Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS HUBUNGAN CURAH HUJAN DAN PARAMETER SISTEM PERINGKAT BAHAYA KEBAKARAN (SPBK) DENGAN KEJADIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN UNTUK MENENTUKAN NILAI AMBANG BATAS KEBAKARAN Nur Itsnaini; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono; Indah Prasasti
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.693 KB)

Abstract

ABSTRAKKebakaran adalah salah satu penyebab terjadinya degradasi hutan dan lahan di Indonesia. Dampak dan kerugian dari kebakaran tersebut menunjukkan perlunya suatu upaya pencegahan. Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) atau Fire Danger Rating System(FDRS) adalah suatu sistem informasi peringatan dini kebakaran hutan dan lahan.SPBK memberikan masukan terhadap keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan kebakaran hutan dan lahan menggunakan indeks cuaca kebakaran atau Fire Weather Index(FWI) sebagai parameternya. Parameter tersebut berupa data iklim antara lain data suhu, kelembaban relatif, kecepatan angin dan curah hujan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan curah hujan dan parameter SPBKyaitu FFMC, DC dan FWI terhadap kejadian kebakaran dan untuk mendapatkan nilai ambang batas curah hujan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan ekstraksi dan perhitungan akumulasi nilai curah hujan dan rerata parameter SPBK dengan titik kejadian kebakaran sebagai pusat grid. Penetapan nilai ambang batas curah hujan terbagi menjadi 4 periode waktu yaitu nilai ambang batas curah hujan 7 hari, 30 hari, 60 hari dan 90 hari sebelum kebakaran. Nilai ambang batas tersebut diuji dengan melakukan pembuatan wilayah potensi terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan.Hasil penelitian didapatkan bahwa parameter curah hujan dan parameter SPBK memiliki korelasi dengan kejadian kebakaran. Kemudian penetapan nilai ambang batas curah hujan terhadap kejadian kebakaran dengan mengambil tingkat kepercayaan minimal 80% didapatkan rentang sebagai berikut: nilai curah hujan 7 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,000 mm -47,501 mm; 30 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,000 mm -63,335 mm; 60 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,022 mm -409,001 mm dan 90 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,0822 mm -538,381 mm.Berdasarkan nilai ambang tersebut didapatkan sebaran wilayah potensi kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumatera Selatan tiap periode waktu.Kata Kunci: Curah Hujan, Kebakaran, Nilai Ambang Batas, Parameter SPBK  ABSTRACTFire is one of the causesof land and forest degradation in Indonesia. The impacts and the losses caused by the fire need for a prevention actions. Fire Danger Rating System (FDRS) is an early warning system for forest and land fire. Fire Danger Rating System give aninput to determine the decision for the management of forest and land fire using Fire Weather Index (FWI) as the parameter. That contains climate data such as temperature, relative humidity, wind speed, andprecipitation.The aim of this research to find out the relation between precipitation and FDRS parameters which are FFMC, DC and FWI towards the forest fires and to get the precipitation threshold value towards the forest fires and land incident. The method used in this research to perform the extraction and calculation of accumulated precipitation, and mean value SPBK parameters with fire spot as the center of point grid. Determination of the precipitation threshold values were divided into four periods which are the precipitationthreshold value7 days, 30 days, 60 days and 90 days before the fire. The threshold values were tested by implementing them on forest and land fire potential areas in South Sumatra province.The research resultshows that precipitation parameters and FDRS parameters have a correlation with the incident of fire. Then, the result of the determination of threshold of precipitation values towards the fire incident by taking the least confidence level of 80% are: values of precipitation 7 days prior to the occurrence of the fire is 0,000 mm - 47,501 mm; 30 days prior to the occurrence of the fire is 0,000 mm -63,335 mm; 60 days prior to the occurrence of the fire is 0,022 mm -409,001 mm and 90 days prior to the occurrence of the fire is 0,822 mm -538,381 mm. The threshold values are then used to determine areas forest and land fire potential in South Sumatra Province each period of time.Keywords: Precipitation, Fire, Threshold, FDRS Parameters
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2019 Wili Setiadi; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.117 KB)

