p-Index From 2021 - 2026
10.024
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Public Health Science (IJPHS) Jurnal Kebidanan JURNAL SISTEM INFORMASI BISNIS Jurnal Kesehatan Masyarakat JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing) Jurnal Kesehatan Masyarakat Jurnal Populasi Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Jurnal Teknologi dan Sistem Komputer Promotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA) Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Media Medika Muda Journal of Public Health for Tropical and Coastal Region Amerta Nutrition EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Jurnal Kesehatan Unnes Journal of Public Health Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Contagion: Scientific Periodical Journal of Public Health and Coastal Health Jurnal Ners Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesian Journal of Global Health research JOURNAL LA MEDIHEALTICO MAHESA : Malahayati Health Student Journal Interdisciplinary Social Studies Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) JURNAL KESEHATAN SAMODRA ILMU Journal of Social Research Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Journal of Hospital Administration and Management (JHAM) Promotor: Jurnal Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Proceeding Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Jurnal Info Kesehatan Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal) KESMAS UWIGAMA: Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesian Journal of Global Health Research
Claim Missing Document
Check
Articles

Factors Related to the Use of Long Term Contraception Method (A Study on Contraceptive Users in Kabupaten Sidoarjo, East Java Province) Djauharoh A. Hadie; Martha Irene Kartasurya; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.685 KB) | DOI: 10.14710/jmki.3.1.2015.%p

Abstract

Laju pertumbuhan penduduk Indonesia cukup tinggi, sehingga penggunaan MKJP sangat diperlukan. Penggunaan MKJP di Kabupaten Sidoarjo cenderung menurun, dan lebih rendah dibanding penggunaan MKJP di tingkat Provinsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan, sikap akseptor terhadap MKJP, dan akses pelayanan KB, serta sikappetugas dalam pelayanan KB dengan penggunaan MKJP di Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan disain Cross Sectional. Populasi penelitian adalah akseptor aktif di Kabupaten Sidoarjo. Subyek sejumlah 100 orang akseptor MKJP dan non MKJP, dipilih secara purposif. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder, dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square, dan analisis multivariat dengan Regresi Logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 63% responden berumur lebih dari 30 tahun, 54% berpendidikan Dasar, 65% bekerja sebagai ibu rumah tangga, 52% berpenghasilan kurang dari UMR, 79% memiliki paritas rendah (<3), dan 81% umur anak terkecil ≥ 3 tahun. Analisis bivariat didapatkan ada hubungan pengetahuan (p=0,0001), sikap akseptor terhadap MKJP (p=0,001), sikap akseptor terhadap akses pelayanan KB dengan penggunaan MKJP (p=0,019). Sikap petugas dalam pelayanan KB (p=0,715) tidak berhubungan dengan penggunaan MKJP. Variabel yang bersamasama berhubungan dengan penggunaan MKJP adalah pengetahuan, sikap akseptor tehadap MKJP, dan akses pelayanan KB. Faktor yang berhubungan paling kuat dengan penggunaan MKJP adalah pengetahuan akseptor tentang MKJP. Growth rate of Indonesian population was high, and long term contraception method (MKJP) was needed. The use of MKJP in Sidoarjo district tended to decrease; it was lower than the use of MKJP in province level. Objective of this study was to analyze association between knowledge, attitude of acceptors towards MKJP, family planning access, workers attitude in the family panning (KB) service and the use of MKJP in Sidoarjo district, East Java province. This was an observational-analytical and quantitative study using cross sectional approach. Study population was active acceptors in Sidoarjo district.Study subjects were 100 MKJP and non MKJP acceptors who were purposively selected. Data collection was done by collecting primary and secondary data. Data was analyzed by applying descriptive analysis, Chi-Square test, and multiple logistic regressions. Results of the study showed that 63% of respondents were more than 30 years old, 54% of respondents’ level of education were elementary school, 65% of respondents worked as housewives, 52% of respondents had salary below the minimum regional pay (UMR), 79% of respondents had low parity (< 3), and 81% of respondents had the last child with age 3 years old or higher. Results of bivariate analysis showed association between the use of MKJP and knowledge (p= 0.0001), acceptor attitude towards MKJP (p= 0.019), acceptor attitude towards AKB service accessibility (p= 0.019). Workers attitude in the KB service (p= 0.715) did not associate with the use of MKJP. Variables that jointly rellated to the use of MKJP were knowledge, attitude of acceptor towards MKJP, and accessibility to KB service. The strongest factor that associated with the use of MKJP was knowledge of acceptor about MKJP.
Implementasi Program Pembinaan Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Institusi Pendidikan oleh Petugas Promosi Kesehatan Puskesmas Wilayah Kota Surabaya Hadina Eka Camalia; Bagoes Widjanarko; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 5, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.5.3.2017.36-42

