p-Index From 2021 - 2026
7.412
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Pakaian Perempuan dalam Visualisasi Hadis : Analisis Konten pada Video Animasi CulapCulip di Youtube Hadi, Nurmadia; Puyu , Darsul S.; Ahmad, La Ode Ismail
PAPPASANG Vol. 7 No. 1 (2025): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i1.1425

Abstract

Salah satu isu sosial kegamaan yang senantiasa menarik untuk dikaji adalah persoalan perempuan. Dalam perkembangan kekinian, persoalan perempuan terkait pakaian dari perspektif hadis dicoba divisualisasikan dalam bentuk animasi digital. Sehingga pemahaman hadis akan berkembang dan mengambil bentuk baru yang terdiri dari gambar, suara, dan warna. “CulapCulip” adalah salah satu akun youtube animasi Islami yang mencantumkan Al-Qur’an dan hadis di dalamnya. Hadis yang ditampilkan dalam animasi tersebut tidak disampaikan secara komprehensif. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk meneliti kesesuaian hadis yang ditayangkan dalam animasi tersebut berdasarkan kitab syarah hadis mengingat animasi CulapCulip memiliki jutaan subscriber dan tentunya memberikan dampak positif atau negatif terhadap para penonton. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan berbentuk analisis konten dengan menggunakan studi kepustakaan (library research) dan pendekatan syarah hadis untuk memverifikasi hadis-hadis yang terdapat dalam animasi CulapCulip tentang pakaian perempuan. Penelitian ini mendapati bahwa pemahaman kreator animasi CulapCulip terhadap hadis yang divisualkan dalam video Buat Apa Berjilbab Kalau Tidak Berakhlak, Pamer Aurat Pakai Baju Ketat, Hukum Perempuan Meniru Gaya Laki-laki, dan Hukum Cadar dalam Islam terdapat kesesuaian dengan penjelasan hadis dalam kitab syarah hadis atau syarah ulama. Penelitian ini juga mendapati bahwa "CulapCulip" berusaha menvisualisasikan hadis-hadis Nabi tentang pakaian perempuan dengan pemaknaan yang sesuai resepsi pemahaman hadis masyarakat. "CulapCulip" telah berhasil menampilkan satu pendekatan yang tergolong baru dalam memberikan pemahaman tentang hadis Nabi dalam bentuk animasi melalui akun youtube.
TRADISI MEMBAKAR DUPA SEBAGAI MAKNA WANGI-WANGIAN DALAM PERSPEKTIF HADIS Al Munawarah, Zakiah; Amin, Muhammadiyah; Ahmad, La Ode Ismail
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 18 No 2 (2024): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsutjurnalstudiislamdansosial.v18i2.1423

Abstract

Burning incense is a long-standing Javanese tradition. When Islam came, it turned out that this tradition was still carried out by some people. Incense, often called frankincense, is an ingredient used in religious ceremonies that emits smoke and gives off a distinctive, fragrant aroma. Offerings and food are given to deceased saints, saints, and ancestors through the smoke of incense. To determine the relationship between perception and preventive behavior in the tradition of burning incense, this research looks at the ritual or tradition of burning incense as a fragrance from a hadith perspective. So this hadith produces the following conclusions: 1) Traditions are passed down from ancestors, can change, and can last for seven generations. Those who still adhere to the mattunu undung tradition still do so today. 2) According to Muslim Hadith Number 4184, Rasulullah SAW enjoyed several smells, including bukhur and others. The hadith reference to mattunu undung is important because undung, also known as bukhur or Frankincense, is used to freshen clothes, linens, and other items. Keywords: Burning incense, Fragrances, Hadith Perspective.
Harmonization of Islamic Values and Local Wisdom in The Maccera Manurung Ritual Hidayat, Rian; Mustafa, Zulhas'ari; Ahmad, La Ode Ismail; Iqbal, Nabiha Amaliah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.29152

