Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Kampanye PR Muscle First dalam Mengembangkan Brand Awareness Melalui KOL Putri, Edsa Estella Amrikasari; Winduwati, Septia
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27670

Abstract

In the current digital era, Public Relations faces the demand to adapt its approach to engage with the public effectively. Utilizing Key Opinion Leaders (KOL) to reach audiences via social media isn't novel in this era. PT Unggulan Bugar Indonesia - Muscle First recognizes the significance of effective strategies to maintain a competitive edge in the market. This study aims to understand how the Public Relations campaign strategy through Muscle First's Key Opinion Leader (KOL) from 2021 to 2023 contributes to developing brand awareness. The research incorporates Public Communication theories like Marketing Public Relations and Public Relations Campaign Strategy. Employing a qualitative approach through a case study method, data collection involves in-depth interviews, observations, document review, and literature review. The research findings outline Muscle First's Public Relations campaign strategy, involving stages such as research, planning, execution, and evaluation following The Nine Steps of Strategic Public Relations. Muscle First utilizes KOLs as a medium to disseminate monthly campaign messages, forming the Muscle First Team. This team, comprised of ordinary individuals, influences the general audience and fosters closeness with consumers. Memasuki era digital, peran Public Relations dituntut untuk beradaptasi dalam usahanya melakukan pendekatan dengan publik. Menggunakan Key Opinion Leader (KOL) dalam menjangkau audiens bagi suatu brand di media sosial bukanlah hal yang baru di era digital ini. PT Unggulan Bugar Indonesia - Muscle First, menyadari pentingnya strategi yang efektif dalam mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana strategi kampanye Public Relations melalui Key Opinion Leader (KOL) Muscle First periode 2021 – 2023 dalam mengembangkan brand awareness. Teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah Komunikasi Publik dengan konsep Marketing Public Relations dan Strategi Kampanye Public Relations. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi serta studi kepustakaan. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa strategi kampanye Public Relations yang dilaksanakan oleh Muscle First dalam meningkatkan brand awareness meliputi beberapa tahapan yaitu riset, perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi seperti yang dipaparkan pada The Nine Steps of Strategic Public Relations. Dalam risetnya, Muscle First menggunakan media online seperti Hootsuite dan Populix. Muscle First memanfaatkan KOL dengan menjadi medium penyebaran pesan kampanye yang dilaksanakan Muscle First tiap bulannya. KOL yang digunakan oleh Muscle First dalam kampanye yang dijalankannya dibentuk menjadi sebuah tim yaitu Muscle First Team. Tim tersebut terdiri dari orang biasa yang dapat memberikan influence kepada khalayak umum dan memberikan rasa kedekatan kepada konsumen.
Pemanfaatan Media Sosial TikTok dalam Membangun Citra Lembaga Sensor Film (LSF) RI Kusmayani, Zakia Syahlail; Winduwati, Septia
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27680

Abstract

Lembaga Sensor Film RI (LSF RI) yang termasuk salah satu lembaga tertua di Indonesia memiliki tujuan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya memilah dan memilih tontonan karena tidak semua tayangan membawa dampak yang positif untuk ditonton. Peran LSF RI disini untuk mendampingi dan memberikan himbauan kepada masyarakat melalui media sosial Tiktok dengan bantuan cyber PR LSF RI. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam secara tatap muka dan secara daring, serta menggunakan observasi, dokumentasi dan studi pustaka. Serta menggunakan beberapa teori dalam penelitian ini, yaitu teori komunikasi publik, cyber public relations, strategi Public Relations, citra, media sosial, dan Tiktok. Penelitian ini menjelaskan bagaimana cara dari suatu lembaga yang ingin memberikan informasi dan juga edukasinya terkait peran serta tujuan mereka kepada masyarakat, dengan strategi mereka atas program yang dimilikinya. Hasil temuan dari penelitian ini, yaitu LSF RI melakukan strategi pendekatan kepada masyarakat oleh tim cyber PR dalam mengedukasi dan memberikan informasinya kepada masyarakat dengan konten-konten menarik dan informatif yang mereka unggah di platform Tiktok, serta mengembangkan program mereka dalam mengingatkan masyarakat untuk melakukan budaya sensor mandiri dalam menonton suatu konten atau tayangan guna melindungi diri sendiri dan keluarga dari pengaruh negatif yang dibawa oleh suatu tayangan. Dalam hal tersebut LSF RI selalu menyematkan ajakan budaya sensor mandiri ini didalam setiap konten-kontennya terutama saat dengan public figure. Indonesia has a goal to remind people of the importance of sorting and choosing the spectacle because not all shows bring a positive impact to watch. The role of LSF RI is here to assist and give an appeal to the community through Tiktok social media with the help of LSF RI's cyber PR. In this study using descriptive qualitative approach by using in-depth face-to-face and online interviews, as well as using observation, documentation and literature studies. As well as using several theories in this study, namely the theory of public communication, cyber public relations, public Relations strategy, image, social media, and Tiktok. This study describes how an institution that wants to provide information and education related to their role and goals to the community, with their strategy for the program. The findings of this study, namely LSF RI carried out an approach strategy to the community by the cyber PR team in educating and providing information to the public with interesting and informative content that they upload on the Tiktok platform, and developing their program in reminding the public to carry out a culture of self-censorship in watching content or shows in order to protect themselves and their families from the negative influence brought by a show. In this case, LSF RI always embeds this independent censorship culture invitation in every content, especially when with public figures.
Pemanfaatan TikTok Sebagai Sarana Strategi Komunikasi Branding Universitas Tarumanagara Pasanea, Debora Natalia; Winduwati, Septia
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27689

