Claim Missing Document
Check
Articles

The Implementation of Islamic Education: The Process of Instilling Akhlakul Karimah (Noble Characters) for Madrasah Tsanawiyah Students Amri, Muhammad; Saharuddin, Saharuddin; Ahmad, La Ode Ismail
Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah Vol 4 No 1 (2019): Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/tadris.v4i1.4070

Abstract

Islamic Religious Education is an important and inseparable part of the educational curriculum in Indonesia. Besides being an obligation for its adherents, Islamic learning can instill the values of faith and make students possess noble morals (akhlakul karimah). This study aims to examine and discuss how the implementation process of Islamic education in instilling noble morals in students of Madrasah Tsanawiyah (Islamic Junior High School). This study uses a qualitative approach with data reduction, data presentation, and conclusion drawing as the data analysis. The sample of this study was the principal of the madrasah, vice-principal, students, and teachers of Islamic education in Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Makassar. The results of the analysis of this study indicate that through the implementation of Islamic Religious Education, the students could possess noble characters. There are eight behaviors that are applied to instill the noble characters, namely habituating the smiles, salaam, and greetings, mutual respect (tolerance), sunnah fasting on Monday and Thursday, performing the Duha prayer, performing dhuhr prayers, reciting the Quran, congregational prayer, and getting used to alms giving (infaq). These eight commendable behaviors are recommended for teachers and principals to be applied in their respective schools.
Metodologi Penyusunan Kitab-Kitab Hadis Ashari, Muhammad; Malik, Subehan; Ahmad, La Ode Ismail
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas metodologi penyusunan kitab hadis yang terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu kitab al-Hadits al-Ushuli (kitab sumber) dan kitab al-Hadits al-Buhutsi (kitab kajian). Kitab Ushuli meliputi lima tipe utama: Musannaf/Muwaththa’, yang disusun berdasarkan klasifikasi hukum Islam; Musnad, yang diurutkan berdasarkan nama sahabat periwayat hadis; Jami’, yang mencakup berbagai aspek ajaran Islam secara tematik; Sunan, yang disusun berdasarkan bab-bab fikih dan memuat hadis hukum; serta Ajza’/Juz’, yang menghimpun hadis berdasarkan perawi tertentu atau tema khusus. Sementara itu, kitab Buhutsi merupakan pengembangan dari kitab Ushuli yang difokuskan pada analisis, pengembangan dan penggabungan hadis dari berbagai sumber. Tipe-tipe kitab ini meliputi: Jawami’, yang menghimpun berbagai bab ajaran agama secara luas; Mustadrak, yang menyertakan hadis sahih yang tidak tercantum dalam kitab sebelumnya; Athraf, yang memuat potongan matan hadis dan sanadnya; Syarh/Ta’liq, yang berupa penjelasan dan catatan atas hadis; Mu’jam, yang disusun berdasarkan nama guru atau perawi secara alfabetis; Mustakhraj, yang menyusun ulang hadis dari kitab sebelumnya dengan sanad berbeda; dan Zawa’id, yang menghimpun hadis tambahan dari kitab-kitab yang telah ada. Penelitian ini menunjukkan bahwa ragam metodologi tersebut mencerminkan upaya sistematis ulama dalam menjaga, mengklasifikasikan, dan mengembangkan ilmu hadis dari masa ke masa.
Penelitian Rijal Al-Hadis dan Al-Jarh Wa Al-Ta’dil Haqq, Shirny Fathanal; Ikram, Syamsul; Malik, Subehan; Ahmad, La Ode Ismail
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas dua cabang ilmu, diaantaranya yaitu Ilmu Rijalul Hadis dan Ilmu Jarh wa Ta’dil yang memainkan peran penting dalam menilai keabsahan hadis melalui analisis terhadap perawi dan sanadnya. Ilmu Rijalul Hadis secara khusus membahas biografi dan karakteristik para perawi hadis dari berbagai generasi, mencakup aspek integritas moral, keilmuan, serta jaringan periwayatan. Sementara itu, Ilmu Jarh wa Ta’dil berfungsi sebagai metode kritik dan validasi dengan menggunakan istilah tertentu untuk menilai apakah seorang perawi dapat diterima atau ditolak riwayatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), yang bersumber dari Alquran, hadis, buku, dan jurnal ilmiah terkait. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap urgensi dan fungsi strategis kedua ilmu tersebut dalam studi hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ilmu Rijalul Hadis dan Jarh wa Ta’dil tidak hanya membantu mengidentifikasi keaslian hadis dan membedakan antara hadis sahih dan palsu, tetapi juga menjadi sarana penyelesaian perbedaan pendapat serta memperkuat pemahaman umat terhadap ajaran Islam. Dengan demikian, keduanya menjadi fondasi kritis dalam disiplin Ilmu Hadis dan penting untuk membahas lebih dalam sehingga dapat dikuasai oleh setiap peneliti dan pemerhati hadis demi menjamin keabsahan ajaran yang diwariskan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, penguasaan terhadap Ilmu Rijalul Hadis dan Jarh wa Ta’dil menjadi keharusan bagi siapa pun yang ingin memahami dan meneliti hadis secara komprehensif, demi menjaga kemurnian ajaran Islam dari berbagai bentuk penyimpangan dan manipulasi historis.
