Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PENGUKURAN BIDANG TANAH DENGAN MENGGUNAKAN GPS PEMETAAN Armenda Bagas Ramadhony; Moehammad Awaluddin; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.203 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengukuran dan pemetaan bidang tanah merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam pendaftaran tanah. Kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dan pemetaan pada batas-batas bidang tanah dengan menggunakan metode terestrial, fotogrametris, penginderaan jauh, dan dengan metode-metode lainnya. Namun dengan semakin maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini, kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang tanah dapat dilakukan dengan menggunakan metode eksterestrial menggunakan receiver GPS yang mempunyai ketelitian tinggi dengan waktu yang relatif singkat.Kegiatan yang dilakukan dalam penenelitian ini adalah pengukuran bidang tanah dengan kriteria kondisi daerah terbuka dan perumahan menggunakan GNSS metode absolut dan rapid static yang diikatkan pada base station CORS Kota Semarang (CSEM), yang selanjutnya hasil koordinat (X,Y) dan luas dari pengukuran bidang tanah tersebut dibandingkan dengan hasil pengukuran bidang tanah dengan metode terestrial yaitu Total Station.Hasil pengukuran dan pengolahan bidang tanah menggunakan Total Station dipakai sebagai acuan. Pada pengukuran GNSS metode absolut di daerah terbuka mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 3,033 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 9,239 m², kemudian pengukuran di daerah perumahan  mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 2,915 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 7,948 m². Berikutnya, pada pengukuran GNSS metode rapid static di daerah terbuka mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 0,864 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 2,494 m², kemudian pengukuran di daerah perumahan  mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 0,649 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 3,771 m².
ANALISIS HUBUNGAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP SUHU PERMUKAAN TERKAIT FENOMENA URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT (STUDI KASUS: KOTA SURAKARTA) Arfina Kusuma Putra; Abdi Sukmono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1819.898 KB)

Abstract

Kota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang saat ini tengah mengalami perkembangan yang pesat. Berkat perkembangannya yang pesat, Kota Surakarta menjadi tujuan urbanisasi. Seiring dengan peningkatan urbanisasi terjadi perubahan tutupan lahan, dari area bervegetasi menjadi daerah terbangun. Proses pembangunan yang diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk akan mempengaruhi luasan lahan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan sehari-hari serta mempengaruhi kenaikan suhu yang memicu adanya fenomena pulau bahang (Urban Heat Island).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan tutupan lahan terhadap suhu permukaan terkait fenomena Urban Heat Island Kota Surakarta. Fenomena pulau bahang (Urban Heat Island) dianalisis dengan menggunakan pendekatan data penginderaan jauh melalui beberapa ekstraksi yaitu pemanfaatan klasifikasi terbimbing (Supervised), NDVI (NormalizedDifferenceVegetationIndex) dan LST (Land Surface Temperature). Pengolahan data dilakukan menggunakan citra satelit Landsat Tahun 1997, 2007, dan tahun 2016. Hasil pengolahan berupa distribusi suhu permukaan kemudian dikorelasikan dengan nilai indeks vegetasi dan perubahan tutupan lahan menggunakan analisis korelasi spasial dan uji regresi linear sederhana.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan dan indeks vegetasi memiliki korelasi dengan suhu  permukaan. Hasil uji regresi sederhana antara perubahan luas lahan terbangunterhadap suhu permukaan menghasilkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 99,8%.Hasil analisi korelasi spasial antara nilai indeks vegetasi dengan suhu permukaan menghasilkan nilai korelasi sebesar 66,63% untuk tahun 1997 dengan tahun 2007, dan 17,53% untuk tahun 2007 dengan tahun 2017.Perbedaan suhu permukaan antara pusat Kota Surakarta dengan daerah sub urban adalah sebesar ± 1-2,5°C. Perbedaan suhu antara pusat Kota Surakarta dengan daerah sub urban tersebut menjadi indikator kuat terjadinya urban heat island di Kota Surakarta.
PEMBUATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERSEBARAN LEMBAGA KURSUS BAHASA INGGRIS BERBASIS ANDROID (Studi Kasus Desa Tulung Rejo dan Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri ) Fadhlan Hamdi; Andri Suprayogi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.16 KB)

Abstract

ABSTRAKDesa Tulung Rejo dan Desa Pelem terletak di Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, Jawa Timur.Dikedua desa yang lebih umum dikenal dengan nama Kampung Inggris ini, tersebar 104 lembaga kursus bahasa Inggris. Dengan  lokasi yang cukup luas dan padat serta banyaknya jumlah lembaga kursus yang ada, ketersediaan akan informasi mengenai nama lembaga, lokasi dan fasilitas masih sangat sedikit. Oleh karena itu diperlukan sistem informasi geografis dimana sistem ini memberikan  dan mengatur informasi baik data spasial ataupun non spasial.Penelitian ini menggunakan data koordinat yang diperoleh dari GPS Handheld. Proses pembuatan sistem informasi geografis dimulai dari perancangan aplikasi, yang terdiri dari perancangan dan skenario use case, activity diagram, class diagram dan perancangan user interface.Tahapan selanjutnya adalah pengkodean aplikasi dengan menggunakan bahasa pemrograman HTML5 menggunakan Framework Ionic. Tahapan akhir dari proses pembuatan aplikasi adalah dengan menguji coba aplikasi menggunakan emulator pada pc untuk memastikan aplikasi telah sesuai dengan rancangan, setelah uji coba tersebut berhasil dapat digunakan pada smartphone Android.     Penelitian tugas akhir ini menghasilkan sebuah aplikasi mobileGIS tentang lembaga kursus bahasa Inggris di Desa Tulung Rejo dan Desa Pelem.Pada aplikasi ini terdapat informasi mengenai lembaga kursus, lokasi, fasilitas dan beberapa informasi pendukung. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi yang dapat dikembangkan untuk memberikan informasi- informasi lain dimasa yang akan datang.Kata kunci:Aplikasi  Mobile GIS, HTML5, Ionic, Kampung Inggris, Sistem Informasi Geografi,  ABSTRACTTulung Rejo village and Pelem village were located in Pare District, Kediri Regency, East Java. On these villages which were generally known as "Kampung Inggris", spreaded 104 english courses. By having wide-large area and large number of the courses, it still have less informations such as the names, locations, and facilities of those courses. In order to accomplish this problem, it was needed geographic information system to manage and provide spatial and non spatial data.This research used coordinate data which was gotten by GPS handheld. First step was by designing an application, which consisted of use case scenario, activity diagram, class diagram, and user interface. The second was by coding the application using HTML 5 by framework ionic. The last was by running the application using emulator of pc for ensuring the application was match with the first plan. After it perfectly fixed, it can be appropriately compatible on AndroidThe output of this research was a mobile GIS application which had an informations about the courses at Tulung Rejo Village and Pelem Village. It offered the names, locations, facilities, and some other supporting informations. It was expected this application can provide useful informations and hopefully this research can be developed in the future.Keywords: GIS, HTML5, Ionic, Kampung Inggris, Mobile GIS Application *) Penulis Penanggungjawab
PEMODELAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA GEREJA BLENDUK UNTUK KONSERVASI DENGAN METODE TERRESTRIAL LASER SCANNER Nasrul Arfianto; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.504 KB)

Abstract

ABSTRAKBangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding dan beratap. Sebagai tempat tujuan wisata favorit di provinsi Jawa Tengah-Semarang mempunyai banyak pilihan yang tepat untuk dikunjungi, salah satunya adalah kawasan kota lama. Ada sebuah bangunan yang  wajib dikunjungi ketika berada di kota lama yaitu gereja Blenduk yang dibangun pada tahun 1753. Usia bangunan yang lebih dari 250 tahun menjadikan gereja Blenduk sangat layak dan pantas untuk dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya. Maka dari itu harus dilakukan konservasi maupun pelestarian agar tetap terjaga secara utuh keaslian bangunan tersebut.Perkembangan dunia survei dan pemetaan sangatlah pesat. Di era modern saat ini, pemanfaatan teknologi terrestrial laser scanner (TLS) dapat memberikan solusi dalam pendokumentasian suatu bangunan maupun pengukuran topografi. Laser scanner digunakan untuk keperluan pengukuran objek-objek yang rumit dan memerlukan tingkat ketelitian tinggi. Pengambilan data dilaksanakan dengan teknologi FARO Laser Scanner Focus 3D menggunakan metode target to target registration. Hasil proses scanning (penyiaman) data berupa points clouds (titik-titik awan) dalam bentuk tiga dimensi. Pengolahan data dalam pengukuran ini dengan perangkat lunak Scene 5.1.Dalam penelitian tugas akhir ini, hasil yang dicapai adalah model 3D bangunan cagar budaya gereja Blenduk. Proses pengolahan data juga menggunakan perangkat lunak Autodesk Revit 2014 untuk membuat model 3D solid. Hasil registasi data diperoleh total nilai RMS 0.032 m dengan nilai rata-rata RMS di setiap scanworld (titik berdiri alat) adalah 0.004 m. Hasil pengukuran TLS dan pengukuran electronic total station (ETS) dilakukan uji perbandingan panjang antar sisi untuk mengetahui data kualitas