Claim Missing Document
Check
Articles

Penentuan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketertinggalan Kawasan Kabupaten Pamekasan Riezky Ayudia Trinanda; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.166 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.4326

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mngetahui faktor-faktor penyebab ketertinggalan kawasan di Kabupaten Pamekasan. Dalam Penelitian ini, menggunakan alat analisis yaitu analisis Delphi yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi ketertinggalan kawasan di Kabupaten Pamekasan berdasarkan opini/pendapat para pakar/ stakeholders dengan menggunakan variabel yang diperoleh dari hasil tinjauan pustaka tinjauan teori. Penerapan teknik Delphi ini sesuai dengan tujuan dari proses identifikasi faktor yang mempengaruhi ketertinggalan kawasan di Kabupaten Pamekasan. Responden yang digunakan dalam identifikasi faktor ini merupakan responden dari hasil analisa stakeholder berdasarkan kepentingan dan pengaruhnya. Terhadap pengembangan kawasan tertinggal di Kabupaten Pamekasan.. Berdasarkan hasil analisis, diproleh faktor-faktor yang mempengaruhi ketertinggalan kawasan
Pengaruh Sektor Migas terhadap Pengembangan Wilayah Bojonegoro Dwi Retno Ariyanti; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.641 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.4343

Abstract

Kabupaten Bojonegoro merupakan kabupaten penghasil migas tertinggi di Jawa Timur. Akan tetapi wilayah ini masih dikatakan belum berkembang dilihat dari pencapaian indikator pengembangan wilayah, yakni pendapatan perkapita, nilai IPM, dan tingkat kemiskinan yang berada dibawah Provinsi Jawa Timur. Selama ini belum diketahui seberapa besar pengaruh sektor migas terhadap pengembangan wilayah Bojonegoro yang mana hal itu dianggap penting guna kemajuan Bojonegoro kedepannya. Dengan menggunakan teknik analisis jalur dapat diketahui bagaimana pengaruh sektor migas terhadap pencapaian pengembangan wilayah Bojonegoro baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sektor migas dapat memberikan pengaruh langsung terhadap pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita. Selain itu sektor migas juga mempengaruhi secara tidak langsung terhadap penurunan tingkat kemiskinan. Untuk mengurangi tingkat kemiskinan, sektor migas dapat berkembang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ataupun melalui peninngkatan jumlah tenaga kerja sehingga sektor ini mampu mengurangi tingkat kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro
Tipologi Kecamatan Tertinggal di Kabupaten Lombok Tengah Baiq Septi Maulida Sa'ad; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.846 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10911

Abstract

Abstrak— Kabupaten Lombok Tengah termasuk dalam kategori Kabupaten Tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Barat berdasarkan RPJMN tahun 2010-2014. Selain itu, terdapat kesenjangan pada beberapa Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah akibat pembangunan Bandara Internasional Lombok sehingga perlu dilakukan identifikasi dan upaya pengembangan terhadap kecamatan tertinggal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipologi kecamatan tertinggal di Kabupaten Lombok Tengah berdasarkan aspek sosial dan ekonomi. Dalam perumusan Tipologi Kecamatan Tertinggal ini menggunakan Analisis Faktor Konfirmatori untuk menentukan faktor yang berpengaruh terhadap ketertinggalan kecamatan, analisis tipologi klassen untuk mengidentifikasi kecamatan tertinggal, dan analisis klaster untuk mentipologikan kecamatan tertinggal. Dari hasil penelitian terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap ketertinggalan kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yaitu faktor kualitas SDM, kondisi infrastruktur sosial, kondisi perekonomian dan  kondisi infrastruktur ekonomi. Berdasaarkan hasil analisis tipologi Klassen, terdapat 8 kecamatan tertinggal yaitu Kecamatan Praya Barat Daya, Janapria, Kopang, Praya Tengah, Jonggat, Pringgarata, Batukliang dan Kecamatan Batukliang Utara. Kecamatan tertinggal ini terbagi menjadi 3 klaster berdasarkan aspek sosial dan 3 klaster berdasarkan aspek ekonomi yang mana setelah ditipologikan menjadi 5 tipologi berdasarkan aspek sosial dan ekonomi.
Penentuan Cluster Pengembangan Agroindustri Pengolahan Minyak Kayu Putih di Kabupaten Buru Rizki Adriadi Ghiffari; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.162 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10964