Abstract

ABSTRAKBendungan merupakan sebuah konstruksi multifungsi yang dibangun untuk menahan laju air yang memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia. Waduk Pendidikan Diponegoro merupakan salah satu waduk yang berlokasi di kawasan Tembalang, Semarang. Waduk ini mampu menampung genangan air normal sampai 478,240 m³ dengan luas daerah tangkapan air mencapai 7,1338 Ha dengan panjang sungai 7,52 km dan tinggi tubuh bendungan 22 m. Pembangunan waduk ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan, pengendali banjir di kawasan sekitar kampus Undip Tembalang, meningkatkan kapasitas resapan air tanah sebagai usaha konservasi dan tempat rekreasi. Setiap bangunan yang terus-menerus mendapatkan tekanan maka berpotensi untuk mengalamai perubahan, baik posisi, dimensi ataupun bentuk. Maka dari itu, penelitian ini melakukan pengamatan deformasi terhadap Waduk Pendidikan Diponegoro dengan metode pengamatan satelit menggunakan GNSS. Pengamatan dilakukan terhadap 9 titik pantau deformasi yang tersebar di sekitar tubuh bendungan. Pengamatan deformasi dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juli 2019. Data hasil pengamatan tersebut selanjutnya diolah dengan menggunakan scientific software GAMIT 10.7 untuk mengetahui koordinat dari masing-masing titik tetap dan pergeseran masing-masing titik pengamatan. Pengamatan jarak, beda tinggi dan koordinat juga akan dilakukan pada titik pengamatan menggunakan total station dengan metode repetisi dan waterpass dengan pengolahan least square. Dari pengamatan deformasi yang telah dilakukan, didapat hasil berupa perubahan koordinat berdasar pada sistem koordinat toposentrik. Nilai perubahan koordinat memiliki nilai antara 0,5 mm sampai dengan 15 mm pada sumbu X, 0,3 mm sampai dengan 20 mm pada sumbu Y dan 1,5 mm sampai dengan 55 mm pada sumbu Z. Berdasarkan hasil uji statistik yang telah dilakukan, tidak terjadi perubahan nilai koordinat, jarak maupun beda tinggi pada pengukuran yang telah dilakukan. Kata Kunci : Bendungan, Deformasi, GAMIT, GNSS ABSTRACTDam is a multifunction construction which is built to resist the waters flow that has many important purpose for human race. The Diponegoro Dam is one of the reservoir that’s located in Tembalang, Semarang. This dam can accommodate the water up to 478.240 m³, with the water catchment area reaches 7.1338 Ha, with the river’s length up to 7.52 km and the height of dam is 22 m. This dam’s project is intended to keep the ecosystem and environment balance. The other function are as the flood control around the Undip, Tembalang, to increase the absorbtion capacity of water and as well as the recreation area. Every building that has pressure continuously on it, will cause changes like position, dimension or shape. Therefore, this research spescifiqally observes deformation on Diponegoro Dam with the GNSS method. This project observes on 9 monitoring points around the dam. The research is done from May until July 2019. The result data of the 9 monitoring points will be processed by GAMIT 10.7 scientific software, to show the coordinate and the movement of the monitoring points. The distance, height and coordinate of the monitoring points are also observed by total station with the repetition method and waterpass with the least square processing. From this research, we can conclude that the movement of the monitoring points is based on the topocentric coordinate system. The values of the movement are around 0.5 mm until 15 mm for the X axis, 0.3 mm until 20 mm for the Y axis and 1.5 mm until 55 mm for the Z axis. According to the statistic accuracy test, the coordinate, distance and height on the monitoring points are not move from the observation that has been done.
ANALISIS PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK RTKLIB Desvandri Gunawan; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.676 KB)

