “is very prone” as big as 0,67% (129,982 Ha).Kata Kunci: Landslides, Map, Depok, Remote Sensing, Geographic Information Systems           *) Penulis PenanggungJawab
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD UNTUK IDENTIFIKASI PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH DI KABUPATEN SRAGEN Hayu Rianasari; Sawitri Subiyanto; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.614 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Sragen merupakan salah satu wilayah yang sedang berkembang, baik dalam bidang industri, jasa, permukiman, pendidikan, perdagangan, pariwisata maupun transportasi. Seiring dengan perkembangan wilayah tersebut maka terjadi alih fungsi lahan yang merupakan area yang tidak terbangun menjadi area terbangun sehingga akan meningkatkan kepadatan baik kepadatan penduduk maupun kepadatan permukiman. Dengan menggunakan teknik penginderaan jauh, dan dengan adanya citra penginderaan jauh yang multi waktu perubahan penggunaan tanah dapat dipantau dengan mudah dan cepat, sehingga dapat diketahui besar penggunaan tanah terhadap laju pertumbuhan penduduknya.Pada penelitian ini menggunakan citra Quickbird Kecamatan Sragen dan Kecamatan Karangmalang pada tahun 2004 dan tahun 2010. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan koreksi geometrik pada citra Quickbird tahun 2010. Langkah selanjutnya melakukan digitasi on screen dengan AutoCAD pada kedua citra untuk mengetahui penggunaan tanah menurut klasifikasi NSPM 2009 yang dikeluarkan oleh BPN. Kemudian peta diolah dengan software ArcGIS dan melakukan pengolahan dengan analysis tools antara lain dengan Extract dan Overlay sehingga didapatkan peta perubahan penggunaan tanah. Setelah itu, luas perubahan tersebut dihitung menggunakan Calculate Geometry. Pada tahap akhir dilakukan validasi lapangan untuk mengetahui kebenaran hasil interpretasi citra.Berdasarkan klasifikasi penggunaan tanah menurut NSPM 2009 BPN yang muncul di Kecamatan Sragen sebanyak 45 klasifikasi penggunaan tanah dan di Kecamatan Karangmlang sebanyak 25 klasifikasi penggunaan tanah. Perubahan penggunaan tanah yang terjadi pada rentang tahun 2004-2010 di Kecamatan Sragen sebesar 81.200,50 m2 dan di Kecamatan Karangmalang sebesar 138.543,24 m2.
PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DAN KETERKAITANNYA DENGAN TINGKAT KENYAMANAN TERMAL (TEMPERATURE HUMIDITY INDEX) DI KOTA SEMARANG Nurfajrin Dhuha Andani; Bandi Sasmito; Hani’ah Hani’ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1347.592 KB)

Abstract

Perkembangan Kota Semarang di beberapa sektor merupakan upaya untuk menjadikan Kota Semarang yang lebih maju. Namun, di sisi lain terdapat masalah penting yang perlu diperhatikan, yaitu masalah perubahan lahan yang didominasi oleh lahan terbangun yang dapat merubah sifat fisik permukaan dan mempengaruhi iklim perkotaan. Salah satu unsur iklim yang mengalami perubahan dan dapat dirasakan secara langsung adalah suhu. Peningkatan suhu secara periodik dapat memicu terjadinya fenomena Urban Heat Island. Peningkatan suhu cenderung terjadi di pusat kota dibanding di pinggiran kota, karena pusat kota biasanya merupakan pusat kegiatan di berbagai sektor. Peningkatan suhu dari hari ke hari dapat berpengaruh terhadap kenyamanan manusia.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perubahan tutupan lahan berhubungan dengan fenomena Urban Heat Island yang diindikasikan dengan suhu permukaan dan hubungan perubahan tutupan lahan dengan tingkat kenyamanan termal (THI). Analisis dilakukan dengan pendekatan data penginderaan jauh melalui beberapa ekstraksi data, yaitu penggunaan klasifikasi terbimbing, indeks NDVI, pengolahan suhu permukaan, suhu udara, kelembaban udara relatif serta tingkat kenyamanan termal. Pengolahan data dilakukan menggunakan citra satelit Landsat 5 Tahun 2009, Landsat 8 Tahun 2013 dan 2017. Korelasi dilakukan dengan menggunakan uji regresi linear sederhana.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan memiliki hubungan dengan suhu permukaan dan suhu udara. Dengan bertambahnya luasan lahan terbangun, berkurangnya luasan lahan vegetasi dan lahan terbuka dapat menyebabkan perubahan sifat fisik permukaan yang berimplikasi pada peningkatan suhu permukaan dan suhu udara. Peningkatan suhu permukaan yang terjadi akan menyebabkan meluasnya pembentukkan UHI. Meluasnya daerah dengan suhu permukaan yang tinggi menyebabkan daerah yang panas dan kering semakin meluas. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perubahan tutupan lahan dan tingkat kenyamanan termal, semakin bertambahnya luasan lahan terbangun, berkurangnya luasan lahan vegetasi dan lahan terbuka maka nilai tingkat kenyamanan termal meningkat. Meningkatnya nilai THI, menunjukkan kondisi yang tidak nyaman bagi manusia.
