Claim Missing Document
Check
Articles

ARSITEKTUR BANGUNAN GEREJA SUMBER KASIH DI KELURAHAN KANDAI, KECAMATAN KENDARI, KOTA KENDARI ishak kadir; La Ode Muhammad Ilham; salniwati salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 4 No 2: December 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v4i2.1086

Abstract

This study describes the architecture of the Sumber Kasih Church building in Kendari District, Kendari City. The purpose of this study is about the characteristics of the Sumber Kasih Church building, influencing factors in church architecture, and church architectural style. This study uses a study of architectural concepts and tropical architecture. This research is a descriptive qualitative type with inductive reasoning using architectural, stylistic, and morphological analysis as supporting analyzes in this research. Based on this research, it can be concluded that the Sumber Kasih Church building has uniform and simple characteristics. The characteristics of this building can be found on the church roof which is in the shape of a saddle, the shape of the gable roof is made with a slope of 40º to function as to drain the falling rainwater. The gable shape of this church is also often found in the houses of local people. Based on the factors that influence the architectural form, the Sumber Kasih Church building is influenced by two factors, namely cultural factors and climatic factors. Based on its architectural form, Sumber Kasih Church is influenced by tropical architectural styles and traditional architecture of the local culture.
PENGARUH ARSITEKTUR KOLONIAL PADA RUMAH ADAT KAMALI BAADIA, KELURAHAN BAADIA, KECAMATAN MURHUM KOTA BAUBAU siswardin siswardin; ishak kadir; salniwati salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 4 No 2: December 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v4i2.1088

Abstract

The Kamali Baadia traditional house as the last palace of the Buton Sultanate, combines the traditional architectural concepts of Buton and Colonial architects, for this purpose the research aims to find out the architectural form, explain the colonial architectural forms that affect the architectural characteristics of the Kamali Baadia traditional house and to determine the significance of the influence of Colonial architecture on the architectural form of the Kamali Baadia traditional house. This type of research is qualitative, primary and secondary data sources, literature studies, observations, interviews and documentation using morphological analysis, technology, style and significance analysis of component changes. The architectural form of the Kamali Baadia traditional house is a stilt house with an L-shaped floor plan arranged two floors facing North. The Kamali Baadia traditional house is divided into three components, namely legs, body and roof. The influence of Dutch colonial architecture on the Kamali Baadia traditional house is the Indische Empire Style architectural style with a floor plan on the first floor, a shield roof, a two-leaf door inside motif and a two-leaf window as well as an internal motif. Significant analysis of the sign by the influence of Dutch colonial architecture Indische Empire Style architecture has not been significant.
IDENTIFIKASI TINGGALAN ARKEOLOGI PADA SITUS BENTENG WA SIDAKARI DI DESA KASAKA KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA Rida Rida; Syahrun Syahrun; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 5 No 1: June 2021
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v5i1.1159

Abstract

Benteng Wa Sidakari merupakan peninggalan warisan leluhur yang menjadi saksi sejarah dan cerminan kehidupan masa lampau Karena memiliki riwayat yang bersejarah dalam melawan serangan pasukan Tobelo. Penelitian ini bertujuan (1) menjelskan mengetahui dan mendeskripsikan benteng Wa Sidakari Benteng Wa Sidakari (2) mengetahui dan mendeskripsikan benteng Wa sidakari berdasarkan tinggalannya. Penelitian ini menggunakan konsep Arkeologi Keruangan dan menggunakan metode penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa, observasi lapangan, serta tahap pengolahan data analisis kontekstual dalam menjawab permasalah penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa tinggalan arkeologi yang terdapat pada situs Benteng yaitu Benteng Wa Sidakari mempunyai 9 bastion,lubang pengintaian dan 2 makam. Sedangkan untuk fungsi Benteng Wa Sidakari yakni Sebagai tempat pemukiman, dan sebagai tempat pertahanan dan keamanan.
AKULTURASI RAGAM HIAS PADA MAKAM LA ODE-ODE DAN RAJA JIN DI DALAM BENTENG LIPU KECAMATAN KULISUSU KABUPATEN BUTON UTARA Rosniati Rosniati; Abdul Alim; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 5 No 1: June 2021
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v5i1.1160

