Claim Missing Document
Check
Articles

KHATTIL QUR’AN DAN DAUN SIRIH DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI KALIGRAFI GRAFIS Intan Tursina; Dharsono Dharsono; Febri Yulika
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 1 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i1.1076

Abstract

The art work entitled "Khattil Qur'an and Betel Leaf as an Idea for Creating a Graphic Artwork", cultivates beautifully arranged pure Arabic calligraphy letters decorated with betel leaf motifs as ideas. Pure calligraphy based entirely on the principles of standard writing rules. Today's calligraphy processing often ignores the rules, where the writing of verses on paintings seems to be subject to painting, so that in the end the message that is communicated is more of appreciation. Betel leaf is a plant that propagates and rests on the trunk of another tree. The selection of betel leaf because it is a type of medicinal plant and can be synchronized with the theme of prayer in the work, and has the same benefits for health. The method used in the creation of this graphic art works through several systematic stages, namely the exploration, experimentation, and design stages. This work was done using graphic art media with high printing techniques. Media selection is based on the concern for calligraphers, as well as providing solutions or alternatives in terms of reproducing or printing a design manually before and during the MKQ competition.Keywords: khattil qur'an; betel leaf; calligraphy; high print graphics.AbstrakKarya seni berjudul “Khattil Qur’an dan Daun Sirih sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Grafis”, mengolah huruf kaligrafi Arab murni yang dihiasi dengan motif daun sirih sebagai ide atau gagasan. Kaligrafi murni didasarkan sepenuhnya pada prinsip-prinsip atau kaidah menulis yang baku. Pengolahan seni kaligrafi masa sekarang seringkali mengabaikan kaidah, dimana tulisan ayat pada lukisan seolah-olah tunduk pada lukisan, sehingga akhirnya pesan yang terkomunikasikan lebih kepada apresiasi. Daun sirih dipilih karena merupakan jenis tanaman obat dan dapat disinkronkan dengan tema shalat pada karya, dan memiliki kesamaan manfaat untuk kesehatan. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya seni grafis ini melalui beberapa tahapan sistematis, yakni tahap eksplorasi, eksperimentasi, dan perancangan. Karya ini digarap menggunakan media seni grafis dengan teknik cetak tinggi. Pemilihan media didasarkan pada bentuk kepedulian terhadap kaligrafer, sekaligus memberikan solusi atau alternatif dalam hal memperbanyak atau mencetak suatu desain dengan cara manual sebelum dan saat perlombaan MKQ.Kata Kunci: khattil qur’an; daun sirih; kaligrafi; grafis cetak tinggi
TUMBUHAN YANG ADA DI AL-QURAN SEBAGAI EKSPRESI DALAM SENI RELIEF KAYU Ardi Rahmad; Ahmad Akmal; Febri Yulika
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 1 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i1.34235

