Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Penurunan Burnout Perawat Melalui Implementasi Relaksasi Autogenik Nur, Hirza Ainin; Pramudaningsih, Icca Narayani; Pujiati, Eny; Cahyanti, Luluk; Yuliana, Alvi Ratna; Ambarwati; Jamaludin; Fitriana, Vera
JURNAL KESEHATAN PRIMER Vol 9 No 2 (2024): JKP (Jurnal Kesehatan Primer)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/jkp.v9i2.1780

Abstract

Background: Burnout is prolonged stress that is often experienced by nurses due to work fatigue. Nurses who experience burnout can cause fatal problems such as the risk of suicide in nurses, as well as a decrease in the quality of service for patients. One action that can be used to reduce burnout symptoms is autogenic relaxation. Objective: This research aims to determine the effectiveness of autogenic relaxation measures on nurse burnout. Method: The research method used is pre-experimental design with one group pretest-posttest design. The total sample was 22 respondents. Autogenic relaxation was carried out once every day for 1 week in the morning with a duration of 20 minutes. Data collection used observation sheets, autogenic relaxation SOPs, the Maslach Burnout Inventory (MBI) instrument. Statistical analysis uses the Wilcoxon Rank Test. Results: This research shows that autogenic relaxation is effective in reducing nurse burnout with p-value of 0.000 for emotional exhaustion, 0.000 depersonalization, 0.000 personal accomplishment.
Profile of Elderly Independence in Tluwuk Village, Wedarijaksa Pati Widyaningsih, Heriyanti; Muniroh, Fitri Ambarwati; Fitriana, Vera; Arsy, Gardha Rias; Putri, Devi Setya; Faidah, Noor; Winarsih, Biyanti Dwi; Hartini, Sri; Pujiati, Eny
Journal Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58774/jourkep.v3i2.82

