Claim Missing Document
Check
Articles

Conflict Resolution of Inheritance Disputes in The Koto Nan Ampek Village of Payakumbuh City Febrian Martha; Febri Yulika; Endrizal
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 2 No. 3 (2023): Vol. 2 No. 3 2023
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v2i3.226

Abstract

This study discusses the problem of community conflict related to inheritance disputes that occurred in Kanagarian Koto Nan Ampek, Payakumbuh City. The purpose of this study is to explain the background of the conflict in Kanagarian Koto Nan Ampek and the resolution given based on the conflict that has arisen. The theory used is Lewis A. Coser's theory of conflict. The method used is qualitative research with an ethnographic approach. Data collection techniques are field observations, interviews, and documentation. The findings of this study are the conflict over inheritance disputes that occurred in Kanagarian Koto Nan Ampek caused by several factors including the lack of knowledge of the heirs regarding the inheritance, the allotment of inheritance which is not known jointly, socially and economically. The impact of this is that there is a change in the character of the Koto Nan Ampek community towards inheritance, which previously guarded inheritance, changed to selling heirlooms. Then there are several solutions offered based on the factors causing the conflict, namely education by traditional institutions or people who know about inheritance, written agreements, and deliberations for consensus.
Kajian Organologi Pembuatan Alat Musik Tradisi Saluang Darek Berbasis Teknologi Tradisional Ediwar, Ediwar; Minawati, Rosta; Yulika, Febri; Hanefi, Hanefi
PANGGUNG Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.905

