Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Literatur Minat dan Tantangan Jurnalis dalam Program Berita Investigasi Televisi Ammar Rezqianto; Herlina Agustin; Nunik Maharani Hartoyo
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3528

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana minat dan tantangan jurnalis dalam melakukan liputan investigasi untuk program televisi menggunakan metode tinjauan literatur. Sumber-sumber yang dikaji meliputi artikel jurnal ilmiah, buku-buku yang relevan, serta laporan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa mayoritas wartawan investigasi televisi telah memiliki minat yang tinggi untuk melakukan liputan investigatif, tetapi belum memiliki standar pemahaman yang baik akan etika dan pedoman jurnalistik yang berlaku. Hal itu terbukti dari kasus-kasus pelanggaran etika jurnalistik yang telah terjadi. Tayangan program jurnalisme investigasi di televisi masih memiliki sejumlah kekurangan, di antaranya adalah liputan yang tidak mendalam serta keterbatasan dalam waktu produksi. Penelitian ini menemukan bahwa kekurangan tersebut terjadi karena adanya kepentingan-kepentingan dari stasiun televisi, di antaranya adalah pertimbangan rating serta komersialisasi. Adanya faktor-faktor tersebut membuat mayoritas program jurnalisme investigasi yang tayang di televisi nasional tidak dapat dikategorikan sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalisme investigasi sesungguhnya, melainkan hanya dapat disebut sebagai pekerjaan jurnalime investigasi ringan. Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa meskipun penuh tantangan, kualitas program jurnalisme investigasi di televisi nasional memiliki peluang untuk ditingkatkan.
English English Wiraswari, Luh Muni; Agustin, Herlina; Al-Faqih, M. Zen
representamen Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Representamen Volume 12 No. 01 April 2026
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The media is a source of information about the situation in West Papua for the public. Nevertheless, representations of West Papua in the media are fragmented, leading to a distorted public understanding of the region. This distortion, particularly among people outside West Papua, is caused by the Indonesian government’s dominance in the media. The Indonesian government’s dominance as authority creates unequal representation between the government’s narrative and the voices of Papuan, especially in the national media. This study aims to analyze the construction of discourse about West Papua in the media at three different levels of reach: local media, national media, and international media by literature review. This study found three different discourse patterns. The local media tended to prioritize a discourse of resistance that presented critical voices and highlighted Papuan identity in media texts. Meanwhile the national media was dominated by the discourse of national stability and sovereignty, which tended to be in line with the ideology of the Indonesian government. Last, the international media is more critical in highlighting human rights discourse. However, the media’s reach does not always determine the discourse in the media. Discourse on Papua in the media is also influenced by the media’s position in the social system and the ideology that surrounds it. However, over the past ten years, most research has focused solely on textual aspects and has not addressed the influence of ideology in media discourse. These findings indicate that there has been no significant progress in research on the relationship between ideology and media discourse regarding Papua. Therefore, new research is needed that integrates ideology with media, especially national online media, across various dimensions. This aims to reveal the power dynamics within media discourse.
Analisis struktur jaringan percakapan kemiskinan di Aplikasi X menggunakan Social Network Analysis (SNA) Lisawati, Lisawati; Agustin, Herlina; Supriadi, Dandi
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um022v8i22025p249-266

