Articles
Analisis Keterkaitan Wilayah Peri Urban di Kabupaten Gresik dengan Wilayah Desa-Kota di Sekitarnya
Kartika Dwi Ratna Sari;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (536.992 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24971
Wilayah peri urban merupakan wilayah dinamis yang akan terus mengalami perkembangan. Pada wilayah peri urban Gresik yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya dan Kota Gresik yaitu Kecamatan Cerme, Kecamatan Menganti, dan Kecamatan Driyorejo memiliki tipologi peri urban yang menunjukkan tingkat kekotaan maupun kedesaan. Tipologi wilayah peri urban tersebut dapat digunakan untuk melihat interaksi yang terjadi dengan wilayah kota maupun desa sehingga mempengaruhi perkembangan wilayah peri urban. Perkembangan tersebut dapat menimbulkan perkembangan dan pembangunan wilayah yang tidak terarah dan terkendali. Hal ini dikarenakan wilayah peri urban memiliki keterkaitan yang begitu besar dengan aspek kehidupan kota maupun desa. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keterkaitan wilayah peri urban Gresik dengan wilayah kota dan desa dilihat dari keterkaitan fisik, ekonomi, dan sosial. Teknik analisa yang digunakan adalah Analytical Network Process (ANP) yaitu metode pembobotan yang digunakan untuk mendapatkan perbandingan relatif sehingga diperoleh faktor keterkaitan yang berpengaruh terhadap tipologi wilayah peri urban yang terbentuk. Hasil akhir dari penelitian ini didapatkan bahwa pada masing-masing tipologi peri urban meliputi rural peri urban, peri urban sekunder, dan peri urban primer memiliki faktor pembentuk keterkaitan yang berbeda. Pada rural peri urban, hubungan keterkaitan yang terbentuk cenderung dengan wilayah desa. Untuk peri urban sekunder dan peri urban primer, hubungan keterkaitan yang terbentuk sebagian besar telah dipengaruhi oleh kota.
Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Subsektor Perikanan Tangkap di Pesisir Selatan Kabupaten Tulungagung dengan Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal
Marindi Briska Yusni;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (646.558 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25153
Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki potensi sumberdaya lokal perikanan tangkap di wilayah pesisirnya dan memiliki peran untuk pengembangan wilayah khususnya dalam pembangunan ekonomi. Produksi perikanan tangkap yang dihasilkan oleh Kabupaten Tulungagung tergolong besar, yaitu sebesar 206.408,952 ton. Namun potensi perikanan yang besar masih belum dimanfaatkan keseluruhan oleh masyarakat dimana diketahui terdapat masyarakat yang tergolong miskin di pesisir selatan Kabupaten Tulungagung sebesar 8,60% atau 87.360 jiwa. Selain itu, jumlah keseluruhan perikanan tangkap yang mengalami proses pengolahan hanya 1.462,456 ton atau hanya sekitar 0,7% dari total keseluruhan. Untuk itu diperlukan pengembangan subsektor perikanan tangkap dengan mengoptimalkan potensi lokal melalui pendekatan pengembangan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor apa saja yang berpengaruh untuk pengembangan subsektor perikanan tangkap di pesisir selatan Kabupaten Tulungagung dengan pendekatan PEL. Metode analisis yang digunakan untuk penelitian ini adalah confirmatory factor analysis.
Penentuan Kriteria Pengembangan Agrowisata di Kecamatan Sukapura Kabuapaten Probolinggo
Suryadi Muchlis;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (315.875 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25860
Kecamatan Sukapura dalam RTRW Kab. Probolinggo Tahun 2010-2029 diarahkan sebagai agrowisata. Kecamatan ini memiliki sumber daya lokal yang berpotensi untuk mendukung pengembangan agrowisata, baik dari sumber daya alam meliputi komoditas pertanian, kondisi alam dan iklim maupun sumber daya manusia seperti kemampuan dan kualiatas masyarakat serta budaya yang dimiliki masyarakat. Namun faktanya agrowisata di kecamatan sukapura belum memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara optimal. Untuk itu diperlukan penelitian untuk menentukan kriteria pengembangan agrowisata di Kecamatan Sukapura sehingga potensi sumber daya lokal yang ada dapat teroptimalkan dengan baik dalam mendukung pengembangan agrowisata di Kecamatan Sukapura. Dalam proses analisis dibagi menjadi dua tahapan yaitu analisis konten dan order analysis. Analisis konten menggunakan input data berupa transkip wawancara, sedangkan order analysis menggunakan input berupa hasil kuisioner skala guttman. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu kriteria pengembangan agrowisata yang terdari dari variabel atraksi dan jenis komoditas pertanian, objek wisata lain, fasilitas, infrastruktur, kerjasama, transportasi, ketahanan bencana, sikap dan keramahan masyarakat, dan produk agrowisata.
