The existence of Islamic boarding schools (pesantren) as traditional Islamic educational institutions in Indonesia faces significant challenges due to rapid advances in science and technology and shifting social demands. This research is motivated by the need to reconstruct the pesantren curriculum to remain relevant to human resource development. The study aims to analyze community perceptions, the placement of graduates, and the factors and aspects underlying pesantren curriculum reconstruction. A descriptive method was employed using five pesantren samples in Jember Regency. Data were collected through interviews, questionnaires, and documentation, then analyzed qualitatively and quantitatively. The findings reveal that pesantren play a strategic role in community development, yet most graduates are absorbed into religious and social sectors. The main drivers for reconstruction are advances in science and technology, social change, and demands for religious reinterpretation. The most urgent aspects to reconstruct include materials, methods, and evaluation systems. In conclusion, curriculum reconstruction depends heavily on the kyai’s policy, and it is recommended to integrate religious, general, and vocational subjects with local government support. Eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia menghadapi tantangan besar akibat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tuntutan sosial masyarakat yang terus berubah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya rekonstruksi kurikulum pesantren agar relevan dengan pengembangan sumber daya manusia. Tujuan penelitian adalah menganalisis persepsi masyarakat, alokasi posisional lulusan, serta faktor-faktor yang melatarbelakangi dan aspek-aspek rekonstruksi kurikulum pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan sampel lima pesantren di Kabupaten Jember. Data dikumpulkan melalui wawancara, angket, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam pembangunan masyarakat, namun lulusan sebagian besar terserap di sektor sosial keagamaan. Faktor utama rekonstruksi adalah perkembangan IPTEKS, perubahan sosial, dan tuntutan interpretasi keagamaan. Aspek yang paling mendesak direkonstruksi meliputi materi, metode, dan sistem evaluasi. Kesimpulannya, rekonstruksi kurikulum pesantren sangat tergantung pada kebijakan kyai, dan direkomendasikan adanya integrasi materi agama, umum, dan keterampilan serta dukungan pemerintah daerah.