Abstract

ABSTRAK GPS (Global Positioning System) merupakan sistem satelit navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Salah satu faktor ketelitian penentuan posisi dengan GPS adalah strategi pemrosesan data. Mengikuti perkembangan kebutuhan GPS dalam kehidupan manusia, data hasil pengamatan GPS dapat diolah menggunakan berbagai macam perangkat lunak. RTKLIB merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk pengolahan data pengamatan GPS.Pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengamatan titik-titik menggunakan GPS Dual Frequency dengan metode statik untuk mengetahui karakteristik dan hasil pengolahan perangkat lunak tersebut. Hasil pengamatan titik GPS tersebut kemudian diolah menggunakan perangkat lunak RTKLIB dan Topcon Tools. Hasil pengolahan kedua perangkat lunak tersebut dibandingkan dengan hasil pengolahan perangkat lunak ilmiah Bernesse.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat nilai perbedaan antara nilai standar deviasi dari hasil pengolahan perangkat lunak RTKLIB dengan standar deviasi hasil pengolahan perangkat lunak Topcon Tools dengan nilai rata- rata σN dan σE sebesar -0,0011 m dan -0,0026 m dimana RTKLIB memiliki ketelitian standar deviasi yang lebih baik dan lebih mendekati hasil dari data sekunder, yaitu hasil pengolahan Bernesse. Berdasarkan hasil uji statistik dengan selang kepercayaan 95%, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil Pengolahan RTKLIB dan Topcon Tools. Kata Kunci : GPS, RTKLIB, Standar Deviasi, Topcon Tools ABSTRACTGPS (Global Positioning System) is a navigation and positioning system using satellites. One of accuration factors using GPS is data processing strategy. By following the GPS demands in human life, GPS observation data can be processed using a variety of the softwares. RTKLIB is one of the softwares using for GPS observations data processing.This research observation uses points observations using GPS Dual Frequency by static method so that it is known a characteristics and the result of software processing. This result is then analyzed using RTKLIB and Topcon Tools software. The result of those softwares then compares to the result of processing Bernesse scientific software.The results of this research show that there is a difference between the deviation standard value of RTKLIB software and the deviation standard value of Topcon Tools software, with the mean value of σN and σE amounting -0.0011 and -0.0026 m respectively. RTKLIB has a better deviation standard accuracy and closer to the value of secondary data, that is the result of Bernesse. According to statistical test with 95% confidence interval, it is concluded that there is no significant differences between the result of RTKLIB and Topcon Tools software.Keywords: GPS, RTKLIB, Standard Deviation, Topcon Tools                                                                                                      *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS FENOMENA PULAU BAHANG (URBAN HEAT ISLAND) DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DENGAN SUHU PERMUKAAN MENGGUNAKAN CITRA MULTI TEMPORAL LANDSAT Almira Delarizka; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.588 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah dan menjadi kota terbesar kelima di Indonesia. Kota Semarang memiliki posisi strategis yaitu berada di tengah-tengah Pulau Jawa.  Akibat letaknya yang strategis ini, semakin hari terjadi peningkatan urbanisasi yang cepat dan berlanjut di Kota Semarang. Seiring dengan peningkatan urbanisasi terjadi perubahan tutupan lahan, dari area bervegetasi menjadi daerah terbangun. Proses pembangunan yang diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk akan mempengaruhi luasan lahan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan sehari-hari serta mempengaruhi suhu yang memicu adanya fenomena pulau bahang (urban heat island).