ANALISIS PERUBAHAN KERAPATAN HUTAN MENGGUNAKAN METODE NDVI DAN EVI PADA CITRA SATELIT LANDSAT 8 TAHUN 2013 DAN 2016 (Area Studi : Kabupaten Semarang) Nanang Noviantoro Prasetyo; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.284 KB)

Abstract

ABSTRAK Hutan pada dasarnya memiliki peranan penting sebagai penyangga bagi sistem kehidupan, beberapa diantaranya sebagai penyimpan cadangan air dan oksigen. Dengan peningkatan yang pesat pada pembangunan menyebabkan terdegradasinya areal hutan. Kerusakan hutan dalam jangka panjang akan mengakibatkan terganggunya ekosistem hutan dan kehidupan yang ada di sekitarnya.Pemantauan hutan secara berkala perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya degradasi hutan. Metode yang bisa dilakukan dalam pemantauan hutan diantaranya dengan memanfaatkan teknologi pengindraan jauh. Teknologi pengindraan jauh dapat memberi solusi untuk pemantauan hutan skala luas, salah satunya dengan memanfaatkan sensor multispektral pada citra satelit Landsat 8 dengan berbagai macam algoritma pemprosesan indeks vegetasi.Penelitian ini menggunakan algoritma NDVI (Normalize Difference Vegetation Index) dan EVI (Enhanched Vegetation Index) untuk melakukan pemantauan perubahan hutan di Kabupaten Semarang. Metode yang dilakukan yaitu pemrosesan NDVI dan EVI pada citra Landsat 8, selanjutnya mengklasifikasikan kawasan hutan yang ada di Kabupaten Semarang dengan menggunakan metode supervised dengan algoritma maximum likelihood, langkah selanjutnya yaitu mengoverlay antara kawasan hutan dengan hasil dari proses NDVI dan EVI.Dari hasil overlay tersebut didapatkan luasan kerapatan hutan tinggi di Kabupaten Semarang pada tahun 2013 sebesar 25.418,4 Ha untuk NDVI dan 15.149,3 Ha untuk EVI, lalu pada tahun 2016 sebesar 26.677,7 Ha untuk NDVI dan 23.431 Ha untuk EVI. Berdasarkan uji ketelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode survei ubinan didapatkan hasil ketelitian NDVI 53,33% dan EVI 80%. Hasil akhir dari pengolahan didapatkan peta kerapatan Hutan NDVI dan EVI yang dapat digunakan sebagai pemantauan areal hutan yang ada di Kabupaten Semarang.Kata Kunci          : EVI,  Hutan,  NDVI, Pengindraan Jauh.  ABSTRACT Forests basically have an important role as a buffer for the living system, some of them as a reservoir of water and oxygen. With the rapid rise in development leads to the degradation of forest areas.Long-term forest destruction will lead to disruption of forest ecosystems and the surrounding life. Periodic monitoring of forests needs to be done to avoid forest degradation. Methods that can be done in monitoring the forest include by utilizing remote sensing technology. Remote sensing technology can provide solutions for large-scale forest monitoring, one of them by utilizing multispectral sensors on Landsat 8 satellite images with a variety of vegetation index processing algorithms.This research uses NDVI (Normalize Difference Vegetation Index) and EVI (Enhanched Vegetation Index) algorithm to monitor the change of forest in Semarang regency. The method that is done is processing of NDVI and EVI in Landsat 8 image, then classify the forest area in Semarang Regency by using supervised method with maximum likelihood algorithm, the next step is to cover the forest area with the result of NDVI and EVI process.From the results of the overlay is obtained high forest density in Semarang regency in the year 2013 for 25,418.4 Ha for NDVI and 15.149.3 Ha for EVI, then in 2016 amounted to 26.677.7 Ha for NDVI and 23431 Ha for EVI.Based on the accuracy test conducted by using the ubinan survey method obtained the results of NDVI accuracy 53,33% and EVI 80%. The final results of the processing obtained density maps of Forest NDVI and EVI that can be used as monitoring of existing forest area in Semarang regency.Keyword : EVI, Forest, NDVI, Remote Sensing.
