Claim Missing Document
Check
Articles

Detox Behavior pada Mahasiswa yang Kecanduan Aplikasi TikTok Tan, Stephanie; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21521

Abstract

TikTok is an application platform that provides a variety of exciting video content. TikTok can be addictive to its users. However, there is a phenomenon of TikTok detox among teenagers where users decide to stop accessing this application. This study aims to determine the detox behaviour of students addicted to the TikTok application. This research used a descriptive qualitative approach with a case study method on college students on the island of Batam who stopped playing the TikTok application. Data collection was carried out using interviews and documentation. The results of this study show that using TikTok applications with excessive frequency and duration can lead to addiction which has a negative impact. However, detox behaviour can bring changes. After stopping accessing this application, students become more appreciative of each other, have adequate sleep time, are more energetic, and become more self-focused. TikTok merupakan sebuah platform aplikasi yang menyediakan berbagai konten video menarik. TikTok mampu membuat kecanduan penggunanya. Namun demikian, muncul fenomena detox TikTok ini di kalangan remaja di mana para pengguna memutuskan untuk berhenti mengakses aplikasi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku detox pada mahasiswa yang kecanduan aplikasi TikTok. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada mahasiswa di Pulau Batam, yang berhenti bermain aplikasi TikTok. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan penggunaan aplikasi TikTok dalam frekuensi dan durasi yang berlebihan bisa mengakibatkan kecanduan hingga membawa dampak negatif. Namun, perilaku detox mampu membawa perubahan. Setelah berhenti mengakses aplikasi ini, mahasiswa menjadi pribadi yang lebih bisa menghargai satu sama lain, memiliki waktu tidur yang cukup, lebih bersemangat hingga menjadi lebih fokus pada diri sendiri.
Komunikasi Tokoh Politik dan Kesadaran Berpolitik Generasi Z Tanuja, Vico; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27622

Abstract

This research explores the political awareness of the youth in DKI Jakarta, focusing on the impact of exposure to corruption news on their political perceptions. The younger generation tends to rely on social media platforms, such as Instagram and TikTok, as their primary sources of political information. Regular exposure to corruption news leads to negative perceptions of politics and a decline in trust in government institutions. Politicians perceived rigid and sensitive political communication also contributes to the youth's apathy towards politics. Despite being seen as a breath of fresh air, concerns exist regarding the lack of experience and adequate representation among the younger generation. Political participation varies, with some participants engaging only formally. There is also a debate regarding priorities between political awareness and political participation. In conclusion, the political awareness of the youth is susceptible to being low due to exposure to corruption news, impacting their political participation. Improved political communication and adequate representation are necessary to encourage active involvement of the younger generation in politics. Penelitian ini mengeksplorasi kesadaran berpolitik generasi muda di DKI Jakarta, di tengah paparan berita korupsi, khususnya terkait persepsi politik mereka. Generasi muda cenderung mengandalkan media sosial, seperti Instagram dan TikTok, sebagai sumber utama informasi politik. Paparan berita korupsi secara rutin menyebabkan persepsi negatif terhadap politik dan penurunan kepercayaan pada lembaga pemerintahan. Penelitian ini menggunakan Teori Komunikasi Massa, Teori Kultivasi dan Teori Komunikasi Politik, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data. Didapatkan hasil bahwa komunikasi politik yang dianggap kaku dan sensitif oleh tokoh politik juga berkontribusi pada apatis generasi muda terhadap politik. Meskipun generasi muda dianggap membawa angin segar, ada kekhawatiran terkait pengalaman dan representasi yang kurang. Partisipasi politik bervariasi, dengan beberapa informan hanya berpartisipasi secara formalitas. Terdapat juga perdebatan seputar prioritas antara kesadaran berpolitik dan partisipasi politik. Kesimpulannya, kesadaran berpolitik generasi muda rentan rendah akibat paparan berita korupsi, memengaruhi partisipasi politik mereka. Komunikasi politik yang lebih baik dan representasi yang memadai diperlukan untuk mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam dunia politik.
Pemaknaan Standar Kecantikan Remaja di Jakarta pada Drama Korea Mask Girl Caroline, Caroline; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27645