Abstract

Sejak tahun 2013 Kota Surabaya telah melakukan upaya peningkatan PHBS institusi pendidikan melalui “Eco School” dan sebanyak 84% mendapat pembinaan tentang PHBS, namun belum dapat mengubah perilaku siswa, sedangkan di wilayah Surabaya Barat hanya 68,75%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi program pendidikan kesehatan perilaku hidup bersih dan sehat institusi pendidikan oleh petugas promosi kesehatan Puskesmas Wilayah Kota Surabaya Barat.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sebagai informan utama (tim promosi kesehatan dari 4 Puskesmas) dan informan triangulasi (4 kepala Puskesmas, 8 guru UKS, dan 1 kasie pelayanan kesehatan dasar Dinas Kesehatan Kota Surabaya). Penentuan informan berdasarkan cakupan pembinaan PHBS.Teknik analisis data dengan analisis isi.Hasil penelitian menunjukkan petugas pelaksana program PHBS belum sesuai dengan Keputusan Menteri no 585/menkes/sk/V/2007 yaitu D III Promosi kesehatan, namun memiliki jabatan fungsional sebagai koordinator promosi kesehatan, semua petugas belum mendapatkan pelatihan PHBS institusi pendidikan. Pendanaan kegiatan upaya mencapai sekolah sehat di Puskesmas diambil dari BOK dan APBD sudah mencukupi, di sekolah didanai BP3 dan sumbangan siswa. Peralatan sarana untuk penyuluhan beberapa dalam kondisi rusak. Dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan tidak tersedia petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Perencanaan dilakukan 1 tahun sekali membahas hasil pengamatan di institusi pendidikan terutama target yang belum tercapai di tahun sebelumnya. Perencanaan, pengorganisasian,penggerakan, pelaksanaan serta penilaian dilakukan oleh tim promkes. Indikator program PHBS yang belum mencapai target adalah tersedianya kantin sehat dan menimbang badan serta ukur tinggi badan setiap 6 bulan. Program PHBS sekolah sudah dilaksanakan namun latar belakang pendidikan petugas belum sesuai, belum tersedia petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis secara khusus bagi petugas pelaksana program di Puskesmas. 
Pengembangan Sistem Informasi Pemantauan Alat Kesehatan Untuk Mendukung Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan Di Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM) Provinsi Jawa Tengah Hamdan Syah Alam; Sudiro Sudiro; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 4, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.093 KB) | DOI: 10.14710/jmki.4.3.2016.187-195

Abstract

An information system of monitoring health equipment at Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM) in Province of Central Java was very simple. The available system had not resulted complete, accurate, and well-timed information in accordance with the needs of management to monitor health equipment in all health service rooms. The aim of this study was to develop an information system of monitoring health equipment to support quality assurance of health services at BKIM in the Province of Central Java. This was a qualitative-quantitative study using Pre-Experimental design with one group pretest-posttest approach. Data were collected using methods of observation and interview. Furthermore, qualitative data were analysed using content analysis whereas quantitative data were presented descriptively using a balanced average value. The result of this study showed that a balanced average value before developing the system was 37.73 and after developing the system was 78.90 with the difference equal to 41.17. There needs commitment and support from the head of BKIM in Central Java Province. Implementation of the developed system needs to be continually monitored. Socialisation and training needs to be conducted for all employees who have main tasks and functions relating to health equipment. In addition, budget for operational costs and system maintenance needs to be allocated.
The Corelation between Perception of Leadership Practice and Perception of Service Quality by Medical and Paramedical Staff in Perinatal Room Kraton Hospital, Pekalongan Moh. Hasyim Purwadi; Sudiro Sudiro; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1378.12 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Pelayanan perinatal merupakan salah satu pelayanan unggulan di RSUD Kraton.Keterbatasan tenaga kesehatan terlatih dan kurangnya peralatan serta kurangnya dukunganpimpinan terhadap rumahsakit sayang bayi merupakan permasalahan yang dijumpai dalampelayanan perinatal di RSUD Kraton.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruhpersepsi tentang praktek kepemimpinan terhadap persepsi mutu pelayanan di ruang perinatalRSUD Kraton Kab. Pekalongan. Jenis penelitian adalah analitik kuantitatif observasionaldengan pendekatan belah lintang (cross sectional). Pengumpulan data menggunakankuesioner dan observasi. Populasi sama dengan sampel penelitian adalah seluruh tenagamedis dan paramedis di ruang perinatal RSUD Kraton sebanyak 36 orang. Data dianalisisdengan uji korelasi Pearson product moment dan rank Spearman dilanjutkan uji regresilogistik. Hasil penilitian ini menunjukkan bahwa persepsi tentang praktek kepemimpinanmenantang proses: kategori baik (58,3%); menginspirasi visi bersama: kategori cukup(58,3%); memberdayakan orang lain untuk berbuat: kategori baik (63,9%), menjadi model:kategori cukup (52,8%); mendorong semangat: kategori baik (50%), dan persepsi tentangmutu pelayanan: kategori baik (55,6%). Ada hubungan antara persepsi praktek kepemimpinantentang menantang proses (r=0,832, p=0,0001), menginspirasi visi bersama ( =0,78,p=0,0001), mendorong semangat ( =0,615, p=0,0001) dan menjadi model ( =0,445,p=0,007) dengan persepsi mutu pelayanan perinatal. Tidak ada hubungan antara persepsipraktek kepemimpinan tentang memberdayakan orang lain untuk berbuat (r=0,252, p=0.139)dengan persepsi mutu pelayanan perinatal. Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwapersepsi praktek kepemimpinan menginspirasi visi bersama mempunyai pengaruh palingbesar terhadap persepsi mutu pelayanan perinatal (exp β = 84,5), diikuti praktekkepemimpinan mendorong semangat (exp β = 22,8) dan praktek kepemimpinan menjadimodel (exp β = 6,4).Perinatal service is one of eminent services in Kraton Hospital. Limitation of trained staff andless completeness of equipment as well as less leadership supports for “infant caringhospital” has been problems in the perinatal service in Kraton Hospital.ResearchObjective was to analyze influence of leadership practice perception to service qualityperception in perinatal room Kraton Hospital. Type of research was observationalquantitative analytic, with cross sectional approach. Data collection used questioner andobservation. Sample was total population. Those were all medical staff and paramedical staffin perinatal room Kraton Hospital, totally 36 respondents. Data analysis used Pearsonproduct moment correlation and Rank Spearman followed by logistic regression. Resultsshowed that perception of challenging process of leadership practice had category good(58.3%); inspiring of shared vision had category moderate (58.3%); empowering others hadcategory good (63.9%); become a model had category moderate (52.8%); driving spirit hadcategory good (50%); and perception of quality of services had category good (55.6%).There was a correlation between challenging process of leadership practices (ρ=0.832;p=0.0001); inspiring shared vision ( =0.78, p=0.0001); driving spirits ( =0.615,p=0.0001) and become a model ( =0.445, p=0.007) and perception of quality of perinatalservices. There was no correlation between perception of empowering others of leadershipand (ρ=0.252, p=0.139). Logistic Regression analysis showed that perception of inspiringshared vision of leadership had the greatest influence to perception of perinatal qualityservices (exp β = 84.5), followed by driving spirit of leadership (exp β = 22,8) and become amodel (exp β = 6,4).
Evaluation on Integerated Health Post Monitoring Process by Health Workers in Singkawang City Primary Healthcare Centers,West Kalimantan Dwi Sulistyawati; Laksmono Widagdo; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.139 KB) | DOI: 10.14710/jmki.2.1.2014.%p