Abstract

Background: Elderly is a stage when a person enters the age of 60 years and above where changes occur in various aspects such as biological, cognitive, psychosocial, spiritual, and economic functions, which can affect the level of individual independence. Independence is related to a person's ability not to depend on others and not require full direction in carrying out activities. Elderly independence refers to the ability to carry out daily activities independently, make their own decisions, and meet their needs without assistance. Aspects of elderly independence include the ability to care for themselves such as eating, dressing, using the toilet, moving, bathing and eating independently. This independence can certainly be the main capital for the elderly in maintaining their health. Purpose: To find out the level of independence of the elderly in Tluwuk Village, Wedarijaksa Pati . Methods: The type of research used is quantitative descriptive with a survey design. The sample used in this study was the entire elderly population at the Tluwuk village health post as many as 30 respondents with a total sampling technique. The inclusion criteria include elderly people aged ≥ 60 years who live in Tluwuk village, are able to communicate fluently and are willing to be respondents. The instrument used to assess the function of independence is the Barthel Index. Results: Based on the results of the analysis, there were 16 elderly people in the independent category (53.3%), 13 people in the mild dependency category (43.3%) and 1 person in the heavy dependency category (3.3%). Conclusion: Almost half of the elderly in Tluwuk village have a good level of independence and can carry out daily activities without depending on or needing help from other people.
Distribusi Prevalensi Kejadian Stunting pada Balita dengan Penyakit Penyerta di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjungrejo Kabupaten Kudus Dilla Ameliasari; Anita Dyah Listyarini; Eny Pujiati; Nila Putri Purwandari
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 2 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nutrition problems in toddlers that are quite large in Indonesia are stunting. Stunting is a state of malnutrition characterized by a height Z-score of less than -2 SD. Based on the Kudus Regency Health Office data report in December 2023, the Tanjungrejo Health Center work area is the highest contributor to stunting with a prevalence of 8.2%. Children who are malnourished have a low resistance to disease, making them susceptible to infectious diseases. Vice versa, children affected by infectious diseases can easily experience malnutrition, so stunted toddlers often have comorbidities. Comorbidities are conditions where a person has other diseases experienced apart from the main disease at the same time. The impact if no screening is done on stunted toddlers who have comorbidities, it will worsen both prognoses. The method used in this study is a descriptive cross-sectional method. The highest frequency of stunting toddlers based on age / month is 24 - 36 months, as many as 45 toddlers (29.6%). The highest frequency of stunting toddlers based on gender is female gender as many as 79 toddlers (52%). The frequency of stunting with the severely stunted category was 26 toddlers, while with the short category (stunted) was 126 toddlers (82.9%). Stunted toddlers with diarrhea comorbidities were 29 toddlers (19.1%), with TB disease as many as 4 toddlers (2.6%), with pneumonia 0 toddlers (0%), with ARI disease 2 toddlers (1.3%), no comorbidities 117 (77%). The most stunted toddlers with comorbidities were stunted with diarrhea as many as 29 toddlers (19.1%).   Abstrak Permasalahan gizi pada balita yang cukup besar terjadi di Indonesia adalah stunting. Stunting merupakan keadaan gizi buruk yang ditandai dengan Z-score tinggi badan kurang dari -2 SD. Berdasarkan dari laporan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus pada Desember tahun 2023, wilayah kerja Puskesmas Tanjungrejo merupakan penyumbang tertinggi stunting dengan prevalensi sebesar 8,2%. Anak  yang  mengalami  gizi  kurang  maka daya tahan tubuh terhadap penyakitnya menjadi rendah sehingga mudah terserang penyakit  infeksi.  Demikian  pula  sebaliknya,  anak  yang  terkena  penyakit  infeksi dapat dengan mudah mengalami gizi kurang, sehingga balita stunting sering memiliki penyakit penyerta. Penyakit penyerta atau dikenal dengan penyakit komorbid merupakan kondisi dimana seseorang mempunyai penyakit lain yang dialami selain dari penyakit utamanya dalam waktu bersamaan. Dampak jika tidak dilakukan skrining pada balita stunting yang memiliki penyakit penyerta, maka akan memperburuk kedua prognosisnya. Metode yang digunakan dalam peelitian ini yaitu metode descriptive cross-sectional. Frekuensi tertinggi balita stunting berdasarkan umur/bulan yaitu 24 – 36 bulan yaitu sebanyak 45 balita (29,6%). Frekuensi tertinggi balita stunting berdasarkan jenis kelamin yaitu jenis kelamin perempuan sebanyak 79 balita (52%). Frekuensi kejadian stunting dengan kategori sangat pendek (severly Stunted) sebanyak 26 balita, sedangkan dengan kategori pendek (stunted) sebanyak 126 balita (82,9%). Balita stunting dengan penyakit penyerta diare sebanyak 29 balita (19,1%), dengan penyakit TB sebanyak 4 balita (2,6%), dengan penyakit Pneumonia 0 balita (0%), dengan penyakit ISPA 2 balita (1,3%), tidak ada penyakit penyerta 117 (77%). Balita stunting dengan penyakit penyerta terbanyak yaitu stunting dengan penyakit penyerta diare sebanyak 29 balita (19.1%).
EDUKASI 6 LANGKAH CUCI TANGAN UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI Vera Fitriana; Icca Narayani; Hirza Ainin Nur; Eny Pujiati; Alvi Ratna Yuliana; Luluk Cahyanti; Jamaludin Jamaludin; Ngatmini Ngatmini; Putri Lestari
JABI: Jurnal Abdimas Bhakti Indonesia Vol 4 No 2 (2023): Desember
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jabi.v4i2.580

Abstract

Kebersihan tangan yang baik memainkan peran utama dalam mengurangi dan menghilangkan penyebaran kuman dan infeksi, karena tangan menjadi salah satu agen utama masuknya kuman yang menyebabkan penyakit, dimana kuman bisa masuk melalui mulut, hidung dan anggota tubuh lainnya. Banyaknya masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan cuci tangan salah satunya adalah terjadinya infeksi. Cuci tangan secara rutin merupakan salah satu upaya yang sangat penting untuk menjaga kebersihan tangan dalam upaya dan pencegahan dan pengendalian infeksi. Tujuan pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan ini adalah mengidentifikasi pengetahuan tentang kebiasaan cuci tangan sebagai upaya menurunkan resiko infeksi pada pasien rawat jalan di UPT. Puskesmas Jepang. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah dengan memeberikan penyuluhan kesehatan dan simulasi cuci tangan 6 langkah kepada pasien. Kegiatan dimulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil kegiatan penyuluhan. Hasil kegiatan ada perubahan pengetahuan tentang cuci tangan ditandai dengan pasien bisa menjawab pertanyaan seputar materi yang disampaiakan. Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang cuci tangan 6 langkah.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEPRESI PADA PENDERITA HIV/AIDS (ODHA) Eny Pujiati; Icca Narayani
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v8i2.104