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah karakteristik tutupan lahan dalam daerah perkotaan berhubungan dengan suhu permukaan yang lebih tinggi atau lebih rendah. Fenomena pulau bahang (urban heat island) kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan data penginderaan jauh melalui beberapa ekstraksi yaitu pemanfaatan klasifikasi terbimbing (supervised), NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan LST (Land Surface Temperature). Pengolahan data dilakukan menggunakan citra satelit Landsat 7 Tahun 2006, Landsat 5 Tahun 2011, dan Landsat 8 Tahun 2016. Hasil pengolahan berupa distribusi suhu permukaan kemudian dikorelasikan dengan nilai indeks vegetasi dan perubahan tutupan lahan menggunakan uji regresi sederhana.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan dan indeks vegetasi memiliki korelasi dengan suhu permukaan. Hasil uji regresi sederhana antara perubahan luas lahan terbangun terhadap suhu permukaan menghasilkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 95%.Hasil uji regresi sederhana antara perubahan vegetasi terhadap suhu permukaan menghasilkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 81%. Suhu di daerah pusat kota dan daerah pinggiran kota Semarang memiliki selisih sebesar ± 1-2o C. Fenomena pulau bahang (urban heat island) terjadi di Kota Semarang dibuktikan dengan suhu permukaan rata-rata yang turun dari daerah pusat kota ke pinggiran kota.Kata Kunci : Penginderaan Jauh, Suhu Permukaan, Tutupan Lahan, Urban Heat Island. ABSTRACTSemarang City is the capital of Central Java province and become the fifth largest city in Indonesia. Semarang City has a strategic position which was located in the middle of Java Island. Due to its strategic location, urbanization improvements are fast and continuous in Semarang. As the urbanization are risen, it also have transition on land cover from vegetation area to built-up area. The development process which coincided with acretion of population would affect the land sizes which need to support daily activity and affect the temperature which produce urban heat island phenomenon.This study aims to know whether land cover characteristic urban area are related with land surface temperature which is higher or lower. Urban heat island was analyzed using the approach of remote sensing data through multiple extractions, such as supervised classification, NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and LST (Land Surface Temperature). Data processing are using Landsat 7 satellite image in 2006, Landsat 5 in 2011, and Landsat 8 in 2016. Processing result are in the form of surface temperature distribution correlated with vegetation index value and land cover changes using simple regression test.The results show that land cover changes and vegetation index have correlation with surface temperature. The results of simple regression test between surface temperature with built up area changes obtained the value of the coefficient determination (R2) of 95%. Simple regression test results between vegetation changes with land surface temperature obtained the value of the coefficient  determination (R2) of 81%. Temperature in the downtown area and the suburbs area in Semarang have a difference ± 1-2o C. Urban heat island occurred in Semarang was evidenced by the average surface temperature which decreases from the downtown area to the suburbs. Keywords: Land Cover, Land Surface Temperature, Remote Sensing, Urban Heat Island.*) Penulis, PenanggungJawab
PEMETAAN JENIS SEDIMEN DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS DATA KEDALAMAN DARI NORBIT IWBMS MULTIBEAM ECHOSOUNDER SYSTEM (MBES) Mohamad Jorgie Prasetyo; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.797 KB)