hasil ukuran, diperoleh nilai RMS sebesar 0.00446318 m. Kata Kunci: Electronic Total Station, Gereja Blenduk, Model 3D, Terrestrial Laser ScannerABSTRACTHeritage building has built from natural or human made objects full fill the space of walls and or no walls and roof. As a favorite tourist destination in the province of Central Java-Semarang has many options right to visit, one of them is the old town area. A building that must be visited in the old town area namely Blenduk Church was built in 1753. The building more than 250 years old was made Blenduk church very reasonable to be a heritage building. Therefore, it needs  conservation and preservation to keep the authenticity of the building.The development of surveying and mapping are very rapid. In this modern era, the using of terrestrial laser scanner technology can gives the solution to document of a building and topography measurements. Laser scanner is use to measurement the difficult objects which need a high degree of precision. Data collection was carried out with the FARO Laser Scanner Focus 3D technology that is using target to target registration method. Result of data scanning process is point clouds data in three dimension state. The data processing use software Scene 5.1 in this measurement.In this final task research, the result achieved was 3D model of Blenduk church heritage building. The data processing use software Autodesk Revit 2014 to create a 3D solid model. The result of registration data is reach the total number RMS value 0.032 m, with an average of RMS value 0.004 m in each scanworld. The measurement result of  TLS and ETS was tested the size of the length between sides to knew the quality of measurement result data with the final result of RMS around 0.00446318 m. Keywords: Blenduk Church, Electronic Total Station, Model 3D, Terrestrial Laser Scanner
ANALISIS PERBANDINGAN DATA CITRA SATELIT EOS AQUA/TERRA MODIS DAN NOAA AVHRR MENGGUNAKAN PARAMETER SUHU PERMUKAAN LAUT Deviana Putri Sunarernanda; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.782 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Suhu permukaan laut (SPL) merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mendeteksi potensi sebaran ikan di laut. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur SPL adalah pengindraan jauh dengan memanfaatkan data citra satelit. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit Aqua, Terra dan NOAA dari tahun 2010 - 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPL di wilayah utara Papua pada tahun 2010 - 2012 berdasarkan citra satelit yang digunakan serta untuk mengetahui perbandingan data citra satelit dengan data Buoy sebagai data validasi lapangan.Metode pengolahan data dilakukan menggunakan skrip bahasa pemrograman menggunakan software pemrograman yang dibangun untuk mendapatkan nilai SPL dengan mengkompilasi data. Hasil pengolahan akan dilakukan sortir data, penyamaan waktu antara data citra satelit dengan data Buoy, perhitungan rata-rata SPL bulanan dan tahunan, perhitungan nilai bias dan RMSE, pembuatan grafik dan scatterplot, serta penggambaran peta sebaran SPL.Hasil dari penelitian menunjukkan nilai SPL di utara Papua mengalami penurunan setiap tahunnya dengan pola yang dihasilkan adalah pola acak. Dari ketiga citra satelit yang digunakan, data citra satelit NOAA dinilai paling mampu merepresentasikan kondisi SPL di lapangan. Dimana nilai bias dan RMSE pada data NOAA sebesar -0,43 dan 0,2228. Berdasarkan uji statistika, terdapat korelasi antara data citra satelit Aqua, Terra, dan NOAA terhadap data Buoy. Kemudian ada perbedaan antara nilai rata-rata SPL dari data citra satelit dan Buoy dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Kata Kunci:  Aqua, Buoy, NOAA, SPL dan Terra. ABSTRACT Sea surface temperature (SST) is one of the parameters which can be used to detect the potential of fish distribution in the sea. One of method which can be used to measure the SST to utilize remote sensing satellite imagery. The data used in this study are the Aqua, Terra and NOAA satellite imagery  from 2010 until 2012. This study purpose is to find out the value of SST in the northern region of Papua in 2010 to 2012 from satellite imagery and also to compare the satellite imagery with Buoy data as a field validation data.The methode of processing is used a script programming language by using the programming software which built to get the SST value by compiling data. The next step when the previous processing result has out are selecting the data, emulating the time between the satellite imagery with the Buoy Data, average monthly and yearly SST calculation, noise and RMSE value calculation, making the graphic and scatterplot, and also the depiction of SST distribution maps.The result shows the value of SST in northern Papua has decreased every year with a random pattern. From the three satellite imagery which are used in this research, NOAA imagery is the most imagery which can represent the condition of the SST on real field. It is due to the value of the noise and RMSE on NOAA are about -0.43 and 0.2228. Based on statistic test, there is a correlation between the Aqua, Terra and NOAA imagery and Buoy Data. Then, there is a difference between the value of the average SST temperature data from satellite imagery and Buoy with a confidence level of 95%. Keywords:  Aqua, Buoy, NOAA, SST and Terra.