Abstract

AbstrakAngka Kematian Bayi (AKB) di Singkawang Tahun 2011 masih tinggi yaitu 9/1000 Kelahiran Hidup (Nilai Absolut 44 kematian). Di Posyandu, pelayanan dasar yang bermanfaat bagi penurunan AKB adalah program Gizi dan Penanggulangan diare. Sementara perkembangan Posyandu di Kota Singkawang Tahun 2011 masih belum optimal, Jumlah Posyandu Aktif 9,7 % dari 134 Unit. Kasus Balita BGM dan Balita gizi buruk yang berhasil ditemukan di Posyandu pada Tahun 2011 masih kecil yaitu 5,1% dan 1,09% dari jumlah kasus di lapangan. Kebijakan di Singkawang tentang Posyandu yaitu mendelegasikan kegiatan pembinaan kepada bidan di wilayah kerjanya. Kendala yang dialami bidan dalam pembinaan Posyandu yaitu Pelaksanaan pembinaan 5 meja posyandu kurang optimal, jarang dilaksanakan kunjungan rumah, kader mengalami masalah dalam kegiatan penyuluhan, Dana pembinaan Posyandu kecil.Metode Penelitian ini bersifat kualitatif. Informan utama adalah bidan pembina, informan triangulasi kader, ibu pengguna posyandu dan koordinator posyandu. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara. Metode analisis yang digunakan adalah Content Analysis (Analisis isi).Hasil penelitian dalam hal kegiatan pembinaan posyandu, terdapat ketidaksesuaian dalam pelaksanaan rapat koordinasi, Pembinaan SIP (Sistem Informasi Posyandu) dan pembinaan pencatatan pelaporan, yaitu hanya terjadi antara koordinator posyandu dan kader tanpa melibatkan bidan pembina posyandu tersebut. Umur tenaga kesehatan yang muda membuat pengunjung kurang percaya karena anggapan kurangnya pengalaman yang dimiliki petugas, terdapat suku tertentu masih sulit mengimunisasikan balitanya di posyandu, tenaga kesehatan dari puskesmas induk datang terlambat, belum tersedianya tempat yang layak untuk posyandu, tenaga kesehatan yang belum mendapatkan pelatihan serta belum ada kebijakan berupa uraian tugas dan alur kerja dalam pembinaan posyandu.Perlu dilakukan koordinasi antar tenaga kesehatan terutama koordinator posyandu dengan bidan di lapangan dalam kegiatan pembinaan, melibatkan tenaga kesehatan yang relatif muda, pendekatan kepada sesepuh suku tertentu, pengaturan waktu petugas puskesmas agar tidak datang terlambat, bersama masyarakat mengupayakan tempat yang layak untuk posyandu , pengadaan pelatihan dan perumusan kebijakan terkait pembinaan posyandu. AbstractInfant mortality rate (IMR) in Singkawang in 2011 was high, 9/1000 live births (absolute number of death was 44). In the integrated health service post (Posyandu), basic services that would reduce IMR were nutritional program and diarrhea control. The development of posyandu in Singkawang in 2011 was not optimal, and the total number of active posyandu was 9.7% of 134 units. Cases of under-five children with ‘below the red line (BGM)’ and with severe malnutrition found in the posyandu in 2011 were still low; it was 5.1% and 1.09% respectively from all cases in the field. Policy regarding posyandu in Singkawang was to delegate supervision activity to local midwives. Problems faced by midwives in the posyandu supervision were the implementation of supervision for 5 tables was not optimal, home visits were rarely conducted, cadres had difficulty in conducting education activities, and funding for posyandu supervision was insufficient.This was a qualitative study. Main informants were midwives supervisors, and triangulation informants were cadres, mothers who participated in the posyandu, and coordinator of posyandu. Data collection was done by conducted in-depth interview using interview guidelines. Method of analysis used was content analysis.Results of the study showed that there was inappropriate implementation of coordination meeting; supervision of posyandu information system (SIP) and supervision of reporting and recording were not properly done; this supervision was only between posyandu coordinator and cadres; it did not include midwives who were the supervisors of the posyandu. Young health workers who served in the posyandu made posyandu participants uncomfortable. The participants of posyandu felt that health workers had insufficient experiences. There was a tribe that was reluctant to have their children immunized in the posyandu. Health workers from the main puskesmas came late; no proper place for posyandu was provided; health workers who had not received training, and there was no job description and work procedure in the supervision of posyandu.Coordination among health workers are needed specifically for posyandu coordinator and midwives in the field during supervision, and it includes relative young health workers; an approach to key persons are needed; time management for puskesmas workers is required to avoid they come late in the posyandu; appropriate place for posyandu should be provided together with the community; training and formulation of policies related to posyandu supervision are required.