Abstract

Setiap perairan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang berbeda-beda. Hal unik ini ditentukan oleh karakteristik dasar lautnya yang tersusun dari macam-macam endapan atau yang biasa disebut sedimen. Sedimen ini berupa krikil, pasir, atau pun juga lempung yang menjadi dasar tempat makhluk lautan hidup. Dewasa ini masih susah untuk mengetahui jenis-jenis sedimen yang ada di dasar laut dalam skala area yang luas. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuat peta jenis sedimen di suatu wilayah. Menggunakan alat Multibeam Echosounder System dapat dilakukan pemeruman untuk mengetahui bagaimana bentuk dasar laut berdasarkan gelombang-gelombang suara yang ditembakkan lalu diterima kembali oleh tranduser. Data yang dihasilkan oleh pemeruman berupa kumpulan titik berisi data kedalaman yang menyusun bentuk topografi dasar laut. Data kedalaman ini kemudian dikombinasikan dengan data jenis sedimen yang didapat dari uji laboratorium sampel sedimen yang diambil untuk membentuk peta persebaran jenis sedimen. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa sedimen yang terdapat di perairan teluk awur yang diteliti oleh penulis memiliki 3 jenis sedimen yaitu pasir, lanau, dan lempung. Pengolahan sedimen berdasarkan skala wentworth dan menggunakan 2 metode yaitu metode sieving dan metode pippeting. Visualisasi peta persebaran sedimen menggunakan 3 kelas berdasarkan 3 jenis sedimen yang ada. Rentang kelas tersebut yaitu untuk pasir pada kedalaman 0,20m hingga 2,58m, lalu untuk lanau pada kedalaman 2,64m hingga 4,10m, sedangkan untuk lempung pada kedalaman 4,11m hingga 4,52m
HITUNGAN KECEPATAN PERGESERAN TITIK PENGAMATAN DEFORMASI DENGAN GPS MENGGUNAKAN TITIK IKAT REGIONAL DAN GLOBAL Muhammad Hudayawan Nur L; Moehammad Awaluddin; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.153 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar yakni lempeng Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik yang menjadikan Indonesia memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Dampak  dari  aktifitas seismik ketiga  lempeng  tersebut antara  lain  timbunya deformasi akibat pergerakan lempeng bumi. Akibat deformasi tersebut menyebabkan posisi bergerak secara dinamis. Pergerakan lempeng bumi yang dinamis tersebut menyebabkan fenomena deformasi.Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis perbandingan dari pengaruh deformasi menggunakan data pengamatan titik ikat regional  dari stasiun CORS BIG dan titik ikat Global menggunakan stasiun IGS. Titik pengamatan dalam penelitian ini menggunakan stasiun CSEM, CPBL, CMGL,CPKL dengan titik ikat regional menggunakan stasiun CPWD ,CTGL, CCLP, CKBM dan titik ikat global menggunakan  XMIS, BAKO, DARW, PIMO, PBRI, HYDE, COCO.Hasil dari penelitian ini, penggunaan titik ikat global menghasilkan koordinat lebih teliti jika dibandingkan dengan pengolahan dengan menggunakan titik ikat regional baik strategi II dan III. Arah pergeseran vektor dari stasiun CORS Jawa Tengah Strategi I menggunakan titik ikat Global di setiap stasiun kearah tenggara dengan resultan 25 mm sampai dengan 28 mm pertahun. Arah pergerakan vektor strategi II dan III relatif sama dengan pergerakan tiap stasiun berbeda dan dengan resultan yang relative sama, dengan resultan 1 mm sampai dengan 3 mm pertahunKata Kunci :  Deformasi, Kecepatan, Titik Ikat Global, Titik Ikat Regional  ABSTRACTIndonesia located between three large plates of the Eurasian, Indian-Australian, and Pacific plates that make Indonesia have a complex tectonic order. The impact of seismic activity of the three plates, among others, the emergence of deformation due to the movement of the earth's plate. The resulting deformation causes the position to move dynamically. The dynamic movements of the earth's plates cause the deformation phenomenon. This study aims to analyze the comparison of deformation effect using regional tie points observation data from CORS BIG station and Global tie points using IGS station. The observation station in this study used the CSEM, CPBL, CMGL, CPKL with regional tie points using CPWD, CTGL, CCLP, CKBM and global tie points using XMIS, BAKO, DARW, PIMO, PBRI, HYDE, COCO. The results of this study, the use of global tie points to produce coordinates more precise when compared with the processing by using regional tie points both II and III strategies. The direction of the vector shift from the Central Java CORS station strategy I uses the global tie points at each station towards the southeast with a resultant 25 mm to 28 mm per year. The direction of the vector movements of strategy II and III is relatively the same as the movement of each station is different and with resultant that is equal to resultant 1 mm to 3 mm per yearKeywords:  Deformation, Global Tie Point, Regional Tie Point, Velocity rate
APLIKASI FOTOGRAMMETRI RENTANG DEKAT UNTUK PEMODELAN 3D GEDUNG A LAWANG SEWU David Jefferson Baris; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.647 KB)