Abstract

The Maccera Manurung ritual is a vital part of life for the Labuku community, fostering harmony among humans, nature, and spiritual beliefs. A key challenge lies in preserving this tradition while adhering to religious principles and bridging the gap between deeply rooted local customs and Islamic values that guide contemporary society. This study adopts a qualitative descriptive approach, incorporating normative sharia, historical, phenomenological, and sociological perspectives. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the Maccera Manurung ritual reflects values that harmonize Islam and local wisdom, including: (1) spiritual and religious values that frame the ritual as an act of worship, (2) solidarity and mutual cooperation values that strengthen social cohesion, (3) respect for ancestors as recognition of spiritual heritage, (4) simplicity values that counter materialism, and (5) social responsibility values aligned with Sharia principles. Future research should expand its focus to explore other local traditions that integrate religious and cultural values, further enriching understanding in this field. Ritual Maccera Manurung menjadi aspek integral dalam kehidupan masyarakat Labuku yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kepercayaan spiritual lokal. Masalah utama yang muncul adalah bagaimana ritual ini dapat dipertahankan tanpa melanggar aturan-aturan agama, serta bagaimana menemukan titik temu antara tradisi lokal yang berakar kuat dengan nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidup masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pendekatan Normatif Syariah, Historis, Fenomenologis, dan Sosiologis, serta mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ritual Maccera Manurung memuat nilai-nilai yang mengharmoniskan Islam dan kearifan local yaitu: (1) nilai spiritual dan keagamaan yang menjadikan ritual ini sebagai ibadah, (2) nilai solidaritas dan gotong royong yang memperkuat ikatan sosial, (3) nilai penghormatan terhadap leluhur sebagai pengakuan terhadap warisan spiritual, (4) nilai kesederhanaan yang menentang materialisme, dan (5) nilai tanggung jawab sosial yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariah. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas kajian dengan mengeksplorasi tradisi lokal lain yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan budaya setempat.
Living Hadis dalam Pembentukan Islam: Teori, Praktik, dan Tantangan Rafli, Rahmat; Ahmad, La Ode Ismail; Usman Ali, Asiqoh
Media Hukum Indonesia (MHI) Vol 3, No 4 (2025): December
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.17539278

Abstract

Living Hadith refers to the actualization of the Prophet Muhammad’s sayings and teachings within the social, cultural, educational, and da’wah life of Muslim communities. This approach emphasizes that hadith is not merely a textual tradition but a living guide manifested in daily religious and social practices. Through rituals such as the Prophet’s Birthday (Maulid), communal prayers (tahlilan), almsgiving, and grave visits, hadith becomes a moral and spiritual source shaping Muslim character and social solidarity. In education and da’wah, hadith values are internalized through learning, role modeling, and digital media. However, the development of Living Hadith faces academic challenges due to the lack of standardized methodology, as well as socio-cultural issues like syncretism and misinterpretation. Modernity and globalization also demand new interpretations to ensure the relevance of hadith in the digital era. This study concludes that Living Hadith serves as a bridge between divine revelation and social reality, portraying Islam as a dynamic, contextual, and universal religion of mercy (rahmatan lil ‘alamin).
Model tata kelola manajemen farmasi adaptif di rumah sakit umum daerah sinjai Susilawaty, Andi; Sukmawati, Andi; Raodhah, Sitti; Satrianegara, M. Fais; Ahmad, La Ode Ismail
Journal of Health Research Science Vol. 5 No. 02 (2025): Journal of Health Research Science
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/bmp2mf61