Abstract

Al-Quran is the holy book of Muslims, some of its verses explain stories related to plants. The Qur'an mentions plants as a parable to reveal a truth and describe the physical form and its benefits for human life. The diversity of plants in the Qur'an has wisdom and purpose for human life, such as some of the stories written in the Qur'an, some are sworn in by Allah, some are used as parables, some are used as a source of life for humans. This relief artwork uses the concept of reinterpretation by changing the plant phenomena in the Al-Quran into creative stimuli, namely wood relief art such as Tin, Olive and Pumpkin. In general, relief can be defined as a 2D artwork of art created by sculpting the part of the medium that will be removed to create the desired shape. The purpose of the creation of this relief artwork is to express the literacy of Al-Quran verses about plants into wood relief art to bring out the wisdom and phenomena of plants in the Al-Quran. The creation of plant reliefs in the Al-Quran uses the Eksperimen, Contemplation, Formation and Manifestation methods. The artwork created presents a form that is related to the story and its existence in the Al-Quran so as to provide information related to the plants in the Al-Quran with aesthetic value and visual epistemology. Expressions that present information and plant phenomena in the Qur'an can be enjoyed visually, including three artworks of wood relief art with carving techniques entitled Yaqtin, Middle and At-Tiin.Keywords: plants, Al-Quran, expressions, wood relief. AbstrakPenciptaan relief tumbuhan yang ada di dalam Al-Quran terinspirasi dari penyebutan dan fenomena tumbuh-tumbuhan yang ada di dalamnya. Kisah tentang tumbuhan yang dituangkan dalam bentuk karya relief kayu sangat jarang ditemukan. Karya seni relief ini menggunakan konsep reinterpretasi dengan cara mengubah fenomena tentang tumbuhan yang menjadi rangsang cipta karya seni yaitu seni relief kayu seperti tumbuhan tin, zaitun, dan labu. Secara umum relief dapat diartikan sebagai karya seni dua dimensi (2D) yang diciptakan dengan teknik memahat. Tujuan penciptaan karya relief ini adalah mengekspresikan ayat Al-Quran tentang tumbuhan menjadi seni relief kayu untuk memunculkan hikmah dan fenomena tumbuhan yang ada di dalam Al-Quran. Penciptaan relief tumbuhan yang ada di dalam Al-Quran menggunakan metode eksperimen, perenungan, pembentukan, dan perwujudan. Karya yang diciptakan menghadirkan bentuk yang berhubungan dengan kisah dan keberadaannya di dalam Al-Quran sehingga memberikan informasi yang berhubungan dengan tumbuhan yang ada di dalam Al-Quran dengan nilai estetik dan epistemologi visual. Ekspresi yang menghadirkan informasi dan fenomena tumbuhan yang ada di dalam Al-Quran dapat dinikmati secara visual di antaranya adalah tiga buah karya seni relief kayu dengan teknik ukir yang berjudul Yaqtin, Pertengahan dan At-Tin.Kata Kunci: tumbuhan, Al-Quran, ekspresi, relief kayu. Authors: Ardi Rahmad: Institut Seni Indonesia PadangpanjangAhmad Akmal: Institut Seni Indonesia PadangpanjangFebri Yulika : Institut Seni Indonesia PadangpanjangReferences: Al-Qur’an dan terjemahannya. (2008). Departemen Agama RI. Bandung: Diponegoro.Amrullah, Abdul, Malik, Karim. (1983). Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Gema Insani.Junaidi, Deni. (2017). Estetika, Jalinan Subjek Objek dan Nilai. Yogyakarta. ArtCiv.Kartika, Dharsono Sony. (2016). Kreasi Artistik. Karanganyar. Surakarta: UNS.Sahman, H. (1992). Mengenali Dunia Seni Rupa. Semarang: IKIP Semarang Press.Salam, Sofyan. (2020). Pengetahuan Dasar Seni Rupa. . Makassar: Badan Penerbit UNM.Susanto, M. (2002). Diksi Rupa. Yogyakarta: Kanisius.
RE-BRANDING IDENTITAS LOGO ABIDAUFA Ivo Ramadhani; Febri Yulika; Syafwandi Syafwandi
PROPORSI : Jurnal Desain, Multimedia dan Industri Kreatif Vol 3, No 2 (2018): PROPORSI Mei 2018
Publisher : Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22303/proporsi.3.2.2018.105-117

Abstract

Artikel ini membahas perancangan kembali desain branding identitas desain logo Abidaufa. Peran branding dan desain dalam proses pembentukan identitas/citra. Disebabkan makin meningkatnya kompetisi antar produsen. Abidaufa adalah sebuah brand nama dari industri rumahan bergerak dibidang fashion kulit, yang berada di jalan Amal (Jl. Puskesmas) Medan-Binjai. Abidaufa berdiri pada bulan Oktober 2013, hingga kini telah memproduksi aneka kerajian dari kulit, berupa dompet, ikat pinggang, tas, dan tali jam tangan. Adapun bahan kulit yang diproduksi berasal dari kulit sapi, kulit ikan pari, kulit biawak dan kulit ular. Sebagai industri rumahan, Abidaufa telah berhasil menarik minat pembeli melalui hasil karya yang diproduksi. Pembeli datang tidak hanya dari daerah Kota Medan saja melainkan dari luar kota. Abidaufa telah memiliki logo, tetapi logo Abidaufa belum memiliki mewakili karakter, visi, dan misi dari usaha yang dijalankan, maka dengan itu dilakukan rebrending logo sesuai karakter yang mewakili visi dan misi dari Abidaufa. Pada perancangan logo Abidaufa, berdasarkan analisis studi literartur yang relevan memakai metode 5W+1H, logo menggunakan konsep warna, tipografi, dan jenis komposisi yang memberikan kesan profesional sesuai dengan visi dan misi Abidaufa.
PERANCANGAN LOGO RUJAK SIMPANG JODOH MEDAN Sri Wahyuni Panjaitan; Febri Yulika; Agung Eko Budi Waspada
PROPORSI : Jurnal Desain, Multimedia dan Industri Kreatif Vol 3, No 1 (2017): PROPORSI November 2017
Publisher : Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22303/proporsi.3.1.2017.68-78