Transformasi Metode Takhrij Al-Hadis Di Era Digital (Studi Analisis Kritis Terhadap Integrasi Teknologi Dalam Studi Hadis) Haqq, Zidny Irfanal; Khalik, Subehan; Ahmad, La Ode Ismail
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi metode takhrij al-hadis di era digital merupakan respons terhadap dinamika perkembangan teknologi dan kebutuhan efisiensi dalam studi keislaman. Digitalisasi memberikan kemudahan dalam pencarian dan klasifikasi hadis melalui berbagai platform aplikasi, namun di sisi lain juga menimbulkan problematika metodologis dan epistemologis. Berbagai platform digital sering kali tidak memenuhi standar keilmuan yang baku, seperti kurangnya keterangan sanad dan penilaian kualitas hadis. Selain itu, dominasi data instan telah menggeser orientasi keilmuan dari sistem sanad dan pembelajaran lisan (musyafahah), sehingga berpotensi melemahkan fondasi epistemologi hadis yang selama ini dijaga secara ketat. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam studi hadis harus dibarengi dengan penguatan kompetensi akademik melalui kurikulum terpadu, literasi digital, serta kolaborasi antara pakar hadis dan pengembang teknologi. Strategi ini diharapkan mampu menjaga otentisitas sumber hadis sekaligus mendorong adaptasi keilmuan terhadap tuntutan zaman, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar dalam ilmu hadis.
Hadis dan Sunnah (Tinjauan Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis) Furkan, Muhammad; Bilu, Nurahdillah Morra; Ahmad, La Ode Ismail; Khalik, Subehan
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (pengakuan) atau sifat. Sunnah menurut ulama hadis ialah segala sesuatu yang datang dari Nabi Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat baik, sifat fisik atau perangai (akhlak), dan atau sejarah, baik sebelum diangkat menjadi Rasul. Kata hadis dan sunnah sering kali disamakan atau memiliki makna yang sama, tetapi adapula yang membedakan makna keduanya. Sehingga, sangat diperlukan pemahaman terkait hadis dan sunnah dalam aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penelitian kualitatif dan metode kajian library research (pustaka). Teknik pengambilan data yang dilakukan peneliti yakni dengan data-data yangdikumpulkan dari berbagai sumber, baik dari buku, jurnal, dan lain-lain yang relevan dengan tema penelitian. Setelah itu, data yang telah terkumpul kemudian dianalisis oleh peneliti dan memberikan penjelasan secukupnya dengan tujuan memperkuat hasil penelitian. Dengan demikian, mengetahui hadis atau sunnah dari aspek ontologis (pengertian dan sinonim hadis dan sunnah), epistemologis (unsur dan klasifikasi hadis dan sunnah) dan aksiologis (otoritas Nabi Muhammad dan fungsi hadis terhadap al-Qur’an) tersebut, diharapkan agar nantinya tidak menimbulkan kekeliruan atau kesalapahaman terkait hadis atau
Ulumul Hadis (Aspek Ontologi, Epistemologi, Aksiologi) Alim, Nur; Khalik, Subehan; Ahmad, La Ode Ismail
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memberikan pemahaman mengenai ulumul hadis yang ditinjau dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya. Metode penelitian yang dingunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka (library research) dengan penelitian data secara kualitatif dengan teknik pengambilan data dari berbagai sumber, baik dari buku, jurnal, dan sumber lain yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ulumul Hadis merupakan ilmu-ilmu yang membahas segala hal tentang hadis nabi ataupun segala hal yang berkaitan dengan hadis nabi, yang pada mulanya masing-masing berdiri sendiri lalu dimuat dan diramu atau disatukan dalam pembahasan ulumul hadis. Ulumul hadis tidak lepas dari penjabaran ilmu hadis Riwayah dan Dirayah, kemudiaan dalam perkembangannya ulumul hadis berkembang menjadi beberapa cabang-cabang ilmu hadis. Dalam ulumul hadis ini juga membahas terkait nilai-nilai, tujuan atau manfaat mempelajari ulumul hadis. Penelitian ini menegaskan adanya kelompok ilmu hadis yang terbagi menjadi beberapa cabang ilmu hadis. Sehingga penting untuk mempelajari dan mengkaji kembali secara utuh sampai pada akar-akarnya, agar terhindar dari kesalahpahaman dan membawa kita pada kedalaman serta keluasan pemahaman terhadap hadis dan kaidah-kaidahnya. Untuk itu, penelitian ini hadir dan disajikan secara koheren dan komprehensif untuk mempermudah dalam memahami ulumul hadis. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyajian data yang sistematis dan mendalam guna menjadi acuan atau referensi untuk penelitian selanjutnya. Pembahasan ulumul hadis ini hanya terbatas pada tiga aspek, yaitu aspek ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Untuk itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai cabang-cabang keilmuan dalam ulumul hadis.