Abstract

Latar Belakang: Tata kelola farmasi RS berperan dalam menjamin mutu dan ketersediaan obat, namun terkendala birokrasi, SDM terbatas, dan tuntutan layanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan Good Governance (Taat Agama, Aturan, Administrasi, Anggaran) dan Blue Ocean Strategy (BOS) terhadap model tata kelola farmasi di RSUD Sinjai.Metode: Desain cross-sectional dengan 40 orang staf farmasi direkrut sebagai sampel. Instrumen kuesioner tervalidasi dan data dianalisis dengan uji bivariat (Mann-Whitney, Kruskal-Wallis, dan Korelasi Spearman), serta analisis multivariat berupa Exploratory Factor Analysis (EFA).Hasil: Terdapat perbedaan signifikan persepsi tata kelola berdasarkan jenis kelamin (p=0,006). Analisis korelasi Spearman mengonfirmasi adanya hubungan positif kuat antara item-item kunci 4 TA dan BOS.Kesimpulan: EFA berhasil membentuk model tata kelola tiga faktor yaitu: (1) Efisiensi dan Kolaborasi Tata Kelola (44,3%), (2) Kepatuhan Regulatif dan Nilai Institusional (25,4%), dan (3) Orientasi Inovasi dan Nilai Tambah (7,1%). Integrasi Prinsip 4 TA dan BOS menghasilkan model tata kelola farmasi yang adaptif, efisien, dan berorientasi mutu.
Filsafat Ilmu dan Studi Islam: Filsafat Ilmu-Ilmu Keislaman Nurima, Andi; Ahmad, La Ode Ismail
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 3 (2026): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main problem that has emerged in the modern era is that many Islamic sciences have developed only as practical disciplines, but their ontological foundations (the nature of the object of study), epistemological (how to acquire knowledge), and axiological (ethical goals and uses) are not discussed in depth. The purpose of this study is to discuss the philosophy of science starting from its definition and relevance to Islamic studies. In addition, the epistemology of bayani, burhani, and irfani in Islamic sciences, as well as the character and purpose of Islamic sciences, will be discussed. The methodology used in this study is qualitative using descriptive analysis with library research in collecting data. The results of this study are that the philosophy of science functions to uncover the ontological, epistemological, and axiological foundations of science, so it is very relevant to Islamic studies because it helps understand the sources of knowledge (revelation–reason–experience), methods of interpretation, and the scientific foundations of Islamic disciplines. The epistemological frameworks of bayani, burhani, and irfani demonstrate that Islamic sciences develop through three paths of knowledge: text, reason, and spiritual experience, which complement each other in building the edifice of Islamic knowledge.
Adab Menuntut Ilmu Dalam Hadis: Tantangan Teknologi Modern Iting, Andi; Ahmad, La Ode Ismail; Sakka, Abdul Rahman
Jurnal Panrita Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Panrita-December
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhamamdiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/panrita.v6i2.398

Abstract

This study examines the etiquette of seeking knowledge from the perspective of the hadith of the Prophet Muhammad SAW as a foundation for learning ethics relevant to the challenges of education in the modern technological era. The development of digital technology has changed the way humans acquire and produce knowledge, but these changes are often not accompanied by the strengthening of ethical values in the learning process. The research gap arises from the lack of studies that systematically integrate the principles of etiquette of seeking knowledge based on hadith with the context of contemporary technology-based learning. This study aims to identify the principles of etiquette of seeking knowledge in hadith and analyze their relevance to modern educational practices. The research approach uses a qualitative method with a library study design through thematic hadith analysis and a review of international educational literature. The results show that etiquette of seeking knowledge in hadith includes righteous intentions, humility, respect for teachers, patience in the learning process, and moral responsibility in the use of knowledge. These findings confirm that the value of etiquette has conceptual significance in building ethical and character-based digital learning. The implications of this study provide theoretical contributions to the development of Islamic education studies and serve as a conceptual basis for the formulation of values-based educational strategies in the technological era.
Hermeneutika Qur’ani Sebagai Filsafat Pengetahuan Ruddin, Nurul Istianah; Rahim, Zakiyuddin; Ahmad, La Ode Ismail
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5, No 1 (2026): January 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i1.7808