Evaluation on the Implementation of Maternal and Child Health Service Reporting by Coordinator Midwives at Primary Healthcare Centers in Nabire District, Papua Province Yokbeth Kareth; Cahya Tri Purnami; Ayun Sriatmi
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.532 KB) | DOI: 10.14710/jmki.3.1.2015.%p

Abstract

Pencatatan data pelayanan KIA di Dinas Kesehatan Kabupaten nabire tidak lengkap karena data dari puskesmas  tidak masuk tepat waktu. Disisi lain, hasil PWS digunakan untuk perencanaan program KIA dalam rangkan penurunan AKI. Tujuan penelitian adalah menjelaskan pelaksanaan pencatatan data pelayanan KIA dan pelaporannya oleh Bidan Koordinator di puskesmas Distrik Nabire. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Informan utama bidan koordinator dan informan triangulasi bidan desa, kepala puskesmas dan Kasie KIA DKK. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan dianalisis dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puskesmas yang pencatatan & pelaporan KIA baik, bidan koordinatornya melakukan pencatatan lengkap dan mengumpulkan tepat waktu setiap tanggal 10 ke DKK. Bidan telah mendapat pelatihan khusus tentang pencatatan & pelaporan KIA. Pada puskesmas yang pencatatan & pelaporan KIA kurang baik, bikor tidak mengisi kolom-kolom isian format secara lengkap dan tidak mengerti cara mengisi format isian yang sering berubah. Bidan belum mendapat pelatihan khusus. Keberhasilan dalam kelengkapan pencatatan & ketepatan pelaporan dipengaruhi oleh kelengkapan dan ketepatan pelaporan bidan pustu ke puskesmas. Keterlambatan disebabkan oleh jarak dan akses geografis yang sulit terjangkau serta beban kerja yang berat. Semua bikor mempunyai sikap dan motivasi baik. Supervisi Kepala Puskesmas yang pencatatan & pelaporan KIAnya baik dilakukan sebulan sekali dan yang kurang baik 3 bulan sekali. Supervisi DKK ke puskesmas yang baik 3 bulan sekali dan puskesmas yang kurang baik 6 bulan sekali. Disarankan agar DKK mengalokasikan anggaran untuk pelatihan khusus pencatatan & pelaporan KIA bagi bikor yang belum dilatih serta mengusahakan melengkapi sarana prasarana terutama di puskesmas dengan akses yang sulit.  Recording of KIA (maternal and children health) data in Nabire district health office (DKK) was not complete because data from primary healthcare centers (puskesmas) did not arrive at DKK Nabire on time. On the other side, results of PWS (local monitoring area) were used for KIA program planning in order to reduce AKI (maternal mortality rate). Objective of this study was to explain the implementation of recording and reporting KIA service data by coordinator midwives in puskesmas of Nabire district. This was a qualitative study. Main informant was coordinator midwives, and triangulation informants were village midwives, heads of puskesmas, and heads of KIA section of DKK. Data were collected through in depth interview. Content analysis method was applied in the data analysis.Results of the study showed that in the puskesmas with good KIA recording and reporting, coordinator midwives did complete recording and reporting and submit them on time, every 10 th day of the month, to the district health office; midwives had received special training regarding KIA recording and reporting. In the puskesmas with inadequate KIA reporting and recording, coordinator midwives did not fill the provided coulombs in the forms completely, and they did not know how to fill the forms that were changed frequently; midwives had not received special training. Successfulness in completion of recording and reporting punctuality was influenced by completeness and punctuality of reporting by midwives in the subsidiary primary healthcare center to the main primary healthcare center. The delay was caused by distance and difficult geographical accessibility, and heavy workload. All coordinator midwives had good attitude and motivation. Supervision by head of puskesmas with good KIA recording and reporting was done every month, and for the puskesmas with inadequate KIA recording and reporting was done every 3 months. Supervision by DKK to puskesmas with good KIA recording and reporting was done every 3 months, and to puskesmas with inadequate KIA recording and reporting was done every 6 months.Suggestions for DKK are to allocate budget for special training in KIA recording and reporting for coordinator midwives who have not received training, and to complete facilities especially in puskesmas with difficult accessibility.
Factors Related to the Midwaves’ Work Performance on Anemic Pregnant Women Manegement in Singkawang City, Kalimantan Barat U. Evi Nasla; Laksmono Widagdo; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2013): Agustus 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.312 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.2.2013.%p

