Claim Missing Document
Check
Articles

Multiplikasi tunas mikro pisang (Musa paradisiaca l.) ‘raja bulu’ secara in vitro pada berbagai jenis dan konsentrasi sitokinin Tiara Elma; Erni Suminar; Syariful Mubarok; Anne Nuraini; Nur Budi Ariyanto
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.703 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14917

Abstract

Terbatasnya ketersediaan bibit pisang bermutu di Indonesia disebabkan oleh masih rendahnya jumlah dan kualitas bibit pisang yang dihasilkan melalui metode konvensional. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan bibit cukup lama, oleh karena itu digunakan suatu metode perbanyakan untuk menghasilkan bibit dalam waktu yang relatif singkat melalui metode kultur jaringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan salah satu jenis dan konsentrasi sitokinin terbaik dalam meningkatkan laju multiplikasi tunas pisang raja bulu secara in vitro. Percobaan dilaksanakan dari bulan November 2016 sampai bulan Maret 2017 di Laboratorium Kultur Jaringan dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran di Jatinangor, Sumedang. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini dengan 13 perlakuan, 3 ulangan dan 2 sampel. Media Murashige and Skoog (MS) digunakan sebagai media dasar dengan kombinasi konsentrasi BAP (1; 1,5; 2 and 2,5 mg L-1), Thidiazuron (TDZ) (0,1; 0,3; 0,5 and 0,7 mg L-1) and Kinetin (1,5; 2; 2,5 and       3 mg L-1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa TDZ 0,1 mg L-1 mampu meningkatkan jumlah tunas pisang 'Raja Bulu', oleh karena itu menunjukkan bahwa TDZ 0,1 mg L-1 merupakan jenis sitokinin yang potensial untuk proses multiplikasi tunas pada pisang 'Raja Bulu' secara in vitro. Kata Kunci : BAP, In Vitro, Kinetin, Musa paradisiaca L., TDZ
Multiplikasi tunas tanaman temu putih pada berbagai jenis karbohidrat dan sitokinin secara in vitro Murgayanti Murgayanti; Adelia Anissa Putri; Anne Nuraini
Kultivasi Vol 20, No 3 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i3.33296

Abstract

AbstrakPermasalahan utama dari perbanyakan tanaman temu putih (Curcuma zedoaria) secara konvensional adalah penggunaan bahan tanam berupa rimpang yang memiliki masa dormansi 2-3 bulan. Perbanyakan in vitro menjadi alternatif untuk membuat perbanyakan temu putih secara cepat dan dalam jumlah banyak, namun masih belum banyak penelitian rekayasa media in vitro berupa penambahan karbohidrat dan sitokinin dalam media. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan multiplikasi eksplan C. zedoria terhadap 3 jenis karbohidrat, yaitu sukrosa, glukosa dan amilum dengan konsentrasi 2% dan 4% yang dikombinasikan dengan 2 jenis sitokinin, yaitu  Benzyl Amino Purine (BAP) 2 ppm dan Thidiazuron (TDZ) 1,5 ppm. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 36 unit percobaan dan dengan waktu pengamatan selama 12 Minggu Setelah Tanam (MST). Hasil percobaan menunjukkan kombinasi sukrosa dan glukosa dengan sitokinin BAP dan TDZ memberikan pengaruh terhadap poliferasi tunas baru, perkembangan dan pertumbuhan planlet tanaman C. zedoria. Penggunaan amilum pada setiap perlakuan menyebabkan kematian fisiologis lebih cepat. Penggunaan TDZ pada setiap perlakuan memberikan hasil yang lebih baik terhadap jumlah tunas baru. Perlakuan dengan media sukrosa 4% + TDZ 1,5 ppm memberikan hasil yang paling tinggi dengan rata-rata jumlah tunas sebanyak 4,67 tunas baru. Perlakuan dengan media sukrosa 2% + BAP 2 ppm memberikan hasil yang paling signifikan pada tinggi tunas dengan rata-rata tinggi tunas sebesar 16,97 cm dan rata-rata jumlah daun sebanyak 8,67 buah.Kata kunci: Amilum ∙ Glukosa ∙ Karbohidrat ∙ Multiplikasi ∙ Tunas AbstractThe main problem with conventional propagation of Curcuma zedoaria is the use of planting material in form of rhizomes which have a dormancy period of 2-3 months. In vitro propagation is an alternative to make the propagation of Curcuma zedoaria quickly and in large quantities, but there are still not many researches study the formulation of in vitro media such as the addition of carbohydrates and cytokinins. This experiment aims to determine the response of growth and multiplication of explants of C. zedoria to 3 types of carbohydrates, i.e., sucrose, glucose and amylum with concentration of 2% and 4% combined with 2 types of cytokinins, i.e., 2 ppm Benzyl Amino Purine (BAP) and 1.5 ppm Thidiazuron (TDZ). This experiment used a completely randomized design with 36 experimental units and an observation time of 12 weeks after planting (MST).  The results showed that the combination of sucrose and glucose with cytokinins in form of BAP and TDZ affected the proliferation of new shoots, the development and growth of C. zedoria plantlets. The use of amylum in each treatment caused physiological death more quickly occured. The use of TDZ in each treatment gave better result on the number of new shoots. Treatment with 4% sucrose + 1.5 ppm TDZ showed the highest yield on the number of shoots, as many as 4.67 new shoots. Treatment with 2% sucrose + 2 ppm BAP showed the most significant results on shoot height with an average shoot height of 16.97 cm and an average number of leaves of 8.67 leaves.Keywords: Amylum ∙ Glucose ∙ Carbohydrates ∙ Multiplication ∙ Shoots
Pengaruh suhu penyimpanan dan konsentrasi sitokinin terhadap pematahan dormansi benih kentang (Solanum tuberosum L.) G2 Anne Nuraini; Sumadi Sumadi; Yuyun Yuwariah; Hanifah Rulistianti
Kultivasi Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.097 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v18i3.21468