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hadis: Masa Nabi Hingga Masa Pembukuan Hadis Febrianti, Febi; Risman, Gufrah; Khalik, Subehan; Ahmad, La Ode Ismail
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini menelusuri perjalanan historis tradisi hadis sejak era Rasulullah saw. sampai periode kodifikasi yang terorganisir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai bagaimana hadis berkembang menjadi sumber otoritatif dalam ajaran Islam, terutama karena masih banyak literatur yang membahasnya secara umum dan ringkas. Studi ini menerapkan metode penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan (library research). Sumber data berasal dari literatur primer dan sekunder yang meliputi al-Qur'an, koleksi hadis, buku-buku referensi, serta artikel jurnal yang berkaitan. Temuan riset mengindikasikan bahwa penyebaran hadis awalnya berlangsung secara oral di era kenabian, selanjutnya dijaga dan dipelihara oleh kalangan sahabat serta tabi'in dengan penuh kehati-hatian. Proses kodifikasi hadis secara formal diprakarsai pada periode Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan diteruskan oleh tokoh-tokoh ulama terkemuka seperti Imam Malik, Imam al-Bukhari, dan Imam Muslim. Perkembangan hadis ini terbagi ke dalam tujuh periode yang masing-masing mencerminkan perubahan metodologi dan tantangan, termasuk munculnya hadis palsu serta perkembangan ilmu-ilmu hadis. Penelitian ini menegaskan adanya komitmen ilmiah para ulama dalam menjaga keaslian hadis dan fondasi keilmuannya. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyajian periodisasi sejarah hadis yang sistematis dan mendalam, yang bermanfaat bagi kajian akademik maupun pengajaran keislaman. Keterbatasan penelitian ini adalah fokus pada kajian teks historis tanpa validasi empiris. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji relevansi kontemporer dan penerapan ilmu hadis dalam kurikulum pendidikan Islam modern.
Teknik Periwayatan Hadis: Pengertian, Bentuk Periwayatan, Syarat, Dan Metode Periwayatan Bahar, Nur Qalbi Fitratunnisa; Khalik, Subehan; Ahmad, La Ode Ismail
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk membangun pemahaman mengenai teknik-teknik periwayatan hadis meliputi bentuk periwayatan hadis, syarat yang harus dipenuhi dalam proses periwayatan hadis serta metode yang digunakan dalam periwayatan hadis. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif yang dipadukan dengan studi kepustakaan (library research). Sumber data berasal dari beragam literatur yang relevan, di antaranya adalah buku, artikel jurnal, dan sumber pustaka lainnya yang membahas secara komprehensif bentuk, syarat, dan metode periwayatan hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periwayatan hadis secara umum mencakup dua bentuk yaitu periwayatan lafaz dan periwayatan maknawi. Periwayatan hadis adalah kegiatan yang melibatkan dua sisi, yaitu penerima atau pengambil seperti murid dan ini dikenal istilah tahammul dan periwayat atau pemberi yaitu seorang guru dan ini dikenal dengan istilah ada’. Baik penerima atau periwayat harus memenuhi beberapa syarat agar hadis yang diriwayatkan dapat diterima. Dalam proses periwayatan hadis, terdapat berbagai metode yang digunakan, antara lain as-Sima' (mendengar), al-Qira’ah (membaca), al-Ijazah (izin untuk meriwayatkan), al-Munawalah (memberi), al-Mukatabah (menullis), al-I'lam (pemberitahuan), al-Washiyah (wasiat), dan al-Wijdan (penemuan). Penelitian ini memberikan kontribusi pemahaman terhadap validitas suatu hadis sehingga memperkuat literatur keilmuan Islam serta mencegah kesalahpahaman dalam praktik agama. Penelitian ini terbatas pada kajian teoritis teknik periwayatan sehingga penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian komparatif takhrij hadis agar penelitian lebih aplikatif.
A Hadith-Based Love Curriculum in Islamic Education: An Initiative by Indonesia’s Ministry of Religious Affairs Malik, Masriwaty; Alwi, Zulfahmi; Ilyas, Abustani; Ahmad, La Ode Ismail; Fatmal, Abd. Bashir
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol. 22 No. 2 (2025)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v22i2.30928