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang akulturasi ragam hias pada makam La Ode-Ode dan raja Jin di dalam Benteng Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk Menjelaskan bentuk arsitektur dan makna makam La Ode-Ode dan raja Jin, serta Menjelaskan bentuk akulturasi budaya pada makam La Ode-Ode dan raja Jin. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis yang terdiri dari beberapa tahap yaitu studi pustaka berupa buku-buku, jurnal, skripsi, artikel dan ditambah dengan data observasi atau survey lapangan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bentuk arsitektur makam La Ode-Ode dan raja Jin berbentuk persegi panjang dengan bentuk makam raja Jin berbentuk punden berundak serta memiliki bentuk geometris tumpal. Bentuk tumpal memiliki makna kehidupan dan makna punden berundak sebagai tempat pemujaan. Bentuk akulturasi budaya makam terlihat pada motif dan undukan makam.
TEMBIKAR PADA GUA TENGKORAK 1 DESA WAWONTOAHO KECAMATAN WIWIRANO KABUPATEN KONAWE UTARA (Kajian Ragam Hias) Saputri Handayani; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 5 No 2: December 2021
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v5i2.1430

Abstract

Di Sulawesi Tenggara banyak tersebar Gua – Gua Prasejarah dengan temuan didalamnya sangat beragam. Salah satu gua tersebut adalah Gua Tengkorak yang terdapat di Wilayah administrasi Desa Wawontoaho Kecamatan Wiwirano Kabupaten Konawe Utara. Di gua tersebut menyimpan banyak tinggalan terutama tembikar. Melihat ragam hias tembikar yang beragam menarik untuk dilakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan teknik ragam hias tembikar Gua Tengkorak 1. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan penalaran induktif. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi, data tertulis dan dokumentasi. Ada dua analisis data yang digunakan yaitu (1) Analisis Stilistik dan, (2) Analisis Teknologi. Hasil dari penelitian ini menjelaskan tentang teknik pembuatan ragam hias serta bentuk ragam hias yang dihasilkan pada tembikar di gua tengkorak 1. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 62. Berdasarkan analisis ragam hias terdapat 6 ragam hias yaitu, garis, bulatan, segitiga, segiempat, titik dan belah ketupat. Sedangkan penerapan teknik ragam hias terdapat 5 teknik yaitu, teknik gores, teknik tempel, teknik tusuk, teknik tekan dan teknik cungkil.
IDENTIFIKASI TINGGALAN ARKEOLOGI PADA GUA KUYA DI DESA PONDOA KECAMATAN WIWIRANO KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Wa Ode Ato; abdul alim; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 6 No 1: June 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i1.1683

Abstract

Situs Gua Kuya merupakan situs prasejarah yang memiliki berbagai tinggalan–tinggalan arkeologis mengenai manusia purba pada masa itu. Berdasarkan rumusan masalah dari penelitian ini adalah: (1) Apa saja tinggalan arkeologis yang terdapat di Gua Kuya di Desa Pondoa, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara.(2) Bagaimana Fungsi Gua Kuya berdasarkan tinggalan arkeologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinggalan dan melihat fungsi gua berdasarkan tinggalan yang berada pada Situs Gua Kuya. Penelitian ini menggunakan teori sejarah budaya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan penalaran induktif. Pengumpulan data penelitian menggunakan studi pustaka, observasi atau survei lapangan, dokumentasi dan wawancara. Analisis data diterapkan dengan metode sejarah budaya kemudian dilanjutkan analisis kontekstual. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Gua Kuya memiliki 6 buah fragmen tembikar dengan beberapa motif, serta ditemukan 3 buah keramik proselen, dengan motif geometris dan 2 buah motif polos, keramik stoneware berjumlah 8, dan ditemukan juga fragmen tulang yang terdiri dari 1 jenis tulang rahang, framen tengkorak 12, 22 tulang paha, 3 tulang kaki, 20 jenis gigi geraham, 8 jenis gigi taring, 1 jenis gigi seri, ditemukan pula 2 manikmanik yaitu gelang dan manik-manik kalung, serta 2 jenis fragmen molusca atau kulit kerang. Sedangkan untuk fungsi Situs Gua Kuya berdasarkan tinggalan-tinggalannya adalah Situs Gua Kuya pernah menjadi gua hunian dan beralih fungsi menjadi gua penguburan
TINGGALAN ARKEOLOGIS BENTENG LIWU WAWONO DI KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA Watlada Rauf; Aslim Aslim; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 6 No 1: June 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i1.1687