Abstract

Sari. Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah salah satu komoditas yang mendapat prioritas pengembangan, karena produk tanaman ini dipakai sebagai sumber karbohidrat serta memiliki potensi dalam diversifikasi pangan. Salah satu permasalahan dalam produksi kentang adalah terbatasnya persediaan benih kentang, karena adanya fase dormansi. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara suhu penyimpanan dan konsentrasi sitokinin terhadap pematahan dormansi benih kentang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan tiga ulangan.  Petak utama adalah suhu penyimpanan dengan tiga taraf, yaitu: suhu rendah ±10oC , suhu ruang  ±25oC  dan suhu tinggi ±30oC. Anak petak adalah empat taraf konsentrasi sitokinin, yaitu: 0 mgL-1, 50 mgL-1, 100 mgL-1, dan 150 mgL-1. Hasil percobaan menunjukkan terdapat pengaruh interaksi antara suhu penyimpanan dengan konsentrasi sitokinin dalam mempercepat pematahan dormansi benih kentang. Penyimpanan benih kentang pada suhu ruang disertai pemberian konsentrasi sitokinin 50 mgL-1 dapat mempercepat pematahan dormansi benih kentang G2. Perlakuan suhu rendah menghasilkan tunas yang lebih panjang tapi bobotnya tidak berbeda dengan yang diberi perlakuan suhu ruang dan suhu tinggi, sedangkan pengaruh perlakuan sitokinin tidak berbeda terhadap panjang tunas, persentase tumbuh tunas per ubi, dan bobot segar tunas.Kata Kunci : Benih Kentang, Suhu Penyimpanan, Sitokinin, DormansiAbstract. Potato (Solanum tuberosum L.) is one of the important agriculture commodities, because it contains carbohydrates and can use for food diversification in Indonesia. One of the problems in potato production is the limited of seed potatoes, because of potato seed dormancy. This experiment analyzed the interaction between storage temperature and concentration of cytokinin on dormancy breaking of potato seed. The experimental design used Split Plot Design with three replications. The main plot was the temperature of storage, that consisted of three levels: low temperature ± 10°C, room temperature  ± 25°C and high temperature  ± 30oC. Subplot consisted of four levels of cytokinin concentration: 0 mgL-1, 50 mgL-1, 100 mgL-1 and 150 mgL-1. The results of the experiment showed that there was an interaction effect between storage temperature and cytokinin concentration on accelerating the breakdown of potato seed dormancy. Storage of seed potatoes at room temperature with application of 50 mgL-1 cytokinin accelerated the breakdown of G2 potato seed dormancy.  Low temperature treatment resulted longer shoot but the weight was not different than other temperature treatments, whereas cytokinin treatment did not differ in shoot length, percentage of bud growth per seed, and fresh weight of shoots.Keyword: Potato Seed, Storage Temperature, Cytokinin, Dormancy
Multiplikasi in vitro stroberi kultivar Tochiotome dengan penambahan jenis dan konsentrasi sitokinin untuk perbanyakan bibit Ega Raisya; Denny Sobardini Sobarna; Anne Nuraini; Syariful Mubarok; Erni Suminar; Masako Akutsu
Kultivasi Vol 19, No 3 (2020): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v19i3.26932