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas lebih dalam mengenai pendekatan Hermeneutika Qur’ani sebagai disiplin ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat. Perkembangan zaman begitu pesat melahirkan pemikiran baru dari kalangan cendekiawan, tak jarang pemahaman barat diadopsi secara prematur tanpa memikirkan sisi negatifnya. Padahal Islam secara kaffah telah mempunyai ilmu tersendiri dalam memahami kandungan Al-Qur’an. Dewasa ini, muncul ilmu yang belum pernah dikenal sebelumnya yaitu hermeneutika sebagai alat bantu memahami Al-Qur’an. Berawal dari sebuah disiplin kajian yang menggarap wilayah pemahaman dan penafsiran, menjadi garis demarkasi yang membedakan manusia dari segala entitas kehidupan makhluk lain di muka bumi, maka hermeneutika menemukan posisinya yang strategis. Para tokoh ilmuwan dan akademisi mulai mengungkapkan pendapatnya mengenai hermeneutika, terdiri dari kelompok  yang pro dan kontra dalam memandang metode hermeneutika Al-Qur’an. Dalam penelitian ini menggunakan metode studi Pustaka dengan mengumpulkan beberapa literatur dan artikel ilmiah. Tujuannya sebagai bahan pemikiran dan narasi eksplisit namun tetap kritis mengenai pendapat beberapa cendekiawan yang pro terhadap hermeneutika.
Takhrij Al-Hadits Sebagai Basis Istinbat Hukum : Telaah Historis Dan Metodologis Sopyan, Muh.; Ahmad, La Ode Ismail
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 3 (2026): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadith is the second source of Islamic teachings after the Qur'an. However, unlike the Qur'an, Hadith requires in-depth research to determine its quality due to the dynamics in the transmission process (sanad) and the text content (matan). This study aims to examine the urgency, history, and methodology of takhrij al-hadith as a vital instrument in determining whether a hadith is maqbul (accepted) or mardud (rejected). The research method used is library research with content analysis techniques on primary and secondary literature in the field of Ulumul Hadith. The results show that takhrij is a method of tracing hadith to its original source (the primary books) by explaining the chain of transmission and its quality. There are five main methods in takhrij: (1) based on the first word of the matan, (2) through keywords (bi al-lafzh), (3) based on the theme (bi al-maudhu’), (4) based on the first narrator (bi al-rawi al-a'la), and (5) based on the specific attributes or status of the hadith. The urgency of takhrij lies in its ability to preserve the purity of Islamic teachings from fabricated narrations, clarify obscure chains of transmission, and provide a solid foundation for Muslims in practicing a hadith.
FENOMENA TRADISI ZIARAH PADA KUBURAN PETTA BETTA’E PADA MASYARAKAT KABUPATEN BONE Taufik, Taufik; Katu, Samiang; Santalia, Indo; Ahmad, La Ode Ismail
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 1 (2018): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i1.6758