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) Menjelaskan Latarbelakangi Sejarah situs benteng Liwu Wawono di Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah. (2)Menjelaskan apa saja tinggalan Arkeologi di situs benteng Liwu Wawono (3) Menjelaskan FungsiBenteng Liwu Wawono Sebagai Pertahanan dan pemukimanKesultanan Buton di Mawasangka.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Latar belakangipembangunan Benteng Liwu Wawono yaitu sebagai strategi pertahanan dan keamanan guna melindungi masyarakat dari gangguan serangan yang akan datang (musuh) yang bermukim di Benteng Liwu Wawono. (2) Tinggalan arekeologis yang ada di Benteng Liwu Wawono terdiri atas Makam Kuno, dan Baruga, liang kuno serta temuan-temuan lepas berupa pecahan kramik, moluska dan pecahan gerabah. (3) Fungsi Benteng Liwu Wawono adalah sebagai tempat pertahanan pada Kesultanan Buton di bagianBarat Benteng Keraton Buton guna melindungi dari gangguan serangan musuh yang akan datang. selanjutnya Benteng ini sekarang dijadikan sebagai tempat pemukiman dan perkebunan masyarakat setempat.
STRATEGI PERTAHANAN JEPANG BERDASARKAN TINGGALAN ARKEOLOGI DI KECAMATAN POLEANG SELATAN KABUPATEN BOMBANA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Naswir Naswir; Aswati Aswati; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 6 No 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1910

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa fungsi setiap tinggalan Jepang dan bagaimana strategi pertahanan Jepang berdasarkan tinggalan arkeologi di Kecamatan Poleang Selatan Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan teori Arkeologi, medan pertempuran dan teori Arkeologi Ruang. Metode penelitian berupa kuantitatif sebagai teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Metode kualitatif metode yang dilakuakan dilapangan yaitu survei permukaan, perekaman data setiap tinggalan dan wawancara. Pengolahan dan Analisis data menggunakan analisis data sejarah, analisis morfologi dan analisis kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggalan arkeologi yang ditemukan di Kecamatan Poleang Selatan berjumlah 42 tinggalan yaitu Wales berumlah 1, Revetment berjumlah 38, Bunker berjumlah 1, dan terowongan buatan Jepang berjumlah 2. Pembangunan setiap tinggalan arkeologis Jepang tersebut menunjukan strategi Jepang dalam menghadapi dan menghalau serangan sekutu. Strategi yang di gunakan Jepang yaitu memabanguna dan menempatkan sarana militer Jepang di area penting dan strategis yaitu area bendara, jety (dermaga) dan jalan utama.
IDENTIFIKASI KOMPLEKS MAKAM KUNO PONGGAWA MOITA DI DESA BAROWILA KECAMATAN TONGAUNA UTARA KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA Susi Susanti; Abdul Alim; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 6 No 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1912