Abstract

ABSTRACTThe music of Saluang Darek wind instrument is Minangkabau traditional music that uses the musical instrument of aerophone classification (air as the main source of vibration) and the kind of end-blown without-block flutes musical instrument, and this musical instrument is used to accompany Minangkabau songs or dendangs. Saluang Darek is made of bamboo. The best bamboos for making Saluang Darek are (1) Talang bamboo (Schizostachyum brachycladum kurz), (2) Buluah Kasok bamboo (Gingantocholoa apus), (3) Tamiang bamboo (Schizostachyum zollingeri steud), and (4) Cimanak bamboo (Schizostachyum longispiculatum). The production of Saluang Darek musical instrument uses the traditional technology by still maintaining the quality of instrument that's ready to be used for the performing arts particularly in accompanying dendang. The method used in this research was the qualitative method by using the approach of organology study. Data were collected through the library research, observation, interview, and documentation. This study found the importance of the musical instrument study in order to give information for the musicologists' and ethnomusicologists' works, at once conserve the musical culture in West Sumatera.Keywords: Saluang Darek, Organology, Aerophone, Traditional technology ABSTRAKMusik tiup Saluang Darek adalah musik tradisional Minangkabau yang menggunakan alat musik klasifikasi Aerophone (udara sebagai sumber getaran utama) dan alat tiup jenis end-blown without-block flutes digunakan untuk mengiringi nyanyian atau dendang Minangkabau. Alat musik Saluang darek terbuat dari bambu, yang paling baik untuk alat musik Saluang adalah (1) bambu  talang ( Schizostachyum brachycladum kurz), (2) bambu buluah kasok (Gingantocholoa apus), (3) bambu tamiang (scizostachyum zollingeri steud), (4) bambu cimanak (Schizotachyum longispiculatum). Pembuatan alat musik Saluang darek menggunakan teknologi tradisional dengan tetap menjaga kualitas alat yang siap dipakai untuk seni pertunjukan dalam mengiringi dendang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian organologi. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Kajian ini mendapati pentingnya   kajian instrumen musik untuk memberikan infomasi dalam pekerjaan musikolog dan etnomusikolog, sekaligus pelestarian budaya musikal di Sumatera Barat. Kata kunci: Saluang darek, Organology, Aerophone, Teknologi tradisional ABSTRACTThe music of Saluang Darek wind instrument is Minangkabau traditional music that uses the musical instrument of aerophone classification (air as the main source of vibration) and the kind of end-blown without-block flutes musical instrument, and this musical instrument is used to accompany Minangkabau songs or dendangs. Saluang Darek is made of bamboo. The best bamboos for making Saluang Darek are (1) Talang bamboo (Schizostachyum brachycladum kurz), (2) Buluah Kasok bamboo (Gingantocholoa apus), (3) Tamiang bamboo (Schizostachyum zollingeri steud), and (4) Cimanak bamboo (Schizostachyum longispiculatum). The production of Saluang Darek musical instrument uses the traditional technology by still maintaining the quality of instrument that's ready to be used for the performing arts particularly in accompanying dendang. The method used in this research was the qualitative method by using the approach of organology study. Data were collected through the library research, observation, interview, and documentation. This study found the importance of the musical instrument study in order to give information for the musicologists' and ethnomusicologists' works, at once conserve the musical culture in West Sumatera.Keywords: Saluang Darek, Organology, Aerophone, Traditional technology ABSTRAKMusik tiup Saluang Darek adalah musik tradisional Minangkabau yang menggunakan alat musik klasifikasi Aerophone (udara sebagai sumber getaran utama) dan alat tiup jenis end-blown without-block flutes digunakan untuk mengiringi nyanyian atau dendang Minangkabau. Alat musik Saluang darek terbuat dari bambu, yang paling baik untuk alat musik Saluang adalah (1) bambu  talang ( Schizostachyum brachycladum kurz), (2) bambu buluah kasok (Gingantocholoa apus), (3) bambu tamiang (scizostachyum zollingeri steud), (4) bambu cimanak (Schizotachyum longispiculatum). Pembuatan alat musik Saluang darek menggunakan teknologi tradisional dengan tetap menjaga kualitas alat yang siap dipakai untuk seni pertunjukan dalam mengiringi dendang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian organologi. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Kajian ini mendapati pentingnya   kajian instrumen musik untuk memberikan infomasi dalam pekerjaan musikolog dan etnomusikolog, sekaligus pelestarian budaya musikal di Sumatera Barat. Kata kunci: Saluang darek, Organology, Aerophone, Teknologi tradisional 
Saluang Dendang Sirompak dalam Tradisi Ritual Magis di Payakumbuh: Satuan Kajian Karakteristik Musikal Ediwar, Ediwar; Hanefi, Hanefi; Minawati, Rosta; Yulika, Febri
PANGGUNG Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i4.1369

Abstract

Saluang dan Dendang Sirompak merupakan bagian tidak terpisahkan dari pertunjukan Sirompak.Pertunjukan difungsikan untuk mempengaruhi orang lain melalui kekuatan magi. Tradisi ba-Sirompak diidentifikasi sebuah komposisi musik bersifat free rhythm. Mantera disajikan melaluikalimat yang disusun untuk mendatangkan kekuatan gaib. Ba-sirompak difungsikan untuk‘mengguna-gunai’ wanita secara ilmu kebatinan (magis). Penelitian ini dilakukan denganmenggunakan metode kualitatif, yaitu data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dandokumentasi. Dalam pengumpulan data digunakan tiga tahap penelitian. yaitu: Pertama,studi kapustakaan untuk mengumpulkan bahan tertulis yang diperlukan sesuai masalah yangditeliti. Kedua, penelitian lapangan untuk mungumpulkan data dengan teknik observasidan wawancara langsung secara mandalam, dengan difokuskan pada rekonstruksi ritual Basirompak.;Ketiga, pengolahan data, dilakukan berupa transkripsi music dalam bentuk notasi,deskripsi, dan analisis data yang siap dijadikan laporan. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui karakteristik musical Saluang Dendang Sirompak dengan mengkaji unsur-unsurmusikal pada pusaran motif, frase, dan periode melodis.Kata Kunci: Ba-sirompak, Karakter musikal, Ritual Magi.
Pendidikan Karakter Berbasis Adat dan Budaya Minangkabau Yulika, Febri; Mulyadi, Mulyadi
JURNAL PEMBELAJARAN DAN MATEMATIKA SIGMA (JPMS) Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Labuhan Batu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpms.v9i1.4212

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Adat dan Syara’ Sebagai Landasan Filosofis Pendidikan Karakter bagi peserta didik di Minangkabau. Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang dapat dijadikan model dan pola penanaman nilai serta pembinaan karakter, yaitu ”Baso Basi, Raso Pareso, dan Adat Salingka Nagari”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, sedangkan teknik pengumpulan data terdiri dari 1) studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah data terkumpul, data tersebut dianalisis secara sistematis dengan metode straregi analisis kualitatif kedalam tulisan ilmiah. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan.
Makna Media Kampanye Bagi Pemilih Pasangan Mahyeldi Dan Audy Joinaldy Pada Pilkada Sumatera Barat Tahun 2020 Ilham, Muhammad; Minawati, Rosta; Yulika, Febri
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jsdb.v8i1.2827

Abstract

Penelitian ini tentang“Makna Media Kampanye Bagi Pemilih Pasangan Mahyeldi Dan Audy Joinaldy Pada Pilkada Sumatera Barat Tahun 2020”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis media kampanye pasangan Mahyeldi dan Audy Joinaldy pada pilkada Sumatera Barat tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan analisis teori desain komunikasi visual, SWOT dan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; pertama, media kampanye menjadi salah satu faktor penentu dalam upaya mendapatkan raihan suara terbanyak, terutama dalam mengkomunikasikan pesan dan tujuan personal branding kepada para pemilih. Adanya logo khusus (MA) pada media kampanye sebagai personal branding kedua pasang calon menjadi daya tarik tersendiri dalam proses kampanye yang dilakukan. Logo MA (Mahyeldy Audy) selalu muncul dalam setiap media kampanye yang dipublikasikan seperti spanduk, baliho, umbul-umbul dan media kampanye lainnya; Kedua, terdapatnya bentuk media utama dan media pendukung, saling berkaitan serta konsisten bentuk media kampanye yang digunakan. Media utama seperti logo, adanya keunikan simple, sederhana, elegant, identitas minangkabau, serta menarik perhatian sedangkan media pendukung seperti baliho, umbul-umbul, spanduk saling konsisten, keseragaman, unik dari segi figure atau foto, tagine, ikon logo, tipografi, dan warna. Makna media terdapat dari segi beberapa pandangan diantaranya komunikasi politik, antropologi politik, sosiologi politik dan lainnya.
VALUE CONSTRUCTION OF MANYANDA TRADITIONAL AT NAGARI TALANG, SOLOK DISTRICT Rizki, Muhammad; Yulika, Febri
Journal of Learning on History and Social Sciences Vol. 1 No. 6 (2024): European Journal of Learning on History and Social Sciences
Publisher : PT. Antis International Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61796/ejlhss.v1i6.663

Abstract

This research aims to examine the construction of values in the Manyanda tradition. The type of research used in this research is a qualitative research method with a case study approach. The data collection techniques used in this research are through observation, interviews and documentation. The research results obtained from the field are as follows: The Manyanda tradition is a valuable tradition in the lives of the people of Nagari Talang, Solok District as one part of the traditional death procession. It has existed for a long time as part of the social structure of society, and still survives today. However, based on findings in the field, there are a number of differences in perception between various groups in understanding the value construction of the Manyanda tradition. The Nagari elite such as traditional elders, niniak mamak, cadiak pandai and bundo kanduang have different understandings from society in general, especially among the younger generation. There is a shift in the value of the manyanda tradition from a social obligation as a form of replacing the position of a person who dies socially to just being a traditional obligation. This difference in understanding and perception has an impact on a shift in the meaning of the manyanda tradition for the community at Nagari Talang
Phenomenological Research in Art Studies: A Robust Framework for Aesthetic Inquiry Sunarto, Bambang; Yulika, Febri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol. 25 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v25i2.1398