ANALISIS FREE SPAN PADA JALUR PIPA BAWAH LAUT MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER DAN SIDE SCAN SONAR Studi Kasus: Pipa Gas Transmisi SSWJ (South Sumatera West Java) Jalur Pipa Gas Labuhan Maringgai-Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara Persero (Tbk) Sindi Rahma Erwanti; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.703 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara dengan kondisi yang rawan terjadi bencana alam, kondisi tersebut dikenal sebagai hazard. Pemicu dari hazard ini berupa aktivitas manusia. Salah satu aktivitas manusia yang menjadi pemicu hazard yaitu pembangunan jembatan pipa bawah laut. Pada area penelitian memiliki kondisi ketidakrataan topografi dan adanya jembatan pipa bawah laut. Dampak yang ditimbulkan dari kondisi tersebut dapat menyebabkan terjadinya free span.Analisis free span dilakukan setelah proses inspeksi pasca instalasi. Pendeteksian free span pada jalur pipa bawah laut tersebut menggunakan metode multibeam echosounder dan side scan sonar. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain raw data multibeam echosounder, data side scan sonar setelah real-time processing, data sound velocity profile dan data pasang surut. Multibeam echosounder (MBES) dimanfaatkan untuk survei batimetri, yaitu survei yang dimaksudkan untuk mendapatkan data kedalaman dan topografi dasar laut. Sedangkan, Side Scan Sonar (SSS) dimanfaatkan untuk interpretasi obyek secara kualitatif maupun kuantitatif.Penelitian ini menghasilkan kondisi dasar laut yang memiliki kondisi topografi yang relatif curam. Area penelitian yang memiliki topografi yang relatif curam terdapat pada KP 111.62 – KP 111.83. Kondisi free span teridentifikasi pada 4 lokasi di area penelitian. Lokasi FS_1 memiliki panjang span sebesar 94,4 meter dan tinggi span sebesar 3,31 meter.  Lokasi FS_2 memiliki panjang span sebesar 93,94 meter dan tinggi span sebesar 10,66 meter.  Lokasi FS_3 memiliki panjang span sebesar 58,12 meter dan tinggi span sebesar 1,87 meter.  Lokasi FS_4 memiliki panjang span sebesar 98,4 meter dan tinggi span sebesar 4,93 meter. Indikasi free span dari hasil pengolahan data multibeam echosounder dan side scan sonar tidak dapat mengidentifikasi hazard yang membahayakan pada lokasi penelitian.Kata Kunci          : Pipa, Free Span, Multibeam Echosounder, Side Scan Sonar, Hazard ABSTRACTIndonesia is a country with the condition which is prone to trigger a natural disasters and it is called a hazard. The trigger of hazard could be a human activity. The human activity which triggers hazards is the construction of pipe bridge under the sea. This research area has an unevenness topography and pipe bridge under the sea. The impact of these conditions can lead to a free span.Free span analysis carried out after post-installation inspection process. The detection of free span on the underwater pipeline uses Multibeam Echosounder and Side Scan Sonar. The data which is used for this research are raw data Multibeam Echosounder, Side Scan Sonar data after real-time processing, sound velocity profile data and tide data. Multibeam Echosounder (MBES) is used for the the bathymetric survey to obtain the depth data and the seafloor topography. Meanwhile, Side Scan Sonar (SSS) is used for the interpretation of topography qualitative and quantitative objects.This research resulted in the condition of the sea floor that is a relative steep. Areas of the research that has a relative steep topography contained in KP 111.62- KP 111.83. Conditions of the free span  identified in four locations in the study area. Location FS_1 has a span length of 94.4 meters and a span height of 3.31 meters. Location FS_2 has a span length of 93.94 meters and a span height of 10.66 meters. Location FS_3 has a span length of 58.12 meters and a span height of 1.87 meters. Location FS_4 has a span length of 98.4 meters and a span height of 4.93 meters. The free span indication which is resulted of multibeam echosounder and side scan sonar data processing can not identify the hazard on the study area.Key words             : Pipe, Free Span, Multibeam echosounder, Side Scan Sonar, Hazard*) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP EKSISTENSI MANGROVE MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) TAHUN 2014-2018 (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL) Ghazian Hazazi; Bandi Sasmito; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.611 KB)