Abstract

Potensi komoditas kayu putih di Pulau Buru merupakan yang terbesar di Indonesia, namun pendapatan industri minyak kayu putih di pulau buru terus menurun dalam 5 tahun terakhir dan masih dikelola secara konvensional. Sehingga penentuan Cluster pengembangan agroindustri diperlukan untuk mengetahui wilayah potensial yang perlu ditingkatkan kinerja industrinya. Penelitian ini bertujuan menentukan Cluster pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih di Kabupaten Buru, yang dilakukan melalui penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih menggunakan analisis korelasi, dan menentukan Cluster menggunakan analisis Hierarcical Cluster. Hasil analisis menunjukkan teridentifikasinya faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih di Kabupaten Buru, yaitu jumlah industri rumah tangga (IRT), indeks aglomerasi, jumlah produksi, nilai investasi, jumlah tenaga kerja, potensi bahan baku, Jarak antara IRT dengan Permukiman, Jumlah Pengangguran, dan Pendapatan Rata-rata Pekerja, Jumlah Penduduk, Kepadatan Penduduk, Jumlah Penduduk Tamat SMA, tingkat pelayanan jalan, rasio kelompok pekerja, rasio lembaga pelatihan, dan rasio koperasi pekerja. Teridentifikasi juga 6 cluster pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih, dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Kesesuaian Lahan Perikanan Tambak berdasarkan Faktor-Faktor Daya Dukung Fisik di Kabupaten Sidoarjo Anugrah Dimas Susetyo; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.221 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i1.11177

Abstract

Kabupaten Sidoarjo memiliki potensi sektor ungulan sub sektor perikanan tambak, hasil perikanan tambak yang melimpah berupa udang dan ikan bandeng. Faktor yang mempengaruhi penurunan produksi perikanan tambak adalah alih fungsi lahan, dan penurunan kualitas lingkungan yang diakibatkan luapan lumpur porong. Jurnal ini merupakan bagian dari penelitian yaitu mengidentifikasi tingkat kepentingan faktor-faktor yang mempengaruhi perikanan tambak berdasarkan daya dukung fisik di Kabupaten Sidoarjo dengan menggunakan teknik analisis AHP (Analythical Hierarchy Process) yaitu mengidentifikasi tingkat kepentingan stakeholder serta memberi bobot variabel-variabel yang mempengaruhi perikanan tambak sementara sasaran dua yaitu menganalisis kesesuaian lahan perikanan tambak berdasarkan faktor-faktor daya dukung fisik di Kabupaten Sidoarjo menggunakan teknik analisis overlay GIS dimana untuk mengoverlay peta diperlukan bobot-bobot dari sasaran satu yang menghasilkan sembilan belas variabel. Ouput dari kesesuaian lahan perikanan tambak  adalah dua kategori kecamatan yaitu kecamatan yang dipertahankan perikanan tambak, dan kecamatan yang ditingkatkan perikanan tambak,.
Penentuan Tipologi Pengembangan Industri Batik dalam Upaya Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pamekasan Wilda Al Aluf; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.911 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.11234

Abstract

Abstrak—Industri batik merupakan potensi lokal Kabupaten Pamekasan yang dapat menjadi penggerak perekonomian untuk mengurangi kemiskinan di Kabupaten Pamekasan memiliki permasalahan pada aspek sistem produksi, infrastruktur dan kelembagaan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tipologi industri batik di Kabupaten Pamekasan. Metode analisis yang digunakan adalah Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan industri batik berdasarkan preferensi pengrajin dan analisis Hierarchical Cluster untuk mengetahui tipologi industri batik di Kabupaten Pamekasan. Hasil akhir penelitian menunjukkan terdapat 3 tipologi industri batik, yaitu 1) Tipologi 1 terdiri dari Desa Klampar, Toket, Larangan Badung dan Angsanah dengan penghambat perkembangan industri adalah variabel pada faktor kelembagaan; 2) Tipologi 2 terdiri dari Desa Candi Burung, Panaan, Kowel, Waru Barat, dengan  penghambat perkembangan industri batik adalah variabel pada faktor kelembagaan dan sistem produksi; 3) Tipologi 3 terdiri dari Desa Rang Perang Daya, Rek Kerek, Banyupelle, Pagendingan dan Pegantenan, dimana penghambat perkembangan industri adalah variabel pada faktor sistem produksi, infrastruktur dan kelembagaan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Komoditas Unggulan Hortikultura di Kawasan Agropolitan Ngawasondat Kabupaten Kediri Dwi Agustina Wantika Sari; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.538 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i1.14195

