Claim Missing Document
Check
Articles

TRADISI MALLORO KAPPALA PADA SUKU BUGIS DI KECAMATAN POLEANG TENGGARA KABUPATEN BOMBANA Muh Alkautsar; Wa Kuasa Baka; Salniwati Salniwati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 2 No 2 (2019): Volume 2 Nomor 2, Juli-Desember 2019
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v2i2.738

Abstract

Tradisi malloro kappala merupakan tradisi lisan menghubungkan generasi masa lalu, sekarang dan masa depan. Sebagai gambaran keunikan dari ritual menurunkan kapal adalah prosesi ritual yang dijalani pada saat sebelum kapal diturunkan. Dalam kelengkapan ritual terdapat simbol-simbol yang sarat akan makna namun jarang diketahui oleh generasi muda sehingga sangat penting untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi ritual yang mengiringi malloro kappala (menurunkan kapal), serta untuk menjelaskan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi malloro kappala (menurunkan kapal) pada Suku Bugis di Kecamatan Poleang Tenggara Kabupaten Bombana. Penentuan informan yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Metode penelitian secara deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, pengamatan dan dokumentasi berupa audio visual dan foto. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif model interaktif yaitu terdiri dari tiga hal utama yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi menurunkan kapal yang dikenal dengan istilah tradisi malloro kappala, ini masih menjadi tradisi dan budaya yang melekat pada masyarakat Bugis. Prosesi ritual malloro kappala pada suku Bugis dibagi dalam tiga tahapan yaitu, ritual mappocci, malloro kappala atau menurunkan kapal, dan ritual massalama. Keseluruhan ritual tersebut terdapat pesan utama yang disampaikan yaitu pengharapan akan keselamatan dan kemudahan rezeki. Pengharapan akan keselamatan dimaksudkan untuk keselamatan para awak kapal, keluarga yang ditinggalkan, maupun keselamatan kapal itu sendiri.
RITUAL MOWUWUSOI PADA ETNIS MORONENE DI DESA HUKAEA LAEA KECAMATAN LANTARI JAYA KABUPATEN BOMBANA Rika Afriana S; La Ode Syukur; Salniwati Salniwati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 2 No 2 (2019): Volume 2 Nomor 2, Juli-Desember 2019
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v2i2.740

Abstract

Ritual mowuwusoi merupakan ungkapan kegembiraan dan rasa syukur akan keberhasilan panen musim tanam pada tahun tersebut yang dilakukan secara rutin setiap tahunnya. Hal tersebut diilustrasikan dalam sebuah tarian molulo atau molicu. Di daerah Bombana khususnya desa Hukaea Laea mereka masih meyakini, mempercayai dan menjalani tradisi mowuwusoi tersebut. Ritual mowuwusoi sebagai persembahan sujud syukur atas limpahan alam yang diberikan oleh yang kuasa kepada manusia. Namun generasi muda kurang memahami fungsinya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan ritual mowuwusoi dan dapat mendeskripsikan fungsi yang terkandung dalam pelaksanaan ritual mowuwusoi pada etnis Moronene yang ada di desa Hukaea Laea. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penentuan informan menggunakan purposive sampling. Informannya terdiri dari ketua adat, tompuro’o, dan dua tokoh masyarakat yang berada di desa Hukaea Laea. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan atau observasi, wawancara atau interview, dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi atau kesimpulan data. Hasil penelitian ini meliputi proses ritual mowuwusoi, fungsi yang terkandung dalam ritual mowuwusoi. Adapun proses pelaksanaan ritual mowuwusoi terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Tahap persiapannya adalah mengadakan rapat di rumah ketua adat, yang diikuti oleh tompuro’o, tokoh-tokoh masyarakat dan masyarakat setempat yang ada di desa Hukaea Laea, untuk memusyawarahkan proses pelaksanaan ritual mowuwusoi itu seperti apa, menyiapkan alat-alat yang digunakan dalam proses pelaksaan ritual mowuwusoi seperti, kampiri, pae, alu, lesung, nyiru dan gong. Adapun proses pelaksanaan ritual mowuwusoi yaitu (1) meala pae hai kampiri (mengambil padi di lumbung); (2) mengkoko pinuai (membagi gabah menjadi ikatan kecil); (3) medodo (menumbuk padi); (4) mengayak (menapis); (5) melonda (memukul lesung dengan irama); (6) molulo (ungkapan syukur bagi masyarakat Hukaea Laea); (7) Me’a’e (ketua adat akan menyuapi para tamu). Tahap akhir dalam pelaksanaan ritual mowuwusoi adalah mototamai atau penyucian diri. Ritual mowuwusoi mengandung fungsi sosial, fungsi hiburan, fungsi religi dan fungsi ekologi.
INTERAKSI SIMBOLIK BAHASA DAERAH BALI DI TENGAH MULTIKULTURALISME: PERSPEKTIF HABITUS PIERRE BOURDIEU Komang Wahyu Rustiani; I Gusti Made Swastya Dharma Pradnyan; Nurtikawati Nurtikawati; Salniwati Salniwati; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 2 No 2 (2019): Volume 2 Nomor 2, Juli-Desember 2019
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v2i2.756