Abstract

Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 99.093 kilometer sehingga membuat  Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang. Namun, akibat berbagai macam faktor menyebabkan garis pantai mengalami abrasi yang berakibat berkurangnya wilayah pesisir. Salah satu cara untuk mencegah atau mengurangi abrasi adalah dengan cara menanam mangrove di sepanjang garis pantai. Ekosistem mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung garis pantai dari abrasi, mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan atau akresi, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kerapatan mangrove terhadap perubahan garis pantai di pesisir Kabupaten Kendal. Pada penelitian ini menggunakan citra Landsat 8 tahun 2014-2018 untuk mendapatkan perubahan garis pantai dan indeks vegetasi berdasarkan pengolahan indeks vegetasi NDVI. NDVI digunakan untuk memetakan kerapatan vegetasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan garis pantai di Kabupaten Kendal dengan menggunakan aplikasi DSAS mengalami penambahan sebesar 10,487 m. Perubahan luasan mangrove di pesisir Kabupaten Kendal mengalami kenaikan pada tahun 2014-2018 sebesar 427,50 ha. Kecamatan yang mengalami penambahan luas mangrove paling besar adalah Kecamatan Kaliwungu sebesar 152,32 ha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan perubahan garis pantai dengan kerapatan mangrove di pesisir Kabupaten Kendal menggunakan regresi linear sederhana memiliki korelasi sebesar 0,592. Hasil korelasi apabila ditinjau dari tingkat hubungan korelasi termasuk korelasi kuat. Berdasarkan perhitungan uji F hubungan kerapatan mangrove dengan perubahan garis pantai memiliki pengaruh signifikan, sehingga jika perubahan garis pantai semakin meningkat atau mengalami penambahan (akresi) maka nilai NDVI atau kerapatan mangrove akan cenderung meningkat.
KAJIAN AKURASI PENENTUAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 (Studi Kasus Kabupaten Lampung Timur) Victor Andreas Tarigan; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.987 KB)

Abstract

Garis pantai adalah garis imajiner yang menunjukkan pertemuan pantai (daratan) dan air (lautan). Walaupun secara periodik permukaan air laut selalu  berubah suatu tinggi muka air tertentu yang tetap harus dipilih untuk menjelaskan posisi garis pantai. Seiring berkembangnya teknologi, penginderaan jauh dapat digunakan untuk penentuan garis pantai. Metode penginderaan jauh dapat dilakukan dengan cepat dan menjangkau daerah yang luas.Penentuan garis pantai menggunakan citra Landsat dilakukan dengan mengaplikasikan rumus BILKO, AGSO dan Tresholding untuk membedakan daratan dan lautan. Penentuan garis pantai menggunakan citra Landsat ini dilakukan dengan mendigitasi batas antara air dan daratan.  Penentuan garis pantai menggunakan data pengukuran metode terestris dilakukan dengan menginterpolasi titik-titik data kedalaman, sehingga terbentuk DEM, dari DEM tersebut akan dibentuk kontur sesuai jam perekaman citra yakni + 0,688 untuk 27 Agustus 2017 dan + 0,611 untuk 12 September 2017.Hasil akhir penelitian ini menunjukkan langkah-langkah penentuan garis pantai menggunakan citra Landsat dan langkah-langkah penentuan garis pantai menggunakan data pengukuran dengan metode terestris. Akurasi garis pantai dari data citra Landsat terhadap garis pantai dari data pengukuran metode terestris dihitung berdasarkan PERKA BIG No 15 Tahun 2014. Metode pengapilkasian rumus BILKO memiliki ketelitian horizontal sebesar 27,712 untuk 27 Agustus 2017 dan 28,209 untuk 12 September 2017. Metode pengapilkasian rumus AGSO memiliki ketelitian horizontal sebesar 28,407 untuk 27 Agustus 2017 dan 29,555 untuk 12 September 2017. Metode Thresholding memiliki ketelitian horizontal sebesar 22,481 untuk 27 Agustus 2017 dan 23,799 untuk 12 September 2017. Bedasarkan nilai ketelitian horizontal, ketiga metode tersebut masuk kedalam kelas 2 pada skala 1 : 100.000.
