Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Representasi Femme Fatale dalam Figur Tomie melalui Pendekatan Semiotika Roland Barthes Herni Suryani; Septia Winduwati
Koneksi Vol. 10 No. 2 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i2.36398

Abstract

Manga is a form of Japanese popular culture that has evolved into a mass communication medium capable of conveying social values, cultural representations, and identity constructions. This research is motivated by the need to understand how women are represented in Japanese horror manga, particularly through the character of Tomie, who is often depicted as both alluring and threatening, considering that mass media plays a significant role in shaping how society interprets gender identity. This research aims to explain how Tomie is represented as a femme fatale through visual and narrative signs in Junji Ito's manga Tomie. The analysis uses Roland Barthes' semiotics as a grand theory, including denotation, connotation, and myth, supported by Stuart Hall's concept of representation, the perspective of Japanese feminism, and Judith Butler's gender performativity. The research approach is descriptive qualitative, with data collection techniques in the form of observation, documentation studies, and interviews with expert sources to strengthen the reading of meaning. The results show that the representation of the femme fatale Tomie includes the use of beauty as a tool of domination, psychological manipulation that weakens male control, feminine performativity that deviates from traditional norms, and a regenerative body that works as a myth regarding the threat of women who refuse to submit to patriarchy. These findings confirm that Tomie is not just a horror character, but a symbol of women's resistance to traditional gender constructions in Japanese culture. Manga merupakan salah satu bentuk budaya populer Jepang yang berkembang sebagai media komunikasi massa yang mampu menyampaikan nilai sosial, representasi budaya, serta konstruksi identitas. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan memahami bagaimana perempuan direpresentasikan dalam manga horor Jepang, khususnya melalui karakter Tomie yang kerap digambarkan memikat sekaligus mengancam, mengingat media massa memiliki peran penting dalam membentuk cara masyarakat memaknai identitas gender. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana karakter Tomie direpresentasikan sebagai femme fatale melalui tanda visual dan naratif dalam manga Tomie karya Junji Ito. Analisis menggunakan semiotika Roland Barthes sebagai grand theory meliputi denotasi, konotasi, dan mitos serta didukung konsep representasi Stuart Hall, perspektif feminisme Jepang dan performativitas gender Judith Butler. Pendekatan penelitian bersifat kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, studi dokumentasi, dan wawancara dengan narasumber ahli untuk memperkuat pembacaan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi femme fatale Tomie mencakup pemanfaatan kecantikan sebagai alat dominasi, manipulasi psikologis yang melemahkan kontrol laki-laki, performativitas feminin yang menyimpang dari norma tradisional, serta tubuh regeneratif yang bekerja sebagai mitos mengenai ancaman perempuan yang menolak tunduk pada patriarki. Temuan ini menegaskan bahwa Tomie bukan sekadar tokoh horor, tetapi simbol resistensi perempuan terhadap konstruksi gender tradisional dalam budaya Jepang.
Serial GMMTV dan Persepsi Penggemar Indonesia Clarisa Tasim; Septia Winduwati
Koneksi Vol. 10 No. 2 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i2.38819

Abstract

This study examines Indonesian fans' perceptions of the popularity of series produced by GMMTV. Employing Uses and Gratifications theory alongside Entertainment Theory, supported by concepts of perception, and popular culture. The research adopts a qualitative case study approach through in-depth interviews with three late adolescent informants (aged 18-24 years) who actively follow GMMTV series, as this age group tends to have more open-minded perspectives. The findings reveal that fans attribute the popularity of GMMTV series to unique, diverse storylines relevant to contemporary adolescent issues, supported by easy access and subtitles. Beyond romance, these series address themes of self-acceptance, friendship, and life's struggles. Fans actively engage in online communities by discussing with fellow enthusiasts, creating video edits, and promoting hashtags on the X platform, thereby strengthening popular culture dynamics. These findings highlight the role of content in fulfilling Indonesian adolescents' entertainment needs and identity formation. Penelitian ini mengkaji persepsi penggemar Indonesia terhadap kepopuleran serial dari GMMTV. Penelitian ini menggunakan teori uses and gratifications dan entertainment theory, yang didukung oleh konsep persepsi, dan budaya populer. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan remaja akhir yang aktif mengikuti serial GMMTV (18-24 tahun). Remaja akhir dengan umur segitu biasanya memiliki pikiran yang lebih terbuka atau lebih open-minded. Hasil menunjukkan juga bahwa penggemar memandang kepopuleran series GMMTV itu didorong oleh jalan cerita yang unik, beragam, serta relevan dengan isu remaja saat ini, ditambah juga dengan kemudahan akses serta ketersediaan subtitle. Serial ini tidak hanya menyajikan romansa, tetapi juga tema penerimaan diri, persahabatan, dan perjuangan hidup. Penggemar turut aktif berdiskusi dengan sesama penggemar, melakukan editan video, dan juga menaikkan hashtag di aplikasi X. Hal itu memperkuat dinamika budaya populer. Temuan ini menyoroti peran konten dalam memenuhi kebutuhan hiburan serta identitas remaja di Indonesia.
Perbandingan Self-Disclosure Remaja Jakarta pada First Account dan Second Account di Instagram Della Amelia Putri; Septia Winduwati
Koneksi Vol. 10 No. 2 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i2.38875