Abstract

Sari Perbanyakan tanaman stroberi secara konvensional dilakukan dengan menggunakan stolon, tetapi kurang efektif serta kualitas bibit yang dihasilkan kurang baik akibat adanya akumulasi penyakit. Budidaya stroberi memerlukan adanya perbanyakan bibit secara massal, tetapi tidak mengubah kualitasnya. Multiplikasi in vitro menjadi solusi untuk penyediaan bibit berkualitas dalam jumlah besar. Upaya untuk mendapatkan tunas in vitro dalam jumlah banyak yakni perlu adanya penambahan zat pengatur tumbuh golongan sitokinin seperti Benzylaminopurine (BAP) atau Thidiazuron (TDZ). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menetapkan jenis serta konsentrasi sitokinin dengan hasil terbaik dalam multiplikasi stroberi kultivar Tochiotome. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari tujuh perlakuan yang diulang lima kali, yaitu: Kontrol (tanpa sitokinin); BAP (0,25 ppm; 0,50 ppm; 0,75 ppm), dan TDZ (0,25 ppm; 0,50 ppm; 0,75 ppm). Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa penambahan sitokinin tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan bobot segar planlet. Media perlakuan kontrol dapat menghasilkan jumlah akar lebih banyak dibandingkan dengan media ditambah sitokinin. Penambahan BAP 0,50 ppm  berpengaruh positif terhadap jumlah daun dan dapat menghasilkan runner secara in vitro. Pemberian BAP 0,50 ppm cenderung dapat meningkatkan dan mempercepat produksi bibit tanaman stroberi kultivar Tochiotome.Kata Kunci: Benzylaminopurine (BAP), Thidiazuron (TDZ), Stroberi, Kultur Jaringan AbstractStolon is used for conventional propagation of strawberry, but it is less effective and the quality of the seeds is not good due to the accumulation of disease. In vitro multiplication becomes a solution for the supply of quality seeds in a fast time. The addition of growth regulator cytokinin, such as Benzylaminopurine (BAP) or Thidiazuron (TDZ) can produced the large number of shoot. The objective of this study was to obtain the best type and concentration of cytokinin in the multiplication of strawberry ‘Tochiotome’. The study was conducted at the Plant Tissue Culture Laboratory, Seed Technology, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with seven treatments and five replications, that were: Control (without cytokinin); BAP (0.25 ppm; 0.50 ppm; 0.75 ppm), and TDZ (0.25 ppm; 0.50 ppm; 0.75 ppm). The results indicated that addition of cytokinin did not affected increasing number of shoots and fresh weightof plantlets. Control media can produce larger number of roots than those containing PGRs, this might be due to the endogenous auxin concentrations found in strawberry plants. Also, cytokinin inhibited root formations process. Plants treated with BAP 0.50 ppm increased for the number of leaves and produced runners in vitro. This study showed application of BAP with 0.50 ppm increased and accelerated the production of strawberry ‘Tochiotome’ seedlings.Keywords: Benzylaminopurine (BAP), Thidiazuron (TDZ), Strawberry, Tissue Culture
Respon pertumbuhan dan hasil cabai keriting (Capsicum annuum L.) CK5 akibat perlakuan pupuk npk dan pupuk hayati Heru Waskito; Anne Nuraini; Neni Rostini
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.374 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i2.17856