Abstract

Bahasa merupakan media yang mendasar untuk melakukan pola pewarisan kebudayaan dari generasi ke generasi. Masyarakat Suku Bali di Kota Kendari memiliki beragam kebudayaan untuk diwariskan sehingga diharapkan mampu memahami Bahasa Daerah Bali di tengah multikulturalisme agar budaya yang diwariskan tidak mengalami salah penafsiran. Untuk mengkaji hal tersebut perlu diterapkan teori Habitus Pierre Bourdieu dalam menganalisis hasil observasi dan wawancara dari informan sehingga dapat diketahui faktor penghambat dalam penggunaan bahasa Daerah Bali di Kota Kendari. Minimnya penggunaan Bahasa Daerah Bali di Kota Kendari dipengaruhi oleh kebiasaan atau habit, minimnya pemanfaatan modal serta ranah yang mempengaruhi pelestarian Bahasa Daerah Bali. Praktik yang dilakukan oleh masyarakat Suku Bali di Kota Kendari dipengaruhi oleh rasa toleransi, pemersatuan Bangsa sehingga dalam berkomunikasi selalu menggunakan Bahasa Indonesia, terhimpit oleh masyarakat yang multikultural, dan kurangnya pendidikan Bahasa Daerah Bali di kalangan anak-anak hingga remaja. Hal tersebut dapat diatasi dengan melaksanakan pembelajaran Bahasa, Sastra dan Aksara kepada generasi muda sejak usia dini melalui pasraman yang dilaksanakan di wilayah Sulawesi Tenggara khususnya Kota Kendari
TRADISI LOLA’A PADA MASYARAKAT DESA LANGGE KECAMATAN KALEDUPA SELATAN KABUPATEN WAKATOBI Syahrun Syahrun; Fera Margawati; Salniwati Salniwati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1349

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Langge Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi dengan tujuan untuk mengetahui Bagaimana latar belakang munculnya tradisi lola’a dan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi lola’a pada Suku Buton di Desa Langge kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan (observasi), wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive sampling, forman terdiri dari tokoh adat, imam, tokoh masyarakat, dan informan yang lain yang mengetahui tradisi tersebut. Teknik analisis data penelitian ini terdiri dari empat tahap pengumpulan, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang tradisi lola’a adalah upaya doa untuk menghilangkan penyakit yang ada di kampung dan dilakukan di laut. Munculnya tradisi lola’a memiliki beberapa tahap yaitu tahap persiapan didahului dengan cara menghimbau masyarakat yang lain bahwa akan dilakukan tradisi lola’a karena sudah pergantian musim atau kampung sedang dilanda penyakit musiman, b) Tahap awal yaitu Awal pelaksanaan ritual lola’a adalah mengumpulkan atau mempersiapkan bahan untuk upacara, dan c) Tahap pelaksanaan yaitu melepaskan miniatur perahu yang dilakukan oleh juru kunci tradisi lola’a. 3) Makna yang terkandung dalam tradisi lola’a di Desa Langge Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi meliputi: a) Religi yaitu sebelum perahu dilepaskan diadakan pembacaan doa tolak bala yang dimaksudkan agar semua penyakit musiman ikut bersama miniatur perahu yang telah dilepaskan untuk dibawah serta lautan, b) Sosial yaitu dimana masyarakat sama-sama terlibat dari berbagai aspek pelaksanaan, dari pergi mencari kayu untuk pembuatan perahu, perbaikan perahu, penghiasan perahu, sampai pelepasan miniatur perahu, dan c) Budaya yaitu upacara adat yang tetap dilestarikan sampai sekarang.
Formula Tari Modinggu pada Masyarakat Tolaki Di Desa Benua Utama Kecamatan Benua Kabupaten Konawe Selatan Dian Ardianti; Abdul Alim; Salniwati Salniwati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 5 No 1 (2022): Volume 5 Nomor 1, Januari-Juni 2022
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v5i1.1662

