Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Dampak Implementasi Learning Management System (LMS) terhadap Self-Regulated Learning Mahasiswa: Penelitian Everhard Markiano Solissa; Rosidin; Imam Tazali; Markus Asta Patma Nugraha; Siti Marliah; Diki Masria
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6311

Abstract

Perkembangan teknologi informasi telah mendorong transformasi sistem pembelajaran di pendidikan tinggi melalui implementasi Learning Management System (LMS). LMS tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana yang dapat mendukung pengembangan self-regulated learning mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi LMS terhadap self-regulated learning mahasiswa melalui metode studi literatur. Penelitian dilakukan dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah yang relevan dari jurnal nasional dan internasional yang terindeks dan membahas hubungan antara penggunaan LMS dan kemampuan regulasi diri mahasiswa dalam konteks pendidikan tinggi. Tahapan penelitian meliputi identifikasi topik, penelusuran literatur, seleksi artikel berdasarkan relevansi, analisis isi, sintesis temuan, serta penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi LMS memberikan dampak positif terhadap peningkatan self-regulated learning mahasiswa, terutama dalam aspek pengelolaan waktu belajar, monitoring perkembangan akademik, peningkatan motivasi belajar, serta kemampuan refleksi diri. Fitur-fitur LMS seperti pengingat tugas, forum diskusi, evaluasi daring, pelacakan progres belajar, dan umpan balik pembelajaran terbukti mampu membantu mahasiswa mengembangkan kemandirian belajar secara lebih efektif. Selain itu, integrasi learning analytics dalam LMS memberikan peluang untuk memantau perilaku belajar mahasiswa secara lebih terukur. Namun demikian, efektivitas LMS dalam mendukung self-regulated learning dipengaruhi oleh kesiapan teknologi, desain pembelajaran, dan kemampuan regulasi diri mahasiswa. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa sintesis komprehensif mengenai peran LMS dalam membangun budaya belajar mandiri di pendidikan tinggi serta menjadi referensi bagi pengembangan strategi pembelajaran digital yang lebih adaptif dan berpusat pada mahasiswa.
Seniority Reconstruction and Violence Prevention in Pesantren: A Hybrid Model of Power Transformation Syamsul Arifin; Mufiqur Rahman; Muhammad Abri Harahap; Imam Tazali; Hamidullah Marazi
FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol. 15 No. 01 (2026): FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jf.v15i01.1929

Abstract

Violence and bullying in Indonesian Islamic boarding schools (pesantren) are rooted in seniority hierarchies through which senior students exercise supervisory authority over juniors. Existing scholarship either defends this hierarchy as pedagogically necessary or calls for its abolition. Neither position addresses reconstruction: how the tradition might be reshaped rather than preserved or dismantled. This study used an interpretive, embedded single-case design to examine how Ma'had Baitul Qur'an Madura transforms senior–junior power relations to prevent violence. Data were collected over six months (July–December 2025) through in-depth interviews with 13 purposively selected participants (senior students, junior students, ustadz, and administrators), participant observation, and document analysis. Analysis drew on a combined Foucault–Weber–Bourdieu framework to trace simultaneous shifts in power modality, authority legitimacy, and dispositional foundations. The institution operationalized a hybrid model retaining the structural position of seniority while reorienting its operative logic from coercive discipline to moral and spiritual exemplarity through five integrated mechanisms: faith-based compliance, moral-leadership redefinition, prophetic pedagogical capacity, home–pesantren alignment, and cross-hierarchical solidarity. Administrators delivered these through an integrated curriculum, leadership formation (daurah), teacher capacity building, parental engagement, and solidarity programming (Ukhuwah Week). Disciplinary records documented a 65.95% reduction in recorded violations across implementation phases (Semester 1: n = 213; Semester 2: n = 64), with coercive incidents declining 43.48%. A pesantren can pursue violence prevention without dismantling its defining traditions. The hybrid model offers a configurational, transferable framework for administrators and policymakers pursuing child-friendly Islamic education, applicable where kiai-centered authority and multi-domain programming capacity are present