Abstract

The development of technology has changed the way teenagers express themselves on Instagram. The phenomenon of using first accounts and second accounts by teenagers illustrates strategies of self-presentation in public. This study aims to describe the comparison of self-disclosure among Jakarta teenagers on these two types of accounts, referring to Interpersonal Communication Theory, the Johari Window concept, and aspects of self-disclosure by DeVito and Computer-Mediated Communication (CMC) as the basis for analysis. The approach in this study is qualitative using a phenomenological method through in-depth interviews with five Jakarta teenagers aged 15-21 (two males and three females) who live in Jakarta, have been actively using Instagram for at least one year, and have both types of accounts. The findings show differences in five dimensions of self-disclosure, where the first account exhibits selective honesty with positive content for personal branding, while the second account is entirely honest with various types of content including negative emotions to express themselves freely and provide emotional support. The duration of Instagram use reaches 3-7 hours per day with higher posting frequency on secondary accounts due to social pressure in Jakarta that encourages the use of second accounts. Gender differences show that female informants in this study are more emotionally expressive compared to male informants who are more reserved due to masculinity expectations. This study shows that Jakarta teenagers who are the informants of this research manage their digital identities strategically through multiple accounts to meet social demands as well as emotional needs, making digital literacy and privacy awareness very necessary. Perkembangan teknologi mengubah cara para remaja mengekspersikan diri di Instagram. Fenomena penggunaan first account dan second account oleh remaja menggambarkan strategi presentasi diri di publik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbandingan self-disclosure remaja Jakarta pada kedua akun tersebut dengan mengacu pada Teori Komunikasi Interpersonal, konsep Johari Window, dan aspek- aspek self-disclosure DeVito dan Computer-Mediated Communication (CMC) sebagai landasan analisis. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif metode fenomenologi melalui wawancara mendalam dengan lima remaja Jakarta berusia 15-21 tahun (dua laki-laki dan tiga perempuan) yang tinggal di Jakarta, dan aktif menggunakan Instagram minimal satu tahun serta memiliki kedua jenis akun. Temuan penelitian menunjukkan perbedaan pada lima dimensi pengungkapan diri, di mana first account melakukan kejujuran yang selektif dengan konten yang positif untuk branding pribadi, sementara second account sepenuhnya jujur dengan berbagai jenis konten termasuk emosi negatif untuk berekspresi dengan leluasa dan memberikan dukungan emosional. Durasi penggunaan Instagram mencapai 3-7 jam per hari dengan frekuensi posting yang lebih tinggi di second account karena adanya tekanan sosial di Jakarta yang mendorong untuk menggunakan second account. Perbedaan gender menunjukkan informan perempuan dalam penelitian ini lebih ekspresif emosional dibandingkan informan laki-laki yang lebih tertutup karena ekspektasi maskulinitas. Penelitian ini menujukkan bahwa remaja Jakarta yang menjadi informan penelitian ini mengelola identitas digital secara strategis melalui akun ganda untuk memenuhi tuntutan sosial sekaligus kebutuhan emosional, sehingga literasi digital dan kesadaran privasi sangat diperlukan.
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alexandra Carolina Alfira Dittya Raihan Amanda Khaerunnisa Ananias Reszki Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Audrey Kristen Tan Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Cahaya Rizka Putri Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Clarisa Tasim Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Della Amelia Putri Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Herni Suryani Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Manda Aulia Az Zahra Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Nathalie Tresya Awantara Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Raihan Zahran Wicaksono Randy Wijaya Rani Febriyani Resfirahma Resfirahma Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Syaharani, Pricilla Tirta Ayu Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Theresa Indira Suwirya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy