cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 575 Documents
Di Balik Interaksi Digital: Tinjauan Literatur tentang Hubungan Kesepian dan Nomophobia Safa Ainun Nisa Lukito; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1363-1372
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25630

Abstract

Abstract University students who use social media heavily often report loneliness alongside nomophobia (anxiety from being unable to access a smartphone), with TikTok and Instagram thought to produce different psychological effects due to their distinct algorithms and self-presentation styles; this paper synthesizes theoretical and empirical research on loneliness and nomophobia among student social media users, with particular focus on students in Bandung, using a narrative literature review approach drawing on national and international journals, systematic reviews, books, and theses published between 2013 and 2026 from Google Scholar, ScienceDirect, PubMed, Scopus, GARUDA, and similar databases, analyzed thematically. The review found that loneliness breaks down into three types romantic, family, and social while nomophobia involves four dimensions: difficulty communicating, loss of connectedness, limited information access, and reduced comfort, with global nomophobia rates ranging from 15.2% to 99.7% and Indonesia ranking among the countries with the highest prevalence of severe nomophobia worldwide. Each platform's characteristics appear to have distinct effects: TikTok's passive, algorithm-driven usage is more closely linked to family-related loneliness, while Instagram's identity-focused engagement is more closely linked to nomophobia, though the direct relationship between loneliness and nomophobia remains inconsistent across studies ranging from no relationship to weak-to-moderate positive correlation while self-control and self-esteem consistently emerge as protective factors, suggesting campus mental health programs should be tailored to platform-specific usage patterns and aimed at strengthening students' self-control, rather than treating all social media behavior as uniform. Abstrak. Mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial sering mengalami kesepian dan nomophobia (rasa cemas ketika tidak bisa mengakses ponsel), dengan TikTok dan Instagram diduga memicu pengalaman psikologis berbeda karena cara kerja algoritma dan gaya presentasi diri yang tidak sama; tulisan ini merangkum kajian teori dan penelitian empiris tentang kesepian serta nomophobia pada mahasiswa pengguna media sosial, dengan fokus khusus pada mahasiswa di Bandung, menggunakan metode tinjauan literatur naratif yang menelusuri jurnal nasional maupun internasional, tinjauan sistematis, buku, dan skripsi terbitan 2013–2026 dari Google Scholar, ScienceDirect, PubMed, Scopus, GARUDA, dan basis data sejenis, lalu dianalisis secara tematik. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kesepian terbagi menjadi tiga jenis romantis, keluarga, dan sosial, sedangkan nomophobia terdiri dari empat aspek: kesulitan berkomunikasi, hilangnya rasa terhubung, terbatasnya akses informasi, dan berkurangnya kenyamanan, dengan angka kejadian nomophobia global bervariasi dari 15,2% hingga 99,7% dan Indonesia termasuk negara dengan tingkat nomophobia parah tertinggi di dunia. Karakteristik masing-masing platform memberi dampak berbeda: penggunaan TikTok yang pasif dan mengikuti algoritma lebih terkait dengan kesepian keluarga, sementara Instagram yang berorientasi pembentukan identitas lebih terkait dengan nomophobia, meski hubungan langsung antara kesepian dan nomophobia sendiri belum konsisten antarpenelitian mulai dari tidak ada hubungan hingga korelasi positif lemah-sedang sementara kontrol diri dan harga diri konsisten menjadi faktor pelindung, sehingga program kesehatan mental kampus sebaiknya disesuaikan dengan pola penggunaan tiap platform dan diarahkan memperkuat kontrol diri mahasiswa, bukan menyamaratakan seluruh perilaku bermedia sosial.
Sisi Lain Roblox: Sebuah Tinjauan Literatur mengenai Cyber Grooming Nabila Adzafirah; Fanni Putri Diantina
Bandung Conference Series: Psychology Science 1373-1380
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25638

Abstract

Abstract. Roblox, one of the world's most popular online gaming platforms with more than 85 million daily active users, a large proportion of whom are children and adolescents, has increasingly been reported as a site where cyber grooming occurs. This article presents a literature review examining the phenomenon of cyber grooming, with particular attention to its characteristics on community-based online gaming platforms such as Roblox, as well as the psychological vulnerability factors of insecure attachment and loneliness that are theorized to increase an individual's risk of becoming a target. A narrative review method was used, synthesizing theoretical and empirical articles published between 2003 and 2026, obtained from Google Scholar, ScienceDirect, and Scopus using the keywords “cyber grooming,” “online grooming,” “insecure attachment,” and “loneliness.” The reviewed studies are summarized in a synthesis table and further discussed descriptively. The review indicates that cyber grooming unfolds as a gradual manipulation process in which perpetrators exploit victims' unmet emotional needs, and that insecure attachment (particularly attachment anxiety) and loneliness consistently emerge as psychological factors that increase an individual's vulnerability to this process, whereas attachment avoidance appears to function as a protective factor. This review highlights a gap in the literature regarding studies that examine cyber grooming specifically within community-based gaming platforms such as Roblox, particularly among Indonesian adolescents. Abstrak. Roblox, salah satu platform permainan daring terpopuler di dunia dengan lebih dari 85 juta pengguna aktif harian yang sebagian besar merupakan anak-anak dan remaja, semakin banyak dilaporkan sebagai ruang terjadinya cyber grooming. Artikel ini menyajikan studi literatur mengenai fenomena cyber grooming, dengan perhatian khusus pada karakteristiknya di platform permainan daring berbasis komunitas seperti Roblox, serta faktor risiko psikologis berupa insecure attachment dan loneliness yang diduga meningkatkan risiko individu menjadi sasaran. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka naratif (narrative review) yang mensintesis artikel teoritis dan empiris terbitan tahun 2003-2026 yang diperoleh dari Google Scholar, ScienceDirect, dan Scopus menggunakan kata kunci “cyber grooming”, “online grooming”, “insecure attachment”, dan “loneliness”. Studi-studi yang ditelaah dirangkum dalam tabel sintesis dan dibahas secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa cyber grooming berlangsung sebagai proses manipulasi bertahap yang memanfaatkan kebutuhan emosional korban yang belum terpenuhi, serta bahwa insecure attachment (khususnya attachment anxiety) dan loneliness secara konsisten muncul sebagai faktor psikologis yang meningkatkan risiko individu terhadap proses tersebut, sedangkan attachment avoidance tampak berperan sebagai faktor protektif. Kajian ini menyoroti kesenjangan literatur terkait penelitian yang secara khusus mengkaji cyber grooming pada platform permainan berbasis komunitas seperti Roblox, khususnya pada remaja Indonesia.
Pengaruh Public Stigma dan Mental Health Literacy terhadap Help-Seeking Behavior pada Mahasiswa yang Mengalami Stres Akademik Nazwa Putri Rahman; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science 1381-1388
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25706

Abstract

Abstract. Students experiencing academic stress are vulnerable to mental health problems; however, professional help-seeking remains relatively low. Public stigma and mental health literacy are considered important factors influencing help-seeking behavior. This study aimed to examine the effect of public stigma and mental health literacy on help-seeking behavior among undergraduate students experiencing academic stress. A quantitative study with a causal design was conducted involving 405 undergraduate students aged 18–25 years from public and private universities in Bandung selected using convenience sampling. Data were collected using the Stigma Scale for Receiving Psychological Help (SSRPH), Mental Health Literacy Scale (MHLS), and Actual Help-Seeking Questionnaire (AHSQ). Data were analyzed using multiple linear regression. The findings indicated that public stigma had a significant negative effect on help-seeking behavior, whereas mental health literacy had a significant positive effect. Simultaneously, both variables significantly predicted help-seeking behavior, with mental health literacy emerging as the stronger predictor. These findings suggest that improving mental health literacy while reducing public stigma may enhance students’ willingness to seek psychological help and support the development of mental health promotion programs in higher education. Abstrak. Mahasiswa yang mengalami stres akademik merupakan kelompok yang rentan mengalami permasalahan kesehatan mental, namun perilaku mencari bantuan profesional masih relatif rendah. Public stigma dan mental health literacy diduga menjadi faktor yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh public stigma dan mental health literacy terhadap help-seeking behavior pada mahasiswa yang mengalami stres akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Sebanyak 405 mahasiswa program sarjana berusia 18–25 tahun dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Bandung dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Stigma Scale for Receiving Psychological Help (SSRPH), Mental Health Literacy Scale (MHLS), dan Actual Help-Seeking Questionnaire (AHSQ), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa public stigma berpengaruh negatif secara signifikan terhadap help-seeking behavior, sedangkan mental health literacy berpengaruh positif secara signifikan. Secara simultan, kedua variabel berpengaruh signifikan terhadap help-seeking behavior dengan mental health literacy sebagai prediktor yang lebih dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi kesehatan mental serta pengurangan stigma publik berpotensi meningkatkan perilaku mencari bantuan psikologis pada mahasiswa.
Intensi Berwirausaha pada Siswa SMK di Kota Bandung Rahma Syafiqah Khairunnissa; Susandari
Bandung Conference Series: Psychology Science 1389-1396
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25709

Abstract

Abstract. Changes in the economic structure and increasingly fierce competition among young people in the workforce demand the development of an entrepreneurial spirit among the younger generation. However, entrepreneurial intention among vocational high school (SMK) students in Indonesia remains relatively low, including at one Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW) school in Bandung, where only 4% of graduates choose to become entrepreneurs. This study aims to determine the level of entrepreneurial intention among SPW students in Bandung. The study employed a quantitative approach with descriptive analysis. The sample consisted of 411 students, selected through a cluster random sampling method. Data were collected using the Entrepreneurial Intention Inventory (EII), adapted into Indonesian, which showed good validity (AVE = 0.628) and high reliability (Cronbach's Alpha = 0.905). The results showed that 394 students (96%) had a high level of entrepreneurial intention, while 17 students (4%) fell into the low category. These findings indicate that the majority of students have a strong desire to pursue entrepreneurship as a career path. The findings also suggest that the SPW program has the potential to foster entrepreneurial intention among students, although further support is needed to translate this intention into actual entrepreneurial behavior after graduation. Abstrak. Perubahan struktur ekonomi dan persaingan generasi muda di dunia kerja yang semakin ketat menuntut tumbuhnya jiwa kewirausahaan pada generasi muda, namun intensi berwirausaha siswa SMK di Indonesia masih tergolong rendah, termasuk pada salah satu SMK Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW) di Kota Bandung, dimana hanya menghasilkan 4% lulusan yang memilih berwirausaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat intensi berwirausaha siswa SMK Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW) di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 411 siswa yang dipilih melalui teknik probability sampling dengan metode cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Entrepreneurial Intention Inventory (EII) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Hasil uji instrumen menunjukkan validitas yang baik (AVE = 0,628) dan reliabilitas yang tinggi (Cronbach’s Alpha = 0,905). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 394 siswa (96%) memiliki tingkat entrepreneurial intention yang tinggi, sedangkan 17 siswa (4%) berada pada kategori rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa mayoritas siswa memiliki dorongan yang kuat untuk memilih kewirausahaan sebagai pilihan karirr. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa program Sekolah Pencetak Wirausaha berpotensi mendukung terbentuknya niat berwirausaha pada siswa, meskipun diperlukan upaya lanjutan agar niat tersebut dapat diwujudkan menjadi perilaku berwirausaha setelah lulus.
Studi Literatur tentang Gamifikasi Kahoot! dalam Mendukung Motivasi Belajar dan Keterlibatan Siswa Nasywa Atalie Salwa; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1397-1404
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25722

Abstract

Abstract. Gamification has been widely adopted in education to enhance students' learning motivation and engagement by integrating game elements into learning activities. Among various gamified platforms, Kahoot! is one of the most widely used assessment tools. However, previous studies have reported inconsistent findings regarding its effectiveness. Therefore, this study reviews previous research on the use of Kahoot! to improve students' learning motivation and engagement. This study employed a literature review method using journal articles retrieved from Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, and ERIC. The selected studies were analyzed using a narrative synthesis approach. The findings show that Kahoot! generally improves students' learning motivation and engagement through interactive features such as immediate feedback, points, leaderboards, and time limits. However, its effectiveness depends on factors including implementation duration, learner characteristics, subject area, instructional design, and the gamification elements used. Overall, Kahoot! has the potential to enhance learning motivation and engagement when implemented appropriately. Abstrak. Gamifikasi semakin banyak diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa melalui integrasi elemen permainan. Salah satu media yang banyak digunakan adalah Kahoot!, meskipun efektivitasnya masih menunjukkan hasil yang beragam. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan mengkaji penelitian terdahulu mengenai penggunaan Kahoot! sebagai media evaluasi pembelajaran terhadap motivasi belajar dan keterlibatan siswa. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis artikel ilmiah dari Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, dan ERIC menggunakan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kahoot! umumnya meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa melalui fitur immediate feedback, sistem poin, leaderboard, dan batas waktu. Namun, efektivitasnya dipengaruhi oleh durasi penggunaan, karakteristik peserta didik, mata pelajaran, desain pembelajaran, serta elemen gamifikasi yang diterapkan. Dengan demikian, Kahoot! berpotensi menjadi media evaluasi yang mendukung motivasi belajar dan keterlibatan siswa apabila diterapkan sesuai konteks pembelajaran.
Efek Perceraian Orang Tua Pada Dewasa Awal: dari Perspektif Psikologi Az-Zahra Tiaranida Sudrajat; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1405-1414
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25785

Abstract

Abstract. The phenomenon of parental divorce is becoming increasingly common among Indonesians. Individuals who grow up in divorced families may experience the sleeper effect, whereby the impact of their parents’ divorce becomes apparent in later stages of development specifically in early adulthood, particularly when entering romantic relationships. This study aims to examine the relationship between fear of intimacy and marital attitudes in early adulthood among individuals from divorced families. The research method employed in this study is a literature review, involving the collection of data from various relevant academic sources. Based on the results of the literature review, it was found that there is a relationship between fear of intimacy and marital attitudes in early adulthood among individuals who grew up in divorced families. This suggests that parental divorce can make young adults more vulnerable to developing a fear of intimacy, which in turn may influence their attitudes toward marriage. Therefore, young adults from divorced families need to practice greater self-acceptance and identify the sources of fear that can develop into a fear of intimacy, particularly when entering romantic relationships. Abstrak. Fenomena perceraian orang tua saat ini semakin sering terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Individu yang tumbuh dari keluarga bercerai dapat mengalami sleeper effect, dimana efek dari perceraian orang tua dapat terlihat pada tahap perkembangan selanjutnya yaitu pada tahap dewasa awal, khususnya ketika menjalin hubungan berpacaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fear of intimacy dan marital attitude dewasa awal dari keluarga bercerai. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan kajian literature review, dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber akademik yang relavan. Berdasarkan hasil kajian literature, diperoleh temuan bahwa adanya hubungan antara fear of intimacy dengan marital attitude pada dewasa awal yang tumbuh dari keluarga bercerai. Hal ini menunjukkan bahwa perceraian orang tua dapat membuat dewasa awal memiliki kerentanan dalam mengalami fear of intimacy, sehingga dapat berpotensi mempengaruhi sikapnya terhadap marital attitude. Oleh karena itu, dewasa awal dari keluarga bercerai perlu untuk lebih menghargai diri sendiri dan mengenali sumber ketakutan yang dapat berkembang menjadi fear of intimacy, khususnya dalam menjalin hubungan romantis.
Banyak Teman, tetap Sepi: Self-Disclosure sebagai Mediator Kualitas Pertemanan terhadap Loneliness Mahasiswa salma anggun cantika; Lilim Halimah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1415-1422
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25846

Abstract

Abstrak. Kesepian (loneliness) pada mahasiswa merupakan persoalan psikologis yang serius, sebab banyaknya relasi sosial tidak selalu menjamin terpenuhinya kebutuhan akan kedekatan emosional. Penelitian sebelumnya banyak menemukan hubungan langsung antara kualitas pertemanan dan kesepian, namun belum banyak menjelaskan mekanisme psikologis di baliknya, sehingga self-disclosure diposisikan sebagai variabel mediator. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh kualitas interaksi pertemanan terhadap loneliness pada mahasiswa di Kota Bandung, dengan self-disclosure sebagai mediator. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif desain eksplanatori pada 385 mahasiswa berusia 18-25 tahun di Kota Bandung yang dipilih melalui convenience sampling. Kualitas interaksi pertemanan, loneliness, dan self-disclosure diukur masing-masing dengan Friendship Quality Scale, UCLA Loneliness Scale, dan Revised Self-Disclosure Scale. Data dianalisis menggunakan SEM-PLS dengan SmartPLS 4 dan bootstrapping 5.000 sampel. Hasil menunjukkan kualitas interaksi pertemanan berpengaruh negatif signifikan terhadap loneliness (T = 2,638; p = 0,008) dan positif signifikan terhadap self-disclosure (T = 7,613; p < 0,001); self-disclosure berpengaruh negatif signifikan terhadap loneliness (T = 3,117; p = 0,002) dan terbukti memediasi pengaruh kualitas interaksi pertemanan terhadap loneliness (koefisien tidak langsung = -0,090; T = 2,893; p = 0,004; BC CI 95% = -0,161 hingga -0,036). Meskipun mayoritas mahasiswa berada pada kategori kualitas pertemanan dan self-disclosure yang tinggi, mayoritas juga tetap berada pada kategori loneliness yang tinggi, temuan yang dijelaskan melalui kesenjangan antara luas (breadth) dan kedalaman (depth) keterbukaan diri sesuai Social Penetration Theory. Temuan ini menegaskan bahwa mengurangi kesepian mahasiswa membutuhkan keberanian membuka diri secara mendalam, bukan sekadar memperbanyak relasi pertemanan. Abstract. Loneliness among university students is a serious psychological concern, since numerous social relationships do not guarantee emotional closeness. Prior studies have largely linked friendship quality directly to loneliness, but rarely explained the underlying mechanism, so self-disclosure is positioned as a mediator. This study examined the effect of friendship interaction quality on loneliness among university students in Bandung City, with self-disclosure as a mediator. This quantitative, explanatory study involved 385 students aged 18-25 in Bandung City, selected through convenience sampling. Friendship interaction quality, loneliness, and self-disclosure were measured with the Friendship Quality Scale, UCLA Loneliness Scale, and Revised Self-Disclosure Scale. Data were analyzed using SEM-PLS with SmartPLS 4 and 5,000-sample bootstrapping. Results showed friendship interaction quality had a significant negative effect on loneliness (T = 2.638; p = 0.008) and a significant positive effect on self-disclosure (T = 7.613; p < 0.001); self-disclosure had a significant negative effect on loneliness (T = 3.117; p = 0.002) and significantly mediated the effect of friendship interaction quality on loneliness (indirect coefficient = -0.090; T = 2.893; p = 0.004; BC CI 95% = -0.161 to -0.036). Although most students scored high on friendship quality and self-disclosure, most also remained highly lonely, a finding explained by the gap between breadth and depth of self-disclosure per Social Penetration Theory. These findings confirm that reducing loneliness requires the courage to disclose oneself more deeply, not merely expanding the number of friendships.
Pengaruh Work-Family Conflict terhadap Organizational Citizenship Behavior pada Saleswoman Febriasyalva Celica Annissa Sanggara; Anna Rozana
Bandung Conference Series: Psychology Science 1423-1432
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25887

Abstract

Abstract. The increasingly tight competition in the job market encourages organizations to pay attention to employes' extra-role behaviors, one of which is organizational citizenship behavior (OCB). In married and family-oriented saleswomen, the dual roles between work and family have the potential to create work-family conflict (WFC) that can affect organizational citizenship behavior (OCB). This study aims to determine the impact of work-family conflict on organizational citizenship behavior among car dealership saleswomen in Bandung City. The research uses a quantitative approach with a causal design. Data were collected thru an online questionnaire from 102 saleswomen who are married, aged 25–44 years, and have worked for at least one year. The measurement tools used were the WFC scale from Carlson et al. (2000) adapted by Kuntari (2017) and the OCB scale constructed by Tentama and Subardjo (2018). The research results show that work-family conflict has a significant positive effect on organizational citizenship behavior with a coefficient of determination (Adjusted R Square) value of 0.577 or 57.7%. Partial tests indicate that only the dimension of work interference with family (WIF) significantly affects organizational citizenship behavior. These findings indicate that an increase in work-family conflict does not always lead to a decrease in OCB. In saleswomen, work demands are believed to still encourage individuals to maintain extra-role behavior as a form of commitment to their work and the achievement of organizational targets. Abstrak. Persaingan dunia kerja yang semakin ketat mendorong organisasi memperhatikan perilaku ekstra peran karyawan, salah satunya organizational citizenship behavior (OCB). Pada saleswoman yang telah menikah dan berkeluarga, peran ganda antara pekerjaan dan keluarga berpotensi memunculkan work-family conflict (WFC) yang dapat memengaruhi OCB. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh work-family conflict terhadap organizational citizenship behavior pada saleswoman dealer mobil di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada 102 saleswoman yang telah menikah, berusia 25–44 tahun, dan bekerja minimal satu tahun. Alat ukur yang digunakan adalah skala WFC dari Carlson et al. (2000) yang diadaptasi Kuntari (2017) serta skala OCB yang dikonstruksi Tentama dan Subardjo (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa work family con flictberpengaruh positif signifikan terhadap organizational citizenship behavior dengan nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) sebesar 0,577 atau 57,7%. Uji parsial menunjukkan hanya dimensi work interference with family (WIF) yang berpengaruh signifikan terhadap organizational citizenship behavior. Temuan ini menunjukkan bahwa meningkatnya konflik dari tuntutan pekerjaan terhadap keluarga tidak selalu diikuti penurunan OCB. Pada saleswoman, tuntutan pekerjaan diduga tetap mendorong individu mempertahankan perilaku ekstra peran sebagai bentuk komitmen terhadap pekerjaan dan pencapaian target organisasi.
Hubungan Efikasi Diri Pengasuhan dengan Stres Pengasuhan pada Ibu di Era Digital Revina Nika Anjani; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1433-1442
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25905

Abstract

Abstract. Advances in digital technology have brought about changes in family dynamics, particularly in parenting practices, as mothers shoulder increasing responsibilities in supervising their children’s use of digital devices. This situation positions parenting self-efficacy as a psychological resource that helps mothers cope with the demands of parenting and is believed to be associated with parenting stress. This study aims to examine the relationship between parenting self-efficacy and parenting stress among mothers with children aged 9–12 years who actively use digital devices. This quantitative correlational study involved 130 mothers in Bandung City, selected using convenience sampling. The inclusion criteria were mothers aged 30–45 years with children aged 9–12 years who used digital devices for at least 2 hours per day, as well as mothers who were active users of digital devices themselves. Data were collected using the Self-Efficacy for Parenting Tasks Index (SEPTI, 36 items, α = 0.889) and the Parenting Stress Scale (PSS), an adapted version of the Parental Stress Scale (15 items, α = 0.828). Descriptive results showed that the majority of mothers had high parenting self-efficacy (72.3%). Meanwhile, the majority of mothers had low levels of parenting stress (70%). Results from the Spearman’s Rho correlation test indicated a significant negative relationship between parenting self-efficacy and parenting stress (rs = -0.585; p < 0.01). These findings indicate that among mothers with children aged 9–12 years who actively use digital devices, the higher the parenting self-efficacy, the lower the level of perceived parenting stress. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam dinamika keluarga, khususnya dalam praktik pengasuhan, dengan bertambahnya tanggung jawab ibu dalam mendampingi penggunaan perangkat digital anak. Kondisi tersebut menjadikan efikasi diri pengasuhan sebagai salah satu sumber daya psikologis yang berperan dalam membantu ibu menghadapi tuntutan pengasuhan dan diduga berhubungan dengan stres pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri pengasuhan (parenting self-efficacy) dan stres pengasuhan (parenting stress) pada ibu yang memiliki anak usia 9–12 tahun yang aktif menggunakan perangkat digital. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 130 ibu di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Kriteria subjek adalah ibu berusia 30-45 tahun dengan anak usia 9-12 tahun yang menggunakan gawai minimal 2 jam per hari serta ibu yang aktif menggunakan perangkat digital. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Self-Efficacy for Parenting Tasks Index (SEPTI, 36 butir, α = 0,889) dan Skala Stres Pengasuhan (SSP) hasil adaptasi Parental Stress Scale (PSS, 15 butir, α = 0,828). Hasil deskriptif menunjukkan mayoritas ibu memiliki efikasi diri pengasuhan yang tinggi (72,3%). Sementara itu, mayoritas ibu memiliki tingkat stres pengasuhan yang rendah (70%). Hasil uji korelasi Spearman’s Rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara efikasi diri pengasuhan dan stres pengasuhan (rs = -0,585; p < 0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa pada ibu yang memiliki anak usia 9-12 tahun yang aktif menggunakan perangkat digital, semakin tinggi efikasi diri pengasuhan maka semakin rendah tingkat stres pengasuhan yang dirasakan.
Pengaruh Kontrol Diri terhadap Toxic Disinhibition Online Effect pada Pengguna TikTok Fazza Ajriya Putrajasin; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science 1443-1450
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25923

Abstract

Abstract. The rapid growth of TikTok social media usage has triggered the emergence of the toxic disinhibition online effect among young adults, raising critical concerns regarding psychological control mechanisms such as self-control. This study aims to bridge research gaps resulting from previous inconsistencies and to examine the contribution of self-control toward the toxic disinhibition online effect. This quantitative study utilized a cross-sectional design involving 110 active TikTok users selected through purposive sampling among Bandung Islamic University students aged 18–24 years. Data were collected using the Self-Control Scale and the Toxic Disinhibition Online Effect Scale. Simple linear regression analysis revealed a significant negative effect of self-control on the toxic disinhibition online effect (R Square = 0.528, p < 0.05). Dimension analysis indicated that non-impulsive actions serve as a strong predictor in mitigating destructive online behavior, while self-disclosure represents the most dominant manifestation of toxic disinhibition. In conclusion, robust self-regulation capacity significantly reduces destructive online tendencies. Abstrak. Maraknya fenomena toxic disinhibition online effect di media sosial TikTok memicu urgensi untuk meneliti faktor psikologis penekannya, salah satunya yaitu kontrol diri. Penelitian ini dilakukan untuk menghubungkan kesenjangan (research gap) dari adanya inkonsistensi temuan sebelumnya, serta untuk mengetahui seberapa besar kontribusi kontrol diri terhadap toxic disinhibition online effect pada pengguna media sosial TikTok. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 110 mahasiswa aktif Universitas Islam Bandung rentang usia 18–24 tahun. Pengumpulan data menggunakan skala kontrol diri dan skala toxic disinhibition online effect. Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh negatif dan signifikan dari kontrol diri terhadap toxic disinhibition online effect (R Square = 0,528, p < 0,05). Analisis dimensi menemukan bahwa aspek tindakan non-impulsif merupakan prediktor kuat dalam menekan perilaku negatif, sementara self-disclosure menjadi manifestasi dominan.