Abstract

Tulisan ini membahas tentang perancangan logo Rujak Simpang Jodoh.Rujak Simpang Jodoh merupakan pusat kuliner makanan rujak tradisional, rujak tersebut dibuat dari buah-buahan yang segar dan bumbunya yang kental,salah satu ramuan bumbunya adalah pisang batu muda yang merupakan ciri khas Rujak Simpang Jodoh. Kuliner ini ada sejak tahun 1950an sampai sekarang. Rujak Simpang Jodoh ini terkenal sehingga banyak konsumen yang membeli. Tetapi belum adanya identitas yang jelas pada Rujak Simpang Jodoh ini sebagai kuliner Kota Medan, maka dari itu dilakukan branding logo Rujak Simpang Jodoh.Metode yang digunakan dalam pengumpulan data diantaranya, studi pustaka, observasi dan wawancara langsung kepada pihak yang terkait. Dari hasil analisis dari seluruh pengumpulan data dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan identitas visual/logo bagi Rujak Simpang Jodoh. Konsep perancangan ini terdiri dari logogram dan logotype. Konsep logogram adalah sebuah cabai merah yang menangis kepedasan, sedangkan logotypenya adalah Rujak Simpang Jodoh dengan tipografi Unj-Bilquet.
KAJIAN STRUKTUR DRAMATIK PADA FILM MURSALA KARYA VIVA WESTI Sri Wahyuni; Rosta Minawati; Febri Yulika
PROPORSI : Jurnal Desain, Multimedia dan Industri Kreatif Vol 4, No 2 (2019): PROPORSI Mei 2019
Publisher : Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22303/proporsi.4.2.2019.126-135

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah mengungkap struktur dramatik pada film Mursala. Film Mursala memuat unsur naratif yang membentuk susunan peristiwa dan saling memiliki  hubungan satu dengan yang lainnya serta adanya keterikatan dalam logika sebab akibat (kausalitas) yang terjadi dalam ruang dan waktu. Untuk mengungkap struktur dramatik film Mursala, maka digunakan pendekatan struktural dengan metode analisis deskriptif.Film Mursala bercerita mengenai larangan pernikahan se-marga pada masyarakat Batak. Batak merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi adat dan nilai kekeluargaan (kekerabatan). Suku Batak juga memiliki aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, termasuk tentang pemilihan pasangan hidup, siapa yang dapat dinikahi dan tidak dapat dinikahi. Pertentangan terhadap adat dalam isi cerita film Mursala menyebabkan adanya konflik dari awal hingga bagian klimaks dari cerita. Maka pendekatan strukturalisme (exposition, complication, climax, reversal dan denoument) digunakan untuk mengetahui kronologi cerita, tokoh/penokohan hingga klimaks yang dituangkan dalam permasalahan serta tahap akhir cerita yang merupakan kesimpulan untuk menjelaskan alur dramatik.
Saluang Dendang Sirompak dalam Tradisi Ritual Magis di Payakumbuh: Satuan Kajian Karakteristik Musikal Ediwar Ediwar; Hanefi Hanefi; Rosta Minawati; Febri Yulika
PANGGUNG Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1496.028 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i4.1369

Abstract

Saluang dan Dendang Sirompak merupakan bagian tidak terpisahkan dari pertunjukan Sirompak.Pertunjukan difungsikan untuk mempengaruhi orang lain melalui kekuatan magi. Tradisi ba-Sirompak diidentifikasi sebuah komposisi musik bersifat free rhythm. Mantera disajikan melaluikalimat yang disusun untuk mendatangkan kekuatan gaib. Ba-sirompak difungsikan untuk‘mengguna-gunai’ wanita secara ilmu kebatinan (magis). Penelitian ini dilakukan denganmenggunakan metode kualitatif, yaitu data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dandokumentasi. Dalam pengumpulan data digunakan tiga tahap penelitian. yaitu: Pertama,studi kapustakaan untuk mengumpulkan bahan tertulis yang diperlukan sesuai masalah yangditeliti. Kedua, penelitian lapangan untuk mungumpulkan data dengan teknik observasidan wawancara langsung secara mandalam, dengan difokuskan pada rekonstruksi ritual Basirompak.;Ketiga, pengolahan data, dilakukan berupa transkripsi music dalam bentuk notasi,deskripsi, dan analisis data yang siap dijadikan laporan. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui karakteristik musical Saluang Dendang Sirompak dengan mengkaji unsur-unsurmusikal pada pusaran motif, frase, dan periode melodis.Kata Kunci: Ba-sirompak, Karakter musikal, Ritual Magi.
Staying at Home: The Perspectives of Minangkabau Ulemas Concerning Husbands' Provision of Sustenance in Covid-19 Impacted Households Fatahuddin Aziz Siregar; Azhari Akmal Tarigan; Nofialdi Nofialdi; Febri Yulika; Iswandi Syahputra; Nurhayati Nurhayati; Benny Ridwan
JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/juris.v21i2.6551