Abstract

Kawasan agropolitan Ngawasondat merupakan salah satu kawasan agropolitan di Kabupaten Kediri yang memiliki potensi sumberdaya alam yang baik untuk dikembangkan. Kawasan agropolitan Ngawasondat terdiri dari lima kecamatan yaitu Kecamatan Ngancar, Wates, Plosoklaten, Ringinrejo, dan Kandat. Terdapat komoditas unggulan kawasan agropolitan Ngawasondat terutama pada sub sektor hortikultura buah-buahan yaitu nanas dan pepaya. Namun dikarenakan belum adanya integrasi yang optimal antara kegiatan on farm dengan off farm maka diperlukan suatu upaya untuk dapat meningkatkan produksi dari komoditas unggulan yang menunjang pendapatan dan nilai tambah bagi kawasan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan komoditas unggulan hortikultura buah-buahan di kawasan agropolitan Ngawasondat. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis LQ dan SS untuk mengidentifikasi komoditas unggulan hortikultura buah-buahan kawasan agropolitan Ngawasondat di setiap kecamatan. Input data yang digunakan pada perhitungannya adalah nilai produksi masing-masing komoditas di setiap kecamatan dan nilai produksi komoditas total. Selanjutnya dilakukan teknik analisis Delphi berdasarkan opini/pendapat dari stakeholders penelitian untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan komoditas unggulan hortikultura buah-buahan di kawasan agropolitan Ngawasondat. Sehingga faktor-faktor yang didapat dari hasil analisis Delphi adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan komoditas unggulan kawasan. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh sepuluh faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan komoditas unggulan hortikultura buah-buahan di kawasan agropolitan Ngawasondat yaitu daya dukung fisik, karakteristik petani, sarana dan prasarana, aksesibilitas, kelembagaan, keterkaitan kegiatan on farm dengan off farm, teknologi, kebijakan, kepemilikan modal, dan kemitraan.
Arahan Peningkatan Pengelolaan Program Urban Farming di Kelurahan Made Kecamatan Sambikerep Surabaya Renny Ratna Dewi; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.708 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18167

Abstract

Kelurahan Made merupakan salah satu wilayah di Kota Surabaya yang masih melakukan kegiatan pertanian hingga saat ini. Total luas lahan garapan mereka sebesar 211,85 Ha dengan produksi tanaman mencapai 6000 ton per tahunnya. Namun, masyarakat Kelurahan Made hingga saat ini masih menerapkan sistem pertanian tradisional dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur milik developer sebagai media tanam. Hal itu tentunya tidak akan berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama karena lahan-lahan tersebut akan beralih fungsi menjadi lahan perumahan yang akan berimbas pada ketersediaan lahan yang semakin terbatas dan berdampak pada aktivitas pertanian di Kelurahan Made. Menanggapi hal tersebut perlu adanya dorongan dari pemerintah untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan efektivitas kegiatan pertanian perkotaan di wilayah tersebut. Sasaran-sasaran penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan pengelolaan program urban farming menggunakan analisis delphi, menentukan faktor-faktor penentu keberhasilan program urban farming menggunakan content analysis, dan merumuskan arahan peningkatan pengelolaan program urban farming secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan kesimpulan bahwa kegiatan urban farming di Kelurahan Made masih memiliki beberapa permasalahan meliputi teknis maupun non teknis. Untuk kedepannya, kegiatan pertanian di Kelurahan Made akan diarahkan ke sistem pertanian modern dengan memanfaatkan lahan yang terbatas tetapi dengan hasil yang maksimal dan berkualitas. Metode penanaman dengan menggunakan polybag akan dikembangkan di Kelurahan Made dalam mengatasi persoalan lahan.
Estimasi Deplesi Lingkungan Subsektor Kehutanan di Jawa Timur Laksmita Dwi Hersaputri; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.973 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24639