ANALISIS KETELITIAN DATA PEMODELAN 3 DIMENSI DENGAN METODE TRAVERSE DAN METODE CLOUD TO CLOUD MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER Alvatara Partogi Hutagalung; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.029 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Tingkat ketelitian dalam suatu pengukuran saat ini sangatlah penting untuk diperhatikan. Seiring dengan perkembangan teknologi, tingkat ketelitian dalam suatu pengukuran juga semakin bergerak ke arah yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Salah satunya yang berkembang saat ini teknologi untuk melakukan survei suatu objek tiga dimensi adalah Terrestrial Laser Scanner (TLS). Metode pengukuran TLS tersebut sendiri ada 4 yaitu : metode Cloud to Cloud, metode Target to Target, metode Traverse, dan metode kombinasi.                Ketelitian metode Traverse dan metode Cloud to Cloud ini akan diuji tingkat ketelitiannya dengan melakukan pengujian pada dua parameter, yakni pada metode registrasi dan hasil visualisasi model tiga dimensi. Metode yang dilakukan dalam uji ketelitian ini melakukan uji internal dengan perhitungan ketelitian hasil registrasi model point cloud antar metode registrasi pada software dan uji eksternal dengan melakukan analisis perbandingan jarak sisi bangunan menggunakan Total Station dan perhitungan uji statistik serta melakukan analisis hasil visualisasi model tiga dimensi antar metode sehingga akan didapatkan hasil metode mana yang lebih teliti antara metode Traverse atau metode Cloud to Cloud pada pemodelan tiga dimensi suatu objek.                Penelitian ini menghasilkan perbandingan ketelitian metode Traverse sebesar ±0,0285 meter dan metode Cloud to Cloud sebesar ±0,0173 meter dengan ketelitian linear jaring poligon 7 titik kategori orde 4 sebesar 1 : 6867,9 meter pada Patung Pangeran Diponegoro serta ketelitian metode Traverse sebesar ±0,0401 meter dan metode Cloud to Cloud sebesar ±0,0213 meter dengan ketelitian linear jaring poligon 13 titik kategori orde 4 sebesar 1 : 6246,6 meter pada Gedung Prof. Sudarto S.H. Berdasarkan hasil ketelitian yang telah didapat dapat disimpulkan bahwa metode Cloud to Cloud akan menghasilkan model tiga dimensi dengan tingkat ketelitian geometrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode Traverse serta metode Cloud to Cloud akan menghasilkan model tiga dimensi yang lebih teliti apabila digunakan untuk melakukan pemodelan tiga dimensi terhadap objek yang memiliki dimensi kecil. Berdasarkan hasil visualisasi model tiga dimensi antara kedua metode registrasi didapatkan hasil bahwa kedua metode menghasilkan model yang tidak berbeda dan sama baiknya apabila digunakan pada satu jaring poligon serta mode pengukuran yang sama yakni ­mode detail dengan daya scan maksimal hingga 120.000 titik/detik yang digunakan pada penelitian ini terhadap objek penelitian.                Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada para pengguna Terrestrial Laser Scanner sebagai referensi mengenai tingkat ketelitian antara metode Traverse dan Cloud to Cloud dalam pelaksanaan pengukuran sehingga dapat menentukan metode mana yang dianggap lebih baik diterapkan terhadap suatu objek pada pemodelan tiga dimensi menggunakan alat Terrestrial Laser Scanner. 