Abstract

The increasing number of universities in Indonesia has led to higher competition between universities to attract the attention of prospective students. Therefore, it is important for a university to maintain its reputation by implementing personal branding. This research discusses on the personal branding strategy of a private university through social media. This research studied on Untar's personal branding strategy through @untarjakarta TikTok account. The methodology used in this research is qualitative methodology with data collection techniques through interviews, observation, and documentation. The theories used are public communication theory, personal branding concept, and employer branding. After conducting the research process, it can be concluded that Untar Public Relations utilizes TikTok @untarjakarta social media to build an impression or branding to the public. This strategy is done by using six personal branding concepts, namely specialization, personality, difference, appearance, unity, and constancy. In order to build an honest and credible reputation to the public, Untar Public Relations uses real and active students as talents on @untarjakarta TikTok account. Peningkatan jumlah perguruan tinggi di Indonesia, menyebabkan semakin tingginya persaingan antara perguruan tinggi untuk menarik perhatian calon mahasiswa. Sehingga penting bagi sebuah perguruan tinggi untuk mempertahankan reputasi dengan melakukan personal branding. Penelitian ini membahas bagaimana strategi personal branding perguruan tinggi swasta melalui media sosial. Peneliti mengambil studi pada strategi personal branding Untar melalui TikTok @untarjakarta. Metodologi yang digunakan peneliti adalah metodologi kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori-teori yang digunakan adalah teori komunikasi publik, konsep personal branding, dan employer branding. Setelah melakukan proses penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa Humas Untar memanfaatkan media sosial TikTok @untarjakarta guna membangun kesan atau branding di mata publik. Strategi ini dilakukan Humas Untar dengan menggunakan enam konsep personal branding, yaitu spesialisasi, kepribadian, perbedaan, kenampakan, kesatuan, dan keteguhan. Guna membangun reputasi yang jujur dan kredibel terhadap publik, Humas Untar menggunakan mahasiswa asli dan aktif sebagai talent dalam TikTok @untarjakarta.
Komunikasi Antarpribadi Caregiver dan Penyintas Gangguan Mental dalam Membangun Hubungan Aprilia, Elvira; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.15933

Abstract

This study examines interpersonal communication between caregivers and survivors of mental health disorders in building relationships. This study wanted to determine how the communication aspect occurred to the survivors of mental health disorders. This study uses a descriptive qualitative approach. Data was collected using interviews, documentation, and a literature study. The data analysis technique involved is collecting, reducing, displaying, and finally drawing conclusions. This study found that interpersonal communication is important in building relationships. The existence of communication aspects, namely openness, empathy, support, positive feelings, and equality in communication relationships, can be a simple treatment for survivors. Survivors want to be heard and believed in what they tell and go through. A caregiver must also have emotional control to remain calm and have high patience in dealing with survivors, especially in the face of rapidly changing moods. Penelitian ini meneliti tentang komunikasi antarpribadi antara caregiver dan penyintas gangguan mental health dalam membangun hubungan. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana aspek komunikasi yang terjadi terhadap para penyintas gangguan kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Teknik analisis data dengan cara pengumpulan data, reduksi data, display data, dan yang terakhir pengambilan kesimpulan. Penelitian ini menemukan bahwa komunikasi antarpribadi adalah hal yang penting dalam membangun hubungan. Adanya aspek komunikasi yaitu keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesetaraan dalam hubungan komunikasi dapat menjadi salah satu treatment sederhana bagi para penyintas. Para penyintas hanya ingin didengar dan dipercayai dengan apa yang mereka cerita dan lalui. Seorang caregiver, juga harus mempunyai kontrol emosi agar tetap tenang serta kesabaran yang tinggi dalam menghadapi penyintas terutama menghadapi keadaan suasana hati penyintas yang cepat berubah.
Representasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Karakter Severus Snape dalam Film Harry Potter & the Deathly Hallows Christianto, Ivania Ariella; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.15985

