Claim Missing Document
Check
Articles

SEJARAH PENGOBATAN TRADISIONAL KARO MELALUI TANAMAN DI DESA BARU KECAMATAN PANCUR BATU (1952-2025) Rostogi Bancin; Muhammad Ricky Hardiyansyah; Surya Aymanda Nababan
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 11 No. 2 (2026): Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/v21e9t75

Abstract

Penelitian ini mengkaji sejarah dan keberlanjutan pengobatan tradisional masyarakat Karo berbasis tanaman obat di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, dalam rentang waktu 1952–2025. Tahun 1952 dipilih sebagai titik awal karena merupakan periode awal rekonstruksi sosial pascakemerdekaan yang memengaruhi tatanan kehidupan komunitas Karo di Pancur Batu, sebelum masuknya layanan kesehatan modern secara masif pada pertengahan 1950-an. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengetahuan dan keberlanjutan praktik pengobatan tradisional melalui periodisasi historis, mengidentifikasi jenis-jenis tanaman obat yang digunakan secara sistematis, mendeskripsikan upaya dokumentasi dan pelestarian, serta mengungkap pandangan masyarakat terhadap pengobatan tradisional di tengah modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan historis kesehatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama: (1) pengetahuan pengobatan tradisional Karo diwariskan secara lisan antargenerasi dan mengalami transformasi spiritual dari mantra menuju doa keagamaan; (2) teridentifikasi 15 jenis tanaman obat yang digunakan, 9 di antaranya mudah diperoleh dan 6 mulai langka akibat alih fungsi lahan; (3) dokumentasi masih bersifat lisan dan belum sistematis; serta (4) masyarakat menunjukkan pola pluralisme medis dengan mengombinasikan pengobatan tradisional dan medis modern. Praktik pengobatan khas Karo seperti Oukup, Minyak Karo, Parem, dan Tawar tetap bertahan sebagai identitas budaya. Tantangan utama adalah lemahnya regenerasi pengetahuan dan ketiadaan dokumentasi tertulis yang sistematis. Kata Kunci: Pengobatan Tradisional Karo, Tanaman Obat, Pancur Batu
MIGRASI ETNIS PUNJAB SIKH KE KOTA MEDAN (1890-1950) : DIASPORA IDENTITAS DAN INTEGRASI SOSIAL Marta Permatasari Hulu; Surya Aymanda Nababan; Muhammad Ricky Hardiyansyah
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 11 No. 2 (2026): Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/1rpvhj38

Abstract

Penelitian ini membahas sejarah migrasi etnis Punjab beragama Sikh dan pembentukan komunitas Sikh di Kota Medan pada periode 1890–1950. Penelitian menggunakan metode sejarah melalui studi arsip, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Migrasi etnis Punjab beragama Sikh ke Kota Medan pada periode 1890–1950 merupakan bagian dari jaringan migrasi kolonial yang menghubungkan Punjab, Malaya, Singapura, dan Sumatra Timur. Migrasi ini didorong oleh kebutuhan tenaga keamanan dalam sistem perkebunan kolonial serta didukung oleh pola chain migration melalui jaringan keluarga dan komunitas. Perekrutan masyarakat Sikh dipengaruhi oleh konstruksi kolonial martial races yang memandang mereka sebagai kelompok yang disiplin, loyal, dan cocok untuk menjalankan fungsi keamanan dan pengawasan. Seiring meningkatnya jumlah migran yang menetap, terbentuk komunitas Sikh yang diperkuat oleh ikatan kekerabatan, agama, dan keberadaan gurdwara sebagai institusi diaspora. Gurdwara berperan penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pelestarian budaya, dan solidaritas sosial yang memungkinkan identitas Sikh tetap terjaga di tengah lingkungan multietnis Kota Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Sikh berhasil mengembangkan pola integrasi yang memungkinkan mereka berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi tanpa kehilangan identitas budaya dan keagamaannya. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa diaspora minoritas dapat mempertahankan identitas kolektifnya melalui institusi keagamaan dan jaringan sosial, sekaligus beradaptasi dengan masyarakat yang lebih luas. Secara historiografis, penelitian ini menegaskan bahwa komunitas Sikh merupakan bagian penting dalam pembentukan masyarakat multietnis Kota Medan. Temuan ini memperkaya kajian sejarah migrasi dan diaspora di Indonesia serta memberikan pemahaman mengenai peran kelompok migran minoritas dalam perkembangan masyarakat multikultural di Sumatra Timur. Kata Kunci: Migrasi, Punjab, Komunitas Sikh, Diaspora, Medan
WARISAN KOLONIAL DAN TRANSFORMASI RUANG KULINER PERKOTAAN: STUDI HISTORIS CAFÉ TUA DI KOTA MEDAN Weny Dea Afini; Hadiani Fitri; Surya Aymanda Nababan
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 11 No. 2 (2026): Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/fpcpkn33

Abstract

Penelitian ini mengkaji warisan kolonial dan transformasi ruang kuliner perkotaan melalui studi historis café-café tua di Kota Medan. Tujuan penelitian adalah mengungkap perkembangan sejarah café tua, mengidentifikasi unsur warisan kolonial yang masih bertahan, serta menganalisis transformasi fungsi ruang kuliner dari masa kolonial hingga era modern. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif kultural melalui studi pustaka, observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa café-café tua seperti Kedai Kopi Apek, Restoran Tip Top, Kedai Kopi Kok Tong, dan beberapa usaha kuliner legendaris lainnya merupakan bagian dari warisan kolonial yang masih bertahan di Kota Medan. Unsur warisan tersebut terlihat pada arsitektur bangunan, tradisi kuliner, serta fungsi sosial yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Transformasi ruang kuliner terjadi melalui adaptasi bangunan dan fungsi ruang tanpa menghilangkan identitas historisnya. Selain berperan sebagai tempat usaha, café tua juga menjadi ruang interaksi sosial, memori kolektif, dan simbol identitas budaya masyarakat Kota Medan. Oleh karena itu, pelestarian café tua menjadi penting sebagai upaya menjaga warisan sejarah dan budaya perkotaan di tengah arus modernisasi. Unsur warisan kolonial pada café-café tua di Kota Medan tercermin melalui arsitektur bangunan, tradisi kuliner, tata ruang, serta fungsi sosial yang masih dipertahankan. Bangunan bergaya kolonial, menu yang diwariskan secara turun-temurun, dan suasana ruang yang bernuansa historis menjadikan café-café tua tidak hanya berfungsi sebagai tempat usaha kuliner, tetapi juga sebagai media pelestarian memori kolektif, identitas budaya, dan warisan sejarah masyarakat Kota Medan. Transformasi ruang kuliner pada bangunan warisan kolonial menunjukkan adanya proses adaptasi terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat modern. Sebagian besar café tua mengalami perubahan fungsi dari ruang konsumsi terbatas menjadi ruang publik yang lebih terbuka, destinasi wisata kuliner, serta ruang interaksi sosial lintas generasi. Meskipun mengalami perubahan bentuk pemanfaatan dan pengelolaan, sebagian besar café tua tetap mempertahankan nilai historis dan identitas kolonialnya. Dengan demikian, café-café tua di Kota Medan merupakan bukti bahwa warisan kolonial dapat terus hidup dan berkelanjutan melalui proses transformasi ruang yang mampu mengintegrasikan nilai sejarah, budaya, sosial, dan ekonomi dalam kehidupan perkotaan modern. Key words: warisan kolonial, transformasi ruang kuliner, café tua, Kota Medan.
Production, Reproduction, and Commodification of Historical Knowledge in Medan in Digital Media and Commercial Practices Surya Aymanda Nababan; Anju Nofarof Hasudungan
Warisan: Journal of History and Cultural Heritage Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Mahesa Research Center (PT. Mahesa Global Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/warisan.v7i1.3094

Abstract

This study examines the transformation of historical knowledge in Medan City through the interrelated dimensions of production, reproduction, and commodification within a contemporary context. The expansion of digital media and the creative economy has displaced the exclusive authority of academic institutions, enabling historical knowledge to circulate through non-academic actors, institutional platforms, and commercial practices. Employing a qualitative design, the research utilizes critical discourse analysis to investigate digital content on YouTube and Instagram, alongside commercial representations of Medan’s history, with a focus on content creators, government-managed accounts, and the local culinary industry as primary empirical sites. The analytical framework integrates Michel Foucault’s concept of power–knowledge relations and Pierre Bourdieu’s notions of habitus and cultural capital, allowing for a nuanced interpretation of how authority and meaning are negotiated. The findings indicate a decentralisation of epistemic authority, wherein historical narratives are increasingly shaped by visuality, participation, and popular mediation, thereby cultivating new forms of habitus in the public understanding of the past. This transformation reconfigures the epistemic structure of history, blurs the boundary between intellectual and popular history, and calls for sustained interdisciplinary engagement to safeguard scientific integrity.
Representation of Hindu–Buddhist Heritage in the Kotta Cinna Site Museum: The Politics of Memory and Early Historical Identity Muhammad Ricky Hardiyansyah; Surya Aymanda Nababan; Audy Amalia Putri
Warisan: Journal of History and Cultural Heritage Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Mahesa Research Center (PT. Mahesa Global Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/warisan.v7i1.3067

Abstract

This article examines the representation of Hindu–Buddhist heritage in the Museum Situs Kotta Cinna and its role in shaping memory politics and early historical identity in North Sumatra. The study asks how Hindu–Buddhist remains are curated and narrated, and what form of historical identity is constructed through these practices. Using a qualitative approach that combines site observation, exhibition analysis, archival research, and interviews with museum stakeholders, the study applies theories of memory and identity to interpret curatorial strategies and narrative framing. The findings show that the museum selectively presents Kotta Cinna as evidence of an early cosmopolitan polity shaped by transregional networks while integrating it into contemporary local and national identity discourses. This process reflects how archaeological objects are transformed into symbolic capital for regional pride and historical legitimacy. The study contributes by demonstrating that museum representation functions as an active mechanism of memory production rather than mere preservation, offering a clearer framework for understanding the role of heritage institutions in constructing early Sumatran identity.
The Use of Museums as a Learning Resource in the Museology Course at the Islamic University of North Sumatra Muhammad Ricky Hardiyansyah; Pulung Sumantri; Surya Aymanda Nababan; Aditya Darma; Aizza Nabila
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 2 (2025): April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i2.44034

Abstract

This study aims to analyze the use of museums as a source of learning in the Museology course at the Islamic University of North Sumatra (UISU). With a descriptive qualitative approach, this study collects data through interviews, observations, and documentation studies. The focus of the research lies in how museums are used to support theoretical and practical learning, the role of lecturers as facilitators, and students' perceptions of museum-based learning experiences. The results of the study show that the museum is used as a learning laboratory with activities such as educational visits, curatorial analysis, and collection cataloging practices. This learning allows students to relate theory to real-life experience, which enhances their understanding of museum management concepts. Lecturers play an active role as planners, discussion facilitators, and liaisons between universities and museums. Meanwhile, students stated that museum-based learning provides an exciting, in-depth experience and strengthens practical skills. However, this study also found several challenges, such as limited access, inadequate museum facilities, and suboptimal coordination between the campus and the museum. This study recommends increasing cooperation between universities and museums, improving museum facilities, and integrating digital technology to support distance learning. Museums have proven to play a strategic role not only as a place for cultural preservation, but also as a learning resource that supports the development of students' academic and professional competencies. In conclusion, the use of museums in Museology courses has a significant positive impact, although it requires continuous innovation and support to overcome existing challenges.
Persepsi Siswa Terhadap Efektivitas Metode Ceramah dan Diskusi dalam Meningkatkan Pemahaman Sejarah di Kelas XI SMA Negeri 11 Medan Wendi Hati Tafonao; Muhammad Ricky Hardiyansyah; Surya Aymanda Nababan
Education & Learning Vol. 6 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/el.v6i2.2137

Abstract

This study discusses students’ perceptions of the effectiveness of the lecture method and discussion method in improving historical understanding among Grade XI students at SMA Negeri 11 Medan. The focus of the study is taken from one of the research questions in the thesis, namely how students assess the effectiveness of both methods in the history learning process. This study uses a qualitative approach with a descriptive-comparative method. Data were obtained through classroom observations, interviews with the history teacher, interviews with Grade XI students, and documentation of learning materials. The results of the study show that the lecture method is perceived as effective in building students’ initial understanding, particularly for historical materials that are factual, chronological, and require systematic explanation from the teacher. Interactive lectures supported by media such as slides, videos, images of historical figures, and maps help students follow the sequence of historical events. However, lectures that are too long may reduce students’ concentration and make them passive. Meanwhile, the discussion method is considered more engaging because it encourages students to exchange ideas, collaborate, develop arguments, and understand the material through social interaction. The challenges in implementing discussions include time management, the dominance of certain students, and uneven participation. These findings indicate that the lecture method and discussion method should be used complementarily in history learning.
Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Pendudukan Jepang dengan Media Visual Berbasis Pendekatan Kontekstual di Kelas XI SMA Negeri 11 Medan Tiffany Azriel Hasyim Purba; Hadiani Fitri; Surya Aymanda Nababan
Education & Learning Vol. 6 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/el.v6i2.2138

Abstract

This study aims to describe the implementation of Japanese occupation history learning through visual media based on a contextual approach in Grade XI at SMA Negeri 11 Medan. This study used a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, interviews with history teachers and Grade XI students, and documentation, including teaching modules, learning media, and classroom activities. Data were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was strengthened through source triangulation and member checking. The results show that learning was conducted through several stages: apperception using maps, presentation of images and documentary photographs, screening of short videos, group discussions, guiding questions, and conclusion drawing. The visual media used included maps, documentary photographs, infographics, short videos, historical figure images, and interactive maps. These media increased students’ attention, motivation, understanding, and participation. The contextual approach appeared in the teacher’s efforts to relate Japanese occupation materials to students’ family experiences, surrounding environment, community service activities, school rules, and daily social values. The obstacles included limited projectors, unstable electricity, weak internet access, limited preparation time, and technical constraints in media development. The teacher addressed these problems by downloading videos, using printed images, borrowing the multimedia room, and learning to create simple media independently.
Kontribusi Guru Mapel dalam Pembelajaran Berdiferensiasi bagi ABK di SMP YASPENHAN 2 Yunita Syari Denny Hasibuan; Muhammad Ricky Hardiyansyah; Surya Aymanda Nababan
Education & Learning Vol. 6 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/el.v6i2.2139

Abstract

This study aims to analyze the role of social studies teachers in developing differentiated learning plans for children with special needs (ABK) at YASPENHAN 2 Private Junior High School. A qualitative approach with an intrinsic case study design was used, involving three subject teachers and the vice principal. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation. The results indicate that the role of teachers is still intuitive and partial, limited to differentiation of learning style-based processes (audio, visual, kinesthetic), while differentiation of content, products, and learning environments is not optimal. There is no initial diagnostic assessment or Individual Learning Plan document. The main obstacles include limited teacher understanding, minimal training, the absence of special assistant teachers, and weak school policies. Supporting factors include empathy and teacher initiative. In conclusion, sustainable systemic intervention is needed to realize quality differentiated learning.
Co-Authors Abdillah, Muhammad Fajar Abdul Azis Abdul Azis Abdul Azis Aditya Darma Aditya Darma Aditya Darma Adlina*, Zuraidah Ahmad Laut Hasibuan Aizza Nabila Aman Aman Anju Nofarof Hasudungan Anju Nofarof Hasudungan Anju Nofarof Hasudungan Anju Nofarof Hasudungan Anju Nofarof Hasudungan Audy Amalia Putri Ayu, Dedek Benny Junior Kaban Benny Junior Kaban Damanik, Raudhotul Jannah Darma, Aditya Daulay, Mawarda Dedi Kusbiantoro Dedi Masri Fikri Alkhairi Fikri Alkhairi Fikri Alkhairi Fiqri Haiqal Forman Laia Hadiani Fitri Hadiani Fitri Hasan Ashari Hasrita Lubis Hasudungan, Anju Nofarof Hikam, Reza Maulana Hutasuhut, Mei Sahputri Indah Lestari, Indah Kaban, Benny Junior Kusbiantoro, Dedi Laia, Forman Latifah Hanum Latifah Hanum LEO AGUNG Lubis, Hafnita Sari Dewi Lubis, Hasrita Lubis, Mira Ardilla Lubis, Nadiyah Zahra Marta Permatasari Hulu Mawarda Daulay Md. Jali, Jafalizan Mestari Zai Mhd Ihsan Syahaf Nasution Mira Ardilla Lubis Muhammad Adika Nugraha Muhammad Novriansyah Lubis Muhammad Ricky Hardiansyah Muhammad Ricky Hardiyansyah Muhammad Ricky Hardiyansyah Muhammad Ricky Hardiyansyah Mulyani, Fini Fajri Nadiyah Zahra Lubis Ningsih, Tri Zahra Nugraha, Muhammad Adika Nurhayati Nurhayati Nurhayati Nurhayati Nur’aini Ofianto, Ofianto Pandu Prabowo Warsodirejo Pulung Sumantri Puspa Unsya Shaleha Rahmat, Doris Retnita Ernayani Lubis Rosmaida Sinaga Rostogi Bancin Saiful Anwar Matondang Saputra, Nanda Saragih, Ridho Gilang Amalsyah Sardiana, Siti Selviana, Anita Setiawan, Johan Shaleha, Puspa Unsya Sintia Mega Siregar, Andyoda Siti Humairah Solihah Titin Sumanti, Solihah Titin Soriente, Antonia SRI YAMTINA Suboh, Amerruddin Shah Tafonao, Wendi Hati Tanjung, Yushar Tiffany Azriel Hasyim Purba Vira Yunita Wendi Hati Tafonao Wendi Hati Tafonao Weny Dea Afini Wulandari, Silfi Yunita Syari Denny Hasibuan Yushar Tanjung Yushar Tanjung Yushar Tanjung Zul Asri Zuraidah Adlina*