Claim Missing Document
Check
Articles

KUE JEJORONG SEBAGAI WARISAN KULINER TRADISIONAL BANTEN Dian Falahdita; Hanifa Rahmatunnisa; Rosyidah; Abel Octavia Suman; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6670

Abstract

Wisata kuliner merupakan salah satu daya tarik penting dalam pengembangan pariwisata daerah karena mampu merepresentasikan identitas budaya lokal. Kue Jojorong merupakan salah satu kuliner tradisional khas Banten, khususnya berasal dari wilayah Pandeglang dan Lebak, yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini membahas perkembangan kue Jojorong, proses pembuatannya, sejarah, filosofi, serta peran dan nilai ekonominya bagi masyarakat lokal. Jojorong telah dikenal sejak masa Kesultanan Banten dan awalnya disajikan dalam acara adat dan keagamaan, sebelum kemudian berkembang menjadi produk kuliner yang diperdagangkan secara luas. Proses pembuatannya masih mempertahankan teknik tradisional dengan bahan-bahan lokal seperti tepung beras, tepung tapioka, santan, gula merah, dan daun pisang, yang memberikan cita rasa serta identitas khas. Secara filosofis, Jojorong melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kekayaan budaya masyarakat Banten. Dalam konteks ekonomi modern, Jojorong berperan sebagai produk unggulan UMKM yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta pelestarian budaya lokal. Dengan demikian, kue Jojorong tidak hanya berfungsi sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai aset budaya dan ekonomi yang potensial untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata dan ekonomi kerakyatan di Provinsi Banten.
PERKEMBANGAN DAN KERUNTUHAN DINASTI ABBASIYAH syafiqoh, siti syafiqoh diyana; Achmad Maftuh Sujana; I`Annatul Uyun; Nasywa Anggreani Putri
KARMAWIBANGGA Historical Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/karmawibangga.v8i1.8986

Abstract

Penelitian ini membahas perkembangan dan keruntuhan Dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 750–1258 M dan dikenal sebagai salah satu periode paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi literatur, artikel ini menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya Bani Abbasiyah, puncak kejayaan dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan kebudayaan, serta penyebab kemunduran dan keruntuhannya. Masa keemasan Abbasiyah, terutama pada masa Harun ar-Rasyid dan al-Ma’mun, ditandai dengan kemajuan besar dalam gerakan penerjemahan, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kemakmuran ekonomi. Namun, konflik politik, kemerosotan ekonomi, munculnya aliran-aliran sesat, Perang Salib, hingga serangan Mongol menjadi faktor yang mempercepat keruntuhan Abbasiyah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keruntuhan dinasti ini merupakan akumulasi dari kelemahan internal dan tekanan eksternal yang kuat. Katakunci: Dinasti Abbasiyah, Peradaban Islam, Masa Keemasan, Kemunduran Politik, Serangan Mongol.
The Leadership of Prophet Muhammad: A Role Model of Politics and Ethics in the Modern Era Saefudin, Rifal; Sujana, Ahmad Maftuh; Handayani, Dini; Nurelizah, Nurelizah; Nabhan, Muhammad Azka
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v6i1.238