Abstract

Harry Potter And The deathly Hallows tells the story of the struggle of the hogwarrts magic school students against an extremely powerful evil wizard, and this evil wizard keeps horcux (part of the soul stored in objects) that must be found and destroyed which causes a great magic war. In this study, the author wanted to examine one of the characters named Severus Snape who represented the value of heroism. The method used by researchers is the Semiotics method of Charles Sanders Peirce. Researchers analyzed using the main elements of semiotics to examine scenes in the fim that concluded that the character Severus Snape underwent character development that represented the values of heroism. Film Harry Potter And The Deathly Hallows menceritakan tentang perjuangan murid sekolah sihir Hogwarrts melawan penyihir jahat yang sangat kuat, dan penyihir jahat ini menyimpan Horcux yang harus ditemukan dan dihancurkan yang menyebabkan perang sihir yang hebat. Dalam penelitian ini penulis ingin meneliti salah satu karakter bernama Severus Snape yang merepresentasikan nilai-nilai kepahlawanan. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode Semiotika Charles Sanders Peirce. Peneliti menganalisis menggunakan elemen utama semiotika untuk menelaah adegan di dalam fim yang memberikan kesimpulan bahwa karakter Severus Snape mengalami pengembangan karakter sehingga merepresentasikan nilai-nilai kepahlawanan.
Pemanfaatan Media Sosial TikTok Sebagai Sarana Edukasi Bahasa Isyarat Indonesia Natalia, Dinda; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.16034

Abstract

TikTok is a social media for short videos uploaded by users. TikTok can be a means of educating Indonesian Sign Language or BISINDO which is a language used visually to communicate both lip movements and specific hand movements. The purpose of this study was to determine the use of TikTok social media as a means of sign language education, especially on the TikTok account of Deaf Friends @Nurhildahamid29. This research will explore a number of theories of communication science, internet and social media, computer mediated communication (CMC), and persuasive communication. The methodology in this research is a case study with a qualitative approach and descriptive nature. Data collection techniques were carried out by in-depth interviews and online data collection. The result of this research is that TikTok social media can be used easily for Deaf Friends as a means of education for BISINDO. TikTok is the right educational media for young people in the age range of 14-24 years. The fact shows that many viewers are motivated and ask Teman Tuli for help to help the audience communicate well using BISINDO. TikTok merupakan media sosial video pendek yang diunggah oleh pengguna. TikTok dapat menjadi sarana edukasi Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO yang merupakan bahasa yang digunakan secara visualisasi untuk berkomunikasi baik secara gerakan bibir maupun gerakan tangan yang secara spesifik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan media sosial TikTok sebagai sarana edukasi bahasa isyarat terutama pada akun TikTok Teman Tuli @Nurhildahamid29. Penelitian ini akan digali dengan sejumlah teori ilmu komunikasi, internet dan media sosial, computer mediated communication (CMC), dan komunikasi persuasif. Metodologi dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan sifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan pengumpulan data secara daring. Hasil dari penelitian ini adalah media sosial TikTok dapat dimanfaatkan dengan mudah untuk Teman Tuli sebagai sarana edukasi BISINDO. TikTok merupakan media edukasi yang tepat bagi anak muda pada rentang usia 14-24 tahun. Fakta menunjukkan bahwa banyak penonton yang termotivasi serta meminta tolong kepada Teman Tuli untuk membantu penonton berkomunikasi dengan baik menggunakan BISINDO.
Analisis Semiotika Gejala Post Traumatic Stress Disorder dalam Serial Stranger Things Season 4 Angelyn, Felycia; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21275