KAJIAN PEMODELAN DASAR LAUT MENGGUNAKAN SIDE SCAN SONAR DAN SINGLEBEAM ECHOSOUNDER Wisnu Wahyu Wijonarko; Bandi Sasmito; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.062 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengetahuan mengenai topografi dasar laut bermula dari pemetaan-pemetaan yang sudah lama dilakukan pada jaman dahulu. Mengingat jangkauan dan kemampuan yang terbatas pada penerapan visual lingkungan bawah air, sonar telah menjadi solusi pilihan untuk pengamatan dasar laut sejak dimulai pada tahun 1950-an. Hasil pencitraan side scan sonar disajikan dalam bentuk 2 dimensi (2D). Namun pada perkembangannya banyak gambar 2D side scan sonar yang bisa diubah menjadi representasi 3D.Model 3D dasar laut dilakukan dari hasil citra side scan sonar dan data singlebeam echosounder sebagai data kedalaman. Lokasi penelitian yang diambil berada di wilayah utara perairan kota semarang. Data yang digunakan meliputi raw data side scan sonar, singlebeam echosounder, multibeam echosounder, pasut dan sound velocity profiler. Hasil perpaduan dari side scan sonar-singlebeam echosounder akan dibandingkan dengan data dari multibeam echosounder.Model 3D dasar laut yang dihasilkan oleh perpaduan SSS-SBES memiliki topografi yang relatif datar dengan kedalaman antara 9 meter sampai dengan 12 meter dan objek dapat teridentifikasi secara baik. Perbandingan koordinat objek antara SSS-SBES dengan MBES memiliki selisih jarak yaitu : SPM: 5,512 meter; P1: 3,178 meter; P2: 7,392 meter; P3: 8,362 meter; dan P4: 6,853 meter. perbedaan nilai kedalaman masing-masing sebesar P1: -0,9 meter; P2: -0,8 meter; P3: -1,3 meter; dan P4: -1,1 meter. Pada SSS-SBES nilai kedalamanya hanya didpatkan sepanjang lajur survei sehingga tidak mampu memberikan nilai kedalaman yang pasti diluar garis survei. perhitungan kedalaman menggunakan IHO-SP44, perhitungan menggunakan titik sample 94% titik sample memenuhi orde 1a dan pada perhitungan menggunakan sample lajur profil didapatkan sebesar 78,6% memenuhi orde 1a.Kata Kunci : 3D dasar laut,  Side scan sonar, Singlebeam echosounder  ABSTRACT Knowledge of the topography of the ocean floor begins with mappings that have been long established in antiquity. Given the range and capabilities are limited to a visual application of underwater environments, sonar has become the choice of solution for the observation of the ocean floor since it began in the 1950s. Side scan sonar imaging results are presented in the form of two-dimensional (2D). But the growth of many 2D side scan sonar images that can be converted into a 3D representation.3D model of the ocean floor carried out from the side scan sonar imagery and data singlebeam echosounder as depth data. The location of research is in the north of waters semarang city. Data used included is raw data is side scan sonar, echosounder singlebeam, multibeam echosounder, tide and sound velocity profiler. Results blend of side-scan sonar singlebeam echosounder will be compared with data from multibeam echosounder.3D model of the ocean floor produced by SBES-SSS fusion has a relatively flat topography with a depth of 9 meters to 12 meters and objects can be identified properly. Comparison of the object coordinates between SSS-SBES with MBES have separation distances are: SPM: 5.512 meters; P1: 3,178 meters; P2: 7,392 meters; P3: 8.362 meters; and P4: 6.853 meters. Differences in depth value respectively by P1: -0.9 meters; P2: -0.8 meters; P3: -1.3 meters; and P4: -1.1 meters. In SSS-SBES value of depth only lanes along the survey and is unable to give a definite depth value outside the survey line. Depth calculation using the IHO-SP44, calculations using sample points of 318 sample points earned as much as 299 points, or 94% of sample points fulfill the order 1a and on calculations using a sample of 14 lanes lanes profile obtained 11 columns profiles or by 78.6% fulfill the order 1a.Keywords : 3D Seabed Surface, Side scan sonar, Singlebeam echosounder *) Penulis Penanggung Jawab
