Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PERAN GANDA KYAI SEBAGAI ULAMA’ DAN UMARA’: TELAAH KONSEP KENEGARAAN AL-GHAZALI DAN PARADIGMA SEKULARISME MODERN Saifullah; Madlubur Rhisky; Rahmat Zubandi Thahir; Babun Suharto
Al Yasini : Jurnal Keislaman, Sosial, hukum dan Pendidikan Vol 10 No 6 (2025)
Publisher : Konsorsium Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Yasini Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55102/alyasini.v10i6.7147

Abstract

This article examines the dual role of the kyai as both religious scholar (ulama) and political authority (umara) in contemporary Indonesia. Drawing on conceptual and descriptive-analytic methods, it analyzes al-Ghazali’s classical political theory on the unity of religion and state, contrasting it with modern secularism which advocates for institutional separation between the two. In Indonesia, various kyai have served as public officials—regents, governors, legislators, and ministers—creating a complex interplay between moral-religious legitimacy and administrative-political responsibility. This dual role brings both opportunities and vulnerabilities, such as potential conflicts of interest, misuse of religious symbolism, and shifting public perceptions of pesantren. The presidency of Abdurrahman Wahid (Gus Dur) serves as a central case study demonstrating how a religious intellectual reshapes political ethics and governance. The article concludes with a reflection on the challenges posed by recent PBNU conflicts, modernization, and public accountability within the frameworks of al-Ghazali’s thought and secular critiques.
Kiai dan Transformasi Sosial: Dinamika Peran Kiai dalam Masyarakat Muslim Kontemporer Sutriyono; Usman; Babun Suharto
Al Yasini : Jurnal Keislaman, Sosial, hukum dan Pendidikan Vol 10 No 6 (2025)
Publisher : Konsorsium Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Yasini Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55102/alyasini.v10i6.7181

Abstract

Kiai merupakan figur sentral dalam masyarakat Muslim Indonesia yang memiliki otoritas keagamaan, sosial, dan kultural. Dalam konteks masyarakat kontemporer yang ditandai oleh globalisasi, modernisasi, serta perkembangan teknologi informasi, peran kiai mengalami transformasi yang signifikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dinamika peran kiai dalam proses transformasi sosial masyarakat Muslim kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis sosial-keagamaan, kajian ini menelaah bagaimana kiai tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual dan pendidik agama, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial, mediator konflik, penggerak ekonomi umat, serta aktor dalam ranah politik dan digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa kiai mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan otoritas tradisionalnya, meskipun dihadapkan pada tantangan berupa pergeseran otoritas keagamaan, pluralitas pemahaman keislaman, dan pengaruh media sosial. Transformasi peran kiai ini mencerminkan fleksibilitas dan relevansi kepemimpinan keagamaan dalam menjaga keseimbangan antara nilai-nilai tradisional dan tuntutan modernitas. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan studi sosiologi agama dan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran kiai dalam masyarakat Muslim masa kini
REPRESENTASI PELECEHAN TERHADAP KIAI DALAM MEDIA TELEVISI NASIONAL: ANALISIS ADAB ISLAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN TEORI REPRESENTASI STUART HALL Luthviyah Romziana; Zaimuddin; Moh. Najiburrahman; Babun Suharto
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2882