Abstract

WHO memperkirakan sekitar 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Deteksi kasus anemia pada kehamilan belum dilakukan sesuai dengan standar pengelolaan anemia pada kehamilan. Maka dilakukan analisis faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja bidan dalam pengelolaan anemia pada kehamilan di Kota Singkawang.Jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan Retrospektif. Jumlah sampel 52 bidan Puskesmas wilayah Kota Singkawang dipilih secara proportional stratified random sampling dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dengan kuesioner terstruktur dan observasi langsung. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman Rank dan Regresi Logistik.Hasil penelitian mayoritas responden berusia antara 20-35 tahun (63,5%), pendidikan DIII/DIV/S1 Kebidanan (90,4%), masa kerja ≥10 tahun (55,8%). Kinerja bidan mempunyai kategori baik (59,6%), pengetahuan baik (51,9%), sarana prasarana lengkap (53,8%), kepemimpinan baik (63,5%), motivasi baik (55,8%), komunikasi baik (53,8%). Semua variabel bebas (pengetahuan, sarana prasarana, kepemimpinan, motivasi dan komunikasi) hubungan dengan kinerja bidan dalam pengelolaan anemia pada kehamilan (p < 0,05). Variabel yang berpengaruh terhadap kinerja bidan dalam pengelolaan anemia pada kehamilan adalah pengetahuan (p=0,002) dan kepemimpinan (p=0,006). Disarankan untuk Dinas Kesehatan dan Puskesmas memfasilitasi bidan dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan melalui pendidikan formal dan pelatihan-pelatihan, meningkatkan supervisi dan rapat koordinasi, menyediakan sarana prasarana pendukung dalam pengelolaan anemia. World Health Organization estimated that about 40% maternal mortality in developing countries was related to anemia during pregnancy. Detection of anemia cases during pregnancy was not conducted according to standard of management for anemia during pregnancy. Therefore, analysis factors affecting work performance of midwives in the management of anemia during pregnancy in Singkawang city. This was an analytical survey with retrospective approach. The number of samples was 52 midwives of primary healthcare centers in Singkawang city. They were selected using proportional stratified random sampling method, and they fulfilled inclusion criteria. Data were collected using structured questionnaire and direct observation. Spearman Rank correlation test and logistic regression were applied in the data analysis. Results of the study showed that majority of respondents’ age was 20-35 years old (63.5%), highest level of education was DIII/DIV/S1 midwifery (90.4%), work period was 10 years or more (55.8%). Work performance of midwives was in a good category (59.6%), respondents’ knowledge were good (51.9%), facilities were complete (53.8%), leadership was good (63.5%), motivation was good (55.8%), communication was good (53.8%). All independent variables (knowledge, facilities, leadership, motivation, and communication) were associated with work performance of midwives in the management of anemia during pregnancy (p< 0.05). Variables affecting the work performance of midwives in the management of anemia during pregnancy were knowledge (p= 0.002) and leadership (p= 0.006). Suggestions for district health office and primary healthcare centers were to facilitate midwives to improve their knowledge and skills through formal education and trainings, to improve supervision and coordination meetings, to provide supporting facilities in the management of anemia.
Evaluation on the Implementation of Ten Steps to Successful Breast Feeding by Midwives at Doctor Ramelan Naval Hospital Surabaya Krisnamurti Krisnamurti; Cahya Tri Purnami; Ayun Sriatmi
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 3 (2013): Desember 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.756 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.3.2013.%p

