Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Guru PPKn dalam Sosialisasi Tata Tertib pada Siswa SMPN 03 Teluk Keramat Hardiyanti Hardiyanti; Mashudi Mashudi; Shilmy Purnama
Jurnal Kalacakra: Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/kalacakra.v3i2.6403

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengenai peran Guru PPKn dalam mensosialisasikan tata tertib pada siswa SMPN 03 Teluk Keramat, untuk memahami hambatan Guru PPKn dalam mensosialisasikan tata tertib pada siswa, untuk memahami solusi Guru PPKn didalam mensosialisasikan tata tertib pada siswa. jenis penelitian ini yaitu menggunakan deskriptif kualitatif.pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan tekhnik wawancara, observasi dan teknik dokumentasi. Subjek yang diperoleh berdasarkan data yang didapat dari penelitian ini adalah Guru ppkn, Kepala sekolah dan Siswa yang ditentukan menggunakan teknik purposive dan snawbal. Data yang dikumpulkan akan dianalisis kembali menggunakan data yang bersifat induktif/kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan didapatkan menunjukan bahwa di SMPN 03 Teluk Keramat peran guru yaitu sebagai a. Guru berperan sebagai inisiator, b. Guru berperan sebagai motivator, c. Guru berperan sebagai pembimbing, d. Guru berperan sebagai evaluator. peranan guru ppkn dalam sosialisasi tata tertib selain sebagai pengajar didalam kelas Guru ppkn juga berperan diluar jam pelajaran selesai yang dimana Guru ppkn selalu mengingatkan mengenai sosialisasi tata tertib sekolah, membimbing siswa dan juga mengawasi terhadap tingkah laku yang dilakukan siswa disekolah serta ikut memberikan sanksi ringan, dalam sosialisasi tata tertib Guru PPKn selalu memberikan arahan dan menerapkan  tata tertib yang sudah di tempel di dalam kelas maupun di papan pengumuman. Faktor penghambat peran Guru ppkn dalam sosialisasi tata tertib siswa SMPN 03 Teluk Keramat ialah Faktor Internal dan Faktor Ekternal. Solusi Guru ppkn dalam mensosialisasikan tata tertib pada siswa yaitu dengan cara Pembagian tata tertib sekolah, pengawasan tata tertib sekolah, pemberian sanksi tata tertib sekolah.
PEMANFAATAN PEMBELAJARAN DARING DI MASA PANDEMI COVID-19 OLEH GURU PPKN KELAS XI IPA III DAN IV SMA NEGERI 1 SUNGAI RAYA KABUPATEN KUBU RAYA Nurjanah Nurjanah; Syamsuri Syamsuri; Shilmy Purnama
Jurnal Muara Pendidikan Vol 6 No 2 (2021): Jurnal Muara Pendidikan Volume 6 No 2, Desember 2021
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.329 KB) | DOI: 10.52060/mp.v6i2.589

Abstract

This study aims to determine the process of using online learning during the COVID-19 pandemic by PPKn teachers in class XI IPA III and IV SMA Negeri 1 Sungai Raya, Kubu Raya Regency. The research method used is descriptive in the form of qualitative research. The data sources for this study were 2 PPKn teachers and 1 school principal. Data collection techniques used are direct communication techniques, observation techniques, and documentation techniques. While the data collection tools used are interview guides, and documentation tools. The results of the research on the use of online learning during the COVID-19 pandemic by PPKn teachers for class XI IPA III and IV SMA Negeri Satu Sugai Raya, Kubu Raya Regency, have been carried out well. This is evidenced by the role of PPKn teachers in class XI IPA III and IV in the process of implementing learning using google meet, classroom, and whatsapp group.
Mewujudkan Persatuan Bangsa Melalui Penguatan Nilai Ke-Bhinneka-an Generasi Muda di Sekolah Perbatasan Indonesia – Malaysia Jagad Aditya Dewantara; Sulistyarini Sulistyarini; Sri Buwono; Maria Ulfa; Witarsa Witarsa; Thomy Sastra Atmaja; Shilmy Purnama
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 1, No 2 (2022): December 2022
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.171 KB) | DOI: 10.57235/aurelia.v1i2.99