Abstract

The leadership of Prophet Muhammad SAW is a perfect illustration of how to harmoniously blend political, moral, and spiritual strength. In addition to guiding the community in religious matters, the Prophet organized social, economic, and political life in accordance with divine principles. His values as a leader justice, integrity, accountability, and consultation demonstrate that power should be used to serve, not to control. This article discusses the leadership of Prophet Muhammad SAW as a moral and political example that remains relevant today. The Prophet was known as a statesman who successfully created a moral and just society, as well as a spiritual leader. His moral and ethical leadership was based on fundamental leadership values including social responsibility, justice, consideration, and honesty. By applying a historical perspective and examining prophetic values, this article demonstrates how the Prophet's teachings on leadership can address various contemporary issues, including declining integrity, abuse of power, and the rise of individualism. The application of these principles will result in leadership that is humane, honest, and focused on society. The leadership of Prophet Muhammad SAW emphasized the use of authority to advance and protect justice rather than to suppress or control. These principles serve as important guidance for leaders in our century to create moral, open governance that supports truth while upholding human and spiritual values
Co-Authors Abdilah, Aida Abdiyatuzzahro, Devi Abel Octavia Suman Abel Octavia Suman Ade Ika Ahadiyah Adhika Abdu Nuryanditra Aditya Firmansyah Ahmad Lathif Aidil Fitra L Aidil Fitra Lubis Aisyah Zahratunnisa Al Ayyubi, Shalahuddin Alawiah, Tuti Alifa Nayla Alfarafisyah, Nayla Amalia, Aam Ananda Josafi, Khairi Anisa Fitriani Annisa Ainurrohmah Apdilla, Raya Apriani Sri Mulyani Asih Purnama Askohar, Askohar Aufal Syahrul Abror, Muhammad Aziz, Muhammad Ijlal Azwa Naila Fath Bella Amelia Burhanuddin Burhanudin Burhanudin Chaerul Rahman, Muhammad Dayani, Subhan Rizki Dea Safitri Dea Safitri Desi Dahliani Desty Malika Devia Awaliah Zahrani, Devia Dian Falahdita Dian Kartika Dini Handayani, Dini Dwi Rachmi Ramadhani, Dwi Ernike Fatih EVA SYARIFAH WARDAH Fakhrudin, Irfan Fatiyatur Rahmah Fatmatu Haerunnisa Firda Hidayah Fitriyani Haidar Syadad Hailala Najwa Isba Hakim, Faiha Kamila Kharisma Haliza Alifia Ifada Hanifa Rahmatunnisa Hanifa Rahmatunnisa Hanifara Dyasti Rahayu Hasna Humairoh Heni Fitrotul Zulhizah Hikam, Muhammad Wifqil Ikram Barman Maulana Sya'ban Illa Rohillah Ilma Yuliyana Ira Septi Sulistiana Irfan Khaeruji ISABELA I`Annatul Uyun Karania, Rahma Azhar Khoirul Anisa Latifah Fitria Leni Amelia Lestari Lia Anggraeni, Lia Lilis Sulistiani M, Iqbal Hidayat M. Yogi Riyantama Isjoni Maftuh Ajmain Maharani Salsabila Makhbul Hudori, Raudho Maretha Nur Fadilah Mildan, Jidan Mufidah Hayati Nufus Muflihah, Elya Muhamad Kosim Muhamad Rezky Muhamad Wildan Septiana Muhamad Zainal Arifin Muhammad Eka Anwaril Ikhsan Muhammad Fardan Rabbani Muhammad Ilham Fani, Ilham Muhammad Rafli Zakaria Mutia Fadhilah Nabhan, Muhammad Azka Nabil, M. Hasbi Nadiyatu Rahmah Nafisa Dwi Suryaningtias Nailah Rahmania Najmudin Nasywa Anggreani Putri Nasywa Khairunnisa Nawawi, Taosyekh Nita Nirmalasari Nurelizah, Nurelizah Puput Sri Sukmana Putra Panjalu Putri, Eka Dalilah Qoulan Sadida Raditya Pangestu Raihanuddin, M. Ramadhan, Fairuz Kenzy Ramadhan, Ibnu Daffa Rani Wulandari Ratu Mustarsyiddah Reyinita Damayanti Riffati Hikmi Mori Ritonga, Mhd Juniawan Rosyidah Sabila Khaerani Putri Sabila Sofiannisa Saefudin, Rifal Saeful Iskandar Seliyana Heryani Shelsie Amalia Putri Siti Khofifah Siti Maysarah Siti Nuria Hidayati Siti Salsabila Kamilia Siti Yuniawati Sofiatunnaziah, Sofiatunnaziah Sri Soimah Suhanda, Iyu Ibda Amaria syafiqoh, siti syafiqoh diyana Syifaul Kolbi TATI ROHAYATI Tausiyah, Dalilah Tuti Alawiyah Ummu Salamah Yunan Fahri R Zahroni Zahroni Zainul Arifin