Abstract

This study examines the concept of the “Love-based Curriculum” initiated by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia through the perspective of the prophetic hadiths of the Prophet Muhammad (PBUH). The research focuses on identifying, classifying, and analyzing hadiths that represent the values of love for God (ḥablum minallāh), love for fellow human beings (ḥablum minannās), love for the environment, and love for the homeland. Employing a qualitative approach through a library-based study, this research applies the method of takhrīj al-ḥadīth, followed by sanad and matan criticism to assess the authenticity of the hadiths utilized. This study is conducted to address the existing gap in the development of Islamic education curricula that explicitly draw upon prophetic traditions as primary sources of educational values. The findings reveal that out of 54 identified hadith, the majority are classified as ṣaḥīḥ (authentic) and are appropriate to serve as normative foundations for formulating a value-based curriculum centered on love. These traditions demonstrate a strong correlation with the values of tolerance, empathy, ecological responsibility, and national spirit. The results underscore the urgency of integrating prophetic teachings into the design of an Islamic education curriculum that is more holistic, transformative, and humanistic. A hadith-based Love Curriculum holds substantial potential in shaping a learning ecosystem that not only fosters intellectual excellence but also cultivates moral integrity, strengthens social harmony, and promotes the development of a robust national character.
Revitalisasi Hadis Tentang Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Merespons Krisis Pendidikan Islam Kontemporer di Indonesia Sunarsi, Sunarsi; Ahmad, La Ode Ismail; Sakka, Abdul Rahman
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5396

Abstract

Fenomena menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia, meskipun di tengah kemajuan teknologi informasi, menunjukkan adanya paradoks yang serius, khususnya dalam masyarakat Muslim yang semestinya menjadikan ilmu sebagai landasan utama kehidupan. Artikel ini mengkaji urgensi menuntut ilmu dalam perspektif hadis dengan fokus pada hadis riwayat Ibnu Majah: “Ṭalab al-’ilm farīḍah ‘alā kulli muslim”, serta relevansinya terhadap pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan takhrij al-ḥadīs untuk menelusuri hadis, serta interpretasi kontekstual yang mengaitkan substansi hadis dengan realitas pendidikan modern. Meskipun hadis tersebut tergolong ḍa’īf, mayoritas ulama membolehkan pengamalannya dalam konteks fadhā’il al-a’māl. Temuan menunjukkan bahwa hadis ini tetap relevan sebagai landasan motivasional untuk membentuk kultur belajar yang kuat. Artikel ini juga menawarkan model integratif antara nilai-nilai spiritual dan tuntutan modernitas dalam sistem pendidikan Islam Indonesia. Dengan pendekatan normatif-aplikatif, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang kontekstual, adaptif, dan berakar pada nilai-nilai profetik.