Aryanti Wardiyah, Aryanti
Unknown Affiliation

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Edukasi pencegahan tuberculosis (TBC) pada anak di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung Setiawati, Setiawati; Juana, Rika; Alam, Rama Rajasa Ferlanda; Istawala, Anggun; Dhitya, Ray Krisna; Safitri, Hilda Meilinda; Irgi, Muhammad; Saputri, Maida; Muarif, Muhammad Syamsul; Kusumaningsih, Dewi; Wardiyah, Aryanti; Novikasari, Linawati
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.493

Abstract

Background: Tuberculosis can be transmitted to children when active TB sufferers cough, talk, sneeze, sing, or speak without a mask or personal protective equipment. It is estimated that more than 20,000 cases of childhood tuberculosis occur in Indonesia each year. Indonesia is the country with the second highest number of tuberculosis cases in the world after India. Given that this disease is a dangerous disease, there needs to be sufficient public awareness and understanding of this disease. Purpose : Increase public knowledge about preventing TB transmission in children. Method: Implementation of activities using the lecture method, namely presenting material on preventing tuberculosis in children to participants by conducting interactive discussions. Education is also provided by providing instructions on how to prevent tuberculosis transmission in children. The supporting media used are leaflets and banner stands. Results: In this community service activity, most participants were able to answer well and understood the material presented. This program will be continued to find out how successful it is in increasing knowledge and its application in the work area of ​​the Kedaton Health Center, Bandar Lampung City. Participants were also enthusiastic about asking questions about the material provided. Conclusion: Educational activities to prevent TB transmission in children are very effective in increasing parental knowledge in protecting children from the negative impacts of tuberculosis transmission. Keywords: Children; Prevention; Tuberculosis transmission; Tuberculosis. Pendahuluan: Penyakit TBC dapat menular pada anak ketika penderita TBC aktif batuk, berbicara, bersin, bernyanyi, atau berbicara tanpa masker atau alat pelindung diri. Diperkirakan lebih dari 20.000 kasus tuberculosis anak terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberculosis tertinggi kedua di dunia setelah India. Mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang berbahaya, maka perlu adanya kesadaran dan pemahaman masyarakat yang cukup terhadap penyakit ini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penularan TB pada anak-anak. Metode: Pelaksanaan kegiatan dengan metode ceramah yaitu mempresentasikan materi mengenai pencegahan tuberculosis pada anak kepada para peserta dengan melakukan diskusi interaktif. Edukasi diberikan juga dengan memberikan petunjuk mengenai cara pencegahan penularan tuberculosis pada anak. Dengan media bantu yang digunakan adalah leaflet dan stand banner. Hasil: Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, sebagian besar peserta dapat menjawab dengan baik dan cukup memahami dari materi yang disampaikan. Program ini akan dilanjutkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya yang adanya peningkatan pengetahuan dan penerapannya di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung. Peserta juga berantusias melakukan tanya jawab mengenai materi yang diberikan. Simpulan: Kegiatan edukasi pencegahan penularan TB pada anak sangat efektif dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dalam melakukan perlindungan terhadap anak dari dampak buruk penularan tuberculosis.
Faktor sosial ekonomi dengan Kejadian anemia pada remaja putri Rizka, Mahda; Rilyani, Rilyani; Wardiyah, Aryanti
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v4i2.687

Abstract

Abstract Background: Anemia is a common problem among teenagers, especially young women. The cause is poor diet which has an impact on the nutritional status of the younger generation. Normal Hb levels in adolescent girls are (>12 g/dl). The incidence of anemia in adolescent girls is 29%. One of the factors causing anemia is socio-economic factors. Purpose: To determine the comparison of anemia with socioeconomic factors in adolescent girls at SMAN 7 and SMAN 14 in Kemiling, Bandar Lampung in 2024. Method: This is a quantitative study using a cross-sectional approach. The population consisted of adolescent girls from SMAN 7 and SMAN 14, totaling 261 respondents. The sampling technique used was random sampling. Results: In SMAN 14, 14.1% of students have abnormal menstrual periods and 85.9% have normal periods. In SMAN 7, 21.4% have abnormal menstrual periods and 78.6% have normal periods. In SMAN 14, 59.2% are anemic and 40.8% are non-anemic. In SMAN 7, 48.6% are anemic and 51.4% are non-anemic. In SMAN 14, 8.4% of parents have low education and 91.6% have high education; 22% of parents are unemployed and 78% are employed; 67.5% of parents have low income and 32.5% have high income. In SMAN 7, 7.1% of parents have low education and 92.9% have high education; 1.4% of parents are unemployed and 98.6% are employed; 65.7% of parents have low income and 34.3% have high income. Conclusion: In SMAN 14, out of 191 respondents, 113 (59.2%) are anemic, 175 (91.6%) have high parental education, 149 (78%) have employed parents, and 129 (67.5%) have low parental income. Low economic status leads to nutritional limitations for children.   Pendahuluan: Anemia merupakan masalah yang umum terjadi di kalangan remaja, khususnya remaja putri. Penyebabnya adalah pola makan yang buruk sehingga berdampak pada status gizi generasi muda. Kadar Hb normal pada remaja putri adalah (>12 g/dl) Kejadian anemia pada remaja putri adalah 29%. Salah satu faktor penyebab anemia adalah faktor sosial ekonomi. Tujuan: Untuk diketahuinya perbandingan Anemia dengan Faktor sosial ekonomi pada remaja putri di SMAN 7 dan SMAN 14 di Kemiling Bandar Lampung tahun 2024. Jenis penelitian yang di gunakan kuantitatif. Metode: Menggunakan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah remaja putri di SMAN 7 dan SMAN 14 sejumlah 261 responden. Teknik sampling yang di gunakan random sampling. Hasil: Lama menstruasi di SMAN 14 sebanyak 14.1% tidak normal dan 85.9% normal. Sedangkan di SMAN 7 lama menstruasi 21.4% tidak normal dan 78.6% normal. Anemia di SMAN 14 sebanyak 59,2% anemia dan 40,8% tidak anemia. Sedangkan di SMAN 7 sebanyak 48.6% anemia dan 51,4% tidak anemia. Di SMAN 14 pendidikan orang tua 8,4% rendah dan 91.6% tinggi, pekerjaan orang tua 22% tidak bekerja dan 78% bekerja, pendapatan orang tua 67.5% rendah dan 32.5% tinggi. Sedangkan di SMAN 7 pendidikan orang tua 7.1% rendah dan 92.9% tinggi, pekerjaan orang tua 1.4% tidak bekerja dan 98.6% bekerja, pendapatan orang tua 65.7% rendah dan 34.3% tinggi. Simpulan: Di SMAN 14 anemia 113 responden (59.2%), pendidikan orang yang tinggi 175 responden (91.6%), pekerjaan orang tua yang bekerja 149 responden (78%), pendapatan orang tua yang rendah 129 responden (67.5%). Karena ekonomi yang rendah menyebabkan anak mengalami keterbatasan untuk mendapatkan gizi yang seharusnya.
Edukasi Pencegahan Dan Pertolongan Pertama Demam Berdarah Dengue Pada Anak Wardiyah, Aryanti; Juliawan, Ladin
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 Mei 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v7i1.18779

Abstract

Demam berdarah dengue atau DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti.Gejala demam berdarah pada anak yang menderita demam berdarah seringkali diartikan sebagai gejala pilek atau infeksi virus jenis lain. Demam berdarah dengue (DBD)  yang semakin parah pada tubuh anak karena adanya kebocoran plasma dan gejala yang terlihat seperti pembengkakan, tekanan, perut buncit, dan beberapa pendarahan spontan di beberapa bagian tubuh menimbulkan dampak negatif. Sampai saat ini, belum ada pengobatan khusus untuk  demam berdarah dengue. Menjaga volume cairan  pasien sangat penting dan dilakukan sesuai pedoman hematokrit tergantung stadium penyakitnya. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berkerjasama dengan Puskesmas Kemiling Kota Bandar Lampung berlangsung pada Sabtu, 07 Desember 2024. Puskesmas Kemiling memberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan yaitu menggunakan metode sosialisasi. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan mengadakan sesi tanya jawab dengan responden yang hadir dan memberikan pertanyaan mengenai materi yang telah disampaikan kepada responden.Kata Kunci : Edukasi, Demam Berdarah Dengue, Anak
Pemberdayaan Kader Dan Keluarga Sebagai Motivator Asi (Kemasi) Untuk Pencegahan Stunting Secara Dini Wardiyah, Aryanti; Lathifah, Neneng Siti; Sari, Nova Nurwinda; Sutiyoko, Adi; Syakilah, Siti; Dora, Miranti Dea
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 Mei 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v7i1.19865

Abstract

Stunting  masih  menjadi  salah  satu  permasalahan  gizi  utama  hingga  saat  ini  pada  anak  di Indonesia pada tahun 2021 terdapat prevalensi balita yang mengalami stunting sebesar 24,4%. Untuk meningkatkan pencapaian target ASI Ekslusif serta pencegahan stunting secara dini, perlu peran masyarakat dalam mendukung keberhasilan ASI. Diperlukan upaya peningkatan motivasi kepada masyarakat  untuk  memberikan ASI  Ekslusif.  Puskesmas  Simpur  mempunyai  Kelompok  Kader Kesehatan Simpur (KKS). Terdapat masalah masih kurangnya pengetahuan  anggota  KKS  terkait ASI Eksklusif, dibentuk Kelompok Motivator ASI (KEMASI) yang memberikan motivasi pemberian ASI eksklusif yang lebih dekat pada masyarakat dengan memberi alat edukasi, aplikasi dan pengetahuan yang dibutuhkan. Terdapat peningkatan pengetahuan dalam aspek manajemen sumber daya dan ada peningkatan pengetahuan tentang menyusui dari kategori rendah sebanyak 65,62%% menjadi baik 86,81%. Ada peningkatan pengetahuan tentang manajemen SDM Kader dari 65,62 menjadi 86,81% Kesimpulan terbentuknya kelompok motivator ASI dapat meningkatkan pengetahuan bagi ibu menyusui dan pengetahuan manajemen SDM Kader.  Kata Kunci : ASI,Kader,Motivatro ABSTRACT Stunting is still one of the main nutritional problems currently among children in Indonesia. In 2021, the prevalence of toddlers experiencing stunting was 24.4%. To increase the achievement of exclusive breastfeeding targets and prevent stunting early, the community needs to play a role in supporting the success of breastfeeding. Efforts are needed to increase motivation for the community to provide exclusive breastfeeding. Simpur Community Health Center has a Simpur Health Cadre Group (KKS). There is a problem that KKS members still lack knowledge regarding exclusive breastfeeding. A Breastfeeding Motivator Group (KEMASI) was formed which provides motivation for exclusive breastfeeding that is closer to the community by providing the educational tools, applications and knowledge needed. There is an increase in knowledge in aspects of resource management and there is an increase in knowledge about breastfeeding from the low category of 65.62% to good 86.81%. There was an increase in knowledge about Cadre HR management from 65.62 to 86.81%. Conclusion: The formation of a breastfeeding motivator group can increase knowledge for breastfeeding mothers and knowledge of Cadre HR management. Keywords : ASI,Cader,Motivator
The Dominant Factor Affecting Quality Of Life In High-Risk Postpartum Mothers Andriyani, Veni; Wardiyah, Aryanti; Gunawan, Muhammad Ricko
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 9, No 4 (2023): Volume 9 No. 4 Oktober 2023
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v9i4.12109

Abstract

Pendahuluan: Angka kematian ibu mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2020 yaitu dari 115 kasus menjadi 187 kasus. Angka kematian bayi di Provinsi Lampung tahun 2019 sebesar 10,25%/1.000 kelahiran hidup, angka kematian ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 9,17%/1.000 kelahiran hidup.Tujuan: Diketahui faktor dominan yang mempengaruhi kualitas hidup ibu postpartum berisiko tinggi di rumah sakit pertamina bintang amin tahun 2023.Metode: Jenis penelitian yang diguakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan survei analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel 48 responden.Hasil: Hasil penelitian dengan hasil uji statistik Chi-Square dan uji korelasi kendall’s tau membuktikan bahwa ada hubungan antara variabel usia, pendidikan, penghasilan, paritas dan riwayat abortus terhadap kualitas hidup postpartum berisiko tinggi dengan p-value (0,010), (0,003), (0,040), (0,001)dan (0,005). Faktor  yang paling dominan yang mempengaruhi kualitas hidup postpartum beisiko tinggi adalah Pendidikan dengan  p-value 0,011 dan dengan nilai OR 7.512.Simpulan: Berdasarkan hasil anaisis multivariat dapat diambil simpulan bahwa faktor yang paling dominan atau berpengaruh terhadap kualitas hidup ibu postpartum di RS Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung adalah Pendidikan dengan nilai OR 7.512. Kata Kunci: Kualitas Hidup,Ibu Postpartum Berisiko Tinggi ABSTRACT Introduction: The maternal mortality rate has increased compared to 2020, namely from 115 cases to 187 cases.  The infant mortality rate in Lampung Province in 2019 was 10.25%/1,000 live births, this mortality rate increased when compared to 2017 of 9.17%/1,000 live births.Purpose: It is known that the dominant factors affecting the quality of life of high-risk postpartum mothers at the Pertamina Bintang Amin Hospital in 2023.Methods: The type of research used in this research is quantitative with an analytic survey design using a cross sectional approach.  In this study the sampling technique used was total sampling with a total sample of 48 respondents.Results: The results of the study using the results of the Chi-Square statistical test and the Kendall's tau correlation test prove that there is a relationship between the variables age, education, income, parity and history of abortion on the quality of life for high-risk postpartum with a p-value of (0.010), (0.003), (0.040), (0.001) and (0.005). Dominant factor affecting the quality of life at high risk postpartum is Education with a p-value of 0.011 and an OR of 7.512.Conclusions: Based on the results of multivariate analysis with multivariable logistic regression, it can be concluded that the most dominant factor or influence on the quality of life of postpartum mothers at Pertamina Bintang Amin Hospital Bandar Lampung is Education with an OR value of 7.512. Keywords: Quality Of Life, Postpartum Mothers are at High Risk 
Efektivitas konsumsi pisang kepok untuk menurunkan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional Dhitya, Ray Krisna; Wardiyah, Aryanti; Andoko, Andoko
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1501

Abstract

Background: Hypertension, if not treated early, can progress to eclampsia, a leading cause of death. Pregnant women should minimize the need for medication (pharmacological) management as much as possible. One non-pharmacological treatment for lowering blood pressure in pregnant women with gestational hypertension is consuming kepok bananas. Purpose: To educate pregnant women about the effectiveness of consuming kepok bananas (musa acuminata) in lowering blood pressure in gestational hypertension. Method: The study was conducted on two respondents of third trimester pregnant women who experienced gestational hypertension in Way Bungur District, East Lampung Regency, on June 10–12, 2025. Qualitative descriptive research with a case study design aimed to determine the effectiveness of consuming kepok bananas on reducing blood pressure in pregnant women with gestational hypertension. Using a saturated sampling technique, two respondents of third trimester pregnant women who met the inclusion criteria were pregnant women diagnosed with gestational hypertension, willing to be respondents, and domiciled in the study area. Exclusion criteria were pregnant women with other pregnancy complications or unwilling to participate in the study. The intervention carried out was giving 1 kepok banana/day for 3 consecutive days according to the daily potassium needs of pregnant women, which is ±300 mg, while the potassium content in 1 kepok banana reaches ±358 mg. Results: The first respondent (Mrs. E, 28 years old, G1P0A0) complained of frequent dizziness and fatigue. Physical examination showed pale conjunctiva, increased pulse rate, and complaints of headache at the back of the head. The medical history had never experienced hypertension before, but had a diet lacking vegetables and fruit, and rarely rested during the day. The second respondent (Mrs. P, 26 years old, G1P0A0) was at 36 weeks of gestation. The patient complained of blurred vision, often felt weak, and had difficulty sleeping. Physical examination showed unstable blood pressure, normal fetal heart rate, and the patient appeared anxious about facing labor. Data showed that Mrs. E's blood pressure in the pre-test was 160/90 mmHg, in post-test 1 = 150/80 mmHg, in post-test 2 = 130/80 mmHg, and in post-test 3 = 120/80 mmHg. While Mrs. P in pre-test was 170/90 mmHg, in post-test1=150/90 mmHg, in post-test2=160/80 mmHg, and in post-test3=140/90 mmHg. Conclusion: Regular consumption of kepok bananas is effective in lowering blood pressure in pregnant women with gestational hypertension. Providing kepok bananas can be a safe and easy-to-implement non-pharmacological method to help control blood pressure during pregnancy. Suggestion: Healthcare professionals are expected to utilize kepok banana consumption as a supportive intervention in the management of gestational hypertension, accompanied by regular blood pressure monitoring and education about healthy eating habits during pregnancy. Keywords: Blood pressure reduction; Effectiveness; Gestational hypertension; Kepok bananas; Pregnant women Pendahuluan : Hipertensi yang tidak ditangani sedini mungkin akan berlanjut menjadi ekslampsia yang menjadi salah satu penyebab tertinggi kematian. Ibu hamil sebisa mungkin diminimalisir penanganan masalah penatalaksanaan pembelian obat-obatan (farmakologis). Salah satu penanganan non farmakologis untuk menurunkan tekanan darah ibu hamil pada hipertensi gestasional adalah dengan mengonsumsi pisang kepok dalam menurunkan tekanan darah ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Tujuan : Untuk memberikan edukasi tentang efektivitas konsumsi pisang kepok (musa acuminata) pada ibu hamil dalam menurunkan tekanan darah pada hipertensi gestasional. Metode: Pengkajian dilakukan pada dua responden ibu hamil trimester III yang mengalami hipertensi gestasional di Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, pada tanggal 10–12 Juni 2025. Penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas konsumsi pisang kepok terhadap penurunan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Dengan teknik sampling jenuh mendapatkan dua responden ibu hamil trimester III yang memenuhi kriteria inklusi yaitu ibu hamil dengan diagnosis hipertensi gestasional, bersedia menjadi responden, dan berdomisili di wilayah penelitian. Kriteria eksklusi adalah ibu hamil dengan komplikasi kehamilan lain atau tidak bersedia mengikuti penelitian. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian pisang kepok sebanyak 1 buah/hari selama 3 hari berturut-turut sesuai kebutuhan kalium harian ibu hamil, yaitu ±300 mg, sedangkan kandungan kalium dalam 1 buah pisang kepok mencapai ±358 mg. Hasil : Responden pertama (Ny. E, usia 28 tahun, G1P0A0) dengan keluhan sering pusing dan kelelahan. Pemeriksaan fisik menunjukkan konjungtiva pucat, frekuensi nadi meningkat, serta keluhan nyeri kepala bagian belakang. Riwayat kesehatan belum pernah mengalami hipertensi sebelumnya, namun memiliki pola makan kurang sayur dan buah, serta jarang istirahat siang. Responden kedua (Ny. P, usia 26 tahun, G1P0A0) berada pada usia kehamilan 36 minggu. Pasien mengeluh pandangan kabur, sering merasa lemas, dan kesulitan tidur. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah tidak stabil, denyut jantung janin normal, dan pasien tampak cemas menghadapi persalinan. Data menunjukkan bahwa tekanan darah Ny. E pada pre-test adalah 160/90 mmHg, pada post-test1=150/80 mmHg, pada post-test2=130/80 mmHg, dan pada post-test3=120/80 mmHg. Sedangkan tekanan darah Ny. P pada pre-test adalah 170/90 mmHg, pada post-test1=150/90 mmHg, pada post-test2=160/80 mmHg, dan pada post-test3=140/90 mmHg. Simpulan: Konsumsi pisang kepok secara rutin efektif membantu menurunkan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Pemberian pisang kepok dapat menjadi salah satu metode nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan untuk membantu mengontrol tekanan darah selama kehamilan. Saran: Diharapkan tenaga kesehatan dapat menjadikan konsumsi pisang kepok sebagai intervensi pendukung dalam penatalaksanaan hipertensi gestasional, disertai dengan pemantauan tekanan darah secara berkala dan edukasi mengenai pola makan sehat selama kehamilan.
Pemberian teknik relaksasi nafas dalam untuk menurunkan nyeri pada pasien post operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia Dwiartho, Muhammad Fiqi; Rilyani, Rilyani; Wardiyah, Aryanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1585