Abstract

Ziarah pada kuburan Petta Betta’E merupakan kuburan yang keberadaannya menjadi kepercayaan yang telah turun temurun diyakini sebagai tempat keramat, karena yang bersemayam merupakan arwah leluhur yang dianggap memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Dalam melihat persepsi masyarakat Palakka terhadap tradisi ziarah kuburan Petta Betta’E secara garis besar mejadi sebuah wadah dalam mengespresikan kepercaan mereka, adanya aggapan dengan menziarahi dapat memberikan kemanfaatan bagi kehidupan. Adanya kepercayaan demikian telah mengotori konsep ziarah itu sendiri sebagai wadah seseorang untuk mengingat akan kematian, karena sesungguhya sesorang yang telah meninggal, tidaklah mampu memberikan kemanfaatan. Dalam upaya tokoh Agama setempat dalam meluruskan kepercayaan masyarakat Palakka,  dengan memberikan nasihat-nasihat keagamaan dengan berlahan tanpa menyakiti perasaan masyarakat dan menjalin hubungan interaktif dengan masyarakat sehingga dapat terjalin kekeluargaan, seta memberikan wujud pembinaan kepada masyarakat dengan pembinaan harian dan pembinaan mingguan. Dari pembinaan harian berusaha memupuk masyarakat dengan bekal ilmu agama, sedangkan pembinaan mingguan dilakukan sebagai wujud penanaman pemahaman masyarakat dalam menyikapi persoalan keagamaan. sehingga dengan kedua proses tersebut secara berlahan dapat mengubah kepercayaan masyarakat sedikit demi sedikit.
Co-Authors Abdul Rahman Sakka Abubakar, Achmad Aisyah, St. Nur Al Munawarah, Zakiah Alim, Nur Amin, Muhammaddiyah Amrullah Andi Ibrahim Andi Susilawaty, Andi Ansharullah Ansharullah Arifuddin Ahmad, Arifuddin Asniati, Asniati Assagaf, M. Yusuf Ayub, Satry Aziz, Indrawan Bachtiar, Muhammad Harsya Bahar, Nur Qalbi Fitratunnisa Bakar, Achmad Abu Baso Pallawagau Bilu, Nurahdillah Morra Chabir, Andi Ahmad Djafri, Muh. Taufan Erwin Hafid, Erwin Fatmal, Abd. Bashir Febrianti, Febi Hadi, Nurmadia Hamzah Hasan, Hamzah Haqq, Shirny Fathanal Haqq, Zidny Irfanal Hasmirawati, Hasmirawati Hi. Abdul Qayum, Abdul Rahman Ikram, Syamsul Ilyas, Abustani Indo Santalia Iqbal, Nabiha Amaliah Iskandar Iskandar Iting, Andi Ivan Rahmat Santoso J, Jumarni Jabbar, Fitriani Jasad, Usman Julkaranain, Muhammad Kamaruddin, Ratna Khalik, Subehan Kurniati Kurniati Kurniati Zainuddin, Kurniati M. Fais Satrianegara, M. Fais M. Ilham M. Makbul M. Yogi Riyantama Isjoni Magfirah, Adinda Cahya Malik, Masriwaty Malik, Subehan Mathar, Quraisy Miftahuddin Miftahuddin Mirwan, Mirwan Misbahuddin Misbahuddin Mosiba, Risna Mosibah, Risna MUHAMMAD ALI Muhammad Amri Muhammad Amri Muhammad Ashari Muhammad Furkan Muhammad Hasan Muhammad Rais Muhammad Yaumi, Muhammad Muhammadiyah Amin Mulyadi, Irvan Mustafa, Zulhas'ari Mutmainnah, Inayatul Nasir, St. Magfirah Natsir, M. Iqbal Ngampo, Muhammad Ali Nur Arifin, Nur Nurima, Andi Parhani, Aan Purwasetiawatik, Titin Florentina Puyu , Darsul S. Rafli, Rahmat Rahim, Zakiyuddin Rasdiyanah, Andi Rasna, Rasna Rian Hidayat Rismadani, Rismadani Risman, Gufrah Risna Mosiba Ruddin, Nurul Istianah S Puyu, Darsul Saharuddin Saifuddin Saifuddin Sakka, Abdul Rahman Sakka, Abdurahman Salmawati Salmawati, Salmawati Samiang Katu, Samiang Sitti Raodhah Sopyan, Muh. SRI RAHAYU Sukmawati, Andi Sunarsi, Sunarsi Syam, Alda Syam, Muh. Taufik SYAMSUL QAMAR, SYAMSUL Tajibu, Kamaluddin Tasbih Tasmin Tangngareng, Tasmin Taufik Taufik Thulfitrah B, Nurlathifah Thulfitrah B., Nurlathifah Tike, Arifuddin Tonang, Muhammad Ulfazah, Yernati Usman Ali, Asiqoh Wakia, Nurul Zulfahmi Alwi