Claim Missing Document
Check
Articles

BANYU PANGURIPAN TRADITION: SACREDNESS IN AN ISLAMIC CONTECT Afiliasi Ilafi; Bani Sudardi; Slamet Subiyantoro; Titis Srimuda Pitana
International Conference on Humanity Education and Society (ICHES) Vol. 3 No. 1 (2024): Third International Conference on Humanity Education and Society (ICHES)
Publisher : FORPIM PTKIS ZONA TAPAL KUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The implementation of the Banyu Panguripan Tradition still balances the values of Islamic teachings that live in the community of Pulosari Subdistrict. Although this tradition has potential as a cultural tourism destination, it still does not leave the essence of the sacredness of this tradition. The Banyu Panguripan tradition is a tradition related to springs and water sources, which is not only in Pulosari Subdistrict. But some areas also have the same tradition, such as in Kudus. The difference lies in the packaging and implementation of the event. The use of descriptive qualitative methods is considered appropriate in this research because the techniques used in data collection are observation and interviews so that the data obtained comes from interviews with informants who are relevant and credible to this research. The sacredness that exists in the implementation of the Banyu Panguripan Tradition still does not leave the Islamic corridor in the community.
IDENTITAS JAWA DALAM BABAD DIPONEGORO Bani Sudardi; Istadiyantha
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Babad Diponegoro merupakan bagian dari sejarah Jawa. Sejarah Jawa ini sudah berlangsung ribuan tahun. Diponegoro adalah tokoh sejarah Jawa abad 19 ketika Pulau Jawa dikuasai Belanda dan Diponegoro melawan Belanda sampai akhirnya tertangkap dengan cara licik, yaitu diajak berdamai lalu ditangkap ketika sedang diadakan perundingan. Karya ini sudahdiakui dunia dengandimasukkan UnescoPBBsebagai“memoryof the world” pada taun 2013. Babad Diponegoro merupakan babad yang unik karena 3 hal: (1) Babad ditulis langsung oleh Pangeran Diponegoro, (3)BabadtentangdiriPangeranDiponegoro,dan(3)ditulis dilokasiyang jauh dari konteks budaya Jawa, yaitu di Manado. Babad ini memiliki aspek identitas lokal dan juga menggetarkan jiwa estetis pembacanya Kajian menunjukan bahwa Pangeran Diponegoro adalah sosok Pangeran yang sangat menjaga identitas. Identitas mayor Diponegoro adalah identits muslim, tetapi ia masih memiliki trace identitas dari masa sebelumnya meskipun sangat jauh yaitu iden titas keturunan Majapahit dari Brawijaya. Dalam menggambarkan peralihan dari Hindu ke Islam, digambarkan sebagai bentuk perkawinan antara Raja Majapahit yang Hindu dengan putri Islam dari Champa. Keturunan dan saudara-saudara inilah yang kemudian menjadi perintis Islamisasi di Jawa. Hal ini menjadi identitas Diponegoro sebagai muslim dengan nenek moyang Raja Hindu.
IDENTITAS LOKAL DALAM BATIK PARANG SUKOWATI Nanang Rizali; Bani Sudardi
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sragen merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, memiliki banyak potensi daerah dan sumber daya alamnya. Salah satu potensi wisata unggulan berupa Museum sangiran yang menjadi identitas utama dengan tagline city branding nya “The Land of Java Man”. Di samping Museum Purbakala Sangiran, terdapat juga waduk kedung Ombo, kawasan pemandian air panas Bayanan, dan wisata makam Pangeran Samudro di gunung Kemukus. Di sektor perindusterian dan perdagangan Pemerintah daerah Sragen mengembangkan zona industri mebel dan kawasan industri batik. Sebagai benda budaya, batik merupakan bagian melekat dari kebudayaan nasional dan menjadi identitas bangsa Indonesia. Batik telah tumbuh dan berkembang dalam berbagai dimensi melalui lintasan ruang dan waktu dalam kehidupan masyarakatnya. Sejak awal abad ke 20 an, penggunaan batik tradisional tampak semakin berkurang dan kini batik berada dalam semangat zaman dimana aspek kreativitas menjadi faktor yang dominan. Selain terdapat kemungkinan yang meliputi bahan baku, zat warna dan prosesnya hingga pengembangan fungsinya. Berbagai fihak telah berupaya untuk mengeksplorasi batik yang dapat diaplikasikan dab dimanfaatkan dalam beragam kepentingan, di antaranya sebagai ekspresi menyampaikan identitas lokal. Batik dengan motif bentuk gading gajah purba yang terdapat di museum Sangiran digunakan sebagai identitas pencitraan kota yang didasarkan pada ikon utama dari Kabupaten Sragen. Dalam perkembangannya jenis batik ini dikenal dengan Batik sangiran yang memiliki ciri khas tersendiri, yang kemudian sekarang dikenal dengan batik Parang Sukowati. Adanya dukungan dab kebijaksanaan Pemda dalam mengembangkan potensi wisata dan kerajinan batik adalah sebagai upaya pencitraan identitas kota Sragen. Dengan demikian diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap keberadaan potensi wisata Situs Museum Sangiran, sekaligus mengembangkan kerajinan batik sebagai daya bangsa Indonesia.
ASPEK RELIGI DAN MAKNA DALAM TARI BEDHAYA KETAWANG DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA Sawitri; Bani Sudardi; Wakit Abdullah; Nyoman Chaya
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penari bedhaya ketawang dianggab sebagai bedhaya yang tertua dan tari ini dijadikan kiblat dari tari bedhaya yang lain yang lebih muda. Tari bedhaya ketawang menceritakan Panembahan Senapati raja pertama dari Dinasti Mataram dengan Kanjeng Ratu Kencana Sari atau Kanjeng Ratu Kidul.Tari bedhaya k etawang merupakan tari yang sarat makna simbolis serta erat kaitannya dengan upacara adat sehingga kesakralan dan religi selalu dijaga. Penari bedhaya memiliki aturan yang mengharuskan berjumlah sembilan, pola lantai mengelilingi raja di sisi kanan dan kiri, ada peraturanbahwa menguasai pakem joged Hasta Sawandha,serta ketentuan disaat menari dalam upacara jumenengan, tinggalan dhalem dengan keadaan susi, bersih, serta ritual yang sebelumnya dilaksanakan adalah mandi kembang tujuh rupa, puasa mutih, senin dan kamis dan semedi yang sekarang meditasi.Diskursus memiliki argumen serta historis sehingga bahasa berkembang membentuk makna pada kondisi material dan historis yang spesifik. Kondisi mengekplorasi secara historis dan di tata untuk membentuk dan mendefinisikan bidang pengetahuan /obyek spesifik yang memerlukan perangkat konsep untuk dibongkar yang di pandang sebuah kebenaran. Pada penari bedhaya ketawang setelah diungkap ternyata mengandung nilai pada pendidikan keagamaanyaitu religius, mengenalkan manusia darimana asalnya dan nanti kembali lagi kemana serta memberikan pendidikan religius untuk menjadi seorang wanita yang beretika baik, berhati bersih dan baik, dekat dengan Sang Pencipta, Laku Prehatin dengan mengolah jiwa dengan puasa senin-kamis, puasa mutih dan menanamkan pendidikan untuk dapat menghargai dirinya , mengharumkan nama baik dirinya, keluarga, bangsa dan negara.
The Symbolism of The Ruwat Banyu Panguripan Tradition: Culture and Religion Integration Perspective Ilafi, Afiliasi; Sudardi, Bani; Subiyantoro, Slamet; Pitana, Titis Srimuda
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol. 22 No. 2 (2024): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ibda.v22i2.12267