Abstract

This article examines aesthetic experience as a central focus in art research, a field complicated by its inherent subjective and objective dimensions. It proposes a phenomenological methodological framework designed to balance the objective analysis of artworks with a subjective understanding of individual experience. The recommended methods are grounded in core phenomenological principles, including an emphasis on lived experience, the application of epoché (the bracketing of preconceptions), phenomenological reductions for uncovering essences, and the description of essential experiences. The article demonstrates that phenomenological approaches can systematically accommodate the depth of subjective experience and the personal nature of art, while maintaining the analytical rigor essential for academic research. Notably, this article presents a coherent methodological approach for examining aesthetic experience, effectively bridging the gap between scientific rigor and aesthetic sensibility, and thereby fostering a richer, deeper understanding of how art is experienced and interpreted. 
Makna Simbolik Tradisi Besuapi di Nagari Taluk, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat: Perspektif Antropologi Budaya Lestari, Engga; Yulika, Febri
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5, No 1 (2026): January 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i1.7960

Abstract

Skripsi ini mebahas Makna Tradisi Besuapi di Nagari Taluk, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat. Latar belakang penelitian ini merupakan salah satu tradisi budaya lokal yang masih di pertahankan masyarakat Nagari Taluk. Tadisi ini tidak hanya sebagai ritual tetapi mengandung makna simbol budaya yang di wariskan secara turun-temurun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis makna simbolik yang terkandung dalam tradisi besuapi. Metode penelitian yang di gunakan adalah kualitatif dengan pendekatan Antropologi Budaya dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan mengunakan analisis perspektif interpretatif simbolik Clifford Geertz. Hasil penelitian bahwa bagian dari pulut, wajik, nasi tumpang, ikan sepat laut, dadiah, manisan, penyaram, pisang, jeroan dan telur memiliki makna tersendiri. Kesimpulan bahwa tradisi besuapi bukan hanya ritual tetapi nilai-nilai adat, agama, dan kebersamaan menjadi identitas masyarakat Nagari Taluk.
The Prevention of Sexual Violence Against Women Based on Minangkabau Local Wisdom Fithri, Widia; Yulika, Febri; Ermagusti, Ermagusti
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 15, No 2 (2022): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v15i2.16373

Abstract

This paper aims to explain the local wisdom used in preventing sexual violence against women in West Sumatra Province. This type of research uses a PAR approach through management planning, actuating, organizing, and reflecting. Data were analyzed descriptively using data reduction, display, and verification. The findings of this study show that Aisiyah organization used the local wisdom to change people’s mindsets in seeing victims of sexual violence as figures that need to be strengthened together. The Minangkabau traditional order, which is based on customs and religion, is a comprehensive guide to governing people’s lives, particularly in the Minangkabau community. Minangkabau customs’ philosophical values of adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah place women to a noble position. Women are the limpapeh rumah nan gadang, or the pillars of rumah gadang, which symbolize honor and glory. Women, as bundo kanduang, become symbols both physically and personality because they know how to behave in good manners and how to dress appropriately.
Tradisi Maanta Nasi Sapek Dalam Adat Pernikahan di Nagari Rao Rao Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar Nazhifah Amalia; Febri Yulika
Buletin Antropologi Indonesia Vol. 2 No. 3 (2025): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/bai.v2i3.4726