Abstract

Penerapan 10  langkah menuju keberhasilan menyusui (LMKM) merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan program  ASI eksklusif. Di lingkungan   RSAL dr. Ramelan Surabaya sudah tertempel  tentang 10 LMKM namun belum ada kebijakan khusus tentang ASI eksklusif sehingga  bidan masih memberikan  susu formula (PASI) pada bayi baru lahir rawat gabung . Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan 10 langkah menuju keberhasilan menyusi (LMKM) oleh bidan di RSAL dr. Ramelan Surabaya    Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang disajikan secara  deskriptif eksploratif. Informan utama adalah 7 bidan pelaksana di poli hamil, kamar bersalin dan ruang rawat gabung, sedangkan  3 bidan kepala ruangan dan 1 bidan supervisor, serta 3 pasien sebagai informan triangulasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi Analisis data hasil wawancara dengan menggunakan metode interactive model melalui beberapa tahapan seperti: data collection,  dan data reduction,  data display Conclusion drawingHasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan 10 LMKM belum terlaksana dengan baik antara lain : belum semua bidan memberikan penjelasan tentang manfaat dan tehnik menyusui yang benar, bidan masih memberikan susu formula pada bayi rawat gabung, belum terbentuk kelompok pendukung ASI (KP-ASI). Hal tersebut disebabkan masih sebagian kecil bidan yang sudah mengikuti pelatihan manajemen laktasi, sehingga motivasi diri kurangPerlu adanya kebijakan tertulis tentang pemberian ASI Eksklusif, serta diharapkan semua bidan dapat mengikuti pelatihan manajemen laktasi sehingga pelaksanaan 10 langkah menuju keberhaslan menyusui (LMKM) lebih optimal, dan perlu juga adanya kebijakan yang tegas tentang keberadaan susu formula Establishment of the 10 steps to be success in breastfeeding (LMKM) was a government effort to improve exclusive breastfeeding program. Ten LMKM information had been displayed in dr. Ramelan navy hospital (RSAL) Surabaya; however, there was no special policy regarding exclusive breastfeeding. Therefore, midwives were still giving formula milk (PASI) to infants in the integrated care room. In general, the objective of this study was to evaluate the implementation of 10 steps to be success in breastfeeding (LMKM) by midwives in RSAL dr. Ramelan Surabaya.  This was a qualitative study with descriptive explorative approach. Main informants were 7 midwives in the pregnancy policlinic, delivery room, and integrated care room. Triangulation informants were 3 midwives as chief of the room, one supervisor midwives, and 3 patients. Data were collected through in-depth interview and documentation study. Interactive model was applied in the data analysis. Steps on the interactive model included data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing.Results of the study showed that ten LMKM had not been implemented properly. Not all midwives explained correctly breastfeeding benefits and breastfeeding technique; midwives still gave formula milk to infants in the integrated care room; breastfeeding support group (KP-ASI) had not been formed yet. Only a small portion of midwives who had attended lactation management training; and it caused an insufficient self-motivation among midwives.  Written policy regarding exclusive breastfeeding is needed. All midwives are expected to attend in lactation management training; it will optimize the implementation of 10 LMKM. Strong policy regarding the existence of formula milk is needed.
Analisis Peran Manajerial Pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dalam Pelaksanaan Program Peningkatan Pemberian Asi (PPASI) di Wilayah Kota Pontianak Dini Fitri Damayanti; Bagoes Widjanarko; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 4, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.434 KB) | DOI: 10.14710/jmki.4.1.2016.27-34

