Claim Missing Document
Check
Articles

Pakaian Perempuan dalam Visualisasi Hadis : Analisis Konten pada Video Animasi CulapCulip di Youtube Hadi, Nurmadia; Puyu , Darsul S.; Ahmad, La Ode Ismail
PAPPASANG Vol. 7 No. 1 (2025): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i1.1425

Abstract

Salah satu isu sosial kegamaan yang senantiasa menarik untuk dikaji adalah persoalan perempuan. Dalam perkembangan kekinian, persoalan perempuan terkait pakaian dari perspektif hadis dicoba divisualisasikan dalam bentuk animasi digital. Sehingga pemahaman hadis akan berkembang dan mengambil bentuk baru yang terdiri dari gambar, suara, dan warna. “CulapCulip” adalah salah satu akun youtube animasi Islami yang mencantumkan Al-Qur’an dan hadis di dalamnya. Hadis yang ditampilkan dalam animasi tersebut tidak disampaikan secara komprehensif. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk meneliti kesesuaian hadis yang ditayangkan dalam animasi tersebut berdasarkan kitab syarah hadis mengingat animasi CulapCulip memiliki jutaan subscriber dan tentunya memberikan dampak positif atau negatif terhadap para penonton. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan berbentuk analisis konten dengan menggunakan studi kepustakaan (library research) dan pendekatan syarah hadis untuk memverifikasi hadis-hadis yang terdapat dalam animasi CulapCulip tentang pakaian perempuan. Penelitian ini mendapati bahwa pemahaman kreator animasi CulapCulip terhadap hadis yang divisualkan dalam video Buat Apa Berjilbab Kalau Tidak Berakhlak, Pamer Aurat Pakai Baju Ketat, Hukum Perempuan Meniru Gaya Laki-laki, dan Hukum Cadar dalam Islam terdapat kesesuaian dengan penjelasan hadis dalam kitab syarah hadis atau syarah ulama. Penelitian ini juga mendapati bahwa "CulapCulip" berusaha menvisualisasikan hadis-hadis Nabi tentang pakaian perempuan dengan pemaknaan yang sesuai resepsi pemahaman hadis masyarakat. "CulapCulip" telah berhasil menampilkan satu pendekatan yang tergolong baru dalam memberikan pemahaman tentang hadis Nabi dalam bentuk animasi melalui akun youtube.
TRADISI MEMBAKAR DUPA SEBAGAI MAKNA WANGI-WANGIAN DALAM PERSPEKTIF HADIS Al Munawarah, Zakiah; Amin, Muhammadiyah; Ahmad, La Ode Ismail
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 18 No 2 (2024): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsutjurnalstudiislamdansosial.v18i2.1423

Abstract

Burning incense is a long-standing Javanese tradition. When Islam came, it turned out that this tradition was still carried out by some people. Incense, often called frankincense, is an ingredient used in religious ceremonies that emits smoke and gives off a distinctive, fragrant aroma. Offerings and food are given to deceased saints, saints, and ancestors through the smoke of incense. To determine the relationship between perception and preventive behavior in the tradition of burning incense, this research looks at the ritual or tradition of burning incense as a fragrance from a hadith perspective. So this hadith produces the following conclusions: 1) Traditions are passed down from ancestors, can change, and can last for seven generations. Those who still adhere to the mattunu undung tradition still do so today. 2) According to Muslim Hadith Number 4184, Rasulullah SAW enjoyed several smells, including bukhur and others. The hadith reference to mattunu undung is important because undung, also known as bukhur or Frankincense, is used to freshen clothes, linens, and other items. Keywords: Burning incense, Fragrances, Hadith Perspective.
Harmonization of Islamic Values and Local Wisdom in The Maccera Manurung Ritual Hidayat, Rian; Mustafa, Zulhas'ari; Ahmad, La Ode Ismail; Iqbal, Nabiha Amaliah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.29152

Abstract

The Maccera Manurung ritual is a vital part of life for the Labuku community, fostering harmony among humans, nature, and spiritual beliefs. A key challenge lies in preserving this tradition while adhering to religious principles and bridging the gap between deeply rooted local customs and Islamic values that guide contemporary society. This study adopts a qualitative descriptive approach, incorporating normative sharia, historical, phenomenological, and sociological perspectives. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the Maccera Manurung ritual reflects values that harmonize Islam and local wisdom, including: (1) spiritual and religious values that frame the ritual as an act of worship, (2) solidarity and mutual cooperation values that strengthen social cohesion, (3) respect for ancestors as recognition of spiritual heritage, (4) simplicity values that counter materialism, and (5) social responsibility values aligned with Sharia principles. Future research should expand its focus to explore other local traditions that integrate religious and cultural values, further enriching understanding in this field. Ritual Maccera Manurung menjadi aspek integral dalam kehidupan masyarakat Labuku yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kepercayaan spiritual lokal. Masalah utama yang muncul adalah bagaimana ritual ini dapat dipertahankan tanpa melanggar aturan-aturan agama, serta bagaimana menemukan titik temu antara tradisi lokal yang berakar kuat dengan nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidup masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pendekatan Normatif Syariah, Historis, Fenomenologis, dan Sosiologis, serta mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ritual Maccera Manurung memuat nilai-nilai yang mengharmoniskan Islam dan kearifan local yaitu: (1) nilai spiritual dan keagamaan yang menjadikan ritual ini sebagai ibadah, (2) nilai solidaritas dan gotong royong yang memperkuat ikatan sosial, (3) nilai penghormatan terhadap leluhur sebagai pengakuan terhadap warisan spiritual, (4) nilai kesederhanaan yang menentang materialisme, dan (5) nilai tanggung jawab sosial yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariah. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas kajian dengan mengeksplorasi tradisi lokal lain yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan budaya setempat.
Living Hadis dalam Pembentukan Islam: Teori, Praktik, dan Tantangan Rafli, Rahmat; Ahmad, La Ode Ismail; Usman Ali, Asiqoh
Media Hukum Indonesia (MHI) Vol 3, No 4 (2025): December
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.17539278

Abstract

Living Hadith refers to the actualization of the Prophet Muhammad’s sayings and teachings within the social, cultural, educational, and da’wah life of Muslim communities. This approach emphasizes that hadith is not merely a textual tradition but a living guide manifested in daily religious and social practices. Through rituals such as the Prophet’s Birthday (Maulid), communal prayers (tahlilan), almsgiving, and grave visits, hadith becomes a moral and spiritual source shaping Muslim character and social solidarity. In education and da’wah, hadith values are internalized through learning, role modeling, and digital media. However, the development of Living Hadith faces academic challenges due to the lack of standardized methodology, as well as socio-cultural issues like syncretism and misinterpretation. Modernity and globalization also demand new interpretations to ensure the relevance of hadith in the digital era. This study concludes that Living Hadith serves as a bridge between divine revelation and social reality, portraying Islam as a dynamic, contextual, and universal religion of mercy (rahmatan lil ‘alamin).