Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Ekstrak Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Kadar Glukosa Darah Dan Gambaran Histopatologi Pankreas Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Galur Sprague-Dawley Yang Diinduksi Streptozotocin Cyntithia, L. Gita; Windarti, Indri; Soleha, Tri Umiana
Medula Vol 14 No 6 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i6.1138

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is one of the highest causes of death in the world whose prevalence increases every year, DM is characterized by elevated blood glucose levels and damage of the pancreas. Streptozotocin is a drug used to induce diabetes mellitus in experimental animals, single high dose administration can cause type 1 DM. Garlic has various component that have the potential as antidiabetic, anti-inflammatory and antioxidant. This study aim to determine the effect of garlic extract (Allium sativum) on blood glucose levels and pancreas histopathological images in white rats (Rattus norvegicus) Sprague-Dawley strain induced by streptozotocin. This research is an experimental study with a post test only control group design. This study used 24 rats and divided into 4 group, K- (normal group), K+ (STZ 60 mg/kgBB), P1 (STZ + garlic extract 500 mg/kgbb), P2 (STZ + garlic extract 750mg/kgBB). Blood glucose levels were assessed with a glucometer and the histopathological images of the pancreas was assessed by counting the number and size of the langerhans islet. The mean blood glucose levels for each group were K- = 73.3mg/dL, K+ = 400 mg/dL, P1=203.8 mg/dL, and P2=132.3 mg/dL. One Way ANOVA test obtained p value = 0.000. The mean number of langerhans islet in 10 fields of view obtained K- = 26.1; K+ = 4.6; P1= 7.8; P2=15.1. One Way ANOVA test obtained p = 0.000. The mean area of ​​the langerhans islet in each group obtained K- = 19092.4 µm2; K+ = 4759.3 µm2; P1=8561,4 µm2; P2=9621.8 µm2. Kruskal-Wallis test obtained p = 0.000 (p <0.05). There is an effect of garlic extract (Allium sativum) on blood glucose levels and pancreas histopathological images in white rats (Rattus norvegicus) Sprague-Dawley strain induced by streptozotocin.
Perbedaan Usia, Gejala Klinis, Hasil Leukosit Total dan Hemoglobin Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Titer Widal Pasien Demam Tifoid Frauprades, Kaltihennah Oktavia; Apriliana, Ety; Ismunandar, Helmi; Soleha, Tri Umiana
Journal of Language and Health Vol 5 No 2 (2024): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v5i2.4060

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara endemis demam tifoid. Salah satu pemeriksaan yang umum dilakukan untuk menunjang penegakkan diagnosis demam tifoid yaitu menggunakan uji widal namun banyak faktor yang memengaruhi titer widal pasien demam tifoid. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan data yang digunakan berasal dari rekam medis pasien demam tifoid di RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo tahun 2019-2020. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna antara usia (p = 0,075), gejala klinis (p = 0,813), hasil leukosit total (p = 0,510), dan hasil hemoglobin (p = 0,742) berdasarkan titer widal H. Penelitian ini juga tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara gejala klinis (p = 0,495), hasil leukosit total (p = 0,360), dan hasil hemoglobin (p = 0,893) berdasarkan titer widal O. Dari berbagai variabel yang dianalisis, hanya usia pada titer widal O yang menunjukkan perbedaan signifikan (p = 0,009). Terdapat perbedaan yang bermakna antara usia berdasarkan titer widal O.
Review: Efektivitas Daun Nangka Sebagai Antibakteri Purba, Gemi Sabrina; Oktoba, Zulpakor; Soleha, Tri Umiana; Adjeng, Andi Nafisah Tendri
Sains Medisina Vol 3 No 1 (2024): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i1.489

Abstract

Infeksi merupakan masalah kesehatan yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Biasanya, penyakit infeksi diobati dengan antibiotik, tetapi penyalahgunaan antibiotik yang umum terjadi dapat menyebabkan resistensi, membuat bakteri menjadi tidak peka terhadap pengobatan tersebut. Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) ialah salah satu tanaman yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengobati beragam penyakit akibat infeksi bakteri. Dalam review artikel ini dibahas mengenai komposisi metabolit sekunder yang terkandung dalam daun nangka guna memahami kemajuan riset terkait potensi daun nangka yang berfokus pada eksplorasi senyawa-senyawa bioaktif yang berperan dalam aktivitas antimikroba. Metode yang digunakan yaitu studi literatur dengan data yang didapat berasal dari artikel dengan alat pencarian informasi literature Google Scholar dan PubMed dengan rentang tahun 2017 sampai 2023. Hasil didapat dan disimpulkan bahwa ekstrak daun nangka mengandung senyawa-senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Escherichia coli, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, dan Propionibacterium acnes merupakan contoh bakteri yang perkembangbiakannya terhambat secara signifikan oleh ketiga senyawa yang diteliti.
Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol Daun dan Akar Beluntas terhadap Pertumbuhan Candida Albicans dengan Metode Spektrofometri Dewayanti, Wahyu; Soleha, Tri Umiana; Himayani, Rani; Kurniawan, Betta
Jurnal Dunia Kesmas Vol 14, No 2 (2025): Volume 14 Nomor 2
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v14i2.20137

Abstract

Kandidiasis merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh jamur family Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans. Tanaman beluntas (family Asteraceae) merupakan salah satu tumbuhan yang mampu mengendalikan penyakit jamur. Tanaman tersebut mengandung senyawa flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan alkaloid yang dikenal mampu berfungsi sebagai antiinflamasi, antiulkus, antioksidan dan anti mikroba. Lebih lanjut, akar tanaman beluntas juga memiliki kandungan flavonoid, fenol, proanthocyanidins, dan tannin yang terbukti memiliki efek farmakologis, inhibitor mikroorganisme dan mengurangi risiko infeksi jamur. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan daya antijamur ekstrak etanol daun dan akar tanaman beluntas terhadap pertumbuhan candida albicans. Penelitian berbentuk eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan berupa post test only control group design. Metode spektrofotometri digunakan untuk mengetahui efek antijamur ekstrak etanol sehingga dapat ditentukan diameter zona hambat, Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Hasil penelitian menunjukan adanya efektivitas antijamur ekstrak etanol daun Beluntas konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25% dan ekstrak etanol akar tanaman Beluntas (Plucea Indica Less) konsentrasi 100% terhadap pertumbuhan Candida albicans. Ekstrak etanol daun Beluntas memiliki efektivitas lebih baik daripada ekstrak etanol akar tanaman Beluntas dalam menghambat pertumbuhan Candida Albicans.
Community-Acquired Pneumonia in Elderly Patients Artanti, Mariesela; Soleha, Tri Umiana; Nareswari, Shinta
Journal of Health Science and Medical Therapy Том 3 № 02 (2025): Journal of Health Science and Medical Therapy
Publisher : PT. Riset Press International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59653/jhsmt.v3i02.1607

Abstract

Community-acquired pneumonia (CAP) is a lung infection acquired outside of healthcare facilities and is a leading cause of morbidity and mortality in the elderly. Older adults have a higher risk of CAP due to immune system decline, comorbidities, and impaired respiratory defence mechanisms. Streptococcus pneumoniae is the primary pathogen responsible for CAP in the elderly, followed by Haemophilus influenzae and other atypical bacteria. The diagnosis of CAP in older adults is often challenging due to atypical symptoms such as general weakness and confusion, necessitating chest radiography for confirmation. Treatment depends on disease severity and may involve oral or intravenous antibiotics, oxygen therapy, and close monitoring for complications such as respiratory failure and sepsis. Prevention through pneumococcal and influenza vaccination, personal hygiene maintenance, and management of comorbidities is crucial in reducing CAP incidence and mortality in the elderly.
Hubungan antara Pemberian Ekstrak Daun Putihan (Chromolaena Odorata) terhadap Lama Proses Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Galur Wistar Situmorang, Ezra Winandi; Kurniawaty, Evi; Soleha, Tri Umiana
Jurnal Farmasetis Vol 14 No 2 (2025): Jurnal Farmasetis: Mei 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v14i2.3849

Abstract

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Salah satu jenis luka yang terjadi di kehidupan sehari-hari adalah luka sayat. Salah satu terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi luka sayat ialah pengobatan herbal seperti tanaman daun putihan (Chromolaena odorata). Ekstrak daun putihan (Chromolaena odorata) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid dan tannin yang mempunyai khasiat terhadap penyembuhan luka sayat. Mengetahui hubungan antara pemberian ekstrak daun putihan (Chromolaena odorata) terhadap lama pemulihan luka sayat pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar.  Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan pendekatan posttest control group. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 28 tikus putih galur wistar yang di pelihara di Animal House Fakultas Kedokteran Unila. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling di Animal House Fakultas Kedokteran Unila. Lama proses penyembuhan diamati secara makroskopis dengan melihat penyembuhan luka. Analisis data menggunakan uji One Way ANNOVA yang disajikan dalam bentuk tabel. Statistik univariat berupa pemberian ekstrak etanol daun putihan (Chromolaena odorata) dan lama proses penyembuhan luka sayat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian salep ekstrak daun putihan (Chromolaena odorata) dengan lama proses penyembuhan Lukas sayat pada punggung tikus putih dengan nilai p 0,000. Terdapat hubungan antara pemberian ekstrak daun putihan (Chromolaena odorata) terhadap lama penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar.
Pendekatan Diagnostik Berbasis Manifestasi, Pemeriksaan Klinis dan Tatalaksana Pada Tuberkulosis Paru Juliana, Risna; Soleha, Tri Umiana; Yunianto, Andi Eka; Ismunandar, Helmi Ismunandar
Medula Vol 14 No 9 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i9.1347

Abstract

TB is a disease caused by MTB bacteria where this bacteria is able to attack the lung organs or extrapulmonary organs. The etiology of TB is caused through spit or phlegm from patients whose phlegm contains MTB bacteria. MTB bacteria have a rod shape and are acid-resistant, so they are known as acid-resistant bacteria (AFB). These bacteria do not have spores, so they will easily die if exposed to sunlight. However, this type of bacteria will be difficult to dye because it is acid-resistant, so a special staining method is needed, namely Ziehl Neelsen  staining. When a person coughs, water splashes will spread into the air and will then be inhaled by a healthy person, so the bacteria will enter the lungs and carry out the infection process. Usually, TB disease attacks at a productive age because at that age many people interact socially, making it easier for infectious infections to occur. . In general, the main symptoms are coughing up phlegm, which in some cases can mix with blood, chest pain, and shortness of breath . Confirmation of TB diagnosis can be done by conducting an anamnesis, physical examination, and supporting examination. TB treatment takes 6-12 months for patients who do not experience drug resistance. TB treatment consists of two stages, namely the initial stage and the advanced stage. The initial stage will last for two months, with the type of drug given is a combination of 2 HRZEs (Isoniazid, Rifampicin, Pirazinamid, and Etambutol). The advanced stage of treatment lasted for 4 months, with the drug given in the form of a combination of 4HR (isoniazid and rifampicin).
Peran Flavonoid Sebagai Antiulser dan Antioksidan pada Ulkus Duodenum Zahra, Aulia Jannatuz; Susianti, Susianti; Happy, Terza Aflika; Soleha, Tri Umiana
Medula Vol 14 No 12 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i12.1415

Abstract

Duodenal ulcer is a pathological condition characterized by damage to the duodenal mucosa due to an imbalance between protective and aggressive factors, such as gastric acid and pepsin. The primary factors contributing to the development of this ulcer include Helicobacter pylori infection. Additionally, prolonged use of Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) is also a significant factor in the occurrence of duodenal ulcers, as these drugs inhibit prostaglandin synthesis, which plays a crucial role in mucosal protection. In Indonesia, the prevalence of duodenal ulcers is estimated to be around 11–14%. Flavonoids, as bioactive compounds with antioxidant, anti-inflammatory, and anti-ulcer properties, have been widely studied for their potential in the management of peptic ulcers, including duodenal ulcers. Flavonoids have been shown to inhibit gastric acid secretion, stimulate mucus production, and protect the gastrointestinal mucosa through cytoprotective and antioxidative mechanisms, specifically by inhibiting reactive oxygen species (ROS). Furthermore, flavonoids have the ability to suppress H. pylori growth, thereby contributing to the prevention of ulcer pathogenesis caused by this bacterium. Flavonoids also enhance blood flow to the gastric mucosa and modulate enzymes involved in epithelial defense. Despite these benefits, the main challenges in utilizing flavonoids are their low bioavailability and potential toxicity at high doses. Therefore, further studies are essential to evaluate the efficacy, safety, and formulation optimization of flavonoids to enhance their availability as a natural therapeutic alternative and their application in the clinical treatment of peptic ulcers.
Krisis Hiperglikemik: Diabetic Ketoacidosis (DKA) dan Hyperglycemic Hyperosmolar State (HHS) Wibowo, Muhammad Rafi; Rudiyanto, Waluyo; Yunianto, Andi Eka; Soleha, Tri Umiana
Medula Vol 14 No 11 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i11.1435

Abstract

Hyperglycemic crisis is an acute metabolic complication of diabetes mellitus that can be life threatening if not treated appropriately. This research aims to examine in more depth the hyperglycemia crisis. This research is a literature study using relevant literature such as articles and journals from various national and international databases such as Google Scholar, NCBI, and PubMed. Diabetic Ketoacidosis (DKA) and Hyperglycemic Hyperosmolar State (HHS) are serious and emergency forms of hyperglycemic crisis. DKA is often found in people with type 1 diabetes due to severe insulin deficiency, which is characterized by the triad of hyperglycemia, acidosis, and ketosis. In contrast, HHS occurs more frequently in type 2 diabetes, with features of hyperglycemia, hyperosmolarity, and dehydration, but without significant ketosis and acidosis. Both of these conditions have a high risk of death if left untreated, with the death rate for DKA around <1% and HHS around 15%. The goal of treatment for both is to improve circulation and tissue perfusion, correct hyperglycemia, ketogenesis, and electrolyte imbalances, and identify precipitating factors. Treatment begins with correcting dehydration and electrolyte imbalances through rehydration with crystalloid fluids, as well as treating hyperglycemia by administering insulin boluses or infusions. Prevention of DKA and HHS is to ensure that patients do not stop insulin or oral hyperglycemic drugs, monitor blood sugar levels regularly and immediately seek professional medical help if something undesirable happens.
Deteksi dini Gangguan Gizi (Malnutrisi) pada Kelompok Berisiko Anggraini, Dian Isti; Soleha, Tri Umiana; Rachmawati, Ermin; Ramadhian, M. Ricky
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 1 No. 1 (2015): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v1i1.1144

Abstract

Indonesia saat ini mengalami permasalahan beban ganda dalam menghadapi masalah gizi, ketika permasalahan gizi kurang belum teratasi, muncul permasalahan baru yaitu permasalahan gizi lebih. Beban ganda masalah gizi ini banyak terjadi pada kelompok penduduk berisiko seperti bayi dan balita, wanita usia subur, wanita hami dan menyusui serta kaum lanjut usia (lansia). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan deteksi dini gangguan gizi pada kelompok berisiko. Khalayak sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah masyarakatdi kampung Totokaton kecamatan Punggur kabupaten Lampung Tengah. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu penilaian status gizi kelompok sasaran dan edukasi status gizi melalui pembagian leaflet.Penilaian status gizi kelompok bayi, anak di bawah dua tahun (baduta), pra lansia dan lansia dengan metode antropometrik. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan Tanggal 11 Oktober 2014, Pukul 08.30 sampai dengan selesai. Tempat kegiatan pengabdian ini adalah pos kesehatan desa di kampung Totokaton kecamatan Punggur kabupaten Lampung Tengah. Hasil kegiatan didapatkan bahwa malnutrisi pada kelompok pralansia terdapat 22 orang (75,86%) yaitu 6 orang (20,68%) berstatus gizi kurang, 8 orang (27,58%) berstatus gizi lebih dan 8 orang (27,58%) berstatus gizi obes. Pada kelompok lansia terdapat 9 orang (64,28%) yang mengalami malnutrisi yaitu 6 orang (42,85%) berstatus gizi kurang, 2 orang (14,28%) berstatus gizi lebih dan 1 orang (7,14%)berstatus gizi obes. Pada kelompok bayi dan baduta terdapat 1 orang (5,88%) yang mengalami malnutrisi yaitu berstatus gizi lebih. Kesimpulan: malnutrisi tinggi pada kelompok dewasa dan lansia sehingga intervensidisarankan difokuskan pada kelompok tersebut untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup manusia.Kata Kunci: gangguan gizi, malnutrisi
Co-Authors Anggraeni Janar Wulan, Anggraeni Janar Anggraini, Dian Isti Ari Irawan Artanti, Mariesela Ayu S, Putu Ristyaning Azalia, Nadhira Bajuri, Annisa Nur Oktavia Baradatu, Mirza Sultan Betta Kurniawan, Betta Caesarridha, Dhaifany Karissa Cyntithia, L. Gita Damayanti, Ervina Dewayanti, Wahyu Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani Ermin Rachmawati Ety Apriliana Fathunnisa, Ridha Riano Frauprades, Kaltihennah Oktavia Gliselda, Vika Kyneissia Gozali, Achmad Hanna Mutiara, Hanna Happy, Terza Aflika Helmi Ismunandar Indri Windarti Ismunandar, Helmi Ismunandar Jausal, Anisa Nuraisa Jessy Dewi Awali Juliana, Risna Junando, Mirza Kurniawaty, Evi Larasati, Ratri Mauluti Liana Sidharti, Liana Lusina, Septia Eva Mallarangeng, Andi Nafisah Tendri Adjeng Morfi, Chicy Widya Muhammad Fitra Wardhana Sayoeti Muhammad Iqbal Muhammad Ricky Ramadhian Muhammad Yusran Nabila, Afia Farah Nasution, Artika Ananda Putri Nikita, Marshanda Oktafany, Oktafany Oktoba, Zulpakor Pardilawati, Citra Yuliyanda Poty, Pitha Maykania Purba, Gemi Sabrina Putri, Abrila Tamara Putri, Yessa Rahmadini Rahel, Clara Arta Uli Rani Himayani Rasmi Zakiah Oktarlina Ratna Dewi Puspita Sari Recky Patala Rika Lisiswanti Risal Wintoko Risti Graharti Rizki Hanriko Rudiyanto, Waluyo Sa'diyah, Isma Fadlilatus Sangging, Putu Ristyaning Ayu Septiani, Linda Shinta Dewi, Brigitta Shinta Nareswari, Shinta Sinulingga, Anselmus Libreya Situmorang, Ezra Winandi Susianti, Susianti Sutyarso Sutyarso Syazili Mustofa Triyandi, Ramadhan Utami, Winda Trijayanthi Wibowo, Muhammad Rafi Winda Trijayanthi Utama, Winda Trijayanthi Wulan, Anggraini Janar Yunianto, Andi Eka Zahra, Aulia Jannatuz