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  respon pertumbuhan dan hasil tanaman cabai keriting CK5 terhadap dosis pupuk NPK dan pupuk hayati  Percobaan dilaksanakan di Desa Sindanglaya, Kelurahan Cibereum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat dari  bulan Agustus 2017 sampai Januari 2018. Rancangan percobaan menggunakan Split Plot  dengan 4 ulangan. Yang menjadi main plot adalah dosis pupuk NPK yang terdiri dari dari 2  taraf yaitu 50% dan 100% NPK, dan sub plot adalah konsentrasi pupuk hayati  yang terdiri dari 3  taraf  yaitu :  0%; 0,5%; dan 1%. Hasil percobaan menunjukkan  bahwa:  pengaruh interaksi dosis NPK dengan konsentrasi pupuk hayati hanya terjadi pada tinggi tanaman umur 28 HST,  perlakuan yang terbaik adalah dosis NPK 100% dengan konsentrasi pupuk hayati 0,5%. Pupuk NPK dan konsentrasi pupuk hayati secara mandiri berpengaruh terhadap jumlah dan bobot buah. Dosis NPK yang terbaik dalam menghasilkan jumlah dan bobot buah adalah 100% NPK, dan konsentrasi pupuk hayati yang terbaik adalah 0,5%.Kata Kunci:     cabai CK 5, pupuk hayati, pupuk NPK, pertumbuhan, hasil ABSTRACT This study aims to find out  response of growth and yield of curly red chili plant  cv. CK5  as a result of  NPK  and  organic fertilizer . The experiment was conducted  in Sindanglaya Village,  District Sukamantri, Ciamis Regency West Java Province, from  August 2017 until January 2018. The experiment  design used was Split Plot Design with 4 replications. The main plot was the dosage of NPK fertilizer consisting of two levels : 50% and 100% NPK, and the sub plot was concentration organic fertilizer consisting of three levels : 0%; 0.5%; and 1%. The results showed that  : the effect of NPK dosage interaction with concentration of biological fertilizer occurs only at plant height of 28 day after planting, the best treatment was 100% NPK dosage with 0.5% biofertilizer concentration. NPK fertilizer and concentration of biological fertilizers independently affected the amount and weight of fruit. The best dosage of  NPK in producing the amount and weight of fruit  was 100% NPK, and the best concentration of biofertilizer was 0,5%.Keywords: Biofertilizer, curly  pepper CK5, growth, NPK fertilizer, yield
Pengaruh sitokinin dan paklobutrazol terhadap pertumbuhan dan hasil benih kentang (Solanum tuberosum L.) G2 kultivar granola dengan sistem nutrient film technique M. Ibrahim; Anne Nuraini; Dedi Widayat
Kultivasi Vol 14, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.039 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v14i2.12073

Abstract

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh sitokinin dan paklobutrazol terhadap pertumbuhan dan hasil benih kentang (Solanum tuberosum L.) G2 kultivar Granola dengan menggunakan sistem Nutrient Film Technique. Percobaan dilakukan di rumah plastik CV. Alam Pasundan, Cibiru, Bandung dari bulan April sampai dengan Agustus 2014 dengan ketinggian lokasi penelitian ± 700 m dpl. Rancangan perco-baan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan enambelas perlakuan dan masing-masing terdiri dari tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah : A (kontrol), B (25 ppm sitokinin), C (50 ppm sitokinin), D (75 ppm sitokinin), E (50 ppm paklobutrazol), F (100 ppm paklobutrazol), G (150 ppm paklobutrazol), H (25 ppm sitokinin + 50 ppm paklobutrazol), I (25 ppm sitokinin + 100 ppm paklobutrazol), J (25 ppm sitokinin + 150 ppm paklobutrazol), K (50 ppm sitokinin + 50 ppm paklobutrazol), L (50 ppm sitokinin + 100 ppm paklobutrazol), M (50 ppm sitokinin + 150 ppm paklobutrazol), N (75 ppm sitokinin + 50 ppm paklobutrazol), O (75 ppm sitokinin + 100 ppm paklobutrazol), P (75 ppm sitokinin + 150 ppm paklobutrazol). Hasil perco-baan menunjukan bahwa terdapat pengaruh pemberian kombinasi konsentrasi sitokinin dan paklobutrazol terhadap tinggi tanaman, jumlah daun majemuk, bobot segartanaman, dan bobot kering tanaman, tetapi tidak terdapat pengaruh terhadap komponen hasil. Pemberian sitokinin dan paklobutrazol masih belum mampu meningkatkan hasil benih kentang.Kata kunci : Benih ∙ Kentang ∙ Sitokinin, paklobutrazol ∙ Nutrient film technique 
Respons dua mutan tomat terhadap cekaman kekeringan Ayu Ratna Ningrum; Anne Nuraini; Erni Suminar; Syariful Mubarok
Kultivasi Vol 19, No 2 (2020): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v19i2.27095

