Claim Missing Document
Check
Articles

Asesmen Diagnostik Menggunakan Design Thinking dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Kabupaten Muaro Jambi Rustam, Rustam; Karim, Maizar; Saputra, Ade Bayu; Ningsih, Arum Gati; Wini, Lusia Oktri
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 4, No 6 (2024): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v4i6.936

Abstract

This community service program aims to help teachers make learning designs in the form of diagnostic assessment portfolios that are in accordance with the content and learning phases, contain diagnostic assessment grids, and integrate them with learning outcomes and learner readiness needs. This community service method consists of four stages: (1) preparation, (2) implementation, (3) evaluation, and (4) reflection. In the preparation stage, preparing materials, determining the system for implementing activities, and preparing pre-test and post-test for teacher reflection in designing cognitive diagnostic assessments using Design Thinking in Indonesian language learning. The implementation stage includes counseling and small group practice (peer teaching). Evaluation is done through diagnostic assessment with initial competency test and post-test. The reflection stage produced a portfolio that recorded the entire process and results of the activity. For the Design Thinking Empathize process, 95% of junior high school Indonesian language teachers understand and interpret diagnostic assessment material. Define, 80% of Indonesian language teachers are able to construct the problems experienced by their students. Ideate, 80% of Indonesian language teachers analyze patterns/types of construction of competency ideas experienced by their learners. Prototype, 70% of Indonesian language teachers are able to find and compile a portfolio of diagnostic assessment instruments. Test, 72% of Indonesian language teachers are able to design cognitive diagnostic assessment instruments and non-cognitive diagnostic assessments.ABSTRAKProgram pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membantu guru membuat rancangan pembelajaran dalam bentuk portofolio asesmen diagnostik yang sesuai dengan content dan fase pembelajaran, memuat kisi-kisi asesmen diagnostik, dan mengintegrasikannya dengan capaian pembelajaran dan kebutuhan kesiapan peserta didik. Metode pengabdian kepada masyarakat ini terdiri dari empat tahap: (1) persiapan, (2) pelaksanaan, (3) evaluasi, dan (4) refleksi. Pada tahap persiapan, menyusun materi, menentukan sistem pelaksanaan kegiatan, serta menyiapkan pre-test dan post-test untuk refleksi guru dalam merancang asesmen diagnostik kognitif menggunakan Design Thinking dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Tahap pelaksanaan mencakup penyuluhan dan praktik kelompok kecil (peer teaching). Evaluasi dilakukan melalui asesmen diagnostik dengan uji kompetensi awal dan post-test. Tahap refleksi menghasilkan portofolio yang mencatat seluruh proses dan hasil kegiatan. Untuk proses Design Thinking Empathize, 95%, guru bahasa Indonesia SMP memahami dan menginterpretasikan materi asesmen diagnostik. Define, 80% guru bahasa Indonesia mampu mengkonstruksi permasalahan yang dialami peserta didiknya. Ideate, 80% guru bahasa Indonesia menganalisis pola/tipe konstruksi ide-ide kompetensi yang dialami peserta didiknya. Prototype, 70% guru bahasa Indonesia mampu menemukan dan menyusun portofolio instrumen asesmen diagnostik. Test, 72% guru bahasa Indonesia mampu mendesain instrumen asesmen diagnostik kognitif dan asesmen diagnostik non kognitif.
Bentuk dan Penggunaan Homonim dalam Bahasa Kerinci Akhyaruddin, Akhyaruddin; Yusra, Hilman; Saputra, Ade Bayu; Pratama, Deri Rachmad; Permana, Putia R
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 6, No 2 (2024): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v6i2.4182