Abstract

Penelitian ini mengkaji variasi bentuk dan unsur budaya yang mempengaruhi Kompleks makam kuno ponggawa moita di Desa Barowila, Kecamatan Tongauna Utara, Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana bentuk-bentuk makam kuno pada kompleks makam ponggawa moita dan unsur budaya apa yang mempengaruhi bentuk kompleks makam kuno kuno ponggawa moita di desa barowila, kecamatan tongauna utara, kabupaten konawe. Tujuan Penelitian ini untuk mengkaji bentuk makam, dan unsur budaya yang mempengaruhi makam tua di Desa Barowila, Kecamatan Tongauna Utara, Kabupaten Konawe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Tahap pengumpulan data dengan cara Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Studi Pustaka. Dalam analisis data penelitian ini menggunakan analisis morfologi (bentuk) dan analisis teknologi (pembuatan dan bahan baku). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 7 makam. Dari 7 makam pada kompleks makam ponggawa moita ini memiliki 3 jenis tipe makam yaitu (pertama) Tipe A1 makam dengan jirat dan nisan tanpa gundukan dengan jumlah makam sebanyak 4 makam. (Kedua) Tipe A2 dengan gundukan tanpa jirat dan nisan dengan jumlah 2 makam. (ketiga) Tipe A3 dengan gundukan dan nisan tanpa jirat dengan jumlah makam sebanyak 1 makam. Unsur budaya pada kompleks makam Ponggawa Moita adalah unsur budaya megalitik. Hal ini dibuktikan pada jirat makam yang terbuat dari sususan batu alam dan adanya ziarah kubur masyarakat, yang dipengaruhi oleh unsur budaya pra-Islam masuk di Kabupaten Konawe. Dari hasil penelitian ini dapat di jelaskan bahwa terdapat nilai kultural, historis dan arkeologis yang tinggi pada kompleks makam Ponggawa Moita
ANALISIS BENTUK KERUSAKAN DAN UPAYA PENANGANANNYA BENTENG BONE-BONE DI DESA BONE KECAMATAN BATUKARA Burhan Alwi; Salniwati Salniwati; Akhmad Marhadi
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 7 No 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2175

Abstract

This study aims to identify the forms of damage and efforts to address the damage found at the Bone-Bone Fort, located in the Batukara District of Muna Regency. This research is a qualitative descriptive study supported by inductive reasoning. The data analysis used to address the formulation of problems in this research includes damage analysis and conservation analysis. In addition to data analysis, conceptual frameworks were also utilized to address the problem formulation, including the concepts of damage, weathering, vandalism, and conservation. Based on the research findings, the forms of damage identified at the Bone-Bone Fort consist of four types: (1) mechanical damage, characterized by the collapse of sections of the fort’s walls; (2) physical weathering, evidenced by cavities and holes in the stone material layers; (3) biological weathering, caused by tree root growth damaging the fort's walls; and (4) vandalism, including the theft of tombstones and damage to grave terraces. The efforts to address the damage to the fort include cleaning, restoration or repair, installation of perimeter fencing, environmental arrangement, and the establishment and reinforcement of legal protection.
Co-Authors Abdul Alim Abdul alim Abdul Rahman Afingki, Afingki Akhmad Marhadi Alias Alias Anisa Anisa Arie Tourisno Hadi Arie Toursino Hadi Arif Wicaksono Aslim Aslim Aswati Aswati Bainuddin Bainuddin Bilal Akbar Muhammad Arsad Burhan Alwi Burhan, Faika Cisilia Saragi Dewi Puspita Ningsih Dian Ardianti Faika Burhan fera margawati Hayati, Sitti Nur Hekta Plantikano Hekta Plantikano Hendra Saputra I Gusti Made Swastya Dharma Pradnyan Ishak Kadir Jaimun, Jaimun Kadek Arni Suwedawati, Gusti Ayu Kafidah Kafidah, Kafidah Komang Wahyu Rustiani Komang Wahyu Rustiani La Ode Aspin La Ode Dirman La Ode Muhammad Ilham La Ode Syukur Laode Alimin Lestari, Dian Trianita M. Hafiz Sukri Marhini, La Ode Martina, Feny Mei Hardina Muh Alkautsar Muh. Syawal Zul Saputra Muhammad Sabri Mukminah Naswir Naswir Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati, Nurtikawati Nurul Hikmah Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma Putri S Rahmayani Rahmat Sewa Suraya Rahmat Sewa Suraya Rida Rida Rihu, Agus Rika Afriana S Riski Hamriani Rosniati Rosniati Rosnon, Mohd Roslan Rustiani, Komang Wahyu Safitri, Elsa Mayora Said, Taufiq sandy suseno Saputra, Muh Syawal Zul Saputri Handayani Saputri, Shinta Arjunita Sarsina Meyni Usman Sarsina Meyni Usman siswardin siswardin Sitti Hermina Sofia Sofia, Sofia Suryadmaja, Galih Suseno, Sandy Susi Susanti Syafryadin, Syafryadin Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun, Syahrun Syahrun Syahrun, Syahrun Thevistha, Visthalya WA KUASA Wa Ode Ato Wa Ode Heli Watlada Rauf Yusma Yusma Yusma Yusma