Abstract

HIV/AIDS berdampak besar dalam kehidupan ODHA (Penderita HIV/AIDS). Dampak tersebut bisa dirasakan dari segi biologis, sosial, ekonomi serta psikologis. HIV/AIDS tidak hanya menurunkan kualitas fisik, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian depresi pada ODHA di Layanan VCT RSUD RA. Kartini Kabupaten Jepara. Desain penelitian menggunakan penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien HIV/AIDS yang menjalani rawat jalan di poliklinik VCT RSUD RA. Kartini Kabupaten Jepara dengan menggunakan metode simple random sampling sebanyak 78 sampel dengan kriteria inklusi yaitu didiagnosa HIV positif kurang dari 1 tahun, berusia lebih dari 18 tahun (kelompok usia dewasa), dapat membaca dan menulis, bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan kooperatif. Pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket, Analisa data menggunakan uji statistik Chi- Square dan dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan depresi pada penderita HIV/AIDS berdasarkan pendidikan, status marital, penghasilan, stadium penyakit dan dukungan sosial dengan, nilai p value ? < 0,05. Tidak terdapat hubungan depresi pada penderita HIV/AIDS berdasarkan umur dan jenis kelamin, nilai p value ? > 0,05. Kata Kunci: Depresi, ODHA(Penderita HIV/AIDS).
Pengaruh Spyritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Tingkat Insomnia pada Penderita HIV/IDS (ODHA) Eny pujiati; Irma Febita
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v6i1.59

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penderita HIV/AIDS (ODHA) mengalami prevalensi insomnia yang lebih tinggi daripada populasi umum. Hampir 73 % pasien HIV/AIDS mengalami gangguan tidur, angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami HIV/AIDS yang hanya sekitar 10-40% . Katherine (2012) mengatakan bahwa semakin berat derajat HIV/AIDS semakin berat pula gangguan tidur yang dialami. Penatalaksanaan farmakologis untuk insomnia yaitu dengan memberikan obat dari golongan sedatif-hipnotik seperti  benzodiazepin, sedangkan penatalaksanaan non farmakologis meliputi  terapi  pembatasan tidur,  terapi  kontrol  stimulus,  terapi pencatatan waktu tidur (sleep diary) dan terapi komplementer. Terapi komplementer yang dapat direkomendasikan oleh perawat komunitas untuk gangguan tidur adalah terapi Spyritual Emotional Freedom Tehnique (SEFT). Tujuan: untuk menganalisa pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan tingkat insomnia pada ODHA. Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan metode quasi eksperiment design berbentuk non equivalent (pretest dan postest) control group design. Pengambilan sampel dengan purposive sampling berjumlah 34 responden. Pengumpulan data dengan instrument skala insomnia dan analisa data menggunakan  Independent t-test. Hasil penelitian: menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan tingkat insomnia pre test dan post test pada kelompok intervensi dengan nilai p value 0,000, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan dengan nilai p value 0,188. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diharapkan ODHA menjadikan terapi SEFT sebagai salah satu penatalaksanaan non-farmakologi untuk menurunkan tingkat insomnia. Kata Kunci: ODHA, Insomnia, Spyritual Emotional Freedom Technique     ABSTRACT Background: People with HIV / AIDS (PLWHA) experience a higher prevalence of insomnia than the general population. Nearly 73% of HIV / AIDS patients experience sleep disorders, this figure is much higher when compared to individuals who do not experience HIV / AIDS, which is only around 10-40%. Katherine (2012) said that the more severe the degree of HIV AIDS the more severe sleep disorders experienced. Pharmacological management of insomnia is by giving drugs from sedative-hypnotic groups such as benzodiazepines, while non-pharmacological management includes sleep restriction therapy, stimulus control therapy, sleep diary recording, and complementary therapy. The complementary therapy that community nurses can recommend for sleep disorders is the therapy of Spyritual Emotional Freedom Tehnique (SEFT). Objective: to analyze the effect of SEFT therapy on reducing the level of insomnia in people living with HIV. Research Methods: This type of research is quantitative with a quasi-experimental design method in the form of non equivalent (pretest and posttest) control group design. Sampling with purposive sampling amounted to 34 respondents. Data collection with instrument scale insomnia and data analysis using Independent t-test. Results of the study: showed that there was an effect of SEFT therapy on the decrease in the level of pre-test and post-test insomnia in the intervention group with a p value of 0,000, whereas in the control group there was no difference with a p value of 0.188. Based on the results of the research conducted, it is expected that ODHA make SEFT therapy as one of the non-pharmacological management to reduce the level of insomnia. Keywords: PLWHA, Insomnia, Spyritual Emotional Freedom Technique
PENERAPAN KOMPRES HANGAT JAHE PADA PENDERITA RHEUMATOID ARTRITIS : STUDI LITERATUR Vera Fitriana; Eny Pujiati; Irna Sari
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Profesi Keperawatan
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v8i2.105