Abstract

Analyzing the network structure of poverty conversations in X App using Social Network Analysis (SNA) Poverty is one of the major challenges faced by countries around the world, including Indonesia. Despite various efforts that have been undertaken, public perception often does not align with official data showing a decline in poverty rates. This study employs a Social Network Analysis (SNA) approach to analyze conversations surrounding the issue of poverty on Application X. The findings reveal that the conversation network related to poverty on Application X is fragmented, with low interconnectivity among groups. Although information can spread rapidly, interactions between groups remain limited. These findings indicate the need to strengthen connectivity across communities in order to broaden the scope of discussions and enhance the impact of poverty alleviation policies. Based on the results, strengthening cross-community communication emerges as a strategic step to improve information distribution, expand discussion spaces, and foster more productive collaboration in addressing social issues. This study contributes to the theoretical understanding of the dynamics of social issue conversations in digital spaces and offers more inclusive and effective communication strategies to support poverty alleviation efforts. Kemiskinan merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, persepsi masyarakat seringkali tidak sejalan dengan data resmi yang menunjukkan penurunan tingkat kemiskinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Social Network Analysis (SNA) untuk menganalisis percakapan seputar isu kemiskinan di Aplikasi X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan percakapan terkait kemiskinan di Aplikasi X terfragmentasi dengan keterhubungan antar kelompok yang rendah. Meskipun informasi dapat tersebar dengan cepat, interaksi antar kelompok masih terbatas. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan konektivitas antar komunitas untuk memperluas jangkauan diskusi dan meningkatkan dampak kebijakan pengentasan kemiskinan. Berdasarkan hasil penelitian, penguatan komunikasi lintas komunitas merupakan langkah strategis yang dapat meningkatkan distribusi informasi, memperluas ruang diskusi, serta mendorong kolaborasi yang lebih produktif dalam membahas isu-isu sosial. Studi ini berkontribusi pada pemahaman teoretis mengenai dinamika percakapan isu sosial di ruang digital, serta menawarkan strategi komunikasi yang lebih inklusif dan efektif untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan.
Application of Occupational Therapy Drawing and Dhikr as A Nursing Intervention to Overcome Auditory Hallucinations: Case Report Agustin, Herlina; Ramadhan, Indah; Mulyaningrat, Wahyudi
Jurnal Ilmiah Ners Indonesia Vol 7 No 1 (2026): May 2026
Publisher : Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jini.v7i1.49992

Abstract

Schizophrenia is a severe mental disorder characterized by hallucinations, particularly auditory hallucinations. Pharmacological therapy is often not optimal, so nonpharmacological interventions are needed. This study emphasizes the novelty of combining drawing therapy and dhikr therapy. Drawing therapy helps patients express emotions and shift attention away from hallucinations, while dhikr provides spiritual calmness. The purpose of this case report is to determine the effect of occupational therapy, drawing and dhikr in overcoming patients with auditory hallucinations. This descriptive case report involved two schizophrenia patients with auditory hallucinations at Dr. Arif Zainudin Mental Hospital, Central Java. The intervention was conducted over three consecutive days (40–50 minutes per session). Evaluation was carried out using symptom observation and the Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS). The results showed a decrease in the Auditory Hallucination Rating Scale in both patients, with client 1 experiencing a reduction from 13 to 6, while client 2 decreased from 29 to 22. Observations also indicated a reduction in the frequency and intensity of auditory hallucinations, as well as an increase in calmness and focus during therapy.  The application of occupational drawing therapy and dhikr is effective in reducing the symptoms of auditory hallucinations. In nursing practice, structured motor activities such as drawing are more effective in interrupting acute hallucinations, while dhikr serves as a supportive therapy for emotional regulation.
Integrasi Qanun dan Kearifan Lokal dalam Perlindungan Gajah Sumatera: Studi Penanganan Interaksi Negatif “Abang Kul” di Kantong Gajah Liar Gayo Ghaitsa Al-Zahira Zulvita; Herlina Agustin; Gumgum Gumilar
Bina Hukum Lingkungan Vol. 10 No. 3 (2026): Bina Hukum Lingkungan, Volume 10, Nomor 3, Juni 2026
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v10i3.548

