Claim Missing Document
Check
Articles

THE RELATIONSHIP BETWEEN PERSONAL HYGIENE AND THE INCIDENCE OF PITYRIASIS VERSICOLOR IN SUKAWINATAN LANDFILL SCAVENGERS Brigitta, Cantika; Susilawati; Dalilah; Gita Dwi Prasasty; Dwi Handayani
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 13 No. 1 (2026): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/stkwsz82

Abstract

Pityriasis versicolor is a superficial fungal skin disease and a global health concern. Scavengers working under the scorching sun with behaviors such as not showering immediately after work, rarely changing work clothes, and using damp towels are at an increased risk of developing P. versicolor. This study aimed to determine the relationship between personal hygiene and the occurrence of P. versicolor among scavengers at the Sukawinatan landfill. The research employed an analytical observational method with a cross-sectional design and total sampling technique. Forty-eight scavengers who met the inclusion and exclusion criteria were included as study subjects. Personal hygiene data were collected through questionnaires, while data on P. versicolor were obtained from clinical symptoms and examinations using a Wood's lamp. The results showed that 22.9% of the scavengers at the Sukawinatan landfill had P. versicolor. Fisher's Exact test revealed a significant relationship between personal hygiene and the occurrence of P. versicolor, with a p-value of 0.002 (p < 0.05) and a Prevalence Ratio (PR) of 5.200 (PR > 1.000). In conclusion, there is a significant relationship between personal hygiene and the occurrence of Pityriasis versicolor among scavengers at the Sukawinatan landfill.
Potensi Penggunaan Metode PCR dalam Mendeteksi S. scabiei var. hominis Elva Miryani; Gita Dwi Prasasty; Dwi Handayani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53303

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit akibat infestasi Sarcoptes scabiei yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Deteksi dini yang akurat sangat penting untuk mencegah penularan dan komplikasi. Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan metode diagnostik molekuler yang berpotensi tinggi mendeteksi tungau skabies. Penelitian ini merupakan kajian literatur sistematik untuk mengevaluasi berbagai metode PCR, diantaranya konvensional, real time (RT), nested, dan multiplex dalam mendeteksi tungau skabies. Literatur diperoleh dari Google Scholar, ClinicalKey, Scopus dan PubMed dengan kata kunci “PCR and Scabies”, dibatasi pada artikel berbahasa Indonesia dan Inggris tahun 2015–2025. Hasil menunjukkan bahwa RT-PCR dan Nested PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas paling tinggi, masing-masing mencapai hingga 95% dan >90%. Gen target yang digunakan bervariasi, antara lain gen mitokondria 16S, ITS2, dan cox1. Sampel umumnya berasal dari kulit lesi, dengan sebagian menggunakan swab kering. Kesimpulannya, RT-PCR dan Nested PCR merupakan metode PCR paling potensial untuk deteksi skabies secara akurat, bahkan dengan material tungau yang rendah. Metode PCR bermanfaat dalam konteks surveilans endemis dan memfasilitasi pengobatan secara dini untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.,. Diperlukan penelitian berskala besar serta pengembangan primer dan protokol PCR yang tepat dan sederhana untuk meningkatkan efektivitas diagnosis skabies.
Comparison of Fluconazole with Oral Probiotic and Fluconazole in the Treatment of Vulvovaginal Candidiasis : A Systematic Review And Meta-Analysis Of RCT Studies Purnama, Intan; Susilawati, Susilawati; Prasasty, Gita Dwi
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i1.11214

Abstract

Vulvovaginal candidiasis, a common fungal infection that affects up to 75% of women at least once in their lifetime. With increasing resistance to azole antifungals, such as fluconazole, due to factors such as gene efflux pumps, alternative treatments are needed. Probiotics, specifically Lactobacillus species, have emerged as a promising option due to their ability to inhibit Candida albicans and modulate the host immune response. This study analyzed data from randomized controlled trials. We collected data from articles comparing probiotics with fluconazole therapy and fluconazole alone with or without placebo in patients with vulvovaginal candidiasis published between 2009 and 2024. We obtained articles from scientific databases such as Scopus, Pubmed, ScienceDirect, Clinical Key, JSTOR and Google Scholar based on inclusion criteria. Data analysis was performed using Review Manager Version 5.4.1. The results showed that probiotics significantly reduced symptoms of vaginal discharge (OR value = 0.14 (0.07,0.29), 95% CI) and improved culture test results (OR value = 0.33 (0.17,0.63), 95% CI), indicating potential benefits in improving vaginal microbiota balance and preventing recurrent infections. However, probiotics did not significantly relieve other symptoms, such as itching (OR value = 0.67 (0.27,1.61), 95% CI), irritation (OR value = 0.56 (0.25,1.24), 95% CI), and dyspareunia (OR value = 0.91 (0.34,2.43), 95% CI). For individuals with vulvar candidiasis who are unresponsive to fluconazole therapy, probiotic drugs can be given as additional therapy
Situasi Terkini Mutasi Knockdown Resistance (KDR) Aedes aegypti Terhadap Insektisida Piretroid di Indonesia: Sebuah Tinjauan Literatur Iwel Susilawati; Dalilah Dalilah; Gita Dwi Prasasty
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55478

Abstract

Resistensi insektisida piretroid pada nyamuk Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue, menjadi masalah kesehatan global, terutama di Indonesia. Insektisida piretroid masih menjadi pilihan pengendalian demam berdarah dengue . Ketergantungan terhadap insektisida piretroid menyebabkan mutasi knockdown resistance pada nyamuk Aedes aegypti. Literatur review ini bertujuan mengkaji distribusi mutasi knockdown resistance, mekanisme, dampak resistensi, strategi pengendalian vektor alternatif dan manajemen resistensi insektisida di Indonesia. Pencarian literatur dilakukan pada basis data elektronik seperti PubMed, Google Scholar dan ResearchGate yang dipublikasikan dalam dalam rentang waktu 2018-2024. Penelusuran artikel difokuskan pada mutasi knockdown resistance pada nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida piretroid. Ditemukan sebanyak 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan resistensi piretroid tersebar luas di Indonesia dengan mekanisme mutasi knockdown resistance pada gen voltage gated sodium channel terutama mutasi pada titik V1016G, S989P dan F1534C. Dampak resistensi mencakup penurunan efektivitas pengendalian vektor dan potensi peningkatan kasus demam berdarah dengue. Strategi pengendalian alternatif meliputi pengurangan sumber perkembangbiakan, pengelolaan lingkungan, perlindungan pribadi, penggunaan agen biologis dan penggunaan ovitrap. Manajemen resistensi insektisida, seperti yang dipromosikan oleh Insecticide Resistance Action Committee melalui klasifikasi mode of action. Pendekatan pengendalian vektor terpadu sangat penting untuk menjaga efektivitas pengendalian vektor dan mengurangi beban penyakit demam berdarah dengue.
Infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH) : Dinamika Penularan, Patogenesis dan Faktor Risiko Winda Wahyu Setya Rahmah; Dwi Handayani; Susilawati Susilawati; Dalilah Dalilah; Gita Dwi Prasasty
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13743

Abstract

Infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH) merupakan salah satu infeksi yang masih banyak ditemukan baik di wilayah tropis maupun subtropis, terutama di wilayah dengan kondisi higiene dan sanitasi yang buruk sehingga mendorong perkembangan cacing. Kelompok cacing ini yaitu Ascaris lumbricoides, Tricuris trichiura, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus yang ditularkan melalui kontak dengan tanah yang mengandung stadium infektif cacing tersebut yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan mulai dari anemia, gangguan pertumbuhan dan gangguan organ tubuh. Studi ini bertujuan untuk mengkaji dinamika penularan, patogenesis dan faktor risiko infeksi STH dari tinjauan literatur ilmiah yang dipublikasikan sepuluh tahun terakhir. Metode penelitian ini menggunakan PRISMA dengan basis data meliputi PubMed, ScienceDirect, dan Cochrane. Hasil kajian menunjukkan bahwa dinamika penularan STH melalui rute fekal-oral dari telur infektif cacing dan penetrasi kulit larva infekstif cacing tambang, yang didukung dengan kondisi lingkungan dan perilaku host. Patogenesis infeksi STH erat kaitannya dengan paparan atau intensitas infeksi dan respon imun host yang berimplikasi pada gangguan maupun kerusakan jaringan tubuh. Praktik higiene dan sanitasi, akses air bersih, kondisi toilet, sistem pembungan limbah feses dan aspek sosio-ekonomi serta kondisi lingkungan berpengaruh pada faktor risiko infeksi STH. Pemahaman dari ketiga aspek tersebut penting dan menjadi dasar dalam strategi peengendalian dan eliminasi infeksi STH yang lebih efektif.
Role of VSSC Gene as a Marker of Sarcoptes scabiei Resistance to Permethrin: A Narrative Review Nidya Ulfa; Gita Dwi Prasasty; Dalilah Dalilah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59198

Abstract

Scabies, a common dermatological condition, poses a growing challenge in disease management because of the increasing reports of treatment failure. This phenomenon is linked to the declining effectiveness of permethrin, which is the recommended first-line scabicidal agent in many countries. To investigate this, a comprehensive literature review was conducted by searching for publications between 2015 and August 2025 in scientific databases, such as PubMed, Cochrane Library, and Web of Science. The focus was on reports of drug resistance in Sarcoptes scabiei infections and the potential of VSSC gene mutations as markers of permethrin resistance. The voltage-sensitive sodium channel (VSSC) gene is a crucial molecular marker for detecting permethrin resistance in S. scabiei. Mutations in this gene can alter the structure of the sodium channel, which is the target of permethrin, thereby reducing its binding affinity and allowing the mites to survive. Consequently, the early identification and monitoring of VSSC gene mutations are crucial. This approach not only enables the rapid detection of resistant S. scabiei populations but also guides the development of more appropriate treatment strategies, such as selecting alternative acaricides or more effective combination therapies. In addition to resistance, this review also identifies other factors causing treatment failure, known as pseudo-resistance.
Infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH) : Dinamika Penularan, Patogenesis dan Faktor Risiko Winda Wahyu Setya Rahmah; Dwi Handayani; Susilawati Susilawati; Dalilah Dalilah; Gita Dwi Prasasty
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13743

Abstract

Infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH) merupakan salah satu infeksi yang masih banyak ditemukan baik di wilayah tropis maupun subtropis, terutama di wilayah dengan kondisi higiene dan sanitasi yang buruk sehingga mendorong perkembangan cacing. Kelompok cacing ini yaitu Ascaris lumbricoides, Tricuris trichiura, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus yang ditularkan melalui kontak dengan tanah yang mengandung stadium infektif cacing tersebut yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan mulai dari anemia, gangguan pertumbuhan dan gangguan organ tubuh. Studi ini bertujuan untuk mengkaji dinamika penularan, patogenesis dan faktor risiko infeksi STH dari tinjauan literatur ilmiah yang dipublikasikan sepuluh tahun terakhir. Metode penelitian ini menggunakan PRISMA dengan basis data meliputi PubMed, ScienceDirect, dan Cochrane. Hasil kajian menunjukkan bahwa dinamika penularan STH melalui rute fekal-oral dari telur infektif cacing dan penetrasi kulit larva infekstif cacing tambang, yang didukung dengan kondisi lingkungan dan perilaku host. Patogenesis infeksi STH erat kaitannya dengan paparan atau intensitas infeksi dan respon imun host yang berimplikasi pada gangguan maupun kerusakan jaringan tubuh. Praktik higiene dan sanitasi, akses air bersih, kondisi toilet, sistem pembungan limbah feses dan aspek sosio-ekonomi serta kondisi lingkungan berpengaruh pada faktor risiko infeksi STH. Pemahaman dari ketiga aspek tersebut penting dan menjadi dasar dalam strategi peengendalian dan eliminasi infeksi STH yang lebih efektif.
Co-Authors Ade Suryaman Ade Suryaman Adil, Mahvira Chow Liana Herman Afiat Berbudi Ahmad Ghiffari Ahmad Giffari Andriani, R.A. Linda Andyra Priandhana Ardesy Melizah Kurniati Argentina, Fiva aryani, Inda astri Aseptianova Aseptianova Ayu Shavira, Febriana Az Zahra, Zaviera Azhari, Dalilah Bagus Dwi Prasetyo Banun, Syahri Bella Puspita Aziatri Bintang Fajarullah Brigitta, Cantika Chairil Anwar Chairil Anwar Daffa Rafid Yunanda Dalilah Dalilah Dalilah Dalilah Dalillah Dalillah Dalillah Dalillah Debby Handayati Harahap Desi Oktariana Desi Oktariana Dwi Budi Santoso Dwi Handayani Dwi Handayani Dwi Handayani Ella Amalia, Ella Elva Miryani Eny Rahmawati, Eny Eskalatin, Khaira Evi Lusiana Fadhlu Ridho, Muhammad Fadilatunnisa, Nur Fadjar Siddiq Hidayatullah Fatmawati Fatmawati, Fatmawati Febriana Ayu Shavira Fitrianti Fitrianti, Fitrianti Hafizzanovian, Hafizzanovian Iche Andriyani Liberty, Iche Andriyani Inda Astri Aryani Indri Seta Septadina Irnanda, Andi Irsan Saleh Iwel Susilawati Izzulhaq, Muhammad Agung Jayawarsa, A.A. Ketut Khairani, Attina Kristalia, Mareska Reggina Lasbudi P Ambarita Lestari, Alin Puja Dewi Lorenza, Geofanny Luthfiah, Qonita Mahvira Chow Liana Herman Adil Maria Sidabutar, Carolina Martadiansyah, Abarham Miftahurrizqiyah Miftahurrizqiyah Miftahurrizqiyah Muhaimin Ramdja Muhamad Ayus Astoni Muhammad Baharul Iman Muhammad Irsan Saleh Muhammad Reagan Muhammad, Fadhil Nahrani, Ulya NauE, Dian Adhe Bianggo Nia Savitri Tamzil Nidya Ulfa Nita Parisa Nopriyati Nopriyati, Nopriyati Nudhar, Harits Purnomo Nunuk Dyah Retno Lastuti Oktariana, Desi Oktarina, Desi pariyana, Pariyana Phelita, Alimah Phey Liana Purnama, Intan Purnomo, Abdul Harits R. A. Leni Septiana Rahadiyanto, Kemas Ya’kub Rahardiyanto, Kemas Ya’kub Rahmadona, Risa Rahman Irpan Pahlepi Rasyid, Riana Sari Puspita Rifka Purnama Sari Sabrina, Tia Shiddiq, Abdul Halim Smaradhna, Safira Sudarto Sudarto Sulfa Esi Warni Sulfa Esi Warni Sulfa Esi Warni Suprianto, Imam Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati, Susilawati Tanbisyakur, Tanbisyaskur Teguh Achadi Theodorus Theodorus Theresy, Elzabet Thia Prameswarie Tia Sabrina Tri Suciati Winda Wahyu Setya Rahmah Yuli Kurniawati Yuli Kurniawati, Yuli Zen Hafy Zuhdi, Kgs. Muhammad