Abstract

The popularity of the Korean drama "Mask Girl" has secured its position as the 2nd most popular series globally on Netflix as of August 21, 2023. "Mask Girl" narrates the story of Kim Mo Mi, who faces social pressure due to her appearance being deemed inconsistent with Korean beauty standards. This research aims to identify the interpretation of beauty standards in the drama among teenagers in Jakarta using mass communication theory and Stuart Hall's Semiotics. The approach employed in this study is qualitative, utilizing in-depth interviews as the data collection technique. The research findings indicate that the interpretation of beauty standards among Jakarta teenagers, as portrayed in the Korean drama "Mask Girl," consists of dominant, negotiated, and oppositional positions as postulated by Stuart Hall. Informant 1 takes a negotiated position, considering plastic surgery not strange and not harmful to others. Informant 2 holds a dominant position, agreeing with someone undergoing plastic surgery as long as it helps them become the best version of themselves. In contrast, Informant 3 adopts an oppositional position, disagreeing with someone undergoing plastic surgery, emphasizing the importance of self-love and acceptance. Popularitas drama Korea membuat drama Korea “Mask Girl” menempati posisi serial terpopuler nomor dua secara global di Netflix pada tanggal 21 Agustus 2023. Drama Korea “Mask Girl” menceritakan tentang Kim Mo Mi yang menghadapi tekanan sosial karena penampilannya yang dianggap tidak sesuai standar kecantikan di Korea Selatan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pemaknaan standar kecantikan dalam drama tersebut pada kalangan remaja di Jakarta menggunakan Teori Komunikasi Massa dan Pemaknaan menurut Stuart Hall. Pendekatan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan remaja di Jakarta terhadap standar kecantikan yang ditampilkan dalam drama Korea Mask Girl ini terdiri dari posisi dominan, posisi negosiasi, dan posisi oposisi yang dikemukakan oleh Stuart Hall. Informan 1 berada di posisi negosiasi karena mengganggap operasi plastik bukan hal yang aneh dan tidak merugikan orang lain, informan 2 berada di posisi dominan yaitu setuju sengan seseorang yang melakukan operasi plastik selama hal tersebut dapat membuat dia menjadi versi yang terbaik dalam dirinya, berbeda dengan informan 3 yang berada pada posisi oposisi yaitu tidak setuju dengan seseorang melakukan operasi plastik karena harus mencintai diri apa adanya dan menerima diri sendiri sebagaimana mestinya.
Pengelolaan Self-disclosure Generasi Z melalui Penggunaan Multiple Accounts di Instagram Tandres, Herliany; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27659