DETEKSI ZONASI BANJIR PADA LAHAN SAWAH MENGGUNAKAN CITRA SATELIT TERRA MODIS DAN TRMM (Studi Kasus Kabupaten Demak Jawa Tengah) Latifah Rahmadany; Arief Laila Nugraha; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.382 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu tanaman pangan yang menjadi komoditas utama di Indonesia adalah padi.Namun dengan kondisi cuaca yang ekstrim seperti hujan lebat hingga menyebabkan banjir, maka sawah yang ditanami padi dapat tergenang sehingga mengalami penurunan produktivitas.Dalam rangka membantu pemerintah untuk menentukan kebijakan pengadaan pangan di Indonesia agar tidak terjadi kerentanan pangan yang tinggi, maka diperlukan informasi tentang perkiraan kegagalan panen atau produksi pangan akibat kejadian banjir pada lahan pertanian.Pemantauan banjir dapat dilakukan menggunakan penginderaan jauh. Data penginderaan jauh yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Terra Modis dan data TRMM Desember 2012 – Februari 2013 dan Desember 2013 – Februari 2014  periode 8 harian, Peta luas baku sawah dan Peta administrasi. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten demak yang merupakan salah satu Kabupaten penyangga pangan di Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah metode overlay indeks faktor Enhance Vegetation Index (EVI) dengan curah hujan pada periode yang sama sehingga diperoleh tingkat rawan banjir yang diklasifikasi menjadi 5 kelas. Penentuan potensi banjir juga menggunakan beberapa asumsi yaitu: lahan sawah diasumsikan sebagai sawah tadah hujan sehingga tidak ada aliran air keluar dan masuk lahan sawah, lahan sawah berada di daerah datar (tidak terasering), curah hujan yang melebihi kebutuhan air tanaman akan berpotensi banjir, curah hujan diasumsikan memiliki pengaruh yang lebih besar dari pada indeks vegetasi. Hasil dari penelitian ini adalah daerah yang terdeteksi mengalami banjir periode 8 harian di Kabupaten Demak.Kata kunci: Terra Modis, TRMM, EVI, Curah hujan ABSTRACTOne of the crops which became a main commodity in Indonesia is rice. But in extreme weather such as rain that cause flooding, the rice field can be flooded to have decline in productivity.To facilitate the government to determine the food policy in Indonesia in order to avoid high food insecurity, it’s necessary to have some information about the estimate of crop or food production failures due to flood events on the agricultural land. Flood monitoring can be done using remote sensing. Remote sensing data used in this study is a Terra MODIS  and TRMM  in December 2012 - February 2013 and December 2013 - February 2014 in 8 daily period, standard extensive field map, and administration map. This research was conducted in Kabupaten Demak, which is one of the food buffer districts in Central Java. The method used is the index overlay factors method which combines Enhance Vegetation Index (EVI) with rainfall in the same period in order to obtain the level of flood-prone that is classified into 5 classes. Determination of the flood potential also uses several assumptions, namely: rice fields are assumed as wetland so that there is no water flow in and out of the fields; the fields are located in a flat area (no terracing);  the rainfall that in excess of crop water requirement will be potentially flooding; the rainfall is assumed to have a greater influence than the vegetation index. The resultsofthis studyaredetected of flooded areain 8 daily period in  Kabupaten Demak.Keywords:Terra MODIS, TRMM, EVI, rainfall
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN LAND SUBSIDENCE MENGGUNAKAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) (STUDI KASUS: WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG) Ariella Arima Aniendra; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.283 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah pesisir Kota Semarang memiliki garis pantai dengan lebar 2,5 km-10 km. Aktifitas yang terdapat di wilayah pesisir cukup banyak antara lain sebagai pelabuhan, perumahan penduduk, industri, dan lain sebagainya. Hal tersebut memicu turunnya permukaan tanah yang berakibat adanya abrasi dan akresi. Kota Semarang memiliki nilai laju penurunan muka tanah yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, secara umum nilai laju penurunan muka tanah akan semakin besar jika mendekati pantai.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah atau land subsidence yang terjadi di Kota Semarang. Citra yang digunakan dalam penelitian adalah citra Landsat 8 tahun 2013-2019 dengan metode thresholding untuk mengekstrasi garis pantai. Laju perubahan garis pantai dihitung menggunakan software Digital Shoreline Analysis System (DSAS).Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan garis pantai di Kota Semarang mengalami penambahan sebesar 176,28 meter. Kecamatan yang mengalami akresi terbesar adalah Kecamatan Semarang Barat dengan akresi sebesar 483,34 meter, sedangkan kecamatan yang mengalami abrasi terbesar adalah Kecamatan Genuk dengan abrasi sebesar 486 meter. Hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah di Kota Semarang memiliki korelasi sebesar 0,43852. Hasil korelasi ditinjau berdasarkan tingkat hubungan korelasi termasuk korelasi hubungan yang cukup, sehingga jika perubahan garis pantai semakin mengalami kemunduran (abrasi) maka semakin tinggi nilai land subsidence di wilayah tersebut. Kata kunci: Abrasi, Akresi, Digital Shoreline Analysis System, Garis Pantai, Land Subsidence ABSTRACTThe coastal area of Semarang City has a coastline of 2.5 km-10 km. There are quite a lot of activities in the coastal areas, among others, as a port, residential population, industry, and so on. This triggers land subsidence which results in abrasion and accretion. The city of Semarang has a value of the rate of land subsidence that differs from one place to another, in general the value of the rate of land subsidence will be even greater if it approaches the coast.This study was conducted to determine the relationship of changes in coastline with land subsidence that occurred in the city of Semarang. The image used in the study is Landsat 8 in 2013-2019 with the thresholding method to extract the coastline. The rate of shoreline change is calculated using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) software.The results showed that the average change in coastline in the city of Semarang had increased by 176.28 meters. The sub-district that experienced the greatest accretion was the West Semarang sub-district with an accretion of 483.34 meters, while the sub-district that experienced the greatest abrasion was the Genuk sub-district with an abrasion of 486 meters. The relationship of shoreline changes with land subsidence in Semarang City has a correlation of 0.43852. Correlation results are reviewed based on the level of correlation, including sufficient correlation, so that if changes in the coastline experience a decline (abrasion), the higher the value of land subsidence in the region.