Abstract

Tradisi maanta nasi sapek adalah sebuah kebiasaan yang di lakukan dalam rangkaian adat pernikahan di Nagari Rao Rao, Kabupaten Tanah Datar. Tradisi ini sebuah kebiasaan yang di lakukan secara berulang dan memiliki peran penting dalam adat pernikahan, nasi sapek adalah nasi kuning yang di hiasi dengan seekor ayam. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana prosesi tradisi maanta nasi sapek dan makna simbolis dalam tradisi tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa maanta nasi sapek bukan sekadar simbol pemberian makanan, namun juga melambangkan penghormatan, permohonan restu, dan penguatan hubungan antara dua keluarga besar. Tradisi ini menegaskan nilai-nilai kerjasama, kesopanan, dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Jenis penelitian yang di gunakan adalah jenis penelitian kualitatif teknik pengumpulan data yang mengamati kondisi objek secara alami dan teknik pengumpulan data yang di lakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teori yang di gunakan adalah teori interpretatif simbolik oleh Clifford Geertz yang mengartikan betapa pentingnya makna, simbol, dan pemahaman dalam mengekspolari tindakan manusia dalam interaksi sosial. Dalam metode ini penulis menggunakan teori kebudayaan sebagai sistem simbol, yaitu kebudayaan yang tersusun berdasarkan makna yang terkandung dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi manta nasi sapek di persiapkan oleh pihak bako (keluarga dari pihak ayah) mempelai wanita, nasi sapek ini di bawa dengan cara di taruh di atas kepala yang kemudian diarak oleh bako pihak mempelai wanita dan di ikuti oleh anggota keluarga dan kerabat lainnya, kemudian di serahkan kepada keluarga mempelai wanita. Di malam hari, nasi sapek disajikan untuk kedua pasangan mempelai yang di sertai dengan canda tawa para ibuk ibuk atau wanita yang belum menikah sebagai bentuk penghargaan dan tanda dukungan di terimanya pernikahan ini.
Co-Authors A Admiral Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid, Abdul Majid Adrias Agung Eko Budi Waspada Ahmad Akmal Anak Agung Istri Agung Citrawati Andri Maijar Apriliana Apriliana Aprisia, Siska Ardi Rahmad Arianto, Tomi Asril Asril Azhari Akmal Tarigan Azizah Panduwinata Bambang Sunarto Benny Ridwan Benny Ridwan Benny Ridwan Dewi, Susi Fitria Dharsono Dharsono Dharsono Sony Kartika Edi Satria Edi Satria Ediwar Ediwar Elisabeth, Noprita Endrizal Erlina Pantja Sulistijaningtijas Ermagusti Ermagusti Ermagusti Ermagusti Febrian Martha Fithri, Widia Frastica, Yuliana Garaika Hakim, Atthoriq Chairul Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi, Hanefi Haq, Chairul Hasnah Anita Putri, Hasnah Anita Putri Hijratur Rahmi Ibnu Sina ikhsan, Dipo Ikhwanuddin Harahap Ilham, Muhamad Indra Maulana Intan Tursina Iswandi Syahputra Iswandi Syahputra Iswandi Syahputra Ivo Ramadhani Jelly Jelly Kartika, Dharsono Sony Lestari, Engga Masta, Putri Khairina Mauladi, Muhammad Farhan Mirda Aryadi Miswar, Vanesha Muhammad Ilham Muhammad Rizki Muhammad Rizki MULYADI Mulyadi Mulyadi Mutia Kahanna Nazhifah Amalia Nofi Rahmanita Nofialdi Nofialdi Nofialdi, Nofialdi Nurhayati Nurhayati Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Panjaitan, Sri Wahyuni Putra, Diki Pratama Rahmatika, Safara Fitri Rahmawati, Mila Rahmi Rahmi Rahmi, Hijratur Reza Sastra Wijaya Roby Masfian Dori Rosta Minawati Safarra Fitri Rahmatika Sakti, Reza Ginandha Selvi Kasman Septriani Septriani Septriani, Septriani Shindi Amanta Wulandari Siregar, Fatahuddin Aziz Siska Aprisia Sri Wahyuni Susas Rita Loravianti Syafwandi, Syafwandi Taufik Akbar Twidi Ramadhani Ulfa Putrinilam Sari Viona Anggia Putri Waspada, Agung Eko Budi Widia Fithri Wijaya, Reza Sastra Wirdanengsih, Wirdanengsih Wisnu Prastawa Yetty Oktayanty Yulimarni Yulimarni