Abstract

The purpose of this study was to determine and explain the Modinggu dance formula in Benua Utama Village, Benua District, South Konawe District and to know and explain the pattern of inheritance of Modinggu dance for Tolaki people in Benua Utama Village, Benua District, South Konawe District. Methodologically, this study uses a qualitative descriptive approach where information data is collected through observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that: Modinggu dance formula in Benua Utama Village, Benua Subdistrict, Konawe Selatan District is played: as a means of entertainment, as a means of traditional ceremonies, and as a means of performance. Nevertheless some of the dance formulas of the week to the Tolaki tribal community will certainly provide a container for the performance of the Modinggu dance after the rice harvest party to the Tolaki tribal community, as has become the custom of the community. The pattern of inheritance of Modinggu dance for Tolaki people in Benua Utama Village, Benua District, South Konawe Regency covers, family environment, education, and community. Nevertheless the Modinggu dance formula is inherently inherited by the Tolaki tribe community both family, education and community environment in order to preserve the traditional Tolaki dance for the younger generation.
Bentuk Makna dan Fungsi Falia bagi Ibu Hamil di Desa Loghia Kabupaten Muna Salniwati Salniwati; Bilal Akbar Muhammad Arsad; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 5 No 2 (2022): Volume 5 Nomor 2, Desember 2022
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v5i2.1918

Abstract

The phenomenon of the study of falia is important to investigate because it contains several values of local wisdom in a society, therefore the purpose of this research is to identify the form of falia for pregnant women and to describe the meaning and function of falia for pregnant women in Loghyia Village, Muna Regency. The method used is qualitative research method. The informants in the research consist of traditional leaders, community leaders, and traditional birth attendants (bhisa). The results of this research indicate that the oral tradition of falia for pregnant women is still maintained. The form of falia for pregnant women includes falia in the form of words or speech and falia in the form of actions. The meaning of falia for pregnant women is love, cultural and traditional social values, discipline, and health meanings. Meanwhile, the main function of falia is education, order, and behavior control
SOSIALISASI NILAI PENTING TINGGALAN ARKEOLOGIS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER GENERASI MILENIAL Salniwati, Salniwati; Rustiani, Komang Wahyu; Nurtikawati, Nurtikawati; Suseno, Sandy; Saputri, Shinta Arjunita; Hayati, Sitti Nur; Afingki, Afingki; Saputra, Muh Syawal Zul; Kafidah, Kafidah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 5 (2023): Volume 4 Nomor 5 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i5.22167

Abstract

Sosialisasi Nilai-Nilai Penting Tinggalan Arkeologis di Kabupaten Muna berupa Gambar Cadas pada Siswa-Siswi Yayasan MI Al Asif Tampo ditujukan untuk pembantukan karakter generasi muda dalam menjawab tantangan global dan masa depan Bangsa Indonesia. Dengan kemajuan era digital yang permisif, maka menjadi tantangan tersendiri bagi internalisasi serta aktualisasi nilai- nilai luhur warisan budaya kepada generasi milenial. Untuk itu, dilakukan sosialisasi nilai-nilai penting tinggalan Arkeologis ini. Metode kegiatan ini meliputi observasi, pemutaran video tentang Gambar Cadas, tutorial, pemberian questionnaire, diskusi dan wawancara. Adapun target keberlanjutan kegiatan Sosialisasi Nilai-Nilai Penting Tinggalan Arkeologi pada siswa-siswi Yayasan MI Al Asif Tampo adalah internalisasi dan implementasi nilai-nilai warisan budaya tersebut pada pembentukan karakter peserta kegiatan, baik dalam lingkup keluarga, sekolah, masyarakat serta bangsa dan negara. Hal penting lain dari target keberlanjutan kegiatan sosialisasi ini adalah tumbuh kembangnya pada diri peserta kegiatan berupa jiwa patriotik dan nasionalis, memiliki bekal ilmu pengetahuan, dan berjuang untuk kemajuan Bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Hal ini direaliasikan dengan kesediaan semua peserta yang telah mengikuti kegiatan untuk bersama melestarikan warisan budaya materi (Tangible Cultural Heritage).
BENTUK DAN RAGAM HIAS PADA NISAN MAKAM-MAKAM DI SITUS BENTENG LIPU KABUPATEN BUTON UTARA Hekta Plantikano; Syahrun Syahrun; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 3 No 2: SANGIA, JURNAL PENELITIAN ARKEOLOGI, VOLUME.3, NUMBER.2, 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v3i2.730

Abstract

The problem in this study is how the shape and decoration of gravestones with the aim to know and explain the shape of gravestones, as well as describing the various kinds of ornamentation that exist on the graves on the Benteng Lipu Site. The research method used is descriptive analytical which consists of several stages, namely the study of literature in the form of books, journals, theses, theses, articles and supplemented with observational data, interviews and documentation. The results showed the form of headstone consists of several types / shapes. The gravestone forms found at the Lipu Benteng Site were rectangular shapes, hexagon shapes, pyramid shapes, round shapes, flat shapes and irregular shapes. Aside from the gravestone forms, there were also decorative art identified in the grave graves at the Lipu Benteng Site, namely, geometric types and fauna types. Geometric type resembles were carving of a tumpal shape, the shape of horizontal lines medallion shape of an irregular circle, the shape of the mosque dome and the shape of the crown upside down. This type of fauna has a shape like sea shells.
GAMBAR CADAS SITUS KOMPLEKS CERUK WABURI, BUTON SELATAN Sarsina Meyni Usman; syahrun Syahrun; salniwati salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 4 No 1: Sangia, Journal Of Archaeology Research, Volume 4, Number 1, Juni 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v4i1.933

Abstract

ABSTRACT The Waburi niche complex site is the first prehistoric site found in South Buton District which has archaeological remains in the form of rock art in four niches surveyed on Konawe Beach. This study discusses variations in the form and technique of rock drawing at the Waburi niche complex site. The research method used is a picture description and rock shooting which will be processed using D'Stretch software for sharpening colors and shapes. In addition, the classification of forms is based on their attributes and analysis uses morphological and technological analysis to determine the diversity of image shapes and drawing techniques at the Waburi niche complex site. It is known that rock art at the Waburi Ceruk Complex Site have 87 rock images with pictographic motifs namely boat and hand drawings, ideographic motifs that are diverse geometric drawings and psychographic motifs which are abstract drawings. While the drawing technique uses pictograph techniques. Keywords: Rock Art ; Image Variation; Niche
KOMPLEKS MAKAM TUA KAMPUNG LAMA TAMOSI DESA LOKA KECAMATAN TIRAWUTA KABUPATEN KOLAKA TIMUR Yusma Yusma; abdul alim; salniwati salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 4 No 1: Sangia, Journal Of Archaeology Research, Volume 4, Number 1, Juni 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v4i1.936

Abstract

This research user descriptive qualitative research. The data collection stage was through literature study and field observations. Analysis of research data using morphological analysis, contextual analysis. Based on research results, the Old Tamosi Old Village Complex Dining Site had a rectangular shape consisting of jirat and headstone. The grave is made of river stone that is not patterned or decorated. The Old Tomb Site of Old Tamosi Village had 16 tombs consisting of 15 Islamic tombs and 1 megalithic tomb, 2 tombs have a tomb and headstone and 14 tombs have a tomb without a tombstone. Some tombs are influenced by Islamic and Pre-Islamic elements, visible megalithic elements and megaitic Islamic elements marked by tombs that have a northwest-facing tomb. Tombstones and jirat which are above jirat not added ornaments. From the forms of the tomb can be described Simbune village community already has the characteristics of Islamic and megalithic culture. Keywords: Old tomb, Tamosi, shape, cultural elements.
Co-Authors Abdul alim Abdul Alim Abdul Rahman Afingki, Afingki Akhmad Marhadi Alias Alias Anisa Anisa Arie Tourisno Hadi Arie Toursino Hadi Arif Wicaksono Aslim Aslim Aswati Aswati Bainuddin Bainuddin Bilal Akbar Muhammad Arsad Burhan Alwi Burhan, Faika Cisilia Saragi Dewi Puspita Ningsih Dian Ardianti Faika Burhan fera margawati Hayati, Sitti Nur Hekta Plantikano Hekta Plantikano Hendra Saputra I Gusti Made Swastya Dharma Pradnyan Ishak Kadir Jaimun, Jaimun Kadek Arni Suwedawati, Gusti Ayu Kafidah Kafidah, Kafidah Komang Wahyu Rustiani Komang Wahyu Rustiani La Ode Aspin La Ode Dirman La Ode Muhammad Ilham La Ode Syukur Laode Alimin Lestari, Dian Trianita M. Hafiz Sukri Marhini, La Ode Martina, Feny Mei Hardina Muh Alkautsar Muh. Syawal Zul Saputra Muhammad Sabri Mukminah Naswir Naswir Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati, Nurtikawati Nurul Hikmah Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma Putri S Rahmayani Rahmat Sewa Suraya Rahmat Sewa Suraya Rida Rida Rihu, Agus Rika Afriana S Riski Hamriani Rosniati Rosniati Rosnon, Mohd Roslan Rustiani, Komang Wahyu Safitri, Elsa Mayora Said, Taufiq sandy suseno Saputra, Muh Syawal Zul Saputri Handayani Saputri, Shinta Arjunita Sarsina Meyni Usman Sarsina Meyni Usman siswardin siswardin Sitti Hermina Sofia Sofia, Sofia Suryadmaja, Galih Suseno, Sandy Susi Susanti Syafryadin, Syafryadin Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun Syahrun, Syahrun Syahrun Syahrun, Syahrun Thevistha, Visthalya WA KUASA Wa Ode Ato Wa Ode Heli Watlada Rauf Yusma Yusma Yusma Yusma