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan homonim dalam bahasa Kerinci yang mencakup: bentuk, makna, dan penggunaannya. Jenis penelitian ini ialah kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang berupa kata-kata berbentuk homonim dalam bahasa Kerinci. Kata-kata tersebut berupa percakapan lisan antarmasyarakat Kerinci. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat penutur asli bahasa Kerinci, Provinsi Jambi. Pendekatan yang digunakan dalam menganalisi data yaitu pendekatan semantik, yang menggunakan analisis makna atau arti. Hasil penelitian menyatakan bahwa dalam bahasa Kerinci ada dua jenis homonim yaitu homonim yang homograf dan homonim yang homofon dan homograf.  Homonim yang homograf berjumlah 12 kata, yang mempunyai dua makna sebanyak 10 kata, dan yang mempunyai tiga makna sebanyak 2 kata. Homonim yang homofon dan homograf berjumlah 13 kata, yang mempunyai dua makna sebanyak 8 kata, yang memiliki tiga makna sebanyak 4 kata, dan yang mempunyai empat makna sebanyak 1 kata. Dalam bahasa Kerinci, tidak terdapat homonim yang homofon. Dari hasil penelitian ini, diharapkan pendengar (sebagai lawan bicara) atau yang bukan penutur asli bahasa Kerinci di Hamparan Rawang supaya dapat memahami dan menggunakan bahasa Kerinci dengan baik dan benar sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memaknai kata. 
Aspek Simbol dalam Tradisi Naik Garudo pada Adat Perkawinan di Desa Mersam Kabupaten Batanghari Rohmadani, Leni; Karim, Maizar; Saputra, Ade Bayu
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 6 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i6.3802

Abstract

Tradisi Naik Garudo merupakan salah satu prosesi penting dalam upacara perkawinan adat masyarakat Mersam, Kabupaten Batanghari, yang sarat dengan simbol-simbol budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna simbol atau menafsirkan unsur-unsur simbolik yang terkandung dalam tradisi Naik Garudo, yang meliputi bentuk Garudo, tandu pengantin, busana adat, arak- arakan, serta iringan musik tradisional. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dengam menggunakan pendekatan semiotik Charles Sanders Pierce yang berfokus pada simbolnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam tradisi ini menggambarkan nilai kekuatan, kehormatan, perlindungan, keseimbangan, serta pengakuan sosial bagi pasangan pengantin. Tradisi Naik Garudo juga memiliki fungsi sosial, ritual, dan estetika yang memperkuat identitas budaya lokal serta mengokohkan hubungan antarkomunitas. Selain itu, tradisi ini berperan sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan dan menjadi sarana pewarisan nilai kehidupan kepada generasi muda. Dengan demikian, Naik Garudo bukan hanya prosesi seremonial, tetapi merupakan representasi filosofi hidup masyarakat Mersam yang kaya makna.
Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel 3726 Mdpl Karya Nurwina Sari: Studi Kasus Pada Kajian Psikologi Sastra Setiawan, Deden; Warni, Warni; Saputra, Ade Bayu
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 6 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i6.3922

Abstract

Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian psikologi sastra serta pemahaman mengenai dinamika batin tokoh dalam karya sastra Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengkaji konflik batin tokoh utama dalam novel 3726 MDPL karya Nurwina Sari dengan pendekatan psikologi sastra berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa teks novel yang memuat kata, frasa, dialog, dan narasi terkait konflik batin tokoh Rangga Raja dan Andini. Analisis difokuskan pada interaksi struktur kepribadian id, ego, dan superego serta bentuk-bentuk konflik batin yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik batin kedua tokoh muncul akibat pertentangan antara dorongan emosional, realitas sosial, dan tuntutan moral. Bentuk konflik batin yang ditemukan meliputi depresi, obsesi, rasa takut, rasa bersalah, kemarahan, sakit hati, ketidakpuasan, dan perhatian. Tokoh Rangga cenderung mengalami konflik batin yang bersifat emosional dan ekspresif akibat dominasi id, sedangkan tokoh Andini lebih dipengaruhi oleh superego sehingga konflik batinnya didominasi dilema moral dan kebimbangan. Temuan ini menunjukkan bahwa konflik batin berperan penting dalam pembentukan karakter dan penggerak alur cerita. Dengan demikian, teori psikoanalisis Freud relevan digunakan untuk mengungkap dinamika psikologis tokoh dalam novel 3726 MDPL
Analisis Nilai-Nilai Sosial dalam Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Putri Angkoso Lestari; Yundi Fitrah; Ade Bayu Saputra
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurribah.v5i1.8265