Abstract

Perekonomian Jawa Timur yang salah satunya ditopang oleh subsektor kehutanan, belum terjamin akan seterusnya berlanjut sampai jangka panjang, karena aktivitas ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi lingkungan hidup. Subsektor kehutanan memiliki nilai jasa lingkungan yang tinggi dalam meminimalkan perubahan iklim dan pemanasan global bagi kesejahteraan manusia. Namun hutan di Jawa Timur mengalami degradasi lingkungan setiap tahunnya akibat kegiatan ekonomi yang turut memanfaatkan kekayaan alam hutan, yang salah satunya berupa deforestasi atau aktivitas penebangan. Sehingga, diperlukan adanya perhitungan deplesi lingkungan guna mengetahui kontribusi subsektor kehutanan yang sebenarnya, yaitu mempertimbangkan aspek lingkungan. Deplesi merupakan penyusutan karena penggunaan sumber daya alam yang dieksploitasi sehingga semakin lama semakin menipis. Hasil dari estimasi deplesi dapat digunakan sebagai input data dalam perhitungan PDRB Hijau dan pertimbangan kebijakan mengenai pemanfaatan sumber daya hutan. Metode pengumpulan data dilakukan cara survei instansional yaitu memperoleh data-data dari instansi terkait yang dibutuhkan dan sesuai dengan variabel penelitian. Data tersebut kemudian dianalisis dengan perhitungan matematis menggunakan rumus deplesi. Dari analisis yang telah dilakukan, didapatkan hasil akhir berupa nilai deplesi lingkungan di Jawa Timur yaitu sebesar Rp 1,46 Triliun. Dimana nilai deplesi di setiap kabupaten di Jawa Timur pada tahun 2011-2015 yang terbesar terdapat di Kabupaten Pacitan yaitu sebesar Rp 454 Miliar, sementara deplesi terendah terdapat di Kabupaten Pamekasan yaitu sebesar Rp 58 Juta.
Arahan Pengembangan Sentra Industri Alas Kaki di Kelurahan Kemasan Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo Melalui Pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal Azizah Faridha Elisa; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.17 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24911

Abstract

Kabupaten Sidoarjo memiliki potensi dalam kegiatan industri pengolahan yang berperan dalam pengembangan wilayahnya khususnya pembangunan ekonomi. Pada tahun 2015 industri pengolahan memegang peranan ekonomi sebesar 49,46% dengan salah satu sub sektornya yaitu industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki yang menyumbang sebesar 1.587.973,1 juta rupiah. Salah satu kecamatan yang bergerak dalam industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki adalah Kecamatan Krian yaitu dengan adanya sentra industri alas kaki yang terletak di Kelurahan Kemasan. Namun keberadaan industri alas kaki di Kemasan ini masih lemah dalam aspek pemasaran selain itu terbatasnya modal, pengolahan yang sederhana dan kurangnya kemitraan usaha, tidak berfungsinya KUB Mojosantren serta kurangnya fasilitas penunjang yang menjadi penghambat berkembangnya industri ini, sehingga dari beberapa masalah tersebut maka diperlukan suatu pendekatan pembangunan untuk mengembangkan potensi lokal yaitu pendekatan pengembangan ekonomi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan rasionalistik, di dalamnya menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menghasilkan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan sentra industri alas kaki di Kelurahan Kemasan Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo dengan menggunakan metode confirmatory factor analysis, antara lain yaitu ketersediaan bahan baku lokal, jenis bahan baku lokal, asal perolehan bahan baku, jumlah tenaga kerja lokal, kualitas tenaga kerja lokal, jumlah produksi, inovasi produk, teknologi, modal, jaringan jalan, jaringan listrik, persampahan, peran pemerintah, swasta dan masyarakat, koperasi, kerjasama antar stakeholder, permintaan pasar serta strategi pemasaran.
Co-Authors Abdul Afif Abdul Rochman Adelline Fibriana Adi, Trijoko Wahyu Adiatma, Diyan Adip Mustofa Aditya Galih Sekaring Putri Hartin Afifah, Sukma Afin Fatikhatul Munashiroh ahmad yani Aida Fitri Larasati Ajeng Nugrahaning Dewanti Akbar, Muhammad Fadlillah Ali, Badrut Tamam Ibnu Alvynia Vinthesa Fahmi Amalia Medina Amrullah, Risky Annisa Annisa Ansi Arivia Rahma Anugrah Dimas Susetyo Arief, Muhammad Zaini Arwi Yudhi Kuswara Aryanto, Ananda Aulia Widari Ayu Nur Rohmawati Azillatin Qisthian Diny Azizah Faridha Elisa Azzauqy, Muhammad Guruh Baiq Septi Maulida Sa'ad baruji, teguh Belinda Ulfa Aulia Benyamin Yacob Bramastasurya, Daud Budi Prasetyo Budiyanto Budiyanto Chichik Ilmi Annisa Chichik Ilmi Annisa Chichik Ilmi Annisa Chinsia A, Lona Chinsia A., Lona Daniel William Manurung Desi Rahmawati Dian Rahmawati Dwi Agustina Wantika Sari Dwi Retno Ariyanti Ema Umilia Ema Umilia Endro Elmanuah Fajar Sri Lestari Pangukir Fauzi, Resti Fendri Hisbullah Febrianto Fikri, Hafidz Noor Gema Patria Mahaputra Gunawan, Cakti Indra Hakim, Romla Noor Handayani, Kristanti Haryo Sulistyarso Haryo Sulistyarso Haryo Sulistyarso Heriyanti, Septina Is Hitapriya Suprayitno, Hitapriya Ibnu Sodiq Ima Rahmawati Sushanti Indradewa, Rhian Irwan Bisri Rianto Ivan Agusta Farizkha Kadek Adi Kurniawan Karina Pradinie Kartika Dwi Ratna Sari Kaswari . Koswara, Arwi Yudhi Laksmita Dwi Hersaputri Lukman Yusuf Lusiana Resantie M. Dirhamsyah Machiya, Intan Marindi Briska Yusni Marlena Medina, Amalia Miftakul, Nur Alfida Mochamad Yusuf Mochammad Reyhan Firlandy Mokhamad Eldon Muhammad Kahfi, Muhammad Myrna Augusta Aditya Dewi Nilasari, Nilasari Nirwanto K. Rahim Noerwasito, Vincentius Totok Novianti, Yuniar Siska Nur Kholis Nurhakim Nurhakim Pamungkas, Adjie Pati, Senda Semuel Pramita Rosyida Priambodo, Trisaksono Bagus Prianti Prianti Primeia, Sandia Purnamastuti, Fithri Nur Putera, Wahyu Tri Wardani Putri, Karina Shella Putu Ayu Vindytha Amanda Putri Putu Ayu Vindytha Amanda Putri Rahel Putri Pamungkas Ramadhan, Satrio Ratnawati, Yohana Raykhan Rizqullah Nurdin Renny Ratna Dewi Rezza Perdana Al Hanif Riezky Ayudia Trinanda Rimadewi Suprihardjo Rimadewi Supriharjo Rini Ratna Widya Nirmala Rivan Aji Wahyu Dyan Syafitri Rizki Adriadi Ghiffari Rizky Arif Nugroho Rizky Arif Nugroho Rohman, Mohammad Arif Rulli Pratiwi Setiawan Salmina Wati Ginting Sari Melati, Sari Sari, Meilita Serlyaninda Setiaji, Jatmiko Siti Rahayu Suryadi Muchlis Susetyo, Cahyono Sutikno Sutikno Teti Hariyati Tiara Irawanti Tiara Irawanti Tisa Angelia Tisa Angelia Tita Almira Desiana Ummi Fadlilah Kurniawati, Ummi Fadlilah Utari Sulistyandari Valentino, Novio Vely Kukinul Siswanto Wilda Al Aluf Yacob, Benyamin Yanti, Fusia Mirda Yuliani, Yuliani Yuwono, Hendro Zainamantasya Ghaida Istiqomah Zulkifli B. Pomalango