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adiasti Rizqi Hardini Adib Fahrul Arifin Ahmad Faishal Matazah Putra Ahmad Hidayat Ahmad Iqbal Maulana Lubis Akbar Kurniawan Alan Aji Bintang Alfian Putra Setiadarma Almira Delarizka Alvatara Partogi Hutagalung Amirul Hajri An Nisa Tri Rahmawati Andi Trimulyono Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anggi Karismawati Anggoro Wahyu Utomo Angkoso Dewantoro Arfina Kusuma Putra Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Ariella Arima Aniendra Armenda Bagas Ramadhony Arnita Ikke Sari Arwan Putra Wijaya Arwan Putra Wijaya Asih, Nevi Tri Lestiyo Aulia Budi Andari Aulia Hafizh Aulia, Fatah Avini Sekha Rasina Ayu Hapsari Aditiyanti Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bashit, Nurhadi Bekti Noviana Bella Riskyta Arinda Bram Ferdinand Saragih Chusni Ansori David Jefferson Baris Denni Apriliyanto Desvandri Gunawan Devi Irsanti Devi Nilam Sari Deviana Putri Sunarernanda Dian Ika Aryani DIKA NUZUL RACHMAWATI Dimas Bagus Dita Ariani DITHO TANJUNG PRAKOSO Dwi Nugroho Eko Andik Saputro Eko Didik Purwanto, Eko Didik Elsa Regina Rizkitasari Esa Agustin Alawiyah Ety Parwati Fadhlan Hamdi Fajar Dwi Hastono Farrah - Istiqomah, Farrah - Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Firman Hadi Firman Hadi Firman Hadi Fitra S Pandia Frandi Barata Simamora Fuad Hari Aditya Gabriel Yedaya Immanuel Ryadi Galih Pratiwi Galuh Fitriarestu Santoso Ghazian Hazazi Gilang Yudistira Hilman Gunita Mustika Hati Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hani'ah . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Harianto Harianto Harmeydi Akbar Hartomo Haryo Kuncoro Haryo Daruwedho Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Hayu Rianasari Hestiningsih Hestiningsih Indah Prasasti Indriyanto, Ignatius Wahyu Innong Pratikina Akbaruddin Jaka Gumelar Jerson Otniel Purba Jhonson Paruntungan Matondang Johan Irawan Kalinda, Icha Oktaviana Putri Khofifatul Azizah Kurniantoro, Ridhwan L. M. Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany LM. Sabri M. Alfarisi Handifa M. Andu Agjy Putra Mamei Saumidin Meiska Firstiara Maudi Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohamad Jorgie Prasetyo Monica Apriliana Pertiwi Monika Maharani, Shang Bhetari Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhamad Dicky H. Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Al Kautsar Muhammad Dimas Aji N. Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Helmi Muhammad Hudayawan Nur L Muhammad Ilman Fanani Muhammad Luthfi Muhammad Nur Khafidlin Mulawarman, Reza Al Arif Muna, Nailatul Mutiah Nurul Handayani Nainggolan, Yohana Christie Nanang Noviantoro Prasetyo Nandia Meitayusni Nabila Nasrul Arfianto Nevy Dyah Rustikasari Nila Hapsari Nawangwulan Nilasari, Monica NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Niswatul Adibah NOFIANA DIAN RAHAYU Noviar Afrizal Wahyuananto Nur Itsnaini Nurfajrin Dhuha Andani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurul Huda Patriot Ginanjar Satriya Pinastika Nurandani Pitto Yuniar Maharsayanto Pratama Irfan Hidayat Prathanazal, Naufal Maziakiko Prya Adhi Surya Nugraha Putra, Muhammad Adisyah Putri Auliya Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Alifa Salsabilla Raditya Wahyu Utomo Ratih Kumala Dewi Restu Maheswara Ayyar Lamarolla Rina Emelyana Risa Bruri Utami Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Sabri, L M Sabri, L.M. Sabri, LM Samuel Samuel Sari, Devi Nilam Sawitri Subiyanto Sawitri Suprayogi Selli Angelita Sitepu Seprila Putri Darlina Setiaji Nanang Handriyanto Sheehan Maladzi, Havi Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Sinabutar, Julio Jeremia Sindi Rahma Erwanti Sitepu, Selli Angelita Siti Rahayuningsih Sri Purwatik Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syafiri Krisna Murti Syarif Budhiman Theresia Niken Kurnianingsih Tika Murni Asih Tistariawan, Adji Chandra Titis Ismayanti Vauzul Rahmat Victor Andreas Tarigan Vira Febianti Wahyu Eko Saputro Wahyu Setianingsih Wenang Triwibowo, Wenang Wili Setiadi Wilma Amiruddin Wiryawan, Ainun Pujo Wisnu Wahyu Wijonarko Yenny Paras Dasuka Yoga Triardhana Yosevel Lyhardo Sidabutar Yudo Prasetyo Yugi Limantara