Abstract

This study aims to describe the social values ​​contained in the novel Warung Bujang by Jessica Carmelia. This study uses a qualitative descriptive method with a sociology of literature approach. The research data are in the form of words, sentences, dialogues, and paragraphs containing social values ​​in the novel. The main data source is the novel Warung Bujang by Jessica Carmelia, published in 2023. Data collection techniques were carried out through thorough reading, recording, and classifying data relevant to the research focus. Data analysis techniques were carried out by identifying, describing, interpreting, and concluding social values ​​based on Zubaedi's theory. The results of the study show that the novel Warung Bujang contains various social values, namely the values ​​of family, loyalty, mutual assistance, cooperation, caring, responsibility, justice, tolerance, and empathy. These values ​​are reflected through the behavior of the characters, conflicts, and social interactions that depict community life realistically. Thus, the novel Warung Bujang functions not only as a work of entertainment literature, but also as a means of learning social values ​​relevant to community life.
Citra Perempuan dalam Antologi Puisi Selendang Pelangi Karya Toeti Heraty Syafira, Dini Naftali; Yusra D, Yusra D; Saputra, Ade Bayu
Salingka Vol 22, No 2 (2025): SALINGKA, Edisi Desember 2025
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v22i2.1148

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi citra perempuan dalam antologi puisi Selendang Pelangi karya Toeti Heraty dengan fokus pada dimensi fisik, psikis, dan sosial menggunakan kerangka feminist literary criticism. Metode kualitatif deskriptif diterapkan dengan teknik reading dan note-taking terhadap 8 puisi terpilih dari 17 puisi dalam antologi. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi teori, data, dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra fisik perempuan direpresentasikan sebagai medan negosiasi identitas melalui metafora naturalistik, pengalaman maternal, dan seksualitas yang menolak objektifikasi male gaze; citra psikis melampaui stereotip emosional dengan menampilkan kesadaran kritis, kemampuan reflektif, dan agensi psikologis dalam menghadapi subordinasi; citra sosial mengungkapkan ketegangan antara ekspektasi patriarki dan resistensi perempuan terhadap double burden serta eksploitasi peran keibuan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kritik sastra feminis Indonesia dengan menerapkan pendekatan intersectional feminism yang mengeksplorasi persilangan gender dengan usia dan status biologis. Penelitian lanjutan disarankan memperluas korpus dengan membandingkan karya sastrawan perempuan Indonesia kontemporer lainnya untuk mengeksplorasi perbedaan generasional dalam representasi perempuan. This study aims to describe the construction of female imagery in Toeti Heraty's poetry anthology Selendang Pelangi, focusing on physical, psychological, and social dimensions using a feminist literary criticism framework. A descriptive qualitative method was applied using reading and note-taking techniques on eight selected poems from the 17 poems in the anthology. The data analysis technique used the Miles and Huberman model with triangulation of theory, data, and methods. The results of the study show that the physical image of women is represented as a field of identity negotiation through naturalistic metaphors, maternal experiences, and sexuality that rejects the objectification of the male gaze; the psychological image transcends emotional stereotypes by displaying critical awareness, reflective abilities, and psychological agency in the face of subordination; while the social image reveals the tension between patriarchal expectations and women's resistance to the double burden and exploitation of the maternal role. This research contributes to the development of Indonesian feminist literary criticism by applying an intersectional feminism approach that explores the intersection of gender with age and biological status. Further research is recommended to expand the corpus by comparing the works of other contemporary Indonesian women writers to explore generational differences in the representation of women
Representasi Emosional dalam Dialog-dialog Film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film Karya Yandy Laurens Berdasarkan Teori Emosi Izard Azzahra Ananda Putri; Yusra D; Ade Bayu Saputra
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 16 No. 1 (2026): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v16i1.3981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis fungsi representasi emosional tokoh dalam dialog film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film karya Yandy Laurens berdasarkan pendekatan emotif dan teori emosi Izard (2013). Secara khusus, penelitian ini tidak hanya memetakan jenis-jenis emosi yang muncul, tetapi juga menjelaskan fungsi representasi emosi tersebut dalam membangun makna dialog, relasi antartokoh, serta penguatan alur naratif film. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kebaruan berupa penerapan teori emosi Izard pada dialog film Indonesia kontemporer yang dianalisis melalui pendekatan emotif berbasis kebahasaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan emotif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa dialog-dialog yang mengandung representasi emosional, dengan sumber data berasal dari dialog dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film karya Yandy Laurens. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode menyimak, mentranskripsi, dan mengklasifikasikan dialog berdasarkan kategori emosi. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data. Analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dialog film tersebut ditemukan sepuluh jenis emosi, yaitu ketertarikan (1 data), kebahagiaan (2 data), keterkejutan (3 data), kesedihan (4 data), kemarahan (8 data), rasa jijik (2 data), penghinaan (2 data), ketakutan (2 data), rasa malu (2 data), dan perasaan bersalah (3 data). Representasi emosional dalam dialog film ini berfungsi tidak hanya sebagai sarana ekspresi perasaan tokoh, tetapi juga sebagai strategi naratif untuk menarik perhatian penonton, membangun empati, memperkuat konflik, serta memperjelas pesan emosional dan tematik cerita.
Analisis Representasi Citra Perempuan dalam Puisi Bertema Perempuan Karya Penyair Indonesia Citra Sulistia Utami; Yusra D; Ade Bayu Saputra
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 16 No. 1 (2026): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v16i1.3982