Abstract

ABSTRAKFotogrammetri rentang dekat merupakan salah satu bidang penerapan fotogrammetri. Fotogrammetri rentang dekat dapat digunakan untuk perekaman objek yang berjarak kurang dari 100 meter. Fotogrammetri rentang dekat biasanya digunakan dalam pemodelan 3D bangunan, kendaraan atau jembatan.Pada penelitian ini, metode fotogrammetri rentang dekat digunakan untuk pemodelan 3D Gedung A Lawang Sewu dengan kamera digital non metrik. Kamera yang digunakan harus melalui proses kalibrasi untuk mengetahui parameter internal kamera. Proses kalibrasi dan pengolahan data dalam tugas akhir ini menggunakan perangkat lunak PhotoModeler Scanner v.7 2013.  Tahap pemodelan bangunan terdiri dari marking dan referencing, proses hitungan dan pembuatan model 3D, transformasi koordinat 3D dan visualisasi model 3D. Data yang digunakan adalah data foto yang diambil secara keseluruhan mengelilingi Gedung A Lawang Sewu.Hasil akhir dalam penelitian ini adalah model 3 dimensi Gedung A Lawang Sewu. Pengujian hasil pengolahan model 3D dilakukan dengan analisis perbandingan selisih jarak dan uji statistik dengan tingkat kepercayaan 95%. Pelaksanaan uji statistik yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengukuran ETS.Kata Kunci : Fotogrammetri Rentang Dekat, Lawang Sewu, Kamera Digital Non Metrik, Pemodelan Bangunan Bersejarah, PhotoModeler Scanner V.7 2013. ABSTRACT [Close Range Photogrammetry Application for 3D Modelling of Lawang Sewu Building A]            Close range photogrammetry is a one of photogrammetry applications. It can be used for the object measurement that is less than 100 meters. It also usualy used in 3D modeling of buildings, vehicles or bridges etc. In this final task, close range photogrammetry method was used for 3D modeling of Lawang Sewu Building A using non-metric digital camera. Initially, the camera must through of calibration process to determine the camera internal parameters. The process of calibration and data processing in this final task are using PhotoModeler Scanner v.7 2013 software. Phase of buildings modeling contain of marking and referencing, calculating and 3D modeling, transformation of 3D coordinate and visualization of 3D models. The data used are the photos that taken all around Lawang Sewu building A. The final results in this research are 3D model of Lawang Sewu Building A. Testing of the results in 3D modelling processing were done by comparing the 3D model distance referenced to Electronic Total Station measurement and statistics test with level of trust 95%. The statistics test in this research shows that there are no significant difference between ETS measurement.Keyword: Close range photogrammetry, Lawang Sewu, Modeling Historic Building, Non-Metric Digital Camera, PhotoModeler Scanner V.7.2013.     *) Penulis Pananggung jawab
DESAIN APLIKASI SISTEM INFORMASI PELANGGAN PDAM BERBASIS WebGIS (STUDI KASUS : KOTA DEMAK) Meiska Firstiara Maudi; Arief Laila Nugraha; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.262 KB)

Abstract

ABSTRAKDesain adalah suatu sistem yang berlaku untuk segala jenis perancangan dimana titik beratnya adalah melihat segala sesuatu persoalan tidak secara terpisah atau tersendiri, melainkan sebagai suatu kesatuan dimana satu masalah dengan lainnya saling terkait.Objek penelitian yaitu berupa aplikasi sistem informasi pelanggan PDAM Demak. Web-based GIS (WebGIS) adalah Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang terdistribusi dalam suatu jaringan komputer untuk mengintegrasikan dan menyebarluaskan informasi geografi secara visual pada World Wide Web. WebGIS dibandingkan dengan desktop GIS menawarkan beberapa keuntungan seperti efisiensi biaya, efisiensi beban kerja sumber daya manusia untuk instalasi, pemeliharaan dan dukungan teknis, pemangkasan kurva pembelajaran untuk pengguna akhir dan keunggulan dalam hal integrasi data spatial dan data non spatial.Hasil penelitian akan berupa sebuah desain aplikasi GIS yang berbasis web yang memberikan fasilitas untuk untuk pelanggan PDAM dan instansi dalam pengembangan sistem informasi. Kata Kunci : Desain, WebGIS, Web-based, spatial, non spatial ABSTRACT Design is a system which applicable to any kind of design where the emphasis to see everything unseperated, but as a unity is correlated one problem to each other.The object of research is customer information system application in Demak. Web-based GIS (WebGIS) is a Geographic Information System Applications (GIS) that is  distributed in a computer network to integrate and disseminate geographic information visually to the World Wide Web. WebGIS compared with desktop GIS offers several advantages such as cost efficiency, workload efficiency of human resources for the installation, maintenance and technical support, trimming the learning curve for end users and excellence in the integration of spatial data and non-spatial Data.The results of this research is an Applications of GIS which has the web to give some facilities to customers of PDAM and offices to develop of the information systems.Keywords: Design, WebGIS, Web-based, spatial, non-spatial
APLIKASI TERRESTRIAL LASER SCANNER UNTUK PEMODELAN TAMPAK MUKA BANGUNAN (STUDI KASUS: GEDUNG PT. ALMEGA GEOSYSTEMS, KELAPA GADING-JAKARTA) Pitto Yuniar Maharsayanto; Sutomo Kahar; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.461 KB)

Abstract

Perkembangan dunia survei dan pemetaan sangatlah pesat. Di era sekarang ini, pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner  dapat memberikan solusi untuk pendokumentasian suatu bangunan maupun pengukuran topografi. Teknologi ini dinilai sangat efisien jika dibandingkan dengan teknologi pengukuran lainnya. Hasil pengukuran Terrestrial Laser Scanner berupa point clouds yang mempunyai koordinat 3 dimensi.  Dalam tugas akhir ini, metode pengukuran  Terrestrial Laser Scanner   digunakan untuk pemodelan  tampak muka bangunan gedung PT. Almega Geosystems, Kelapa Gading-Jakarta. Proses akuisisi  data di lapangan dan pengolahan data menggunakan software Cyclone V.7.4 (compatible with Leica Scan Station 2). Hasil akhir dalam penelitian ini adalah model tampak muka bangunan gedung PT. Almega Geosystems, Kelapa Gading-Jakarta. Pengujian hasil pengolahan model dilakukan dengan dua pengujian, yaitu perbandingan jarak antar sisi gedung hasil  pengukuran Electronic Total Station dan laser disto meter. Nilai rata-rata kesalahan dari perbandingan jarak antar sisi mengunakan Electronic Total Station sebesar 0.00527 meter dan nilai rata-rata kesalahan dari perbandingan jarak antar sisi dengan laser disto meter sebesar 0.00708 meter.  Kata Kunci : Terrestrial Laser Scanner, Point Cloud, Pemodelan Tampak Muka Bangunan, Cyclone V.7.4
ANALISIS KETELITIAN HASIL PEMERUMAN PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER Angkoso Dewantoro; LM. Sabri; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.284 KB)

Abstract

The activities of the underwater gas pipelaying takes bathymetry data  as the imaging of seabed surface. Bathymetry data will be used at  planning and implementing of the installation of gas pipeline owned by PT Nusantara Regas. In the implementation of data retrieval, PT Nusantara Regas choose PT Calmarine as the executor of the work. At the time of the surveying  and reporting, PT Nusantara Regas have the  right to check the accuracy of the Bathymetry’s results. IHO as international organizations in the hydrography sector has established procedures  standardization  for data collection and Bathymetry’s level order from the data which generated in those activities. Installation of equipment and calibration processes are also required to follow the procedures from the IHO and data retrieval software guide. In this research, the data was take using the Multibeam Echosounder (MBES) branded Elac Seabeam 1180, while the retrieval software and data processing using HYPACK software. All the surveying activities was held in Muara Karang and Bay Jakarta waters. Precision inspection process carried out by calculating the difference between the main lanes of Multibeam Echosounder (MBES) measuring data and Bathymatry cross line which  measured using Singlebeam Echosounder (SBES). With the formula   was performes the  calculations on the data using a Multibeam Echosounder (MBES) and the Singlebeam Echosounder (SBES) cross line data which give the  results that included to the order 1 of IHO accuration level. Keywords : Bathymetry, Multibeam Echosounder (MBES), IHO Standarts
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adiasti Rizqi Hardini Adib Fahrul Arifin Ahmad Faishal Matazah Putra Ahmad Hidayat Ahmad Iqbal Maulana Lubis Akbar Kurniawan Alan Aji Bintang Alfian Putra Setiadarma Almira Delarizka Alvatara Partogi Hutagalung Amirul Hajri An Nisa Tri Rahmawati Andi Trimulyono Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anggi Karismawati Anggoro Wahyu Utomo Angkoso Dewantoro Arfina Kusuma Putra Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Ariella Arima Aniendra Armenda Bagas Ramadhony Arnita Ikke Sari Arwan Putra Wijaya Arwan Putra Wijaya Asih, Nevi Tri Lestiyo Aulia Budi Andari Aulia Hafizh Aulia, Fatah Avini Sekha Rasina Ayu Hapsari Aditiyanti Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bashit, Nurhadi Bekti Noviana Bella Riskyta Arinda Bram Ferdinand Saragih Chusni Ansori David Jefferson Baris Denni Apriliyanto Desvandri Gunawan Devi Irsanti Devi Nilam Sari Deviana Putri Sunarernanda Dian Ika Aryani DIKA NUZUL RACHMAWATI Dimas Bagus Dita Ariani DITHO TANJUNG PRAKOSO Dwi Nugroho Eko Andik Saputro Eko Didik Purwanto, Eko Didik Elsa Regina Rizkitasari Esa Agustin Alawiyah Ety Parwati Fadhlan Hamdi Fajar Dwi Hastono Farrah - Istiqomah, Farrah - Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Firman Hadi Firman Hadi Firman Hadi Fitra S Pandia Frandi Barata Simamora Fuad Hari Aditya Gabriel Yedaya Immanuel Ryadi Galih Pratiwi Galuh Fitriarestu Santoso Ghazian Hazazi Gilang Yudistira Hilman Gunita Mustika Hati Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hani'ah . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Harianto Harianto Harmeydi Akbar Hartomo Haryo Kuncoro Haryo Daruwedho Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Hayu Rianasari Hestiningsih Hestiningsih Indah Prasasti Indriyanto, Ignatius Wahyu Innong Pratikina Akbaruddin Jaka Gumelar Jerson Otniel Purba Jhonson Paruntungan Matondang Johan Irawan Kalinda, Icha Oktaviana Putri Khofifatul Azizah Kurniantoro, Ridhwan L. M. Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany LM. Sabri M. Alfarisi Handifa M. Andu Agjy Putra Mamei Saumidin Meiska Firstiara Maudi Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohamad Jorgie Prasetyo Monica Apriliana Pertiwi Monika Maharani, Shang Bhetari Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhamad Dicky H. Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Al Kautsar Muhammad Dimas Aji N. Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Helmi Muhammad Hudayawan Nur L Muhammad Ilman Fanani Muhammad Luthfi Muhammad Nur Khafidlin Mulawarman, Reza Al Arif Muna, Nailatul Mutiah Nurul Handayani Nainggolan, Yohana Christie Nanang Noviantoro Prasetyo Nandia Meitayusni Nabila Nasrul Arfianto Nevy Dyah Rustikasari Nila Hapsari Nawangwulan Nilasari, Monica NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Niswatul Adibah NOFIANA DIAN RAHAYU Noviar Afrizal Wahyuananto Nur Itsnaini Nurfajrin Dhuha Andani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurul Huda Patriot Ginanjar Satriya Pinastika Nurandani Pitto Yuniar Maharsayanto Pratama Irfan Hidayat Prathanazal, Naufal Maziakiko Prya Adhi Surya Nugraha Putra, Muhammad Adisyah Putri Auliya Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Alifa Salsabilla Raditya Wahyu Utomo Ratih Kumala Dewi Restu Maheswara Ayyar Lamarolla Rina Emelyana Risa Bruri Utami Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Sabri, L M Sabri, L.M. Sabri, LM Samuel Samuel Sari, Devi Nilam Sawitri Subiyanto Sawitri Suprayogi Selli Angelita Sitepu Seprila Putri Darlina Setiaji Nanang Handriyanto Sheehan Maladzi, Havi Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Sinabutar, Julio Jeremia Sindi Rahma Erwanti Sitepu, Selli Angelita Siti Rahayuningsih Sri Purwatik Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syafiri Krisna Murti Syarif Budhiman Theresia Niken Kurnianingsih Tika Murni Asih Tistariawan, Adji Chandra Titis Ismayanti Vauzul Rahmat Victor Andreas Tarigan Vira Febianti Wahyu Eko Saputro Wahyu Setianingsih Wenang Triwibowo, Wenang Wili Setiadi Wilma Amiruddin Wiryawan, Ainun Pujo Wisnu Wahyu Wijonarko Yenny Paras Dasuka Yoga Triardhana Yosevel Lyhardo Sidabutar Yudo Prasetyo Yugi Limantara