Abstract

This study aims to explore the symbols in the tradition of Ruwat Banyu Panguripan in the integration of culture and religion in commemorating the Islamic New Year in Pemalang Regency. Banyu panguripan literally means water of life. This tradition reflects a harmonious combination of cultural values and community beliefs correlated with the Islam adhered to. The Ruwat Banyu Panguripan ruwat tradition exists in the Pulosari District, especially at the Manunggal Jati Utama College. This study uses a qualitative approach with a qualitative descriptive method in collecting data through observation, interviews, and literature related to the tradition of Ruwat Banyu Panguripan. This research shows that the tradition of Ruwat Banyu Panguripan in Pulosari is not exclusively organized by the Wong Gunung Festival but also by the Manunggal Jati Utama College, which was formerly a member of the Prabasari Padepokan. The Ruwat Banyu Panguripan tradition aims to deliver each individual's wishes to God. In the process of Ruwat Banyu Panguripan, water intake comes from four directions of the compass (the west, west, south, and north). For several months, verses of the Qur'an were chanted by members of the College until, at the time of this unification, the Prophet's prayer was recited. It shows that preserving local culture is integrated with the routine of the Muslim community, specifically reading the Qur'an and praying to the Prophet in a clean and holy state.
Perbandingan Fakta Cerita dalam Naskah Hikayat Nabi Isa dan Film Jesus (1979) Saefullah, Muhammad Iqbal; Bani Sudardi; Asep Yudha Wirajaya
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 4 No. 2 (2025): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.042.03

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan perbandingan fakta cerita pada Hikayat Nabi Isa (HNI) dan film Jesus. Sumber data yang digunakan adalah naskah HNI dengan kode Malayo-Polynésien 68 yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Prancis. Film Jesus diadaptasi dari Injil Lukas. Metode penyuntingan yang digunakan adalah landasan (legger). Inventarisasi data menggunakan teknik kepustakaan dan capturing scene. Teknik pengolahan data melalui tiga tahap, yaitu deskripsi, analisis, dan evaluasi. Artikel ini menghasilkan tiga uraian. Pertama, alur dalam HNI dan film Jesus menggunakan alur maju. Kedua, karakter sentral dalam HNI adalah Nabi Isa sedangkan karakter sentral dalam film Jesus adalah Yesus. Dalam HNI terdapat 21 karakter bawahan sedangkan film Jesus memiliki 17 karakter bawahan. Ketiga, latar tempat, waktu, dan sosial dalam HNI maupun film Jesus menarasikan peristiwa-peristiwa selama perjalanan dakwah Nabi Isa dan pelayanan Yesus Kristus.
ORAL TRADITION OF SANSANA BANDAR OF DAYAK NGAJU IN KAPUAS WATERSHED CENTRAL KALIMANTAN/TRADISI LISAN SANSANA BANDAR DAYAK NGAJU DI DAS KAPUAS KALIMANTAN TENGAH Titik Wijanarti; Bani Sudardi; Mahendra Wijaya; Sri Kusumo Habsari
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.513.235-246

Abstract

Abstract Sansana Bandar is one of the oral traditions of the Dayak Ngaju people of Central Kalimantan in the form of a story about Bandar. This study aims to examine the narrative of the Bandar by contextualizing all aspects of the story to the socio-cultural history of the Dayak ethnic group. This study used an ethno- graphic approach. Data collection techniques used were library research, interviews, staging, recording, and transcription. The data obtained were then analyzed semiotics. The results show that Sansana Bandar is still maintained by the Dayak Ngaju community in the Kapuas Regency. The purpose of staging Sansana Bandar is so that one’s ideals can be achieved. Sansana Bandar staging requires requirements and is carried out from afternoon to morning. Sansana Bandar’s text analysis shows the in uence of cultures outside the island of Kalimantan in the life of the Ngaju Dayak community. Keywords: oral tradition, Sansana Bandar, Dayak Ngaju, Kapuas wastershed, Central Kalimantan Abstrak Sansana Bandar adalah salah satu tradisi lisan masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah yaitu berupa cerita tentang seorang tokoh bernama Bandar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasicerita Bandar melalui seluruh aspek cerita yang dikaitkan dengan konteks social historis dan social budaya suku Dayak Ngaju. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnogra . Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah penelusuran pustaka, wawancara, pementasan, perekaman, dan transkripsi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara semiotik. Hasil penelitian menunjuk- kan bahwa Sansana Bandar masih dipertahankan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Kabupaten Kapuas. Tujuan pementasan Sansana Bandar bagi tuan rumah adalah supaya cita-cita berhajat dapat tercapai. Sansana Bandar dipentaskan memerlukan persyaratan dan dilakukan pada waktu sore sampai pagi hari. Analisis teks cerita Sansana Bandar menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan luar pulau Kalimantan dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju. Kata kunci: tradisi lisan, Sansana Bandar, Dayak Ngaju, DAS Kapuas, Kalimantan Tengah 
A.S Pushkin Influence in Russian Literary Literature Naini, Margarita Olegovna; Sudardi, Bani; Wibowo, Prasetyo Adi Wisnu
Jurnal Sosial, Politik dan Budaya (SOSPOLBUD) Vol. 3 No. 1 (2024): January, 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/sospolbud.v3i1.6517

Abstract

This paper discusses the influence of Alexander Sergeevich Pushkin in the development of Russian Classical Literature. A.S. Pushkin, a great Russian writer in the 1800s. His contribution to the development of Russian literature cannot be seen as an eye. A.S. Pushkin was not only a poet, but also the greatest Russian writer. Alexander Pushkin's work is not only favored by literary activists, but his works are able to make changes to Russian literature. The development of Russian language literature until now has never fallen away from a Pushkin. Great Russian writer who has been recognized all over the world until now.
Mengungkap Makna Sejarah Nama Tempat: Studi Toponimi dan Pengaruh Kolonial di Asia dalam Manuskrip Serat Ngelmu Bumi Asia 1860 Sumarlina, Elis Suryani Nani; Pawestri, Wening; Darsa, Undang Ahmad; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Sudardi, Bani; Rasyad, Abdul
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 9 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v9i2.29934

Abstract

The study of toponymy and colonial influences in Asia in the SN manuscript is useful for making significant contributions to the understanding of toponymy, colonial influence, and historical context in Asia, especially through the lens of the Serat Ngelmu Bumi Asia 1860 manuscript. The purpose of this study is to analyze the history of place names that have been influenced by colonialism. Which places are written in the SNBA manuscript, namely a manuscript containing the geographical conditions of the Asian continent in 1860.  The methods used in this study are literature study, philological research methods, and toponymy studies. The results of this study indicate that place names in Asia, especially those recorded in the SNBA manuscript of 1860, reflect significant colonial influence. Many place names recorded in the SNBA manuscript, such as India Depan, India Belakang, and Ceylon, show changes that occurred due to decolonization and foreign cultural influences. Changes in place names often reflect the dominance and political interests of the colonizers. The colonizers used new names or changed place names to show their power. The use of foreign languages ​​in place naming, often derived from the language of the colonizer, influences the way place names are identified and used.
Acquisition de Compétences Interculturelles dans l'Apprentissage du Français au Niveau Universitaire Handayani, Sri; Bani Sudardi; Sahid Teguh Widodo; Tri Indri Hardini
HEXAGONE Jurnal Pendidikan, Linguistik, Budaya dan Sastra Perancis Vol. 14 No. 1 (2025): HEXAGONE
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/hxg.v14i1.67972

Abstract

Cette étude examine le processus d’acquisition des compétences interculturelles dans l’apprentissage du français à l’Universitas Negeri Semarang (UNNES). En s’appuyant sur une approche qualitative et une étude de cas, les données ont été recueillies à travers des entretiens approfondis avec 14 enseignants de français. Les résultats révèlent que, bien que la transmission de la compétence interculturelle soit considérée comme importante, elle reste encore partielle. Les dimensions du savoir, de la compréhension et des compétences pratiques (savoir-faire) sont davantage explorées, tandis que les attitudes (savoir-être) et la pensée critique (savoir-s’engager) sont moins abordées. L’étude identifie cinq fonctions essentielles de la compétence interculturelle pour les apprenants : 1) prévenir le choc culturel, 2) faciliter la compréhension des contextes linguistiques et culturels, 3) motiver et préparer mentalement, 4) renforcer l’identité personnelle et filtrer les valeurs non compatibles, 5) développer un esprit critique dans la réception d’informations. L’intégration plus équilibrée des cinq dimensions proposées par Byram est nécessaire pour former des apprenants capables de naviguer efficacement dans un monde multiculturel. Cette étude recommande un renforcement des formations enseignantes en matière de compétence interculturelle et une révision curriculaire intégrant ces dimensions de manière systématique.
Co-Authors Abdul Rasyad Abdullah, Wakid Afiliasi Ilafi Afiliasi Ilafi Afiliasi Ilafi Afiliasi Ilafi Afiliasi Ilafi, Afiliasi Agus Efendi Ana Mulyono Andrik Purwanto, Andrik Andrik Purwasito Aris Aryanto Asep Yudha Wirajaya Asep Yudha Wirajaya Asep Yudha Wirajaya Betty Gama Dwi Listyorini Dwi Sulistyorini Dwi Susanto Elis Suryani Nani Sumarlina Endang Tri Irianingsih Handayani, Sri Herry Nur Hidayat Istadiyantha Istadiyantha Istadiyantha Istadiyantha Istadiyantha Istadiyantha Istadiyantha Istandiyantha Istandiyantha Kokkaliari, Lydia Kanelli Kyvelou Lia Sukmawati Lydia Kanelli Kyvelou Kokkaliari Mahendra - Wijaya Mahendra Wijaya Mahendra Wijaya Mahendra Wijaya Mohd Balwi, Mohd Taufik Arridzo bin Mohd Taufik Arridzo Mohd Taufik Arridzo bin Mohd Balwi Mohd Taufik Arridzo, Mohd Taufik Mugiyatna Mugiyatna Mugiyatna, Mugiyatna Muhammad Halkis Mulyono, Ana Murtini Murtini Naini, Margarita Olegovna Nanang Rizali nfn Supana Niyoko - Niyoko Novi Setyowati Nuraini Isti Kusumah Nyoman Chaya Nyoman Chaya Nyoman Chaya, Nyoman Pande Made Sukerta Partini Partini Pawestri, Wening Pradanta, Sukmawan Wisnu Puji Darmoko Puput Puji Lestari Rangga Saptya Mohamad Permana Roch Aris Hidayat Saefullah, Muhammad Iqbal Sahid Teguh Widodo Sahid Teguh Widodo Sawitri Sawitri Sawitri Sawitri Sawitri Siti Rodliyah, Siti Situ Asih Slamet Subiyantoro Sri Kusumo Habsari Sukmawan Wisnu Pradanta Sunarmi Sunarmi Supana Supana Supana Supana Titik Wijanarti Titis Srimuda Pitana Titis Srimuda Pitana Titis Srimuda Pitana Titis Srimuda Pitana, Titis Srimuda Tri Indri Hardini Triatmo, Bambang Triguna, IBG Yudha Umi Amanah Undang Ahmad Darsa Wakid Abdullah Wakit Abdullah Wakit Abdullah Rais Warto - Warto Warto Warto Warto Wening Pawestri Wibowo, Prasetyo Adi Wisnu