Claim Missing Document
Check
Articles

Review: Antibacterial Activity of Citrus Peel Against Staphylococcus aureus Ria Mariani; Diki Prayugo Wibowo
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57725

Abstract

Staphylococcus aureus adalah bakteri patogen yang ditemukan pada saluran pernapasan, pencernaan, dan urogenital. Bakteri ini juga dapat menyebabkan keracunan makanan. Kulit buah jeruk mengandung metabolit sekunder penting dan minyak atsiri, meskipun biasanya dibuang sebagai limbah agroindustri. Salah satu manfaat kulit jeruk adalah aktivitas antibakterinya. Banyak penelitian telah dilakukan mengenai aktivitas antibakteri kulit jeruk, termasuk terhadap S. aureus. Oleh karena itu, tujuan artikel review ini adalah untuk mengkaji aktivitas antibakteri kulit jeruk terhadap S. aureus. Artikel review ini mengumpulkan sejumlah studi ilmiah yang menunjukkan bahwa kulit jeruk memiliki potensi antibakteri yang menjanjikan terhadap S. aureus. Berbagai spesies jeruk, baik dalam bentuk ekstrak, fraksi, maupun minyak atsiri, mampu menghambat pertumbuhan S. aureus. Limonen merupakan salah satu komponen dalam minyak atsiri kulit jeruk yang berkontribusi terhadap aktivitas antibakterinya. Minyak atsiri kulit jeruk memiliki kemampuan membunuh sel S. aureus dengan cara menembus membran bakteri dan bekerja pada membran sel, sehingga menunjukkan potensinya sebagai agen antibakteri alami yang representatif.
Edukasi Berbasis Literasi untuk Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat tentang Khasiat Rimpang Herbal Siti Uswatun Hasanah; Diki Prayugo Wibowo; Hesti Riasari; Sani Nurlaela Fitriansyah; Irma Erika Herawati
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2026): April
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v8i3.3225

Abstract

Medicinal plants can consist of herbs or specific parts of plants, such as spices commonly used in cooking. In today’s digital era, the dissemination of information regarding the use of herbal medicine plays an important role in public education. During the Industry 4.0 era, people can easily access various information independently through websites and online learning platforms. However, the utilization of local herbal plants remains relatively low due to limited public understanding of their potential as medicinal herbs. This community service activity aimed to improve the knowledge and understanding of the residents of Ciburuan Hamlet, Jingkang Village, Bandung Regency, regarding herbal plants, particularly the rhizomes of ginger, turmeric, aromatic ginger (kencur), and galangal (lengkuas). Education was carried out through interactive education sessions and brochure distribution. The methods included preliminary observation, interviews, and questionnaires. The results showed a significant increase in participants’ knowledge about the active compounds and pharmacological activities of herbal plants. Before the activity, most participants were unfamiliar with the bioactive components of herbal rhizomes and only knew their traditional uses. After the interactive session, all participants were able to recognize the chemical constituents and mechanisms of action of these herbs as antioxidants, antibacterials, and anti-inflammatory agents. This activity demonstrates that digital and visual literacy-based education can effectively enhance public awareness (83%) and confidence in using herbal medicine as an alternative for maintaining family health.
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DALAM MEWUJUDKAN GENERASI Z YANG BERIMAN Novriyanti Lubis; Salma Annafiah; Diki Prayugo Wibowo; Salma Firyal Fadhilah; Awang Sudrajat; Riska Prasetiawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.30365

Abstract

Abstrak: Generasi Z atau Gen Z merupakan generasi yang lahir pada 1997-2012. Perkembangan pola pikir kritis adalah pada saat usia remaja. WHO menyebutkan penduduk dengan rentan usia 10-19 tahun menyumbangkan sebanyak 16% beban penyakit, cedera, dan gangguan mental emosional. Hal ini disebabkan oleh kurangnya edukasi dan kesadaran masyarakat terhadap penanggulangan kesehatan mental pada anak dan remaja. Kasus-kasus ini disebabkan oleh ketidaktahuan dan dan kurangnya kesadaran mengenai kesehatan mental. Penyuluhan ini dilakukan agar kondisi kesehatan mental remaja di MTS Babussalam yang berlokasi di Desa Barusuda Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat lebih baik lagi dan adanya peningkatan pengetahuan mengenai kesehatan mental. Metode penyuluhan dilakukan melalui presentasi langsung. Total siswa yang berpartisipasi dalam peenyuluhan ini sebanyak 57 siswa. Instrumen yang digunakan dalam metode ini adalah lembar kuisioner. Hasil penyuluhan menunjukkan sebanyak 77,2% siswa yang mengikuti kegiatan sosialisasi diketahui telah paham terhadap pentingnya kesehatan mental pada remaja. Selain itu, pemahaman responden terhadap perilaku tidak baik bagi kesehatan mental yakni sebanyak 82,5% siswa dan sebanyak 75,4% siswa paham akan kondisi ketika kesehatan mental tidak baik. Diharapkan penyuluhan ini dapat menjadi landasan untuk mengetahui cara penanganan dalam kesehatan mental secara preventif dan promotif pada kesehatan jiwa remaja yang di dalamnya melibatkan di lingkungan sekolah termasuk guru dan teman sebaya sehingga remaja mampu memiliki faktor protektor yang baik dan mampu mengatasi masalah yang terjadi dengan adaptif.Abstract: The development of critical thinking is during adolescence. WHO states that the vulnerable population aged 10-19 years contributes as much as 16% of the burden of disease, injury and mental-emotional disorders. This is caused by a lack of education and public awareness of mental health management in children and adolescents. These cases are caused by ignorance and lack of awareness regarding mental health. This counseling was carried out to find out how students know about adolescent mental health at MTS Babussalam which is located in Barusuda Village, Cigedug District, Garut Regency, Total participating in this counseling were 57 students. The instrument used in this method is a questionnaire sheet. Data were analyzed with descriptive analysis techniques. The results of the counseling showed that 77.2% of the students who took part in the socialization activities were known to have understood the importance of mental health in adolescents. In addition, respondents' understanding of behavior that is not good for mental health, namely as many as 82.5% of students and as many as 75.4% of students understand the conditions when mental health is not good. It is hoped that this counseling can become the basis for knowing how to deal with preventive and promotive mental health in adolescent mental health which involves the school environment including teachers and peers so that adolescents are able to have good protective factors and are able to overcome problems that occur adaptively.