Abstract

AbstrakKondisi cekaman kekeringan pada tanaman tomat dapat menyebabkan pertumbuhan dan produksi tanaman tomat menurun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan perakitan varietas tanaman baru yang tahan terhadap cekaman kekeringan. Beberapa hasil mutasi gen IAA pada tomat mutan Micro-Tom mampu menghasilkan tanaman yang toleran terhadap kondisi stress secara abiotik, yaitu pada galur iaa9-3 dan iaa9-5. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respons pertumbuhan vegetatif pada iaa9-3 dan iaa9-5 dalam kondisi cekaman kekeringan dengan metode in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan September sampai Desember 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah  mutan, yaitu iaa9-3, iaa9-5 dan Wild-Type Micro-Tom (WT-MT) sebagai kontrol, dan faktor kedua adalah tingkat cekaman kekeringan menggunakan konsentrasi polietilen glikol (PEG) yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara galur dan tingkat cekaman kekeringan pada parameter tinggi tanaman, jumlah akar, dan panjang akar, sedangkan pada jumlah daun eksplan dipengaruhi oleh galur dan tingkat cekaman secara mandiri. Pada kondisi tercekam, semua galur tomat yang diamati mengalami penurunan pada seluruh parameter pertumbuhan terutama pada galur WT-MT.  Galur iaa9-3 dan iaa9-5 toleran terhadap cekaman kekeringan sampai dengan konsentrasi 5% PEG, sedangkan untuk WT-MT sudah mengalami penurunan yang signifikan pada cekaman kekeringan 5% PEG.Kata Kunci: cekaman kekeringan, auksin, tomat, mutan, polietilen glikolAbstractDrought stress conditionin tomato plants cause the reduction of plant growth and production. One of the effort to resolve  this problem is by assembling new varieties that are tolerant to drought stress. Several IAA gene mutation have been generated to produced tolerant plant under abiotic stress condition, namely iaa9-3 and iaa9-5. This research was conducted to determinerespons of vegetative growth of iaa9-3 and iaa9-5 under drought stress condition by in vitro method. The experiment was conducted at Tissue Culture and Seed Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Padjajaran from September to December 2019. The experimental design used factorial Randomized Block Design, consisted of two factors and repeated three times. The first factor was tomatoes mutant, namely iaa9-3, iaa-95, and Wild Type Micro-Tom (WT-MT) as a control and the second factor was the level of drought stress of polyethylene glycol (PEG), namely 0%, 5%, 10%, 15%, and 20%. Under drought stress condition, all of tomato lines have a decrease in vegetative growth parameters. The results showed that there was an interaction effect between tomatoes mutant and the level of drought stress on the parameters of plant height, the number of roots, and root length, whereas the number of explant leaves was affected by tomatoes mutant and stress level independently. Lines of iaa9-3 and iaa9-5 were tolerant of drought stress up to a PEG 6000 concentration of 5% PEG, whereas for WT-MT there has been a significant decrease under drought stress of 5% PEG.Keywords : drought stress, auxin, tomato, mutant, poliethylene glycolKondisi cekaman kekeringan pada tanaman tomat dapat menyebabkan pertumbuhan dan produksi tanaman tomat menurun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan perakitan varietas tanaman baru yang tahan terhadap cekaman kekeringan. Beberapa hasil mutasi gen IAA pada tomat mutan Micro-Tom mampu menghasilkan tanaman yang toleran terhadap kondisi stress secara abiotik, yaitu pada galur iaa9-3 dan iaa9-5. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respons pertumbuhan vegetatif pada iaa9-3 dan iaa9-5 dalam kondisi cekaman kekeringan dengan metode in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan September sampai Desember 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah  mutan, yaitu iaa9-3, iaa9-5 dan Wild-Type Micro-Tom (WT-MT) sebagai kontrol, dan faktor kedua adalah tingkat cekaman kekeringan menggunakan konsentrasi polietilen glikol (PEG) yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara galur dan tingkat cekaman kekeringan pada parameter tinggi tanaman, jumlah akar, dan panjang akar, sedangkan pada jumlah daun eksplan dipengaruhi oleh galur dan tingkat cekaman secara mandiri. Pada kondisi tercekam, semua galur tomat yang diamati mengalami penurunan pada seluruh parameter pertumbuhan terutama pada galur WT-MT.  Galur iaa9-3 dan iaa9-5 toleran terhadap cekaman kekeringan sampai dengan konsentrasi 5% PEG, sedangkan untuk WT-MT sudah mengalami penurunan yang signifikan pada cekaman kekeringan 5% PEG. Kata Kunci: cekaman kekeringan, auksin, tomat, mutan, polyetilen glycol
Rekayasa source – sink dengan pemberian zat pengatur tumbuh untuk meningkatkan produksi benih kentang di dataran medium desa Margawati kabupaten Garut Anne Nuraini; Yayat Rochayat; Dedi Widayat
Kultivasi Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.058 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v15i1.12002