Penentuan Cluster Pengembangan Komoditas Unggulan Desa-Desa Tertinggal Di Kabupaten Bangkalan Berdasarkan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Eko Budi Santoso;
Ayu Nur Rohmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (588.106 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27936
32 dari 36 desa tertinggal di Kabupaten Bangkalan memiliki potensi produksi pertanian tanaman pangan yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat desa tertinggal yang rata-rata 51% penduduknya miskin. Untuk dapat mengembangkan potensi pertanian tersebut, dilakukan analisa terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan potensi pertanian desa-desa tertinggal di Kabupaten Bangkalan dengan menggunakan teknik analisa CFA. Hasil dari identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut digunakan sebagai input untuk melakukan pengelompokan (clustering) desa-desa tertinggal berdasarkan kondisi eksisting dari faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan potensi pertanian, dengan menggunakan analisa cluster. Pengelompokkan ini bertujuan untuk memberikan arahan yang sesuai dengan permasalahan dari masing-masing desa tertinggal terkait pengembangan potensi produksi komoditas unggulan berdasarkan clusternya. Berdasarkan hasil analisa, diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan potensi pertanian desa tertinggal di Kabupaten Bangkalan adalah potensi fisik, sumber daya manusia, prasarana produksi komoditas unggulan pertanian, teknologi pertanian, keterkaitan fungsional, kelembagaan, kemitraan dan modal. Sedangkan berdasarkan hasil analisa cluster terhadap kondisi eksisting dari masing-masing faktor tersebut, desa-desa tertinggal di Kabupaten Bangkalan terbagi ke dalam 3 cluster yaitu cluster I (desa tertinggal dengan perkembangan potensi pertanian sangat kurang berkembang), cluster II (desa tertinggal dengan perkembangan potensi pertanian kurang berkembang) sebanyak 16 desa dan cluster III (desa tertinggal dengan perkembangan potensi pertanian cukup berkembang)
Penentuan Lokasi Kawasan Industri Tekstil Terpadu di Kabupaten Majalengka
Irwan Bisri Rianto;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (608.641 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28970
Kabupaten Majalengka merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang direncanakan sebagai pengembangan kawasan industri tekstil Jawa Barat. Kecamatan Ligung dan Kecamatan Jatitujuh merupakan kawasan peruntukan industri terutama sebagai pengembangan industri tekstil. Kabupaten Majalengka sebagai bagian dari wilayah pengembangan kawasan Ciayumajakuning memiliki arahan dari Departemen Perindustrian Republik Indonesia untuk merelokasi kawasan industri tekstil dan produk tekstil dari Bandung Selatan ke Kabupaten Majalengka. Hal ini disebabkan sektor industri di Kabupaten Bandung Selatan mengalami kejenuhan. Penelitian ini menggunakan teori lokasi dan pengembangan kawasan industri dengan menggunakan analisis Delphi untuk mengindentifikasi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap penentuan lokasi kawasan industri tekstil menurut preferensi stakeholder, analsisis AHP untuk menentukan tingkat kepentingan dari variabel - variabel, dan analisis GIS Overlay untuk menentukan lokasi kawasan industri tekstil terpadu. Dari hasil penelitian terdapat lima indikator yang berpengaruh terhadap penentuan lokasi kawasan industri tekstil terpadu yaitu tapak/lahan, risiko bencana, utilitas, aksesibilitas, dan prinsip pengembangan kawasan. Dari hasil analisis overlay didapatkan hasil berupa peta lokasi terpilih yang dapat digunakan sebagai lokasi kawasan industri tekstil terpadu. Tingkat kesesuaian kawasan industri paling tinggi berada rentang 0.8924-1. Dari hasil analisis diperoleh bahwa lahan yang sesuai untuk dijadikan kawasan industri tekstil terpadu seluas 2.325 Ha tersebar di Kecamatan Jatitujuh dan Ligung dengan luas per kawasan yaitu 54,9 ha hingga 319,6 ha.