Abstract

ABSTRAKIntensitas interaksi negatif gajah-manusia di Dataran Tinggi Gayo berakar pada persoalan struktural berupa hilangnya habitat dan fragmentasi koridor jelajah gajah akibat alih fungsi lahan hutan menjadi area perkebunan dan permukiman. Inefisiensi penegakan hukum dalam manajemen dampak ekologis ini memicu situasi kritis yang mengancam keselamatan manusia dan perlindungan satwa liar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbatasan implementasi Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam merespons dinamika interaksi negatif gajah-manusia. Jenis penelitian yang digunakan adalah kajian hukum empiris melalui pendekatan sosio-legal dengan metode kualitatif untuk mengonstruksi model integrasi kearifan lokal ke dalam kerangka hukum formal sebagai solusi atas diskoneksi antara hukum positif dan realitas sosiologis di tingkat tapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam penanganan interaksi negatif dinilai belum optimal sementara kearifan lokal Abang Kul sebagai pranata living law secara empiris memiliki efektivitas dalam langkah mitigasi interaksi negatif. Studi ini memberikan kontribusi pada diskursus pluralisme hukum lingkungan dengan menawarkan model koeksistensi adaptif sebagai solusi atas keterbatasan hukum positif.Kata kunci: abang kul; budaya gayo; gajah sumatera; interaksi negatif gajah-manusia; qanun. ABSTRACTNegative human-elephant interactions in the Gayo Highlands stem from structural issues such as habitat degradation and the fragmentation of elephant movement corridors resulting from the conversion of forests into plantation and settlement areas. The ineffectiveness of the regulatory framework in mitigating these ecological impacts has triggered a critical situation that threatens human safety and wildlife conservation. This study aims to analyze the limitations of the implementation of Qanun No. 11 of 2019 in addressing the dynamics of negative elephant-human interactions through a socio-legal approach using qualitative methods to construct a model for integrating local wisdom into the formal legal framework as a solution to the disconnect between positive law and sociological realities at the grassroots level. The research results indicate that the approach of Qanun No. 11 of 2019 in addressing negative interactions is considered suboptimal, while the local wisdom of Abang Kul, as a living law institution, has been empirically shown to be effective in mitigating negative interactions. This study contributes to the discourse on environmental legal pluralism by offering a model of adaptive coexistence as a solution to the limitations of positive law.Keywords: abang kul; gayo culture; sumatran elephant; negative human-elephant interactions; qanun.
Integrasi Qanun dan Kearifan Lokal dalam Perlindungan Gajah Sumatera: Studi Penanganan Interaksi Negatif “Abang Kul” di Kantong Gajah Liar Gayo Ghaitsa Al-Zahira Zulvita; Herlina Agustin; Gumgum Gumilar
Bina Hukum Lingkungan Vol. 10 No. 3 (2026): Bina Hukum Lingkungan, Volume 10, Nomor 3, Juni 2026
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v10i3.548