Abstract

Produksi kentang dipengaruhi oleh keter-sediaan benihnya. Kurangnya pasokan atau ketersediaan benih kentang  akan berpengaruh pada produksi kentang. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kualitas ubi kentang G2 yang dihasilkan dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT) di lapangan. Percobaan dilakukan pada dataran medium di Garut dengan ketinggian tempat sekitar 700 m di atas permukaan laut untuk menghasilkan benih kentang G3 dengan perlakuan aplikasi sitokinin 0, 5, 10 dan 15 ml/L dan paklobutrazol 0, 15, 30 dan 45 ml/L. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi sitokinin yaitu : 0, 5, 10 dan 15 ml/L, dan faktor kedua adalah konsentrasi  paklo-butrazol yaitu : 0, 15, 30 dan 45 ml/L. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak terjadi pengaruh interaksi konsentrasi sitokinin dengan konsentrasi paklobutrazol  terhadap kuantitas dan kualitas benih kentang G3. Konsentrasi sitokinin yang paling baik dalam menghasilkan kuantitas dan kualitas benih kentang G3 adalah 5 ml/L, sedangkan konsentrasi paklobutazol yang paling baik adalah 15 ml/L. Kata kunci: Benih ∙ Kentang ∙ Sitokinin ∙ Paklobutrazol ∙ Dataran medium
Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai (Capsicum sp.) yang diberi pupuk hayati pada pertanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) TBM I. Cucu Suherman; Mochamad Arief Soleh; Anne Nuraini; Annisa Nurul Fatimah
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.32 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i2.18116