Abstract

AbstrakPemuda merupakan generasi bangsa yang kelak menjadi visioner dalam membangun bangsa dan Negara. Sebagai penggerak bangsa. Sebagai penggerak bangsa, pemerintah menyiapkan jenjang-jenjang pendidikan sebagai wadah dalam belajar untuk mengetahui dan memahami sehingga terciptanya pemuda-pemudi yang berkarakter dan berkualitas. Globalisasi ini, Indonesia mengalami penurunan rasa nasionalisme atau rasa cinta tanah air, hal ini dikarenakan gempuran budaya asing dari berbagai negara yang masuk di Indonesia dengan mudahnya diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal ini terus-menerus terjadi, maka budaya, nilai, dan norma sosial yang ada akan merosok sehingga pemuda yang kelak meneruskan tonggak kepemimpinan akan mengalami penurunan kualitas atau daya saing dalam Sumber Daya Manusiaanya. Untuk itu diperlukan penguatan nilai-nilai kebhinekaan dalam pendidikan melalui jenjang sekolah menengah melalui kegiatan workshop. Bhineka Tunggal Ika memiliki makna yang penting bagi bangsa ini selain sebagai semboyan, dalam pemaknaanya Bhineka Tunggal Ika menjadi penglebur akan masalah pluralisme dikarenakan Indonesia sebagai negara yang majemuk. Sehingga diharapkan dalam penguatan nilai-nilai Kebhinnekaan terhadap siswa Sekolah Menengah perbatasan Malaysia – Indonesia ini dapat terwujud secara optimal. Konsep dan penyajian kegiatan workshop diyakini dapat menarik minat siswa untuk memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika, sehingga kelak akan tercipta generasi yang memiliki nasionalisme tinggi kepada bangsa dan Negara, serta mampu mewujudkan Persatuan Bangsa.Kata Kunci: Persatuan Bangsa, Nilai Ke-Bhinneka-an, Generasi Muda di Perbatasan AbstractYouth is the nation's generation who will become visionaries in building the nation and state. As a nation's mover. As a driving force for the nation, the government prepares educational levels as a forum for learning to know and understand so as to create young people with character and quality. With this globalization, Indonesia has experienced a decrease in the sense of nationalism or love for the homeland, this is because the onslaught of foreign cultures from various countries entering Indonesia are easily accepted and applied in everyday life. If this continues to happen, then the existing culture, values, and social norms will deteriorate so that the youth who will continue the leadership milestones will experience a decrease in quality or competitiveness in their Human Resources. For this reason, it is necessary to strengthen the values of diversity in education through the secondary school level through workshop activities. Bhineka Tunggal Ika has an important meaning for this nation apart from being a motto, in its meaning Bhineka Tunggal Ika is a melting pot of the problem of pluralism because Indonesia is a pluralistic country. So that it is hoped that in strengthening the values of Diversity for Middle School students on the Malaysia - Indonesia border, this can be realized optimally. The concept and presentation of the workshop activities are believed to be able to attract students' interest to understand and implement the values contained in Bhineka Tunggal Ika, so that in the future there will be a generation that has high nationalism to the nation and state, and is able to realize National Unity.Keywords: National Unity, Diversity Values, Young Generation at the Border
PROTECTING INDONESIA'S SOVEREIGNTY THROUGH CIVIC ENGAGEMENT IN THE TEMAJUK VILLAGE BORDER AREA Thomy Sastra Atmaja; Shilmy Purnama; Jagad Aditya Dewantara; Muhamad Supriadi
Jurnal Pertahanan: Media Informasi ttg Kajian & Strategi Pertahanan yang Mengedepankan Identity, Nasionalism & Integrity Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : The Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jp.v8i3.1775