Identifikasi Aliran Nilai Tambah Komoditas Unggulan Buah Naga di Kabupaten Banyuwangi
Ayu Sri Lestari;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (293.943 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32485
Buah naga merah merupakan komoditas unggulan Indonesia dengan produksi terbesar di Banyuwangi. Produksi buah naga di Banyuwangi pada 2014 mencapai 28.819 ton dengan luas lahan 1.152 ha. Kualitas buah naga Banyuwangi telah diakui dalam skala nasional dibuktikan dengan perolehan SERTIFIKAT PRIMA-3 tahun 2010 oleh Kelompok Tani Berkah Naga dan Kelompok Tani Surya Naga tahun 2013. Namun, potensi buah naga tersebut belum dimanfaatkan dengan optimal untuk meningkatkan nilai tambah. Pemasaran dilakukan dalam bentuk buah segar tanpa adanya pengolahan pada pusat pelayanan. Tujuan pemasaran yaitu pasar lokal (5%), pasar luar kabupaten (25%), pasar provinsi (40%) dan ekspor ke luar negeri (30%). Hal ini menunjukkan ketidakefektifan pusat pelayanan berbasis komoditas buah naga sehingga menimbulkan adanya kebocoran wilayah dan hilangnya nilai tambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aliran nilai tambah komoditas unggulan buah naga yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deksriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menghitung jumlah dan rata-rata. Identifikasi dilakukan di 5 (lima) kecamatan sentra penghasil buah naga di Kabupaten dengan jumlah produksi terbesar yaitu Kecamatan Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo, Siliragung dan Pesanggaran. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa bahwa aliran nilai tambah di tiap kecamatan penghasil buah naga memiliki kesamaan karakteristik, yaitu dari petani ke pengepul dan sebagian besar dijual dalam bentuk buah segar. Pengepul dapat mengumpulkan rata-rata 5-6 ton per hari dari 6-7 petani. Target pasar bagi komoditas buah naga adalah pada 3 lokasi utama yaitu pasar lokal dan PKL, pasar di pusat pelayanan, dan di luar wilayah. Selain itu, penghasilan panen buah naga terbesar oleh petani mencapai 17 ton pada lahan seluas 2 ha. Sedangkan hampir 75% responden menyatakan bahwa luas lahan yang dimiliki untuk tanaman buah naga yaitu seluas 0,25 ha. Panen buah naga dilakukan 35 hari sekali setelah proses penanaman batang selama 8 bulan.
Direction of Maritime Industrial Estate Development in Brondong-Paciran Area, Lamongan Regency
Gema Patria Mahaputra;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4964.191 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32854
Kabupaten Lamongan merupakan salah satu kabupaten yang ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di bidang industri maritim. Penetapan sebagai kawasan ekonomi khusus tersebut tidak terlepas dari potensi infrastruktur dan ketersediaan lahan yang cukup di Kabupaten Lamongan. Pembangunan kawasan industri maritim di Kabupaten Lamongan telah direncanakan pada lahan seluas 4.000 Ha namun hingga saat ini masih belum terdapat proses pembangunan kawasan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan industri maritim di wilayah Brondong - Paciran, Kabupaten Lamongan. Tahapan awal penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan yang ada di kawasan industri maritim dengan metode content analysis. Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi alur kegiatan industri yang ada di kawasan industri maritim dengan deskriptif komparatif kemudian mengidentifikasi faktor-faktor pendorong pengembangan kawasan industri dengan analisis Delphi dan tahap terakhir adalah merumuskan arahan pengembangan kawasan industri maritim berdasarkan faktor-faktor pendorong pengembangan kawasan industri dengan analisis deskriptif komparatif dan analisis Delphi. Hasil penelitian ini meunjukkan bahwa permasalahan yang terdapat di kawasan industri maritim Kabupaten Lamongan adalah pembebasan lahan, jaringan air bersih, jaringan transportasi, industri pendukung dan kelembagaan. Pengembangan yang dapat dilakukan berupa pendekatan dengan pemilik lahan yang didampingi oleh tokoh masyarakat dan BPN, pengelolaan air bersih secara mandiri, pelebaran jalan dan menghubungkan kawasan dengan jalan tol, pembentukan klaster industri pendukung dan pembentukan kelembagaan pengelola kawasan industri.
Alternatif Pemanfaatan Penyandang Disabilitas bagi Kegiatan Pertanian di Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo
Rezza Perdana Al Hanif;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (444.735 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.34894
Desa Sidoharjo termasuk desa yang memiliki fenomena yang cukup langka di dalam kehidupan pada umumnya. Sekitar 3,3 % dari total penduduk atau 210 orang merupakan penyandang disabilitas terdapat di desa tersebut dengan kondisi serta permasalahan yang beragam. Pertanian menjadi sektor dominan yang diusahakan di Desa Sidoharjo, namun penyandang disabilitas masih sangat sedikit yang diberdayakan. Pertanian selama ini juga masih belum dapat mengakomodasi secara utuh segala potensi dari penyandang disabilitas di Desa Sidoharjo. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan alternatif pemanfaatan penyandang disabilitas bagi kegiatan pertanian di Desa Sidoharjo. Dalam penelitian ini digunakan berbagai tinjauan teori yang berkaitan dengan pertanian, kegiatan-kegiatan pertanian, dan penyandang disabilitas. Sedangkan untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan tiga tahapan analisa yaitu mengidentifikasi potensi pertanian di Desa Sidoharjo menggunakan analisis content, menganalisa kemampuan dan kebutuhan penyandang disabilitas dalam sektor pertanian di Desa Sidoharjo menggunakan analisis content, dan menentukan alternatif pemanfaatan penyandang disabilitas bagi kegiatan pertanian di Desa Sidoharjo menggunakan analisis triangulasi. Berdasarkan hasil penelitian, alternatif pemanfaatan penyandang disabilitas antara lain: membentuk jaringan kerja untuk penyandang disabilitas, melakukan habilitasi dan rehabilitasi kepada penyandang disabilitas, melakukan resosialisasi kepada masyarakat, dan pemberian pembinaan dan pelatihan kepada penyandang disabilitas dalam bidang pertanian.