Abstract

ABSTRAKIntensitas interaksi negatif gajah-manusia di Dataran Tinggi Gayo berakar pada persoalan struktural berupa hilangnya habitat dan fragmentasi koridor jelajah gajah akibat alih fungsi lahan hutan menjadi area perkebunan dan permukiman. Inefisiensi penegakan hukum dalam manajemen dampak ekologis ini memicu situasi kritis yang mengancam keselamatan manusia dan perlindungan satwa liar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbatasan implementasi Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam merespons dinamika interaksi negatif gajah-manusia. Jenis penelitian yang digunakan adalah kajian hukum empiris melalui pendekatan sosio-legal dengan metode kualitatif untuk mengonstruksi model integrasi kearifan lokal ke dalam kerangka hukum formal sebagai solusi atas diskoneksi antara hukum positif dan realitas sosiologis di tingkat tapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam penanganan interaksi negatif dinilai belum optimal sementara kearifan lokal Abang Kul sebagai pranata living law secara empiris memiliki efektivitas dalam langkah mitigasi interaksi negatif. Studi ini memberikan kontribusi pada diskursus pluralisme hukum lingkungan dengan menawarkan model koeksistensi adaptif sebagai solusi atas keterbatasan hukum positif.Kata kunci: abang kul; budaya gayo; gajah sumatera; interaksi negatif gajah-manusia; qanun. ABSTRACTNegative human-elephant interactions in the Gayo Highlands stem from structural issues such as habitat degradation and the fragmentation of elephant movement corridors resulting from the conversion of forests into plantation and settlement areas. The ineffectiveness of the regulatory framework in mitigating these ecological impacts has triggered a critical situation that threatens human safety and wildlife conservation. This study aims to analyze the limitations of the implementation of Qanun No. 11 of 2019 in addressing the dynamics of negative elephant-human interactions through a socio-legal approach using qualitative methods to construct a model for integrating local wisdom into the formal legal framework as a solution to the disconnect between positive law and sociological realities at the grassroots level. The research results indicate that the approach of Qanun No. 11 of 2019 in addressing negative interactions is considered suboptimal, while the local wisdom of Abang Kul, as a living law institution, has been empirically shown to be effective in mitigating negative interactions. This study contributes to the discourse on environmental legal pluralism by offering a model of adaptive coexistence as a solution to the limitations of positive law.Keywords: abang kul; gayo culture; sumatran elephant; negative human-elephant interactions; qanun.
Co-Authors Aceng Abdullah Aceng Abdullah Achmad Abdul Basith Achmad Abdul Basith Adinda, Nur Adiputra, Andika Vinianto Afrina Nabila Azhari Al-Faqih, M. Zen Ammar Rezqianto Artikha Ruth Sinaga Asep Suryana Asep Suryana Atef Fahrudin Azmah Tafwidli Rahmi Dadang Rahmat Hidayat Dandi Supriadi Dhini Ardianti Djoko Santoso Abi Suroso, Djoko Santoso Abi Elsa Amalia Risky Erika Revida Eshauqi Fitrayatra Fitriani, Alfina Ghaitsa Al-Zahira Zulvita Gumgum Gumilar Hanny Hafiar Harun Rosit Hendra Dermawan Siregar Hendra Hermawan Henny Sri Mulyani Rohayati Hijriah, Moch. Rizqi Husaini, Azis Ika Merdekawati Kusmayadi Ira Mirawati Iriana Bakti Jenny Ratna Suminar Karimah Nasr, Nailah kusumawardani, lita heni Lenny Sutedja Lestari, Gita Ayu Lisawati, Lisawati Lizikri Damar Tanjung Novela Andelin Maimon Herawati Maudy Rizkiana Poedjadi Mien Hidayat Mien Hidayat Muhammad Rizki Ridani Muji Rahayu Muktiarum, Retno Kurnia Mulyaningrat, Wahyudi Muntoro Muntoro Nabilah, Huria Husna Ninis Agustini Damayani Novyandra Ilham Bahtera NQ Ratna Suminar Sari Nugroho Dwi Hananto, Nugroho Dwi Nunik Maharani Hartoyo Nuryah Asri Sjafirah Pandu Rudy Widyatama Panjibrata Burhan Pramudita, Imelia Rizky Prihatin, Anna Aisyah Rahman, Azizul Ramadhan, Indah Rayhani, Fahira Salima Retasari Dewi Retasari Dewi, Retasari Rinda Aunillah Sirait Sabatini, Sabila Samson CMS Santi Susanti Savitna Savitna Setyowati, Raden Roro Nanik Siti Karlinah Soejarwo, Permana Ari Sukamto, Ika Sumiyarsi Susanne Dida Suwandi Sumartias Tari Apriyani Tika Mutia Uparatu, Aldehead Marinda Merfonsina Ute Lies Siti Khadijah Uud Wahyudin Winarni Winarni Wiraswari, Luh Muni Wulansari, Resti Wulansari, Resty Yasmina Shofa Az Zahra Yulianto, Alfian Prasetya Yustikasari Zahra, Yasmina Shofa Az Zein Mufarrih Muktaf, Zein Mufarrih