Abstract

This research extensively explores the phenomenon of Self-disclosure among Generation Z in the context of using Multiple Accounts on the Instagram platform, aiming to gain a deeper understanding of how Generation Z carefully manages their self-disclosure. Within the theoretical framework of Self-disclosure theory and the Johari Window, a qualitative constructivist phenomenological approach is applied, focusing on individuals from Generation Z who actively use more than two Instagram accounts. The research findings indicate that Generation Z consciously categorizes their accounts into three separate categories: a personal account for general content, a private account for more profound self-disclosure to trusted followers, and a professional account for specialized content showcasing their expertise. These findings reflect Generation Z's early awareness of the importance of shaping and maintaining their personal branding and digital identity through tailored openness based on the type of account they manage. This research provides deeper insights into how Generation Z manages Multiple Accounts, and these implications can be used to understand their digital self-disclosure dynamics in this modern era. Penelitian ini secara rinci mengeksplorasi fenomena Self-disclosure Generasi Z dalam konteks penggunaan Multiple Accounts di platform Instagram, bertujuan untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana Generasi Z secara hati-hati mengelola pengungkapan diri mereka. Dalam kerangka teoretis teori Self-disclosure dan Johari Window, pendekatan kualitatif fenomenologi konstruktivisme diterapkan dengan fokus pada individu Generasi Z yang aktif menggunakan lebih dari dua akun Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z dengan sadar mengelompokkan akun mereka menjadi tiga kategori yang terpisah, akun personal untuk konten umum, akun privat untuk pengungkapan yang lebih mendalam kepada followers terpercaya, dan akun profesional untuk konten khusus yang menunjukkan keahlian mereka. Temuan ini mencerminkan kesadaran dini Generasi Z akan pentingnya membentuk dan merawat personal branding serta identitas digital mereka melalui keterbukaan yang disesuaikan dengan jenis akun yang mereka kelola. Penelitian ini memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana Generasi Z dalam mengelola Multiple Accounts, dan implikasi ini dapat digunakan untuk memahami dinamika pengungkapan diri mereka secara digital dalam era modern ini.
Gaya Kepemimpinan Perempuan Pemimpin dalam Membangun Reputasi Perusahaan Mentari Group Kyra, Ancilla; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27672

Abstract

This research discusses the leadership style of women leaders in building corporate reputation. Leaders are an important factor in determining the success of an organization. Therefore, this research aims to find out the leadership style of women leaders applied in building the company's reputation. This research uses Organizational Communication Theory and three leadership style concepts, namely assertive communication style, situational leadership of Paul Hershey and Kenneth H. Blanchard, and transactional female leadership style. The researcher used a qualitative approach with a case study method. In obtaining data, researchers conducted in-depth interviews, non-participatory observations, and documentation studies. The results showed that goal-oriented leadership while still focusing on fostering relationships between members is a good thing. In addition, a balanced collaboration between communication styles, leadership styles, and consistency in living the company's vision, mission, and values can create a positive organizational culture. Penelitian ini membahas gaya kepemimpinan perempuan pemimpin dalam membangun reputasi perusahaan. Pemimpin menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan sebuah organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya kepemimpinan perempuan pemimpin yang diterapkan dalam membangun reputasi perusahaan. Penelitian ini menggunakan Teori Komunikasi Organisasi dan tiga konsep gaya kepemimpinan, yakni gaya komunikasi asertif, kepemimpinan situasional Paul Hershey dan Kenneth H. Blanchard, dan gaya kepemimpinan perempuan yang transaksional. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Dalam memperoleh data, peneliti melakukan wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan yang berorientasi pada tujuan namun tetap fokus membina hubungan antar anggota merupakan hal yang baik. Selain itu, kolaborasi yang seimbang antara gaya komunikasi, gaya kepemimpinan, dan konsistensi untuk menghidupi visi, misi, serta nilai perusahaan mampu menciptakan budaya organisasi yang positif.
Diseminasi Informasi Terkait Pariwisata Berwawasan Lingkungan dan Budaya Guna Meningkatkan Daya Tarik Wisatawan (Studi pada Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat) Yugih Setyanto; Septia Winduwati
Jurnal Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v9i2.1077