Abstract

The article discusses the perspectives of Minangkabau ulemas in West Sumatra concerning the ruling for husbands incapable of providing a living for their wife as a result of the COVID-19 pandemic. In West Sumatra, some husbands were unable to provide sustenance to their wife because they were dismissed from their employment due to the COVID-19 pandemic. The study findings are highly specific as Minangkabau customs and culture are grounded on a matrilineal system, yet they remain to be based on Islamic sharia. The research data were acquired by in-depth interviews with three influential ulemas in West Sumatra and a prominent customary figure who is the Chair of the Minangkabau Adat Council. The study found that according to the Minangkabau customary and cultural perspective, husbands are duty-bound to earn a living outside their home while their wife remains at home. Such spousal relationship has an impact on the wife’s acceptance of the husband who became jobless since they were dismissed on account of the pandemic. A condition wherein wives can accept being married to a husband incapable of providing a living on account of the COVID-19 outbreak does not become a legal issue. Accordingly, the study will have implications on the formation of new categories concerning the husband’s obligation to provide sustenance to his wife during a state of emergency.
The Prevention of Sexual Violence Against Women Based on Minangkabau Local Wisdom Widia Fithri; Febri Yulika; Ermagusti Ermagusti
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 15, No 2 (2022): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v15i2.16373

Abstract

This paper aims to explain the local wisdom used in preventing sexual violence against women in West Sumatra Province. This type of research uses a PAR approach through management planning, actuating, organizing, and reflecting. Data were analyzed descriptively using data reduction, display, and verification. The findings of this study show that Aisiyah organization used the local wisdom to change people’s mindsets in seeing victims of sexual violence as figures that need to be strengthened together. The Minangkabau traditional order, which is based on customs and religion, is a comprehensive guide to governing people’s lives, particularly in the Minangkabau community. Minangkabau customs’ philosophical values of adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah place women to a noble position. Women are the limpapeh rumah nan gadang, or the pillars of rumah gadang, which symbolize honor and glory. Women, as bundo kanduang, become symbols both physically and personality because they know how to behave in good manners and how to dress appropriately.
DISFUNGSI KESENIAN GAMAD DAN BALANSE MADAM DI SUMATERA BARAT Febri Yulika; Susi Fitria Dewi; Jelly Jelly; Yetty Oktayanty
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 2 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i2.3667

Abstract

Gamad music and Balanse Madam dance are no longer popular among the people of West Sumatra. This art was created by an art movement from Nias who lived in the city of Padang in the early 18th century. Balanse Madam art was popular in the 1960s to 1980s. The specialty of this art is that it adopted the music and dance of the Portuguese who loved to party when they traded spices on the West Sumatra coast in the 18th century. The Balanse madam dance was later imitated by Nias workers who later adapted it to the values of the people of West Sumatra. The music that accompanies the Balanse Madam dance is Gamad music (Inter-Regional Music Association) combining various musical instruments of various ethnicities living in the city of Padang such as Minangkabau, Medan and Malay regional music. However, this art, both Gamad music and Balanse Madam dance, are no longer alive in society. Various factors, both internal and external, have caused this art to be rarely performed. As for this article, it will be analyzed using the concept of dysfunction. As for this article, it will be analyzed using the concept of dysfunction.  AbstrakMusik Gamad dan Tari Balanse Madam sudah tidak populer lagi di kalangan masyarakat Sumatera Barat. Kesenian ini diciptakan oleh sebuah gerakan seni dari Nias yang bermukim di kota Padang pada awal abad ke-18. Seni Balanse Madam populer pada tahun 1960 hingga 1980-an. Keistimewaan kesenian ini adalah mengadopsi musik dan tarian bangsa Portugis yang gemar berpesta saat berdagang rempah-rempah di pesisir Sumatera Barat pada abad ke-18. Tari Balanse Madam ini kemudian ditiru oleh para pekerja Nias yang kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai masyarakat Sumatera Barat. Musik yang mengiringi tari Balanse Madam adalah musik Gamad yang memadukan berbagai alat musik dari berbagai etnis yang tinggal di kota Padang seperti musik daerah Minangkabau, Medan dan melayu. Namun kesenian ini, baik musik Gamad maupun tari Balanse Madam, sudah tidak hidup lagi di masyarakat. Berbagai faktor baik internal maupun eksternal menyebabkan kesenian ini jarang dipentaskan. Adapun artikel ini dianalisis dengan menggunakan konsep disfungsi.  
MAKNA MEDIA KAMPANYE BAGI PEMILIH PASANGAN MAHYELDI DAN AUDY JOINALDY PADA PILKADA SUMATERA BARAT TAHUN 2020 Ilham, Muhamad; Minawati, Rosta; Yulika, Febri
VCoDe : Visual Communication Design Journal Volume 2, Nomor 1, Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/vcode.v2i2.3646

