Muhammad Husaini
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 76 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

KONTRIBUSI USAHATANI JERUK SIAM TERHADAP PENDAPATAN BERSIH RUMAHTANGGA PETANI DI DESA SUNGAI TUAN ULU KECAMATAN ASTAMBUL KABUPATEN BANJAR Aurora Vianda; Muhammad Husaini; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i3.616

Abstract

Jeruk salah satu tanaman hortikultura yang dibudidayakan di Indonesia. Selain buah jeruk, petani juga menanam tanaman pangan seperti padi. Berdasarkan hal tersebut maka, penelitian ini bertujuan: mengetahui pendapatan bersih usahatani jeruk siam dan pendapatan bersih rumahtangga petani, kontribusi usahatani jeruk siam terhadap pendapatan rumahtangga petani, dan tingkat kesejahteraan rumahtangga petani. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret-September 2017 di Desa Sungai Tuan Ulu Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar. Pemilihan lokasi dilakukan secara secara sengaja. Sampel sebanyak 30 orang petani dengan menggunakkan random sampling. Pendapatan bersih yang yang diperoleh pada usahatani jeruk siam di desa Sungai Tuan Ulu sebesar Rp 13.772.568,89 per tahun. pendapatan bersih rumah tangga petani yang terdiri dari pendapatan usahatani jeruk siam, pendapatan usahatani padi, pendapatan non usahatani dan pendapatan tenaga kerja dalam keluarga sebesar Rp 25.927.453,08 per tahun. Nilai kontribusi usahatani jeruk siam sebesar 53,12%. Hal ini berarti bahwa usahatani jeruk siam kontribusinya lebih dari setengah pendapatan total petani. Berdasarkan indikator garis kemiskinan Badan Pusat Statistik 86,67% rumahtangga petani tidak miskin atau sejahtera dan sisanya 13,33% tidak sejahtera. Sedangkan indikator Bank Dunia 43,33% rumahtangga petani tidak miskin atau sejahtera dan sisanya 56,67% tidak sejahtera.Kata kunci: pendapatan, uasahatani, jeruk siam, kontribusi, tingkat kesejahteraan
ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN TANAH LAUT Anggi Puspita Devi; Muhammad Husaini; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i3.2922

Abstract

Permintaan jagung Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, hal ini di karenakan meningkatnya jumlah penduduk, berkembangannya industri pangan dan peternakan. Laju tingkat kebutuhan jagung yang terus meningkat tidak didukung dengan laju produksi jagung dalam negeri, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara penerimaan dan kebutuhan jagung. Produksi jagung di Kabupaten Tanah Laut mendapat dukungan dari pemerintah dengan kebijakan subsidi benih, pupuk, suku bunga dan alat mesin pertanian. Sementara pada sisi yang lain komoditas jagung diperdagangkan di pasar internasional. Dengan berbagai subsidi yang diberikan tersebut, apakah usahatani jagung menguntungkan dan layak serta apakah mempunyai daya saing baik secara kompetitif dan komparatif.  Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pendapatan bersih serta kelayakan komoditas jagung berdasarkan harga privat dan harga sosial, dan mengetahui daya saing komoditas jagung baik secara kompetitif dan komparatif. Penelitian ini digunakan sumber data, berupa data primer dan data sekunder. Penelitian ini mengunakan metode survey, teknik sampling yang digunakan berupa multistage random sampling, sehingga terpilih kecamatan Bajuin dan Takisung dengan jumlah populasi sebanyak 101 petani. Dari jumlah tersebut diambil sebanyak 40 orang petani atau sebesar 39,60%. Penelitian ini mempunyai hasil yang menunjukkan bahwa pendapatan bersih komoditas jagung dengan harga privat lebih besar dari harga sosial masing-masing sebesar Rp 9,51 juta per hektar dan sebesar Rp 7,70 juta per hektar, hal tersebut disebabkan pemberian subsidi oleh pemerintah. Revenue Cost Ratio (RCR) usahatani jagung berdasarkan harga privat dan harga sosial layak untuk diusahakan dengan ratio masing-masing sebesar  2,06  dan secara sosial 1,61, dengan kata lain  bahwa dengan harga  privat maupun sosial layak untuk diusahakan. Berdasarkan analisis daya saing dengan Policy Analysis Matrix (PAM) komoditas jagung Kabupaten Tanah Laut mempunyai daya saing secara kompetitif dengan PCR 0,27 dan secara komparatif dengan nilai DRCR sebesar 0,32.
Analisis Pendapatan dan Kesejahteraan Petani Karet di Desa Kolam Makmur Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala Yasiratul Baroroh; Muzdalifah Muzdalifah; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10305

Abstract

Desa Kolam Makmur merupakan salah satu desa di Kecamatan Wanaraya yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani karet. Karet merupakan tanaman perkebunan utamadi Desa Kolam Makmur karena pendapatannya sebagian besar diperoleh dari karet, pendapatan petani sangat tergantung pada jumlah produksi dan besarnya harga karet. Tanaman perkebunan karet di Desa Kolam Makmur merupakan lahan milik sendiri, tenaga kerja hanya mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga untuk menyadap karet. Tanaman karet di Desa Kolam Makmur hampir semua menggunakan bibit unggul hasil okulasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis biaya, penerimaan, dan pendapatan petani, dan mengetahui kondisi kesejahteraan petani karet. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kolam Makmur Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini menggunakan metode survei, dari 140 petani diambil sebanyak 30 orang dengan teknik Simple Random Sampling. Hasil penelitin menunjukkan bahwa rata-rata biaya total usahatani karet sebesarRp 621.710 dan penerimaan sebesar Rp 13.833.000, sehingga diperoleh rata-rata pendapatan usahatani karet Rp12.956.255/usahatani perenam bulan, dan rata-rata total pendapatan rumah tangga petani karet sebesar Rp 14.976.956/perenam bulan atau Rp 4.992.318 perkapita/6 bulan dengan rata-rata jumlah anggota keluarga 3 orang atau Rp 824.740/kapita perbulan. Kesejahteraan petani berdasarkan kriteria Badan Pusat Statistik sebanyak 30 orang petani termasuk dalam kondisi sejahtera.
PEMASARAN JAGUNG MANIS (Zea Mays saccharata Sturt) DI KECAMATAN BATI-BATI, KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Hayatun Najah; Muhammad Husaini; Muzdalifah Muzdalifah
Frontier Agribisnis Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i3.2913

Abstract

Komoditas jagung merupakan salah satu komoditi pangan terbesar selain padi, ubi, dan tebu  yang dihasilkan di Kabupaten Tanah Laut. Di Kecamatan Bati-bati mayoritas petani yang tergabung pada kelompok tani setempat menanam jagung. Pada umumnya jagung yang ditanam yaitu jagung manis. Jagung tersebut banyak didistribusikan ke luar kecamatan, bahkan ke beberapa daerah di Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran jagung, mengingat jagung merupakan salah satu komoditas pokok selain padi untuk bahan pangan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui rantai pemasaran, serta mengetahui biaya, margin pemasaran, keuntungan dan share yang diperoleh petani, dan mengetahui masalah pemasaran jagung manis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 3 saluran pemasaran, yaitu rantai pemasaran pertama  (petani, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, konsumen) yang di ikuti sebanyak 13 orang petani (43,33%). Rantai pemasaran kedua (petani, pengumpul, pedagang besar,  pedagang pengecer, konsumen) yg diikuti sebanyak 10 orang petani (33,34%). Pemasaran ketiga (petani, pedagang besar, konsumen) yang di ikuti sebanyak 7 orang petani (23,33%). Total biaya pada rantai pemasaran pertama sebesar Rp555,26,- ; rantai pemasaran kedua Rp840,76,-; dan total biaya pada rantai pemasaran ketiga sebesar Rp294,76,- seluruh biaya yang dikeluarkan meliputi biaya transportasi, retribusi masuk, upah pengangkutan, tali dan karung. Margin total rantai pemasaran pertama sebesar Rp1.156,- ; rantai pemasaran kedua sebesar Rp1.476,- ; dan rantai pemasaran ketiga sebesar Rp 1.076,-. Keuntungan total rantai pemasaran pertama sebesar Rp 600,74,- ; rantai pemasaran kedua sebesar Rp635,24,- ; dan rantai pemasaran ketiga sebesar Rp781,00,-. Share petani rantai pemasaran pertama 59,86%, selanjutnya rantai pemasaran kedua 53,87%, dan rantai pemasaran ketiga 57,46%
ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN INDUSTRI BAWANG MERAH GORENG (Studi Kasus Industri Bawang Merah Goreng Mak Yem di Kota Banjarbaru) Lidiya Santi; Yudi Ferrianta; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i2.2904

Abstract

Bawang merah goreng adalah satu jenis olahan dari bawang merah yang diiris tipis, ditambah sedikit garam dan tepung beras kemudian digoreng dengan minyak yang panas sampai berwarna kecoklatan sampai berbau harum dan bawang merah goreng digunakan sebagai pelengkap setiap masakan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai tambah dan strategi pemasaran bawang merah goreng mak Yem. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Agustus 2019 sampai dengan Januari 2020 di Banjarbaru. Jenis data yang digunakan ialah data utama (primer) dan data pendukung (sekunder). Responden sebanyak 14 orang terdiri dari pemilik industri, pengecer, pelanggan serta konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tambah pada pengolahan bawang merah goreng ritel lebih tinggi dibandingkan pada pengolahan bawang merah goreng tradisional maupun pada pengolahan bawang merah goreng jumbo. Nilai tambah yang dihasilkan usaha industri bawang merah menjadi bawang merah goreng ritel sebesar Rp 25.328/kg, sedangkan bawang merah goreng tradisional sebesar Rp 16.062/kg dan bawang merah menjadi bawang merah goreng jumbo sebesar Rp14.347/kg dan Strategi pemasaran yang harus dilakukan usaha industri di daerah penelitian adalah strategi Diversifikasi yang lebih fokus pada strategi ST (strengths-threats) yaitu menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman. Strategi ST (strengths-threats): meningkatkan produksi bawang merah goreng dengan menggunakan bahan baku yang sudah ada, mempertahankan kualitas dan merek produk dengan harga yang terjangkau, dengan label dan desain yang menarik bawang merah goreng Mak Yem dapat dikenali di pasaran, Menjaga cita rasa dari bawang merah goreng dan melakukan pelayanan yang baik agar produk dapat terus laku dipasaran dan Menjaga kestabilan penjualan bawang merah goreng ritel yang dititipkan di swalayan.
ANALISIS SISTEM DISTRIBUSI KOMODITAS PADI DI KECAMATAN ASTAMBUL KABUPATEN BANJAR Siti Naimah; Mariani Mariani; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 1, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i4.634

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem distribusi komoditas padi dan sistem pemasaran padi di Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai September 2017 di kecamatan Astambul Kabupaten Banjar. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Berdasarkan hasil penelitian sistem distribusi komoditas padi yang ada di Kecamatan Astambul memiliki dua pola yaitu pertama dari petani kepedagang tengkulak kepedagang pengecer kepedagang besar kepedagang pengecer kekonsumen; kedua. Dari petani kepedagang tengkulak kepedagang pengecer ke konsumen. Sistem pemasaran yang terdiri dari biaya pemasaran yang tertinggi diantara dua saluran adalah biaya pada saluran II yaitu sebesar Rp 582,77/kg dan biaya terkecil ada pada saluran I yaitu sebesar Rp 15,01/kg. Margin terbesar pada saluran II yaitu sebesar Rp3500/kg. Sedangkan margin terkecil terdapat pada saluran I yaitu Rp833,33/kg. Keuntungan terbesar berada pada saluran II yaitu sebesar Rp 2917,23/kg, sedangkan keutungan terkecil berada pada saluran I yaitu Rp 818,32/kg. Share petani tertinggi terdapat pada saluran II yaitu sebesar 63,16% dan share petani terendah pada saluran I yaitu sebesar 50%. Saluran distribusi yang efisien adalah pada saluran II karena memiliki efisiensi teknis dan ekonomis yang baik dibandingkan dengan efisiensi pada saluran I.Kata Kunci: padi, sistem distribusi, sistem pemasaran 
KETAHANAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN RUMAHTANGGA PETANI DI LAHAN MARGINAL DESA SEMANGAT DALAM KECAMATAN ALALAK KABUPATEN BARITO KUALA Elfa Refina; Muhammad Husaini; Nuri Dewi Yanti
Frontier Agribisnis Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i4.2936

Abstract

Ketahanan dan kemandirian pangan rumahtangga petani pasti sangat dipengaruhi oleh pangan yang mereka hasilkan di pertanian. Jika lahan pertanian tergolong lahan marginal, maka kegiatan pertanian tentunya belum optimal. Situasi ini diyakini akan berdampak pada ketahanan pangan dan kemandirian keluarga petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan dan kemandirian pangan. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan dan kemandirian pangan adalahangka kecukupan energi, pangsa pengeluaran pangan, dan perbandingan antara produksi dengan konsumsi rumahtangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rumahtangga yang konsumsi energinya (AKE) ˂80% sebesar 59% rumahtangga, sisanya sebesar 41% rumahtangga dengan (AKE) ≥80%. Hal yang sama dengan pangsa pengeluran pangan (PPP) rumahtangga petani yang masih ≥60% dari total pengeluaran dengan jumlah rumahtangga petani mencapai 63%, sisanya sebesar 37% rumahtangga petani dengan PPP < 60% untuk pangan.  Berdasarkan (AKE dan PPP), tampak bahwa lebih dari setengah rumahtangga petani di desa tersebut termasuk dalam kategori tidak tahan pangan. Hal yang sama dengan kemandirian pangan rumahtangga petani, berdasarkan nilai (KP) yang lebih kecil dari satu (˂ 1) sebesar 63% rumatangga petani, sisanya sebesar 37% rumahtangga petani dengan nilai KP lebih besar atau sama (≥1). Hal ini berarti bahwa lebih dari setengah rumahtangga petani di desa tersebut termasuk dalam kategori tidak mandiri pangan. Dengan kata lain bahwa lebih dari setengah rumahtangga petani di lahan marginal Desa Semangat Dalam tidak tahan pangan dan tidak mandiri pangan.
PENGELUARAN KONSUMSI PANGAN RUMAHTANGGA PADA PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) KECAMATAN CEMPAKA KOTA BANJARBARU Feronika Pangaribuan; Muhammad Husaini; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i3.2918

Abstract

Pemerintah telah membuat suatu program yang untuk mendukung pemanfaatan pekarangan rumah yaitu Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Kecamatan Cempaka sebagai tempat dilaksanakannya penelitian, terdapat beberapa kelompok yang aktif melaksanakan program KRPL. Semua kelompok yang aktif telah mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam pelaksaannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proporsi pengeluaran pangan dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi pangan anggota KRPL. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu Simple Random Sampling, yaitu pengambilan sampel dari anggota populasi yang ada dan dilakukan secara acak. Analisis data dalam penelitian ini yaitu, menggunakan rumus proporsi pengeluaran pangan dan persamaan regresi dengan menggunakan aplikasi SPSS untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 82,22% rumahtangga dimana rata-rata proporsi pengeluaran konsumsi pangan sebesar 60,76% dan sisanya sebesar 17,78% rumahtangga proporsi pengeluaran konsumsi pangan rata – ratanya yaitu 39,24%. Hal ini menunjukkan, pengeluaran konsumsi pangan rumahtangga lebih besar dari pengeluaran konsumsi non pangan (> 50%), berarti tingkat kesejahteraan rumahtangga masih rendah. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pengeluaran konsumsi pangan yaitu, pendapatan rumahtangga dan jumlah anggota keluarga, sedangkan yang tidak berpengaruh signifikan yaitu faktor pendidikan ibu rumahtangga.
Analisis Usahatani Kangkung Darat di Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat Afrillia Wulandari; Muhammad Husaini; Kamiliah Wilda
Frontier Agribisnis Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i3.13588

Abstract

Usahatani kangkung di Kecamatan Kumai sebagai salah satu usahatani yang paling banyak diusahakan para petani. Dalam usahatani kangkung di perlukan biaya yang cukup besar, sementara harga dan produksi usahatani kangkung relatif berfluktuasi, tergantung iklim dan hasil produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan, dan kelayakan (RCR) dari usahatani kangkung di Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat. Populasi petani kangkung di 4 desa sebanyak 145 petani. Dari jumlah tersebut, diambil sebanyak 30 orang petani kangkung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total yang dikeluarkan petani kangkung sebesar Rp1.125.968 per usahatani, dengan penerimaan sebesar Rp1.830.783 per usahatani, maka keuntungan petani sebesar Rp703.815 per usahatani. Usahatani kangkung yang dilaksanakan petani di Kecamatan Kumai layak dan menguntungkan dengan nilai RCR 1,62 per usahatani dan lebih besar dari 1. Sehingga setiap biaya yang dikeluarkan sebesar satu rupiah, maka diperoleh penerimaan sebesar 1,6 rupiah. Dengan kata lain usahatani kangkung di Kecamatan Kumai menguntungkan dan layak untuk diusahakan.
Sikap Petani terhadap Benih Unggul Padi Bersertifikat di Desa Saring Sei Binjai Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Mujerimin Mujerimin; Masyhudah Rosni; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i2.5887

Abstract

Peningkatan produksi padi dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan benih unggul padi bersertifikat. Namun, di lapangan sering ditemukan petani enggan untuk menggunakan benih tersebut dengan berbagai alasan. Tujuan dari penelitian ini antara lain menganalisis sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat, menganalisis faktor pembentuk sikap, dan hubungan sikap petani dengan faktor pembentuk sikap yang berlokasi di Desa Saring Sei Binjai. Jumlah populasi petani di desa tersebut sebanyak 312 petani, dari jumlah tersebut diambil sebanyak 30 petani dengan teknik acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 56,7% petani memiliki sikap positif dan 43,3% memiliki sikap negatif terhadap benih unggul padi bersertifikat. Pengalaman berusaha tani rata-rata lebih dari 11 tahun. Faktor pembentuk sikap petani yaitu pendidikan formal, yang didominasi oleh lulusan SD. Pendidikan non formal yang dijalani seperti penyuluhan pertanian dan pelatihan masing-masing dilakukan 1 sampai 2 kali  per tahun. Petani memiliki paling tidak 1 orang yang mempengaruhi sikap. Petani rata-rata memiliki 2 media massa yang diakses dengan media yang paling sering digunakan adalah televisi dan brosur. Faktor pembentuk sikap pendidikan formal berhubungan secara signifikan dengan sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat dengan taraf kepercayaan 95%, sedangkan faktor pembentuk sikap pengalaman berusaha tani, pendidikan nonformal, pengaruh orang lain yang dianggap penting, dan media massa tidak berhubungan secara signifikan pada taraf kepercayaan 95% dengan sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat.
Co-Authors Abdullah Djafar Abdur Rahim Abdurrahman Abdurrahman Abdussamad Abdussamad Afrillia Wulandari Agustin Novita Anwar Ahmad Jaelani Ahmad Yousuf Kurniawan Akhmad Junaidi Alia Istiana Alpianor Alpianor Ambiya Noor Ananda Dea Saprila Anastasia Tri Astuti Anggi Puspita Devi Archi Novi Nadila Artahnan Aid Aurora Vianda Badaruddin Badaruddin Budi Setiawan Danang Biyatmoko Dea Ermaliyanda Dhea Widyasari Dini Setiyani Dwijono Hadi Darwanto Eka Radiah Eka Tunggal Dewi Elfa Refina Emy Rahmawati Erma Erma Feronika Pangaribuan Ferrianta, Yudi Fuzi Ash'ari Hafizianor Hafizianor Hairi Firmansyah Hairin Fajeri Hamdani Haryogi Muliandri Hayatun Najah Herliani Herliani Herni Safitri Istiqomah Istiqomah Jamiatul Aqidah Jangkung Handoyo Mulyo Jodi Setiawan Kamiliah Wilda Khairiana Khairiana Koko Windarko Latifah Latifah Lidiya Santi Lisa Oktaviani Luki Anjardiani Mariani Mariani Marleni Marleni Marni Marni Masyhudah Rosni Masyhuri Masyhuri Mira Yulianti Muhammad Anas Ariffullah Muhammad Andres Jerry Elmer Septian Muhammad Angga Prabowo Muhammad Fahrianor Muhammad Suprianur Mujerimin Mujerimin Muslima Hidayati Mutiara Novrista Elisya Muzdalifah Muzdalifah Natalia Wulandari Natasia Andriani Nina Budiwati Nita Ariyani Nove Munira Noviani Wulandari Novita Ariani Novita Dewi Utami Nurmelati Septiana Nurul Abadiyah Nurul Jannah Nurul Kholifah Pattra Negara Adi Rahmah Hidayah Rendy Fadillah Akbar Rifiana Rifiana Rika Pebri Ramadhani Rini Nurhayati Riska Nur Hasma Sarianah Sarianah Shania Sulie Punuh Sidiq Rahmadi Siti Naimah Sri Ismiati Rahayu Suprijanto Suprijanto Syahrul Fadhilah Taisirul Husna Taufik Hidayat Theresia Sintia Septy Umi Salawati Usamah Hanafie Wahyu Wahyu Wardatul Hayati Winda Noor Amalia Yanti, Nuri Dewi Yasiratul Baroroh Yolanda Citra Dewi Yurika Afrilia Anzar Yusuf Azis