Abstract

This study aims to determine the involvement of the society in maintaining and protecting the sovereignty of the Border region in Temajuk. Camar Bulan Subvillage, Temajuk Village, is an area in West Kalimantan Province that is directly adjacent to Malaysia. Under these conditions, this area was once claimed by the state of Malaysia and had become a concern of the public or government. The claim was made by the Malaysian state by establishing 2 lighthouses in the waters of Camar Bulan Sub village. Fortunately, the case was resolved through peace negotiations between countries. After the claim, the community responded to this problem by voluntarily involving themselves in maintaining the boundaries of state sovereignty. The approach used is qualitative and descriptive method. Data sources of the research consisted of Village Officials (Village heads), border guard volunteers (border stake guard officers and border youth), and the people living in the Temajuk border area of West Kalimantan. Data analysis techniques include data collection, data reduction, data presentation, dan conclusion/verification. The results obtained include: (1) society involvement in the Indonesia-Malaysia border has been actively involved in various social and political activities as a form of defending the country; and (2) supporting factors in maintaining the sovereignty of Indonesia's territory in the border areas, namely public awareness is high enough to maintain the sovereignty of the Indonesian border include the existence of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, society awareness to maintain sovereignty as the highest authority holder, society cooperation with various authorities in maintaining the Unitary State of the Republic of Indonesia. 
MEMPERTAHANKAN IDENTITAS LOKAL DI ERA GLOBALISASI MELALUI SANGGAR SENI BOUGENVILLE Jagad aditya dewantara; Ega Nur Cahya; Sulistyarini; Efriani; Shilmy Purnama; Afandi
JURNAL BORNEO AKCAYA Vol 8 No 2 (2022): Borneo Akcaya : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Publik
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51266/borneoakcaya.v8i2.240

Abstract

This study aims to determine how the Bougenville studio maintains the local identity in the era of globalization.The research is qualitative with case study method. The the subjects of this study were the head of the Bougenville studio, the trainer of the Bougenville studio, the students of the Bougenville studio and the community. The data were collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that the Bougenville studio applies a strategy in keeping students safe and maintaining the local identity. The regular training programs and level ups are included in the studio curriculum. However, in this Bougenville studio, the local culture is instilled, or focuses more on the regional culture, namely Malay. However, it does not make the students of the Bougenville studio experience an ethnocentric attitude. Bougenville Studio is able to defend. All citizens uphold civic culture values such as solidarity, tolerance, active involvement and responsibility
TRANSFORMASI KURIKULUM 2013 MENUJU MERDEKA BELAJAR DI SMA NEGERI 1 PONTIANAK Iwan Ramadhan; Haris Firmansyah; Imran Imran; Shilmy Purnama; Hadi Wiyono
VOX EDUKASI: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol 14, No 1 (2023): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/ve.v14i1.2097

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Pendekatan penelitian ini dengan mempelajari sistem kurikulum merdeka dan peneliti ikut serta dalam pelaksanaan pembelajaran bersama subyek penelitian. Metode yang dilakukan yaitu mulai dari wawancara sebagai pra riset dan wawancara terhadap subyek penelitian yang telah ditentukan sesuai dengan fokus penelitian terkait pengalaman dan makna yang sekolah, guru dan siswa alami. Hasil penelitiannya adalah adanya perbedaan signifikan dialami pihak sekolah dalam program, metode dan model pembelajaran dalam peralihan perubahan penerapan program dari kurikulum merdeka berupa proyek P5. Banyaknya aktivitas praktek dan siswa aktif mengikuti kegiatan P5. Proyek P5 SMAN 1 Pontianak hanya dilaksanakan di kelas X dan XI dengan tema yang berbeda. Dampak adanya perubahan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka di SMAN 1 Pontianak adalah siswa lebih kreatif dan lebih mendalamkan peran sebagai siswa sehingga proses pembelajaran lebih menyenangkan serta menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih relevan dan interaktif. Perubahan pembelajaran Kurikulum 2013 ke Kurikulum merdeka hanya diterapkan pada kelas X dan XI. Penerapan pembelajaran kurikulum merdeka sebagian besar membuat siswa lebih aktif dan interaktif daripada kurikulum Kurikulum 2013. Penerapan pembelajaran berdasarkan kurikulum merdeka untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik yang tidak sama di SMAN 1 Pontianak.Kata Kunci: Transformasi, Kurikulum 2013, Kurikulum merdekaABSTRACTThe purpose of this study was to find out the learning process in the 2013 Curriculum to the Merdeka Curriculum. The method used is descriptive qualitative. Collecting data through observation, interviews, and documentation. This research approach by studying the independent curriculum system and researchers participating in the implementation of learning with research subjects. The method used is starting from interviews as pre-research and interviews with research subjects that have been determined according to the focus of research related to experiences and meanings that schools, teachers, and students experience. The results of his research are that there are significant differences experienced by schools in programs, methods, and learning models in the transition to changes in program implementation from the independent curriculum in the form of the P5 project. There are many practical activities and students actively participate in P5 activities. The P5 project of SMAN 1 Pontianak is only implemented in classes X and XI with a different theme. The impact of changing the 2013 Curriculum to the Independent Curriculum at SMAN 1 Pontianak is that students are more creative and deepen their roles as students so that the learning process is more enjoyable and presents a more relevant and interactive learning system. Learning changes from the 2013 Curriculum to the Independent Curriculum are only applied to grades X and XI. The application of independent curriculum learning mostly makes students more active and interactive than the 2013 Curriculum curriculum. The application of learning based on the independent curriculum to meet the needs of each student is not the same at SMAN 1 Pontianak.Keywords : Transformation, 2013 Curriculum, Merdeka Curriculum
PELATIHAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS CANVA BAGI GURU MGMP IPS KABUPATEN MEMPAWAH Hadi Wiyono; Haris Firmansyah; Iwan Ramadhan; Nur Meily Adlika; Shilmy Purnama; Jumardi Budiman; Sumantri Sumantri; Rina Raihana Putri; Uray Rosa Febrianti
Abdimas Galuh Vol 5, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v5i1.9185

Abstract

Tujuan pelaksanaan PKM ini untuk meningkatkan minat guru-guru IPS Kabupaten Mempawah dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis canva, dan meningkatkan keterampilan guru-guru IPS Kabupaten Mempawah dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis canva. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini terdiri atas: (a) Pelatihan, yaitu kegiatan interaktif dengan guru-guru IPS SMP Kabupaten Mempawah untuk memberikan penjelasan teori tentang media pembelajaran, dan (b) Praktik, memberikan tugas kepada guru-guru membuat media pembelajaran menggunakan aplikasi canva kemudian meminta peserta pelatihan mengumpulkan tugas media untuk diberikan penilaian dan masukan. Kegiatan PKM berupa pelatihan pengembangan media pembelajaran berbasis canva bagi guru-guru MGMP Kabupaten Mempawah dilaksanakan di SMP Negeri 2 Mempawah dan diikuti oleh 27 peserta yang terdiri atas guru-guru IPS dari sekolah di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat. Hasil kegiatan menunjukan bahwa kegiatan pengabdian memberikan dampak pada peserta dengan meningkatnya minat guru-guru IPS Kabupaten Mempawah dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis canva serta meningkatkan keterampilan guru-guru IPS Kabupaten Mempawah dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis canva.
Tour de Museum: Pengenalan dan Pelestarian Budaya Kalimantan Barat Haris Firmansyah; Hadi Wiyono; Iwan Ramadhan; Nur Meily Adlika; Shilmy Purnama; Jumardi Budiman
GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2023): GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/gervasi.v7i3.6122

Abstract

  Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini, yaitu: (1) untuk meningkatkan minat peserta didik dalam mempelajari serta mengenal budaya daerah Kalimantan Barat; dan (2) untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang budaya Kalimantan Barat. Metode PkM dalam bentuk pelatihan dengan mengobservasi museum Provinsi Kalimantan Barat bersama peserta didik serta pemberian angket dan tes. Pelaksanaan kegiatan pelatihan ini diikuti sebanyak 27 peserta didik kelas VI SD Negeri 09 Pontianak Tenggara, dan pendamping peserta didik yang terdiri dari kepala sekolah dan wali kelas VI SD Negeri 09 Pontianak Tenggara. Hasil dari kegiatan pengabdian ini berupa meningkatnya minat peserta didik kelas VI SD N 09 Pontianak Tenggara belajar sejarah budaya dari hasil angket minat peserta didik rata-rata skor 87% kategori tinggi, serta meningkatnya pengetahuan peserta didik tentang budaya Kalimantan Barat dengan rata-rata hasil tes sebesar 82 dengan kategori A.
Peranan Hukum Adat Dayak Tolak Sekayok Dalam Membentuk Civic Virtue Remaja Desa Laman Satong Kecamatan Matan Hilir Utara Kabupaten Ketapang Desi Ratnasari; Rustiyarso Rustiyarso; Thomy Sastra Atmaja; Erwin Erwin; Shilmy Purnama
Daya Nasional: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 1, No 2 (2023): Juni (2023)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jdn.v1i2.66189

Abstract

Civic virtue merupakan kebajikan masayarakat atau moral masyarakat seperti disiplin diri, tanggung jawab individu, toleransi kepada keanekaragaman patriotisme, kesabaran dan konsisten rasa kasih serta empati terhadap orang lain, akan tetapi civic virtue sudah jarang diterapkan dikalangan masyarakat mengingat zaman semakin modern sehingga banyak masyarakat yang tidak menerapkan moral kemasyarakatan yang baik. Tujuan penelitin ini adalah untuk mengetahui bagaimana dampak dari hukum adat yang diberlakukan kepada masyarakat apakah moral masyarakat menjadi terbentuk dengan baik dengan diberlakukannya hukum adat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini 10 orang yang terdiri dari Kepala Desa, Ketua Adat, Dewan Adat dan Remaja Desa Laman Satong Kecamatan Matan Hilir Utara Kabupaten Ketapang. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode interaktif yang terdiri dari reduksi data, data display dan penarikan kesimpulan. alat pengumpulan datanya yaitu peneliti itu sendiri, panduan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian bahwa (1) Bentuk hukum adat Dayak Tolak Sekayok seperti bertengkar, mencuri, menghamili anak orang diluar pernikahan, menabrak binatang dan menyerobot lahan milik orang lain. (2) Kendala yang dihadapi ketua adat yakni waktu yang singkat dan jumlah denda yang besar.(3) Solusi atas hambatan yang dihadapi yakni pihak pengurus adat memberikan tambahan waktu kepada si pelaku agar bisa membayar semua peraga adat yang telah ditentukan dan kedua dengan sistem menyicil denda dari sanksi yang didapat si pelaku (4) Dampak hukum adat terhadap pembentukan civic virtue yaitu disiplin, bertanggung jawab, taat hukum, memberikan rasa keadilan, toleransi antar keberagaman serta tingkah laku masyarakat menjadi lebih benar, terarah dan beradab sehingga dapat membentuk civic virtue remaja desa laman satong.Kata kunci : Civic Virtue; Hukum Adat; Remaja;
Menangkal Dampak Simulacra di Wilayah Perbatasan Jagoi Babang Melalui Penguatan Sense of Belonging Warga Negara Muda Jagad Aditya Dewantara; Sulistyarini Sulistyarini; Thomy Sastra Atmaja; Shilmy Purnama; Witarsa Witarsa
Digulis: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 1, No 3 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/djpkm.v1i3.72848

Abstract

Kegiatan ini Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menangkal dampak simulacra yang mempengaruhi wilayah perbatasan Jagoi Babang antara Indonesia dan Malaysia. Simulacra dari negara tetangga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap identitas dan pandangan generasi muda di wilayah ini. Melalui pendekatan penguatan sense of belonging, kegiatan ini berfokus pada upaya memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan warga muda terhadap identitas nasional mereka. Kegiatan ini mengusulkan serangkaian intervensi yang mencakup pelatihan, sosialisasi, dan pengembangan strategi untuk memperkuat jati diri generasi muda di tengah arus simulacra yang meresahkan. Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan pandangan baru dan solusi konstruktif dalam mempertahankan identitas nasional di wilayah perbatasan.