cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 575 Documents
Pengaruh Internet Entrepreneurial Self-Efficacy terhadap Digital Entrepreneurial Intention pada Siswa SMK SPW Ellena Pitaloka Hanifah; Susandari
Bandung Conference Series: Psychology Science 1451-1458
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25926

Abstract

Abstract. Entrepreneurship plays an important role in supporting economic growth, where technology serves as a new platform for digital-based entrepreneurship. However, entrepreneurial intention among Vocational High School students, who belong to Gen Z, is still relatively low. This study aims to examine the effect of internet-based entrepreneurial self-efficacy on digital-based entrepreneurial intention among students of Entrepreneurship Incubator Vocational High School in North and West Bandung. This quantitative research involved a sample of 85 12th-grade Marketing students from two Entrepreneurship Incubator Vocational High School selected using the cluster random sampling technique. Data collection was conducted through adapted questionnaires using the Internet Entrepreneurial Self-Efficacy Scale (IESES) and the adapted Intention to Adopt Social Media in Business scale. Data were analyzed using multiple linear regression. Simultaneous analysis results show that internet-based entrepreneurial self-efficacy positively affects digital-based entrepreneurial intention with a contribution of 46.8%. Partially, only the Technology utilization dimension has a significant effect (0,005), whereas the Leadership dimension (0,093) and the Internet marketing and e-commerce dimension (0,089) do not show a significant effect. Abstrak. Wirausaha berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, di mana teknologi menjadi wadah baru untuk berwirausaha berbasis digital. Meski demikian, intensi berwirausaha pada siswa SMK yang merupakan Gen Z, masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh efikasi diri wirausaha berbasis internet terhadap intensi berwirausaha berbasis digital pada siswa SMK Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW) di Bandung Utara dan Barat. Penelitian kuantitatif ini melibatkan sampel 85 siswa kelas 12 jurusan Pemasaran dari dua SMK SPW yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner teradaptasi menggunakan skala Internet Entrepreneurial Self-Efficacy Scale (IESES) dan Intention to Adopt Social Media in Business yang telah diadaptasi. Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil analisis secara simultan menunjukkan bahwa efikasi diri wirausaha berbasis internet berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha berbasis digital dengan kontribusi sebesar 46,8%. Secara parsial, hanya dimensi Technology utilization yang berpengaruh signifikan (0,005), sedangkan dimensi Leadership (0,093) dan Internet marketing and e-commerce (0,089) tidak menunjukkan pengaruh signifikan.
Stigma Perempuan Jomlo Dewasa Madya di Asia Naia Widiawati Putri; Yunita Sari
Bandung Conference Series: Psychology Science 1459-1466
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25927

Abstract

Abstract. Middle-aged single women in Asia often face stigma due to their deviation from gender role norms. This study explores the experiences of stigma and the meanings attributed to single status among middle-aged women in Asia using a narrative literature review method. The research method involved a systematic review of two selected qualitative and quantitative articles from online databases (2022–2026), with inclusion criteria focusing on stigma and discrimination against middle-aged single women. Analyzed through the lens of Goffman’s stigma theory and Eagly & Wood’s social role theory, the findings indicatethat single women develop strong agency to reject negative labels. Singlehood is interpreted as a productive “waiting period” for independence and is subsequently reconstructed as “happy spinsters” in middle age. Social support and spirituality shape the meaning of “alone but not lonely.” In conclusion, single status is not a deviation from the norm but rather an empowering choice that fosters psychosocial resilience amid pro-natalist cultural pressures. Abstrak. Perempuan jomlo dewasa madya di Asia sering menghadapi stigma akibat ketidaksesuaian dengannorma peran gender. Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman stigma dan pemaknaan status jomlo pada perempuan dewasa madya di Asia menggunakan metode Narrative Literature Review. Metode penelitian inimelibatkan tinjauan sistematis terhadap 2 artikel kualitatif dan kuantitatif terpilih dari database online (2022 – 2026), dengan kriteria inklusi stigma diskriminasi kepada perempuan jomlo usia dewasa madya. Dianalisismelalui lensa teori stigma Goffman dan teori peran sosial Eagly & Wood, temuan menunjukkan bahwaperempuan jomlo mengembangkan agensi kuat untuk menolak label negatif. Status jomlo dimaknai sebagaiwaithoodproduktif untuk kemandirian, kemudian dikonstruksi ulang sebagai "happy spinsters" di usia paruhbaya. Dukungan sosial dan spiritualitas membentuk pemaknaan "sendiri namun tidak kesepian". Kesimpulannya, status jomlo bukan penyimpangan norma, melainkan pilihan memberdayakan denganketahanan psikososial di tengah tekanan budaya pronatalis.
Pengaruh Workplace Telepressure terhadap Work-Life Balance pada Mahasiswa Magang dengan Sistem Kerja WFH (Work From Home) Anggita Elviani Putri Sakri; Rizka Hadian Permana
Bandung Conference Series: Psychology Science 1467-1474
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25930