Abstract

The state of mass communication currently functions as a transmission of values and social representation in society, one of which is the Stranger Things Season 4 Series. This series is a work of fiction that raises the issue of mental health. The focus of this research is to show how the symptoms of Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) are manifested in the characters of Max Mayfield and Chrissy Cunningham through the scenes observed and chosen by the researcher. The theoretical concepts used in this study are mass communication, communication psychology, and semiotics. This study uses a qualitative method research approach with Charles Sanders Pierce's semiotic analysis technique. The researcher collects and completes the data analysis by interviewing expert sources, studying documentation, and studying the literature. The result of this study is the Stranger Things Season 4 series as a mass communication work, wants to show a representation of social reality related to PTSD symptoms. PTSD symptoms are represented mostly through non-verbal signs such as (a) eyes that are not focused but when they feel cornered their gaze changes to a sharp one (b) tone of voice that seems hesitant in answering but rises when they are offended (c) facial expressions that significantly change according to the context of the conversation (d) repetitive hand and foot movements (e) actions shown such as when taking medicine, vomiting, and protecting oneself by sitting while covering one's ears in the corner of the toilet cubicle when under hallucination. Furthermore, The Stranger Things Season 4 series also conveys a message to the audience that a child can experience trauma as a result of parental verbal abuse. Kemajuan komunikasi massa saat ini berfungsi sebagai transmisi nilai dan representasi sosial di masyarakat salah satunya Serial Stranger Things Season 4. Serial ini merupakan karya fiksi yang mengangkat isu kesehatan mental. Fokus dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana gejala-gejala Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) diangkat pada karakter Max Mayfield dan Chrissy Cunningham melalui adegan-adegan yang telah dipilih peneliti. Konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi massa, psikologi komunikasi, dan semiotika. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian metode kualitatif dengan teknik analisis semiotika Charles Sanders Pierce. Peneliti mengumpulkan dan melengkapi data analisis dengan cara wawancara narasumber ahli, studi dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah serial Stranger Things Season 4 sebagai karya komunikasi massa ingin menunjukkan representasi realita sosial terkait dengan gejala PTSD. Gejala PTSD direpresentasikan paling banyak melalui tanda non verbal seperti (a) tatapan mata yang tidak fokus namun saat merasa tersudutkan tatapannya berubah menjadi tajam (b) nada bicara yang terkesan ragu dalam menjawab namun meninggi ketika sedang tersinggung (c) raut wajah yang secara signifikan berubah sesuai konteks percakapan (d) gerakan tangan dan kaki yang dilakukan secara berulang (e) tindakan yang diperlihatkan seperti saat meminum obat, memuntahkan sesuatu, dan melindungi diri dengan duduk sambil menutup telinga di sudut bilik toilet saat berhalusinasi. Serial Stranger Things Season 4 juga menyampaikan pesan kepada audiens bahwa seorang anak dapat mengalami trauma akibat kekerasan verbal yang dilontarkan oleh orang tua.
Perilaku Parasosial Penggemar Karakter Anime Jepang Pertiwan, Indah; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21296

Abstract

Japan is a country that has traditional cultural values and is still very strong today. Even though it adheres to old cultural values, Japan also accepts new cultural values that have entered due to globalization. Indonesian people are starting to get to know Japanese popular culture with the existence of mass communication, especially in the current digitalization era. Watching Japanese anime is no stranger to Indonesian people. This can have an impact on the behavior of people who like anime to the characters in the anime. This study aims to determine behavior among adolescents to adults when they like their favorite anime characters which ultimately creates parasocial behavior in their lives. The theory used in this study is the theory of mass communication and parasocial interaction. Measuring data collection used in this study is in the form of in-depth interviews with sources and by observation. The research subjects involved were 5 fans of anime characters in the Jabodetabek area. The results of this study indicate that of the five people have parasocial behavior in their own way. It is hoped that this research can open a different view of fans of Japanese anime characters Jepang merupakan negara yang memiliki nilai-nilai budaya tradisional dan masih sangat kental hingga saat ini. Walau menganut nilai-nilai budaya lama, Jepang pun menerima nilai-nilai budaya baru yang masuk akibat adanya globalisasi. Masyarakat Indonesia mulai mengenal budaya populer Jepang dengan keberadaan komunikasi massa terutama di era digitalisasi saat ini. Tontonan anime Jepang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Hal ini dapat berdampak pada perilaku orang yang menyukai anime hingga ke karakter yang ada dalam anime tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pada kalangan remaja hingga dewasa ketika menyukai karakter anime favoritnya  yang akhirnya menciptakan perilaku parasosial dalam kehidupannya. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori komunikasi massa dan interaksi parasosial. Alat ukur pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu berupa wawancara mendalam terhadap para narasumber dan dengan observasi. Subjek penelitian yang terlibat yaitu para penggemar karakter anime sebanyak 5 orang di daerah Jabodetabek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari ke lima orang tersebut memiliki perilaku parasosial dengan caranya masing-masing. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat membuka pandangan yang berbeda terhadap para penggemar karakter animeJepang.
Representasi Standar Kecantikan Wanita di Media Sosial Instagram @springsummerstyle Garcia, Giorgiana; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21313

Abstract

In this modern age, Instagram is used as a platform to convey messages about female beauty ideals.These messages are conveyed through visual imagery. The Instagram account @Springsummerstyle visualizes the ideal representation of female beauty. This survey questions the depiction of beauty on the @Springsummerstyle Instagram account. In the midst of this phenomenon, the media is offering beauty standards with a physical beauty orientation. This work uses a text analysis approach with Roland Barthes' semiotic concepts, including signifiers, meanings and mythological meanings, to define signs in @Springsummerstyle download. The data collection techniques used by the authors are interviews and documentation. Using a qualitative approach, this study shows how @Springsummerstyle presents standards of beauty. That is, a woman should have an ideal height and figure: slim, flat stomach, not fat, etc. Di zaman modern ini, Instagram digunakan sebagai platform untuk menyampaikan pesan tentang standar kecantikan wanita. Pesan-pesan ini disampaikan melalui gambar visual. Representasi kecantikan ideal perempuan divisualisasikan oleh akun Instagram @Springsummerstyle. Penelitian ini menyoal representasi kecantikan pada akun Instagram @Springsummerstyle. Di tengah fenomena tersebut, media menawarkan standar kecantikan dengan orientasi kecantikan fisik. Karya ini menggunakan pendekatan analitik tekstual dengan konsep semiotik Roland Barthes yang mencakup penanda, makna, dan makna mitos untuk mendefinisikan karakter dalam unggahan @Springsummerstyle. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah wawancara dan juga dokumentasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menampilkan bagaimana @Springsummerstyle menampilkan standar kecantikan yaitu bahwa wanita harus memiliki tinggi dan bentuk tubuh yang ideal, yaitu ramping, perut rata, tidak berlemak, dan lainnya.
Representasi Persahabatan dalam Anime One Piece Episode of Merry Liu, Hansen; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21432

Abstract

Anime is a form of culture in Japan. By using this anime, Japan can show its cultural values ​​in a unique, creative and modern way. The author's goal is to conduct research on the One Piece Episode of Merry anime to find out how friendship is represented by applying mass communication theory, advertising, representation, friendship. , and the semiotics of Charles Sander Peirce. The approach used is a qualitative approach with a descriptive type along with Charles Sander Peirce's semiotics as an analytical technique. In this study, the meaning and values ​​of friendship were found in the anime One Piece Episode of Merry, namely a sense of self-sacrifice, mutual care, and mutual support shown by the Straw Hat Crew. Anime merupakan salah satu bentuk budaya di negara Jepang. Dengan menggunakan anime ini Jepang bisa memperlihatkan nilai-nilai budaya dengan cara yang unik, kreatif dan modern. Tujuan penulis melakukan penelitian terhadap anime One Piece Episode of Merry untuk mengetahui bagaimana persahabatan itu direpresentasikan yang dengan menerapkan teori komunikasi massa, iklan, representasi, persahabatan, dan semiotika Charles Sander Peirce. Pendekatan yang dipakai adalah  pendekatan  kualitatif  dengan  jenis  deskriptif  beserta  semiotik Charles  Sander Peirce sebagai  teknik  analisis.  Dalam  penelitian  ini,  ditemukan  makna  dan nilai-nilai persahabatan dalam anime One Piece Episode of Merry yaitu rasa rela berkorban, saling peduli, saling mendukung satu sama lain yang ditunjukkan oleh Straw Hat Crew.
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alfira Dittya Raihan Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Cahaya Rizka Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Randy Wijaya Rani Febriyani Reszki, Ananias Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy