p-Index From 2021 - 2026
8.374
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Jurnal Pendidikan Seni Rupa Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Gorga : Jurnal Seni Rupa Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik Harmonia: Journal of Research and Education Jurnal Kajian Bali SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur ANDHARUPA MUDRA Jurnal Seni Budaya Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts PRABANGKARA Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni International Research Journal of Management, IT & Social Sciences Wikrama Parahita : Jurnal Pengabdian Masyarakat Gondang: Jurnal Seni dan Budaya PRODUCTUM : Jurnal Desain Produk (Pengetahuan dan Perancangan Produk) JURNAL TATA KELOLA SENI Visualita : Jurnal Online Desain Komunikasi Visual Dewa Ruci : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Demandia : Jurnal Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain, dan Periklanan Jurnal Desain Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming Pantun: Jurnal Ilmiah Seni Budaya VCD (Journal of Visual Communication Design) Journal of Music Science, Technology, and Industry (JOMSTI) Journal of Social Science Jurnal Cahaya Mandalika International Journal of Educational Review, Law And Social Sciences (IJERLAS) Jurnal Inovasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat calaccitra: jurnal film dan televisi Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa (JURRIBAH) Bhumidevi : Journal Of Fashion Design Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama dan Budaya Journal of Social Science Bali-Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Retina Jurnal Fotografi Hastagina: Jurnal Kriya dan Indsutri Kreatif Proceeding of International Conference on Humanity Education and Society Prosiding Seminar Nasional Sastra, Bahasa, dan Seni (Sesanti) Global Art Creativity Conference
Claim Missing Document
Check
Articles

Seni Kerajinan Sarana Upacara Berbasis Upcycle Di Desa Kediri Tabanan Ni Kadek Karuni; I Wayan Mudra; Mercu Mahadi
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1054

Abstract

Seni kerajinan sarana upacara yang memanfaatkan media koran bekas saat ini baru mulai berkembang dibeberapa daerah di Bali. Penggunaan koran bekas untuk menciptakan produk kerajinan merupakan suatu trobosan baru dari perajin dalam mengembangkan kreativitas menciptakan produk kerajinan yang lebih bervariatif. Pemikiran ini sesuai dengan konsep upcycle atau dalam proses perlakuannya disebut upcycling adalah proses pengubahan limbah bahan atau produk yang tidak berguna menjadi bahan baru atau produk dengan kualitas lebih baik untuk keberlanjutan dan profitabilitas. Tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan tentang dinamika bentuk produk seni kerajinan sarana upacara berbasis upcycle yang dihasilkan oleh perajin di desa Kediri Tabanan serta proses kreatif perajin dalam menciptakan produk sarana upacara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teori pengambilan sampel porposive sampling, Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisa data secara kualitatif analitik. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa proses pembuatan produk sarana upacara ini menggunakan teknik pilin, penerapan dekorasi menggunakan teknik pilin dan tempel, finishing menggunakan teknik oles. Bentuk produk berupa : bokoran, tempat pemuspan, keben, Dulang, berbahan dasar koran bekas yang fungsinya sebagai wadah atau tempat sesajen. Produk yang dihasilkan merupakan produk kreatif yang ramah lingkungan. Kesimpulannya adalah proses membuatan produk kerajinan sarana upacara melalui proses pembentukan, pendekorasian dan tahap finishing. Pemanfaatan limbah koran untuk produk kerajinan sarana upacara merupakan suatu upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu pemanfaatan limbah koran sebagai bahan seni kerajinan dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai ekonomi perajin.
Analisis Pertarungan Wacana Video Pendek Covid-19 di Media Sosial I Komang Arba Wirawan; Dewa Made Dermawan; I Wayan Mudra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1105

Abstract

Kecepatan teknologi digital berdampak terhadap produksi film atau video pendek, pola distribusi, dan konsumsi yang sangat cepat pada era Covid-19 ini. Kehadiran video pendek Covid-19 di Indonesia sangat variatif, kreatif dan inovatif membawa pertarungan wacana di kalangan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertarungan wacana video pendek Covid-19 di media social khususnya WhatsApp (WA), mulai 13 April s/d 5 Agustus 2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualittatif didukung data kuantitatif, dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan penyebaran kuesioner secara on line. Sumber data utama penelitian ini adalah delapan video pendek terpilih mengenai kampanye Covid-19 yang pernah beredar di media sosial WA berbahasa Indonesia. Teori yang dipergunakan adalah teori wacana, (Stuart Hall) dan estetika (Virilio). Kedua teori ini diaplikasikan secara eklektik untuk menganalisis secara kritis proses konsumsi video pendek Covid-19 oleh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video pendek kampanye Covid-19 yang beredar di media WhatsApp ada dua model yang melakukan pertarungan wacana bertujuan untuk kepentingan politik. Kelompok video pertama mengandung muatan hoax bertujuan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat, dan kelompok video kedua bertujuan membangun kesadaran masyarakat dalam menghadapi Covid-19. Video yang kedua ini adalah video yang mendukung kampanye pemerintah, sebagai wacana tanding menenangkan wacana video pendek kampanye Covid-19. Pada kedua jenis video ini tergambar pertarungan wacana ideologi, politik dan ekonomi dalam memenangkan dan memengaruhi masyarakat melalui media social. Kesimpulannya video pendek Covid-19 yang beredar di media sosial wacana pertarungannya didasari atas berbagai kepentingan, dan tidak semata-mata hanya bertujuan baik.
Representasi Budidaya Rumput Laut Dan Kain Rangrang Dalam Tari Gulma Penida Ni Made Arshiniwati; I Wayan Mudra; Ni Luh Sustiawati; I Gusti Ngurah Sudibya; Yanti Heriyawati
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 2 (2021): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i2.1475

Abstract

Nusa Penida merupakan kecamatan di dareah pesisir di Kabupaten Klungkung Bali yang banyak dikunjungi wisatawan nasional maupun internasional dan terkenal dengan mata pencahariannya berupa budi daya rumput laut dan kerajinan kain rangrang. Penelitian ini bertujuan menciptakan sebuah tarian yang mengangkat potensi SDA rumput laut dan kerajinan kain rangrang di Desa Nusa Penida Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung Bali sebagai upaya pengembangan atraksi wisata di desa tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode penciptaan tari ini dilakukan melaui tahapan eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Dalam proses penciptaannya melibatkan publik sebagai penilai untuk penyempurnaan karya yang dilakukan melalui FGD dan pementasan. Hasil penelitian menunjukkan tercipta sebuah tari pesisir yang berdurasi 8.14 menit, diberi judul Tari Gulma Penida. Tarian ini dibawakan oleh 4 orang penari laki-laki dan perempuan sebagai penggambaran petani rumput laut di Desa Nusa Penida. Pada tarian ini ditampilkan kisah keseharian petani rumput laut dalam melakoni aktifitasnya mulai dari bangun pagi, pergi kelaut, menanam, merawat, memanen, dan membawa pulang hasil panennya dan menikmati kegembiraan atas berkah yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kain rangrang dalam penciptaan tari ini digunakan sebagai kostum untuk menggambarkan potensi sumber daya yang ada di Nusa Penida.
ESTETIKA PADA JAKET UPCYCLE LIMBAH VISUAL SPANDUK KARYA HARITS ALFADRI DEWANTO Ayu Krisna Gayatri Sari Dewi; I Wayan Swandi; I Wayan Mudra
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.012 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7055

Abstract

AbstractAesthetics is something related to beauty and all aspects of what is called beauty. Aesthetics is an important factor in works of art that can be accepted in society. The visual waste jacket consisting of banners by Harits Alfadri Dewanto can be seen through the design elements of the upcycle jacket. Upcycle is the concept of reusing goods that have been released into new products with a higher value than before. The latest fashion concept in its development is not only as a sustainable lifestyle but it can also be a solution for improving the prevention of waste that occurs. The research method is descriptive analytic. This study attempts to describe the aesthetics through design elements and analyze the aesthetics of the visual waste jacket banner by Harits Alfadri Dewanto through the aesthetic principle theory. The results revealed a design element in the upcycle jacket, the visual waste of the banner providing comfort to the user with the size of the jacket that supports it and the comfort of the eye that sees with the appearance of the jacket using a harmonious primary color combination AbstrakEstetika merupakan sesuatu yang berkaitan dengan keindahan dan semua aspek dari apa yang disebut keindahan. Estetika merupakan faktor yang penting dalam sebuah karya seni mampu diterima di masyarakat. Pada jaket limbah visual berupa spanduk karya Harits Alfadri Dewanto dapat estetika dilihat melalui elemen desain pada jaket upcycle. Upcycle merupakan konsep penggunaan kembali barang yang telah dibuang menjadi produk baru dengan nilai yang lebih tinggi dari pada sebelumnya. Konsep upcycle fashion dalam perkembangannya tidak hanya sebagai sebuah gaya hidup berpakaian namun dapat juga menjadi solusi atas kesenjangan penanggulangan limbah visual yang terjadi.metode penelitian adalah deskriptif analitik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan estetika melalui elemen desain dan menganalisis estetika pada jaket limbah visual spanduk karya Harits Alfadri Dewanto melalui teori prinsip estetika. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa elemen desain pada jaket upcycle limbah visual spanduk mampu memenuhi kenyamanan pada pengguna dengan ukuran jaket yang longgar dan dan kenyamanan pada mata yang melihat dengan tampilan jaket menerapkan kombinasi warna primer yang harmonis.
WARNA DAN PRINSIP DESAIN USER INTERFACE (UI) DALAM APLIKASI SELULER “BUKALOKA” Made Gana Hartadi; I Wayan Swandi; I Wayan Mudra
Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain Vol. 5 No. 1 (2020): Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.815 KB) | DOI: 10.25105/jdd.v5i1.6865

Abstract

AbstractColor and Design Principles of User Interface (UI) in “Bukaloka” Mobile Apps. Color is a determining factor for the success of UI design. UI design is a visual display that is very important to build interaction because the audience doesn’t return to visit poor- looking applications. “Bukaloka” is a digital startup that focuses on the phenomenon of Indonesian tourism. Color doesn’t affect the loading speed, so it is used to attract the attention of the audience. The application of color creates aesthetic design if it is guided by the design principles. The aim of this research is to describe colors and analyze the application of colors based on Surianto Rustan’s theory of design principles. The research method is descriptive qualitative. Data collected by observation, interview, documentation, and literature. The results revealed the UI design consisted of 11 types of colors. The color doesn’t reflect emphasis, sequence, and unity, but only reflects the balance. The colors of “Bukaloka” UI design haven’t fulfilled the design aesthetics. AbstrakWarna dan Prinsip Desain User Interface (UI) dalam Aplikasi Seluler “Bukaloka”. Warna merupakan faktor penentu keberhasilan desain UI ketika berinteraksi dengan audiens. Desain UI adalah tampilan visual yang berperan penting membangun interaksi karena audiens tidak akan kembali mengunjungi aplikasi berpenampilan jelek. “Bukaloka” merupakan startup digital yang fokus pada fenomena pariwisata Indonesia. Warna tidak mempengaruhi kecepatan loading, sehingga dimanfaatkan untuk menarik perhatian audiens. Penerapan warna menciptakan desain estetis apabila berpedoman pada prinsip desain, yaitu emphasis, sequence, balance, dan unity. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan warna dan menganalisis penerapan warna. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif. Warna desain UI dideskripsikan secara detail, kemudian penerapan warna dianalisis berdasarkan teori prinsip desain Surianto Rustan. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Hasil penelitian mengungkapkan desain UI terdiri dari 11 jenis warna. Warna tersebut tidak mampu mencerminkan emphasis, sequence, dan unity. Penerapan warna hanya mencerminkan balance. Warna desain UI “Bukaloka” belum memenuhi estetika sebuah desain.
CENGKEH SEBAGAI INSPIRASI PENGEMBANGAN MOTIF BATIK BERBASIS DIGITAL DI KABUPATEN BULELENG Ni Gusti Ayu Paramita; I Wayan Mudra; Anak Agung Gede Rai Remawa
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.38894

Abstract

Batik is one of the textile products that began to develop in Buleleng Regency. The presence of batik in the Buleleng district is used as an alternative for souvenirs and souvenirs that have an attraction for tourists. However, the lack of innovation in the creation of batik motifs and limited human resources have urged the creation of innovations to maintain the existence of batik, especially in the Buleleng Regency. Along with the growth of technology in the current digital era, batik must be able to grow without eroding its philosophical meaning of batik. This study aims to maintain the existence of batik, especially in Buleleng Regency by applying digital design in the design of motifs so that it can accelerate the process of making batik. The method used in this study uses a qualitative method with a three-stage approach to the creation of works of art, namely exploration, design, and embodiment. In the design process, the motifs used took inspiration from the clove plant in the Buleleng district in collaboration with the typical Buleleng motif, Singaraja. This motif was designed using the Adobe Illustrator application with the final result in the form of a batik design mockup. This research is expected to develop the potential of batik in Buleleng Regency by developing variations of the typical motifs of Buleleng Regency. The application of digital technology in designing batik is carried out to accelerate the batik production process to meet market demand.Keywords: cloves, motif development, digital based. AbstrakBatik menjadi salah satu produk tekstil yang mulai berkembang di Kabupaten Buleleng. Hadirnya batik di Kabupaten Buleleng dijadikan alternatif cenderamata maupun oleh-oleh yang mempunyai daya tarik untuk turis. Namun inovasi yang kurang dalam penciptaan motif batik serta keterbatasan SDM mendesak penciptaan inovasi baru guna mempertahankan keberadaan batik khususnya di Kabupaten Buleleng. Seiring dengan pertumbuhan teknologi di era digital sekarang, batik wajib bisa bertumbuh tanpa mengikis makna filosofi dari batik. Penelitian ini bertujuan untuk mempertahankan eksistensi batik khususnya di Kabupaten Buleleng dengan menerapkan desain digital dalam perancangan motif sehingga dapat mempercepat proses pembuatan batik. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan 3 tahapan penciptaan karya seni, yakni eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Pada proses perancangan, motif yang digunakan mengambil inspirasi dari tanaman cengkeh di Kabupaten Buleleng yang dikolaborasikan dengan motif khas Buleleng yakni singaraja. Motif ini dirancang menggunakan aplikasi Adobe Illustrator dengan hasil akhir berupa mockup desain batik. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan potensi batik di Kabupaten Buleleng dengan mengembangkan variasi motif khas Kabupaten Buleleng. Penerapan teknologi digital dalam mendesain batik ini dilakukan agar dapat mempercepat proses produksi batik guna memenuhi permintaan pasar.Kata Kunci: cengkeh, pengembangan motif, berbasis digital. Authors:Ni Gusti Ayu Paramita : Institut Seni Indonesia DenpasarI Wayan Mudra : Institut Seni Indonesia DenpasarAnak Agung Gede Rai Remawa : Institut Seni Indonesia Denpasar References:Data Statistik Kabupaten Buleleng. (2017). Statistik Jumlah Produksi Komuniti Cengkeh Kabupaten Buleleng. https://bulelengkab.bps.go.id/staticta (diakses tanggal 17 April 2022).Natalia, D. A. W. N., Budhyani, I. D. A. M., & Angendari, M. D. (2019). Batik Bali pada Industri Sari Amerta Batik Collection di Desa Batubulan Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Jurnal BOSAPARIS: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, 9(2), 76-87.Gustami, S. P. (2004). Proses Penciptaan Seni Kriya: Untaian Metodelogis. Yogyakarta: Program Pascasarjana S2 Penciptaan Dan Pengkajian Seni ISI Yogyakarta.
Symbolic Meaning of Batik In Madura Bridal Kebaya Clothes Soelistyowati Soelistyowati; I Wayan Mudra; I Ketut Muka; Tjok Istri Ratna
Journal of Social Science Vol. 4 No. 1 (2023): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jss.v4i1.495

Abstract

This study was conducted to determine the meaning of the batik symbol on the Madurese bridal kebaya. At weddings, Madurese people wear batik and kebaya, especially for women getting married. Madurese batik motifs are classified as having the characteristics of plant (vegetal) motifs, animals and geometric shapes. The influence on the Madurese batik motifs is the mixing of Javanese-Hindu, Chinese and Dutch cultures. Chinese mythology dominates the fenghuang bird and dragon motifs believed to have philosophy in each symbol. Bright and bold colors are characteristic of Madurese batik, such as red, black, yellow and green. This research approach using literature study is done by looking for references that are relevant to the cases or problems found using the semiotic theory of Charles Sanders Peirce. By analyzing the data of this study, it was carried out by means of 5W1H, what, where, when, why, who, and how. The results of this study, a. The icon as a sign of the message using the kebaya dress interprets the kebaya as an Indonesian woman who is elegant, feminine and has manners, as a procession that is carried out is a cultural carnival procession as a mandatory dress that must be worn. b) symbols, the colors red, black, yellow and green on the decoration, as well as the appearance of the dragon and fenghuang bird motifs are characteristic of batik motifs, on the jarik or sarong worn at traditional wedding ceremonies in Madura. c) Index: Madurese philosophy considers that the colors red and black are courage and assertiveness, yellow symbolizes abundance and green means religious. The dragon motif brings fortune, guards and is authoritative. The fenghuang bird in batik means honesty and thoroughness, tolerance, knowledge, loyalty and integrity. When the dragon is juxtaposed with the fenghuang bird, it symbolizes bringing luck, honesty, happiness and repellent to evil, which is believed to be obtained from generations of cultural heritage to be preserved and maintained.
PENERAPAN ALUR TAK TERHINGGA DALAM FILM PENDEK FIKSI UNTITELED I Putu Adi Sanjaya; I Wayan Mudra; Ni Kadek Dwiyani
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Calaccitra Maret 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/cc.v3i1.2258

Abstract

The author took the Independent Study/Project option in the MBKM program lectures in one semester. The writer chooses a concept related to the world of film. This program is carried out at the Sri Redjeki Films Studio, which has produced various types of films, ranging from documentaries to fiction. The selection of the Sri Redjeki Films Studio aims to add insight in producing an audio-visual work in creating works that have a novelty.The purpose of this research is to explain the plot in a short film entitled Untilited. The theory used in this application is the Simulacra theory and the concept of Infinite Plot. Data obtained through observation, interviews and documentation. The results of the study show that there are 8 types of plots in Untilited films, namely: Forward Plot, Backward Plot, Mixed Plot, Spotlight Plot, Climax Plot, Anti-climactic Plot, Chronological Plot, and Infinite Plot. In this writing, infinite plot is the concept applied. as the main concept. In addition, Simulacra Theory and Fiction Film Theory are applied in the Untitled film as the main theory. In conclusion, not all categories in the plot are applied in the Untitled film. This film makes the audience's expectations change repeatedly. The concepts and theories used are in line with the plot applied in the short film entitled Untitled.
Symbolic Meaning of Batik In Madura Bridal Kebaya Clothes Soelistyowati Soelistyowati; I Wayan Mudra; I Ketut Muka; Tjok Istri Ratna
Journal of Social Science Vol. 4 No. 1 (2023): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.074 KB) | DOI: 10.46799/jss.v4i1.495

Abstract

This study was conducted to determine the meaning of the batik symbol on the Madurese bridal kebaya. At weddings, Madurese people wear batik and kebaya, especially for women getting married. Madurese batik motifs are classified as having the characteristics of plant (vegetal) motifs, animals and geometric shapes. The influence on the Madurese batik motifs is the mixing of Javanese-Hindu, Chinese and Dutch cultures. Chinese mythology dominates the fenghuang bird and dragon motifs believed to have philosophy in each symbol. Bright and bold colors are characteristic of Madurese batik, such as red, black, yellow and green. This research approach using literature study is done by looking for references that are relevant to the cases or problems found using the semiotic theory of Charles Sanders Peirce. By analyzing the data of this study, it was carried out by means of 5W1H, what, where, when, why, who, and how. The results of this study, a. The icon as a sign of the message using the kebaya dress interprets the kebaya as an Indonesian woman who is elegant, feminine and has manners, as a procession that is carried out is a cultural carnival procession as a mandatory dress that must be worn. b) symbols, the colors red, black, yellow and green on the decoration, as well as the appearance of the dragon and fenghuang bird motifs are characteristic of batik motifs, on the jarik or sarong worn at traditional wedding ceremonies in Madura. c) Index: Madurese philosophy considers that the colors red and black are courage and assertiveness, yellow symbolizes abundance and green means religious. The dragon motif brings fortune, guards and is authoritative. The fenghuang bird in batik means honesty and thoroughness, tolerance, knowledge, loyalty and integrity. When the dragon is juxtaposed with the fenghuang bird, it symbolizes bringing luck, honesty, happiness and repellent to evil, which is believed to be obtained from generations of cultural heritage to be preserved and maintained.
Everyday Life of Women Workers in Badung Market (A Documentary Photography Study) Febrian Putra; I Gede Yudarta; I Wayan Mudra
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/jacam.v2i1.2345