Abstract

Abstract. The increasing adoption of Work From Home (WFH) systems has intensified reliance on digital communication, creating expectations for individuals to remain constantly responsive to work-related messages. This condition may trigger workplace telepressure, which potentially disrupts work-life balance, particularly among university students undertaking internships while managing academic responsibilities. This study aimed to examine the effect of workplace telepressure on the four dimensions of work-life balance among Indonesian university students participating in WFH internships. A quantitative explanatory design was employed using non-probability purposive sampling. The participants consisted of 360 active university students who had completed at least one month of WFH internship. Data were collected using the Workplace Telepressure Measure and the Work-Life Balance Scale, and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings revealed that workplace telepressure had a significant negative effect on all four dimensions of work-life balance (p < 0.001). The strongest effects were observed on Personal Life Interference with Work and Work Interference with Personal Life, while weaker effects were found on the enhancement dimensions. These findings indicate that workplace telepressure primarily contributes to increased role interference rather than reducing positive interactions between work and personal life. The results highlight the importance of managing digital communication demands to support healthier work-life balance among university students undertaking WFH internships. Abstrak. Penerapan sistem Work From Home (WFH) yang semakin luas meningkatkan ketergantungan terhadap komunikasi digital dan mendorong individu untuk selalu responsif terhadap pesan terkait pekerjaan. Kondisi ini berpotensi memunculkan workplace telepressure yang dapat mengganggu work-life balance, terutama pada mahasiswa yang menjalani program magang sekaligus memenuhi tuntutan akademik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh workplace telepressure terhadap empat dimensi work-life balance pada mahasiswa magang WFH di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatif. Sampel dipilih melalui teknik non-probability purposive sampling dan melibatkan 360 mahasiswa aktif yang menjalani magang WFH minimal satu bulan. Data dikumpulkan menggunakan Workplace Telepressure Measure dan Work-Life Balance Scale, kemudian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa workplace telepressure berpengaruh negatif dan signifikan terhadap seluruh dimensi work-life balance (p < 0,001). Pengaruh terkuat ditemukan pada dimensi Personal Life Interference with Work dan Work Interference with Personal Life, sedangkan pengaruh terhadap dimensi enhancement relatif lebih lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa workplace telepressure lebih berperan dalam meningkatkan konflik antardomain dibandingkan mengurangi pengaruh positif antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, pengelolaan tuntutan komunikasi digital menjadi penting untuk mendukung keseimbangan kehidupan mahasiswa yang menjalani magang dengan sistem WFH.
Social Comparison sebagai Mediator Hubungan Social Media Engagement dengan Self-Esteem Shilfa Kinanti Khoerunnisa; Oki Mardiawan
Bandung Conference Series: Psychology Science 1475-1484
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25953

Abstract

Abstract. Social media has become deeply embedded in the daily lives of Indonesian youth, yet its association with self-esteem remains inconsistent across studies. This study examined the role of social comparison as a mediator in the relationship between social media engagement and self-esteem among college students in Bandung City. A quantitative, non-experimental approach with a correlational design was used. Data were collected from 450 active college students aged 18–25 in Bandung through an online questionnaire using the Social Media Engagement Scale, the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure, and the Rosenberg Self-Esteem Scale, and were analyzed using covariance-based Structural Equation Modeling (CB-SEM). The results showed that social media engagement significantly and positively predicted social comparison (β = 0.589, p < .001), and social comparison significantly and negatively predicted self-esteem (β = -0.493, p < .001). The direct effect of social media engagement on self-esteem was not significant (β = 0.186, p = .102), whereas the indirect effect through social comparison was significant (β = -0.290, p < .001), indicating full mediation. These findings suggest that social media engagement does not directly lower self-esteem, but does so through the mechanism of social comparison, particularly upward social comparison. Abstrak. Keterlibatan mahasiswa dengan media sosial semakin tinggi, namun hasil penelitian mengenai hubungannya dengan self-esteem masih menunjukkan inkonsistensi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran social comparison sebagai mediator dalam hubungan antara social media engagement dan self-esteem pada mahasiswa di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Data dikumpulkan dari 450 mahasiswa aktif berusia 18-25 tahun di Kota Bandung melalui kuesioner daring, menggunakan Social Media Engagement Scale, Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure, dan Rosenberg Self-Esteem Scale. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis kovarian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social media engagement berpengaruh positif dan signifikan terhadap social comparison (β = 0.589, p < 0.001), serta social comparison berpengaruh negatif dan signifikan terhadap self-esteem (β = -0.493, p < 0.001). Pengaruh langsung social media engagement terhadap self-esteem tidak signifikan (β = 0.186, p = 0.102), sedangkan pengaruh tidak langsung melalui social comparison signifikan (β = -0.290, p < 0.001), yang menunjukkan bahwa social comparison berperan sebagai mediator penuh (full mediation). Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dengan media sosial tidak menurunkan self-esteem secara langsung, melainkan melalui mekanisme social comparison, khususnya upward social comparison.
Hubungan Strategi Belajar Menghadapi Ujian dengan Stres Akademik pada Siswa SMP Alifya Sukma Noor Islami; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1485-1492
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25969

Abstract

Abstract. Bullying in higher education is a form of interpersonal trauma that can have serious consequences for students' mental health, including prolonged anger, resentment, and difficulties in the forgiveness process. Forgiveness is essential to prevent the long-term psychological consequences of traumatic experiences, and one psychological factor that may facilitate forgiveness is post-traumatic growth (PTG). This study aimed to examine the effect of post-traumatic growth on forgiveness among university students who have experienced bullying. The study employed a quantitative approach using a predictive correlational design. A total of 122 university students with experiences of bullying were selected through purposive sampling. The instruments used were an adapted version of the Post-Traumatic Growth Inventory (PTGI) based on the theory of Tedeschi and Calhoun, and the Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18) scale based on McCullough's theory. The categorization results indicated that both post-traumatic growth and forgiveness were at high levels. The findings revealed a positive and significant effect of post-traumatic growth on forgiveness (B = 0.332, p < .001, and R2 = 0.125), with post-traumatic growth accounting for 12.5% of the variance in forgiveness. These findings suggest that higher levels of post-traumatic growth are associated with higher levels of forgiveness among university students who have experienced bullying. Therefore, post-traumatic growth serves as an important psychological factor that facilitates the forgiveness process among victims of bullying in higher education Abstrak. Perundungan di perguruan tinggi merupakan bentuk trauma interpersonal yang berdampak serius terhadap kesehatan mental mahasiswa, termasuk munculnya kemarahan berkepanjangan, dendam, dan hambatan dalam proses pemaafan. Kemampuan pemaafan dibutuhkan agar dampak traumatis tidak berkelanjutan, dan salah satu faktor yang diduga dapat memfasilitasinya adalah post-traumatic growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh post-traumatic growth terhadap pemaafan pada mahasiswa korban perundungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan predictive correlational design. Sampel diperoleh melalui teknik purposive sampling dengan jumlah 122 mahasiswa korban perundungan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi Post-traumatic growth Inventory (PTGI) yang didasari oleh teori Tedeschi & Calhoun dan skala Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM)-18 yang didasari oleh teori Mccullough. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa post-traumatic growth dan pemaafan berada pada kategori tinggi. Hasil uji menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan post-traumatic growth terhadap pemaafan (B = 0.332, p < 0.001, dan R2 = 0.125) dengan kontribusi sebesar 12.5% terhadap pemaafan. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat post-traumatic growth yang dimiliki mahasiswa korban perundungan, maka semakin tinggi pula pemaafan, sehingga post-traumatic growth berperan sebagai salah satu faktor psikologis penting dalam memfasilitasi proses pemaafan pada korban perundungan di perguruan tinggi.
Pengaruh Job Embeddedness terhadap Turnover Intention pada Pekerja Outsourcing Proyek Konstruksi Sarah Azzahra; Rizka Hadian Permana
Bandung Conference Series: Psychology Science 1493-1502
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25980

Abstract

Abstract. Human resources are a strategic asset that organizations must retain, yet turnover intention remains a persistent challenge that raises recruitment costs, reduces productivity, and disrupts the completion of work targets. Job embeddedness an individual’s attachment to work and environment through the dimensions of links, fit, and sacrifice is theorized to lower turnover intention. This study examined the influence of job embeddedness on turnover intention among outsourced blue-collar workers on a construction project. A quantitative correlational design was applied to 64 outsourced workers selected through total sampling. Job embeddedness was measured using a scale adapted from Mitchell et al. (2001) and turnover intention was measured using a scale adapted from Mobley (1977) Data were analyzed using multiple linear regression with SPSS. Results showed that job embeddedness had a significant negative effect on turnover intention (F = 56.388; p = 0.000), with an Adjusted R² of 0.725, indicating that 72.5% of the variance in turnover intention was explained by the links, fit, and sacrifice dimensions. Partially, sacrifice showed the strongest effect (β = −0.334; t = −3.349; p = 0.001). These findings suggest that stronger job embeddedness, particularly the sacrifice dimension, is associated with lower turnover intention and may be considered in designing retention strategies for outsourced construction workers. Abstrak Sumber daya manusia merupakan aset strategis yang perlu dipertahankan karena berperan penting dalam mendukung keberlangsungan dan daya saing organisasi. Salah satu tantangan dalam retensi karyawan adalah turnover intention, yaitu kecenderungan individu untuk meninggalkan organisasi yang dapat meningkatkan biaya rekrutmen, menurunkan produktivitas, dan mengganggu penyelesaian target. Salah satu faktor yang diduga menurunkan turnover intention adalah job embeddedness, yaitu keterikatan individu terhadap pekerjaan dan lingkungannya melalui dimensi links, fit, dan sacrifice. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh job embeddedness terhadap turnover intention pada pekerja outsourcing proyek konstruksi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 64 pekerja outsourcing yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala job embeddedness berdasarkan teori Mitchell et al. (2001) dan skala turnover intention berdasarkan teori Mobley (1977) Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job embeddedness berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention (F = 56,388; p = 0,000). Nilai Adjusted R² sebesar 0,725 menunjukkan bahwa 72,5% turnover intention dapat dijelaskan oleh dimensi links, fit, dan sacrifice. Secara parsial, dimensi sacrifice memiliki pengaruh paling kuat (β = −0,334; t = −3,349; p = 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi job embeddedness pekerja outsourcing proyek konstruksi, semakin rendah turnover intention, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya mendukung retensi karyawan.
Pengaruh Customer Agression terhadap Turnover Intention dengan Burnout Sebagai Mediator pada Tenaga Kesehatan di Puskesmas Trauma Center Yonrin Cristina Manullang; Evi Kurniasari Purwaningrum; Siti Khumaidatul Umaroh
Bandung Conference Series: Psychology Science 1503-1512
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26049

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh customer aggression terhadap turnover intention dengan burnout sebagai variabel mediasi pada tenaga kesehatan di Puskesmas Trauma Center Samarinda Seberang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Populasi penelitian berjumlah 60 tenaga kesehatan, dengan 48 responden yang memenuhi kriteria analisis melalui teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan Skala Customer Aggression, Maslach–Trisni Burnout Inventory (M-TBI), dan Nurse Turnover Intention Scale (NTIS). Analisis data dilakukan menggunakan analisis mediasi dengan pendekatan bootstrapping melalui aplikasi JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa customer aggression tidak berpengaruh signifikan terhadap burnout (β = 0,007; p = 0,833) maupun turnover intention (β = 0,035; p = 0,599). Sebaliknya, burnout berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention (β = 0,866; p = 0,002). Hasil pengujian efek tidak langsung juga menunjukkan bahwa burnout tidak memediasi hubungan antara customer aggression dan turnover intention (p = 0,834). Temuan ini mengindikasikan bahwa customer aggression belum menjadi faktor yang secara langsung memengaruhi burnout maupun turnover intention pada tenaga kesehatan, sedangkan burnout merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap meningkatnya turnover intention. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pengelolaan sumber daya manusia di sektor kesehatan, khususnya dalam upaya menurunkan burnout sebagai strategi untuk mengurangi kecenderungan tenaga kesehatan meninggalkan organisasi Abstract. This study examined the effect of Customer Aggression on Turnover Intention with Burnout as a mediating variable among healthcare workers at Puskesmas Trauma Center Samarinda Seberang. A quantitative approach was employed involving 48 healthcare workers selected through saturated sampling. Data were collected using the Customer Aggression Scale, the Maslach-Trisni Burnout Inventory (M-TBI), and the Turnover Intention Scale (NTIS). Data were analyzed using path analysis with JASP and a bootstrapping approach to examine the mediation effect. The results indicated that Customer Aggression had no significant effect on Burnout (β = 0.007; p = 0.833) or Turnover Intention (β = 0.035; p = 0.599). In contrast, Burnout had a significant negative effect on Turnover Intention (β = -0.866; p = 0.002). Furthermore, Burnout did not mediate the relationship between Customer Aggression and Turnover Intention (p = 0.834). These findings suggest that longer work experience and mature coping mechanisms may play a greater role in protecting healthcare workers from the negative impact of patient aggression than the direct effect of customer aggression itself. This study contributes to the development of human resource management in the healthcare sector
Ketergantungan Akal Imitasi pada Mahasiswa Pengguna Chatbot Nazhira Qinthara Aulia; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science 1513-1520
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26063

Abstract

Abstract. This study aims to describe the descriptive levels of Artificial Intelligence (AI) dependence among undergraduate chatbot users in Bandung across different semesters, while examining the effect of academic self-efficacy mediated by academic stress. This quantitative, cross-sectional study involved 235 active undergraduate students selected via quota sampling. Data were collected online using the ASSPSE, PAS, and DAI scales, and subsequently analyzed through cross-tabulation and Structural Equation Modeling (SEM) based on SmartPLS 3. The descriptive findings indicate that the high category of AI dependence is most dominant among third-year students (56.63%). Furthermore, the indirect effect test proves that academic self-efficacy does not exert a direct negative effect on AI dependence; instead, academic stress plays a significant role as a full mediator. Low academic confidence increases student stress due to task procrastination before ultimately driving AI usage as an emotional escape mechanism. Higher education institutions are advised to facilitate stress management programs and formulate formal regulations on AI utilization to minimize digital learning behavior dysfunction Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran tingkat ketergantungan Artificial Intelligence (AI) pada mahasiswa aktif pengguna chatbot di Kota Bandung berdasarkan tingkatan semester, serta menelaah pengaruh efikasi diri akademik dengan mediasi stres akademik. Penelitian kuantitatif deskriptif ini melibatkan 235 mahasiswa aktif S1 yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan secara daring melalui skala ASSPSE, PAS, dan DAI, kemudian dianalisis berbasis SmartPLS 3 serta analisis tabulasi silang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat ketergantungan AI kategori tinggi paling dominan ditemukan pada mahasiswa tahun ketiga (56,63%). Sementara itu, uji efek tidak langsung membuktikan bahwa efikasi diri akademik tidak berpengaruh langsung terhadap ketergantungan AI, melainkan dimediasi secara sempurna oleh stres akademik. Efikasi diri yang rendah meningkatkan stres mahasiswa akibat penundaan tugas, sebelum akhirnya mendorong penggunaan AI sebagai mekanisme pelarian emosional. Perguruan tinggi disarankan memfasilitasi program manajemen stres dan menyusun regulasi resmi pemanfaatan AI demi meminimalkan risiko disfungsi perilaku belajar digital.
Pengaruh Komitmen Organisasi dan Job Insecurity terhadap Turnover Intention PT X Annisa Intania Rizqa; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science 1521-1528
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26129

Abstract

Abstract. Turnover intention is employees' tendency to leave an organization, which may increase recruitment and training costs, reduce productivity, and disrupt organizational stability. This study aimed to examine the effects of the dimensions of organizational commitment and job insecurity on turnover intention among operational employees at PT Best Agro International. A quantitative correlational design was employed involving 249 operational employees selected through convenience sampling. Data were collected using Organizational Commitment, Job Insecurity, and Turnover Intention scales that met validity and reliability requirements. Multiple linear regression analysis was conducted using IBM SPSS Statistics. The results showed that affective commitment had no significant effect on turnover intention (p = 0.143), whereas continuance commitment (p < 0.001) and normative commitment (p = 0.007) had significant negative effects. Job insecurity had a significant positive effect on turnover intention (p < 0.001). Simultaneously, the dimensions of organizational commitment and job insecurity significantly predicted turnover intention, with an Adjusted R² of 0.592, indicating that the model explained 59.2% of the variance in turnover intention. These findings suggest that strengthening continuance and normative commitment while reducing job insecurity may help decrease employees' turnover intention. Abstrak. Turnover intention merupakan kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi yang dapat berdampak pada meningkatnya biaya rekrutmen dan pelatihan, menurunnya produktivitas, serta terganggunya stabilitas organisasi. Berbagai faktor yang memengaruhi turnover intention, di antaranya adalah komitmen organisasi dan job insecurity. Komitmen organisasi dalam penelitian ini dipandang sebagai konstruk multidimensional yang terdiri atas komitmen afektif, komitmen berkelanjutan, dan komitmen normatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dimensi komitmen organisasi dan job insecurity terhadap turnover intention pada karyawan operasional PT Best Agro International. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 249 karyawan operasional yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Komitmen Organisasi, Job Insecurity, dan Turnover Intention yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial komitmen afektif tidak berpengaruh signifikan terhadap turnover intention (p = 0,143), sedangkan komitmen berkelanjutan (p < 0,001) dan komitmen normatif (p = 0,007) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention. Job insecurity berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention (p < 0,001). Secara simultan, dimensi komitmen organisasi dan job insecurity berpengaruh signifikan terhadap turnover intention dengan nilai Adjusted R² sebesar 0,592, yang menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 59,2% variasi turnover intention. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan komitmen berkelanjutan dan komitmen normatif serta pengurangan job insecurity dapat menjadi strategi untuk menekan turnover intention.
Kecemasan State-Trait dan Doomscrolling Reyhan Arrilya Adhe Rivellino; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science 1529-1536
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26147

Abstract

Abstract. The constant exposure to negative news on social media has fueled doomscrolling, a compulsive habit of scrolling through negative content. While anxiety is considered a key antecedent, prior studies have treated anxiety as a unidimensional construct without distinguishing state anxiety from trait anxiety. This study aimed to examine the relationships between state anxiety, trait anxiety, and doomscrolling among social media users in Bandung, Indonesia. A cross‑sectional correlational design was employed, involving 151 participants aged 18‑25 years. The State-Trait Anxiety Inventory (STAI) Form Y and the Doomscrolling Scale were used. Spearman correlation analysis revealed significant positive associations between state anxiety (ρ = .327, p < .001) and doomscrolling, as well as between trait anxiety (ρ = .445, p < .001) and doomscrolling. Trait anxiety demonstrated a stronger correlation, suggesting that dispositional anxiety is a more robust factor in compulsive negative news consumption. These findings underscore the need to differentiate anxiety types in understanding doomscrolling and can inform digital literacy programs aimed at reducing the behavior Abstrak. Paparan berita negatif yang terus‑menerus di media sosial mendorong perilaku doomscrolling, yaitu kebiasaan kompulsif menggulir konten negatif. Kecemasan diketahui menjadi anteseden, tetapi studi sebelumnya masih mengukur kecemasan sebagai konstruk tunggal tanpa membedakan state anxiety dan trait anxiety. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan state anxiety dan trait anxiety dengan doomscrolling pada pengguna media sosial di Kota Bandung. Desain korelasional cross‑sectional digunakan dengan 151 responden berusia 18‑25 tahun. Instrumen yang digunakan adalah State-Trait Anxiety Inventory (STAI) Form Y dan Doomscrolling Scale. Analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara state anxiety (ρ = 0,327; p < 0,001) dan trait anxiety (ρ = 0,445; p < 0,001) dengan doomscrolling. Trait anxiety menunjukkan korelasi yang lebih kuat, mengindikasikan bahwa kecemasan disposisional merupakan faktor yang lebih stabil. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang doomscrolling dan dapat mendasari pengembangan program literasi digital