Abstract

Penelitian ini berjudul “Analisis Media Kampanye Pasangan Mahyeldi dan Audy Joinaldy Pada Pilkada Sumatera Barat Tahun 2020”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis media kampanye pasangan Mahyeldi dan Audy Joinaldy pada pilkada Sumatera Barat tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan analisis teori desain komunikasi visual, SWOT dan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; pertama, media kampanye menjadi salah satu faktor penentu dalam upaya mendapatkan raihan suara terbanyak, terutama dalam mengkomunikasikan pesan dan tujuan personal branding kepada para pemilih. Adanya logo khusus (MA) pada media kampanye sebagai personal branding kedua pasang calon menjadi daya tarik tersendiri dalam proses kampanye yang dilakukan. Logo MA (Mahyeldy Audy) selalu muncul dalam setiap media kampanye yang dipublikasikan seperti spanduk, baliho, umbul-umbul dan media kampanye lainnya; Kedua, terdapatnya bentuk media utama dan media pendukung, saling berkaitan serta konsisten bentuk media kampanye yang digunakan. Media utama seperti logo, adanya keunikan simple, sederhana, elegant, identitas minangkabau, serta menarik perhatian sedangkan media pendukung seperti baliho, umbul-umbul, spanduk saling konsisten, keseragaman, unik dari segi figure atau foto, tagine, ikon logo, tipografi, dan warna. Makna media terdapat dari segi beberapa pandangan diantaranya komunikasi politik, antropologi politik, sosiologi politik dan lainnya.
Co-Authors A Admiral Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid, Abdul Majid Adrias Adrias Agung Eko Budi Waspada Ahmad Akmal Amalia, Nazhifah Anak Agung Istri Agung Citrawati Andri Maijar Apriliana Apriliana Aprisia, Siska Ardi Rahmad Arianto, Tomi Asril Asril Azhari Akmal Tarigan Benny Ridwan Benny Ridwan Dewi, Susi Fitria Dharsono Dharsono Dharsono Sony Kartika Edi Satria Ediwar Ediwar Elisabeth, Noprita Endrizal Erlina Pantja Sulistijaningtijas Ermagusti Ermagusti Febrian Martha Frastica, Yuliana Garaika Hakim, Atthoriq Chairul Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi, Hanefi Haq, Chairul Hasnah Anita Putri, Hasnah Anita Putri Ibnu Sina ikhsan, Dipo Ikhwanuddin Harahap Ilham, Muhamad Indra Maulana Intan Tursina Iswandi Syahputra Iswandi Syahputra Ivo Ramadhani Jelly Jelly Kartika, Dharsono Sony Masta, Putri Khairina Mauladi, Muhammad Farhan Mirda Aryadi Miswar, Vanesha Muhammad Ilham Muhammad Rizki MULYADI Mulyadi Mulyadi Mutia Kahanna Nofi Rahmanita Nofialdi Nofialdi Nofialdi, Nofialdi Nurhayati Nurhayati Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Panjaitan, Sri Wahyuni Putra, Diki Pratama Rahmatika, Safara Fitri Rahmawati, Mila Rahmi Rahmi Rahmi, Hijratur Reza Sastra Wijaya Rosta Minawati Sakti, Reza Ginandha Selvi Kasman Septriani, Septriani Siregar, Fatahuddin Aziz Siregar, Fatahuddin Aziz Siska Aprisia Sri Wahyuni Susas Rita Loravianti Syafwandi Syafwandi Taufik Akbar Twidi Ramadhani Ulfa Putrinilam Sari Waspada, Agung Eko Budi Widia Fithri Wijaya, Reza Sastra Wirdanengsih, Wirdanengsih Wisnu Prastawa Yetty Oktayanty Yulimarni Yulimarni