Abstract

Background: The rate of cesarean section (CS) deliveries in Indonesia is increasing and has exceeded the WHO threshold, with a national prevalence of approximately 17.6% and significant regional variation. Most cesarean sections are caused by pregnancy complications such as severe preeclampsia, a leading cause of maternal mortality. Cesarean sections leave scars and acute pain that require pharmacological and non-pharmacological treatment. Deep breathing relaxation techniques have been shown to significantly reduce pain intensity by increasing parasympathetic activity and reducing stress hormones. Deep breathing techniques are simple, economical, and self-administered. This study focused on the effectiveness of this intervention in post-cesarean section patients with preeclampsia. Purpose: To evaluate the effectiveness of deep breathing relaxation techniques as a non-pharmacological intervention to reduce pain intensity in post-cesarean section patients with preeclampsia. Method: The activity was conducted over three days in 2025, taking place at the patient's home in Dusun 3 Batu Menyan, Sukajaya Lempasing Village, Teluk Pandan District, Pesawaran Regency, Lampung. The subjects were two post-cesarean section patients with preeclampsia. Non-pharmacological interventions, including deep breathing relaxation therapy, were performed twice daily (morning and evening), 5–7 times each, for a maximum of 5 minutes per session, for three consecutive days. The pain measurement instrument used the Numerical Rating Scale (NRS), a numerical pain assessment with a range of values ​​from 0 to 10, where 0 = no pain, 1–3 = mild pain, 4–6 = moderate pain, and 7–10 = severe pain. Results: Data obtained showed that the characteristics of participant Mrs. S. is 27 years old, weighs 68 kg, is 156 cm tall, has no history of hypertension, and at the time of examination had a blood pressure of 150/100 mmHg. While the characteristics of participant Mrs. T. are 32 years old, weighs 67 kg, is 161 cm tall, has no history of hypertension, and at the time of examination had a blood pressure of 140/80 mmHg. After three days of deep breathing relaxation technique intervention, pain intensity in Mrs. S decreased from a scale of 5 to 2, and in Mrs. T from a scale of 6 to 3. Conclusion: Deep breathing relaxation techniques have been proven effective in reducing acute pain intensity in post-cesarean section patients with preeclampsia, through routine intervention over three days. This method is safe, practical, and can be independently implemented as a non-pharmacological alternative in post-operative pain management. Suggestion: Healthcare workers need to integrate deep breathing relaxation techniques into post-cesarean section nursing care, especially for patients with preeclampsia, and improve self-education so that this therapy can be consistently continued at home to support recovery without dependence on analgesics. Keywords: Deep breathing relaxation; Pain; Post-cesarean section; Preeclampsia Pendahuluan: Angka persalinan sectio caesarea (SC) di Indonesia meningkat dan telah melampaui ambang WHO, dengan prevalensi nasional sekitar 17.6% dan variasi wilayah yang signifikan. Sebagian sectio caesarea disebabkan oleh komplikasi kehamilan seperti pre-eklampsia berat, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Sectio caesarea meninggalkan luka dan nyeri akut yang memerlukan penanganan farmakologis dan nonfarmakologis. Teknik relaksasi napas dalam terbukti menurunkan intensitas nyeri secara signifikan dengan mekanisme peningkatan aktivitas parasimpatik dan pengurangan hormon stres. Teknik napas dalam sederhana, ekonomis, dan dapat dilakukan mandiri, penelitian ini difokuskan pada efektivitas intervensi tersebut pada pasien pasca sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas teknik relaksasi napas dalam sebagai intervensi nonfarmakologis untuk menurunkan intensitas nyeri pada pasien pasca operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Metode: Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari pada tahun 2025, bertempat di rumah pasien di Dusun 3 Batu Menyan, Desa Sukajaya Lempasing, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Subjek dalam kegiatan ini adalah dua pasien post operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Intervensi nonfarmakologis berupa terapi relaksasi nafas dalam dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore), masing-masing sebanyak 5–7 kali atau maksimal 5 menit per sesi, selama tiga hari berturut-turut. Instrumen pengukuran tingkat nyeri menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) adalah penilaian nilai nyeri secara numerik dengan rentang nilai 0 sampai dengan 10, dimana dengan kategori nilai 0=tidak merasakan nyeri, nilai 1-3=nyeri ringan, nilai 4-6=nyeri sedang, dan nilai 7-10=nyeri berat. Hasil: Mendapatkan data bahwa karakteristik partisipan Ny.S. adalah berusia 27 tahun, berat badan 68 Kg, tinggi badan 156 cm, tidak memiliki riwayat hipertensi, dan pada waktu pemeriksaan memiliki tekanan darah 150/100 mmHg. Sedangkan karakteristik partisipan Ny.T. adalah berusia 32 tahun, berat badan 67 Kg, tinggi badan 161 cm, tidak memiliki riwayat hipertensi, dan pada waktu pemeriksaan memiliki tekanan darah 140/80 mmHg. Setelah tiga hari intervensi teknik relaksasi napas dalam, intensitas nyeri pada Ny. S menurun dari skala 5 menjadi 2, dan pada Ny. T dari skala 6 menjadi 3. Simpulan: Teknik relaksasi napas dalam terbukti efektif menurunkan intensitas nyeri akut pada pasien pasca operasi sectio caesarea dengan pre-eklampsia, melalui intervensi rutin selama tiga hari. Metode ini aman, praktis, dan dapat diterapkan secara mandiri sebagai alternatif nonfarmakologis dalam manajemen nyeri pasca operasi. Saran: Tenaga kesehatan perlu mengintegrasikan teknik relaksasi napas dalam dalam asuhan keperawatan pasca operasi sectio caesarea, khususnya pada pasien dengan pre-eklampsia, serta meningkatkan edukasi mandiri agar terapi ini dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah untuk mendukung pemulihan tanpa ketergantungan pada analgesik.
Hubungan tingkat pengetahuan suami terhadap kegawatdaruratan kehamilan dengan kunjungan antenatal care (ANC) Caristia, Angga; Wardiyah, Aryanti; Andoko, Andoko
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1549

Abstract

Background: Pregnancy is a natural process that lasts approximately 37 to 40 weeks from conception to delivery. Although normal, pregnancy still carries risks for the mother. Physical changes and common complaints can occur, but certain conditions should be monitored as signs of pregnancy danger that require special attention. Purpose: To determine the relationship between husbands' knowledge of pregnancy emergencies and antenatal care (ANC) visits. Methods: This quantitative study used an observational analytical design using a cross-sectional approach. The population in this study were pregnant women who attended ANC visits in the Maja Pesawaran Community Health Center (Puskesmas) working area in 2024, totaling 283 respondents, with a sample size of 166 respondents. Sampling used a simple random sampling technique. Data analysis used the chi-square test. Results: The frequency distribution showed that most respondents had good knowledge (53.6%) and were compliant with ANC visits (52.4%). The analysis revealed a significant association between husbands' knowledge and ANC visits (p=0.000). Respondents with poor knowledge were 7.652 times more likely to be non-compliant with ANC visits than those with good knowledge (OR = 7.652; 95% CI: 3.836–15.263). Conclusion: There is a relationship between husbands' knowledge of pregnancy emergencies and antenatal care (ANC) visits.   Keywords: ANC Visits; Emergency Pregnancy; Husband's Knowledge.   Pendahuluan: Kehamilan merupakan proses alami yang berlangsung sekitar 37 hingga 40 minggu sejak pembuahan hingga persalinan. Meskipun normal, kehamilan tetap memiliki risiko bagi ibu. Perubahan fisik dan keluhan umum bisa terjadi, namun beberapa kondisi tertentu perlu diwaspadai sebagai tanda bahaya kehamilan yang memerlukan perhatian khusus. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan suami tentang kegawatdaruratan kehamilan dengan kunjungan antenatal care (ANC). Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian analitik observasional menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil yang melaksanakan kunjungan ANC di wilayah kerja Puskesmas maja pesawaran 2024 berjumlah 283 responden dengan jumlah sampel 166 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Analisa data menggunakan uji chi square. Hasil: Distribusi frekuensi menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik (53.6%) dan tergolong patuh dalam kunjungan ANC (52.4%). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan suami dengan kunjungan ANC (p=0.000). Responden dengan pengetahuan kurang baik memiliki risiko 7.652 kali lebih besar untuk tidak patuh melakukan kunjungan ANC dibandingkan yang berpengetahuan baik (OR = 7.652; CI 95%: 3.836–15.263). Simpulan: Ada hubungan pengetahuan suami tentang kegawatdaruratan kehamilan dengan kunjungan pemeriksaan antenatal care (ANC).   Kata Kunci: Kegawatdaruratan Kehamilan; Kunjungan ANC; Pengetahuan Suami.
Edukasi kesehatan tentang bahaya penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada masyarakat Hikma, Okva; Khairunnisa , Liyana; Ramadhani, Gita; Julianti, Fitri; Aprilia, Hanisa; Ariyansyah , Ariyansyah; Nurfadila, Nima; Yuhono, Tuwi; Crista, Angga; Wardiyah, Aryanti; Warzati, Linda
JOURNAL OF Tropical Medicine Issues Vol. 3 No. 1 (2025): Edition December 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/tmi.v3i1.1928

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease that remains a public health burden in Indonesia, with cases increasing annually. Various factors, such as environmental conditions, hygienic living practices, and lack of public knowledge, contribute to the high incidence of DHF. Health education activities play a crucial role in increasing public understanding regarding the prevention of this disease. Purpose: To describe the implementation of health education regarding the dangers of DHF and its prevention efforts in the community. Method: The education included lectures, discussions, Q&A sessions, and the use of leaflets. Results: Most residents understood dengue fever and how to prevent it. Conclusion: The education provided to the community increased public understanding regarding minimizing the breeding of the Aedes aegypti mosquito to prevent dengue fever transmission. Keywords: Community; Dengue Fever; Education.   Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis yang masih menjadi beban kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan tren peningkatan kasus setiap tahun. Berbagai faktor seperti kondisi lingkungan, perilaku hidup bersih, serta kurangnya pengetahuan masyarakat berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian DBD. Kegiatan edukasi kesehatan berperan penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pencegahan penyakit ini. Tujuan: Untuk mendeskripsikan pelaksanaan edukasi kesehatan mengenai bahaya DBD dan upaya pencegahannya pada masyarakat. Metode: Edukasi yang digunakan meliputi ceramah, diskusi, tanya jawab, serta pemanfaatan media leaflet. Hasil: Sebagian besar warga sudah paham tentang penyakit demam berdarah dan cara pencegahannya. Simpulan: Edukasi yang diberikan kepada masyarakat dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dalam hal meminimalisir perkembangbiakan nyamuk aedes aegepty untuk mencegah penularan demam berdarah. Kata Kunci: DBD; Edukasi; Masyarakat.
Hubungan pengetahuan dengan sikap remaja tentang bahaya merokok Fadila, Enggar; Wardiyah, Aryanti; Keswara, Umi Romayati
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 1 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i1.1352

Abstract

Background: Every year, approximately 225,700 people in Indonesia die due to smoking or other tobacco-related diseases. Smoking leads to a decrease in antibodies and causes lung cancer. Cigarettes pose major threats to various organs in the body, including the brain, mouth, throat, heart, chest, lungs, liver, stomach, kidneys, and bladder. Purpose: To determine the relationship between knowledge and attitudes of adolescents regarding the dangers of smoking at SMP Negeri 14 Bandar Lampung. Method: This research uses a quantitative approach with a cross-sectional design. The population in this study consists of 8th-grade students, with a sample of 193 respondents, using a total sampling technique. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. Results: Based on the frequency distribution of knowledge, 56.5% of respondents had good knowledge, while 43.5% had poor knowledge. Based on the frequency distribution of attitudes, 52.3% of respondents had a positive attitude, and 47.7% had a negative attitude. A p-value of 0.001 was obtained with an Odds Ratio of 116.67. Conclusion: There is a relationship between knowledge and adolescents' attitudes toward the dangers of smoking. Keywords: Adolescents; Attitude; Cigarettes; Knowledge. Pendahuluan: Setiap tahun, sekitar 225,700 orang di Indonesia meninggal akibat merokok atau penyakit lain yang terkait dengan tembakau. Merokok menyebabkan antibodi menurun, penyakit kanker paru-paru, ancaman utama rokok terhadap berbagai organ tubuh diantaranya adalah otak, mulut, tenggorokan, jantung, dada, paru-paru, hati, perut, ginjal dan kantung kemih. Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan pengetahuan dengan sikap remaja tentang bahaya merokok. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 8. Sampel 193 responden menggunakan teknik total sampling. Analisa data yang digunakan yaitu analisis univariate dan bivariat dengan Uji Chi- Square. Hasil: Berdasarkan distribusi frekuensi pengetahuan, 56.5% responden memiliki pengetahuan baik dan 43.5% responden memiliki pengetahuan kurang. Berdasarkan distribusi frekuensi sikap, 52.3% responden memiliki sikap positif dan 47.7% responden memiliki sikap negatif. Didapatkan p value 0.001 dengan Odds Ratio (OR) 116.67. Simpulan Ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang bahaya merokok. Kata Kunci: Pengetahuan; Remaja; Rokok; Sikap.      
Co-Authors Adha, Adinda Wulan Agung Budi Setiyawan Agustina, Marlina Alam, Rama Rajasa Ferlanda Amartya, Salsa Anastasya Ananda, Kiki Erlita Andoko Andoko, Andoko Andriyani, Veni Anggara, Respa Agustina Anjani, Ni Wayan Oktavia Anjeli, Riri Aprilia, Hanisa Aprina, Aprina Ariyansyah , Ariyansyah Aryanti, Lidya Budiarti Budiarti, Budiarti Capilo, Pabio Leo Caristia, Angga Chrisanto, Eka Yudha Crista, Angga Dea, Mutia Ade Dewi Kusumaningsih DEWI SARTIKA Dhitya, Ray Krisna Dora, Miranti Dea Dwiartho, Muhammad Fiqi Eliya, Rahma Elliya, Rahma Fachry Abda El Rahman Fadila, Enggar Fitri Julianti Gunawan, M. Ricko Gusleni, Meri Gustiani, Dwi Hesti Wulandari Hikma, Okva Hizrian, Emir Fajar Irgi, Muhammad Istawala, Anggun Jamhari Jamhari Juana, Rika Juliawan, Ladin Keswara, Umi Romayati Khairunnisa , Liyana Khoirudin, Parid Ladin, Juliawan Lathifah, Neneng Siti Lensi, Yufia Lestari, Linda Maharani, Erliana Marliyana Marliyana, Marliyana Marzuna, Marzuna Muarif, Muhammad Syamsul Mu’alifah, Ria Nadira, Khoirul Nafisah, Nida Nepiana, Nurul Novikasari, Linawati Novitasari, Linawati Nurfadila, Nima Oktaliana, Oktaliana Palupi, Antika Pratiwi, Liza Ayu Prayogo, Idfy Dwi Putri, Mia Rahayu Rahayu Rahmatika, Ida Ramadhani, Gita Rillyani ., Rillyani Rilyani Rilyani, Rilyani Riska Wandini, Riska Riyanto, Eko Rizka, Mahda Rohmah, Eis Ainun Romayati, Umi Safitri, Hilda Meilinda Sahara, Amalia Saputra, Raihan Saputri, Maida Sari, nova Nurwinda Sari, Yunidha Puspita Setiawati Setiawati Setiawati Sintia, Monica Bela Dwi Slivia, Eka Sofa, Taufik Surani, Eka Sri Sutiyoko, Adi Syakilah, Siti Teguh Pribadi Trismiyana, Eka utami, deviani Velda, Ines Livia Warzati, Linda Winarno, Rudi Yati Afiyanti Yogi Kurniawan, Yogi Yuhono, Tuwi