Abstract

Rheumatoid Artritis (RA) merupakan suatu penyakit autoimun secara simetris pada persendian tangan dan kaki yang mengalami peradangan sehingga menyebabkan terjadinya pembengkakan, nyeri dan dapat menyebabkan kerusakan pada bagian sendi.1 salah satu upaya untuk mengurangi nyeri rheumatoid artritis yaitu dengan kompres hangat jahe merah yang kandungan minyak atsirinya melancarkan peredaran darah dan peradangan pada sendi. Tujuan studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres hangat jahe merah terhadap intensitas nyeri pada penderita rheumatoid artritis. Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi literatur, pengumpulan datanya adalah studi pustaka, jenis data yang digunakan adalah data sekunder bersumber dari literatur dan referensi-referensi. Data yang diperoleh dengan cara mengompilasi, menganalisa dari artikel jurnal dan buku. Pencarian artikel dilakukan dilakukan denganmengumpulkan jurnal yang setema kompres hangat jahe merah pada penderita Rheumatoid Artritis. Tahun penerbitan artikel yang digunakan 3 jurnal yang diterbitkan pada tahun 2010-2019. Hasil dari studi literatur yang didapatkan dari menganalisa dan mengompilasi  3 jurnal  Berdasarkan analisa ditemukan bahwa pemberian kompres hangat jahe merah berpengaruh terhadap intensitas nyeri pada penderita Rheumatoid Artritis karena jahe memiliki kandungan gingerol dan shagol yang bersifat pedas dan memiliki manfaat untuk mengatasi proses inflamasi pada nyeri. Kesimpulan dari studi literature ini adalah kompres hangat jahe merah berpengaruh terhadap intensitas nyeri rheumatoid artritis.Kata kunci : Rheumatoid Artritis, Intensitas nyeri, Kompres Jahe.
Pelatihan Mindfulness dan Kecerdasan Emosional sebagai Upaya Promotif dan Preventif terhadap Stres pada Remaja di Panti Asuhan Budi Luhur Pujiati, Eny; Lestari, Putri; Fitriana, Vera; Yuliana, Alvi Ratna; Ambarwati, Ambarwati; Pramudaningsih, Icca Narayani; Cahyanti, Luluk; Nur, Hirza Ainin; Jamaludin, Jamaludin
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v2i2.58

Abstract

Remaja yang tinggal di panti asuhan cenderung menghadapi risiko stres psikologis yang lebih tinggi akibat keterbatasan dukungan emosional, kehilangan figur keluarga, dan tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial. Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental jika tidak ditangani secara tepat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran emosional dan kemampuan regulasi diri melalui pelatihan mindfulness dan kecerdasan emosional sebagai upaya promotif dan preventif terhadap stres. Kegiatan ini dilaksanakan di Panti Asuhan Budi Luhur, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Metode pelatihan meliputi penyampaian materi, diskusi partisipatif, dan praktik teknik mindfulness, seperti latihan pernapasan sadar, pemindaian tubuh, meditasi cinta kasih, dan penerapan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pelatihan juga mencakup penguatan kecerdasan emosional, seperti kemampuan mengenali dan mengelola emosi, pemberian afirmasi positif, serta menumbuhkan empati dan rasa syukur. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan kesadaran diri, lebih mampu merespons stres secara adaptif, serta menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan reflektif terhadap kondisi emosional mereka. Program ini terbukti memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan psikologis remaja dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai model intervensi berkelanjutan di lingkungan panti asuhan.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG SADARI DI RSUD dr. R. SOETRASNO REMBANG TAHUN 2024 Fatmawati, Yayuk; Rahmawati, Priandari Amelia; Pujiati, Eny
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.216

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Permasalahan kanker payudara saat ini adalah tingginya angka kematian dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pengenalan risiko dan pengenalan gejala secara dini. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap identifikasi risiko dan deteksi dini menyebabkan kanker payudara di Indonesia lebih mungkin terdeteksi pada stadium lanjut. Keterlambatan diagnosis kanker payudara pada wanita kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya informasi pasien (patient delay), ketidaktahuan dokter atau tenaga medis (medical delay), atau keterlambatan perawatan di rumah sakit. Hal ini mungkin disebabkan karena kesadaran terhadap risiko kanker payudara masih rendah dan sebagian besar wanita cenderung menganggap remeh risiko tersebut. Hal ini dapat berdampak besar pada pelatihan Deteksi dini dan perhatian terhadap gejala medis yang menunda kanker payudara. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien tentang SADARI Di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan studi deskriptif. Instrumen penelitian berupa kuesioner tentang tingkat stres berisi 20 pernyataan. Subyek penelitian adalah pasien wanita yang berumur ?20 tahun. Teknik sampling menggunakan purposive dengan jumlah responden 83 orang. Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 responden, pengetahuan baik sebesar 52 (62.7%),  tingkat pengetahuan cukup sebesar 27 (32.5%) dan yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang sebesar 4 (4.8%).Simpulan : Tingkat pengetahuan pasien tentang SADARI sebagian besar baik. Kata Kunci : SADARI, Pengetahuan
PENGARUH TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP INSOMNIA PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEPANG KABUPATEN KUDUS Pujiati, Eny
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v12i1.222

Abstract

ABSTRAKInsomnia merupakan gangguan tidur yang memiliki prevalensi tinggi pada populasi lanjut usia dan berdampak pada penurunan fungsi fisik, kognitif, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Penanganan insomnia melalui pendekatan farmakologis sering kali menimbulkan efek samping, sehingga intervensi nonfarmakologis seperti terapi relaksasi otot progresif menjadi alternatif yang lebih aman dan efektif. Terapi ini berfokus pada proses sistematis mengencangkan dan melemaskan kelompok otot tertentu untuk menginduksi relaksasi menyeluruh dan meningkatkan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jepang, Kabupaten Kudus. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 25 responden lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa terapi relaksasi otot progresif diberikan selama lima sesi berturut-turut dalam satu minggu, dengan durasi 10–15 menit per sesi. Pengukuran tingkat insomnia dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale (IRS). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (88%) dan kelompok usia terbanyak berada pada rentang 70–79 tahun. Sebelum intervensi, mayoritas responden mengalami insomnia sedang (76%) dan berat (8%). Setelah intervensi, sebagian besar responden mengalami insomnia ringan (80%) atau tidak mengalami insomnia (16%). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Z sebesar -4,380? dengan p-value 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terapi relaksasi otot progresif berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jepang Kabupaten Kudus.  Kata Kunci: Lansia, Terapi relaksasi otot progresif, Insomnia.