Abstract

Capturing the everyday life of women workers in the badung market through documentary photography is a work that reveals the lives of women workers in the Badung Market in a powerful and effective way by using visual storytelling techniques. This technique involves using images and narration that complement each other to bring the audience into the story presented in images that can be used to present the lives of women workers in the Badung Market, while narration can be used to provide background on the lives of these women workers, as well as describe conflicts. they face in carrying out their work. The purpose of creating this work is to provide a visual depiction of the daily life of female workers, to use documentary photography as a medium to reveal the beauty and dignity of the work of female laborers as porters at Badung Market, Bali. The research method used in this study is a qualitative method with a case study approach. Data analysis techniques used include descriptive analysis, qualitative analysis, and thematic analysis. The result of creating this work focuses on the lives of female laborers transporting goods at the Badung Market in raising awareness about social issues, able to describe the activities carried out by women workers in the Badung Market in each photo so that they can provide in-depth information.
Co-Authors Adesastrawiguna, Iputu Adiartha, I Komang Adiputra, Komang Anak Agung Ayu Oka, Saraswati Andreani, Ni Putu Elvian Artawan, Cokorda Alit Asra, Rezky Gustian Ayu Krisna Gayatri Sari Dewi Bhumi, I Made Bayu Puser Deviyani, Ni Kadek Siska Dewa Gede Ardawa Putra Wicaksana Dewa Made Dermawan Dewi, Ayu Krisna Gayatri Sari Dewi, Gusti Ayu Ketut Rencana Sari Dewi, Gusti Ayu Nyoman Santhi Kumari Pusya Elsye Andriani Delfi Faisal, Yusuf Febrian Putra Gusti Ngurah Sastra Agustika Hasbullah Hasbullah I Gede Adi Sudi Anggara I Gede Mugi Raharja I Gede Mugi Raharja I Gede Yudarta, I Gede I Gusti Agung Ayu Wulandari I Gusti Ngurah Ardana I Gusti Ngurah Diva Ismayana I Ketut Muka I Ketut Sariada, I Ketut I Komang Arba Wirawan I Komang Sudirga I Made Dwiarya Swandi I Made Radiawan I Made Saryana I Made Suparta I Made Suparta I Nyoman Larry Julianto I Nyoman Widhi Adnyana I Nyoman Wiwana I Nyoman, suardina I Putu Adi Sanjaya I Putu Bagus Restu Pratama Wiwaha I Putu Putra Suryadana I Putu Putra Suryadana I Putu Suparthana I Wayan Adnyana I Wayan Sukarya I Wayan Sukarya I Wayan Sukarya I Wayan Swandi Ilma, Arina Zaida Kadek Dwiyani Kadek Meishya Paraswari Putri Kaiway, Yudhi Aji Ristanto Karuni, Ni Kadek Kuswandari, Ni Kadek Diah Nanta Larry Julianto, I Nyoman Made Gana Hartadi Maria Christina Ongkowidjojo Marina Wardaya Mercu Mahadi Muliawati, Ni Putu Muliawati, Ni Putu Nelly Rosaline Ngidep Wiyasa, I Nyoman Ni Gusti Ayu Paramita Ni Luh Desi In Diana Sari, Ni Luh Desi In Ni Luh Sustiawati Ni Made Arshiniwati Ni Made Rai Sunarini, Ni Made Rai Ni Putu Desy Sonnya Suandhari Nina Eka Putriani Nurlaeli Dwi Safitri Paramartha, I Putu Adi Surya Permadi, Giovanni Brewijaya Putra Prasetya, Ignasius Gede Aldo Dani Prastiti, Ni Putu Suci Pratama, Putu Angga Putriani, Nina Eka Rai, Sunarini Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Ratnamaya, A. A. Ista Remawa, Anak Agung Gede Rai Ricky Fernando Rosaline, Nelly Sabath, Brill Obed Samuel Samuel Sarjani, Ni Ketut Pande Satrio Hutomo, Adam Shienny Megawati Sutanto Simanjuntak, Yessica Yosia Virginia Soelistyowati Soelistyowati Sri Marwati Sri Marwati Sudibya, I Gusti Ngurah Suharto, I Sukajaya, I Komang Supandi, Fajar Persada Sutrisnayanti, Ni Nyoman Syahrian, Alfin Teresia Hanna Sanjaya Udayana, A. A. Gde Bagus Wasista, I Putu Udiyana Wayan Karja Wicaksana, Dewa Gede Ardawa Putra Wirawan, I Gusti Ngurah Yanti Heriyawati Yogantara, Wayan Arfian