Claim Missing Document
Check
Articles

KESESATAN LOGIKA DALAM KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA Apriliani, Dini; Harjono, Hary Soedarto; Rahmawati, Sophia; Purba, Andiopenta
Ar-Risalah Media Keislaman Pendidikan dan Hukum Islam Vol. 24 No. 01 (2026): (April 2026)
Publisher : LPPM Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/ft89yt04

Abstract

This study aims to analyze the consistency characteristics of logical fallacy identification by a Large Language Model (LLM) and to identify the types and distribution of logical fallacies in students' undergraduate theses. The research employed a qualitative descriptive design supported by quantitative data. The sample consisted of six theses written by 2021-cohort Indonesian Language and Literature Education students at Universitas Jambi, selected through purposive sampling with a maximum-variation principle across three fields of study (Teaching, Linguistics, and Literature). Each argumentative chapter (Chapters I, II, IV, V) was analyzed using Claude Opus 4.6 across three independent runs with identical prompts, yielding 72 analysis sets. Consistency was measured using TARa (Total Agreement Rate at parsed-answer level) within an intra-rater reliability framework, while the qualitative data were analyzed with the Miles & Huberman (1994) model. The findings show that LLM identification consistency is low overall yet patterned (pooled TARa 31.58%; 24 out of 76 consistent instances): Chapter II attained the highest TARa (70.00%) and Chapter IV the lowest (3.45%). Among the 24 consistent instances, four fallacy types were identified: False Cause (54.17%), Begging the Question (25.00%), Hasty Generalization (16.67%), and Missing the Point (4.17%); no fallacies of Ambiguity were detected. The Teaching field contained the most instances (54.17%), and Chapter II was the most vulnerable structural component (58.33%). These findings extend Harjono’s (2011) work on relevance fallacies and provide an empirical basis for targeted pedagogical interventions to improve students’ logical reasoning, particularly in distinguishing correlation from causation and avoiding circular reasoning.
TRANSFORMASI ISTILAH KEPEMIMPINAN: DARI TUMENGGUNG KE PEMANGKU ADAT PADA SUKU ANAK DALAM DI DUSUN SEKALADI DESA PELEMPANG, JAMBI Simaremare, Tohap Pandapotan; Sihotang, Rina Oktaviana; Indriyati, Anisa; Sumardi, Lalu; Purba, Andiopenta; Megasari, Intan Indah; Siahaan, Parlaungan Gabriel; Kolo, Adriana
JURNAL PEKAN : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Vol 11, No 1 (2026): JURNAL PEKAN
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpk.v11i1.6443

Abstract

Suku Anak Dalam merupakan komunitas masyarakat adat yang berasal dari Provinsi Jambi, yang bermukim di kawasan hutan dan tersebar di beberapa wilayah seperti Kabupaten Batanghari, Merangin, Sarolangun, Muaro Jambi, dan lainnya. Salah satu kelompok Suku Anak Dalam berada di Desa Pelempang, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian ini didasarkan pada pernyataan Datok Rahman, selaku Pemangku Adat Suku Anak Dalam di Desa Pelempang, yang menyatakan bahwa setelah kemerdekaan Indonesia, istilah “Tumenggung” diganti menjadi “Pemangku Adat.” Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan para Pemangku Adat Suku Anak Dalam di Desa Pelempang. Penelitian ini berfokus pada kepemimpinan para Pemangku Adat dalam komunitas Suku Anak Dalam di Desa Pelempang, serta mengkaji apakah terdapat perubahan dalam tugas dan wewenang mereka setelah istilah kepemimpinan tertinggi berubah dari Tumenggung menjadi Pemangku Adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang berubah hanya istilahnya, sedangkan tugas dan wewenang Pemangku Adat tetap sama seperti Tumenggung pada masa sebelumnya. Dengan kata lain, Pemangku Adat tetap memegang posisi kepemimpinan tertinggi dalam komunitas Suku Anak Dalam di Desa Pelempang. Pemilihan Pemangku Adat didasarkan pada garis keturunan, kemauan, serta kemampuan calon penerus, dan juga persetujuan dari masyarakat. Peran dan tanggung jawab Pemangku Adat dapat berbeda-beda di setiap komunitas dan kebudayaan.Kata kunci: Tumenggung, Pemangku Adat, Suku Anak Dalam
Implikatur Percakapan Sindiran Pada Komunitas Batak Toba Parsahutaon Dos Roha Lintas Timur Perumahan Aurduri: Kajian Pragmatik Simangunsong, Susi Susanti; Purba, Andiopenta; Priyanto, Priyanto
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6766