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk representasi citra perempuan dalam puisi bertema perempuan karya penyair Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya penggunaan puisi sebagai medium ekspresi identitas perempuan, khususnya dalam mengangkat isu sosial, budaya, dan gender, serta pentingnya memahami bagaimana citra perempuan dipertahankan di tengah perubahan sosial dan perkembangan era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teori feminisme sastra Simone de Beauvoir, yang meliputi tiga aspek: fisik, psikologis, dan sosial. Data diperoleh melalui teknik baca, simak, rekam, dan catat terhadap bait puisi dalam karya-karya penyair Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan metode padan ekstralingual dan dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan menurut Miles & Huberman.
EKSISTENSI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PEREMPUAN YANG MENANGIS KEPADA BULAN HITAM KARYA DIAN PURNOMO Annisa; Yundi Fitrah; Ade Bayu Saputra
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2063

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis eksistensi tokoh utama dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo melalui perspektif feminisme eksistensialis. Kajian ini berfokus pada bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami tokoh utama serta strategi perlawanan yang dilakukan untuk menegaskan eksistensinya sebagai subjek. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir dan teori ketidakadilan gender Mansour Fakih. Data berupa kutipan naratif dan dialog dalam novel yang mengandung representasi marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan, serta tindakan resistensi tokoh. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan pembacaan kritis, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakadilan gender dengan dominasi kekerasan, serta bentuk perlawanan yang mencakup penolakan budaya patriarki, pengembangan intelektual, sikap pantang menyerah, keberanian, dan kemandirian melalui kerja. Temuan ini menegaskan bahwa tokoh Magi Diela tidak hanya direpresentasikan sebagai korban budaya patriarki, tetapi sebagai agen yang secara aktif membangun eksistensi diri melalui kesadaran, tindakan, dan pilihan hidup yang otonom. Penelitian ini berkontribusi dalam penguatan kajian sastra feminis eksistensialis serta memperluas pemahaman mengenai representasi perjuangan perempuan dalam konteks budaya patriarki.
MAKNA SIMBOLIK TRADISI LISAN DALAM ADAT ISTIADAT PERKAWINAN MASYARAKAT MELAYU Agustina, Amelia; Akhyaruddin, Akhyaruddin; Saputra, Ade Bayu; Purba, Andiopenta
INDONESIA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 7 Number 1 February 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/indonesia.v0i0.82610

Abstract

customs in Tanjung Jabung Timur Regency, Indonesia. This study used a qualitative method with a literature review. The main source of data is the book Adat Istiadat Perkawinan dan Hukum Adat Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Marriage Customs and Local Customary Law in Tanjung Jabung Timur Regency) by Effendi (2018), which contains documentation of traditional marriage Seloko. Data analysis was conducted using Roland Barthes' semiotic theory through the stages of signifier, signified, denotative meaning, and connotative meaning. The validity of the data was strengthened through source and technique triangulation by confirming with local customary institutions. The results of the study show that seloko in the traditional marriage procession contains various symbolic meanings related to responsibility, family honor, deliberation, ethics in household management, wisdom, solidarity, and respect for parents. Each stage of the tradition, from merisik to hari labuh, contains seloko that reinforces cultural messages and strengthens the identity of the Malay community. This study confirms that seloko is not merely an oral tradition but also a representation of local wisdom that is still relevant to the community’s social life.