Abstract

The phenomenon of harassment of kiai in a Trans7 broadcast on October 13, 2025, indicates a serious problem in religious ethics and public communication. As a figure of ulama and guardian of community morals, kiai holds a central position in the Nusantara Islamic tradition, so that respect for him is part of Islamic etiquette based on the values ​​of the Qur'an. This study aims to analyze media representations of kiai figures and examine how the principles of Islamic etiquette can become a framework for criticism of communication practices that demean the dignity of ulama. The method used is descriptive qualitative through content analysis and maudhu'i interpretation of Quranic verses on the ethics of speaking, respect for ulama, and social ethics, combined with Stuart Hall's representation theory. The results show that the media encoding process reflects the logic of entertainment capitalism that normalizes jokes about kiai. Meanwhile, audience decoding is divided into three positions: dominant, negotiating, and opposition. The Qur'anic perspective assesses that this practice is contrary to the principles of etiquette in QS. Al-Baqarah: 83, QS. Al-Ahzab: 70, and QS. Al-Hujurat: 2, 6, 11. This study emphasizes the importance of Qur'anic ethics as a critical paradigm in building a civilized media culture and maintaining the dignity of scholars.
Literasi Keuangan Syariah dan Akses Keuangan Syariah pada UMKM: Studi Literatur Achmad Hasan Hasyim; Muhammad Danil; Suharto, Babun
AL-ITTIFAQ Jurnal Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 2 (2025): Al-Ittifaq : Jurnal Ekonomi Syariah
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Literasi keuangan syariah menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan dan peningkatan kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di negara dengan perkembangan keuangan syariah yang pesat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mensintesis literatur empiris dan konseptual terkait peran literasi keuangan syariah terhadap kinerja UMKM. Metodologi penelitian menggunakan studi literatur dengan menganalisis artikel ilmiah dari jurnal nasional dan internasional bereputasi yang dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah yang mencakup pengetahuan terhadap produk keuangan syariah, sikap keuangan, dan perilaku keuangan sesuai prinsip syariah berpengaruh positif terhadap kualitas pengambilan keputusan keuangan, peningkatan akses ke layanan keuangan syariah, serta perbaikan kinerja UMKM yang tercermin dari profitabilitas, pertumbuhan usaha, dan keberlanjutan bisnis. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa literasi keuangan syariah merupakan prasyarat strategis dalam memperkuat inklusi keuangan syariah dan kinerja UMKM. Kontribusi penelitian ini adalah penyusunan kerangka konseptual yang dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya dan perumusan kebijakan pengembangan ekonomi syariah. Kata kunci: Literasi Keuangan Syariah; UMKM; Inklusi Keuangan Syariah; Kinerja Usaha
The Role of Kiai Leadership in the Management of Al Azhar Menganti Gresik Islamic Boarding School in the Global Era Ahmad Muthi’Uddin; Babun Suharto; Ahmad Qoni Dewantoro; Titiek RH
Kasyafa: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/kasyafa.v3i1.150

Abstract

The development of globalization brings significant challenges for Islamic educational institutions, including Islamic boarding schools. Social, economic, and technological changes require Islamic boarding schools to adapt without abandoning the traditional values that are their identity. This study aims to analyze the role of kiai leadership in the management of Al Azhar Menganti Gresik Islamic Boarding School in the global era. This study uses a qualitative approach with a descriptive research type. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, observation, and documentation. Research informants included kiai caretakers, pesantren managers, and ustadz. Data analysis used the Miles and Huberman model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that kiai leadership plays a strategic role in maintaining the balance between pesantren values and the demands of globalization through strengthening institutional vision, participatory decision-making, and developing adaptive pesantren management. Kyai leadership is a key factor in maintaining the sustainability and competitiveness of pesantren in the global era.
Kontekstualisasi Maqasid al-shari’ah dalam Literatur Pesantren Kontemporer; Respon Tekstual terhadap Tren Childfree Ashari, Beni; Suharto, Babun; Syafi’i, Imam; Najib, Daniya Muwahidun
Minhaj: Jurnal Ilmu Syariah Vol. 7 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/minhaj.v7i1.4376

Abstract

Hegemoni globalisasi telah mendisrupsi tatanan nilai keluarga Muslim melalui penyebaran ideologi childfree dan kebebasan seksual yang mendekonstruksi filosofi pernikahan Islam dari orientasi sakral-transendental menjadi kontrak privat berbasis otonomi tubuh semata. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konstruksi epistemologis dan strategi respon tekstual dalam literatur pesantren kontemporer saat mengontekstualisasikan doktrin Maqasid al-Shari’ah, khususnya aspek hifz al-nasl (pemeliharaan keturunan), guna menjawab validitas argumen hak reproduksi global tersebut. Menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan filosofis-yuridis, penelitian ini menelaah secara kritis kitab-kitab turats, keputusan Bahtsul Masail, dan pemikiran ulama pesantren modern yang dianalisis menggunakan pisau bedah usul fiqh seperti Sadd al-Dharai’ dan Maslahah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa literatur pesantren tidak merespons modernitas dengan penolakan dogmatis buta, melainkan melalui dialektika metodologis yang canggih; yakni dengan melakukan distingsi tegas antara tanzim al-nasl (pengaturan kelahiran) yang diterima sebagai bentuk adaptasi rasional-medis, dengan tahdid al-nasl (pemutusan keturunan) yang ditolak keras karena melanggar hak Tuhan (haqqullah). Pesantren merekonstruksi narasi prokreasi bukan sekadar sebagai fungsi biologis, melainkan sebagai investasi peradaban dan mandat teologis yang tidak dapat dibatalkan oleh hak asasi individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap pesantren merepresentasikan bentuk resiliensi intelektual hukum Islam yang menawarkan konsep “kebebasan bertanggung jawab”, sekaligus berfungsi sebagai benteng imunitas sosial (social immunity) yang vital untuk menjaga keberlangsungan demografi umat dan ketahanan keluarga di tengah gempuran hedonisme global