Abstract

ABSTRAK Penerapan sistem tanam tumpangsari pada tanaman belum menghasilkan (TBM) kelapa sawit merupakan upaya optimalisasi lahan. Pada TBM I  terdapat 75 % ruang terbuka yang dapat ditanami tanaman sela, misalnya tanaman cabai. Tanaman sawit umumnya ditanam pada lahan marginal, maka untuk optimasi pertumbuhan tanaman sela perlu dipilih varietas yang baik dan dilakukan pemupukan. Penelitian bertujuan untuk memperoleh pengaruh interaksi terbaik varietas dan dosis pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai yang ditanam pada pertanaman kelapa sawit TBM 1. Percobaan dilakukan mulai Oktober 2017 sampai Pebruari 2018 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas padjadjaran.  Ordo tanah inceptisol. Tipe curah hujan C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, ketinggian tempat ± 780 m dpl. Rancangan menggunakan Split plot design,  varietas sebagai main plot terdiri atas dua taraf, yaitu CK5 dan CB2 dan dosis pupuk hayati sebagai sub plot terdiri atas enam taraf, yaitu 0, 50, 100,150, 200 dan 250 mL/tanaman. Setiap perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai dipengaruhi secara mandiri maupun interaksi varietas dan dosis pupuk hayati. Pada CK5 taraf dosis pupuk hayati 200 mL/tanaman menghasilkan tinggi tanaman, lebar kanopi dan jumlah cabang yang lebih baik. Pada CB2, taraf dosis 150 mL/tanaman memberikan pengaruh interaksi lebih baik. Secara mandiri, dosis pupuk hayati 150 mL/tanaman menghasilkan pertumbuhan terbaik pada tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlah cabang, bobot dan jumlah buah tanaman cabai, sementara untuk varietas CK5 menghasilkan tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang dan jumlah buah yang lebih baik dibanding CB2.Kata kunci : Tumpangsari, varietas cabai, pupuk hayati. ABSTRACT Intercropping system on immature plant of oil palm is an alternative cropping system to reach land optimization. In immature oil palm plantation there is 75% uncover space among the crops which could be used for cultivating annual crops. Generally, oil palm is cultivated on marginal land, so that to optimize the growth of annual crop is needed proper variety and fertilization. The objective of this research was to get the best interaction effect among variety and dosage of organic fertilizer at year 1 immature palm. The experiment was conducted at experimental station of Agricultural Faculty, Universitas Padjadjaran from Oct 2017 to Feb. 2018, it used of split plot. Variety was a main plot with two level namely: CK5 and CB2, the dosage of organic fertilizer was a sub plot with six level namely: 0, 50, 100, 150, 200, and 250 mL of organic fertilizer. All treatments were repeated for four times. The growth and yield of chili crop were affected independently by variety or fertilizer dosage even by interaction of both. CK5 and 200 mL of fertilizer showed better on plant height, canopy width, and number of branch, whereas interaction effect of CB2 and 150 mL of fertilizer showed the best on plant growth. Independent effect of organic fertilizer of 150 mL affected on plant height, canopy width, branch number, fruits number and weight of chill crop. Independent effect of variety of CK5 showed better than of CB2 on plant height, fruit number and yield.Keywords : Intercropping, Chili Variety, Organic Fertilizer
Aplikasi chitosan untuk meningkatkan hasil benih kentang G0 (Solanum tuberosum l.) kultivar granola pada berbagai jenis media tanam Anne Nuraini; Jajang Sauman Hamdani; Erni Suminar; Dian Ardiansyah
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.668 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14374

Abstract

Salah satu kendala dalam produksi kentang di Indonesia adalah rendahnya mutu benih yang digunakan. Untuk mengatasi hal tersebut penyediaan benih kentang dilakukan dengan kultur jaringan, dengan menghasilkan benih Go. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui efek aplikasi chitosan  terhadap hasil benih kentang G0 kultivar Granola pada berbagain jenis media tanam. Percobaan dilaksanakan dari  Februari 2012 sampai Mei 2012 di screen house Kebun Percobaan Ciparanje  Faperta UNPAD, Jatinangor, dengan ketinggian tempat ±750 m dpl. Percobaan memakai  Rancangan Petak Terbagi  dengan tiga ulangan. Petak utama adalah komposisi  media tanam terdiri dari empat  taraf, yaitu tanah + sekam, tanah + sekam + pupuk kotoran hewan (kohe) ayam , tanah + sekam + pupuk kohe sapi , tanah + sekam + kascing dengan perbandingan 2:1:1. Anak petak adalah konsentrasi chitosan  terdiri dari empat taraf, yaitu 0%, 0,2 % , 0.4% , dan 0.6%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengaruh chitosan tidak bergantung pada jenis media terhadap pertumbuhan dan hasil benih G0. Secara mandiri perlakuan pupuk kohe sapi dan kascing menghasilkan pertumbuhan dan hasil benih terbaik,Kata kunci :  chitosan, kotoran hewan sapi, kotoran hewan ayam, kascing, hasil benih
Co-Authors Ade Ismail Ade Ismail Ade Ismail Ade Ismail Ade Setiawan Adelia Anissa Putri Adinda Cikal Amalia Adinda Cikal Amalia Adinda Cikal Amalia, Adinda Cikal Aep Wawan Irwan Agung Karuniawan Agus Wahyudin Agus Wahyudin Al Aufa, Elfa Muhammad Ihsan Alan Randall Ali Qosim, Warid Alin Robiah Al Adawiyah Alvianto, Muhamad Amalia, Inneke Anindya, Marsya Nabila Anne Nurbaity ANNE NURBAITY Anni Yuniarti Annisa Nur Rahmani Annisa Nuraisah Annisa Nurul Fatimah Aprilia, Eva Argapati Sela Argapati Sela, Argapati Arin Rosmala Ariyanto, Nur Budi Arrin Rosmala Ashari, Asri Mulya Asri Peni Wulandari Asyifa Mardatillah Ayu Ratna Ningrum Azizah, Annisa Nanda Nur Bella Dian Ratnasari. Bella Dian Ratnasari., Bella Dian Camelia Andriani Christine Angel Citra Bakti, Citra Cucu Suherman Cucu Suherman Cucu Suherman V.Z Debby Yolanda Sulista Dedi Ruswandi Dedi Widayat Denny Sobardini Denny Sobardini Denny Sobardini Sobarna Denny Sobardini, Denny Diah Rochana Puspitasari Dian Ardiansyah Dian Ardiansyah Dikdik Kurnia Dirga Sapta Sara Donita, Yukta Alvira Edy Suryadi Ega Raisya Ega Raisya Eka Siti Windia Eko Wahyudi Elma, Tiara Erizon, Meisyela Salsabila Erni Erni Erni Suminar Eva Aprilia Eva Aprilia Ezura, Hiroshi Farida Farida Damayanti Fatimah, Annisa Nurul Fauzia Khaerunnisa Millenia Fenny Dewi Nuroktavianti Firman Rezaldi Fitri Widya Fitriatin Fitrianti Widya Lestari Ganjar Herdiansyah Gina Gustiani Pitaloka H. Apriyanto H. Apriyanto, H. Hanifah Rulistianti Hapizhah Hapizhah Hapizhah Hapizhah, Hapizhah Herlistin Mooy Heru Waskito Heru Waskito Hiroshi Ezura Hiroshi Ezura Ibrahim, Meynarti Sari Dewi Inneke Amalia Intan Ratna Dewi Anjarsari Intan Winara Iwan Setiawan Jajang Sauman Hamdani Khadamullah M Nurhuda Khadamullah Nurhuda Kusumadewi, Vira Kusumiyati Kusumiyati Luciana Djaya, Luciana M Kadapi M. Ibrahim M. Ibrahim, M. Marsya Nabila Anindya Masako Akutsu Meddy Rachmadi Megianti Agtari Meisyela Erizon Mia Munggarani Mira Ariyanti Mita Indriani Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh, Mochamad Arief Mohamad Arief Soleh Mugayanti Muhamad Alvianto Muhamad Kadapi Muhamad kadapi, Muhamad Muhammad Abdillah Hasan Qonit Muhammad Syafii Murgayanti Murgayanti Neni Rostini Neni Rostini Niki Rahayu Noladhi Wicaksana Noor Istifadah Nur Azizah Romadhoni Nur Budi Ariyanto Nurjanah Nurjanah Nuroktavianti, Fenny Dewi Nursuhud Nursuhud Nuzula Suci Azima Nuzula Suci Azima, Nuzula Suci Pangaribuan, Ikhwan Fadli Parlinah, Linlin Pujawati Suryatmana Qonit, Muhammad Abdilah Hasan R. Damayanthi R. Damayanthi, R. R. Pratama R. Pratama, R. Rahmani, Annisa Nur Rahmat Budiarto Rahmawati, Vira Raisya, Ega Ramadani, Selika Fitrian Ramadhani, Selika Fitrian Randall, Alan Randriani, Enny Rezeki Simamora RIKA MELIANSYAH Rubaekah, Siti Sarah Rufaidah, Fathi S Sumadi Santika Sari Sari, Laela Shakina, Visira Deva Sheli Mustikasari Dewi SIska Rasiska, SIska Siti Julaeha, Siti Siti Rodiah Siti Sarah Rubaekah Siti Syarah Nurbaekah Suci Azima, Nuzula Sudarjat Sudarjat Sulistyaningsih Sulistyaningsih Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi SUMADI SUMADI Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sunjaya Putra SYARIFUL MUBAROK TATI NURHAYATI Tati Nurmala Tati Nurmala Tiara Elma Tino Mutiarawati Tino Mutiarawati Waluyo, Nurmalita WARID ALI QOSIM Wawan Sutari Yayat Rochayat Yayat Rochayat Suradinata Yayat Rochayat, Yayat Yudhistari Sihombing Yulianto, Fiky Yusti Yusti, Yusti Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Zulfatunnisa Zulfatunnisa