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adiasti Rizqi Hardini Adib Fahrul Arifin Ahmad Faishal Matazah Putra Ahmad Hidayat Ahmad Iqbal Maulana Lubis Akbar Kurniawan Alan Aji Bintang Alfian Putra Setiadarma Almira Delarizka Alvatara Partogi Hutagalung Amirul Hajri An Nisa Tri Rahmawati Andi Trimulyono Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anggi Karismawati Anggoro Wahyu Utomo Angkoso Dewantoro Arfina Kusuma Putra Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Ariella Arima Aniendra Armenda Bagas Ramadhony Arnita Ikke Sari Arwan Putra Wijaya Arwan Putra Wijaya Asih, Nevi Tri Lestiyo Aulia Budi Andari Aulia Hafizh Aulia, Fatah Avini Sekha Rasina Ayu Hapsari Aditiyanti Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bashit, Nurhadi Bekti Noviana Bella Riskyta Arinda Bram Ferdinand Saragih Chusni Ansori Damara Santi, Anggit Lejar David Jefferson Baris Denni Apriliyanto Desvandri Gunawan Devi Irsanti Devi Nilam Sari Deviana Putri Sunarernanda Dian Ika Aryani DIKA NUZUL RACHMAWATI Dimas Bagus Dita Ariani DITHO TANJUNG PRAKOSO Dwi Nugroho Eko Andik Saputro Eko Didik Purwanto, Eko Didik Elsa Regina Rizkitasari Esa Agustin Alawiyah Ety Parwati Fadhlan Hamdi Fajar Dwi Hastono Farrah - Istiqomah, Farrah - Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Firman Hadi Firman Hadi Firman Hadi Fitra S Pandia Frandi Barata Simamora Fuad Hari Aditya Gabriel Yedaya Immanuel Ryadi Galih Pratiwi Galuh Fitriarestu Santoso Ghazian Hazazi Gilang Yudistira Hilman Gunita Mustika Hati Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hani'ah . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Harmeydi Akbar Hartomo Haryo Kuncoro Haryo Daruwedho Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Hayu Rianasari Hestiningsih Hestiningsih Indah Prasasti Indriyanto, Ignatius Wahyu Innong Pratikina Akbaruddin Jaka Gumelar Jerson Otniel Purba Jhonson Paruntungan Matondang Johan Irawan Kalinda, Icha Oktaviana Putri Khofifatul Azizah Kurniantoro, Ridhwan L. M. Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany LM. Sabri M. Alfarisi Handifa M. Andu Agjy Putra M. Yogi Riyantama Isjoni Mahardika, Anggita Citra Mamei Saumidin Meiska Firstiara Maudi Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohamad Jorgie Prasetyo Monica Apriliana Pertiwi Monika Maharani, Shang Bhetari Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhamad Dicky H. Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Al Kautsar Muhammad Dimas Aji N. Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Helmi Muhammad Hudayawan Nur L Muhammad Ilman Fanani Muhammad Luthfi Muhammad Nur Khafidlin Mulawarman, Reza Al Arif Muna, Nailatul Mustopa, Salsabila Mutiah Nurul Handayani Nainggolan, Yohana Christie Nanang Noviantoro Prasetyo Nandia Meitayusni Nabila Nasrul Arfianto Nevy Dyah Rustikasari Nila Hapsari Nawangwulan Nilasari, Monica NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Niswatul Adibah NOFIANA DIAN RAHAYU Noviar Afrizal Wahyuananto Nur Itsnaini Nurfajrin Dhuha Andani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurul Huda Patriot Ginanjar Satriya Pinastika Nurandani Pitto Yuniar Maharsayanto Pratama Irfan Hidayat Prathanazal, Naufal Maziakiko Prya Adhi Surya Nugraha Putra, Muhammad Adisyah Putri Auliya Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Alifa Salsabilla Raditya Wahyu Utomo Ratih Kumala Dewi Restu Maheswara Ayyar Lamarolla Rina Emelyana Risa Bruri Utami Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Sabri, L M Sabri, L.M. Sabri, LM Samuel Samuel Sari, Devi Nilam Sawitri Subiyanto Sawitri Suprayogi Selli Angelita Sitepu Seprila Putri Darlina Setiaji Nanang Handriyanto Sheehan Maladzi, Havi Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Sinabutar, Julio Jeremia Sindi Rahma Erwanti Sitepu, Selli Angelita Siti Rahayuningsih Sri Purwatik Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syafiri Krisna Murti Syarif Budhiman Theresia Niken Kurnianingsih Tika Murni Asih Tistariawan, Adji Chandra Titis Ismayanti Vauzul Rahmat Victor Andreas Tarigan Vira Febianti Wahyu Eko Saputro Wahyu Setianingsih Wenang Triwibowo, Wenang Widodo, Kukuh Suryo Wili Setiadi Wilma Amiruddin Wiryawan, Ainun Pujo Wisnu Wahyu Wijonarko Yenny Paras Dasuka Yoga Triardhana Yosevel Lyhardo Sidabutar Yudo Prasetyo Yugi Limantara