Abstract

Tourism is a huge potential owned by the regions in Indonesia. Many areas in Indonesia that actually has an interesting potential to be developed into tourism object. In order for the potential to have a selling power that attracts potential tourists to come should be disseminated information about the object. The process of information dissemination is adjusted to various things such as the intended audience and what potentials need to be known by the audience. Therefore, each local government has the authority in developing and promoting tourism potential that exists. The local government seeks the promotion of regional tourism potentials through dissemination of information to the public. Roles and functions are carried out so that the potential of tourism areas that are environmentally and culturally relevant tourism can be maximally known by the public and increase the attractiveness of tourists, especially domestic and foreign tourists. Penelitian ini merupakan studi terkait upaya diseminasi informasi di bidang komunikasi pariwisata. Pariwisata merupakan potensi yang sangat besar dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia. Banyak daerah di Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi yang menarik untuk dikembangkan menjadi objek pariwisata. Agar potensi tersebut memiliki daya jual yang menarik minat calon wisatawan untuk datang harus dilakukan penyebaran informasi mengenai objek tersebut. Proses diseminasi informasi disesuaikan berbagai hal misalnya khalayak yang dituju dan potensi apa yang perlu diketahui oleh khalayak. Oleh sebab itu, masing-masing pemerintah daerah memiliki otoritas dalam mengembangkan serta mempromosikan potensi wisata yang ada. Pemda mengupayakan promosi potensi wisata daerah melalui diseminasi informasi ke publik. Peran dan fungsi tersebut dilakukan sehingga potensi wisata daerah yakni pariwisata yang berwawasan lingkungan dan budaya bisa secara maksimal dikenal oleh masyarakat dan meningkatkan daya tarik wisatawan, khususnya turis dalam dan luar negeri. 
MENINGKATKAN KEUNGGULAN KOMPETITIF MELALUI REDESAIN KEMASAN UKM CAP CUS DI JAMBI Rodhiah, Rodhiah; Ika Widyani, Augustina; Winduwati, Septia
PORTAL RISET DAN INOVASI PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 1 No. 1 (2021): DECEMBER
Publisher : Transpublika Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.457 KB) | DOI: 10.55047/prima.v1i1.10

Abstract

Strategi inovasi dalam kemasan produk merupakan hal yang penting dalam berwirausaha. Melalui strategi inovasi dari kemasan baik dari sisi desain, warna dan bahan yang digunakan akan meningkatkan nilai jual produk yang dihasilkan. Mitra yang menjadi tempat kegiatan merupakan usaha yang bergerak di bidang kuliner CAPCUS yang merupakan makana ringan stik tempoyak. Berlokasi di Jambi. Kegiatan PKM dilakukan dengan melihat permasalahan UKM terutama dalam hal strategi inovasi kemasan produk. Kondisi ini disebabkan lemah nya pengetahuan mitra tentang desain kemasan, ditambah keterbatasan modal yang dimiliki. Mitra belum mampu untuk membuat desain kemasan yang menarik. Kemasan yang digunakan selama ini belum terlihat bagus, baik dari sisi bahan kemasan, desain, maupun warna. Desain kemasan yang ada, belum menunjukkan nilai jual yang tinggi ke konsumen. Untuk itu pemilik usaha berkeinginan mendapatkan bekal pengetahuan dalam meredesain kemasan dari produk yang dihasilkan. Agar dapar memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Metode yang ditawarkan dari kegiatan ini adalah pelatihan dalam meredesain kemasan produk mitra. Hasil kegiatan menujukkan mitra mendapatkan bekal pengetahuan dalam melakukan inovasi pada kemasan produk yang dijual.  
PENGEMBANGAN INOVASI PRODUK BERKELANJUTAN PADA UKM BU ERMA DI JAMBI Rodhiah, Rodhiah; Ika Widyani, Agustina; Winduwati, Septia
PORTAL RISET DAN INOVASI PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 1 No. 1 (2021): DECEMBER
Publisher : Transpublika Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.06 KB) | DOI: 10.55047/prima.v1i1.15

Abstract

An entrepreneur must always innovate, so that the products created can face increasingly tough competitive conditions. The partner who became the venue for the activity was Ms. Erma's SME, which is located in Jambi. From the results of initial online observations, it can be seen that the main problem faced by partners is innovation, there is no partner understanding about the importance of sustainable innovation strategies in doing business. This condition occurs because partners lack knowledge about innovation. So that the products produced by partners are monotonous and less innovative, even many are similar to competitors. The activity method is carried out by socializing or providing training to partners online via Zoom. Submission of materials is presented in the form of PPT related to the innovation strategy. The results of the activity showed that the provision of knowledge about innovation had run smoothly, partners were enthusiastic in listening to the material and discussing with the PKM (Student Creativity Program) Team. Furthermore, through innovation, partners can create products into products that can improve business sustainability.
Dramaturgy and the Phenomenon of Instagram Multi-Account Usage Among Gen Z in Bali Winduwati, Septia; Irena, Lydia
Jurnal Komunikasi Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v16i2.32190