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam bentuk lingual, satuan pragmatis, dan implikasi pragmatis dari implikatur percakapan sindiran yang digunakan dalam komunitas Batak Toba Parsahutaon Dos Roha Lintas Timur Perumahan Aurduri. Sindiran merupakan salah satu strategi komunikasi tidak langsung yang sering digunakan dalam interaksi sosial masyarakat Batak Toba untuk menyampaikan kritik, teguran, atau evaluasi tanpa menimbulkan konflik terbuka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik untuk memahami makna tuturan berdasarkan konteks penggunaannya. Data penelitian berupa tuturan lisan berbahasa Batak Toba yang diperoleh melalui teknik simak libat cakap, perekaman, dan pencatatan lapangan guna menjamin keaslian dan kealamian data. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan mengacu pada teori implikatur percakapan Grice (1975) serta prinsip kesantunan Leech (1983) sebagai kerangka analisis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sindiran dalam komunitas tersebut dominan direalisasikan dalam bentuk kalimat deklaratif, namun juga ditemukan penggunaan kalimat interogatif retoris dan imperatif tidak langsung yang mengandung makna implisit. Secara pragmatis, tuturan sindiran berfungsi sebagai tindak tutur asertif untuk menyatakan penilaian, direktif tidak langsung untuk memengaruhi perilaku, serta ekspresif untuk menyampaikan perasaan penutur. Implikasi pragmatis yang muncul menunjukkan bahwa sindiran berperan penting sebagai mekanisme kontrol sosial yang efektif dalam menjaga kesantunan, memperkuat norma sosial, serta mempertahankan keharmonisan hubungan interpersonal dalam komunitas Batak Toba.
Co-Authors Aat Ruchiat Nugraha Adrias Adrias Agus Setyonegoro AHMAD, MUHLIS Akbar, Oky Akhyaruddin Akhyaruddin, Akhyaruddin Albertus Sinaga Anggrawan Janur Putra Anisa Indriyati, Anisa Apriliani, Dini Ardi Pranata Aswan, Dara Mutiara Azhary, Fitriyani Boy Indrayana Deri Rachmad Pratama, Deri Rachmad Dila Nurzafti, Kharisma Eddy Pahar Harahap Eko Kuntarto Gulo, Della Silvi Harap, Eddy Pahar Harianja, Sri Indriani Harisnawati Harjono, Harry Soedarto Hary Soedarto Harjono Herman Budiyono Hilman Yusra Ilmi, Hidayatun Nur Isti Wahyuningsih Junita Yosephine Sinurat Kamaruddin Kamaruddin Kamarudin Kamarudin Kasari, Devi Kolo, Adriana Lini, Saplini Maharani, Faiga Aulia Mahrus Mahrus, Mahrus Mayasari, Ajeng Widya Megasari, Intan Indah Muhelya, Wahyunda Narayanti, Putu Satya Nazhifah Nazurty Nazurty Ningsih, Arum Gati Norawati, Rosinta Novita Sari Nurfadilah Nurfadilah Panjatan, Vera Sari Priyanto Priyanto Putri Maharani Rachmahtika, Rachmahtika Rahmadani, Laila Despi Rahmawati, Rahmawati Ramadanti, Sintia Rustam Rustam Saputra, Ade Bayu Sari, Welsa Laudia Setiyadi, Bradley Siahaan, Parlaungan Gabriel Sihotang, Rina Oktaviana Simangunsong, Susi Susanti Simanjuntak, Yerlina Simaremare, Tohap Pandapotan Simarmata, Dicky Anthony Yohannes Simatupang, Gugun Manosor Sinaga, Maria Br Sipahutar, Bernard Sitohang, Rinawati Sonia, Adelia Gita Sophia Rahmawati Sumardi, Lalu Wahyuni, Suci Sri Weni Yulastri Widayan, Pramugita Wini, Lusia Oktri Wulandary, Ryana Putri Yani, Dwi Fitri Yoga Mestika Putra Yuliyanti, Eva Yulmiati M.Pd S.S Yundi Fitrah Yusra D Yusra D. Yusra Dewi