Abstract

 Breastfeeding improvement (PPASI) program was an effort to increase the coverage of exclusive breastfeeding. Successfulness of the exclusive breastfeeding required support from midwives. Indonesian Midwifery Association (IBI), as a midwives professional organization, had declared to implement PPASI program step by step and continually by all IBI board members. Although IBI boards at Pontianak branch had conducted several seminar activities regarding breastfeeding and lactation management training for IBI members but private practice midwives were still giving formula milk to the newborns. Based on that problem, this study was conducted with the objective to explain managerial role of IBI boards in implementing PPASI program in the area of Pontianak city. This was a qualitative study using phenomenology approach. Study informants were IBI branch and sub branch board members in the area of Pontianak city. Data were collected by in-depth interview and analyzed using content analysis method. Results of the study showed the roles of IBI boards as leader in implementing PPASI program in the motivational activities. IBI boards reminded IBI members to do lactation management in every informal small group social gathering (arisan). Evaluation of lactation management was conducted by IBI boards because they were on duty as midwives coordinators at Puskesmas and as room chiefs in hospitals. Guidance to the members was conducted by the boards through ‘arisan’ and there was no rewards given to members who had implemented lactation management. The role of boards as information resource was done by conducting lactation seminars for IBI members and in collaboration with district health office to implement lactation management training. There was no special standard for lactation management and socialization was only given to the members who wanted to apply for private practice midwives (BPS) permit. In term of IBI board role as policy makers, the board had not made planning for PPASI program. Planning and organizing were only done for seminar activities about breastfeeding. No written regulation issued by IBI board and no sanction was assigned to the members in implementing PPASI program. Based on the study results, it was suggested to IBI board to formulate evaluation format and to give rewards to IBI members in order to motivate them to implement lactation management, to make specific standard operating procedure for lactation management and to make understandable and details regulations regarding PPASI program implementation, to assign sanction to members who broke the rules.
The Implementation Analysis of Community-Based Total Sanitation Program as Strategy for Improving Clean and Healthy Living Behavior by Primary Health Care Center Workers in Grobogan Regency Sutiyono Sutiyono; Zahroh Shaluhiyah; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.262 KB) | DOI: 10.14710/jmki.2.1.2014.%p