Abstract

Generation Z, born between 1997 and 2012, has grown up in a digital technology era that has shaped their communication and interaction styles, particularly through social media platforms like Instagram. They are highly active on this platform, with 58% spending more than an hour each day. This study aims to analyze how Generation Z utilizes multiple accounts on Instagram using Erving Goffman's dramaturgical theory, which describes social interactions as performances where individuals play roles according to social contexts. This research is expected to contribute to understanding the construction of digital identities and social roles of Generation Z. A qualitative approach is used in this study to describe the findings from Generation Z Instagram users with multiple accounts in Bali. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and document studies, and analyzed using thematic analysis techniques. The results indicate that Generation Z uses multiple Instagram accounts to separate "front stage" and "back stage" in their identity management. The main account serves for personal branding and professional image, while the secondary account is used for more free-form self-expression. However, although multi-account management helps in managing identities, some informants still experience conflicts in maintaining their image on the main account and authenticity on the secondary account. Identity management in this digital era reflects their ability to navigate diverse social demands and balance public image with personal expression in the digital world.
Peran Komunikasi Kelompok dalam Tim Kerja Adi and Friends Wedding Organizer untuk Mempertahankan Reputasi Tanjaya, Aldrich; Winduwati, Septia
Kiwari Vol. 4 No. 1 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i1.33687

Abstract

Good group communication within a Wedding Organizer is the foundation for creating synergy between team members, who need to collaborate to achieve common goals. This research aims to understand the role of group communication within the team of Adi and Friends Wedding Organizer in maintaining the company's reputation. The background of this study focuses on the importance of communication in work coordination and the proper execution of wedding events to sustain reputation. The research is based on reputation, organizational communication theory, group communication, team performance, and the role of social media platforms in supporting team communication processes. The qualitative approach with a case study method was employed. Data collection techniques include in-depth interviews, direct observation, literature review, and documentation. The findings reveal that communication among team members is open, informal, and fosters effective collaboration within the team to sustain the company's reputation. This is supported by team members' shared understanding of tasks and responsibilities, alongside a harmonious work environment. Moreover, the use of digital platforms facilitates coordination and accelerates workflow, ensuring smooth event execution while maintaining the company's reputation. Komunikasi kelompok yang baik di dalam Wedding Organizer menjadi fondasi dalam menciptakan sinergi antara anggota tim, yang perlu berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan memahami peran komunikasi kelompok dalam tim kerja Adi and Friends Wedding Organizer untuk mempertahankan reputasi perusahaan. Latar belakang penelitian ini berfokus pada pentingnya komunikasi dalam koordinasi kerja dan pelaksanaan acara pernikahan yang tepat untuk mempertahankan reputasi. Penelitian ini didasarkan pada reputasi, teori komunikasi organisasi, komunikasi kelompok, kinerja tim, serta peran platform media sosial dalam yang membantu proses komunikasi tim kerja. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi langsung, studi literatur dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antar anggota tim bersifat terbuka, informal, dan mendukung kolaborasi yang baik antara tim kerja untuk mempertahankan reputasi. Hal ini didukung dengan setiap anggota memiliki pemahaman yang sama terhadap tugas dan tanggung jawab dan lingkungan kerja yang harmonis. Selain itu, penggunaan platform digital mempermudah koordinasi dan mempercepat alur kerja dalam tim, sehingga proses pelaksanaan acara dapat berjalan lancar dan mempertahankan reputasi perusahaan.
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alfira Dittya Raihan Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Cahaya Rizka Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Randy Wijaya Rani Febriyani Reszki, Ananias Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy