Claim Missing Document
Check
Articles

Komodifikasi Budaya Tradisi Pacu Jawi Di Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat Mauladi, Muhammad Farhan; Yulika, Febri; Rahmi, Rahmi
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 2, No 1 (2023): Vol 2, No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v2i1.3362

Abstract

Penelitian yang berjudul “Komodifikasi Budaya Tradisi Pacu Jawi Di Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat” bertujuan untuk mengetahui tentang latar belakang komodifikasi dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam tradisi pacu jawi. Penelitian ini dilatar belakangi karena melihat adanya “kemasan” yang berbeda dari tradisi pacu jawi. Tradisi pacu jawi merupakan tradisi daerah Kabupaten Tanah Datar yang bertujuan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan studi lapangan dengan cara observasi dan wawancara secara mendalam dengan informan berjumlah enam orang. Penelitian ini menggunakan teori komodifikasi. Komodifikasi diartikan sebagai bentuk proses mengemas dari sesuatu yang awalnya memiliki nilai fungsi hingga berubah menjadi nilai komoditi. Komodifikasi budaya diartikan sebagai suatu tindakan yang menjadikan unsur-unsur budaya menjadi suatu hal yang bernilai ekonomi. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Komodifikasi budaya terjadi karena adanya ciri khas dan nilai eksotis pada tradisi pacu jawi, berupa balapan sapi di atas sawah yang berlumpur dan memiliki nilai-nilai atau makna yang terkandung didalam-nya menjadi daya tarik pemerintah daerah dan pengelola tradisi ini untuk melakukan pengembangan dan penyesuaian agar bertahan hingga masa sekarang. Komodifikasi pacu jawi di Tanah Datar mengakibatkan adanya perubahan tujuan pelaksanaan, tata cara pelaksanaan, dan waktu pelaksanaan pacu jawi. Pengembangan Pacu Jawi menjadi objek wisata telah memberikan dampak yang sesuai dengan apa yang diharapkan seperti peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, wadah untuk masyarakat setempat membuka bentuk usaha baru, dan jasa yang menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar.
THE STRATEGY OF INSTITUTIONALITY OF PANCASILA VALUES IN THE PERSPECTIVE OF THE CULTURE OF THE MINANGKABAU CULTURE Yulika, Febri; Mulyadi; Haq, Chairul; Miswar, Vanesha
Academic Journal Research Vol. 3 No. 2 (2025): Academic Journal Research
Publisher : Antis Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61796/acjoure.v3i2.355

Abstract

Objective: Pancasila is extracted from the cultural treasures of the Indonesian nation itself, from the results of long and continuous interactions with various elements of the Indonesian nation which are diverse and of various colors, with various accompanying situations. Method: The noble values of Pancasila are excavations and filters of customary elements that exist and are spread throughout the archipelago. That is why Pancasila is very suitable to be used as a guideline and way of life, a guide for the life of the Indonesian people, more than any other philosophy that has ever appeared, was born and tested in the history of the Indonesian nation. Result: Materially Pancasila has fundamental values which are the crystallization of various local wisdoms. This proves that the noble basic values of Pancasila, among others, can be extracted from the Minangkabau customary sayings, which are sources and treasure troves of pearls of wisdom that contain very deep meanings. Novelty: The philosophy contained in the expression of the Minangkabau customary saying and the values of Pancasila, at least the two go hand in hand and synergize with each other in providing a philosophical basis for the life of the Indonesian nation. Efforts and strategies for institutionalizing Pancasila values based on local wisdom values must always be carried out in parallel and synergistic ways.
The Symbolic Meaning of the Lemon Basidakah Tradition in Nagari Kinari, Bukit Sundi District, Solok Regency, West Sumatra Province Rahmawati, Mila; Yulika, Febri
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 4 No. 3 (2025): Vol. 4 No. 3 2025
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v4i3.846

Abstract

This research is entitled "The Tradition of Basidakah Limau in Nagari Kinari, Bukit Sundi District, Solok Regency, West Sumatra Province". The purpose of this study is to describe the procession of the lime basin tradition in Nagari Kinari and to describe the symbolic meaning of the lime basin tradition. The theory used in this study is the symbolic interpretive theory of Clifford Geertz. The methods used in this study were carried out by observation, interview and documentation methods. The data analysis technique in this study uses steps including data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. The results of this study show that the procession of the lime basidakah tradition starts from determining the date and day, making pucuak, making musajik-musajik cakes, making lime water, picking up pucuak by pasumandan to the place where pucuak is made, the lime sidakah event takes place, and the delivery of pucuak to the cemetery by Pasumandan. Furthermore, the symbolic meaning of the lime basidakah tradition is pucuak which means as an intermediary or the meaning of apology for people who have died, banana stems mean the Nagari Kinari community which is the foundation and support of tradition, carano means traditional meaning and also the meaning of respect for ancestors, flowers mean life and beauty, musajik-musajik cakes means hope for life that is lived full of sweetness and always an abundance of affection, lime water means to cleanse the heart and mind from bad intentions, grudges, or past mistakes and also symbolizes hope and renewal of life, baju bundo kanduang means depicting the role, dignity, and responsibility of women in Minangkabau, and coins mean alms and generosity.
The Forbidden Forest Myth as a Social and Ecological Asset in the Kajang Community Dewi, Susi Fitria; Yulika, Febri; Wirdanengsih, Wirdanengsih; Maijar, Andri; Sulistijaningtijas, Erlina Pantja; Sakti, Reza Ginandha
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/peuradeun.v13i3.1456

Abstract

The construction of the forbidden forest myth within the Kajang indigenous community of South Sulawesi, Indonesia, transcends mere social practice, serving as a potential asset in natural resource management rooted in local wisdom—a crucial aspect that remains underexplored in existing literature. This study aims to address this research gap by elucidating the characteristics, factors, and implications of the forbidden forest myth’s construction as a valuable resource in ecologically-based natural resource management. Employing a qualitative descriptive case study approach, this study reveals three significant findings. Firstly, the forbidden forest myth constructed by the Kajang indigenous people has evolved into a social institution governing the management and utilization of natural resources. Secondly, the myth’s influence permeates virtually all aspects of Kajang’s indigenous life. Thirdly, the construction of this myth has fostered a proactive attitude towards natural resource management and utilization within the Kajang community. This study also recommends comparative analyses of values, norms, and local wisdom across various indigenous communities in the context of natural resource management practices.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ULAKAN TAPAKIS MELALUI PENGEMBANGAN DESAIN PRODUK ANYAMAN PANDAN Yulika, Febri; yulimarni, yulimarni; Rahmanita, Nofi
Batoboh Vol 2, No 2 (2017): Batoboh -Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v2i2.350

Abstract

Nagari Ulakan Kabupaten Padang Pariaman memiliki potensi alam, berupa tumbuhan pandan. Masyarakat setempat memanfaatkan tumbuhan pandan tersebut sebagai bahan baku pembuatan anyaman. Keahlian menganyam berlangsung secara turun temurun yang diproduksi dalam bentuk tikar. Tikar yang dihasilkan masyarakat nagari Ulakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk acara keagamaan, kematian maupun acara perkawinan. Namun produk anyaman pandan tersebut tidak begitu berkembang, sehingga produk yang dihasilkan tidak dapat menjangkau segmen pasar yang luas. Sehubungan dengan hal itu dilakukan kegiatan pelatihan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengembangan desain produk anyaman Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan demonstrasi. Melalui kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas produk anyaman pandan masyarakat Nagari Ulakan melalui metode pengembangan desain produk anyaman sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU MELALUI PELATIHAN PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH Yulika, Febri; Kasman, Selvi; Masta, Putri Khairina
Batoboh Vol 1, No 2 (2016): Batoboh -Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v1i2.140

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru-guruSekolah Dasar Negeri Dharma Caraka dalam membuat tulisan ilmiah terkait laporan hasil penelitian tindakan kelas. Masalah yang dihadapi oleh paraguru Sekolah Dasar Negeri Dharma Caraka adalah kurang termotivasi untuk membuat tulisan ilmiah disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan dan kemampuan terkait kiat-kiat membuat tulisan ilmiah, dan kurangnya waktu karena kesibukan para guru melaksanakan tugas pokok menjalankan proses belajar mengajar. Metode yang dipergunakan adalah ceramah dan demonstrasi dalam menyampaikan materi pelatihan, serta pengaplikasian materi ke bentuk pelatihan membuat tulisan ilmiah yang diarahkan untuk membuat proposal dan laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pengabdian ini diharapkan dapat memotivasi dan meningkatkan pengetahuan para guru tentang bagaimana cara membuat tulisan ilmiah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan tulisan ilmiah terkait proposal, laporan hasil penelitian tindakan kelas dan makalah ilmiah. Pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh guru pada pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi, kapasitas dan profesionalitas para guru sebagai pendidik.
THE MAKING OF CULTURAL VILLAGE IN NAGARI JAWI JAWI, GUNUNG TALANG DISTRICT, SOLOK PROVINCE, WEST SUMATERA Admiral, Admiral; Yulika, Febri; Citrawati, Anak Agung Istri Agung; Rahmatika, Safara Fitri
Batoboh Vol 4, No 1 (2019): BATOBOH : JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v4i1.702

Abstract

Nagari Jawi-Jawi is one area that has a very rich artistic, cultural and literary potential. This is evidenced by the stretching of the activities of cultural arts centers which are held almost every month. To become a developed Cultural Village and tourism destination, there should be attention from the local government, universities, and the private sector to develop its potential. The target to be achieved from the implementation of this program for the people of Nagari Jawi-Jawi, is Services and Training. The approach to help partners, in this case Nagari Jawi Jawi in the effort to be Cultural Village, is conducted in form of counseling and training carried out by the method of lecture and demonstration.
Makna Sosial Di Balik Fenomena Anak Penjaja Makanan : Studi Etnografi Pekerja Anak di Kota Padang Panjang Frastica, Yuliana; Yulika, Febri; Rahmi, Hijratur
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 2, No 1 (2023): Vol 2, No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v2i1.3331

Abstract

Penelitian ini berjudul “Makna Sosial Di Balik Fenomena Anak Penjaja Makanan: Studi Etnografi Pekerja Anak Di Kota Padang Panjang.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang melatarbelakangi keterlibatan anak-anak dalam pekerjaan sebagai penjaja makanan di Kota Padang Panjang serta menganalisis dampak sosial, pendidikan, dan psikologis yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut. Kajian ini menggunakan teori fenomenologi Alfred Schutz untuk memahami makna subjektif tindakan sosial anak-anak pekerja, serta teori kemiskinan kultural Oscar Lewis sebagai kerangka analisis terhadap kondisi sosial-ekonomi keluarga yang melatarbelakanginya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor utama yang mendorong anak-anak bekerja sebagai penjaja makanan, yaitu keterbatasan ekonomi keluarga, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, faktor kebiasaan yang diwariskan, serta kondisi lingkungan rumah yang kurang kondusif. Keterlibatan anak-anak dalam aktivitas menjajakan makanan berdampak signifikan terhadap kehidupan mereka, meliputi terganggunya proses pendidikan formal, penurunan kondisi kesehatan akibat kelelahan dan paparan lingkungan kerja, serta munculnya risiko kekerasan fisik dan psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa fenomena pekerja anak di Kota Padang Panjang tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial dan budaya kemiskinan yang kompleks.
The Existence of Among Among Lahiran in Jorong Sungai Lambai Nagari Lubuk Gadang Selatan District South Solok Province West Sumatra ikhsan, Dipo; Febri Yulika; Edi Satria
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 2 No. 3 (2023): Vol. 2 No. 3 2023
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v2i3.220

Abstract

This study discusses the existence of Among-among birth in Jorong Sungai Lambai, Lubuk Gadang Selatan, South Solok Regency. The purpose of this study is to find out how the existence of the Among-among tradition and also the procedures for implementing the Among-among tradition in the Lambai River area. The theories used in this study are existentialism and structural functional theories. The existence of Among-among tradition in the community so that it can survive until now in the midst of modern society. The method used is qualitative research with an ethnographic approach. Data collection techniques are observation, interviews, literature studies, and documentation. . The findings in this study are that the Lambai River community carries out the Among-among tradition of birth with an uncomplicated process, the conditions in its implementation are so easy to find around their residence. The existence of this tradition is very meaningful for the community for further survival.
Bakawugh Tradition In Nagari Sumpur Kudus Sijnjung District West Sumatera Province Hasnah Anita Putri, Hasnah Anita Putri; Febri Yulika; Mutia Kahanna
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 2 No. 3 (2023): Vol. 2 No. 3 2023
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v2i3.224

Abstract

  This thesis entitled “Bakawugh Tradition in Nagari Sumpur Kudus Sijunjung west Sumatera Province” The purpose of this research is to regency describes the bakawugh tradision carried out by the community in Nagari Sumpur Kudus. The theory used in this thesis is symbolic interpretative theory by Clifford Geertz. The medhod used by the author is qualitativemethod, with data collection techniques namely observation, interview, and dokumentation. The results of the study show that the background of the bakawugh tradition comes from the idea of Syekh Ibrahim himself in 1520. In general, the meaning of the bakawugh tradition is thanksgiving, gathering and practicing the charakteristics of Syekh Ibrahim. Social, respect of mind, patience and struggle, togetherness, and hope. Furthermore there are meanings in the contents of jambaigh such as the meaning of peace, purity, freedom, simplicity and ease, unity, tenderness, kinship and closeness, closeness, brotherhood.
Co-Authors A Admiral Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid, Abdul Majid Adrias Agung Eko Budi Waspada Ahmad Akmal Anak Agung Istri Agung Citrawati Andri Maijar Apriliana Apriliana Aprisia, Siska Ardi Rahmad Arianto, Tomi Asril Asril Azhari Akmal Tarigan Azizah Panduwinata Bambang Sunarto Benny Ridwan Benny Ridwan Benny Ridwan Dewi, Susi Fitria Dharsono Dharsono Dharsono Sony Kartika Edi Satria Edi Satria Ediwar Ediwar Elisabeth, Noprita Endrizal Erlina Pantja Sulistijaningtijas Ermagusti Ermagusti Ermagusti Ermagusti Febrian Martha Fithri, Widia Frastica, Yuliana Garaika Hakim, Atthoriq Chairul Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi, Hanefi Haq, Chairul Hasnah Anita Putri, Hasnah Anita Putri Hijratur Rahmi Ibnu Sina ikhsan, Dipo Ikhwanuddin Harahap Ilham, Muhamad Indra Maulana Intan Tursina Iswandi Syahputra Iswandi Syahputra Iswandi Syahputra Ivo Ramadhani Jelly Jelly Kartika, Dharsono Sony Lestari, Engga Masta, Putri Khairina Mauladi, Muhammad Farhan Mirda Aryadi Miswar, Vanesha Muhammad Ilham Muhammad Rizki Muhammad Rizki MULYADI Mulyadi Mulyadi Mutia Kahanna Nazhifah Amalia Nofi Rahmanita Nofialdi Nofialdi Nofialdi, Nofialdi Nurhayati Nurhayati Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Panjaitan, Sri Wahyuni Putra, Diki Pratama Rahmatika, Safara Fitri Rahmawati, Mila Rahmi Rahmi Rahmi, Hijratur Reza Sastra Wijaya Roby Masfian Dori Rosta Minawati Safarra Fitri Rahmatika Sakti, Reza Ginandha Selvi Kasman Septriani Septriani Septriani, Septriani Shindi Amanta Wulandari Siregar, Fatahuddin Aziz Siska Aprisia Sri Wahyuni Susas Rita Loravianti Syafwandi, Syafwandi Taufik Akbar Twidi Ramadhani Ulfa Putrinilam Sari Viona Anggia Putri Waspada, Agung Eko Budi Widia Fithri Wijaya, Reza Sastra Wirdanengsih, Wirdanengsih Wisnu Prastawa Yetty Oktayanty Yulimarni Yulimarni