Optimasi Pemanfaatan Lahan Melalui Pendekatan Telapak Ekologis di Kabupaten Sukoharjo
Tita Almira Desiana;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.46842
Adanya keragaman fungsi wilayah dan kegiatan yang pesat di tengah tuntutan keseimbangan pasokan dan permintaann sumberdaya membuat Kabupaten Sukoharjo memerlukan optimasi pemanfatan lahan melalui pendekaran telapak ekologis. Analisis ini dilakukan berdasarkn komponen biokapasitas atau ketersediaan lahan produktif, telapak ekologis atau konsumsi pemanfaatan lahan, dan defisit ekologis. Variabel penelitian ini adalah populasi, pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, penyerap karbon, dan terbangun. Tahapan penelitian ini dimulai dari perhitungan biokapasitas (demand), telapak ekologis (supply), keseimbangan defisit ekologis, dan optimasi lahan. Kemudian dilakukan komparasi eksisting lahan 2017, telapak ekologis 2017, rencana pola ruang 2031 (RTRW Sukoharjo 2011-2031), dan telapak ekologis 2031. Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Sukoharjo mengalami surplus pada level 1 dengan defisit ekologis 3.480.947 Gha atau 3.96 Gha/capita. Biokapasitas lahan lebih besar 186% dari 150% telapak ekologisnya. Kondisi biokapasitas wilayah masih bisa memenuhi kebutuhan penduduk dan lahan surplus dapat mensuplai kebutuhan wilayah lain yang mengalami defisit. Pertumbuhan penduduk perlu ditekan hingga 1,01 % agar tetap seimbang dalam mengalokasikan RTRW Kabupaten Sukoharjo hingga tahun 2031
Arahan Pengembangan Kawasan Agropolitan Berdasarkan Komoditas Unggulan Prioritas Tanaman Pangan Kabupaten Bojonegoro
Chichik Ilmi Annisa;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (337.464 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.46914
Penerapan Konsep Agropolitan telah mulai dilakukan di Kabupaten Bojonegoro sejak tahun 2008 sebagai Pengembangan Kawasan Agropolitan. Pada masing-masing kecamatan telah memiliki potensi awal komoditas unggulan tanaman pangan untuk dikembangkan namun belum ditentukannya komoditas unggulan prioritas mengakibatkan belum optimalnya hasil pertanian sehingga belum maksimalnya peningkatan ekonomi yang diperoleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pengembangan kawasan Agropolitan berdasarkan komoditas unggulan prioritas tanaman pangan di Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan empat teknik analisis, yaitu Location Quotient (LQ), Shift Share Analysis (SSA) dan Tipologi Klassen yang digunakan untuk menentukan komoditas unggulan prioritas tanaman pangan. Selanjutnya Analisis Delphi digunakan untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan kawasan agropolitan, analisis Analytical Hierarchy Process (ANP) untuk mengetahui prioritas arahan pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan komoditas unggulan prioritas tanaman pangan. Hasil dari penelitian ini adalah komoditas unggulan prioritas tanaman pangan di Kabupaten Bojonegoro yaitu Padi dan Kedelai. Hasil analisis delphi menghasilkan 18 faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan kawasan agropolitan. Hasil analisis Analytical Network Process untuk mengetahui arahan prioritas pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan komoditas unggulan prioritas tanaman pangan padi dan kedelai, dari hasil analisis Analytical Network Process di hasilkan bahwa variabel prioritas pengembangan komoditas tanaman pangan padi adalah variabel Penyediaan air baku (0.237), Sarana industri pengolahan hasil pertanian (0.096), Sarana produksi pertanian (0.095), jalan antar desa-kota (0.085), dan Jembatan (0.0794) dan variabel prioritas pengembangan komoditas tanaman pangan kedelai adalah Sarana Industri Pengolahan Hasil Pertanian (0.237), Sarana Produksi Pertanian (0.096), Penguasaan Teknologi. (0.095), Pasar (0.076), dan Penjemuran hasil pertanian (0.067).