cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 575 Documents
Hubungan Antara Sikap terhadap Kekerasan dalam Pacaran dengan Preferensi Pasangan pada Mahasiswa di Kota Bandung Yohana Putri Kumala; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science 813-820
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26150

Abstract

Abstract. Early adulthood is a crucial phase in the formation of romantic relationships. However, dating violence still frequently occurs and can decrease relationship quality as well as the psychological well-being of college students. This study aims to determine the relationship between attitude toward dating violence and mate preference among college students in Bandung. This study employed a quantitative correlational approach with 102 college student subjects selected using convenience sampling. Data collection was carried out by adapting the Attitude Toward Intimate Partner Violence Scale (23 valid items, = 0,847) and the Nine Mate Criteria Selection Scale (9 valid items, = 0,782). The validity test results showed that all items were valid (). The Spearman's Rank correlation analysis results showed a significant negative relationship between attitude toward dating violence and mate preference (). This means that the more negative the attitude toward dating violence, the greater the consideration of partner characteristics, and vice versa. These findings indicate that the attitude toward dating violence is related to preferences for partner characteristics. Abstrak. Masa dewasa awal merupakan fase penting dalam pembentukan hubungan romantis, namun kekerasan dalam pacaran (dating violence) masih sering terjadi dan dapat menurunkan kualitas hubungan serta kesejahteraan psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap kekerasan dalam pacaran (Attitude Toward Dating Violence) dengan preferensi pasangan (Mate Preference) pada mahasiswa di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan subjek 102 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menerjemahkan Skala Attitude Toward Intimate Partner Violence (23 item valid, α = 0,847) dan Nine Mate Criteria Selection Scale (9 item valid, α = 0,782). Hasil uji validitas menunjukkan seluruh item valid (r > 0,361). Hasil analisis korelasi Rank Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara Attitude Toward Dating Violence dan Mate Preference (r = -0,438; p < 0,05). Artinya, semakin negatif sikap kekerasan dalam pacaran, semakin besar pertimbangan terhadap karakteristik pasangan dan sebaliknya. Temuan ini mengindikasikan bahwa sikap terhadap kekerasan dalam pacaran berkaitan dengan preferensi terhadap karakteristik pasangan.
Perceived Social Support and Psychological Distress among Healthcare Workers Anggina Esty Namora Siregar; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 845-852
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26294

Abstract

Abstract. Health workers are highly vulnerable to experiencing psychological distress due to high workloads, work pressure, and professional responsibilities. Social support is considered one of the protective factors that may reduce psychological distress among health workers. This study aimed to analyze the contribution of social support to psychological distress among health workers in South Tapanuli Regency. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional correlational design involving 125 health workers from RSUD Sipirok and Puskesmas Pintu Padang. Respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through an online questionnaire using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and the Kessler Psychological Distress Scale (K10). Data were analyzed using Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) through normality, linearity, heteroscedasticity, and simple linear regression tests. The results showed that social support had a significant negative effect on psychological distress (B = -0.167; p = 0.013). The coefficient of determination indicated that social support contributed 4.9% to the variance in psychological distress, while the remaining 95.1% was explained by other variables outside the model. These findings indicate that increasing perceived social support can help reduce psychological distress among health workers. Therefore, health institutions are encouraged to strengthen social support systems to maintain the psychological well-being of health workers and improve healthcare service quality. Abstrak. Tenaga kesehatan merupakan kelompok pekerja yang rentan mengalami psychological distress akibat tingginya beban kerja, tekanan pekerjaan, dan tanggung jawab profesional. Dukungan sosial dipandang sebagai salah satu faktor protektif yang dapat menurunkan tingkat psychological distress. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi dukungan sosial terhadap psychological distress pada tenaga kesehatan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional yang melibatkan 125 tenaga kesehatan di RSUD Sipirok dan Puskesmas Pintu Padang. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan instrumen Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Kessler Psychological Distress Scale (K10). Analisis data dilakukan menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) melalui uji normalitas, uji linearitas, uji heteroskedastisitas, dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap psychological distress (B = -0,167; p = 0,013). Nilai koefisien determinasi sebesar 4,9% menunjukkan bahwa dukungan sosial memberikan kontribusi terhadap variasi psychological distress, sedangkan 95,1% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima tenaga kesehatan, maka semakin rendah tingkat psychological distress yang dialami.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Organizational Citizenship Behavior pada Guru MA Maula Qinayah Farihatul Isna Muttaqin; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science 1149-1156
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26301

Abstract

Abstract. Teachers in boarding schools face more complex job demands than in regular schools, extending beyond classroom teaching to supervising students outside class hours. Under these conditions, teachers' perception of organizational support plays an important role in encouraging voluntary behavior beyond formal obligations. This study examines the level of Organizational Citizenship Behavior (OCB) and the effect of Perceived Organizational Support (POS) on OCB among teachers at MA Husnul Khotimah Islamic Boarding School, using a quantitative correlational design with 55 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using an adapted OCB scale (Tentama & Subardjo, 2018) and an adapted Survey of Perceived Organizational Support (Syahputra et al., 2022), analyzed with simple linear regression in SPSS 26. Results show both POS and OCB are generally high (89.1% and 83.6%, respectively). POS has a positive and significant effect on OCB (F = 50.668; t = 7.118; p < 0.001), with regression equation Y = 30.313 + 1.783X and R Square of 0.489, meaning POS explains 48.9% of OCB variance. POS contributes most to sportsmanship (42.9%) and least to altruism (25.5%). These findings suggest strengthening organizational support can enhance teachers' OCB. Abstrak. Guru di sekolah berasrama menghadapi tuntutan kerja yang lebih kompleks dibandingkan sekolah reguler, karena keterlibatannya tidak terbatas pada kegiatan mengajar formal, tetapi juga mencakup pembinaan peserta didik di luar jam pelajaran. Kondisi ini menjadikan persepsi guru terhadap dukungan organisasi berperan penting dalam mendorong munculnya perilaku sukarela di luar kewajiban formal. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat Organizational Citizenship Behavior (OCB) serta menganalisis pengaruh Perceived Organizational Support (POS) terhadap OCB pada guru di MA Husnul Khotimah Islamic Boarding School, menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 55 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala OCB hasil adaptasi Tentama dan Subardjo (2018) serta skala Survey of Perceived Organizational Support hasil adaptasi Syahputra dkk. (2022), dianalisis menggunakan regresi linear sederhana melalui SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan tingkat POS dan OCB pada guru secara umum berada pada kategori tinggi (89,1% dan 83,6%). Hasil uji regresi menunjukkan POS berpengaruh positif dan signifikan terhadap OCB (F = 50,668; t = 7,118; p < 0,001), dengan persamaan regresi Y = 30,313 + 1,783X dan R Square sebesar 0,489, berarti POS menjelaskan 48,9% variasi OCB. Analisis lebih lanjut menunjukkan POS berkontribusi terbesar pada dimensi sportsmanship (42,9%) dan terkecil pada altruism (25,5%). Temuan ini mengindikasikan penguatan dukungan organisasi dapat menjadi strategi institusi meningkatkan OCB guru.
Pengaruh Entrepreneurial Self-Efficacy terhadap Keputusan Karir Tarina Pratami Indira Mulyana; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 1157-1164
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26303

Abstract

Abstract. The rapid growth of digital technology has created many new career opportunities, one of which is becoming a content creator, a career that is increasingly popular among Generation Z. However, having an interest in becoming a content creator does not always mean that individuals are confident in their entrepreneurial abilities. This lack of confidence may affect how they make career decisions. Therefore, this study aimed to examine the effect of entrepreneurial self-efficacy on the career decision to become a content creator among Generation Z in West Java. This study used a quantitative approach with a causal research design. A total of 105 Generation Z individuals aged 18–29 years in West Java who had started creating content participated in this study. Data were collected using the Entrepreneurial Self-Efficacy Scale (ESES) and the Career Decision Scale (CDS) and analyzed using simple linear regression. The results showed that entrepreneurial self-efficacy had a significant positive effect on career certainty (p < .001) and a significant negative effect on career indecision (p < .001). Entrepreneurial self-efficacy also explained 38.1% of career certainty and 44.9% of career indecision. These findings indicate that individuals with higher entrepreneurial self-efficacy are more confident in choosing a career as a content creator and are less likely to experience doubt when making career decisions. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah menciptakan berbagai peluang karier baru, salah satunya sebagai content creator, yang semakin diminati oleh Generasi Z. Namun, tingginya minat tersebut tidak selalu diikuti dengan keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menjalankan aktivitas kewirausahaan sehingga memengaruhi kemantapan individu dalam mengambil keputusan karier. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh entrepreneurial self-efficacy terhadap keputusan karier menjadi content creator pada Generasi Z di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Partisipan penelitian berjumlah 105 Generasi Z berusia 18–29 tahun di Jawa Barat yang telah memulai aktivitas sebagai content creator. Data dikumpulkan menggunakan Entrepreneurial Self-Efficacy Scale (ESES) dan Career Decision Scale (CDS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entrepreneurial self-efficacy berpengaruh positif secara signifikan terhadap career certainty (p < 0,001) dan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap career indecision (p < 0,001). Selain itu, entrepreneurial self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 38,1% terhadap career certainty dan 44,9% terhadap career indecision. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi entrepreneurial self-efficacy yang dimiliki individu, semakin tinggi kemantapan dalam menentukan karier sebagai content creator serta semakin rendah keraguan dalam mengambil keputusan karir.
Hubungan Empati dengan Forgiveness pada Pengguna X Pelaku Cancel Culture Arini Baasir; Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1305-1312
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26314

Abstract

Abstract. The open communication dynamics offered by platform X have made it one of the spaces that accommodate the practice of cancel culture. This study examines forgiveness toward transgressors in the context of cancel culture, motivated by the importance of understanding how empathy shapes forgiving attitudes, particularly in social situations involving the withdrawal of support from individuals who have committed a transgression. Prior research in interpersonal relationships has shown that empathy has a positive effect on forgiveness. However, the relationship between empathy and forgiveness in a parasocial context has not previously been examined. This study aims to determine the relationship between empathy and forgiveness toward transgressors among X users. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 418 respondents selected through convenience sampling who met the criteria of being active X users who had engaged in cancel culture and forgiven a transgressor. Empathy was measured using the Basic Empathy Scale (BES) developed by Jolliffe and Farrington (2006), while forgiveness was measured using the TRIM-18 developed by McCullough et al. (1998). Data were analyzed using Spearman's rho correlation test. Results showed a significant positive relationship between empathy and forgiveness toward transgressors (r = 0.636, p = 0.000, p < 0.05), indicating that higher empathy is associated with a greater tendency to forgive Abstrak. Dinamika komunikasi terbuka yang ditawarkan oleh platform X menjadi salah satu tempat yang mewadahi praktik cancel culture. Penelitian ini mengenai forgiveness terhadap transgressor dalam konteks cancel culture karena pentingnya pemahaman tentang bagaimana empati berperan dalam sikap forgiveness, terutama dalam situasi sosial yang melibatkan penarikan dukungan terhadap individu yang melakukan transgression. Penelitian sebelumnya dalam hubungan interpersonal menunjukkan bahwa empati telah terbukti memiliki pengaruh positif terhadap forgiveness. Namun hubungan antara empati dan forgiveness dalam konteks parasosial belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara empati dan forgiveness terhadap transgressor pada pengguna X. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan dalam penelitian ini, melibatkan 418 responden yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling, yang memenuhi kriteria sebagai pengguna aktif X yang telah melakukan cancel culture dan memaafkan transgressor. Instrumen yang digunakan untuk mengukur empati adalah Basic empathy scale (BES) yang dikonstruksi oleh Jolliffe dan Farrington (2006), sementara forgiveness diukur menggunakan TRIM-18 yang disusun oleh McCullough et al. (1998). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat empati dan forgiveness terhadap transgressor, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,636 dan p-value 0,000 (p < 0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat empati, semakin besar kecenderungan untuk memaafkan transgressor pada pengguna X yang melakukan cancel culture