Penelitian ini bertujuan merumuskan dan mengevaluasi model pembelajaran seni kriya berbasis potensi lingkungan melalui pemanfaatan bahan nentu pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kusambi. Masalah yang dikaji tidak hanya terletak pada rendahnya kemampuan teknis siswa dalam membuat karya kriya, tetapi juga pada lemahnya integrasi antara sumber daya lingkungan lokal, proses kreatif pembelajaran, dan penilaian karya kriya yang terukur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang didukung penilaian kuantitatif deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 26 siswa kelas VIII yang ditentukan melalui total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, tes praktik, dan rubrik penilaian produk yang mencakup gagasan/ide, kreativitas, serta teknik dan wujud. Temuan penelitian menghasilkan sintesis pembelajaran EPKR, yaitu eksplorasi bahan lokal, produksi karya anyaman, kurasi mutu karya, dan refleksi nilai ekologis-estetis. Hasil penilaian menunjukkan 46,15% siswa berada pada kategori baik dan 53,84% berada pada kategori cukup. Capaian terkuat terdapat pada aspek gagasan/ide, sedangkan aspek teknik dan wujud menjadi tantangan utama karena anyaman nentu membutuhkan koordinasi tangan, kepekaan bahan, dan latihan berulang. Kebaruan artikel ini terletak pada penempatan nentu bukan sekadar bahan kriya, melainkan sumber pedagogis yang menghubungkan ekologi lokal, keterampilan manual, penilaian estetis, dan pembentukan karakter kreatif. Penelitian ini berkontribusi pada pendidikan seni dengan menawarkan model operasional pembelajaran kriya berbasis lingkungan yang dapat diadaptasi pada sekolah dengan potensi bahan lokal sejenis.