Abstract

AbstrakDi Kabupaten Grobogan, kejadian penyakit diare, campak, frambusia, dan difteri cukup tinggi. Kejadian penyakit – penyakit ini merupakan indikator PHBS masyarakat. STBM bertujuan untuk menurunkan penyakit – penyakit tersebut, namun pelaksanaan program STBM dengan indikator buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengolahan air bersih, pengolahan sampah dan pengolahan limbah cair masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan program STBM di Kabupaten Grobogan.Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomena. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada 8 informan utama petugas promkes dan kesling, Focus Group Discussion dengan informan triangulasi yaitu kader, tokoh agama, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat. Analisis data dengan content analysis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : sebagian besar petugas melaksanakan program STBM dengan baik. Hal yang masih kurang baik adalah kegiatan monitoring. Sebagian besar pengetahuan petugas tentang pelaksanaan program STBM sudah baik. Belum semua petugas bersikap baik dalam melaksanakan program STBM. Sebagian besar petugas belum mengetahui peraturan dalam melaksanakan program STBM tetapi kader sudah mengetahui. Semua petugas telah mendapatkan pelatihan program STBM. Semua kepala puskesmas telah melaksanakan pengawasan rutin. Sarana dan prasarana yang berupa alat pembuat jamban, sarana cuci tangan, alat pengolah sampah, lembar balik.Disarankan Dinas Kesehatan untuk meningkatkan kerjasama lintas program, lintas sektoral dalam pelaksanaan program STBM. Selain itu juga meningkatkan peran kader dalam pelaksanaan program STBM. AbstractIn Grobogan district, the occurrence of diarrhea, morbilli, framboesia, and diphtheria was relatively high. The presence of these diseases was an indicator of hygienic and healthy live behavior (PHBS) of a community. Objective of community based total sanitation (STBM) was to reduce those diseases. However, the implementation of STBM program was still inadequate. Indicators of STBM program were improper defecation, washing hand using soap, clean water management, waste management, and liquid waste management. Objective of this study was to describe the implementation of STBM program in Grobogan district.This was a qualitative study with phenomenon approach. Data collection was done by conducting in-depth interview to 8 main informants: health promotion and environmental health workers. Focus group discussion was conducted to triangulation informants; triangulation informants consisted of cadres, local religious leaders, local community leaders, and local people. Data were analyzed using content analysis method.Results of the study showed that the majority of workers implemented STBM program well. A thing that was still insufficient or inadequate was monitoring. The majority of worker’s knowledge regarding the implementation of STBM program was sufficient. Not all workers had good attitude in the implementation of STBM program. The majority of workers did not know regulations in implementing STBM program; however, cadres knew the regulation. All workers had received STBM program training. All heads of primary healthcare centers (puskesmas) had conducted routine supervision. Facilities were in the form of water closet maker instruments, hand washing facility, waste management instruments, and flip charts.Suggestions for District Health Office were to improve cross program and sector collaborations in the implementation of STBM program, to increase the role of cadres in the implementation of STBM program.
Co-Authors A., Oktarisa Khairiyah Afifah, Aini Ula Agung Budi Prasetijo Agung Budi Prasetijo, Agung Budi Agung Budi Prasetjo Agung Budi Prasetjo Al Asyary Alfi Fairuz Asna Amelia Donsu Amni Zarkasyi Rahman, Amni Zarkasyi Anisa Nur Cahyanti Antono Suryoputro Antono Suryoputro Yudhy Dharmawan Apoina Kartini Apoina Kartini Aris Puji Widodo Arnia Rizkiana Asep Hermawan Atidipta, Santi Atik Mawarni Atik Mawarni Aulia Ulfah Mutiara Dewi Ayun Sriatmi Azhari , Novi Julia Bachtiar, Yusrial Bagoes Widjanarko Bambang Edi Warsito Budi Utomo Budiyono Budiyono Cahyanti, Anisa Nur Choirunissa, Risza Chriswardhani Suryawati Chumair, Nisrina Ocktalifa Cintya, Ranindyta Elda DASUKI DASUKI Dea Amarilisa Adespin Delfia, Fila Denny, Hanifa Maher Dessy Lutfiasari Dewi, Aulia Ulfah Mutiara Dharminto Dharminto Dharminto Dharminto Dina Bisara Dini Fitri Damayanti Diwian Jaya Putra, I Putu Okta Djauharoh A. Hadie Doni Lasut Dustar, Ghinanissa Azzahra Dwi Retno Murdiyanti DWI RIKI Dwi Sulistyawati Dwi Sutiningsih Efa Nugroho Eko Sediyono Eko Wigiantoro Elyzabeth Sylviana Girsang Emi Latifah Farid Agushybana Farid Agushybana Farid Farid Agushybana Fatiha Tasyakurrisma, Adisa Fauzirra Dhiya Azhar, Aghitsa Fila Delfia Fitriani Fitriani Hadina Eka Camalia Hamdan Syah Alam Harahap, Ana Pujianti Harlen Yunita Heri Nugroho Husna, Eriana Mayasari Imawan, Satria Aji Indarwati, Novi Indarwati, Novi Inneke Elysia Lavender Irianti, Gita Febri Johnston, Caroline Kahowi, Yustina Oru Karisa Andini Khairiyah, Oktarisa Komariyatun Komariyatun Krisnamurti Krisnamurti Kristawansari, Kristawansari Kristina Kristina Kujariningrum, Oktavia Beni Kurniawati, Yacinta Puji Kusumastuti, K Kusworo Adi Laksmono Widagdo Laksmono Widagdo Lina Dwi Yoga Pramana Lina Dwi Yoga Pramana Lucia Ratna Kartika Lucia Ratna Kartika Wulan M Rokhis Khomarudin, M Rokhis Mareta Adya Tiar Maria Holly Herawati Mariyana, Kristin Martha Irene Kartasurya Martha Irene Kartasurya Martini Martini Mateus Sakundarno Adi, Mateus Sakundarno Mercy Joice Kaparang Moh. Hasyim Purwadi Muhamad Anja Ahul Alaiha Kavit Muhammad Azinar Muhammad Hadiyanto Muhammad Priyatna, Muhammad Muhdar Muhdar Murdiyanti, Dwi Retno Muslimahtun Baadiah Naila Fauziatin Naintina Lisnawati Nashihah, Prenati Nasywa Hanifati Ninik Dwi Ambarwati Nisa , Rofifatun Noer Endah Pracoyo Nofa Martina Ariani, Nofa Martina Noor Edi Widya Sukoco Novia Handayani Novita Wulandari Nunung Wulandari Nur Endah Wahyuningsih Nuridzin, Dion Zein Oktavia Beni Kujariningrum Opik Taufik Permani, Fadilah Pujiningtyas Prasetijo , Agung Budi Prasetyono, Thifal Zakiyyah Putra, I Putu Okta Diwian Jaya Putri , Ulfa Ariska Qatrannada, Shabrina Arifia R. Djoko Nugroho Raden Djoko Nugroho, Raden Djoko Raflizar Raflizar Reni Murnita Rina Sri Widayati Rivaldi Indra Nugraha Rofifatun Nisa Rona, Elfa Rr. Devi Noviana Setyoningsih Salma Salma Sani Khoirul Amalia Seftika Indra Murhanda Putri Septo Pawelas Arso Septo Pawelas Arso Siti Fatimah Pradigdo Sri Achadi Nugraheni Sri Achadi Nugraheni Sri Winarni Sri Winarni Sri Winarni Sri Winarni Suci Ramadhani, Suci Sudiro Sudiro Sudiro Sudiro Sugeri, Rauf Azhar Sugiarto, Puput Sulicha Nurhayati Supratikta, Hadi Suteja, Mentari Nur Farida Sutiyono Sutiyono Sutopo Patria Jati Syamsulhuda BM Sylviana Girsang, Elizabeth Ternate, Elvicta Venteysa Theresia Christiarini Kuntalawati Titi Suherni Tjahjono Kuntjoro Tjondrorini Tjondrorini Tjondrorini, T Trifeni Damayanti Ruru U. Evi Nasla Ulin Nafiah Viera Juniver Thenu Vina Estetika Pakpahan Vitania Mutiara Sari Siregar Wawan Kurniawan Wicaksono, Firston Arfiansyah Wijaya, M. Indra Hadi Wirnani, Sri Wulandari, Nunung Yokbeth Kareth Yudhy Dharmawan Yudhy Dharmawan Zahra, Anandalia Athaya Zahroh Shahuliyah Zahroh Shaluhiyah Zainal Arifin Zulaeha A. Amdadi